Click here to load reader

Fraktur Suprakondiler Humerus Pada Anak-Anak

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Fraktur Suprakondiler Humerus Pada Anak-Anak

Oleh:
Pembimbing :
BAGIAN/SMFILMU BEDAH FK UNUD/RSUP SANGLAH
DENPASAR
2015
ii
pada ..................................................
Pembimbing
NIP : 19480909 197903 1 002
Mengetahui
FK Unud/RSUP Sanglah
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat-Nya, penulis dapat
menyelesaikan sari pustaka sebagai salah satu tugas dalam Program Pendidikan Dokter
Spesialis Bedah FK Unud/RSUP Sanglah Denpasar. Sari Pustaka ini mengambil judul
tentang Fraktur Suprakondiler Humerus Pada Anak-Anak
Adapun tujuan penulisan sari pustaka ini adalah untuk memperdalam wawasan
tentang fraktur suprakondiler humerus pada anak-anak serta melatih kemampuan membuat
tulisan ilmiah dan prasyarat dalam mengikuti pendidikan bedah dasar di Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana – Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar
Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. DR.Dr. Sri Maliawan, SpBS., sebagai Kepala Bagian Ilmu Bedah FK
Unud/RSUP Sanglah yang telah memberikan izin demi terlaksananya Sari Pustaka
ini.
2. Dr. I.B Darma Putra SpB.(K)BD., sebagai Kepala SMF Ilmu Bedah FK Unud/RSUP
Sanglah yang telah menyediakan fasilitas ilmiah di SMF Bedah.
3. Dr. I Ketut Wiargitha, SpB.,sebagai Ketua Program StudiIlmu Bedah FK Unud/RSUP
Sanglah yang telah memberikan motivasinya.
4. Prof.Dr.dr. I Ketut Siki Kawiyana, SpB.SpOT(K)., sebagai pembimbing yang telah
memberikan saran dan masukan terbaiknya.
Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam Sari Pustaka ini karena itu dengan
segala kerendahan hati penulis menerima saran dan kritik dari siapapun demi perbaikan.
Denpasar, September 2015
2.8.4 Reduksi terbuka.......................................................................................... 16
1. Gambar 2.1Gambaran Anterior Dan Posterior Dari Tulang Humerus Distal............. 2
2. Gambar 2.2 Aliran darah intraoseus bagian dorsal dari tulang humerus distal kiri... 2
3. Gambar 2.3 Hubungan Struktur Anatomis Pada Ekstrimitas Atas.............................. 3
4. Gambar 2.4 Tampak Posterior Fokus Pada Humerus Terhadap Sendi Siku.............. 4
5. Gambar 2.5 Baumann’s Angle............................................................................................. 9
7. Gambar 2.7 Teardrop, Sudut diafisis condylar, Garis anterior humeral,
Garis coronoid................................................................................................ 11
10. Gambar 2.10 Posisi Pronasi Pasien Saat Dilakukan Pinning Perkutan............................. 15
6
Tatalaksana fraktur humerus distal masih menjadi tantangan hingga saat ini terutama dalam
kelompok umur tertentu. Beberapa variabel yang penting sebagai penentu keberhasilan
penatalaksanaan fraktur humerus distal meliputi artikulasi yang baik, fiksasi tulang yang
kokoh, penyembuhan tulang, gerakan fungsional yang normal, dan menghindari terjadinya
komplikasi. Pengertian yang baik sangat diperlukan, mengenai anatomi, morfologi fraktur,
pendekatan operatif, hingga implan yang akan digunakan, sebagai dasar untuk mengobati
fraktur jenis ini sehingga akurasi penatalaksanaan menjadi lebih baik.
Fraktur suprakondiler humerus terjadi di siku, di bagian distal humerus, tepat diatas
dari epikondilus humerus. Fraktur ini paling sering terjadi pada anak-anak, terutama pada
kelompok umur 5-7 tahun. Prevalensi sekitar 55% - 75% dari semua fraktur siku pada anak-
anak. Fraktur lebih sering terjadi pada tangan kiri atau tangan yang non dominan. Beberapa
penelitian terakhir menunjukkan bahwa angka insiden kejadian fraktur suprakondiler humerus
adalah sama antara pria dan wanita. Terdapat 2 macam berdasarkan mekanisme cidera, yakni
fraktur jenis ekstensi dan fleksi, dimana fraktur jenis ekstensi lebih sering terjadi (98%).
Penatalaksanaan fraktur suprakondiler humerus pada anak-anak telah menjadi subjek
diskusi dan penelitian selama bertahun-tahun. Dahulu, fraktur ini dikaitkan dengan
komplikasi yang berujung pada hasil yang kurang maksimal baik dari segi kosmetik maupun
fungsional. Namun, berkat teknik operasi dan perkembangan teknologi yang semakin modern,
komplikasi ini dapat menurun.
Penatalaksanaan fraktur suprakondiler humerus fraktur pada anak-anak secara umum
dapat dibagi menjadi 2, non operatif dan operatif. Penanganan non operatif pada anak-anak
7
merupakan pilihan yang utama, karena masih memiliki periosteum yang lebih aktif dan
kemampuan remodeling yang baik. Beberapa jenis deformitas yang terjadi pada anak-anak
juga masih memungkinkan untuk terjadinya koreksi yang spontan, seperti yang disebutkan
oleh Blount’s Law. Namun, tidak semua fraktur pada anak dapat ditangani secara non
operatif. Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa fraktur suprakondiler humerus pada
anak-anak memiliki hasil yang lebih baik bila ditangani secara operatif.
1.2 Tujuan
humerus pada anak-anak.
anak
1.3 Manfaat
pada anak-anak dan sebagai acuan kepustakaan ilmiah.
2. Untuk praktisi:meningkatkan pengetahuan tentang fraktur suprakondiler humerus pada
anak dan ketrampilan penanganannya.
2.1 DEFINISI
Fraktur Suprakondiler Humerus adalah fraktur yang terjadi di siku, di bagian distal humerus,
tepat diatas dari epikondilus humerus. Fraktur ini dihubungkan dengan terjadinya beberapa
komplikasi yaitu Volksmann iskemia, malunion, atau gangguan neurovaskuler. 1
2.2 EPIDEMIOLOGI
Fraktur suprakondiler humerus adalah fraktur yang sering ditemukan pada siku, sekitar 55% -
75% dari semua fraktur siku. Fraktur suprakondiler humerus lebih sering ditemukan pada
anak-anak dibandingkan dewasa. Tingkat rata-rata pertahun penderita fraktur suprakondiler
humerus pada anak-anak diperkirakan 177,3 / 100.000. Rentang usia puncak terjadinya
fraktur suprakondiler humerus yaitu diantara usia 5– 8 tahun, dengan perbandingan pria dan
wanita adalah 3 : 2, yang mana paling sering ditemukan pada siku kiri atau sisi yang tidak
dominan. 2,3
2.3 ANATOMI
Humerus distal tampak seperti segitiga apabila dilihat dari sisi anterior atau posterior (gambar
2.1) Diafisis humerus terbagi menjadi dua yakni medial dan lateral. Troklea terbungkus oleh
tulang rawan artikuler di bagian anterior, posterior, dan inferior yang kemudian membentuk
lengkungan kira-kira sebesar 270 0 . 4
9
Gambar 2.1 A dan B. Gambaran Anterior Dan Posterior Dari Tulang Humerus Distal
Gambar 2.2 A dan B. Aliran darah intraoseus bagian dorsal dari tulang humerus distal kiri.
10
Bagian posterior kolum lateralis dari humerus distal dilindungi oleh origo distal dari
medial head otot Triceps dan bagian distal oleh origo Anconeus. Brachioradialis dan
Ekstensor Carpi Radialis Longus berasal dari ridgesuprakondiler lateral.Common Extensor
mass terdiri dari Extensor Carpi Radialis Brevis, Extensor Digitorum Communis, dan
Extensor Carpi Ulnaris, dan bagian cephal otot anconeus yang berasal dari lateral epikondilus
lateralis, posterior terhadap lateral kolateral ligamen kompleks. 4
Pendekatan posterior paling banyak dilakukan dalam pembedahan distal humerus,
karena aman untuk saraf radialis dan ulnaris (Gambar 2.3). Pada bagian lateral dari tulang
humerus, saraf radialis bercabang menjadi tiga, yaitu medial head triceps,lower lateral
brachial cutaneous nerve, dansambungan saraf radialis di lengan bawah (posterior
interosseous nervedansuperficial cutaneous nerve). Setelah bercabang,posterior interosseous
nerve menembus septum intermuskularis lateralis (Gambar 2.4) 4
Gambar 2.3 Hubungan Struktur Anatomis Pada Ekstrimitas Atas
11
Gambar 2.4 Tampak Posterior Fokus Pada Humerus Terhadap Sendi Siku
Pada tingkat perlekatan distal daripada korakobrachialis terhadap humerus, saraf ulnaris
berjalan dari kompartemen anterior menuju kompartemen posterior dari lengan atas dengan
menembus septa intermuskularis medial. Saraf berjalan sepanjang batas anteromedial dari
medial head of triceps sepanjang septa intermuskular medialis
2.4 MEKANISME CIDERA
Kemampuan hiperekstensi sendi siku umum terjadi pada masa kanak-kanak, hal ini
dikarenakan kelemahan ligamen yang bersifat fisiologis. Kemudian, kolum bagian medial dan
lateral dari humerus distal dihubungkan oleh segmen tipis dari tulang antara olecranon pada
bagian posterior dan coronoid pada fosa anterior, yang menyebabkan tingginya resiko
terjadinya fraktur pada daerah tersebut. 5
12
Fraktur suprakondiler humerus sering terjadi akibat hiperekstensi siku (95%). Jatuh
dalam keadaan tangan terentang membentuk hiperekstensi dari siku, dengan olecranon
bertindak sebagai fulcrum pada fossa. 5 Bagian anterior dari kapsul secara simultan
memberikan gaya regang pada humerus bagian distal terhadap insersinya. Tekanan ekstensi
yang kontinyu akan mengakibatkan segmen posterior humerus terdesak ke distal dan
terpluntir ke anterior, yang dapat mengakibatkan kerusakan segmen anterior neurovaskular.
Mekanisme ini mengakibatkan kerusakan periosteum anterior, namun periosteum bagian
posterior tetap intak. Arah pergeseran pada suatu bidang koronal mengindikasikan risiko
terhadap struktur jaringan otot halus. Jika patahan mengarah ke sisi medial, saraf radialis akan
berisiko sedangkan jika mengarah ke sisi lateral, akan menjepit arteri brachialis dan saraf
medianus. 6
Tipe yang jarang terjadi (5%) yakni fraktur suprakondiler tipe fleksi, Yang
diakibatkan jatuh dengan posisi siku fleksi. Patahan jenis ini, sangat menantang untuk
direduksi mengingat resiko kerusakan saraf ulnaris. 5
2.5 KLASIFIKASI
2.5.1 Tipe I
Gartland tipe I dari merupakan fraktur suprakondiler yang tidak bergeser atau minimal
displaced (<2 mm) dan disertai dengan garis anterior humeral yang utuh dengan atau tanpa
adanya bukti cedera pada tulang. Posterior fat pad sign merupakan satu-satunya bukti adanya
fraktur. Fraktur tipe ini sangat stabil karena periosteum sirkumferensial masih utuh.
13
2.5.2 Tipe II
Gartland tipe II merupakan fraktur suprakondiler disertai pergeseran (> 2 mm), dan korteks
bagian posterior kemungkinan masih utuh dan berfungsi sebagai engsel. Pada gambaran foto
rontgen elbow true lateral, garis anterior humeral tidak melewati 1/3 tengah dari capitelum.
Secara umum, tidak tampak deformitas rotasional pada posisi foto rontgen AP karena
posterior hinge masih utuh.
Gartland tipe III merupakan fraktur suprakondiler, dengan tanpa adanya kontak pada korteks
yang cukup. Biasanya disertai dengan ekstensi pada bidangsagital dan rotasi pada frontal
dan/atau bidangtransversal. Periosteum mengalami robekan yang luas, sering disertai dengan
kerusakan pada jaringan lunak dan neurovaskular. Keterlibatan dari kolum medialis
menyebabkan malrotasi menjadi lebih signifikan pada bidang frontal dan diklasifikasikan
sebagai tipe III. Adanya deformitas rotasional yang tampak pada gambaran foto rontgen posisi
AP digolongkan pula sebagai fraktur tipe III
Modifikasi Klasifikasi Gartland yang dibuat oleh Wilkin, pada fraktur suprakondiler
humerus merupakan jenis klasifikasi yang paling diterima dan paling banyak digunakan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Barton dkk, Nilai Kappa terhadap variabilitas
intraobserver dan interobserver dari klasifikasi ini merupakan yang tertinggi dibanding
klasifikasi yang digunakan sebelumnya 11,13
. Adapun tambahannya, yakni:
2.5.4 Tipe IV
Gartland tipe IV ditandai dengan adanya instabilitas multidireksional. Hal ini disebabkan
terjadinya inkompetensi sirkumferensial dari periosteal hinge dan terjadinya instabilitas pada
fleksi dan ekstensi. Instabilitas multidireksional ini ditentukan pada saat pasien dalam kondisi
teranestesi saat dilakukan operasi. Instabilitas ini dapat disebabkan oleh cedera yang terjadi,
14
atau bisa juga disebabkan secara iatrogenik, yaitu pada saat kita mencoba melakukan
reduksi. 12
Penderita anak-anak yang datang dengan fraktur suprakondiler mengeluh nyeri di sekitar bahu
setelah jatuh. Keluhan lainnya adalah bengkak di daerah bahu atau gerakan aktif bahu yang
terbatas atau deformitas yang mungkin nampak. 2,9
Ekstrimitas yang cidera harus diperiksa meliputi pemeriksaan pembengkakan jaringan
lunak, laserasi, abrasi ataupun kerutan pada kulit, dan penilaian ada atau tidaknya patah pada
ekstrimitas tersebut. Kerutan pada kulit disebabkan karena fragmen proximal daripada fraktur
menusuk otot brachialis dan menyebabkan tertariknya dermis bagian dalam. Hal ini
menandakan terjadinya kerusakan jaringan lunak. Adanya perdarahan pada luka di daerah
terjadinya fraktur, merupakan salah satu indikasi terjadinya suatu fraktur terbuka. 14,15
Penting untuk menilai fungsi neurovaskuler setelah dilakukan inspeksi.Analisis terkini
dari sejumlah penelitian menunjukkan bahwa cidera saraf terjadi sebanyak 11,3% pada pasien
dengan fraktur suprakondiler. Pemeriksaan motorik dan sensorik seharusnya dilakukan pada
kasus ini. Pemeriksaan motorik meliputi jari-jari, pergelangan tangan, dan ekstensi ibu jari
(saraf radialis), fleksi index distal interphalangeal dan fleksi thumb interphalangeal (AIN),
thenar strength (medianus), interossei (saraf ulnaris). Pemeriksaan sensorik meliputi area
sensorik saraf radialis (dorsal first web space), saraf medianus (palmar finger index), saraf
ulnaris (palmar little finger). Apabila diketahui lebih awal, maka defisit neurologi tersebut
bersifat sementara dan akan membaik dalam 6-12 minggu.
Penilaian status vaskuler juga merupakan hal yang penting. Indikator klinis adanya
perfusi yang cukup di distal meliputi pengisian kapiler yang normal, suhu, dan warna kulit
(pink). Status vaskular dapat dikategorikan menjadi 3 kategori: kategori I mengindikasikan
15
bahwa tangan mengalami perfusi yang baik, dan a. radialis teraba, kategori II
mengindikasikan bahwa tangan memiliki perfusi yang baik, namun a.radialis tidak teraba, dan
kategori III menunjukan bahwa tangan mengalami perfusi yang sangat buruk dan tidak
terabanya a. radialis.Prevalensi terjadinya vascular compromise pada fraktur suprakondiler
humerus yang mengalami pergeseran disebutkan mencapai 20 % dari studi yang dilakukan
oleh Pirone dkk, 12 % pada studi yang dilakukan oleh Shaw dkk, dan 19 % pada studi yang
dilakukan oleh Campbell dkk.
denga posisi fleksi 20-30 0 untuk mencegah pergeseranfraktur, mengurangi rasa nyeri, dan
mencapai kualitas radiologi yang baik. Ekstrimitas diposisikan dengan posisi yang nyaman.
2.7 PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Pemeriksaan radiologi pada siku harus meliputi proyeksi anteroposterior (AP) dan Lateral.
Pada proyeksi true AP, sebaiknya diambil humerus distal daripada siku, karena lebih akurat
dalam mengevaluasi humerus distal dan meminimalisir kesalahan dalam menentukan angulasi
malalignmentpada humerus distal. Pada proyeksi AP, Sudut Baumann atau disebut juga
humeral capitellar angle adalah penanda penting dalam menilai fraktur suprakondiler
(gambar 2.5). Sudut ini dibentuk oleh perpotongan antara garis pada sumbu humerus dengan
garis yang digambarkan sepanjang lempeng pertumbuhan kondilus lateral dari siku.
Sebaiknya, sudut Baumann pada siku kontralateral juga diambil sebagai perbandingan.
Fragmen distal biasanya berotasi medial atau internal dan deviasi varus. Kisaran normal sudut
ini antara 9-26 o . Penurunan sudut Baumann adalah penanda jika fraktur dalam keadaan varus.
Beberapa penulis tidak mengadvokasi penggunaan sudut Bauman karena kesulitan dalam
mengidentifikasi lempeng pertumbuhan capitellum. Sudut Baumann merupakan salah satu
indikator keberhasilan reduksi yang telah dikerjakan dan berhubungan dengan carrying
16
angleyang mungkin terjadi. tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak saat awal
dilakukan reduksi sampai hasil akhir, dan tidak dipengaruhi oleh pronasi maupun fleksi dari
siku. Formula yang umum digunakan adalah perubahan 5 derajat dari sudut Baumann
berhubungan dengan perubahan carrying angle sebanyak 2 derajat 2,3,5
Gambar 2.5Baumann’s Angle
Sudut humeral ulnar adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan diafisis humerus
dan ulna. Sudut ini berguna untuk menentukan carrying angle
Medial epicondylar epiphyseal angle, adalah alternatif dalam pemeriksaan AP selain
sudut Baumann. Sudut ini dibentuk oleh perpotongan sumbu humerus dengan garis sepanjang
medial epicondylar epiphyseal plate. Baik sudut Baumann dan medial epicondylar epiphyseal
angleberguna untuk menentukan kecukupan reduksi fraktur suprakondiler.
Web & Shermann menyatakan bahwa tingkat akurasi sudut Baumann dalam
hubungannya dengan carrying angle akan menurun pada anak yang lebih muda dan pada
remaja, sehingga sudut dari Baumann hanya digunakan jika dibandingkan dengan siku yang
normal saja. Oppenheim berpendapat bahwa humeral – ulnar – wrist angle lebih konsisten dan
akurat dalam menentukan carrying angle. Sedangkan O’brien berpendapat bahwa
metaphyseal – diaphyseal angle lebih akurat jika dibandingkan dengan sudut dari Baumann.
17
Gambar 2.6 (kiri) Humeral Ulnar Angle; (kanan) Metaphyseal Diaphyseal Angle
Pada proyeksi lateral, sebaiknya humerus diambil sesuai posisi anatomis dan tidak
eksternal rotasi. Pada proyeksi ini, dapat dilihat anterior humeral lineyaitugaris yang
memotong pusat osifikasi capitellum dengan bagian anterior humerus. Pada fraktur
suprakondiler tipe ekstensi, capitellum terletak posterior dari garis ini. Fat-pad sign, sebagai
suatu tanda adanya efusi intraartikuler dapat juga terlihat dalam proyeksi lateral (gambar
2.8) 2,3,5
Pada proyeksi lateral juga ditemukan teardrop atau bayangan radiografis yang
dibentuk oleh batas posterior fossa coronoid pada bagian depan, batas anterior fossa olecranon
pada bagian belakang, dan batas superior pusat osifikasi capitellar pada bagian bawah. Selain
itu ditemukan pula garis coronoid dan sudut diafisis-condylar. Garis coronoid adalah garis
yang bersinggungan antara anterior prosesus coronoid dengan anterior kondilus lateralis.
Sedangkan nilai normal sudut diafisis condylar adalah 30-45 o (gambar 2.7)
18
coronoid
Hasil proyeksi oblique mungkin berguna untuk melihat pergeseran fraktur yang
minimalis. Dapat pula membantu membedakan fraktur suprakondiler dengan kondilus yang
tersembunyi, yang tidak dapat terlihat pada proyeksi AP dan lateral. Proyeksi oblique tidak
rutin dilakukan dalam pemeriksaan cidera siku.
2.8 PENATALAKSANAAN
Fraktur suprakondiler yang mengalami pergeseran memerlukan penanganan awal berupa
pemasangan splint, dengan siku berada dalam posisi yang nyaman, yaitu 20° sampai 40°
dalam posisi fleksi dan hindaripemasangan splint yang terlalu ketat. 2,5
Fleksi dan ekstensi
yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya gangguan pada aliran vaskular dan
19
menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan kompartemen. Namun, perlu dievaluasi lebih
lanjut oleh karena sering terjadi kekakuan sendi bahu dan kerusakan physis. Adapun
pertimbangan penatalaksaan fraktur suprakondiler adalah bagaimana mencegah kerusakan
seperti sindrom kompartemen dan mengurangi komplikasi seperti cubitus varus dan
kekakuan. 10
Dameron mencatat, berdasarkan jenis fraktur, terdapat 4 macam penanganan yakni:
(1) side-arm skin traction, (2) overhead skeletal traction, (3) closed reduction and casting
with or without percutaneous pinning, dan (4) open reduction and internal fixation. 5
2.8.2 Penanganan dengan Traksi
Traksi sebagaiterapi definitif bagi fraktur suprakondiler merupakan salah satu pilihan terapi
yang sudah lama digunakan. Kelebihan traksi, baik skin maupun skeletal traksi diantaranya
aman karena jarang terjadi iskemik Volkmann, hasil yang baik karena jarang terjadi
deformitas varus dan valgus, dapat diaplikasikan untuk fraktur yang baru terjadi maupun yang
sudah beberapa hari, baik stabil maupun tidak stabil. 10
Namun, kelemahan penanganan ini
adalah lamanya masa perawatan di rumah sakit yang berkisar antar 14 sampai 20 hari.
Pada penelitian uji klinis acak yang dilakukan oleh Kuzma, yang membandingkan
antara skin traction dengan skeletal traction dalam menangani fraktur supracondylar humerus,
bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dalam hal gambaran klinis, mobilitas bahu, dan
prevalensi terjadinya deformitas cubitus varus. Namun, skin traction memiliki kelebihan
yakni mudah dan tidak mempersiapkan peralatan seperti ruang operasi ataupun bius. 19
Penelitian yang dilakukan oleh Gadgil dkk, bahwa skin traction efektif dan aman untuk
dilakukan pada anak dengan umur kurang dari 10 tahun. 20
20
Perkutan
reduksi tertutup dan penggunaan casting merupakan pilihan untuk fraktur yang mengalami
pergeseran, karena didapatkan hasil yang baik pada 90% pasien dan tidak ditemukan masalah
vaskularisasi atau malunion. 10
Apabila ditemukan pergeseran fraktur yang sedang disertai
adanya hematom yang terfixir dengan fascia antecubital yang intak, fleksi siku cenderung
akan mengakibatkan iskemik Volkmann. Menurut Rang, fiksasi casting adalah metode
lampau merujuk pada dua kasus kontraktur Volkmann komplit tipe lambat. 10
Reduksi tertutup dan fiksasi pinning merupakan pilihan terapi fraktur suprakondiler
yang paling banyak digunakan. AAOS menyarankan reduksi tertutup dan fiksasi pinning pada
pasien dengan fraktur suprakondiler humerus tertutup yang mengalami pergeseran (Gartland
tipe II dan III, dan fleksi displaced) dengan kekuatan rekomendasi sedang. Beberapa
penelitian yang menyokong rekomendasi tersebutmenyebutkan bahwa secara
statistik,penanganan dengan fiksasi pinning lebih baik dibanding penanganan non operatif
dalam hal mencegah cubitus varus dan kehilangan gerakan, namun lebih berisiko
menimbulkan infeksi. Penelitian yang dilakukan oleh Kumar, bahwa kriteria Flynn (kriteria
yang dipakai untuk menilai hasil post reduksi pada fraktur suprakondiler humerus, yakni
kosmetik dan fungsional pada penggunaan reduksi tertutupdan pinning perkutan pada fraktur
suprakondiler humerus yang mengalami pergeseran adalah sangat baik sebanyak 202 kasus,
baik 68 kasus, cukup 5 kasus dan kurang sejumlah 2 kasus. Kesimpulannya, teknik closed
reduction and percutaneous pinningefektif untuk menangani fraktur suprakondiler humerus
yang mengalami pergeseran. 21
Pasien dalam pengaruh anestesi umum, dengan posisi supinasi, palpasi batas,
kemudian cek arah pergeseran tulang. Lakukan traksi dengan fleksi lengan atas sebesar 10 0
21
koreksi pergeseran lateral. Dorong olecranon ke arah anterior untuk mengoreksi pergeseran
posterior, kemudian fleksi siku sebesar 40 0 hingga olecranon berada anterior terhadap
epikondilus. Rotasi eksternal pada kedua lengan atas untuk mengoreksi deformitas rotasi
internal. Kedua lengan atas semestinya rotasi dalam besaran yang sama. Apabila pergeseran
ke arah medial, pronasi lengan bawah untuk mengunci patahan, begitu pula sebaliknya. Tahan
posisi patahan yang telah tereduksi atau cek dengan menggunakan C-Arm (Gambar 2.8).
Masukkan 2 buah K-Wire 1,4mm menggunakan teknik Judet, dimana satu pin dimasukkan
menuju kondilus lateralis sedangkan pin kedua menuju korteks medialis. 10
Selain dalam posisi
supinasi, reduksi tertutup dapat dilakukan dalam posisi pronasi (gambar 2.9). Gaya gravitasi
cenderung mempertahankan posisi pada saat pin dimasukkan. Kriteria reduksi yang dapat
diterima adalah restorasi dari sudut Baumann (> 10°) pada foto rontgen posisi AP, gambaran
kolummedial dan lateral yang utuh pada foto rontgen posisi oblique, dan garis anterior
humeral melewati 1/3 tengah dari capitelum pada foto rontgen posisi lateral. Malalignment
rotasional dapat mengganggu stabilitas fraktur, jadi bila terdapat malrotasi, harus dilakukan
pemeriksaan stabilitas reduksi dan kemungkinan penggunaan fiksasi ketiga dengan pinning.
Reduksi dari fraktur diperoleh dengan penggunaan dua atau tiga Kirschner wire. Dilakukan
imobilisasi dengan posisi fleksi 40° sampai 60°, tergantung dari besarnya pembengkakan dan
status vaskular. Jika terdapat celah pada lokasi fraktur atau bila fraktur tidak bisa direduksi,
dan terasa seperti karet saat melakukan reduksi, kemungkinan terjadi penjepitan pada nervus
medianus dan atau arteri brachialis pada lokasi fraktur dan harus dilakukan reduksi terbuka.
Gambar 2.9 Langkah-Langkah Reduksi Tertutup
22
Penelitian yang dilakukan oleh Swenson, Casiano, dan Flynndengan menggunakan dua pin
menyilang. Penelitian Arino dkk merekomendasikan penggunaan duapin lateral. Penelitian
Foster dan Paterson menggunakan dua pin lateral divergen. Sementara itu, penelitian yang
dilakukan oleh Skaggs dkk,menggunakan tigapin lateraljika frakturmasih tidak stabil dengan
dua lateral pin. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Haddad dkk dan Shim dkk,
menggunakan dua pin lateraldan satu pin medial. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian hewan
yang dilakukan oleh Herzenberg dkk, yang menemukan bahwa fiksasi pin medial dan lateral
lebih stabil dibanding dengan hanya fiksasi lateral saja, namun tidak direkomendasikan jika
terdapat edema atau cidera pada saraf ulnaris. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian yang
dilakukan oleh Skaggs dkk, yang menemukan bahwa terdapat 4% ulnar nerve palsydengan
penggunaan pin medial. Untuk mencegah komplikasi tersebut, penelitian yang dilakukan oleh
Royce dkk, merekomendasikan fiksasi menggunakan dua lateral pin jika fraktur stabil setelah
dilakukan reduksi tertutup. Untuk jenis kominutif atau fraktur yang tidak stabil, bisa
digunakan pin medial dan lateral. Untuk mencegah komplikasi cidera…