of 152 /152
TINGKAT PENGETAHUAN K3 (KESELAMATAN DAN KEAMANAN KERJA) MAHASISWA PENDIDIKAN KIMIA DI LABORATORIUM KIMIA Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh AGIA GHALBY NIM 1110016200049 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H/ 2015 M

TINGKAT PENGETAHUAN K3 (KESELAMATAN DAN KEAMANAN …

  • Author
    others

  • View
    5

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of TINGKAT PENGETAHUAN K3 (KESELAMATAN DAN KEAMANAN …

PENDIDIKAN KIMIA DI LABORATORIUM KIMIA
Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1437 H/ 2015 M
i
ABSTRAK
Keamanan Kerja) Mahasiswa Pendidikan Kimia di Laboratorium Kimia.
Mahasiswa, terutama mahasiswa program studi pendidikan kimia, diharapkan memiliki standar minimum tertentu pengetahuan tentang K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja). Karena standar minimum belum ditetapkan, pengetahuan mahasiswa tentang K3 sulit untuk dapat diketahui. Namun, mengetahui bagaimana mahasiswa memahami K3 penting untuk memastikan bahwa mahasiswa melakukan kerja praktek mereka dengan cara yang selamat dan aman. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan mahasiswa tentang K3. Seratus delapan puluh tiga (183) mahasiswa program studi Kimia Pendidikan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berpartisipasi dalam menjawab tes mengenai K3. Tes ini dikembangkan berdasarkan tiga indikator K3, yaitu menyimpan, prosedur kerja umum (penanganan), dan pembuangan zat kimia berbahaya. Berdasarkan analisis data, ditemukan bahwa rata-rata mahasiswa memiliki pengetahuan yang kurang menganai ketiga indikator K3 (38%). Secara rinci, pada indikator menyimpan sebesar 33%, prosedur kerja umum sebesar 34%, dan yang terakhir pada pembuangan zat kimia berbahaya yaitu sebesar 47%. Hasil yang didapat belum dapat menunjukkan pengetahuan umum mahasiswa mengenai K3, namun dapat menjadi peringatan awal untuk menyadari pentingnya pengetahuan K3 bagi mahasiswa ketika bereksperimen di laboratorium kimia. Berdasarkan hasil ini disarankan agar pengetahuan tentang K3 harus lebih intensif diberikan kepada mahasiswa karena pengetahuan tersebut sangat penting bagi para mahasiswa untuk bereksperimen dengan benar, sehat, dan aman di laboratorium kimia.
Kata kunci: tingkat pengetahuan, K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja),
pendidikan kimia.
Safety and Security (CSS) Among Undergraduate Students.
Undergraduate students, particulalry those who sit in a department where chemistry practical work is part of the curriculum, are expected to have certain minimum standard of knowledge on Chemical Laboratory Safety and Security (CSS). Since the minimum standard has not been established, students’ knowledge on CSS is difficult to know. Yet, knowing how students understand CSS is important in order to ensure that students do their practical work in a safe and secure manner. The main purpose of this research is to identify knowledge of students on CSS. One hundred eighty three (183) students of Department of Chemistry Education, Faculty of Tarbiya and Teaching Science Syarif Hidayatullah State Islamic University, participated in answering a test on CSS. The test was developed based on three indicators of CSS, namely; storing, general working procedure, and substance disposal. Based on data analysis, it was found that on average students had insufficient knowledge on all three indicators (38%). In detail, items on storing indicator only answered by 33% of the students, on working procedur by 34%, and the last on substance disposal by 47%. Whilst the result did not yet indicate general knowledge of students on CSS, it can be an initial alarm to realize the important of the knowledge for students to do chemistry laboratory work. Based on this result it is suggested that knowledge on CSS should be more intensively administered to the students since such knowledge is critical for the students to work rightly, safely, and securely in a lab environment.
Keywords: level of knowledge, Chemical Laboratory Safety and Security (CSS),
chemistry education.
(Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Mahasiswa Pendidikan Kimia” yang
dilaksankan di Pendidikan Kimia FITK UIN syarif Hidayatullah Jakarta. Sholawat
serat salam tercurahkan kepada akhirul anbiya baginda Rasulullah Muhammad
SAW karena tuntunan beliaulah kita dapat memeluk indahnya Islam sebagai
agama yang sempurna, penuh rahmat dan berkah.
Sebuah karya yang sederhana ini tidak akan mampu peneliti selesaikan
tanpa bantuan dan dukungan dari tangan-tangan Allah yang senantiasa
memberikan dukungan, raasa optimis, semangat, dan kemudahan-kemudahan
yang dibentangkan sehingga peneliti mampu melewatinya dengan baik. Oleh
karena itu pada ruang yang terbatas, peneliti mengucapkan terimakasih yang tak-
terbatas kepada:
1. Prof. Dede Rosyada, MA., selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
beserta purek dan para stafnya
2. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan beserta Pudek dan beserta para stafnya
3. Baiq Hana Susanti, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA beserta para
stafnya
4. Burhanudin Milama, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia
5. Iwan Setiawan, S.Pd., selaku Laboran Pendidikan Kimia yang telah
memberikan dukungan, pengarahan serta bantuan yang semaksimal mungkin
6. Salamah Agung, Ph.D. dan Luki Yunita, M.Pd., selaku pembimbing srikpsi
yang telah membimbing dalam penulisan skripsi beserta Dosen-dosen di UIN
lainnya (Iting Shofwati, MKKK., Dedi Irwandi, M.Si., Adi Riyadi, M.Si.,
iv
dan Evi Sapinatul Bahriah, M.Pd.)
7. Orangtua serta keluarga besar yang senantiasa memberikan dukungan moril
maupun materil yang terbaik untuk putrinya
8. Sahabat-sahabat Pendidikan Kimia dalam ACE (14, 13 12, dan 11) yang
telah memberikan dukungan dan semangat kebersamaan, terutama angkatan
2010 yang saling memberi semangat berjuang bersama-sama dalam
menyelesaikan penulisan skripsi
dukungan dan semangat kebersamaan, terutama angkatan 2010 yang
membantu dalam kelancaran proses maupun penulisan skirpsi
10. Sahabat-sahabat di No.8; Epi Ipeh dan Ping Enjun yang saling memberikan
semangat berjuang serta menghibur pribadi bersama-sama dalam
menyelesaikan penulisan skripsi
11. Serta seluruh pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam
penyusunan skripsi ini dengan limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga
penelitin ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa
Program Studi Pendidikan Kimia.
Sebagai karya ilmiah, peneliti menyadari bahwa terdapat ketidak
sempurnaan pada karya ini, maka dari itu peneliti memohon maaf atas segala
kekurangan di dalamnya dan berharap karya ini dapat memberikan kontribusi bagi
pengingkatan kualitas pendidikan. Amiin.
Jakarta, 21 September 2015
B. Identifikasi Masalah ...................................................................... 4
C. Pembatasan Masalah ..................................................................... 5
D. Rumusan Masalah ......................................................................... 6
E. Tujuan Penelitian .......................................................................... 6
F. Manfaat Penelitian ........................................................................ 6
A. Deskripsi Teoritik .......................................................................... 8
2. K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) ................................. 12
B. Penelitian yang Relevan ................................................................ 32
C. Kerangka Berpikir ......................................................................... 33
A. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 35
B. Metode dan Desain Penelitian ....................................................... 35
C. Populasi dan Sampel ..................................................................... 36
D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 37
E. Instrumen Penelitian ..................................................................... 38
BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................ 50
A. Temuan Penelitian ......................................................................... 50
A. Kesimpulan ................................................................................... 64
B. Saran .............................................................................................. 64
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 65
Tabel 3.3. Kisi-kisi Instrumen Tes Tertulis ................................................ 40
Tabel 3.4. Kisi-kisi Instrumen Non-tes ....................................................... 47
Tabel 4.1. Perincian Indikator Pembelajaran pada Standar (Kompetensi)
K3 ............................................................................................... 50
Berbahaya .................................................................................. 51
(Penanganan) Zat Kimia Berbahaya .......................................... 53
Tabel 4.4. Perincian Indikator Menentukan Pembuangan Zat Kimia
Berbahya .................................................................................... 54
Tabel 4.5. Perincian 21 Nomor Item Soal pada Standar (Kompetensi) K3 56
viii
Gambar 2.2. Lambang Zat Kimia Iritan .......................................................... 17
Gambar 2.3. Lambang Zat Kimia Korosif ...................................................... 19
Gambar 2.4. Lambang Zat Kimia Asfiksian ................................................... 21
Gambar 2.5. Lambang Zat Kimia Karsinogen ................................................ 23
Gambar 2.6. Lambang Zat Kimia Mudah Terbakar ........................................ 25
Gambar 2.7. Lambang Zat Kimia Mudah Meledak ........................................ 28
Gambar 2.8. Lambang Zat Kimia Reaktif ....................................................... 30
Gambar 4.1. Grafik Perincian 21 Nomor Item Soal pada Standar
(Kompetensi) K3 ........................................................................ 56
Lampiran 2 Kisi-Kisi Instrumen Tes Tertulis ............................................. 78
Lampiran 3 Instrumen Tes Tertulis ............................................................. 87
Lampiran 4 Kisi-Kisi Instrumen Non-tes Wawancara ................................ 97
Lampiran 5 Instrumen Non-tes wawancara ................................................ 99
Lampiran 6 Perhitungan dan Hasil Uji Validitas Isi ................................... 103
Lampiran 7 Perhitungan dan Hasil Uji Validitas Empirik .......................... 108
Lampiran 8 Perhitungan dan Hasil Uji Reabilitas ...................................... 111
Lampiran 9 Perhitungan dan Hasil Uji Daya Beda ..................................... 117
Lampiran 10 Perhitungan dan Hasil Uji Tingkat Kesukaran ........................ 119
Lampiran 11 Perhitungan dan Hasil 5 (Lima) Pilihan/ Alternatif yang
Dipilih (Oleh Sampel) ............................................................. 120
Lampiran 12 Data Zat Kimia yang Digunakan di Laboratorium Pendidikan
Kimia ...................................................................................... 122
Lampiran 15 Hasil Uji Referensi .................................................................. 132
1
Ilmu kimia yang merupakan bagian dari kelompok ilmu pengetahuan
alam yaitu merupakan ilmu yang berfokus pada pengetahuan tentang zat atau
materi yang ada di alam, serta perubahan dari suatu zat atau materi tersebut.1 Hasil
dari observasi di lembaga pendidikan menunjukkan bahwa ilmu kimia masih
dianggap rumit yang dikarenakan seringkali ilmu kimia digambarkan sebagai ilmu
yang mempelajari prosedur kerja yang rumit serta menggunakan zat berbahaya
yang dikerjakan dan hanya dimengerti oleh profesor berjas putih di laboratorium.
Dengan adanya gambaran seperti yang telah dipaparkan, maka mahasiswa akan
terprogram di dalam dirinya bahwa ilmu kimia adalah ilmu yang sulit untuk
dipelajari serta dipahami. Sehingga tidak ada keinginan/ ketertarikan dari
mahasiswa untuk mempelajari maupun mengembangkan ilmu kimia lebih lanjut.
Proses pembelajaran untuk ilmu kimia pada umumnya yaitu
mengutamakan mahasiswa memperoleh pengalaman secara langsung yang dapat
dilakukan dengan cara melakukan eksperimen.2 Pemberian pengalaman langsung
mengenai ilmu kimia kepada mahasiswa akan memberikan jawaban, penjelasan,
serta bukti yang masuk akal mengenai ilmu kimia yang tadinya dianggap sulit
untuk dipahami oleh mahasiswa menjadi ilmu sangat menyenangkan. Proses
eksperimen akan lebih tepat jika dilakukan di laboratorium kimia. Laboratorium
kimia merupakan tempat yang dapat digunakan untuk melakukan proses
pembelajaran ilmu kimia serta merupakan suatu tempat yang telah dilengkapi
dengan sistem keamanan agar dapat difungsikan sebagai tempat yang aman untuk
melakukan eksperimen.3 Hasil dari observasi dan wawancara di laboratorium
1 Raymond Chang, Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti, jilid I, Terj. Muhamad Abdulkadir Martoprawiro, (Jakarta: Erlangga, 2005), Cet. 3, h. 3.
2 Ralph H. Petrucci, dkk., Kimia Dasar: Prinsip-prinsip dan Aplikasi Modern, jilid I, Terj. Suminar Setiati Achmadi, (Jakarta: Erlangga, 2011), Cet. 9, h. 2.
3 Tonih Feronika, Kinkin Suartini, dan Zulfiani, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 171.
2
tidak difungsikan secara optimal dalam pembelajaran ilmu kimia.
Laboratorium kimia di program studi pendidikan kimia, selain berfungsi
sebagai pembelajaran mengenai ilmu kimia juga berfungsi untuk menanamkan
sikap kesadaran akan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) ketika
bereksperimen di laboratorium kimia.4 Bagi mahasiswa di program studi
pendidikan kimia wajib untuk mengetahui serta membudayakan K3 karena
mahasiswa ini yang nantinya diharapkan akan menjadi pendidik (guru maupun
laboran) ilmu kimia yang baik di pendidikan tingkat menengah, pekerja yang baik
dibidang insdustri, maupun menjadi ilmuwan kimia. Membudayakan K3 yang
dimaksudkan yaitu bertujuan agar selama-lamanya mahasiswa pendidikan kimia
dapat melaksanakan kegiatan eksperimen yang baik dan benar di laboratorium
kimia dalam mempelajari maupun mengembangkan ilmu kimia.
Proses eksperimen yang dilakukan di laboratorium kimia dengan
menggunakan zat kimia akan menghasilkan suatu pengetahuan yang bermanfaat
(seperti obat-obatan) dan juga akan menghasilkan suatu bahaya terhadap manusia
serta lingkungan hidup (seperti limbah beracun). Tidak satupun zat kimia yang
digunakan pada eksperimen adalah aman bagi mahasiswa maupun lingkungan,
maka eksperimen yang dilakukan harus sesuai dengan prosedur K3 agar dapat
mencegah serta menangani bahaya dari zat kimia.5 Pembudayaan K3 juga sesuai
dengan amanat Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Bahan Berbahaya dan Beracun, Permendikbud RI Nomor 49 Tahun 2014 tentang
Standar Nasional Pendidikan Tinggi, serta standar pendidikan tinggi oleh AUN-
QA (ASEAN University Network Quality Assurance) yang akan dicapai oleh UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001
menjelaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan bagian dari komisi B3 (Bahan
Berbahaya dan Beracun), serta setiap orang yang bekerja dengan B3 wajib
4 Lisa Moran, Keselamatan dan Keamanan Laboratorium Kimia, (Washington DC: The National Academies Press, 2010), h. 2-3.
5 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, Pengelolaan dan Manajemen Laboratorium Kimia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 1.
3
membudayakan K3.6 Permendikbud RI Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar
Nasional Pendidikan Tinggi menjelaskan bahwa sarana dan prasarana, serta
proses penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat harus memenuhi standar
(kompetensi) K3.7 Pada standar pendidikan tinggi oleh AUN-QA menjelaskan
bahwa universitas harus membuat, mengimplementasikan dan menjamin
keseragaman pemenuhan dengan kebijaksanaan riset diseluruh bagian di
universitas demi mengutamakan integritas universitas, menjaga keselamatan dan
kesejahteraan karyawan, subjek penelitian serta menjamin pemenuhan terhadap
semua peraturan lain yang memerintah proses riset.8
Hasil dari observasi dan wawancara di laboratorium pendidikan kimia
menunjukkan bahwa masih banyak ditemukan eksperimen ilmu kimia yang masih
tidak sesuai dengan dengan standar (kompetensi) K3, sehingga berakibat sering
terjadinya kecelakaan kerja yang menyebabkan luka parah pada tubuh maupun
kerusakan/ kehancuran sarana dan prasarana di laboratorium kimia. Beberapa
alasan pelaksanaan eksperimen tanpa K3 yaitu tidak adanya kurikulum yang
memaparkan mengenai aturan K3 di dalam program studi pendidikan kimia, tidak
tersedianya sarana dan prasarana yang lengkap di laboratorium kimia, tidak
adanya pengawasan serta penilaian dari pendidik (dosen maupun laboran) selama
proses eksperimen berlangsung, waktu yang sangat terbatas untuk melakukan
eksperimen di laboratorium kimia, serta tidak adanya pemahaman mengenai
pentingnya K3 pada pembelajaran ilmu kimia.
Pengetahuan mengenai K3 merupakan pengetahuan dasar yang harus
dimiliki mahasiswa sebelum dan saat berekseperimen di laboratorium kimia.
Maka, untuk dapat mengetahui penguasaan terhadap pengetahuan dasar yaitu
perlu dilakukan penilaian terhadap hasil belajar mengenai pengetahuan dasar
6 Pemerintah Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, 2015, h. 258, (http://jdih.menlh.go.id/).
7 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, 2015, h. 22-27, (http://mwa.itb.ac.id/).
8 ASEAN University Network Quality Assurance, AUN-QA Manual For The Implementation Of The Guidelines, 2015, h. 80, (http://www.aunsec.org/).
4
pembelajaran K3 kepada mahasiswa serta melakukan penilaian terhadap hasil dari
pembelajaran K3 mahasiswa sebelum mahasiswa bereksperimen di laboratorium
kimia. Penilaian awal yang harus dilakukan yaitu terhadap tingkat pengetahuan
(kognitif) mahasiswa karena hasil dari tingkat pengetahuan akan sangat
berpengaruh terhadap hasil dari tingkatan sikap (afektif) serta tingkatan
keterampilan (psikomotor) yang dimiliki mahasiswa.10 Penilaian awal terhadap
tingkat pengetahuan (kognitif) mahasiswa juga perlu dilakukan, karena sebelum
sampai kepada tingkat penerapan (mengaplikasikan) pada tingkatan dimensi
pengetahuan (kognitif) utama pada revisi taksonomi Bloom, harus melewati
tingkatan dimensi pengingatan serta pemahaman, sehingga tingkat pengingatan
dari pengetahuan K3 akan sangat mempengaruhi hasil dari tingkatan penerapan
(mengaplikasikan) K3 mahasiswa di laboratorium kimia. Pada proses penilaian
untuk mengetahui tingkat pengingatan dari pengetahuan, diperlukan proses
pengukuran yang kemudian dinilai dengan menggunkan instrumen tes dan non-
tes.11 Maka, pada kesempatan kali ini peneliti mencoba melakukan penelitian
untuk mengetahui tingkat pengetahuan (kognitif) K3 pada mahasiswa pendidikan
kimia pada tingkat perguruan tinggi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehingga
peneliti mengambil judul “Tingkat Pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan
Kerja) Mahasiswa Pendidikan Kimia di Laboratorium Kimia”.
B. Identifikasi Masalah
Sesuai dengan latar belakang maslah yang telah diuraikan, maka dapat
diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
1. pada saat mempelajari ilmu kimia peserta didik peserta didik akan
menggunakan zat kimia yang dapat membahayakan dirinya beserta
lingkungannya
9 Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, dan Burhanuddin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 14.
10 Siti Suryani, “Hubungan Kemampuan Ranah Kognitif dengan Kemampuan Ranah Psikomotorik Pada Bidang Studi Biologi: Studi Kasus Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Ciputat”, Skripsi pada UIN Jakarta, Jakarta, 2006, h. 50, tidak dipublikasikan.
11 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), Cet. 14, h. 5.
5
2. proses eksperimen dengan zat kimia yang dilakukan di laboratorium
kimia tanpa pengetahuan serta penerapan K3 akan membahayakan
manusia serta lingkungan hidup
3. pembelajaran K3 tidak menjadi fokus pada pembelajaran ilmu kimia oleh
pendidik, sehingga sering terjadi kecelakaan kerja serta pencemaran
lingkungan oleh mahasiswa pada saat melakukan eksperimen di
laboratorium kimia.
adanya pembatasan masalah sebagai berikut:
1. pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) di laboratorium
kimia yaitu pengetahuan mengenai menentukan cara atau teknik
pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia berbahaya di
laboratorium kimia. Pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia
berbahaya meliputi penyimpanan, pembuangan, dan prosedur kerja
umum (penanganan) terhadap zat kimia berbahaya
2. zat kimia berbahaya yaitu zat kimia yang memiliki sifat racun (racun
akut, iritan, korosif, asfiksian, dan karsinogen), zat kimia yang memiliki
sifat mudah terbakar, mudah meledak, dan reaktif
3. tingkat pengetahuan yang digunakan yaitu berdasarkan pada 5 (lima)
kategori tingkat kualitas Suharsimi Arikunto; sangat kurang (0 – 20 %),
kurang (21 – 40 %), cukup (41 – 60 %), baik (61 – 80 %), sangat baik
(81 – 100 %). Prosentase diperoleh dari perhitungan penilaian acuan
patokan (0 – 100%)12
4. instrumen tes yang digunakan untuk menilai berupa soal objektif dengan
pilihan berganda (lima pilihan). Instrumen non-tes yang digunakan
berupa lembar pedoman wawancara (yang terstruktur)
5. mahasiswa yang menjadi sampel penelitian yaitu mahasiswa pendidikan
kimia tingkat I, II, dan III di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
12 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, op. cit., h. 271-272.
6
2015.
maka perumusan masalah pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagau berikut:
“Bagaimana tingkat pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) di
laboratorium kimia yang dimiliki mahasiswa pendidikan kimia di FITK UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2015”.
E. Tujuan Penelitian
mengetahui kualitas dari tingkat pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan
Kerja) di Laboratorium Kimia yang dimiliki oleh mahasiswa pendidikan kimia di
FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2015.
F. Manfaat penelitian
adalah sebagai berikut:
Mengetahui tingkatan pengetahuan K3 yang dimilikinya, sehingga
dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam mengevaluasi pengetahuan
ilmu kimia yang telah dimilikinya terutama pada pengetahuan K3 untuk
bereksperimen di laboratorium kimia
2. Bagi Pendidik (Dosen atau Laboran) di Program Studi Pendidikan Kimia
Mengetahui tingkat pengetahuan K3 yang dimiliki oleh mahasiswa
pendidikan kimia, sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam
mengevaluasi program pembelajaran ilmu kimia yang telah dilaksanakan
(dengan cara melakukan eksperimen di laboratorium kimia)
3. Bagi Program Studi Pendidikan Kimia
Mengetahui kualitas dari pembelajaran ilmu kimia (yang diberikan
dengan cara melakukan eksperimen di laboratorium kimia), sehingga dapat
digunakan sebagai pertimbangan dalam mengevaluasi sistem, sarana dan
prasarana laboratorium kimia di program studi pendidikan kimia
7
Mengetahui kualitas serta kemampuan dari lulusan mahasiswa
program studi pendidikan kimia FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam mengevaluasi
kurikulum agar dapat terus meningkatkan kualitas lulusannya.
8
kimia, dan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) di Labaoratorium Kimia.
Berikut perinciannya:
pendidikan secara nasional. Maka pembelajaran mengenai ilmu kimia juga
merupakan suatu usaha untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan secara
nasional yang dilakukan dengan terencana dan telah diatur didalam
kurikulum. Tujuan pendidikan secara nasional yaitu mengembangkan
kemampuan peserta didik terhadap ketaatan beragama, mengendalikan diri,
kecerdasan, berprilaku mulia, keterampilan yang dibutuhkan untuk peserta
didik, masayarakat, bangsa, dan negara.1
Pembelajaran ilmu kimia merupakan bagian dari pembelajaran ilmu
pengetahuan alam. Pembelajaran ilmu kimia pada dasarnya diberikan pada
pendidikan secara formal maupun non-formal di Indonesia mulai dari tingkat
dasar, menengah dan hingga pendidikan tinggi yang tentunya disesuaikan
dengan kurikulum pada masing-masing tingkat pendidikan. Kurikulum
merupakan pedoman yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan
pembelajaran agar mencapai tujuan pendidikan yang disesuaikan dengan
jenjang pendidikan (pendidikan dasar, menengah, dan tinggi) masing-
masing.2 Kurikulum pada umumnya terdapat tujuan, isi, materi, dan cara yang
digunakan untuk pembelajaran agar pendidik lebih terarah dalam memberikan
proses pembelajaran ilmu kimia kepada peserta didik.
1 Direktoral Jendral Pendidikan Islam, Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2006), h. 5.
2 H. A. R. Tilaar, Standarisasi Pendidikan Nasional: Suatu Tinjauan Kritis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 79.
9
dan waktu yang terbatas, maka pendidik harus membuat tujuan instruksional.
Tujuan instruksional merupakan tujuan yang ditentukan oleh pendidik agar
mengarahkan proses pembelajaran serta penilaian terhadap hasil dari
pembelajaran (ilmu kimia) yang telah dilakukan.3 Tujuan instruksional juga
lebih dikenal dengan sebutan indikator pembelajaran. Setelah menentukan
tujuan instruksional pada pembelajaran, kemudian dilajutkan dengan
melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar, hal ini dikarenakan
proses pembelajaran mempunyai 3 (tiga) pokok kegiatan yang saling
berhubungan.4 Hasil dari pengukuran serta penilaian terhadap tujuan
instruksional tersebut akan mengindikasikan kemampuan-kemampuan yang
telah diwujudkan peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran ilmu
kimia yang telah dilakukan oleh pendidik. Namun tidak mudah bagi seorang
pendidik untuk menentukan indikator-indikator yang harus dikuasai peserta
didik dengan memperhatikan segala faktor yang ada.
Ilmu kimia yang merupakan bagian dari kelompok ilmu pengetahuan
alam memerlukan proses pembelajaran yang mengutamakan peserta didiik
memperoleh pengalaman secara langsung yang dapat dilakukan dengan cara
melakukan eksperimen.5 Pemberian pengalaman langsung mengenai ilmu
kimia kepada mahasiswa akan memberikan jawaban, penjelasan, serta bukti
yang masuk akal mengenai zat atau materi yang ada di alam, serta perubahan
dari suatu zat atau materi tersebut. Metode pembelajaran menggunakan
eksperimen yaitu suatu teknik yang digunakan pada proses pembelajaran
dengan cara melakukan percobaan secara langsung mengenai suatu materi
pembelajaran.6 Sehingga metode eksperimen sangat tepat jika digunakan
3 M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip & Oprasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), Cet. 3, h. 71.
4 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), Cet. 14, h. 2.
5 Ralph H. Petrucci, dkk., Kimia Dasar: Prinsip-prinsip dan Aplikasi Modern, jilid I, Terj. Suminar Setiati Achmadi, (Jakarta: Erlangga, 2011), Cet. 9, h. 2.
6 Tonih Feronika, Kinkin Suartini, dan Zulfiani, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 104.
10
eksperimen dalam pembelajaran kimia dikarenakan pertimbangan kelebihan
serta kekurangan yang ada pada metode eksperimen.7 Kelebihan metode
eksperimen yaitu:
merupakan inti dari pembelajaran ilmu pengetahuan alam
b. dapat dipadukan dengan pendekatan proses serta model
pembelajaran inquri
d. dapat mengkonstruk pembelajaran peserta didik
e. dapat menilai tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang
dimiliki peserta didik.
a. terdapat percobaan yang memerlukan waktu yang lama
b. terkadang memerlukan alat dan bahan yang sukar ditemukan dan
berharga tinggi
K3 serta tujuan pembelajaran sebelum melakukan percobaan
d. terdapat percobaan yang harus dilakukan di laboratorium sebagai
tempat yang lebih aman pada saat melakukan percobaan.
Setelah dilakukannya pembelajaran mengenai ilmu kimia, maka
terdapat 3 (tiga) kemungkinan hasil dari suatu proses pembelajaran ilmu
kimia yang diberikan kepada peserta didik oleh pendidik. 3 (tiga)
kemungkinan itu berupa: a. peserta didik tidak memiliki pengetahuan (ilmu
kimia), b. peserta didik hanya mampu menghafal/ mengingat pengetahuan
(ilmu kimia), dan c. peserta didik mampu menghafal serta memahami
pengetahuan (ilmu kimia) dari hasil pembelajaran (ilmu kimia) yang telah
diberikan oleh pendidik.8 Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil
7 Ibid., h. 104-105. 8 Lorin W. Anderson, Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan
Asesmen Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom, Terj. Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 95.
11
dari pembelajaran yaitu faktor dari dalam peserta didik, faktor dari luar
peserta didik, dan faktor kurikulum pembelajaran.9 Berikut perinciannya:
a. Faktor dari dalam peserta didik
Faktor dari dalam peserta didik merupakan keadaan dari jasmani
dan rohani yang dimiliki peserta didik. Faktor-faktor yang berasal dari
dalam peserta didik yang dapat mempengaruhi hasil pembelajaran yaitu
berupa nutrisi yang dikonsumsi oleh peserta didik, penyakit yang sering
dijangkit oleh peserta didik, keadaan panca indra yang dimiliki oleh
peserta didik, tingkat kecerdasan bawaan peserta didik, minat, bakat,
motivasi, kesiapan dan kematangan.10
Faktor dari luar peserta didik merupakan keadaan di sekitar
lingkungan peserta didik. Faktor-faktor yang berasal dari luar peserta
didik yang dapat mempengaruhi hasil pembelajaran yaitu berupa
keadaan cuaca, waktu belajar, tempat belajar, alat tulis, alat peraga,
media pembelajaran, lingkungan sosial di masyarakat, sekolah, dan
keluarga.11
Kurikulum pembelajaran merupakan seperangkat perencanaan
serta pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan ajar, dan cara yang
digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran.12 Maka
faktor-faktor yang berasal dari kurikulum pembelajaran yaitu berupa
indikator pembelajaran (tujuan pembelajaran) yang ditentukan, strategi
pembelajaran (metode dan pendekatan pembelajaran) yang digunakan,
teknik serta instrumen penilaian yang digunakan untuk menilai hasil dari
pembelajaran.
9 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendetakan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), Cet. 15, h. 129.
10 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Cet. 5, h. 54-60.
11 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pres, 2010), h. 233-234. 12 Direktoral Jendral Pendidikan Islam, op. cit., h. 7.
12
Pada umumnya laboratoium kimia merupakan suatu tempat yang
digunakan untuk melakukan eksperimen, namun laboratorum kimia memiliki
fungsi bukan hanya sekedar tempat bereksperimen. Laboratorium kimia
memiliki beberpa fungsi yaitu tempat untuk melakukan pembelajaran ilmu
kimia, tempat untuk melakukan percobaan/ pembuktian terhadap
pembelajaran ilmu kimia, tempat melakukan riset/ penemuan ilmu kimia, dan
sebagai tempat untuk penyimpanan seperti museum kecil.13 Pada umumnya
laboratorium kimia digunakan untuk bereksperimen karena laboratorium
kimia merupakan suatu tempat yang telah dilengkapi dengan sistem
keamanan agar dapat difungsikan sebagai tempat yang aman untuk
melakukan eksperimen. Untuk mengoptimalkan fungsi laboratorium kimia
sebagai tempat untuk bereksperimen maka perlu memperhatikan beberapa
item yang ada pada laboratorium kimia. Item-item yang perlu diperhatikan
meliputi tata usaha, tata bangunan, tata ruang, tata tertib, sistem perlindungan,
sistem penanganan, keterampilan SDM, serta infrastruktur yang sangat
diperlukan untuk laboratorium kimia.14
pembelajaran dengan melakukan eksperimen di laboratorium kimia, pendidik
maupun peserta didik harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan dasar
mengenai K3. Proses eksperimen yang dilakukan di laboratorium kimia
dengan menggunakan zat kimia akan menghasilkan suatu pengetahuan yang
bermanfaat dan juga akan menghasilkan suatu bahaya terhadap manusia serta
lingkungan hidup. Tidak satupun zat kimia yang digunakan pada eksperimen
adalah aman bagi mahasiswa maupun lingkungan, maka eksperimen yang
dilakukan harus sesuai dengan prosedur K3 agar dapat mencegah serta
menangani bahaya dari zat kimia berbahaya.15
13 Feronika, op. cit., h. 166. 14 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, Pengelolaan dan Manajemen Laboratorium Kimia,
(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 2. 15 Ibid., h. 1.
13
laboratorium kimia hampir tidak dapat dibedakan spesifikasi tindakan yang
berkategorikan keselamatan kerja maupun keamanan kerja karena keduanya
mempunyai tujuan yang saling erat berkaitan. Ketika seseorang bekerja
dengan zat kimia secara tepat maka ia akan selamat dan juga aman begitupun
sebaliknya. Jika zat kimia tidak digunakan dan diperlakukan dengan benar,
maka dapat membahayakan keselamatan dan juga mengancam keamanan
karena setiap zat kimia memiliki bahaya keselamatan serta keamanannya
masing-masing. Didalam satu zat kimia dapat memiliki beberapa bahaya
keselamatan maupun bahaya keamanan pada kondisi maupun keadaan yang
tidak dapat diketahui dengan mudah dan yang tidak terduga, maka dari itu
diperlukan merencanakan kegiatan di laboratorium kimia dengan optimal.
Keselamatan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
mempunyai makna yaitu adalah keadaan selamat. Kata selamat mempunyai
arti yaitu terbebas atau terhindar dari bahaya, bencana dan malapetaka, tidak
kurang suatu apa, dan tidak mendapat gangguan atau kerusakan.16 Keamanan
di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti yaitu
keadaan aman. Kata aman mempunyai arti yaitu bebas dari bahaya, bebas dari
gangguan, terlindungi dan tentram.17 Kata selamat juga diartikan sebagai
aman dan terhindar dari celaka.18 Maka yang dimaksud dengan keselamatan
dan keamanan kerja di laboratorium kimia menurut bahasa yaitu merupakan
segala upaya agar kegiatan yang dilakukan di laboratorium selalu dalam
keadaan bebas dari bahaya.
laboratorium kimia maka selain memiliki pengetahuan ilmu kimia juga harus
memiliki pengetahuan K3 pada pembelajaran kimia dengan cara
bereksperimen di laboratorium kimia. Pengetahuan K3 yang harus dimiliki
16 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), Cet. 4, h. 46-47.
17 Bahasa, op. cit., h. 1017. 18 Adi Riyadhi, dkk., Panduan Praktikum Kimia Dasar, (Jakarta: UIN Jakarta Press,
2006), h. 1.
berupa cara atau teknik pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia
berbahaya.19 Pengetahuan mengenai cara atau teknik pengelolaan serta
penanganan yaitu meliputi pembelian, penyimpanan, inventaris, penanganan,
pengiriman, dan pembuangan terhadap zat kimia berbahaya.20 Pada
pengetahuan akan pembelian, inventaris, serta pengiriman hanya dapat
dilakukan oleh pemilik instansi pendidikan, maka pengetahuan mengenai
pengelolaan serta penanganan yang harus dimiliki oleh mahasiswa
pendidikan kimia yaitu meliputi penyimpanan, pembuangan, dan prosedur
kerja umum (penanganan) terhadap zat kimia berbahaya karena agar dapat
melaksanakan kegiatan eksperimen yang baik dan benar di laboratorium
kimia dalam mempelajari maupun mengembangkan ilmu kimia. Jenis zat
kimia berbahaya yang ada di laboratorium kimia berupa zat kimia yang
memiliki sifat racun, mudah terbakar, mudah meledak, reaktif, bahaya fisik,
dan bahaya hayati.21 Namun pada laboratorium kimia, keselamatan dan
keamanan di laboratorium pendidikan kimia lebih sering terganggu oleh
bahaya dari zat kimia yang memiliki sifat racun, mudah terbakar, mudah
meledak, dan reaktif serta jarang terdapat bahaya fisik dan bahaya hayati,
maka pengetahuan mengenai zat kimia berbahaya yang harus dimiliki oleh
mahasiswa pendidikan kimia yaitu meliputi zat kimia yang memiliki sifat
racun, dan zat kimia yang memiliki sifat mudah terbakar, mudah meledak,
serta reaktif. Berikut perinciannya:
Zat kimia yang memiliki sifat racun akan sangat berpengaruh
langsung terhadap keselamatan dan keamanan peserta didik ketika
melakukan eksperimen yang menggunakan zat tersebut. Maka diperlukan
pengetahuan mengenai sifat serta karakter zat kimia beracun yang
digunakan, cara masuk zat kimia tersebut ke dalam tubuh, dan reaksinya
terhadap tubuh agar dapat dilakukan tindakan pencegahan serta
19 Lisa Moran, Keselamatan dan Keamanan Laboratorium Kimia, (Washington DC: The National Academies Press, 2010), h. v.
20 Ibid., h. 23. 21 Ibid., h. 5.
15
penanganan terhadap bahaya zat tersebut.22 Beberapa jenis bahaya racun
dari zat kimia berbahaya yang ada di laboratorium yaitu: racun akut,
racun terhadap organ hati, racun terhadap organ ginjal, dan racun
terhadap organ paru-paru, iritan, korosif, alergen dan pemeka, asfiksian,
neurotoksin, toksin reproduktif dan perkembangan janin, dan
karsinogen.23 Namun jenis bahaya racun dari zat kimia berbahaya yang
sering mengganggu keselamatan dan keamanan di laboratorium
pendidikan kimia yaitu racun akut, iritan, korosif, asfiksian, dan
karsinogen. Berikut perinciannya:
1) Racun akut
Zat kimia yang memiliki sifat racun akut yaitu zat kimia
yang dapat memberikan efek sakit pada pada sebagian tubuh atau
seluruh tubuh hingga kematian secara mendadak (≤ 24 jam jika
melalui kulit dan saluran cerna, (≤ 4 jam jika melalui hirupan) ketika
terpapar zat kimia tersebut.24 Zat kimia yang memiliki sifat racun
akut dalam wadah berkemasan memiliki lambang tulang menyilang
dengan tengkorak kepala di atasnya.25 Berikut gambar untuk
lambang yang memiliki sifat racun akut:
Gambar 2.1. Lambang Zat Kimia Racun Akut
22 Ridley, op. cit., h. 123. 23 Moran, op. cit., h. 5-6. 24 United Nations, Globally Harmonized System of Classification and Labelling of
Chemicals (GHS), (New York and Geneva: United Nations, 2011), Cet. 4, h. 109. 25 UCLA, Laboratory Safety Manual, (California: Office of Enviromental, Health and
Safety, 2011), h. (2-5).
Contoh zat kimia yang memiliki sifat racun akut yang ada
di dalam laboratorium yaitu raksa dan klorin.26 Pengetahuan
mengenai pengelolaan serta penanganan zat kimia yang memiliki
sifat racun akut untuk zat mercury atau raksa dengan rumus kimia
Hg, yaitu:
reagen percobaan, namun zat Hg berada di dalam
termometer yang digunakan untuk pengukuran suhu hingga
200 ºC. Maka, termometer yang berisikan zat Hg tersebut
disimpan di wadah anti-pecah berlapis (2 lapis) pada lemari
khusus, dan aman.27
tumpahan maupun limbah) dari zat yang reaktif terhadap zat
Hg. Zat yang reaktif terhadap zat Hg yaitu zat pengoksidasi,
dan amonia.28
c) jika akan bekerja dengan termometer yang berisikan zat Hg,
maka harus membaca informasi mengenai zat Hg serta
menggunakan alat perlindungan diri yang tepat
d) jika zat Hg tertumpah (keluar dari termometer), maka
segera memberi tanda peringatan disekitar tumpahan dan
segera memberitahu laboran (karena hanya ditangani oleh
ahli). Upaya penanganannya berupa menberikan campuran
belerang dan soda kering pada tumpahan.29
e) jika zat Hg masuk kedalam tubuh, maka berikan
pertolongan pertama pada bazgian tubuh yang terpapar zat
26 Moran, op. cit., h. 80. 27 Steven Leath, Laboratory Safety Manual, (A.S.: Iowa State University, 2013), Cet. 2,
h. 21. 28 Nancy A. Nord, School Chemistry Laboratory Guide, (Columbia: Department of
Health and Human Services, 2006), h. 45. 29 Adi Riyadhi, dkk., op. cit., h. 3.
17
menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan
maupun pernapasan), maka diberikan (pengurasan
lambung) obat cuci perut atau air minum, kemudian segera
periksakan diri ke dokter agar mendapatkan antidot (anti-
racun) yang tepat.
dikumpulkan dalam wadah khusus zat Hg sebelum di olah
(dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli.31
2. Iritan
Zat kimia yang memiliki sifat iritan yaitu zat kimia yang
dapat menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh yang terpapar zat
kimia, namun bersifat sementara.32 Sehingga kerusakan tersebut
dapat pulih kembali. Zat kimia iritan dalam wadah berkemasan
memiliki lambang tanda seru.33 Berikut gambar untuk lambang zat
kimia iritan:
Contoh dari zat kimia iritan di dalam laboratorium
sangatlah banyak. Zat tersebut lebih sering dianggap tidak berbahaya
ketika masuk ke dalam tubuh dengan jumlah yang sedikit walaupun
zat tersebut memiliki konsentrasi yang pekat. Salah satu contoh zat
30 Sartono, Racun dan Keracunan, (Jakarta: Widya Medika, 2001), h. 216.. 31 Feronika, op. cit., h. 181. 32 World Health Organization, Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan
Lingkungan, Terj. Palupi Widyastuti, (Jakarta: EGC, 2005), h. 39. 33 Moran, op. cit., h. 194.
18
kimia yang memiliki sifat iritan yang ada di dalam laboratorium
yaitu ZnSO4. 34 Pengetahuan mengenai pengelolaan serta penanganan
zat kimia iritan untuk zat zinc sulfate atau seng sulfat dengan rumus
kimia ZnSO4, yaitu:
a) jika menyimpan zat ZnSO4, maka di dalam wadah tertutup
rapat, pada lemari penyimpanan khusus zat kimia iritan
yang bersuhu rendah, berventilasi baik, serta hindarkan dari
semua faktor yang dapat menyebabkan zat ZnSO4 reaktif.35
b) jika akan bekerja dengan zat ZnSO4, maka harus membaca
informasi mengenai zat ZnSO4 serta menggunakan alat
perlindungan diri yang tepat
pada tumpahan, kemudian serap tumpahan dengan pasir.36
d) jika zat ZnSO4 masuk ke dalam tubuh, maka berikan
pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat
ZnSO4 dengan segera.37 Jika masuk melalui kulit maupun
mata, maka bilas dengan air dingin yang mengalir selama
15 menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan
maupun pernapasan), maka diberikan obat penurun demam
atau panas, kemudian segera periksakan diri ke dokter agar
mendapatkan antidot (anti-racun) yang tepat.
e) pembuangan limbah maupun tumpahan zat ZnSO4 yaitu
dikumpulkan dalam wadah khusus zat ZnSO4 sebelum di
olah (dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli atau
dapat langsung dibuang di saluran pembuangan air
(drainase).38
34 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Zinc Sulfate, 0.05M MSDS, 2015, h. 1, (https://www.sciencelab.com/).
35 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 14. 36 Science Lab, op. cit., h. 2. 37 Sartono, op. cit., h. 210. 38 Moran, op. cit., h. 173-174.
19
Zat kimia yang memiliki sifat korosif zat kimia yang dapat
menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh yang terpapar zat kimia
yang bersifat permanen.39 Zat kimia korosif utamanya merupakan zat
kimia yang dapat menghancurkan logam ketika zat tersebut bereaksi
dengan logam dan juga dapat merusak bagian tubuh ketika zat
tersebut mengenai bagian tubuh. Zat kimia korosif dalam wadah
berkemasan memiliki lambang batang logam dan organ tangan yang
rusak akibat tumpahan zat kimia.40 Berikut gambar untuk lambang
zat kimia korosif:
Contoh zat kimia korosif di dalam laboratorium yaitu
H2SO4, HNO3, HCl, Ca(OH)2 dan NaOH.41 Pengetahuan mengenai
pengelolaan serta penanganan zat kimia korosif untuk zat sodium
hydroxide atau natrium hidroksida dengan rumus kiimia NaOH,
yaitu:
a) jika menyimpan zat NaOH, maka di dalam wadah tertutup
rapat, pada lemari penyimpanan khusus zat kimia korosif
yang bersuhu rendah, berventilasi baik, serta hindarkan dari
semua faktor yang dapat menyebabkan zat NaOH reaktif.42
b) menghindarkan zat NaOH (pada penyimpanan, saat bekerja,
tumpahan maupun limbah) dari zat yang reaktif terhadap zat
39 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, Teknik Laboratorium Kimia Organik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 105.
40 United Nations, op. cit., h. 29. 41 Achadi Budi Cahyono, Keselamatan Kerja Bahan Kimia Di Industri, (Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2010), Cet. 2, h. 12. 42 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, op. cit., h. 112.
20
alkohol, benzen, H2O2, H2, dan Zn.43
c) jika akan bekerja dengan zat NaOH, maka harus membaca
informasi mengenai zat NaOH serta menggunakan alat
perlindungan diri yang tepat
pada tumpahan, kemudian serap tumpahan dengan kain atau
pasir.44
pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat
NaOH dengan segera.45 Jika masuk melalui kulit maupun
mata, maka bilas dengan larutan garam yang mengalir
selama 15 menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran
pencernaan maupun pernapasan), maka diberikan air minum
atau susu, kemudian segera periksakan diri ke dokter agar
mendapatkan antidot (anti-racun) yang tepat.
f) pembuangan limbah maupun tumpahan zat NaOH yaitu
dikumpulkan dalam wadah khusus zat NaOH sebelum di
olah (dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli atau
dapat langsung dibuang (setelah pengenceran serta
penetralan) di saluran pembuangan air (drainase).46
3) Asfiksian
Zat kimia yang memiliki sifat asfiksian yaitu zat kimia yang
mampu menggantikan dan mengurangi kadar O2 di dalam darah.47
Zat kimia asfiksian dalam wadah berkemasan memiliki lambang
43 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Sodium Hydroxide MSDS, 2015, h. 2-3, (https://www.sciencelab.com/).
44 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 47. 45 Sartono, op. cit., h. 228-229. 46 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, loc. cit. 47 Ridley, op. cit., h. 132.
21
setengah badan orang hitam dengan gambar bintang putih di bagian
tengahnya.48 Berikut gambar untuk lambang zat kimia asfiksian:
Gambar 2.4. Lambang Zat Kimia Asfiksian
Contoh zat kimia asfiksian di dalam laboratorium yaitu
metana, propana, dan CO.49 Informasi mengenai bahaya zat kimia
hepatotoksikan untuk zat propane atau propana dengan rumus kimia
C3H8, yaitu:
(tabung LPG) yang digunakan untuk menghasilkan api pada
pembakar bunsen. Maka, wadah (tabung LPG) yang
berisikan zat C3H8 tersebut disimpan dengan katup atau
regulator tertutup pada lemari khusus gas mudah terbakar
yang bersuhu rendah, dan berventilasi baik serta hindarkan
dari semua faktor yang dapat menyebabkan zat C3H8
reaktif.50
tumpah/ bocor maupun limbah tabung) dari zat yang reaktif
terhadap zat C3H8. Zat yang reaktif terhadap zat C3H8 yaitu
oksidator (dari suhu tinggi atau panas, pembakar maupun
48 Moran, op. cit., h. 194. 49 Iting Shofwati dan Yuli Prapanca Satar, Hygine Industri, (Jakarta: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009), h. 58. 50 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, op. cit., h. 114.
22
tabung).51
c) jika akan bekerja dengan zat C3H8, maka harus membaca
informasi mengenai zat C3H8 serta menggunakan alat
perlindungan diri yang tepat
d) jika zat C3H8 tumpah/ bocor (keluar dari tabung LPG),
maka segera memberi tanda peringatan disekitar tumpahan,
evakuasi dan segera memberitahu laboran (karena hanya
ditangani oleh ahli). Upaya penanganannya berupa
memindahkan wadah ke tempat terisolasi, serta
menghindarkan dari oksidator (dari suhu tinggi atau panas,
pembakar maupun peralatan berlistrik, dan zat kimia korosif
terhadap tabung).52
pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat
C3H8 dengan segera.53 Jika masuk melalui kulit maupun
mata, maka bilas dengan air dingin yang mengalir selama
15 menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan
maupun pernapasan), maka bawa ke tempat dengan udara
yang segar dan beri oksigen, kemudian segera periksakan
diri ke dokter agar mendapatkan antidot (anti-racun) yang
tepat.
wadah dikumpulkan sebelum di olah (dihancurkan maupun
didaur ulang) oleh ahli.54
51 WorkSafeBC, Laboratory Health and Safety Haandbook, (Canada: Workers Compensation Board of British Columbia, 2008), h. 18.
52 Moran, op. cit., h. 153. 53 Sartono, op. cit., h. 203. 54 Dennis P. Nolan, Handbook of Fire and Explosion Protection Engineering
Principles: for Oil, Gas, Chemical and Related Facilities, (U.K.: Elsevier, 2011), Cet. 2, h. 44.
23
yang dapat merusak gen (sel) makhluk hidup.55 Zat kimia karsinogen
dalam wadah berkemasan memiliki lambang setengah badan orang
hitam dengan gambar bintang putih di bagian tengahnya.56 Berikut
gambar untuk lambang zat kimia karsinogen:
Gambar 2.5. Lambang Zat Kimia Karsinogen
Contoh zat kimia karsinogen di dalam laboratorium yaitu
benzen.57 Pengetahuan pengelolaan serta penanganan mengenai zat
kimia karsinogen untuk zat benzene atau benzen dengan rumus kimia
C6H6, yaitu:
a) jika menyimpan zat C6H6, maka di dalam di wadah anti-
pecah berlapis (2 lapis), pada lemari penyimpanan khusus
zat kimia karsinogen/ mudah terbakar yang bersuhu rendah,
dan berventilasi baik, serta hindarkan dari semua faktor
yang dapat menyebabkan zat C6H6 reaktif.58
b) menghindarkan zat C6H6 (pada penyimpanan, saat bekerja,
tumpahan maupun limbah) dari zat yang reaktif terhadap zat
C6H6. Zat yang reaktif terhadap zat C6H6 yaitu zat oksidator
55 Cahyono, op. cit., h. 16. 56 Moran, op. cit., h. 194. 57 A. Pruss, Pengelolaan Aman Limbah Layanan Kesehatan, Terj. Munaya Fauziah,
dkk., (Jakarta: EGC, 2005), h. 5. 58 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 13.
24
berlistrik), H2O2, dan H2CrO4. 59
c) jika akan bekerja dengan zat C6H6, maka harus membaca
informasi mengenai zat C6H6 serta menggunakan alat
perlindungan diri yang tepat
peringatan disekitar tumpahan dan segera memberitahu
laboran (karena hanya ditangani oleh ahli). Upaya
penanganannya berupa menyerap tumpahan dengan pasir
serta hindarkan tumpahan dari semua faktor yang
menyebabkan zat C6H6 reaktif (terbakar).60
e) jika zat C6H6 masuk kedalam tubuh, maka berikan
pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat
C6H6 dengan segera.61 Jika masuk melalui kulit maupun
mata, maka bilas dengan air dingin yang mengalir selama
15 menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan
maupun pernapasan), maka bawa ke tempat dengan udara
yang segar dan beri oksigen, dan pengurasan lambung
dengan obat cuci perut atau air minum, kemudian segera
periksakan diri ke dokter agar mendapatkan antidot (anti
racun) yang tepat.
dikumpulkan dalam wadah khusus zat C6H6 sebelum di olah
(dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli.
b. Mudah terbakar Zat kimia mudah terbakar yaitu zat kimia yang dapat
membentuk api atau bereaksi dengan api sehingga menimbulkan
59 Faye Ong, Science Safety Handbook for California Public Schools, (Califronia: California Department of Education, 2012), h. 213.
60 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Benzene MSDS, 2015, h. 3, (https://www.sciencelab.com/).
61 Sartono, op. cit., h. 238.
25
memiliki lambang api yang menyala.63 Berikut gambar untuk lambang
zat kimia mudah terbakar:
Sifat atau karakter dari zat kimia yang memiliki sifat mudah
terbakar pada umumnya yaitu:
a) zat memiliki tekanan uap (vapor pressure) lebih dari 10 mmHg.
Sehingga zat mudah berubah wujud menjadi gas
b) zat memiliki kerapatan uap (vapor density) tidak sama dengan 1
(satu).64 Sehingga zat mudah berubah wujud menjadi gas.
c) mudah bereaksi dengan sumber api.65 Sumber api yang ada di
dalam laboratorium yaitu; pembakar spirtus maupun bunsen,
dan peralatan berlistrik.
d) memiliki titik didih (boilling point) yang rendah (dapat lebih
rendah dari suhu ruangan). Sehingga mudah berubah wujud
menjadi gas pada suhu ruangan
e) zat memiliki titik nyala (flash point) yang rendah (lebih rendah
dari suhu ruangan). Sehingga zat dapat langsung berinteraksi
dengan udara dan menimbulkan kebakaran
f) memiliki suhu penyulutan (ignition tempertature) yang rendah.
Sehingga apabila zat dipengaruhi suhu tinggi atau panas hingga
62 Moran, op. cit., h. 5. 63 United Nations, op. cit., h. 29. 64 Moran, op. cit., h. 53. 65 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, op. cit., h. 104.
26
kebakaran dengan sendirinya.66
Contoh zat kimia mudah terbakar yang ada di dalam
laboratorium yaitu S, P, C3H6O, C6H14, C4H10O, alkohol, C2H2 dan H2. 67
Pengetahuan pengelolaan serta penanganan mengenai zat kimia mudah
terbakar untuk zat ethyl ether atau eter dengan rumus kimia C4H10O,
yaitu:
a) jika menyimpan zat C4H10O, maka di dalam wadah bermulut
kecil tertutup rapat (sejumlah < 500 mL e), pada lemari
penyimpanan khusus zat kimia mudah terbakar yang bersuhu
rendah, dan berventilasi baik, serta hindarkan dari semua faktor
yang dapat menyebabkan zat C4H10O mudah terbakar.68
b) menghindarkan zat C4H10O (pada penyimpanan, saat bekerja,
tumpahan maupun limbah) dari zat yang reaktif terhadap zat
C4H10O (sejauh > 4 meter). Zat yang reaktif terhadap zat
C4H10O yaitu oksidator (dari suhu tinggi atau panas, pembakar
maupun peralatan berlistrik, perklorat, permanganat, peroksida,
asam nitrat, dan asam sulfat) dan halogen (Cl2, Br2, dan I2). 69
c) jika akan bekerja dengan zat C4H10O, maka harus membaca
informasi mengenai zat C4H10O serta menggunakan alat
perlindungan diri yang tepat
kebakaran yang dapat digunakan seperti CO2, busa (buih
alkohol) dan jenis serbuk kering (amonium fosfat atau natrium
bikarbonat).70
66 Moran, op. cit., h. 86. 67 Cahyono, op. cit., h. 6-8. 68 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, loc. cit. 69 World Health Organization, Laboratory Biosafety Manual, (Geneva: WHO Library
Cataloguing-in-Publication Data, 2004), Cet. 3, h. 153. 70 Ign Suharto, Limbah Kimia dalam Pencemaran Air dan Udara, (Yogyakarta: ANDI,
2011), h. 100.
peringatan disekitar tumpahan dan segera memberitahu laboran
(karena hanya ditangani oleh ahli). Upaya penanganannya
berupa menyerap tumpahan dengan kain atau pasir serta
hindarkan tumpahan dari semua faktor (termasuk memadamkan
listrik) yang menyebabkan zat C4H10O reaktif (terbakar).71
f) jika zat C4H10O masuk kedalam tubuh, maka berikan
pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat
C4H10O dengan segera.72 Jika masuk melalui kulit maupun mata,
maka bilas dengan air dingin yang mengalir selama 15 menit.
Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan maupun
pernapasan), maka bawa ke tempat dengan udara yang segar dan
beri oksigen, dan diberikan air minum, kemudian segera
periksakan diri ke dokter agar mendapatkan antidot (anti racun)
yang tepat.
dikumpulkan dalam wadah khusus zat C4H10O sebelum di olah
(dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli.73
c. Mudah meledak Zat kimia mudah meledak adalah zat kimia tunggal maupun
campuran yang pada kondisi tertentu, dapat menghasilkan gas panas dan
tekanan tinggi sehingga dapat menghancurkan lingkungan.74 Zat kimia
mudah meledak dalam wadah berkemasan memiliki lambang benda yang
hancur berserakan.75 Berikut gambar untuk lambang zat kimia mudah
meledak:
71 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 48. 72 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Ethyl ether MSDS, 2015, h. 2,
(https://www.sciencelab.com/). 73 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, loc. cit. 74 United Nations, op. cit., h. 12. 75 Yuni Noviyanti, Buku Pintar Praktikum Kimia SMA, (Jakarta: Laskar Aksara, 2015),
h. 3.
Sifat atau karakter dari zat kimia yang memiliki sifat mudah
meledak pada umumnya yaitu:
menimbulkan ledakan ketika ada interaksi pula dengan suhu
yang panas serta oksigen di udara.
b) zat dapat bereaksi dengan adanya getaran, benturan, gesekan,
panas, tekanan, dan api.77
hydrogen atau gas hidrogen dengan rumus kimia H2. 78 Pengetahuan
pengelolaan serta penanganan mengenai zat kimia yang memiliki sifat
mudah meledak untuk zat hydrogen atau hidrogen dengan rumus kimia
H2, yaitu:
a) jika zat H2 hendak disimpan, maka simpan di dalam wadah yang
tepat, pada lemari penyimpanan khusus zat kimia mudah meldak
yang bersuhu rendah dan berventilasi baik, serta hindarkan dari
semua faktor yang dapat menyebabkan wadah maupun zat H2
reaktif (mudah meledak).79
b) jika akan bekerja dengan zat H2, maka harus membaca informasi
mengenai zat H2 serta menggunakan alat perlindungan diri yang
tepat
76 Moran, op. cit., h. 86. 77 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 13. 78 Moran, op. cit., h. 90. 79 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, op. cit., h. 111.
29
c) jika bekerja dan-atau menghasilkan zat H2 yang bersifat mudah
meledak, maka hindarkan dari sumber api (dari suhu tinggi atau
panas, pembakar maupun peralatan berlistrik), kerusakan wadah,
serta zat kimia yang reaktif terhadap wadah maupun zat H2. 80
d) jika zat H2 masuk kedalam tubuh, maka berikan pertolongan
pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat H2 dengan
segera.81 Jika masuk melalui kulit maupun mata, maka bilas
dengan air dingin yang mengalir selama 15 menit. Jika tertelan
(masuk melalui saluran pencernaan maupun pernapasan), maka
bawa ke tempat dengan udara yang segar dan beri oksigen,
kemudian segera periksakan diri ke dokter agar mendapatkan
antidot (anti-racun) yang tepat.
dapat langsung dibuang/ dilepas di atmosfer, dan wadah
dikumpulkan sebelum di olah (dihancurkan maupun didaur
ulang) oleh ahli.82
d. Reaktif Zat kimia reaktif adalah zat kimia yang dapat bereaksi kuat
dengan sendirinya maupun ketika direkasikan dengan zat kimia lain, dan
menghsilkan panas.83 Reaksi hebat yang terjadi dapat mengakibatkan
munculnya zat beracun, kebakaran maupun ledakan. Zat kimia reaktif
dalam wadah berkemasan tidak memiliki tanda khusus, namun zat kimia
rekatif sering berlambang sama dengan zat kimia mudah terbakar dan zat
kimia mudah meledak.84 Berikut gambar untuk lambang zat kimia
reaktif:
80 WorkSafeBC, op. cit., h. 17. 81 BOC: A Member of The Linde Group, Safety data sheet; Hydrogen compressed,
2015, h. 1, (https://www.boconline.co.uk/). 82 Moran, op. cit., h. 153. 83 United Nations, op. cit., h. 15. 84 UCLA, op. cit., h. (2-5).
30
Sifat atau karakter dari zat kimia yang memiliki sifat reaktif
pada umumnya yaitu:
a) mudah bereaksi dengan zat kimia lain yang tidak cocok,
sehingga menimbulkan kebakaran, ledakan hingga munculnya
zat beracun
menghasilkan ledakan.
c) zat cair bersuhu tinggi atau panas bereaksi dengan zat lain yang
memiliki titik didih lebih rendah, sehingga akan menghasikan
ledakan
d) penambahan air pada penangas air (dengan air yang bersuhu
tinggi atau panas di dalam pemanas air), sehingga akan
menghasilkan ledakan
e) zat yang brsifat kriogen (mudah menguap) di dalam wadah
tertutup beraksi dengan panas, sehingga akan menghasilkan
ledakan
f) zat bersuhu tinggi atau panas yang dituang kedalam air,86
sehingga akan menghasilkan ledakan.
rumus kimia H2O2 (> 30 %), yaitu:
85 Moran, op. cit., h. 89. 86 Ibid., h. 136. 87 Ibid., h. 165.
31
a) jika menyimpan zat H2O2, maka di dalam wadah bermulut kecil
tertutup rapat, pada lemari penyimpanan khusus zat kimia
reaktif yang bersuhu rendah, dan berventilasi baik, serta
hindarkan dari semua faktor yang dapat menyebabkan zat H2O2
reaktif.88
b) jika akan bekerja dengan zat H2O2, maka harus membaca
informasi mengenai zat H2O2 serta menggunakan alat
perlindungan diri yang tepat
reduktor (P), logam dan garamnya (Fe, Cu, Zn, NaCO3, MnO2,
dll), keton, alkohol, aldehid, karboksilat, dll.89
d) jika zat H2O2 tertumpah maka lakukan penanganan dengan
segera.90 Jika tertumpah dalam jumlah yang kecil, maka berikan
air pada tumpahan, kemudian menyerap tumpahan dengan pasir.
Jika tertumpah dalam jumlah yang besar, maka hindarkan
tumpahan dari semua faktor yang menyebabkan zat H2O2 reakitf
(jika perlu lakukan evakuasi dan laporkan ke laboran)
e) jika zat H2O2 masuk kedalam tubuh, maka berikan pertolongan
pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat H2O2 dengan
segera.91 Jika masuk melalui kulit maupun mata, maka bilas
dengan air dingin yang mengalir selama 15 menit. Jika tertelan
(masuk melalui saluran pencernaan maupun pernapasan), maka
bawa ke tempat dengan udara yang segar dan beri oksigen,
kemudian segera periksakan diri ke dokter agar mendapatkan
antidot (anti-racun) yang tepat.
88 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, loc. cit. 89 Nord, op. cit., h. 45. 90 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Hydrogen Peroxide 30% MSDS, 2015, h. 3,
(https://www.sciencelab.com/). 91 Ibid., h. 2.
32
dikumpulkan dalam wadah khusus zat H2O2 sebelum di olah
(dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli atau dapat
langsung dibuang (setelah pengenceran < 3 %) di saluran
pembuangan air (drainase).92
B. Penelitian yang Relevan
Hasil dari penelitian Iqbal Al Faris dan Feri Harianto pada jurnalnya
yang berjudul “Pengaruh Perilaku Tenaga Kerja dan Lingkungan Kerja yang
Dimoderasi Faktor Pengalaman Kerja dan Tingkat pendidikan Terhadap
Kecelakaan Kerja Konstruksi di Surabaya”, yaitu faktor yang mempengaruhi
tingkat kecelakaan kerja meliputi tingkat pendidikan serta pengalaman kerja di
lapangan.93
“Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Berisiko dengan Kejadian Kecelakaan
Kerja”, yaitu faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku berisiko serta
kecelakaan kerja meliputi kurangnya pemahaman mengenai risiko serta
kecelakaan kerja yang dikarenakan adanya anggapan bahwa pekerjaan yang
dilakukannya memiliki risiko yang rendah, serta kecelakaan yang terjadi memiliki
bahaya yang rendah dan umum terjadi.94
Hasil dari penelitian Lindawati pada skripsinya yang berjudul “Analisis
Risiko Bahan Kimia Berdasarkan Konsekuensi Kebakaran dan Kesehatan di
Laboratorium kimia Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun 2012” yaitu zat kimia di laboratorium yang berpotensi membahayakan
kesehatan dan keselamatan sebanyak 20 – 80 %.95
92 Moran, op. cit., h. 283. 93 Iqbal Al Faris dan Feri Harianto, “Pengaruh Perilaku Tenaga Kerja dan Lingkungan
Kerja yang Dimoderasi Faktor Pengalaman Kerja dan Tingkat pendidikan Terhadap Kecelakaan Kerja Konstruksi di Surabaya”, Jurnal pada Seminar Nasional X – 2014 Teknik Sipil ITS Surabaya, ISBN 978-979-99327-9-2, Surabaya, 2014, h. 57.
94 Maharani Perdini, “Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Berisiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja”, Unnes Journal of Public Health 1 (1) (2012) ISSN 2252-6781, Semarang, 2012, h. 51.
95 Lindawati, “Analisis Risiko Bahan Kimia Berdasarkan Konsekuensi Kebakaran dan Kesehatan di Laboratorium kimia Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
33
“Tingkat Pengetahuan Keselamatan Kerja dan Keterampilan Kerja Di
Laboratorium Kimia Peserta Didik Kelas XI IPA Semester 1 SMAN Di
kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah” yaitu instrumen
soal tes tertulis serta wawancara dapat digunakan untuk mendapatkan data tingkat
pengetahuan keselamatan kerja di laboratorium kimia dan menyimpulkan bahwa
tingkat pengetahuan keselamatan kerja sampel pada tingkat sedang (45,85-
56,66%).96
Hasil dari penelitian Dewi Indah Sari Siregar pada skripsinya yang
berjudul “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecelakaan Ringan di PT.
Aqua Golden Missisippi Bekasi Tahun 2014”, yaitu faktor yang mempengaruhi
tingkat kecelakaan kerja meliputi tingkat pengetahuan, ketertiban terhadap
prosedur, pengawasan, serta lingkungan kerja yang aman dan nyaman.97
C. Kerangka Berpikir
riset/ penemuan ilmu kimia, dan sebagai tempat untuk penyimpanan seperti
museum kecil.98 Pada umumnya laboratorium kimia merupakan suatu tempat
yang digunakan untuk melakukan eksperimen karena laboratorium kimia
merupakan suatu tempat yang telah dilengkapi dengan sistem keamanan agar
dapat difungsikan sebagai tempat yang aman untuk melakukan eksperimen.
Eksperimen yang dilakukan dalam pembelajaran ilmu kimia, akan memberikan
pengalaman secara langsung kepada peserta didik mengenai zat atau materi yang
Tahun 2012”, Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2012, h. ii, tidak dipublikasikan.
96 Wahyu Hidayati, “Tingkat Pengetahuan Keselamatan Kerja dan Keterampilan Kerja Di Laboratorium Kimia Peserta Didik Kelas XI IPA Semester 1 SMAN Di kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah”, Skripsi pada UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2011, h. 6, tidak dipublikasikan.
97 Dewi Indah Sari Siregar, “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecelakaan Ringan di PT. Aqua Golden Missisippi Bekasi Tahun 2014”, Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2014, Jakarta, 2014, h. iv, tidak dipublikasikan.
98 Feronika, op. cit., h. 166.
34
ada di alam, serta perubahan dari suatu zat atau materi tersebut secara jelas dan
masuk akal.
Pada umumnya, zat kimia yang digunakan dalam proses eksperimen di
laboratorium akan menghasilkan suatu pengetahuan yang bermanfaat dan juga
akan menghasilkan suatu bahaya terhadap manusia serta lingkungan hidup. Maka
pada proses eksperimen, zat kimia perlu dikelola dan ditangani dengan benar.
Cara atau teknik pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia berbahaya
terdapat pada pembelajaran K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) di
laboratorium kimia.99 Pembelajaran K3 di laboratorium kimia mengenai
pengelolaan serta penanganan zat kimia berbahaya yaitu meliputi penyimpanan,
pembuangan, dan prosedur kerja umum (penanganan) untuk zat kimia berbahaya.
Maka, K3 harus dikuasai (diketahui serta dipahami) dan diterapkan pada saat
proses pembelajaran ilmu kimia yang menggunakan metode eksperimen di
laboratorium kimia karena tidak satupun zat kimia yang digunakan pada
eksperimen adalah aman bagi mahasiswa (makhluk hidup) maupun lingkungan.100
Sebelum mahasiswa mampu menerapkan (mengaplikasikan) cara atau
teknik pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia berbahaya, mahasiswa
harus menguasai tahapan mengingat dan memahami, yang sejalan dengan tahapan
pada tingkatan-tingkatan dari dimensi pengetahuan (kognitif) utama pada revisi
taksonomi Benjamin S. Bloom.101 Maka, penelitian ini merupakan tahapan awal
untuk dapat mengetahui kualitas dari pengetahuan K3 yang dimiliki oleh
mahasiswa pendidikan kimia di laboratorium kimia yaitu dengan cara mengetahui
kualitas dari pengingatan (serta pemahaman) mengenai pengetahuan K3 yang
telah dimiliki mahasiswa.
99 Moran, op. cit., h. v. 100 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 1. 101 Anderson, op. cit., h. 6.
35
Tempat berlangsungnya penelitian yaitu dapat dilaksanakan di ruang
kelas maupun di ruang laboratorium pendidikan kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
(yang disesuaikan dengan kondisi sampel dan lapangan). Gambaran mengenai
ketersediaan sarana-prasarana yang ada di laboratorium pendidikan kimia terdapat
pada Lampiran 12.1 Waktu pada penelitian berupa jadwal yang ditentukan yaitu
mulai dari pembuatan rancangan penelitian hingga pencetakan hasil laporan.2
Berikut perinciannya pada Tabel 3.1.:
Tabel 3.1 Rancangan Penelitian
NO. KEGIATAN BULAN (2015)
1. pembuatan rancangan penelitian januari – mei 2. pelaksanaan penelitian juni 3. pembuatan laporan penelitian juli – september
B. Metode dan Desain Penelitian
Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi serta mengetahui
kualitas dari tingkat pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) sampel
penelitian yaitu menggunakan metode penelitian deskriptif. ”Penelitian deskriptif
adalah suatu metode penelitian yang menunjukkan untuk menggambarkan
fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang
lampau.”.3 Dengan metode deskriptif maka akan diuraikan mengenai pengetahuan
(kognitif) K3 yang dimiliki mahasiswa pendidikan kimia berdasarkan pada fakta-
fakta yang ada serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan kemudian
1 Lampiran 12, h, 122-126. 2 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), Cet. 9, h.
132. 3 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2006), Cet. 2, h. 54.
36
pengetahuan (kognitif) K3 mahasiswa pendidikan kimia.
Secara umum desain penelitian terdiri dari 3 (tiga) tahapan, yaitu dimulai
dari pembuatan rancangan penelitian, pelaksanaan penelitian, hingga pembuatan
serta pencetakan laporan penelitian.4 Berikut perinciannya:
1. pada tahapan pembuatan rancangan penelitian yaitu meliputi mencari
permasalahan, menentukan tujuan penelitian, mempersiapkan jadwal
penelitian, mempersiapkan instrumen untuk memperoleh data penelitian,
serta mempersiapkan sarana-prasarana untuk melakukan penelitian
2. pada tahapan pelaksanaan penelitian yaitu meliputi pengumpulan data
penelitian dengan cara memberikan instrumen tes tertulis kepada sampel
penelitian, serta mewawancarai sampel penelitian
3. pada tahapan pembuatan serta percetakan laporan yaitu meliputi
mengolah serta menganalisi data penelitian yang diperoleh,
menyimpulkan hasil dari penelitian, dan kemudian melaporkan hasil
penelitian dalam bentuk laporan tertulis.
C. Populasi dan Sampel
FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sampel dalam penelitian yaitu mahasiswa
pendidikan kimia tingkat I, II, dan III di FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2015. Pada tingkat IV dan seterusnya tidak dijadikan sampel penelitian karena
mahasiswa pada semester 8 (delapan) sedang melaksananakan PPKT (Praktek
Profesi Keguruan Terpadu) dan pada tingkat seterusnya merupakan mahasiswa
tidak aktif dalam melaksanakan pembelajaran di kelas dan laboratorium.
Mahasiswa pendidikan kimia pada tingkat I, II, dan III dijadikan sampel penelitian
karena mahasiswa pada tingkat tersebut telah mendapatkan matakuliah Teknik
Laboratorium serta pelatihan/ workshop K3 (atau CSS: Chemical Laboratory
Safety and Security) serta masih aktif dalam melaksanakan pembelajaran di kelas
dan laboratorium. Pendidikan kimia Tingkat I adalah mahasiswa di semester 2
(dua), tingkat II adalah mahasiswa di semester 4 (empat), dan tingkat III adalah
4 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, op. cit., h. 133.
37
mahasiswa di semester 6 (enam). Jumlah total sampel penelitian yaitu 183
mahasiswa. Rincian jumlah sampel penelitian terdapat pada Tabel 3.2. Berikut
perinciannya:
TINGKAT MAHSISWA KELAS A KELAS B
1 I 30 30 2 II 28 30 3 III 32 33
TOTAL 183 MAHASISWA Maka, teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu sampling purposive
karena sampel penelitian ditentukan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.5
D. Teknik Pengumpulan Data
pengetahuan (kognitif) sampel penelitian yaitu menggunakan tes dan non-tes.6 Tes
yaitu dilakukan secara tertulis yang menggunakan soal objektif dengan pilihan
berganda (lima pilihan). Non-tes yaitu dilakukan dengan cara wawancara yang
terstruktur.
penelitian), dan mengumpulkan hasil tes tertulis yang telah diberikan sampel
(yang digunakan sebagai data penelitian).7 Tes tertulis dapat dilakukan di ruang
kelas maupun di laboratorium kimia (dengan menyesuaikan kondisi, dana, waktu,
dan tenaga). Waktu yang diberikan untuk melakukan tes tertulis yaitu 1 (satu) jam
pembelajaran (± 45 menit). Instruksi yang diberikan pada umumnya yaitu
mengingatkan serta memperjelas tata tertib dalam melaksanakan tes tertulis. Tes
tertulis yang telah dilakukan kepada sampel penelitian (183 mahasiswa
5 Sugiyono, Metode Penelitian kuantitatif dan Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2009), Cet. 8, h. 85.
6 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), Cet. 15, h. 5.
7 Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), Cet. 11, h. 151-153.
38
pendidikan kimia) merupakan sebuah data pada penelitian utama, yang nantinya
akan dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan utama pada penelitian.
Pengumpulan data non-tes dengan wawancara yang terstruktur dilakukan
dengan tahapan: persiapan (seperti mempersiapkan jumlah sampel, instrumen
penelitian, tempat, waktu serta sarana-prasarana), pelaksanaan wawancara
(pengajuan pertanyaan menggunakan lembar pedoman wawancara yang
terstruktur, dan alat perekam suara), dan mencatat (mengumpulkan) hasil
wawancara yang telah diberikan sampel (yang digunakan sebagai data
penelitian).8 Wawancara hanya dilakukan untuk 5 sampel (mahasiswa pendidikan
kimia) yang diduga dapat memberikan informasi tambahan (melengkapi data
utama) pada data penelitian, dan juga agar terlihat penekanan hasil dari kualitas
tingkat pengetahuan K3 yang dimiliki oleh sampel penelitian. Pertanyaan yang
diajukan meliputi sumber pengetahuan K3 yang dimiliki sampel penelitian serta
pemahaman mengenai K3 yang telah dimiliki oleh sampel penelitian. Wawancara
dapat dilakukan dimana saja (dengan menyesuaikan kondisi, dana, waktu, dan
tenaga). Pertanyaan yang diberikan kepada sampel penelitian disesuaikan dengan
pertanyaan yang ada di lembar pedoman wawancara yang terstruktur. Waktu yang
diberikan untuk melakukan wawancara yaitu ± 15 menit.Hasil dari wawancara
yang telah dilakukan, merupakan data penelitian (informasi) pendukung dari data
penelitian utama, yang nantinya akan menjadi pelengkap dari kesimpulan utama
hasil penelitian.
penelitian kepada sampel penelitian, dan kemudian dianalisis serta disimpulkan
mengenai hasil dari penelitian yang telah dilakukan.
E. Instrumen Penelitian
mengetahui kualitas dari tingkat pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan
Kerja) sampel penelitian yaitu menggunakan soal objektif dengan pilihan
berganda (lima pilihan) dan lembar pedoman wawancara yang terstruktur. Berikut
perinciannya:
39
dengan pilihan berganda (lima pilihan). Tes tertulis yang menggunakan soal
objektif dengan pilihan berganda (lima pilihan) yaitu berupa lembaran yang
berisikan soal-soal (yang terbakukan) dengan kalimat pernyataan yang belum
lengkap.9 Kemudian untuk melengkapi pernyataan tersebut diberikan 5 (lima)
pilihan/ alternatif untuk melengkapi pernyataan tersebut, namun hanya ada 1
(satu) dari 5 pilihan/ alternatif yang tepat untuk dapat melengkapi
pernyataan.1 pilihan/ alternatif yang tepat biasa disebut dengan kunci
jawaban dan 4 (empat) pilihan/ alternatif yang lain biasa disebut dengan
pengecoh.
yang dimiliki oleh soal objektif dengan pilihan berganda (lima pilihan).
Kelebihan tes tertulis dengan menggunakan soal objektif dengan pilihan
berganda (lima pilihan) yaitu dapat digunakan untuk mengukur tingkat
pengetahuan (kognitif) sampel penelitian, dapat digunakan untuk jumlah
sampel peneitian yang banyak, dapat digunakan untuk cakupan materi yang
sangat banyak, hasil dari soal dapat diukur dengan efektif serta efisien, dan
pengukuran bersifat objektif.10 Kekurangan tes terulis dengan menggunakan
soal objektif dengan pilihan berganda (lima pilihan) yaitu pembuatan item
soal yang tidak mudah, tidak dapat mengungkap kemampuan ditingkat
pengetahuan (kognitif) yang tinggi, memberi peluang besar kepada siswa
untuk menerka jawaban.11 Agar soal menghasilkan data yang baik maka
dilakukan rundingan-rundingan dengan pakar (asisten beserta laboran, dosen
pendidikan kimia, dan dosen ilmu kimia) dalam pembuatan soal (K3) serta
9 Sudijono, op. cit., h. 120. 10 M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Oprasionalnya, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2009), Cet. 3, h. 125-126. 11 Sudijono, op. cit., h. 135.
40
berlangsung.
berupa tingkat pengetahuan, dan jumlah pertanyaan), membuat kisi-kisi,
menyusun soal serta menentukan kunci jawaban soal, menguji-coba (untuk
pembakuan) instrument (tes tertulis), menganalisis hasil uji-coba, merevisi
instrumen (tes tertulis) dan instrumen (tes tertulis) siap digunakan.12
Pengkajian dalam membuat instrumen tes tertulis berupa pemilihan materi
pembelajaran mengenai K3 yang telah diberikan untuk membuat 50 item
pertanyaan menganai K3.
dengan pilihan berganda (lima pilihan) yang disusun berdasarkan dari
mengkaji pembelajaran serta menentukan indikator soal dan indikator
pembelajaran dari Standar (Kompetensi) K3 yaitu menentukan pengelolaan
dan penanganan zat kimia berbahaya, yang terdapat pada Tabel 3.3. Berikut
perinciannya:
MATERI INDIKATOR
menentukan penyimpanan zat kimia berbahaya
16 6, 8*, 9, 11, 12, 18*, 19, 20*, 21, 32*, 33, 40, 41,
42*, 43*, 44* prosedur kerja umum (penanganan) zat kimia berbahaya
menentukan prosedur kerja umum (penanganan) zat kimia berbahaya
22
5, 13, 14, 15, 16*, 22, 23, 24*, 25*, 26, 27, 28, 29*, 30*, 34*, 35*, 36*, 37*,
38, 39, 47, 48
pembuangan zat kimia berbahaya
12 1, 2, 3*, 4, 7*, 10*, 17, 31,
45*, 46, 49*, 50*
Pada tahap menguji-coba (membakukan) yaitu ditujukan agar
mendapatkan instrumen tes (tertulis) hasil belajar yang baik. Pengujian
12 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Cet. 14, h. 209.
13 Lampiran 7, h, 116-118.
41
terhadap item soal (tes tertulis) menurut Nana Sudjana berupa tingkat
kesukaran, daya pembeda, validitas, dan reabilitas.14 Berikut perinciannya:
a. Tingkat kesukaran
seberapa besar kesukaran dari item soal yang telah dibuat.15 Perhitungan
tingkat kesukaran menggunakan Ms. Excel 2010 serta Anates 4.0.9..
Rumus tingkat kesukaran yang digunakan yaitu:
Keterangan: I = nilai tingkat kesukaran item soal(i)
B = jumlah siswa yang menjawab benar pada item soal(i)
N = jumlah total siswa yang menjawab pada item soal(i). 16
Rentang ukuran patokan kriteria tingkat kesukaran item soal yang
digunakan sebagai berikut:
0.0 0.3 = item soal sukar 0.31 0.7 = item soal sedang 0.71 – 1.0 = item soal mudah.17
b. Daya pembeda
seberapa besar item soal dapat membedakan antara sampel penelitian
yang sudah memiliki pengetahuan dengan sampel penelitian yang belum
memiliki pengetahuan K3.18 Perhitungan daya pembeda menggunakan
Ms. Excel 2010 serta Anates 4.0.9.. Rumus daya pembeda yang
digunakan yaitu:
14 Sudjana, op. cit., h. 135. 15 Zaenal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. 5,
h. 266. 16 Sudjana, op. cit., h. 137. 17 Harun Rasyid dan Mansur, Penilaian Hasil Belajar, (Bandung: Wacana Prima, 2009),
h. 241. 18 Arifin, op. cit., h. 273.
42
Keterangan: D = nilai daya pembeda item soal(i)
= jumlah sampel yang menjawab benar pada kelompok atas (27 %) pada item soal(i)
= jumlah sampel yang menjawab benar pada kelopok bawah (27 %) pada item soal(i)
= jumlah sampel penelitian pada kelompok atas (27 %) = jumlah sampel penelitian pada kelompok bawah (27 %).19
Rentang ukuran patokan kriteria daya pembeda item soal yang digunakan
sebagai berikut:
D < 0.2 = daya pembeda item soal buruk 0.2 – 0.4 = daya pembeda item soal sedang 0.41 – 0.7 = daya pembeda item soal baik 0.71 – 1.0 = daya pembeda item soal baik sekali D (- / negatif) = daya pembeda item soal buruk sekali.20
c. Validitas
tepat suatu item soal dapat melakukan fungsi penilaiannya (tingkat
pengetahuan K3) terhadap sampel penelitian.21 Terdapat 2 (dua) langkah
validitas menurut Anas Sudijono yaitu validitas rasional dan kemudian
validitas empirik.22 Validitas rasional meliputi isidan konstruk.
Validitas rasional isi merupakan analisis terhadap item soal
dengan pemikiran yang logis, sehingga dapat diketahui seberapa tepat
cakupan seluruh materi pembelajaran yang ada pada item soal.23
Validitas rasional isi digunakan untuk mengetahui seberapa tepat
keterwakilan materi pembelajaran K3 pada item soal yang diberikan
kepada sampel penelitian.
soal dengan pemikiran yang logis, sehingga dapat diketahui seberapa
tepat item soal mampu mengungkapkan indikator soal, indikator
19 Harun Rasyid dan Mansur, op. cit., h. 250-251. 20 Sudijono, op. cit., h. 389. 21 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, op. cit., h. 211. 22 Sudijono, op. cit., h. 163. 23 Sudjana, op. cit., h. 13.
43
rasional konstruk digunakan untuk mengetahui seberapa tepat
keterwakilan indikator soal pada item soal yang diberikan kepada sampel
penelitian.
berdiskusi dengan pakar (asisten beserta laboran pendidikan kimia, dosen
pendidikan kimia, dan dosen ilmu kimia) yang berkompeten pada materi
pembelajaran (K3) yang akan dinilai.25 Pada proses berdiskusi pakar K3,
akan terjadi perubahan serta pengarahan terhadap item soal. Sehingga
akan didapatkan item soal yang mampu secara tepat mewakili seluruh
materi pembelajaran K3 yang telah diberikan. Kriteria dari validitas
rasional isi dan konstruk yang digunakan yaitu jika pakar telah
menyetujui bahwa item soal tersebut valid, maka item soal tersebut telah
valid dan siap untuk diberikan kepada sampel penelitian.
Validitas empirik merupakan analisis terhadap item soal dengan
berdasarkan dari hasil temuan di lapangan, sehingga dapat diketahui
seberapa tepat item soal dapat digunakan untuk segala kriteria yang
berhubungan dengan sampel penelitian.26 Validitas empirik digunakan
untuk membuat pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan alokasi
waktu yang layak, format instrumen, serta pemilihan item soal yang
layak.
instrumen penelitian (yang terdiri dari 50 item soal) kepada mahasiswa
pendidikan kimia, mengolah, serta berdiskusi dengan pakar untuk
memperoleh keputusan akhir dalam menentukan instrumen penelitian
yang baik. Pada proses pengolahan data yaitu dilakukan dengan cara
menghitung dengan menggunakan rumus korelasi product-moment
24 Sudijono, op. cit., h. 167. 25 Sudjana, op. cit., h. 13. 26 Sudijono, loc. cit.
44
dengan angka kasar.27 Kelebihan dari korelasi product-moment dengan
angka kasar yaitu lebih mudah dan cepat (karena rumus yang sederhana)
pada proses perhitungan yang digunakan untuk mengukur (validitas) tiap
item soal.28 Perhitungan menggunakan Ms. Excel 2010 serta Anates
4.0.9.. Kriteria uji validitas empirik yang digunakan untuk menafsirkan
nilai korelasi (untuk validitas empirik) yang dihasilkan yaitu jika nilai r
hitung > r tabel, maka item soal dikatakan telah valid. Rumus korelasi
product-moment dengan angka kasar (r hitung) yang digunakan sebagai
berikut:
r =
Keterangan: r (hitung) = nilai korelasi (validitas empirik)(i)
N = jumlah sampel penelitian X = skor sampel penelitian(i) pada item soal(i)
Y = total skor sampel penelitian(i). 29
Berdasarkan hasil (3 kali) uji validitas empirik terhadap 50 item soal
yang diberikan kepada sampel peneltian (N = 183, = 5 %, dan r tabel =
0,146) yaitu diperoleh 21 item soal yang valid.30
d. Reabilitas
tetap suatu item soal dapat melakukan fungsi penilaiannya (tingkat
pengetahuan K3) terhadap sampel penelitian.31 Dikarenakan seluruh
mahasiswa aktif (183 mahasiswa) menjadi sampel penelitian maka
reabilitas yang digunakan yaitu pendekatan single test (single test trial)
Kuder-Richardson 21. Kelebihan dari pendekatan single test (single test
trial) Kuder-Richardson 21 yaitu lebih mudah dan cepat (karena rumus
27 Arifin, op. cit., h. 254. 28 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, op. cit., h. 318. 29 Syofian Siregar, Statistika Deskriptif untuk Penelitian: Dilengkapi Perhitungan
Manual dan Aplikasi SPSS Versi 17, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h. 164. 30 Lampiran 7, loc. cit. 31 Sudjana, op. cit., h. 16.
45
yang sederhana) pada proses perhitungan, serta lebih tepat jika digunakan
untuk mengukur reabilitas yang mengukur langsung pada tiap item soal
(dengan perlakuan) yang hanya diberikan pada 1 (satu) jenis sampel
penelitian, 1 jenis instrumen, dan 1 kali pengukuran.32
Reabilitas dilakukan dengan cara menghitung dengan
menggunakan rumus pendekatan single test (single test trial) Kuder-
Richardson 21. Perhitungan reabilitas menggunakan aplikasi MS. Excel
2010 dan Anates versi 4.0.9.. Kriteria uji reabilitas yang digunakan untuk
menafsirkan nilai korelasi (reabilitas) yang dihasilkan yaitu jika nilai r
hitung > r tabel, maka item soal dikatakan telah reliabel. Rumus pendekatan
single test (single test trial) Kuder-Richardson 21 (r hitung) yang
digunakan yaitu:
Keterangan: Xi = skor sampel penelitian(i)
n = jumlah sampel penelitian r11(hitung) = nilai korelasi (reabilitas) k = jumlah item soal Vt = varians total
= rata-rata skor sampel penelitian.33
Berdasarkan hasil uji reliabilitas (instrumen) terhadap 21 item soal yang
diberikan kepada sampel peneltian (k = 21, = 5 %, dan r tabel = 0,456)
yaitu diperoleh instrumen tes tertulis (yang berisikan 21 item soal)
tersebut reliabel (dengan r hitung = 0,82).34
32 Sudijono, op. cit., h. 252-253. 33 Siregar, op. cit., h. 196-197. 34 Lampiran 8, h. 119.
46
Instrumen penelitian non-tes (wawancara yang terstruktur) yang
menggunakan lembar pedoman wawancara yang terstruktur yaitu lembar
pedoman yang digunakan pada proses wawancara yang berisikan pertanyaan-
pertanyan yang telah disusun secara terperinci serta terstruktur.35 Pertanyaan
disusun dari yang bersifat umum menuju ke pertanyaan yang bersifat khusus,
sehingga jawaban dari sampel penelitian lebih terarah dan menjadi informasi
tambahan yang dapat melengkapi data utama (pendukung data utama) pada
penelitian.
menggunakan lembar pedoman wawancara yang terstruktur berdasarkan pada
kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh wawancara yang terstruktur.
Kelebihan non-tes (wawancara yang terstruktur) dengan menggunakan
lembar pedoman wawancara yang terstruktur yaitu dapat berhadapan
langsung dengan sampel penelitian, hasil dapat berupa data kuantitatif
maupun kualitatif, hasil yang didapat lebih lengkap, terperinci, dan
bermakna.36 Kekurangan non-tes (wawancara yang terstruktur) dengan
menggunakan lembar pedoman wawancara yang terstruktur yaitu
memerlukan suatu hubungan baik dengan sampel penelitian agar sampel
penelitia