of 23/23
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sikap (Attitude) 1. Batasan Sikap banyak didefinisikan oleh para ahli dlam tiga kerangka pemikiran. Pertama, adalah pemikiran yng diwakili oleh para ahli psikologi yang mengartikan sikap sebagai bentuk evaluasi reaksi perasaan. Kedua, kelompok yang diwakili oleh para ahli chave, Bagardus, La Piere, Mead dan Gordon Alport, menurut mereka sikap merupakan kesiapan untuk mereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Ketiga, kelompok yang berorientasi pada skema triadik, menurut kerangka pemikiran ini sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek. Komponen kognitif yang merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu terhadap sikap. Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Komponen perilaku atau komponen konatif yaitu bagaimana perilaku atau kecenderungan perilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasarkan oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sikap (Attitudedigilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-hudoyotrin... · dahulu tentang apa yang ... Penginderaan terjadi melalui panca indera

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sikap...

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sikap (Attitude)

1. Batasan

Sikap banyak didefinisikan oleh para ahli dlam tiga kerangka

pemikiran. Pertama, adalah pemikiran yng diwakili oleh para ahli psikologi

yang mengartikan sikap sebagai bentuk evaluasi reaksi perasaan. Kedua,

kelompok yang diwakili oleh para ahli chave, Bagardus, La Piere, Mead

dan Gordon Alport, menurut mereka sikap merupakan kesiapan untuk

mereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Ketiga, kelompok

yang berorientasi pada skema triadik, menurut kerangka pemikiran ini sikap

merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif

yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku

terhadap suatu objek. Komponen kognitif yang merupakan representasi apa

yang dipercayai oleh individu terhadap sikap. Komponen afektif

menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek

sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang

dimiliki terhadap sesuatu. Komponen perilaku atau komponen konatif yaitu

bagaimana perilaku atau kecenderungan perilaku yang ada dalam diri

seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini

didasarkan oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak

8

9

mempengaruhi perilaku. Sikap secara umum diartikan sebagai kesedian

bereaksi individu terhadap suatu hal. Sikap bukan sesuatu yang

diperolehdari pembawaan maupun dari kematangan, melainkan segala hasil

belajar yang diperoleh melalui interaksi degan lingkungannya. Sebagai sutu

hasil belajar, sikap dapat diubah.

Sikap telah ada dan berkembang semenjak ia bergaul dengan

lingkungannya. Timbulnya sikap (positif atau negatif) merupakan produk

pengamatan dari pengalaman individu secara unik dengan benda-benda fisik

lingkungannya, dengan orang tua dan saudara-saudara, serta pergaulan

sosial yang lebih luas (Saifudin,2002).

Sikap seseorang tidak berdiri sendiri, akan tetapi senantiasa

mempunyai hubungan terhadap objek tertentu. Dengan kata lain sikap

terbentuk, dipelajari atau berubah karena suatu obejk tertentu yang dapat

dirumuskan dengan jelas. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sikap

seseorang, yaitu pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi

(Notoatmodjo,2003).

Terbentuknya sikap ini karena adanya interaksi sosial yang dialami

individu serta terjadi hubungan saling mempengaruhi pada pola perilaku

masing-masing individu sebagai anggota masyrakat, yang meliputi

hubungan antara individu dengan lingkungan fisik maupun lingkungan

psikologis di sekitarnya. Dalam interaksi sosial, individu bereaksi

membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang

10

dihadapinya, diantaranya adalah pengalaman, kebudayaan, orang lain yang

dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan

lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu.

Ada tiga proses sosial yang berperan dalam proses perubahan sikap

seseorang, yaitu kesediaan (compliance), identifikasi (identification), dan

internalisasi (internalization). Proses kesedian terjadi ketika individu

bersedia menerima pengaruh dari orang lain atau kelompok untuk sekedar

memperoleh reaksi positif seperti pujian, dukungan, simpati dan

semacamnya sambil menghindari hal-hal yang dianggap negatif. Identifikasi

merupakan sikap individu yang dapat diharapkan oleh kelompok untuk

membina dan memelihara hubungan sosial yang baik. Sedangkan

internalisasi akan terjadi apabila individu menerima pengaruh dan bersedia

berikap menuruti pengaruh dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa

yang ia percayai dan sesuai dengan sistem nilai yang dianutnya

(Saifudin,2002).

Ada dua faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan sikap, yaitu

faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor dari

dalam diri organisme, yaitu berupa motivasi yang bersumber dari kebutuhan

di dalam diri organisme. Sedangkan faktor ekstrinsik, merupakan faktor

yang datang dari luar organisme, yaitu berupa stimulus dalam lingkungan,

baik yang dikondisikan maupun yang secara potensial dapat menyebabkan

terjadinya perubahan sikap seseorang.

11

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup

terhadap suatu stimulus atau obyek. Manifestasi sikap itu tidak langsung

dapat dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku

yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya kesesuaian

reaksi terhadap stimulus tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari adalah

merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus

(Saifudin,2002). Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap sangat penting

untuk menentukan bentuk perilaku seseorang. Semakin banyak pengetahuan

seseorang, semakin cenderung berfikir dan berkeyakinan baik serta bersikap

positif (Notoatmodjo,2000).

2. Komponen sikap

Allport (1954) menjelaskan sikap mempunyai tiga komponen yaitu

(Budioro B., 2002) :

a. Kepercayaan (keyakinan) pada konsep terhadap suatu obyek

b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu obyek

c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave)

3. Tingkatan sikap

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap terdiri dari berbagi

tingkatan yaitu (Saifudin,2002):

a. Menerima (receiving) diartikan bahwa orang atau subjek

mempertahankan stimulus yang diberikan (objek).

12

b. Respon (responding) memberikan jawaban yang ditanya, mengerjakan

dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

c. Menghargai (valving) mengajak orang lain yang mengerjakan atau

mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat ketiga.

d. Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala

reaksi merupakan sikap yang paling tinggi.

Sikap pada hakekatnya merupakan suatu respon seseorang terhadap

stimulus yang disertai kecenderungan untuk bertindak. Sikap secara nyata

menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang

dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap

stimulus sosial. Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap sangat penting untuk

menentukan bentuk perilaku seseorang. Semakin banyak pengetahuan, semakin

cenderung untuk berfikir dan berkeyakinan baik serta bersikap positif

(Notoatmojo,2000).

Hubungan antara konsep pengetahuan dan sikap. Pengetahuan

merupakan keikutsertaan masyarakat untuk mengetahui asuransi kesehatan

keluarga miskin. Oleh sebab itu masyarakat hendaknya mengetahui terlebih

dahulu tentang apa yang dimaksud asuransi kesehatan keluarga miskin serta apa

manfaatnya. Setelah mengetahui hal tersebut akan timbul pemikiran tentang

segi positif ataupun negatifnya, yang akan berpengaruh terhadap sikap individu.

Apabila pandangan ini mengarah pada sisi positif, maka akan muncul sikap

13

positif ataupun sebaliknya bila pandangan lebih condong pada sisi negatif maka

akan muncul sikap negatif.

B. Pengetahuan Perawat

1. Pengertian pengetahuan

Secara konseptual pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini

terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia terutama indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,

2003).

2. Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan seseorang banyak dipengaruhi oleh beberapa

hal misalnya usia, pendidikan yang diperolehnya dan pengalaman dari

seseorang. Seseorang yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan lebih

mudah dalam mengetahui, mengerti dan memahami. Pengetahuan kognitif

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku

seseorang. Pengetahuan yang cukup dalam domain kognitif menurut Bloom

(1984) dalam pengantar pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku kesehatan

mempunyai enam tingkatan yaitu (Notoatmodjo, 2003) :

14

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk dalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingat

kembali (recall) terhadap suatu obyek yang spesifik dari seluruh bahan

yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu

tahu adalah tingkatan pengetahuan paling rendah.

Contoh: Perawat dikatakan tahu tentang infeksi nosokomial bila mampu

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan tentang perilaku

pencegahan terhadap penularan infeksi nosokomial.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan

secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Seseorang dikatakan

telah paham terhadap objek atau materi apabila dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya.

Dalam upaya pencegahan terhadap infeksi nosokomial perawat mampu

menjelaskan cara-cara untuk mencegah penularan penyakit infeksi

nosokomial.

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil. Aplikasi di sini

dapat diartikan penggunaan hukum, rumus, metode prinsip dan

15

sebagainya dalam kontek atau situasi lain. Misalnya: perawat mampu

melakukan prinsip upaya pencegahan penularan penyakit infeksi

nosokomial dengan mencuci tangan, memakai sarung tangan, memakai

gaun dan masker saat merawat pasien infeksi nosokomial.

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masalah di dalam

suatu struktur organisasi masih ada kaitan satu dengan yang lain.

Misalnya: perawat mampu membedakan pencegahan infeksi nosokomial

dengan penyakit yang lain.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru atau menyusun formulasi-formulasi yang ada.

Misalnya: perawat mampu menyusun merencanakan, menyesuaikan

terhadap cara-cara pencegahan penularan infeksi nosokomial yang telah

ditetapkan sebelumnya.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian itu

berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-

16

kriteria yang telah ada. Misalnya: perawat mampu menilai bagaimana

cara pencegahan penularan infeksi nosokomial yang baik dan benar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan adalah

sebagai berikut: pendidikan (meskipun tidak mutlak, namun semakin tinggi

pendidikan seseorang maka makin tinggi pula tingkat pengetahuannya),

sosial ekonomi (seseorang yang mempunyai tingkat sosial ekonomi baik,

kemungkinan mempunyai tingkat pendidikan yang baik pula), lingkungan

(lingkungan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat

pengetahuan), budaya (budaya berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan

seseorang (Notoatmodjo, 2003).

Resiko infeksi nosokomial selain terjadi pada pasien yang dirawat di

Rumah Sakit, dapat juga terjadi pada para petugas Rumah Sakit. Berbagai

prosedur penanganan pasien memungkinkan petugas terpajan dengan kuman

yang berasal dari pasien. Infeksi petugas juga berpengaruh pada mutu

pelayanan karena petugas menjadi sakit sehingga tidak dapat melayani

pasien. Pengetahuan tentang pencegahan infeksi sangat penting untuk

petugas Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya merupakan sarana umum

yang sangat berbahaya, dalam artian rawan, untuk terjadi infeksi (Murniati

dan Sulianti, 2007).

Kemampuan untuk mencegah transmisi infeksi di Rumah Sakit, dan

upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian

pelayanan yang bermutu. Untuk seorang petugas pertama dalam pemberian

17

pelayanan yang bermutu. Untuk seorang petugas kesehatan, kemampuan

mencegah infeksi memiliki keterkaitan yang tinggi dengan pekerjaan,

karena mencakup setiap aspek penanganan pasien (Murniati dan Sulianti,

2007).

Upaya pencegahan penularan infeksi di Rumah Sakit melibatkan

berbagai unsur, mulai dari peran pimpinan sampai petugas kesehatan

sendiri. Peran pimpinan adalah penyediaan sistem, sarana, dan pendukung

lainnya. Peran petugas adalah sebagai pelaksana langsung dalam upaya

pencegahan infeksi. Dengan berpedoman pada perlunya peningkatan mutu

pelayanan di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya, maka perlu

dilakukan pelatihan yang menyeluruh untuk meningkatkan kemampuan

petugas dalam pencegahan ineksi di Rumah Sakit. Salah satu strategi yang

sudah terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah

peningkatan kemampuan petugas kesehatan dalam metode Universal

Precautions atau dalam bahasa Indonesia Kewaspadan Universal ( KU )

yaitu suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan

cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi

(Murniati dan Sulianti, 2007).

18

C. Infeksi Nosokomial

1. Pengertian Infeksi Nosokomial

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat oleh karena

penderita dirawat atau pernah dirawat di rumah sakit. Oleh karena infeksi ini

didapat di rumah sakit, maka kuman penyebabnya pada umumnya adalah

kuman yang resisten terhadap banyak antibiotika, sehingga infeksi

nosokomial mempunyai banyak aspek penting yang perlu diperhatikan

antara lain : bahaya untuk diri penderita sendiri maupun lingkungannya dan

sosio ekonomi (Roeshadi, 1996).

Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang didapat atau yang terjadi

pada waktu pasien dirawat di Rumah Sakit. Bagi pasien yang dirawat di

Rumah Sakit ini merupakan persoalan serius yang dapat menjadi penyebab

langsung atau tidak langsung terhadap kematian pasien. Beberapa kejadian

Infeksi Nosokomial mungkin tidak menyebabkan kematian pasien akan

tetapi ia menjadi penyebab penting pasien dirawat lebih lama di Rumah

Sakit, yang pada akhirnya akan membebani pasien (Spiritia, 2007).

Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang terjadi di rumah sakit

yang terjadi sesudah 72 jam perawatan pada pasien rawat inap dan infeksi

ini terjadi setelah pasien dirawat lebih lama dari masa inkubasi suatu

penyakit, Zulkarnaen (2006). Terjadinya infeksi nosokomial, akan

menimbulkan banyak kerugian, antara lain: lama hari perawatan makin

panjang, penderitaan bertambah, biaya meningkat. Permenkes No.

19

986/Menkes/Per/XI/1992 dan SK Dirjen PPM & PLP No. HK.00.06.6.44

mengatur persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, agar rumah sakit

tidak menjadi depot bagi berbagai macam kuman penyakit. Kenyataan

infeksi nosokomial masih menjadi masalah pokok di rumah sakit (Suwarni,

2001).

2. Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial

Penyebab penyebab utama yang menyebabkan infeksi nosokomial

adalah Streptococcus alpha hernolyticus dan Staphylococcus epidermidis.

Sementara Pseudomonas aeruginosa, mikroorganisme yang ditakuti sebagai

penyebab infeksi nosokomial di bangsal perawatan rumah sakit pada

umumnya justru kurang menyebabkan infeksi di rumah sakit (Reksodiputro,

et.al,1996). Infeksi iatrogenic merupakan jenis infeksi nosokomial yang

diakibatkan oleh prosedur diagnostik atau terapeutik, misalnya terjadinya

infeksi traktur urinarius setelah pemasangan kateter karena perawat tidak

menggunakan prinsip asepsis selama pemasangan (Potter & Perry, 2005).

Infeksi nosokomial dapat terjadi secara eksogen atau endogen, secara

eksogen didapat dari mikroorganisme eksternal terhadap individu yang

bukan merupakan flora normal, misalnya organisme salmonella dan

clostridium tetanii, sedangkan infeksi endogen dapat terjadi bila sebagian

dari flora normal klien berubah dan terjadi pertumbuhan yang berlebihan,

misalnya infeksi yang disebabkan karena enterococcus, ragi, streptococcus

(Potter & Perry, 2005). Kuman yang dapat menyebabkan infeksi

20

nosokomial yang tersering adalah Proteus, Escheriae coli, Streptococcus

aureus, Pseudomonas, Zulkarnaen (2006)

Staphylococcus epidermidis juga dapat menyebabkan infeksi

nosokomial, bakteri ini bersifat oportunis, artinya dalam keadaan normal

tidak menyebabkan penyakit tetapi begitu tubuh tempat ia bertempat tinggal

turun kondisinya, misalnya karena menderita sakit, maka dengan segera

dapat berubah menjadi berbahaya dan menyebabkan berbagai gangguan

kesehatan. Kerentanan seseorang terhadap kuman-kuman oportunis ini dapat

dipacu atau diperparah oleh konsumsi obat-obat tertentu, misalnya obat-obat

kortikosteroida, yang bekerja menekan reaksi imun (reaksi kekebalan

tubuh). Dalam beberapa dekade terakhir ini infeksi nosokomial yang

disebabkan oleh Staphylococcus epidermidis makin sering terjadi, terutama

pada pasien-pasien yang diberi terapi kortikosteroida (Rudiyanto, 2007).

3. Jenis Infeksi Nosokomial

Muhlis (2006) dan Isselbacher, et.al (1999) dalam bukiunya

menyebutkan infeksi nosokomial yang sering ditemukan antara lain:

a. Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih adalah merupakan infeksi nosokomial

yang paling sering dan umumnya paling mudah untuk ditangani/diobati

dengan gejala sisa yang paling ringan. Faktor yang memperberat infeksi

nosokomial ini adalah beratnya penyakit, lamanya perawatan di rumah

sakit dan lamanya kateterisasi, selain hal tersebut juga terdapat empat

21

faktor yang dapat mempermudah terjadinya infeksi saluran kemih antara

lain: Jenis kelamin perempuan, lamanya kateterisasi saluran kemih, tidak

adanya antibiotik sistemik dan kurangnya perawatan kateter dengan

tepat.

b. Infeksi pada luka operasi

Infeksi luka operasi menyebabkan sekitar 25 30 % infeksi

nosokomial tetap berperan pada sampai 57 % hari perawatan tambahan

di rumah sakit dan 42 % biaya tambahan. Infeksi ini biasanya

disebabkan karena flora mukosa dan kulit yang didapatkan dari rumah

sakit atau endogen dan kadang-kadang dengan penyebaran sisik kulit

lewat udara yang mungkin dilepaskan ke luka dari anggota tim ruang

operasi. Faktor risiko yang paling penting adalah pertimbangan dokter

bedah dan teknik operasi, kesehatan umum pasien, prosedur operasi dan

prosedur operasi spesifik serta lamanya. Tindakan pengendalian

terpenting antara lain penggunaan profilaksis antibiotika pada awal

prosedur pembedahan yang berisiko tinggi, perhatian pada cara/teknik

pembedahan serta asepsis ruangan operasi.

c. Bakteriemia

Infeksi nosokomial lain yang potensial mengancam jiwa dan

penting dipertimbangkan pada evaluasi pasien dengan demam baru

adalah bakteriemia, yang biasanya berkaitan dengan terdapatnya

peralatan intravaskuler. Pada suatu studi bakteriemia menyebabkan

22

mortalitas sampai 14 kali lipat lebih tinggi di rumah sakit. Salah satu

kesulitan dalam menilai bakteriemia adalah membedakan patogen sejati

dari flora kulit yang mencemari (Gruendemann dan Fernsebner, 2006).

d. Infeksi saluran nafas bagian bawah atau pneumonia

Pneumonia menyebabkan 15 hingga 20 % infeksi nosokomial

tetapi menyebabkan 24 % hari-hari tambahan perawatan di rumah sakit

dan 39 % biaya tambahan. Hampir semua pneumonia nosokomial

bakterial disebabkan karena aspirasi flora lambung dan orofaring yang

didapatkan dari rumah sakit atau endogen (. Pneumonia nosomial

menyebabkan angka kematian sampai 50% di Intensive Care Unit.

Tindakan pengendalian infeksi dilakukan/ditujukan pada faktor resiko

yang bisa diperbaiki di perawatan pasien umum, misalnya

meminimalkan posisi telentang yang memudahkan aspirasi dan mungkin

menghindari alkalisasi lambung profilaksis karena peningkatan resiko

kolonisasi dengan kuman gram negatif bila PH lambung di atas 4 dan

perawatan aseptik perlengkapan respirator yang cermat.

4. Faktor yang Dapat Mempermudah Terjadinya Infeksi Nosokomial

Utji (1996) menyebutkan untuk pelaksanaan pengendalian dan

pencegahan perlu diketahui epidemiologi infeksi nosokomial, terdapat 3

faktor yang menentukan terjadinya infeksi nosokomial.

23

a. Sumber Infeksi Nosokomial

Sumber infeksi dapat berupa kuman, virus, protozoa dan parasit

yang terdapat di alam. Bahkan manusia sehat juga penuh dengan kuman

yang dianggap normal. Untuk penderita yang imunokompromi, kuman

normal pun dapat menjadi patogen karena daya tahan tubuh yang

berkurang. Lingkungan kita terkenal dengan sumber kuman patogen

yang paling besar. Bila PPIN (Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial)

akan mengawasi semua sumber kuman dengan jalan memantau secara

rutin, biayanya akan sangat besar dan tidak praktis.

Hidayat (2006) menyebutkan terdapat beberapa sumber infeksi

nosokomial antara lain:

1) Pasien

Pasien merupakan unsur utama terjadinya infeksi nosokomial yang

dapat menyebarkan infeksi kepada pasien lainnya, petugas

kesehatan, pengunjung atau benda dan alat kesehatan lainnya.

2) Petugas kesehatan

Petugas kesehatan dapat menyebarkan infeksi melalui kontak

langsung, yang dapat menularkan berbagai kuman ke tempat lain.

3) Pengunjung

Pengunjung dapat menyebarkan infeksi yang didapat dari luar ke

dalam lingkungan rumah sakit atau sebaliknya yang didapat dari

dalam rumah sakit ke luar rumah sakit.

24

4) Sumber lain

Sumber lain yang dimaksud di sini adalah lingkungan rumah sakit

yang meliputi lingkungan umum atau kondisi kebersihan rumah

sakit, atau alat yang ada di rumah sakit yang dibawa oleh

pengunjung atau petugas kesehatan kepada pasien dan sebaliknya.

5) Penderita

Penderita selalu menjadi sasaran bibit penyakit karena

biasanya keadaan tubuh yang lemah. Langkah pertolongan yang

diberikan rumah sakit dalam perawatan penderita serba sulit karena

perawatan yang berlebihan akan meninggikan risiko infeksi dan

perawatan yang kurang akan melemahkan daya tahan penderita.

Dalam pengendalian infeksi nosokomial, penderita harus menjadi

obyek yang paling utama : to do the patient no harm. Kita harus

cepat dapat menanggulangi atau mencegah infeksi dari luar maupun

dari dalam. Keadaan yang paling optimal adalah kalau penderita

dirawat secara khusus seperti di isolasi atau dilayani khusus oleh

perawat tertentu.

b. Cara Penularan

Cara penularan melalui tenaga perawat ditempatkan sebagai

penyebab yang paling utama infeksi nosokomial. Penularan melalui

tangan perawat dapat secara langsung karena tangan yang kurang bersih

atau secara tidak langsung melalui peralatan yang invasif. Dengan

25

tindakan mencuci tangan secara benar saja, infeksi nosokomial dapat

dikurangi 50 %.Peralatan yang kurang steril, air yang terkontaminasi

kuman, cairan desinfektan yang mengandung kuman, sering

meningkatkan risiko infeksi nosokomial.

c. Pencegahan Infeksi Nosokomial

Pencegahan ini dapat diusahakan karena faktor-faktor

predisposisinya diketahui; yaitu dengan menghindari faktor-faktor itu

sedapat mungkin tanpa mengabaikan penatalaksanaan diagnostik dan

terapeutik penderita kanker itu sendiri, Ramli (1996). Usaha-usaha

pencegahan dapat meliputi :

1) Umum :

a) Usahakan hospitalisasi penderita sesingkat mungkin.

b) Pemahaman dan pelaksanaan tindakan asepsis antisepsis yang

baik dari semua personil yang memaparkan diri terhadap

penderita kanker dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.

2) Khusus :

a) Usahakan daya tahan tubuh penderita tetap baik, antara lain :

temukan dan obati penderita kanker dalam stadium dini,

usahakan tindakan-tindakan pembedahan dalam toleransi

penderita yang optimal, bila perlu diberi transfusi granulosit atau

parenteral nutrisi.

26

b) Hindari tindakan yang merusak natural barrier yang tidak perlu;

perawatan yang baik terhadap setiap perlukaan; misalnya

pemasangan infus, luka biopsi dan lain-lain.

c) Hindari prosedur invasif berlebihan dan tidak perlu baik untuk

diagnostik maupun terapeutik misalnya : pemakaian kateter atau

pemasangan infus hanya jika mutlak diperlukan.

d) Perkecil kemungkinan infeksi dari kuman-kuman eksogen dan

cegah kuman-kuman yang potensial patogen : cuci tangan yang

baik, makanan dan minuman dengan kontaminasi bakteri

serendah mungkin, selalu memeriksa kuman-kuman pada air

ledeng, pembersihan ruang kamar operasi sebersih

mungkin/steril mungkin, hindari pengunjung yang berlebihan

atau personil kamar operasi yang berlebihan, jika perlu ruangan

isolasi.

e) Hindari faktor predisposisi lain sedapat mungkin, antara lain:

hati-hati dengan pemberian radioterapi, khemoterapi dan,

kortikosteroid.

f) Khusus untuk penderita yang dioperasi : persiapan lapangan

operasi sesteril mungkin, lamanya operasi diusahakan sesingkat

mungkin, kamar operasi dan alat-alat memenuhi syarat asepsis,

untuk kasus-kasus operasi bersih tercemar (operasi usus, traktus

27

urinarius, rongga mulut, genitalia wanita dan lain-lain) perlu

pemberian antibiotik profilaksis.

Dalam mencegah / mengendalikan infeksi nosokomial, ada tiga hal yang

perlu ada dalam program pengendalian infeksi nosokomial yaitu, Roeshadi

(1996):

1. Adanya system surveilance yang mantap.

Surveilance suatu penyakit adalah tindakan pengamatan yang

sistematik dan dilakukan terus menerus terhadap penyakit tersebut yang

terjadi pada suatu populasi tertentu dengan tujuan untuk dapat melakukan

pencegahan dan pengendalian. Jadi tujuan dari surveilance adalah untuk

menurunkan resiko terjadinya infeksi nosokomial. Perlu ditegaskan di sini

bahwa keberhasilan pengendalian infeksi nosokomial bukanlah ditentukan

oleh canggihnya peralatan yang ada, tetapi ditentukan oleh kesempurnaan

perilaku petugas dalam melaksanakan perawatan penderita secara benar (the

proper nursing care). Dalam pelaksanaan surveilan ini, perawat sebagai

petugas lapangan di garis paling depan, mempunyai peran yang sangat

menentukan,

2. Adanya peraturan yang jelas dan tegas serta dapat dilaksanakan, dengan

tujuan untuk mengurangi risiko terjadinya infeksi nosokomial.

Adanya peraturan yang jelas dan tegas serta dapat dilaksanakan,

merupakan hal yang sangat penting adanya. Peraturan-peraturan ini

merupakan standar yang harus dijalankan setelah dimengerti semua petugas;

28

standar ini meliputi standar diagnosis (definisi kasus) ataupun standar

pelaksanaan tugas. Dalam pelaksanaan dan pengawasan pelaksanaan

peraturan ini, peran perawat besar sekali.

3. Adanya program pendidikan yang terus menerus bagi semua petugas rumah

sakit dengan tujuan mengembalikan sikap mental yang benar dalam

merawat penderita.

Adanya program pendidikan yang terus menerus. Seperti disebutkan

di atas, pada hakekatnya keberhasilan program ini ditentukan oleh perilaku

petugas dalam melaksanakan perawatan yang sempurna kepada penderita.

Perubahan perilaku inilah yang memerlukan proses belajar dan mengajar

yang terus menerus. Program pendidikan hendaknya tidak hanya ditekankan

pada aspek perawatan yang baik saja, tetapi kiranya juga aspek epidemiologi

dari infeksi nosokomial ini. Jadi jelaslah bahwa dalam seluruh lini program

pengendalian infeksi nosokomial, perawat mempunyai peran yang sangat

menentukan. Sekali lagi ditekankan bahwa pengendalian infeksi nosokomial

bukanlah ditentukan oleh peralatan yang canggih (dengan harga yang

mahal) ataupun dengan pemakaian antibiotika yang berlebihan (mahal dan

bahaya resistensi), melainkan ditentukan oleh kesempurnaan setiap petugas

dalam melaksanakan perawatan yang benar untuk penderitanya.

Menurut Hidayat (2006) tindakan pencegahan infeksi nosokomial dapat

dilakukan beberapa cara antara lain:

29

1. Aseptik, yaitu tindakan yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan . Istilah

ini dipakai untuk menggambarkan semua usaha yang dilakukan untuk

mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang kemungkinan

besar akan mengakibatkan infeksi. Tujuan akhirnya adalah mengurangi atau

menghilangkan jumlah mikroorganisme, baik pada permukaan benda hidup

maupun benda mati agar alat-alat kesehatan dapat dengan aman digunakan.

2. Antiseptik, yaitu upaya pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau

menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit dan jaringan tubuh

lainnya

3. Dekontaminasi, tindakan yang dilakukan agar benda mati dapat ditangani

oleh petugas kesehatan secara aman, terutama petugas pembersihan medis

sebelum pencucian dilakukan. Contohnya adalah meja pemeriksaan, alat-

alat kesehatan, dan sarung tangan yang terkontaminasi oleh darah atau

cairan tubuh di saat prosedur bedah/tindakan dilakukan.

4. Pencucian, yaitu tindakan menghilangkan semua darah, cairan tubuh atau

setiap benda asing seperti debu dan kotoran

5. Sterilisasi, yaitu tindakan menghilangkan mikroorganisme (bakteri, jamur,

virus)termasuk bakteri endospora dari benda mati

6. Desinfeksi, yaitu tindakan menghilangkan sebagian besar (tidak semua)

mikroorganisme penyebab penyakit dari benda mati. Desinfeksi tingkat

tinggi dilakukan dengan merebus atau menggunakan larutan kimia.

30

D. Kerangka Teori

Sikap

Faktor internal : Tingkat

kecerdasan Kondisi emosional Faktor Eksternal : Pendidikan Sosial budaya Akses informasi Media massa

Faktor yang mempengaruhi : Pengetahuan Pikiran Keyakinan Emosi

Tingkat pengetahuan

Gambar 2.1 Kerangka Teori (Notoatmojo, 2003, Saifuddin Azwar, 2003, Budioro B., 2002).

E. Kerangka Konsep

Pengetahuan Perawat Tentang Infeksi Nosokomial

Sikap Perawat dalam Mencegah Infeksi Nosokomial

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

F. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka konsep penelitian di atas penulis dapat

merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut : Ada hubungan antara

pengetahuan dengan sikap perawat dalam mencegah infeksi nosokomial di

ruang Mawar, Anggrek dan Dahlia RSUD Tugurejo Semarang.