fraktur suprakondiler

Embed Size (px)

Text of fraktur suprakondiler

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    1/45

    FRAKTUR SUPRAKONDILER HUMERI PADA ANAK

    E V A lU A S I K (} 1 P A R A T I F P E N G E L O L M N S E C A R A O P E R A T I FD A N K O N S E R V A T I F P A D A F R A K T I J R O E R A JA T I I I

    dr. Jajang Edi Priyatno

    BAGIAN BEDAB FAKULTAS KEDOKTBRANUNIVERSITAS DIPONEGORO

    1996

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    2/45

    DAFTAR lSI

    2. Fraktur Suprakondiler Humeri Pada AnakEvaluasi Komparatif Pengelolaan secara OperatifDan Konservatif Pada Fraktur Derajat III.

    2. Nyeri Leher Suatu Kejadian Yang Jarang Terjadi Pad a PerforasiV esika U rinar ia.

    3. Kontroyersi Pengelolaan Apendikuler Infiltrat.4. Hernia Inguinalis Pada Bayi: Nasib Testis Pada Inkaserata.5. Degloving Kulit Kepala.6. Pemakaian Antibiotika Dalam Urologi.7. Pyelonephritis.8. Perbedaan Hasil Sachse Pada Striktu'ra Uretra

    Akibat Trauma Dan Infeksi.20. Pola Perlukaan Pada Pengendara Sepeda Motor Yang

    Kecelakaan Lalu Lintas.21. Perbedaan Kalsium Dan Asam Urat Darah Pada Penderita

    Batu Saluran Kemih Unilateral Dan Bilateral.22. Labioschizis.13. Kasus Batu Ureter Kanan Dengan Riwayat Post Apendiktomi.14. Varikokel.15. Benigna Prostat Hiperlasi.16. Palatoschizis.17. Terapi Non Bedah Pada Benigna Prostat Hiperplasia.

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    3/45

    TULISAN INI TELAH SELESAI DIPERIKSA DAN DIKOREKSISEMARANG, AGUSTUS 1996

    ~.dr. H.Abdul Wahab,FICSNIP. 130 345 795

    .dr.H.Faik HeyderNIP: 130 329 446

    MENYETUJUI,KETOA PROGRAM STUD!BAGIAN ILMU BEDAH

    FAKULTAS KEDOKTBRAN UNDIP

    dr. Dar sit 0NIP: 130 219 411

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    4/45

    KATA PENGANTAR

    Karya tulis akhir dengan judul "Fraktur suprakondilerhumeri, evaluasi komparatif pengelolaan secara operatif dankonservatif pada fraktur derajat lIlli, merupakan syaratuntuk menyelesaikan pendidikan dokter spesialis I dalambidang llmu Bedah di Fakultas Kedokteran Universitas Dipone-goro Semarang.

    Segala bantuan dan dorongan dari para guru besar,guru, ternan serta keluarga sangat berarti dalam penyelesaiankarya tulis akhir ini. Oleh karena itu perkenankanlah penu-lis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tuluskepada:- prof.dr.H.Heyder bin Heyder, guru besar dalam llmu Bedah

    dan sesepuh kami, yang selalu memberi nasehat menanamkanrasa tanggung jawab dengan penuh kebijaksanaan yang sangatberguna bagi karoi sebagai bekal dalam menghadapi tugasyang akan datang.dr.R.Saleh Mangunsudirdjo,FICS, yang telah menerima,

    mendidik, membimbing dan menanamkan rasa tanggung jawabdengan penuh kebijaksanaan walaupun awalnya terasa beratdan penuh ujian namun semuanya ikut membentuk jati diridan wawasan sebagai bekal dalam menghadapi tugas yang akandatang.

    - Dekan Fakultas Kedokteran Undip Semarang yang telah mener-ima dan memberi kesempatan serta fasilitas kepada penulisuntuk mengikuti pendidikan dalam bidang Ilmu Bedah.

    i

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    5/45

    Direktur RSUP.dr.Kariadi Semarang yang telah memberikesempatan fasilitas dan kerjasama yang baik selama penu-lis menjalani pendidikan.

    - dr. F.Sutoko sebagai Ketua Bagian Ilmu .Bedah FK UndipSemarang atas segala jerih payahnya dalam mendidik, mem-bimbing serta selalu menanamkan rasa disiplin yang tinggiselama penulis menjalani pendidikan.

    - Dr.dr.H.Achmad Faik Heyder, Ketua Staf Medik FungsionalBedah RSUP.dr.Kariadi Semarang yang telah memberi kesempa-tan fasilitas serta kerja sarna yang baik selama penulismenjalani pendidikan.

    - dr.Darsito Ketua Program Studi Ilmu Bedah FK Undip atassegal a petunjuk dan bimbingan selama penulis menjalanipendidikan serta koreksi di dalam penyelesaian karya tulisini.

    - dr.H.Abdul Wahab, FICS yang telah memberikan bimbingan,petunjuk dan koreksi dalam penyelesaian tulisan ini.

    - Dr.dr.H.A.Faik Heyder, yang telah memberikan bimbinganmetodologi penelitian serta petunjuk, koreksi dalam penye-lesaian tulisan ini.Para guru Ilmu Bedah yang sangat penulis hormati dantidak dapat penulis sebut satu persatu atas segala curahanilmu serta bimbingan yang telah diberikan selama penulisrnenjalani pendidikan.

    - Rekan residen Ilmu Bedah atas segala kerja sarna bantuanserta kebersamaan dalam suka dan duka selama menjalanipendidikan.

    ii

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    6/45

    - Paramedis dan semua pihak yang telah banyak membantupenulis dalam penyelesaian karya tulis ini.

    - Ayah H.Abdurrachman dan ibu tercinta yang dengan penuhkasih sayang serta segala pengorbanannya telah mengasuhmembesarkan mendidik dan menanamkan rasa tanggung jawabdan disiplin dengan segala rasa hormat dan terima kasih,sujud dan bakti kupersembahkan kepadamu.

    - Ibu dan Almarhum ayah mertua Kol.Pol. (Purn) R.Sardjonoyang dengan tulus dan penuh pengertian memberi doronganmoril/semangat juga sembah bakti kupersembahkan padamu.

    - Isteriku Dra. Pratiwi Nur Irianti serta anakku Tia dan Liaserta segenap keluarga yang dengan tabah dan sabar sertapenuh pengertian mendampingi serta memberikan dorongansemangat serta kerelaannya berkorban selama penulis menja-lani pendidikan.

    - Kepada semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satupersatu telah membantu dalam penyelesaian tulisan ini jugapenulis ucapkan terima kasih.

    Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan yangsetimpal atas segala budi baik dan keikhlasannya.

    Semarang, Agustus 1996

    Pen u 1 i s

    iii

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    7/45

    DAFTARSI

    HalamanKata pengantar 1Daftar isi ivDaftar tabel vDaftar gambar vi

    I . Pendahul uan 1A. Latar belakang masalah 1B. Rumusanmasalah 4C. Tujuan dan manfaat penelitian 4

    I I . Tinj auan Pustaka 5III. Kerangka teori 15IV. Hipotesis..................................... 16V. Bahan dan cara penelitian 17

    A. Desain penelitian 17B. Subyek penelitian 17

    1. Populasi 172. Kriteria inklusi 173. Kriteria eksklusi 174. Pengacakan 17

    C. Besar sampel 18D. Identifikasi variabel 18

    1. Variabel tergantung 182. Variabel bebas 19

    E. Alur penelitian 20F. Cara penelitian 21G. Analisa data _ 22

    VI. Hasil penelitian _ _. . . . . . . . . . .. 23VII. Pembahasan 26VIII. Kesimpulan dan saran 28

    Kepustakaan 29Lampiran 31

    iv

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    8/45

    DAFTAR TABEL

    Halaman1. Tabel 1. Beberapa variabel yang diduga berperan

    dalam penyembuhan fraktur 232. Tabel 2. Hubungan antara ROM dan jenis terapi 243. Tabel 3. Hubungan antara lcarrying angle 1 dengan

    .. . 24]eru.s terap1 .4. Tabel 4. Hubungan antara 'malunion' dengan jenis

    terapi ,.................. 25

    v

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    9/45

    DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    1. Gambar 1. Kerangka teori 15

    2. Gambar 2. Alur penelitian 20

    vi

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    10/45

    I. PENDAHULUMf

    A. Latar belakang maaa.Lah,Fraktur suprakondiler humeri adalah fraktur yang

    terjadi pada bagian distal tulang humerus setinggi kondi-Ius humeri, yang melewati fossa olekrani(l). Fraktur inisering terjadi pada anak, yaitu sekitar 65% dari seluruhkasus patah tulang lengan atas(2). Fraktur suprakondilerhumeri terutama dengan derajat III ('displace') seringmenimbulkan komplikasi pada syaraf maupun vaskuler setelahterjadinya fraktur maupun setelah penanganan fraktur(3,4) .Kontraktur Volkman, penurunan ruang lingkup gerak sendi,miositis ossifikans, 'malunion' , 'delayed union', 'nonunion' dan perubahan Icarrying angle' adalah komplikasiyang sering terjadi setelah penanganan. (5,6)

    Andrew dan Stephan (1978) pada penelitiannya terha-dap 52 kasus anak dengan fraktur suprakondiler humeriderajat III yang dikelola dengan operasi dan pemasangan K-Wire mendapatkan hasil yang tidak berbeda dengan kasusyang dikelola secara konservatif, yaitu didapatkan kompli-kasi deformitas cubitus varus pada 25 % penderita. Tam-paknya deformitas tersebut disebabkan oleh reposisi yangtidak baik dengan angulasi frakmen distal ke arah medial.Terapi operatif tidak banyak dianut di masa lalu, karenaselain hasilnya tidak lebih baik juga ditakutkan timbulnya

    1

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    11/45

    cacat pasca operasi berupa kekakuan sendi, infeksi,miositis ossifikans dan deformitas. ( 7)

    Muhammed dan Rymaszewski (1995) pada penelitiannyaterhadap 26 kasus anak dengan fraktur suprakondiler humeriderajat III yang dikelola secara operatif dan konservatiftidak mendapatkan perbedaan yang bermakna yaitu didapatkandeformitas cubitus varus pada 2 kasus. (26)

    Aamodt dan Gronmark (1991) melakukan penelitianterhadap 26 penderita fraktur suprakondiler humeri derajatIII pada anak yang dikelola secara konservatif. 15 pender-ita dengan traksi skeletal lewat olekranon dan 11 kasusdengan reposisi tertutup dan fiksasi gips. Didapatkanhasil akhir sangat baik dan baik pada seluruh penderitayang dikelola dengan traksi skeletal lewat olekranon,sebaliknya ditemukan 3 penderita dengan hasil akhir tidakmemuaskan pada kasus yang dikelola dengan reposisi tertu-tup dengan fiksasi gips oleh karena kehilangan lebih dari150 'carrying angle' sendi siku. (8)

    Rodriguez (1992) pada penelitiannya terhadap 120anak dengan fraktur suprakondiler humeri derajat IIIyang dikelola dengan traksi skeletal atas kepala mendapat-kan 68 anak (56%) dengan hasil sangat baik , 40 anak (34%)baik, 4 (3,5%) kurang baik dan 8 (6,5%) sangat jelek.Cubitus varus tampak pada 4 kasus. (22)

    2

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    12/45

    Urlus dan Kestelijn (1991) mendapatkan 33 anakdengan fraktur suprakondiler humeri derajat III yangdikelola dengan traksi Dunlop, 29 (88%) dengan hasil baikdan 4 anak (12%) dengan hasil jelek. (23)

    Vicente dan Arino (1977) melaporkan hasil peneli-tian terhadap 189 anak dengan fraktur suprakondilerhumeri derajat III yang dikelola dengan reposisi tertu-tup dan pemasangan IPercutaneous pinning I mendapatkan131 (69,3%) dengan hasil sangat baik , 29 (15,3%) denganhasil baik 28 (14,8%) kurang dan 1 (O/St) sangatjelek.(24)

    Walaupun pada kepustakaan ditemukan beberapapendapat tentang metode dan terapi fraktur suprakondilerhumeri derajat III, tetapi sangat sulit untuk membanding-kan hasil antara masing masing jenis pengelolaan, karenaperbedaan kriteria untuk evaluasi hasil fungsi akhir darisendi siku. Pada akhirnya hasil akhir dapat dilihat darikomplikasi yang terjadi, terutama penurunan ruang geraksendi,adanya malunion dan penurunan 'carrying angle'. (3,9)

    3

    ... __ . _. ~_", " ' _._. _: _." ," ._.,, __ .r"._~_~~_"_""':-'~ __ "'''__~~ __ ' ',,"-, _. ~.

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    13/45

    B. Rumusan masalah.Apakah pada pengelolaan fraktur suprakondiler

    humeri deraj at III pada anak dengan konservatif akanmemberikan hasil akhir yang sarna di tinj au darikomplikasi yang terjadi bila dibandingkan dengan pe~gelo-laan secara operatif ?

    C. Tujuan dan manfaat penelitian.1. Tujuan

    Untuk membandingkan keberhasilan pengelolaan fraktursuprakondiler humeri derajat III pada anak secara operatifdan konservatif ditinjau dari basil akhir adanya perubahanROM, 'carrying angle I, malunion.

    2. Manfaat penelitianHasil dariipenelitian ini diharapkcin dapat dijadikan

    I

    bahan pertimbangan dalam menentukan pengelolaan fraktursuprakondiler humeri derajat III pada anak dalam hal kom-plikasi yang terjadi dan lama perawataan.

    4

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    14/45

    II. TINJAUAN PUSTAKA

    1. InsidenBoyd dan Altenberg mendapatkan angka 65,4% dari

    713 kasus fraktur daerah sendi siku(2). Sedangkan PaulGriffin mendapatkan angka 60% (10).Wilkin's mendapatkan97,7% dengan fraktur tipe ekstensi dan 2,2% dengan frakturtipe fleksi.(16)

    Fraktur ini sering terjadi pada anak dengan umurantara 2-12 tahun dengan frekuensi terbanyak antara umur4-9 tahun.(11,12,13,14).

    Bila dilihat dari derajat pergeseran fraktur, makapada fraktur dengan25%. (15) Sedangkan13%. (12)

    derajat III,Paul Tahalele

    Lukman mendapatkanmendapatkan angka

    2. AnatomiUjung distal humerus berbentuk pipih antero posteri-

    or, bersama-sama dengan ujung proksimal radius dan ulnamembentuk persendian jenis ginglimus di arthroradialisatau 'hinge joint'. Ujung distal humerus terdiri dari duakondilus tebal ( lateralis dan medialis ) yang tersusunoleh tulang konselous. Pada anak, ujung distal humerusterdiri dari kartilago. Batas massa kartilago denganbatang tulang merupakan tempat yang lemah, dimana sering

    5

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    15/45

    terjadi pemisahan dari epifise. Karena itu penting untukmengetahui kapan timbulnya pusat penulangan, konfigurasidan penyatuan dengan batang humerus.

    Kondilus lateralis ditumpangi oleh kapitulumyang merupakan tonjolan berbentuk kubah yang nantinyaakan bersendi dengan cekungan pada kaput radii. Di kranial.kapit.uum pada permukaan anterior humerus, terdapatcekungan (fossa) yang akan menampung ujung kaputradii pada keadaan fleksi penuh sendi siku.(3)Troklea adalah tonjolan berbentuk kumparan yangterdapat di kranial kondilus medialis dan bersendi /berartikulasi dengan cekungan pada ujung proksimal ulna.Bagian medial troklea menonjol dan memanjang sedikit kedistal.

    Seluruh permukaan troklea dilapisi kartilago sampaifossa olekranon. Sedikit di kranial troklea humerusmenipis untuk membentuk fossa koronoidea di anterior danfossa olekranon di posterior. Fossa tersebut akan menam-pung prosessus koronoideus ulna pada gerakan fleksi danujung prosessus olekranon pada gerakan ekstensi. Hiper-ostosis pada fossa tersebut atau di sekitar tonjolan /prominensia ulna akan membatasi gerak sendi siku di krani-al kedua kondilus yaitu di bagian lateral dan medialhumerus terdapat epikondilus, tempat melekatnya tendo-tendo otot. Satu-satunya tendo yang merupakan tempat asal

    6

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    16/45

    kelompok otot fleksor pronator berasal terutama dariepikondilus medialis dan dari 'medial supracondylarridge', yang terdapat sedikit di kranial epikondilus.Demikian juga kelompok otot ekstensor supinator berasaldari epikondilus lateralis dan 'lateral supracondylarridge' .(3,18)

    Kondilus lateralis dan medialis dan permukaan arti-kularisnya agak miring ke anterior dengan mernbentuk sudut400dengan aksis korpus humeri. Pada fraktur suprakondilerhumeri anak, bila pusat penulangan troklea sudah diangula-si ke anterior, berarti reposisinya adekuat. Bila tidakmaka akan terjadi hambatan pada gerak ekstensi. (21)

    Aksis transversal bagian distal humerus terletakagak oblik sehingga permukaan artikularis inferior agakmengarah keluar oleh karena itu dalam ekstensi penuhlengan bawah akan membentuk sudut kurang lebih 1600denganlengan atas. Dalam pemeriksaan carrying angle ini kedualengan dalam posisi adduksi, kedua lengan bawah dalamposisi supinasi, sehingga kedua telapak tangan mengarah keanterior dan diperhatikan deviasi lengan bawah darisisi badan/tubuh. (3.21)

    Reposisi fraktur yang tidak adekuat atau asimetripertumbuhan epikondilus akibat trauma, akan menimbulkandeformitas berupa deviasi yang berlebihanbawah kearah luar (cubitus valgus), yang bila

    dari lenganberlebihan

    7

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    17/45

    akan menyebabkan terbaliknya 'carrying angle'. (18)

    3. Mekanisme cederaKarena adanya fossa olekrani dan fossa koronoid maka

    bagian distal metafise humerus merupakan tempat yangpaling lemah , akibatnya baik pada cedera hiperekstensiatau fleksi lengan bawah tenaga trauma ini akan diterus-kan lewat sendi siku.(3)Fraktur terjadi akibat jatuh bertumputerbuka dengan siku agak fleksi dan lengankeadaan pronasi. (17)

    Pada sebagian besar fraktur suprakondiler, garisfraktur berbentuk oblik dari anterior ke kranial dan ke

    pada tanganbawah dalam

    posterior, dengan pergeseran frakmen distal ke arah poste-rior kranial. Fraktur suprakondiler humeri jenis ekstensiselalu disertai dengan rotasi frakmen distal ke medialdan 'hinging' kortek lateral. (17)

    Walaupun rotasi merupakan suatu komponen utama daribeberapa jenis fraktur suprakondiler, namun rotasi terse-but tidak selalu terjadi. Fraktur komunitif jarang dijum-pai. (18)

    Pada fraktur suprakondiler humeri semua derajatpergeseran dapat terjadi. Salah satu bentuk pergeseranadalah angulasi ke anterior dan medial, dengan pemisahan

    8

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    18/45

    frakmen fraktur. J.enispergeseran yang lain adalah tidakadanya kontak antar frakmen dan kadang-kadang pergeser-annya cukup besar. Ujung distal dari frakmen proksimalyang tajam yang mengarah ke anterior kaudal akan menusuksehingga menimbulkan kerusakan pada m.brachialis, disamping itu akan terjadi penekanan pada a/v brachialisatau n.radialis dan n.medianus. Pada pergeseran yanghebat/besar, salah satu dari struktur-struktur tersebutdapat saja terjepit (interposisi) diantara frakmen frak-tur.(17,18)

    Fraktur suprakondiler jenis fleksi jarang dijumpai,biasanya terjadi akibat jatuh yang mengenai siku dalamkeadaan fleksi. Garis fraktur mulai kranial mengarah kepostero kaudal dan frakmen distal mengalami pergeseranke arah anterior. Jenis fraktur ini harus dibedakan darifraktur jenis ekstensi karena reposisi dan imobilisasin-ya dalam keadaan ekstensi. (21)

    4. PengelolaanSeperti halnya pada setiap fraktur, pengelolaan

    fraktur suprakondiler humeri adalah : reposisi, fiksasidan mobilisasi .Reposisi terdiri dari :

    - reposisi tertutup- reposisi terbuka

    9

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    19/45

    a. Reposisi tertutupUntuk fraktur derajad III tanpa pembengkakan dan tanpagangguan neurovaskuler dilakukan reposisi dengan narkose,kemudian dilakukan imobilisasi. Untuk fraktur tipe eksten-si dilakukan imobilisasi dengan siku fleksi 900 ataumaksimal dan jika terdapat angulasi ke medial lengan bawahdipronasikan , sedangkan jika terdapat angulasi ke laterallengan bawah disupinasikan.Bila reposisi berhasil maka hasil reposisi dipertahankandengan cara

    - 'Sling collar and cuff', (12,20)- Gips sirkuler atas siku, (1,19)- Pembidaian posterior dengan gips, (25)- 'Shoulder spica', (10)- 'Percutaneous pinning' (24)

    Imobilisasi selama 3 - 4 minggu dan dilanjutkan denganmobilisasi.

    b. Reposisi terbukaCara ini dikembangkan untuk mendapatkan kedudukan seana-tomis mungkin dengan fiksasi yang stabil dan diindikasikanuntuk fraktur derajat II - III yang tidak stabil.Dilakukan reposisi terbuka dengan pemasangan K-Wirefiksasi dipertahankan selama 3 minggu kemudian K-Wiredicabut dan dilanjutkan dengan mobilisasi. (4,7)

    10

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    20/45

    c. Reposisi dengan traksiDikerjakanbengkakan

    padafraktur suprakondiler humeri dengan pem-atau fraktur yang gagal dilakukan manipulasi

    untuk kemudian dipersiapkan reposisi terbuka.Cara ini terdiri dari :- Traksi Dunlop. (19,23)- Traksi skeletal lewat olekranon. (22)- Traksi atas kepala. (21)- Traksi kulit posisi ekstensi. (II)Traksi diatur dengan beban sedemikian rupa sampai didapat-kan kedudukan yang baik. Biasanya traksi dipertahankan 3-4minggu kemudian dilanjutkan dengan bidai selama 2 minggubaru mobilisasi.

    5. Kriteria hasil pengelolaanKriteria hasil pengelolaan fraktur suprakondiler humeripada anak ditentukan berdasarkan evaluasi pasca tindakanyang meliputi :

    1. Lingkup gerak sendi ('Range of Motion')Pergerakan sendi siku terdiri atas 2 macam yaitu gerakfleksi ekstensi dan gerak rotasi.

    11

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    21/45

    Gerak fleksi ekstensi terjadi pada persendian yangdibentuk oleh bagian distal humerus dengan tulang radiusdan ulna yang merupakan sendi engsel. Gerak fleksi meli-batkan sendi humero radial dan humero ulnaris terjadi padasatu sumbu. Sumbu ini melewati pusat lingkaran yang diben-tuk oleh dasar sulkus troklearis dan tepi dari kapitulumhumeri. Pada pengukuran ruang gerak fleksi ekstensi, dise-but ekstensi 180 bila lengan dalam ekstensi penuh dimanasurnbulengan bawah terletak pada sumbu anggota gerak atastersebut. Derajat fleksi diukur dengan sudut yang dibentukoleh lengan bawah dan lengan atas, normal sampai 30.Di dalam menyebutkan gerak sendi siku dianjurkan untukmengukur dari ekstensi penuh ke fleksi penuh. Misalkan80, gerak ini fungsionil bila lengkung gerak dari 60sampai 140. Tetapi tidak fungsionil bila 100 sampai180, karena membatasi untuk gerakan menyisir rambut danmakan .(3)Gerak rotasi yaitu supinasi dan pronasi yang terjadi padasendi radius dan ulna. Pada pengukuran rotasi lenganbawah, lengan harus adduksi dan fleksi 90 pada sendisiku. Posisi netral didapatkan dengan menempatkan telapaktangan lurus dan ibu jari abduksi menghadap ke atas. Darisini bisa diukur lengkung gerak supinasi dan pronasi.Normal 900baik pada supinasi maupun pronasi. (3,20)

    12

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    22/45

    2. 'Carrying angle'.'Carrying angle' adalah sudut yang dibentuk oleh sumbulongitudinal lengan bawah dalam keadaan supinasi penuhdengan sumbu longitudinal lengan atas dalam keadaan sendisiku ekstensi penuh. 'Carrying angle' pada masing masingorang berbeda . Pada wanita rata rata 6,1 dengan variasiantara 0 sampai 120 pada laki laki 5 6 dengan variasiantara 0 sampai 11.Perubahan 'carrying angle' sebagai komplikasi fraktursuprakondiler humeri sangat tinggi yaitu antara 20% sampai57%. (25)

    3. 'Union'Salah satu komplikasi pengelolaan fraktur suprakondilerhumeri pada anak dapat dilihat adanya Imalunion I yangberupa cubitus varus dan cubitus valgus.Cubitus varus disebabkan terganggunya pertumbuhan lempengepifise. Cubitus varus disebabkan karena adanya rotasi kedalam dari frakmen distal yang tidak tereposisi. Biladeviasi ini terjadi berlebihan akan menyebabkan terba-liknya 'carrying angle' I kompl ikasi ini sering terja-

    13

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    23/45

    Cubitus valgus merupakan deformitas yang berupa deviasifrakmen distal ke arah luar (lateral), 'malunion' inij arang terj adi namun mempunyai kecenderungan menyebabkanpalsy nervus ulnaris. (21)Terdapat beberapa kri teria yang dapat dipergunakan untukmenilai hasil akhir pengelolaan fraktur suprakondilerhumeri pada anak, tetapi yang paling banyak digunakanadalah kriteria menurut Mitchell dan Adam yang menilai

    hasil akhir berdasarkan adanya perubahan ROMdan 'carryingangle' . (19)

    14

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    24/45

    III. KBRANGKATEORI

    Kerangka teori yang diajukan adalah seperti yang terlihatpada gambar 1

    F r a k t u r S u p r a k o n d i l e r H u m e r iP a d a A n a k

    T i p e B k s t e n s id r j I III III II

    I D e r a j a t II

    ! n e r a j a t II& I I I I

    I K o n s e r v a t ifIO p e r a t i f I K o n s e r v a t i fI

    K - W i r e I T r a k s iM a n u a l + G i p sP e r k u t a n P i nI

    S e m b u h S e m b u hR a d i o l o g i R a d i o l o g i

    IB a i k s e k a l i - R O M B a i k s e k a l iB a i k - M a l u n i o n ~ B a i kK u r a n g - C a r r y i n g K u r a n ga n g l e

    15

    IT i p e F l e k s idrj I III III

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    25/45

    IV. HIPOTESIS

    Tidak terdapat perbedaan hasil akhir pengelolaan fraktursuprakondiler humeri derajat III pada anak secaraoperatif dibandingkan dengan pengelolaan secara kon-servatif.

    ~6

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    26/45

    v . BAHAN DAN CARA PENELITIAN

    A. Desain penelitianPenelitian ini merupakan sualu uji klinik acak

    dengan kontrol ( 'Clinical randomized controlled trial' )

    B. SUbyek penelitian1. Populasi .

    Penderita anak dengan fraktur suprakondiler humeriderajat III tertutup tipe ekstensi non komplikata yangdikelola secara konservatif di UGD berupa reposisi dengannarkose, imobilisasi siku dalarn keadaan fleksi 90 dandipertahankan dengart gips spalk dan yang dikelola secaraoperatif di IBS RSUP Dr. Kariadi Semarang dengan pema-sangan K- wire, periode Januari 1994 sampai Januari 1996.2. Kriteria inklusi.2.1. Anak usia 2 - 14 tahun2.2. Secara klinis dan radiologis didiagnosa fraktur

    suprakondiler humeri de raj at III tertutup tipeekstensi non komplika ta

    3. Kriteria eksklusi.Fraktur multipel, fraktur terbuka, fraktur komplikata.

    4. Pengacakan ( Randomisasi ).Pengacakan dilakukan dengan cara 'sampel tertutup'.

    17

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    27/45

    C. Besar sampel.Besar sampel dihitung berdasarkan rumus POCOCKn = pI x (IOO-pl) + p2 x (lDO-p2) x f (a, B)Berdasarkan rumus diatas didapatkan n = 26

    D. Identifkasi variabel.

    1. Variabel tergantung1.1. ROM sendi sikuBasil ~tLndalcan dengan mengukur ROM sendi siku dinilai sesuaikriteria Mitchel dan Adam yaitu (19)

    -: -~- Baik sekal i .- : - sempurna

    fleksi berkurang 10- Baik - fleksi berkurang 10 - 20

    - fleksi berkurang > 20KurangData berskala ordinal1.2. Perubahan 'Carrying angle'Perubahan 'Carrying angle' pasca tindakan dinilai sesuai kriteriaMitchel dan Adam : (19)- Baik sekali - sempurna

    - perubahan 'Carrying angle' 5- Baik perubahan 'Carrying angle' 5 - 10-Kurang - perubahan 'Carrying angle' > 10Data berskala ordinal

    18

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    28/45

    ~.3. 'Malunion'Komplikasi malunion yang terjadi pasca tindakan dapatdilihat adanya deformitas varus dan valgus.Data berskala ordinal.

    2. Variabel bebas2.~. Status gizi , untuk anak dibawah 5 tahun menggunakan

    standart Harvard , diatas 5 tahun dengan rumus8 + 2n ( umur ).Dinyatakan gizi - lebih bila indeks > 1~0%

    - baik bila indeks 80% - ~10%- kurang bila indeks 60% - 80%- buruk bila indeks < 60%.

    Data berskala ratio.2.2. Lama kejadian

    Dinyatakan dalam jam- Dihitung sejak mendapat trauma sampai mendapatkan

    penanganan di UGD bedah dan di IBS RSUP Dr KariadiSemarang.

    - Data berskala ordinal

    19

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    29/45

    E. Alur peneli tian

    Fraktur suprakondiler humeriderajat III ttp tipe ekstensinon komplikata pada anak

    Kriteriainklusi > < Randomisasieksklusi

    Operatif KonservatifReposisi tbk Reposisi ttp

    I I- Status gizi >- Lama kejadian- ROMSembuh < - Malunion > SembuhRadiologi - Carrying angle Radiologi

    +

    20

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    30/45

    F_Carapenelitian

    ~. Semua anak dengan fraktur suprakondiler humeri derajatIII yang ( inklusi ) memenuhi syarat penelitian dipisah-kan secara acak ( random )dengan sistim sampul tertutupmenjadi kelompok operatif dan kelompok konservatif.

    2. Sebelum tindakan, semua penderita dilakukan pemeriksaanberat badan, tinggi badan, usia, lama kejadian.

    3. Sernua penderita setelah dilakukan tindakan dilakukankontrol foto.

    4. Serona p enderita dilakukan fisioterapi (mobilisasi) sete-lab minggu ke I I I .

    5. Semua penderita setelah 3 pulan dipanggil kembali rnelaluisurat untuk selanjutnya dilakukan follow up dengan mela-kukan pemeriksaan :

    - Kontrol foto- ROM- Adanya 'malunion' / tidak- 'Carrying angle'

    6. Eila penderita tidak datang dilakukan kunjungan rurnahuntuk dilakukan pe~eriksaan.

    21

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    31/45

    Go Analisa data

    1. Data nominal dan ordinal diuji statistik 'Pearson ChiSquare', 'test of linear trend', 'Yates correction' atau'Fisher Exact test' dipakai bila diperlukan.

    2. Data ratio dilakukan uji normalitas distribusi.Bila distribusi tidak normal I untuk menguji perbedaanantara dua kelompok dilakukan 'Non Parametric KruskalWallis Test' / 'Mann Withney U Test'.

    3. Batas kemaknaan yang diterima bila p < 0,05 dan p < 0,01.4. Penyajian data dilakukan dalam bentuk tabel.

    22

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    32/45

    I

    II

    I

    VI. Hlsil PenelitianI

    Didapatkan 52 kasus f1raktur suprakondiler humeri padaanak yang memenuhi persyaratan dilakukan penelitian selama

    I

    periode Januari 1994 sampki Januari 1996. Dari. 52 kasussesuai dengan hasil randaL alakasi dengan teknik randomsampling sederhana genap gJnjil didapatkan 26 kasus dilaku-kan pengelolaan secara kon~ervatif dan pemasangan gips dan26 kasus secara aperatif debgan pemasangan K-Wire.

    ITabel 1. Beberapa variabell yang diduga berperanan dalampenyembuhan fraktur IIVariabel Konservattf Operatif P

    1.Jen kel :- Pria 19 21 0,43333- wanita 7 52.Gizi:- Kurang 6 6 0,36036- Baik 18 19- Baik 2 1Sekali3.Lama Kejadian- 24 jam 7 11

    IP > 0,05 = tidak signifikanUji beda rata rata dari Varlabel status gi2i dan lama keja-dian terhadap perlakuan y~ng diberikan baik konservatifmaupun operatif menunjukkan hasil yang tidak berbeda bermak-na.Pearson Chisquare Test juga menunjukkan hasil yang tidakberbeda bermakna pada kedualkelompOk. (p>O,OS)

    I

    I

    23

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    33/45

    Tabel 2. Hubungan antara ROM dan jenis terapiRange of Motion

    T era p i TotalKurang Baik Baik SekaliKonservatif J .O 13 3 2638,5 50,0 11,5 50,0Operatif 9 16 1 2634,6 61,.5 3,8 50,0

    Total 19 29 4 5236,5 55,8 7,7 100X2 = 1,36298, P = 0,50586

    Uji beda rata-rata dari pengelolaan secara konservatif danoperatif terhadap hasil tindakan dengan mengukur ROM sendisiku memakai tes non pararnetrik Pearson Chi Square tidakdidapatkan perbedaan yang bermakna. (P > 0,05)Tabel 3. Hubungan antara Icarrying angle I; dengan jenisterapi.

    'Carrying angle'T e rap i TotalKurang Baik Baik SekaliKonservatif 2 6 18 267,7 23,l 69,2 50,0Operatif 1 8 17 263,8 30,8 65,4 50,0

    Total 3 14 35 525,8 26,9 67,3 100X2 = 0,64762, P = 0,72339

    Uji beda rata-rata dari pengelolaan secara konservatif danoperatif terhadap perubahan 'carrying angle' pasea tindakantidak didapatkan perbedaan yang bermakna secara statistikdengan menggunakan Pearson Chi Square test (P > 0,05).

    24

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    34/45

    Tabel 4. Hubungan antara malunion dengan jenis terapi.T era p i Nonnal Valgus Varus TotalKonservatif 17 5 4 26

    65,4 19,2 15,4 50,0Operatif 1.5 4 7 2657,7 15,48 26,9 50,0Total 32 9 11 5261,5 17,3 21.,2 100

    X2 = 1,05429 P = 0,59029Uji beda rata-rata dari pengelolaan secara konservatif danoperatif terhadap komplikasi malunion yang terjadi pascatindakan dilihat adanya deformitas valgus dan varus, secarastatistik dengan menggunakan Pearson Chi Square test dida-patkan perbedaanyang tidak bermakna (P > 0,05).

    25

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    35/45

    VII. PEMBAHASAN

    Dari 52 kasus yang dilakukan penelitian dengan 2perlakuan, setelah dilakukan random alokasi, ternyata varia-bel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap penyembuhanfraktur secara tidak 1angsung (gizi, lama kejadian) padakedua perlakuan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna (P> 0,05) seperti terlihat pada tabel 1. Berbagai macam penge-101aan fraktur suprakondiler humeri pada anak tetap dicoba,dengan hasil akhir yang berbeda-beda. Tidak ada yang setujudengan cara yang bisa memenuhi kriteria yang aman dan mudahdikerjakan tanpa resiko komplikasi dengan menghasilkanbentuk dan fungsi yang normal.Dilihat dari basil tindakan dengan mengukur ROM sendi sikutidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada kedua perla-kuan, pada pengelolaan secara konservatif didapatkan hasilbaik sekali pada 3 kasus (11,5%) t baik 13 kasus (SO%) dankurang 10 kasus (38,5%). Begitu pula basil yang sarnabiladikelola secara operatif dimana didapatkan basil baik sekalipada 1 kasus (3,8%), baik 16 kasus (61,5%) dan kurang 9kasus (34,6%). Hal ini disebabkan karena pasca tindakanmungkin tidak me1aksanakan mobilisasi secara dini atauterlambat, kemungkin lain karena reposisi frakmen frakturtidak dalam kedudukan anatomis.Hasil ini tidak berbeda jauh dengan peneliti lain. (7,26)

    26

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    36/45

    Perubahan 'carrying angle' sebagai komplikasi fraktur supra-kondiler humeri sangat tinggi, baik dikelola secara konser-vatif maupun operatif. Pada penelitian ini didapatkan hasilyang secara statistik tidak bebeda secara bermakna antara 2kelompok perlakuan. Pada pengelolaan secara konservatif,didapatkan -hasil kurang pada 2 kasus {7,7%} dan 1 kasus(3,8%) pada anak yang dikelola secara operatif, pada peneli-ti lain perubahan 'carrying angle I ini bahkan sangat tinggi,berkisar antara 20-57%.(25) Perubahan 'carrying angle' inidisebabkan oleh reposisi fraktur yang tidak adekuat danas im et ri pe rt umb uh an e pik on di lu s ak iba t tr au ma. (1 8)

    Adanya malunion berupa cubitus varus dan cubitusvalgus hampir terj adi pada seluruh pengelolaan frakturs upr ak on di ler h um eri p ada ana k. ( 3, 20 ,2 1)Pada penelitian ini didapatkan hasil yang secara statistiktidak berbeda bermakna antara 2 kelompok perlakuan. Padapengelolaan secara konservatif didapatkan cubitus valguspada 5 kasus (19,2%) dan cubitus varus pada 4kasus (15,4%),sedangkan pada pengelolaan secara operatif didapatkan cubi-tus valgus pada 4 kasus (15,4%) dan cubitus varus pada 7kasus (26,9%). Terjadinya malunion ini disebabkan karenaterganggunya lempeng ~pifise, juga bisa oleh karena reposisiyang tidak adekuat sehingga menimbulkan deviasi yang berle-bihan dari lengan bawah ke arah luar (cubitus valgus) maupunke arah dalam (cubitus varus) .(18)

    27

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    37/45

    VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

    KESIMPULANSecara statistik tidak didapatkan perbedaan yang

    bermakna pada pengelolaan fraktur suprakondiler humeriderajat III pacta anak dengan reposisi tertutup + gips danreposisi terbuka dengan K-Wire ditinjau dari hasil akhirkemungkinan adanya perubahan ROM, Icarrying angle I danmalunion.

    SARANDilihat dari komplikasi yang mungkin terjadi maka pada

    pengelolaan fraktur suprakondiler humeri ini perlu diperha-tikan reposisi yang seanatomis mungkin dan mobilisasi secaradini.

    2 B : . '

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    38/45

    KEPUSTAKAANI. Griffin PP . Supracondylar fractures of the humerus.Treatment and complications. Pediatrics Clinics of

    North America, 1975; 22 ;2.2. Boyd HB and Altenberg AR. Fracture about theelbow in children. Arch Surg,1944;49 = 216.3. Turek SL . Orthopaedids principles and their application. 3 ed, Asian edition, Igaku Shoin Ltd, 1978:609 -51: 866.- 71.4. Wilkins' KE The operative management of supracondylar fracture. Orthop Clin North Am,1990 i 21;2: 269 - 89.5. Wilson Jn, Watson - Jones. Fracture and joint injuries. 5 ed, Churchill, Livingstone, Edinburg,London,New York, 1976 ; 2: 611 - 27.6. Von Laer, Brunner, Lampert. Malunited supracondylar and condylar humeral fractures. Orthopade,1991;20 ; 6 : 331 - 40.7. Andrew J, Stephan M . Surgical treatment of displacedsupracondylar fractures of the humerus in children. TheJournal ofBone and Joint Surg, 1978 ; 60 Ai 5 : 657- 61.8. Aamodt A, Gronmark T . Supracondylar fracture of thehumerus in children. Tidsskr Nor Laegeforen, 1991; 111; 10 : 1240 - 2.9. Celiker 0, Pestilci FI . Supracondylar fracture of thehumerus in children Analysis of the results in142 patients. J Orthop Trauma, 1990; 3 : 265 - 9.10. Paul P . Supracondylar fractures of the humerus, treatment and complications. Pediatric Clin of NorthAmerica, 1975 i 22: 477 - 85.11. Sudirgo JS Supracondylar fracture of the humerus inchildren, The result of skin traction in extension.Majalah Orthopedi Indonesia, 1977;3;2 : 103 - 8.12. Paul Tahalele, Dj9ko R Extension type of the supracondylar fracture of the humerus in children.Majalah Orthopedi Indonesia, 1981 i 8 : 1.13. James A, Arnold. Supracondylar fracture ofmerus. J Bone and Joint Surg, 1977 i 59 A : 5- 95.

    the hu589

    29

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    39/45

    14. Edward E, Kurt MWhumerus in children. J5: .653- 6.15. Lukman Evaluasi pengelolaan fraktur suprakondilerhumeri pada anak-anak. Paper akhir. Semarang . Universi-tas Diponegoro, 1985.16. Wilkins KE . Fracture and dislocation of the elbowregion in Rockwood CA. Wilkins KE, and King RE,Editor Fracture in children. Philadelphia, JBLippincott Co , 1984.17. Sharrard W . Paediatric orthopaedic and fractures. 2 ed,Blackwell scientific publ, 1971: 946-55.18. David MW . Supracondylar fracture of the humerus inchildren. Surgery, 1 ed , 1991 ; 14 : 2230 - 5.19. Mitchell WJ, Adam JP . Supracondylar fracture of thehumerus in children. a ten years review. J Am MedAssrr.:961 : 573 - 7.. . . . . . ... ~2.0.Apl.ey;AG System of orthopaedics and fracture.5 ed, Buttherworths, London, 1977 : 366 - 8.21. Canale STerry. Fracture and dislocations in childreno in Campbellrs Operative Orthopaedics. 8 ed,Mosby year book, 1992 : 1055 -230.22. Rodriquez M . Supracondylar fractures of the humerus inchildren, treatment by overhead skeletal traction. Orthop- Rev, 1992 ; 21; 4 : 475-82.23. Urlus M, Kestelijn P . Conservative treatment of dis-placed supracondylar humerus fractures of the estensivetype in children. Acta - Orthop - Belg,1991; 57j 4 : 382-9.24. Vicente L, Arino MD . Percutaneous fixation of supracon-dylar fractures of the humerus in children. The Journalof Bone ~nd Joint Surg, 1977 ; 59 A j 7 : 914-6.25. Tachdjian MO . Pediatrics orthopedics. WB Saunders Co,Phil~delphia London Toronto,.1972 : 1566-89.26. Muhammed, Rymaszewski . Supracondylar fractures of thedistal humerus in children. Injury, Glasgow, 1995; 26; 7:487:"'9.

    Supracondylar fracture of theBone and Joint Surg, 1978;60A.

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    40/45

    08 Aug 96 SPSS for MS iHNDOWS Release 6.0JEN KLM jenis kelamin 'by TERAPI terapi

    TERAPI Page 1 of 1

    JEN KLM

    CountRow Pct konserva operatifCol Pct titLOO 2.00LOO 19 2147.5 52.573.1 BO.8

    2.00 7 558.3 41.726.9 19.21223.1

    Row'10 tal

    laki-laki 4076.9

    perempuan

    ColumnTotal 2650.0 2650.0 52100.0Chi-Square Value

    PearsonContinuity CorrectionLikelihood RatioMantel-Haenszel test forlinear association

    .43333.10833.43494.42500

    Minimum Expected Frequency - 6.000

    statistic ValueRelative Risk Estimate (JEN_KLM

    case controlcohort (TERAPI 1.0 Risk)cohort (TERAP! 2.0 Risk)1.0 / JEN KLM 2.0}

    .64626-.814291.26000Number of Missing Observations: a

    31

    D.F1111

    Significance.51036.74205.50958.51445

    95% Confidence Bounds

    .17530.45655.606312.3B2431.452342.61847

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    41/45

    08 Aug 96 S~ss for MS WINDOWS Release 6.0GIZI gizi by TERAPI terapi

    TERAPI Page 1 of 1

    GIZI

    CountRow Pct konserva operatifCol Pct tit1.00 2.00

    1.00 6 650.0 50.023.1 23.12.00 18 1948.6 51.469.2 73.1 --3.00 2 166.7 33.37.7 3.8

    K

    B

    BS

    ColwnnTotal

    2650.0

    2650.0

    RowTotal

    1223.13771.2

    35.8

    52100.0

    Value OF Significance----------- ----_ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ---

    .36036 2 .83512.36683 2 .83242.07296 1 .78707

    Chi-Square

    PearsonLikelihood RatioMantel-Haenszel test forlinear associationMlnimum Expected Frequency - 1.500Cells with Expected Frequency < 5 -

    >warning ff 10313>Relative Risk Estimate cannot be computed.Number of Missing Observations: 0

    2 OF 6 ( 33.3%)

    32

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    42/45

    08 Aug 96 SPSS for ~3 WINDOWS Release 6.0

    TERAPILM KEJAD lama kejadian by TERAPI terapi

    Page 1of 1

    LM KEJAD

    CountRow Pct konserva operatifCol Pct tif1.00 2.001.00 13 1350.0 50.050.0 50.02.00 6 2

    m 75.0 25.023.1 7.73.00 7 1138.9 61.126.9 42.3

    24 jamColumnTotal 2650.0 2650.0

    Chi-Square

    RowTotal2650.0815.4

    1834.6

    52100.0Value DF significance

    -----'------ . . . . . . . . . . . . ------ _ _ . . . . . . __..2.88889 2 .235882.98935 2 .22432.36691 1 .54470

    PearsonLikelihood RatioMantel-Haenszel test forlinear associationMinimum Expected Frequency - 4.000Cells with Expected Frequency < 5 -

    >Warning It 10313>Relative Risk Estimate cannot be computed.Number of Missing Observations: 0

    2 OF 6 ( 33.3%)

    33

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    43/45

    04 Aug 96 SPSS for MS WINDOWS Release 6.0TERAPI terapi by ROM ROM

    ROM Page 1of 1'

    TERAPI

    CountRow pct K B BSCeilPct1.00 2.00 3.00

    1.00 10 13 3if 38.5 50.0 11.552.6 44.8 75.02.00 9 16 134.6' 61.5 3.847.4 55.2 25.0

    konservat

    operatifColumnTotal 19.36.5 2955.8 47.7

    Chi-Square ValuePearsonLikelihood RatioMantel-Haenszel test forlinear association

    1.362981.41005.05252Minimum Expected Fre,quency - 2.000Cells with Expected Frequency < 5 - 2 OF

    >Warning # 10313>Relative Risk Estimate cannot be computed.

    Number of Missing Observations: 0

    34

    RowTotal

    2650.02650.052100.0

    DF Significance

    221

    .50586.49410.81873

    6 ( 33.3%)

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    44/45

    04 Aug 96 SPSS for MS WINDOWS Release 6.0

    TERAPI terapi by CAR ANG2 carry angle follow upCAR ANG2 Page 1of 1

    TERAPI

    count -Row Pct K B BSCol Pet1.00 2.00 3.00

    1.00 2 6 18if 7.7 23.1 69.266.7 42.9 51.42.00 1 8 173.8 30.8 65.433.3 57.1 48.6

    konservat

    operatif

    ColumnTotal 35.8 1426.9 3567.3Chi-Square Value

    PearsonL ik el ih oo d R at ioMantel- Haenszel test forlinear association

    .64762.65507.00000

    Mlnimum Expected Frequency - 1.500Cells with Expected Freq uency < 5 - 2 OF

    >Warning # 10313>Relative Risk Estimate cannot be computed.

    Number of Missing Observations: 0

    35

    RowTotal

    2650.0

    2650.0

    52100.0DF Significance

    221

    .72339.72070l.OODOO

    6 ( 33.3%)

  • 5/10/2018 fraktur suprakondiler

    45/45

    04 Aug 9b SPSS for MS WINDOWS Release 6.0

    TERAPI terapi by VAL VAR valgus - varusV. l\ LVAR Page 1of 1

    TERAPI

    -CountRow Pct normal valgus varusCol pct1.00 2.00 I 3.00

    1.00 17 5 4if 65.4 19.2 15.453.1 55.6 36.42.00 15 4 757.7 15.4 26.946.9 44.4 63.6

    konservat

    operatif

    ColumnTotal 3261.5 917.3 1121.2Chi-Square Value

    PearsonL ik el ih oo d R at ioMante l- Ha ensze l te st forlinear association

    1.054291.06506.71031Minimum Expected Frequency - 4.500Cells with Expected Frequency < 5 - 2 OF

    >warning # 10313>Relative Risk Estimate cannot be computed.

    Number of Missing Observations: 0

    RowTotal2650.02650.052100.0

    DF Significance

    221

    .59029.58712.39934

    6 ( 33.3%)