of 30 /30
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ILEUS OBSTRUKTIF A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1.Pengertian Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal (Nettina, 2001). Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan tetapi peristaltiknya normal (Reeves, 2001). Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional. (Tucker, 1998) Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan. 2.Anatomi dan Fisiologi 1) Anatomi sistem pencernaan a. Mulut Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian : 1) Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu diruang antara gusi, bibir dan pipi.

LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

Embed Size (px)

Text of LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

Page 1: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN ILEUS OBSTRUKTIF

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengertian

Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang

traktus intestinal (Nettina, 2001). Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang

menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan tetapi peristaltiknya

normal (Reeves, 2001). Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus

yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis

atau fungsional. (Tucker, 1998)

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah

sumbatan total atau parsial yang menghalangi aliran normal melalui saluran

pencernaan.

2. Anatomi dan Fisiologi

1) Anatomi sistem pencernaan

a. Mulut

Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2

bagian :

1) Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu diruang antara gusi,

bibir dan pipi.

2) Rongga mulut/bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi

sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandi bilaris disebelah

belakang bersambung dengan faring.

b. Faring

Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut

dengan kerongkongan, merupakan persimpangan jalan nafas dan jalan

makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan didepan ruas tulang

belakang.

Page 2: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

c. Esofagus (kerongkongan)

Panjangnya ± 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk

kardiak dibawah lambung. Esofagus terletak dibelakang trakea dan

didepan tulang punggung setelah melalui thorak menembus diafragma

masuk kedalam abdomen ke lambung.

d. Gaster (lambung)

Merupakan bagian dari saluran pencernaan yang dapat

mengembang paling banyak terutama didaerah epigaster. Bagian-bagian

lambung, yaitu :

1) Fundus ventrikularis, bagian yang menonjol keatas terletak disebelah

kiri osteum kardium biasanya berisi gas.

2) Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada

bagian bawah notura minor.

3) Antrum pilorus, berbentuk tebing mempunyai otot tebal membentuk

spinkter pilorus.

4) Kurtura minor, terletak disebelah kanan lambung, terdiri dari osteum

kordi samapi pilorus.

5) Kurtura mayor, lebih panjang dari kurtura minor terbentang dari sisi

kiri osteum kardium melalui fundus kontrikuli menuju kekanan

sampai ke pilorus anterior.

e. Usus halus

Usus halus merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang

berpangkal pada pilorus dan berakhir pada sekum panjangnya ± 6cm,

merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan obstruksi

hasil pencernaan makanan.

Usus halus terdiri dari :

1) Duodenum

Disebut juga usus 12 jari, panjangnya ± 25 cm, berbentuk sepatu

kuda melengkung kekiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Pada

bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang nambulir disebut

papila vateri.

Page 3: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

2) Yeyunum

Usus kosong atau jejunum adalah bagian kedua dari usus halus,

di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum).

Pada manusia dewasa panjangnya ± 2-3 meter.

3) Ileum

Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus

halus. Pada sistem pencernaan manusia panjangnya sekitar ± 4-5 m

dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus

buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan

berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.

f. Usus besar/interdinum mayor

Panjangnya ± 1 meter, lebar 5-6 cm, fungsinya menyerap air dari

makanan, tempat tinggal bakteri koli, tempat feces. Usus besar terdiri atas

8 bagian:

1) Sekum.

2) Kolon asenden.

Terletak diabdomen sebelah kanan, membujur keatas dari ileum

sampai kehati, panjangnya ± 13 cm.

3) Appendiks (usus buntu)

Sering disebut umbai cacing dengan panjang ± 6 cm.

4) Kolon transversum.

Membujur dari kolon asenden sampai ke kolon desenden dengan

panjang ± 28 cm.

5) Kolon desenden.

Terletak dirongga abdomen disebelah kiri membujur dari anus ke

bawah dengan panjangnya ± 25 cm.

6) Kolon sigmoid.

Terletak dalam rongga pelvis sebelah kiri yang membentuk huruf "S"

ujung bawah berhubungan dengan rektum.

7) Rektum.

Terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum

mayor dengan anus.

Page 4: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

8) Anus.

Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan

rektum dengan dunia luar.

Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pencernaan

2) Fisiologi sistem pencernaan

Usus halus mempunyai dua fungsi utama, yaitu : pencernaan dan

absorpsi bahan nutrisi dan air. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan

lambung oleh kerja ptialin, asam klorida, dan pepsin terhadap makanan

masuk. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-

enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak, dan protein

menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret

pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk

kerja enzim-enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan

dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan lebih luas

bagi kerja lipase pankreas (Price & Wilson, 1994).

Isi usus digerakkan oleh peristaltik yang terdiri atas dua jenis gerakan,

yaitu segmental dan peristaltik yang diatur oleh sistem saraf autonom dan

hormon (Sjamsuhidajat Jong, 2005). Pergerakan segmental usus halus

mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret pankreas, hepatobiliar,

dan sekresi usus, dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu

ujung ke ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal

dan suplai kontinu isi lambung (Price & Wilson, 1994).

Page 5: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

Absorpsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat,

lemak dan protein (gula sederhana, asam-asam lemak dan asa-asam amino)

melalui dinding usus ke sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh

sel-sel tubuh. Selain itu air, elektrolit dan vitamin juga diabsorpsi.

Absoprpsi berbagai zat berlangsung dengan mekanisme transpor aktif dan

pasif yang sebagian kurang dimengerti (Price & Wilson, 1994).

Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan

dengan proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah

mengabsorpsi air dan elektrolit, yang sudah hampir lengkap pada kolon

bagian kanan. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang

menampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi

berlangsung (Preice & Wilson, 1994). Kolon mengabsorpsi air, natrium,

khlorida, dan asam lemak rantai pendek serta mengeluarkan kalium dan

bikarbonat. Hal tersebut membantu menjaga keseimbangan air dan

elektrolit dan mencegah terjadinya dehidrasi. (Schwartz, 2000)

Gerakan retrograd dari kolon memperlambat transit materi dari kolon

kanan dan meningkatkan absorpsi. Kontraksi segmental merupakan pola

yang paling umum, mengisolasi segmen pendek dari kolon, kontraksai ini

menurun oleh antikolinergik, meningkat oleh makanan dan kolinergik.

Gerakan massa merupakan pola yang kurang umum, pendorong antegrad

melibatkan segmen panjang 0,5-1,0 cm/detik, tekanan 100-200 mmHg,

tiga sampai empat kali sehari, terjadi dengan defekasi. (Schwartz, 2000)

Gas kolon berasal dari udara yang ditelan, difusi dari darah, dan

produksi intralumen. Nitrogen, oksigen, karbon dioksida, hidrogen, metan.

Bakteri membentuk hidrogen dan metan dari protein dan karbohidrat yang

tidak tercerna. Normalnya 600 ml/hari. (Schwartz, 2000)

3. Etiologi

Adapun penyebab dari obstruksi usus dibagi menjadi dua bagian menurut

jenis obstruksi usus, yaitu:

1) Mekanis

Page 6: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

Faktor mekanis yaitu terjadi obstruksi intramunal atau obstruksi

munal dari tekanan pada usus, diantaranya :

a. Intususepsi

b. Tumor dan neoplasma

c. Stenosis

d. Striktur

e. Perlekatan (adhesi)

f. Hernia

g. Abses

2) Fungsional

Yaitu akibat muskulator usus tidak mampu mendorong isi

sepanjang usus. (Brunner and Suddarth, 2002)

4. Tanda dan Gejala

Terdapat 4 tanda kardinal gejala ileus obstruktif (Winslet, 2002) :

1) Nyeri abdomen

2) Muntah

3) Distensi

4) Kegagalan buang air besar atau gas (konstipasi).

Gejala ileus obstruktif bervariasi tergantung kepada (Winslet, 2002) :

1) Lokasi obstruksi

2) Lamanya obstruksi

3) Penyebabnya

4) Ada atau tidaknya iskemia usus

 Gejala selanjutnya yang bisa muncul termasuk dehidrasi, oliguria, syok

hypovolemik, pireksia, septikemia, penurunan respirasi dan peritonitis.

Terhadap setiap penyakit yang dicurigai ileus obstruktif, semua kemungkinan

hernia harus diperiksa. (Winslet, 2002)

Nyeri abdomen biasanya agak tetap pada mulanya dan kemudian

menjadi bersifat kolik. Ia sekunder terhadap kontraksi peristaltik kuat pada

dinding usus melawan obstruksi. Frekuensi episode tergantung atas tingkat

obstruksi, yang muncul setiap 4 sampai 5 menit dalam ileus obstruktif usus

Page 7: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

halus, setiap 15 sampai 20 menit pada ileus obstruktif usus besar. Nyeri dari

ileus obstruktif usus halus demikian biasanya terlokalisasi supraumbilikus di

dalam abdomen, sedangkan yang dari ileus obstruktif usus besar biasanya

tampil dengan nyeri intaumbilikus. Dengan berlalunya waktu, usus

berdilatasi, motilitas menurun, sehingga gelombang peristaltik menjadi

jarang, sampai akhirnya berhenti. Pada saat ini nyeri mereda dan diganti oleh

pegal generalisata menetap di keseluruhan abdomen. Jika nyeri abdomen

menjadi terlokalisasi baik, parah, menetap dan tanpa remisi, maka ileus

obstruksi strangulata harus dicurigai. (Sabiston, 1995)

Muntah refleks ditemukan segera setelah mulainya ileus obstruksi yang

memuntahkan apapun makanan dan cairan yang terkandung, yang juga diikuti

oleh cairan duodenum, yang kebanyakan cairan empedu (Harrison’s, 2001).

Muntah tergantung atas tingkat ileus obstruktif. Jika ileus obstruktif usus

halus, maka muntah terlihat dini dalam perjalanan dan terdiri dari cairan

jernih hijau atau kuning. Usus didekompresi dengan regurgitasi, sehingga tak

terlihat distensi.

Konstipasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konstipasi absolut

(dimana feses dan gas tidak bisa keluar) dan relatif (dimana hanya gas yang

bisa keluar) (Winslet, 2002). Kegagalan mengerluarkan gas dan feses per

rektum juga suatu gambaran khas ileus obstruktif.

Pireksia di dalam ileus obstruktif dapat digunakan sebagai petanda

(Winslet, 2002) :

1) Mulainya terjadi iskemia

2) Perforasi usus

3) Inflamasi yang berhubungan denga penyakit obsruksi

Hipotermi menandakan terjadinya syok septikemia. Nyeri tekan

abdomen yang terlokalisir menandakan iskemia yang mengancam atau sudah

terjadi. Perkembangan peritonitis menandakan infark atau perforasi. (Winslet,

2002)

Page 8: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

5. Fatofisiologi

Perlengketan, intususepsi, volvulus, hernia dan tumor

Refluks inhibisi spingter Akumulasi gas dan cairan dalam lumen Klien rawat inap Terganggu bagian proksimal letak obstruksi

Spingter ani eksterna Distensi abdomen Reaksi hospitalisasi Tidak relaksasi

Refluks lama dalam Tekanan intra lumen meningkat CEMAS Kolon dan rektum

Konstipasi Iskemia dinding usus

Metabolisme anaerob glukosaKontraksi anuler pylorus Merangsang pengeluaran mediator kimia (histamin. Bradikinin dan prostaglandin)

Ekspalasi isi lambung Merangsang reseptor nyeri Proliferasi bakteri yang ke usofagus Berlangsung cepat

NYERI Pelepasan bakteri dan Gerakan isi lambung Toksin dari usus yang inpark Ke mulut Merangsang syaraf otonom Aktifasi norepineprin

Bakteri melespaskan Mual/muntah Syaraf simpatis terangsang mengaktifkan endotoksin dan merangsang RAS mengaktifkan kerja organ tubuh tubuh melepaskan zat

Pyrogen oleh leukosit REM menurun Intake kurang Klien terjaga Impuls disampaikan ke hipotalamus

bagian termogulator melalui ductus toracicus

NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN

GANGGUAN POLA TIDUR HIPERTERMI

Kontraksi otot-otot abdomen ke diafragma

Kehilangan H2O dan elektrolit Relaksasi otot-otot diafragma terganggu

Volume ECF menurun Ekspansi paru menurun

RESIKO KURANG VOLUME CAIRAN POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF

Page 9: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

6. Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan radiologi

a. Foto polos abdomen 

Dengan posisi terlentang dan tegak (lateral dekubitus)

memperlihatkan dilatasi lengkung usus halus disertai adanya batas antara

air dan udara atau gas (air-fluid level) yang membentuk pola bagaikan

tangga.

b. Pemeriksaan radiologi dengan Barium Enema

Mempunyai suatu peran terbatas pada pasien dengan obstruksi usus

halus. Pengujian Enema Barium terutama sekali bermanfaat jika suatu

obstruksi letak rendah yang tidak dapat pada pemeriksaan foto polos

abdomen. Pada anak-anak dengan intussuscepsi, pemeriksaan enema

barium tidak hanya sebagai diagnostik tetapi juga mungkin sebagai terapi.

c. CT–Scan.

Pemeriksaan ini dikerjakan jika secara klinis dan foto polos abdomen

dicurigai adanya strangulasi. CT–Scan akan mempertunjukkan secara lebih

teliti adanya kelainan-kelainan dinding usus, mesenterikus, dan

peritoneum. CT–Scan harus dilakukan dengan memasukkan zat kontras

kedalam pembuluh darah. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui derajat

dan lokasi dari obstruksi.

d. USG

Pemeriksaan ini akan mempertunjukkan gambaran dan penyebab

dari obstruksi.

e. MRI

Walaupun pemeriksaan ini dapat digunakan, tetapi tehnik dan

kontras yang ada sekarang ini belum secara penuh mapan. Tehnik ini

digunakan untuk mengevaluasi iskemia mesenterik kronis.

f. Angiografi

Angiografi mesenterik superior telah digunakan untuk mendiagnosis

adanya herniasi internal, intussuscepsi, volvulus, malrotation, dan adhesi.

Page 10: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

2) Pemeriksaan laboratorium

Leukositosis mungkin menunjukkan adanya strangulasi, pada urinalisa

mungkin menunjukkan dehidrasi. Analisa gas darah dapat mengindikasikan

asidosis atau alkalosis metabolic. ( Brunner and Suddarth, 2002 )

7. Komplikasi

1) Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehingga terjadi

peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen.

2) Perforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi terlalu lama pada organ

intra abdomen.

3) Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan

cepat.

4) Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.

(Brunner and Suddarth, 2001)

8. Penatalaksanaan

Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit

dan cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi,

mengatasi peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk

memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.

a. Resusitasi

Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda - tanda

vital, dehidrasi dan syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami

dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan

cairan intravena seperti ringer laktat. Respon terhadap terapi dapat dilihat

dengan memonitor tanda - tanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain

pemberian cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube

(NGT). NGT digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi

pulmonum bila muntah dan mengurangi distensi abdomen.

Page 11: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

b. Farmakologis

Pemberian obat - obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai

profilaksis. Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual

muntah.

c. Operatif

Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik untuk

mencegah sepsis sekunder. Operasi diawali dengan laparotomi kemudian

disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil eksplorasi selama

laparotomi. Berikut ini beberapa kondisi atau pertimbangan untuk dilakukan

operasi : Jika obstruksinya berhubungan dengan suatu simple obstruksi atau

adhesi, maka tindakan lisis yang dianjurkan. Jika terjadi obstruksi stangulasi

maka reseksi intestinal sangat diperlukan. Pada umumnya dikenal 4 macam

cara/tindakan bedah yang dilakukan pada obstruksi ileus :

1) Koreksi sederhana (simple correction), yaitu tindakan bedah sederhana

untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata

non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.

2) Tindakan operatif by-pass, yaitu tindakan membuat saluran usus baru

yang “melewati” bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor

intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.

3) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat

obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut.

4) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis

ujung-ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus,

misalnya pada carcinoma colon, invaginasi, strangulata, dan sebagainya.

Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan

operatif bertahap, baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena

keadaan penderitanya, misalnya pada Ca sigmoid obstruktif, mula-mula

dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan

anastomosis. (Sabara, 2007)

Page 12: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

B. DAMPAK PENYAKIT TERHADAP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

1. Kebutuhan oxygenasi

Obstruksi usus mengakibatkan terjadinya distensi abdomen akibat adanya

akumulasi cairan dan gas dalam lumen usus. Hal ini mengakibatkan terjadinya

kontraksi otot-otot diafragma dan relaksasi otot-otot diafragma terganggu

menyebabkan ekspansi paru menurun sehingga respirasi tidak efektif.

2. Kebutuhan cairan dan elektrolit

Obstruksi usus mengakibatkan terjadinya penimbunan cairan intra lumen

akibat peningkatan ekskresi cairan kedalam lumen usus. Hal ini merupakan

penyebab kehilangan cairan dan elektrolit yang mengakibatkan terjadinya

penurunan ekstra celluler fluid (ECF) sehingga terjadi hipovolemik.

3. Kebutuhan rasa nyaman

Nyeri abdomen terjadi akibat adanya distensi abdomen dan akibat

kontraksi peristaltik kuat dinding usus melawan obstruksi. Jika obstruksi

berlanjut dan terjadi iskemia/inflamasi/perporasi dapat terjadi pireksia.

4. Kebutuhan nutrisi

Obstruksi usus mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap proses

digesti, ingesti dan absorbsi nutrient.

5. Kebutuhan eliminasi

Obstuksi usus mengakibatkan motilitas usus menurun, menyebabkan

refluk inhibisi spingter tergangga mengakibatkan terjadinya kegagalan buang air

besar (BAB).

6. Kebutuhan istirahat dan tidur

Karena pada penderita ileus obstruktif akibat dari distensi abdomen dan

adanya nyeri yang intermiten maka istirahat klien kurang atau terganggu.

7. Kebutuhan Rasa Aman

Rasa aman akan terganggu karena keterbatasan kognitif mengenai

penyakit dan berhubungan dengan prosedur tindakan sehingga timbul cemas.

Page 13: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

C. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Identitas

Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin,

agama, suku dan gaya hidup.

b. Riwayat Kesehatan

1. Keluhan utama

Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan klien pada saat dikaji.

Pada umumnya akan ditemukan klien merasakan nyeri pada abdomennya

biasanya terus menerus, demam, nyeri tekan dan nyeri lepas, abdomen

tegang dan kaku.

2. Riwayat kesehatan sekarang

Mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien mencari

pertolongan, dikaji dengan menggunakan pendekatan PQRST :

P : Apa yang menyebabkan timbulnya keluhan.

Q : Bagaiman keluhan dirasakan oleh klien, apakah hilang, timbul atau

terus- menerus (menetap).

R : Di daerah mana gejala dirasakan

S : Keparahan yang dirasakan klien dengan memakai skala numeric

1 s/d 10.

T : Kapan keluhan timbul, sekaligus factor yang memperberat dan

memperingan keluhan.

3. Riwayat kesehatan dahulu

Apakah klien sebelumnya pernah mengalami penyakit pada sistem

pencernaan, atau adanya riwayat operasi pada sistem pencernaan.

4. Riwayat kesehatan keluarga

Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang sama

dengan klien.

Page 14: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

c. Pemeriksaan fisik

1. Status kesehatan umum

Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien

secara umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap

dan perilaku pasien terhadap petugas, bagaimana mood pasien.

2. Sistem pernafasan

Peningkatan frekuensi napas, napas pendek dan dangkal

3. Sistem kardiovaskuler

Takikardi, pucat, hipotensi (tanda syok)

4. Sistem persarafan

Tidak ada gangguan pada sistem persyarafan

5. Sistem perkemihan

Retensio urine akibat tekanan distensi abdomen, anuria/oliguria, jika

syok hipovolemik

6. Sistem pencernaan

Distensi abdomen, muntah, bising usus meningkat, lemah atau tidak

ada, ketidakmampuan defekasi dan flatus.

7. Sistem muskuloskeletal

Kelelahan, kesulitan ambulansi

8. Sistem integumen

Turgor kulit buruk, membran mukosa pecah-pecah (syok)

9. Sistem endokrin

Tidak ada gangguan pada sistem endokrin

10. Sistem reproduksi

Tidak ada gangguan pada sistem reproduksi

2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul

Adapun diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan ileus

obstruksi adalah sebagai berikut : (Doenges, M.E. 2001 dan Wong D.L)

1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang

tidak adequat dan ketidakefektifan penyerapan usus halus.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrisi.

3. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen

Page 15: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

4. Gangguan pola eliminasi: konstipasi berhubungan dengan disfungsi motilitas

usus.

5. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen

6. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

3. Intervensi keperawatan

1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang

tidak adequat dan ketidakefektifan penyerapan usus halus

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan

cairan dan elektrolit terpenuhi.

Kriteria hasil :

a. Tanda vital normal (N:70-80 x/menit, S: 36-37 C, TD : 110/70 -120/80

mmHg)

b. Intake dan output cairan seimbang

c. Turgor kulit elastic

d. Mukosa lembab

e. Elektrolit dalam batas normal (Na: 135-147 mmol/L, K: 3,5-5,5

mmol/L, Cl: 94-111 mmol/L).

Intervensi :

Intervensi Rasional

1. Kaji kebutuhan cairan pasien2. Observasi tanda-tanda vital

3. Observasi tingkat kesadaran dan tanda-tanda syok

4. Observasi bising usus pasien tiap 1-2 jam5. Monitor intake dan output secara ketat6. Pantau hasil laboratorium serum

elektrolit, hematokrit7. Beri penjelasan kepada pasien dan

keluarga tentang tindakan yang dilakukan: pemasangan NGT dan puasa.

8. Kolaborasi dengan medik untuk pemberian terapi intravena

1. Mengetahui kebutuhan cairan pasien.2. Perubahan yang drastis pada tanda-

tanda vital merupakan indikasi kekurangan cairan.

3. kekurangan cairan dan elektrolit dapat mempengaruhi tingkat kesadaran dan mengakibatkan syok.

4. Menilai fungsi usus5. Menilai keseimbangan cairan6. Menilai keseimbangan cairan dan

elektrolit7. Meningkatkan pengetahuan pasien dan

keluarga serta kerjasama antara perawat-pasien-keluarga.

8. Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit pasien.

Page 16: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

gangguan absorbsi nutrisi.

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan

nutrisi teratasi.

Kriteria hasil :

1. Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi.

2. Berat badan stabil.

3. Pasien tidak mengalami mual muntah.

Intervensi :

Intervensi Rasional

1. Tinjau faktor-faktor individual yang mempengaruhi kemampuan untuk mencerna makanan, mis : status puasa, mual, ileus paralitik setelah selang dilepas.

2. Auskultasi bising usus; palpasi abdomen; catat pasase flatus.

3. Identifikasi kesukaan/ketidaksukaan diet dari pasien. Anjurkan pilihan makanan tinggi protein dan vitamin C.

4. Observasi terhadap terjadinya diare; makanan bau busuk dan berminyak.

5. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan sesuai indikasi: Antimetik, mis: proklorperazin (Compazine). Antasida dan inhibitor histamin, mis: simetidin (tagamet).

1. Mempengaruhi pilihan intervensi.

2. Menentukan kembalinya peristaltik ( biasanya dalam 2-4 hari ).

3. Meningkatkan kerjasama pasien dengan aturan diet. Protein/vitamin C adalah kontributor utuma untuk pemeliharaan jaringan dan perbaikan. Malnutrisi adalah fator dalam menurunkan pertahanan terhadap infeksi.

4. Sindrom malabsorbsi dapat terjadi setelah pembedahan usus halus, memerlukan evaluasi lanjut dan perubahan diet, mis: diet rendah serat.

5. Mencegah muntah. Menetralkan atau menurunkan pembentukan asam untuk mencegah erosi mukosa dan kemungkinan ulserasi.

3. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pola nafas

menjadi efektif

Kriteria hasil :

Pasien memiliki pola pernafasan: irama vesikuler, frekuensi :

18-20x/menit

Page 17: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

Intervensi :

Intervensi Rasional

1. Observasi TTV: P, TD, N,S

2. Kaji status pernafasan: pola, frekuensi, kedalaman

3. Kaji bising usus pasien

4. Tinggikan kepala tempat tidur 40-60 derajat

5. Observasi adanya tanda-tanda hipoksia jaringan perifer: cianosis

6. Monitor hasil AGD

7. Berikan penjelasan kepada keluarga pasien tentang penyebab terjadinya distensi abdomen yang dialami oleh pasien

8. Laksanakan program medic pemberian terapi oksigen

1. Perubahan pada pola nafas akibat adanya distensi abdomen dapat mempengaruhi peningkatan hasil TTV.

2. Adanya distensi pada abdomen dapat menyebabkan perubahan pola nafas.

3. Berkurangnya/hilangnya bising usus menyebabkan terjadi distensi abdomen sehingga mempengaruhi pola nafas.

4. Mengurangi penekanan pada paru akibat distensi abdomen.

5. Perubahan pola nafas akibat adanya distensi abdomen dapat menyebabkan oksigenasi perifer terganggu yang dimanifestasikan dengan adanya cianosis.

6. Mendeteksi adanya asidosis respiratorik.

7. Meningkatkan pengetahuan dan kerjasama dengan keluarga pasien.

8. Memenuhi kebutuhan oksigenasi pasien

4. Gangguan pola eliminasi : konstipasi berhubungan dengan disfungsi motilitas

usus.

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pola

eliminasi kembali normal.

Kriteria hasil :

Pola eliminasi BAB normal: 1x/hari, dengan konsistensi lembek, BU

normal : 5-35 x/menit, tidak ada distensi abdomen.

Intervensi :

Intervensi Rasional

1. Kaji dan catat frekuensi, warna dan konsistensi feces

2. Auskultasi bising usus

3. Kaji adanya flatus

4. Kaji adanya distensi abdomen

1. Mengetahui ada atau tidaknya kelainan yang terjadi pada eliminasi fekal.

2. Mengetahui normal atau tidaknya pergerakan usus.

3. Adanya flatus menunjukan perbaikan fungsi usus.

4. Gangguan motilitas usus dapat

Page 18: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

Intervensi Rasional

5. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga penyebab terjadinya gangguan dalam BAB

6. Kolaborasi dalam pemberian terapi pencahar (Laxatif)

Menyebabkan akumulasi gas di dalam lumen usus sehingga terjadi distensi abdomen.

5. Meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga serta untuk meningkatkan kerjasana antara perawat-pasien dan keluarga.

6. Membantu dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi

5. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam rasa nyeri

teratasi atau terkontrol

Kriteria hasil :

Pasien mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan; menyatakan nyeri

pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan rileks.

Intervensi :

Intervensi Rasional

1. Observasi TTV: N, TD, HR, P tiap shif

2. Kaji keluhan nyeri, karakteristik dan skala nyeri yang dirasakan pesien sehubungan dengan adanya distensi abdomen

3. Berikan posisi yang nyaman: posisi semi fowler

4. Ajarkan dan anjurkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam saat merasa nyeri

5. Anjurkan pasien untuk menggunakan tehnik pengalihan saat merasa nyeri hebat.

6. Kolaborasi dengan medic untuk terapi analgetik

1. Nyeri hebat yang dirasakan pasien akibat adanya distensi abdomen dapat menyebabkan peningkatan hasil TTV.

2. Mengetahui kekuatan nyeri yang dirasakan pasien dan menentukan tindakan selanjutnya guna mengatasi nyeri.

3. Posisi yang nyaman dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien

4. Relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri

5. Mengurangi nyeri yang dirasakan pasien.

6. Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri

Page 19: LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS

6. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

Tujuan :

Kecemasan teratasi.

Kriteria hasil :

Pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini dan

mendemonstrasikan keterampilan koping positif.

Intervensi :

Intervensi Rasional

1. Observasi adanya peningkatan kecemasan: wajah tegang, gelisah

2. Kaji adanya rasa cemas yang dirasakan pasien

3. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan sehubungan dengan keadaan penyakit pasien

4. Berikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa takut atau kecemasan yang dirasakan

5. Pertahankan lingkungan yang tenang dan tanpa stres.

6. Dorong dukungan keluarga dan orang terdekat untuk memberikan support kepada pasien

1. Rasa cemas yang dirasakan pasien dapat terlihat dalam ekspresi wajah dan tingkah laku.

2. Mengetahui tingkat kecemasan pasien.

3. Dengan mengetahui tindakan yang akan dilakukan akan mengurangi tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan kerjasama

4. Dengan mengungkapkan kecemasan akan mengurangi rasa takut/cemas pasien

5. Lingkungan yang tenang dan nyaman dapat mengurangi stress pasien berhadapan dengan penyakitnya

6. Support system dapat mengurani rasa cemas dan menguatkan pasien dalam memerima keadaan sakitnya.