of 22 /22
KESELAMATAN DAN KEAMANAN Pengertian Keselamatan dan Keamanan Keselamatan (safety) adalah suatu keadaan/kondisi ketika seseorang, kelompok atau masyarakat terhindar dari segala bentuk ancaman bahaya / kecelakaan. Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak dapat diduga dan tidak diharapkan yang dapat menimbulkan kerugian, sedangkan keamanan (security) adalah keadaan aman dan tentram bebas dari ancaman/ penyakit. Untuk dapat mendukung keselamatan dan keamanan diperlukan kerja area sensori motorik yang baik pada korteks serebri. Prinsip pencegahan injuri termasuk pendidikan mengenai hal-hal yang membahayakan keamanan dan strategi pencegahan; pengontrolan lingkungan dan mesin-mesin (kemanan aktif atau pasif dikemudian hari yang mungkin mencegah injuri dari produk atau alat yang digunakan), dan penguatan pada pengaturan diantara peralatan, pengaman, tenaga kerja dan sebainya. Keamanan aktif termasuk pemberian pengaturan pada tingkah laku seseorang yang dapat menguntungkannya. Keamanan pasif atau automatic termasuk pengaturan yang menggunakan mesin dan peralatan dan tidak membutuhkan tingkah laku seseorang yang spesifik untuk menjadi aktif. Kantung udara, pengaman tempat tidur adalah contoh dari keamanan pasif. Keamanan pasif adalah lebih menguntungkan dari pada keamanan aktif dalam pengerjaannya, karena tidak membutuhkan penjelasan tahu pendidikan kepada klien atau individu tersebut. Keamanan dan keselamatan merupakan kebutuhan dasar manusia, yang merupakan kebutuhan prioritas kedua setelah kebutuhan fisiologis pada Hirarki kebutuhan Maslow. Keamanan tidak hanya pencegahan kecelakaan dan injuri tetapi juga mengijinkan seseorang untuk merasakan bebas dalam beraktivitas tanpa bahaya. 2 Keamanan mengurangi stress, meningkatkan satus kesehatan umum. Keamanan memungkinkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka seperti dicintai dan mencintai dan harga diri dan

Keselamatan Dan Keamanan

  • Author
    kusnof

  • View
    52

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Keselamatan Dan Keamanan

KESELAMATAN DAN KEAMANANPengertian Keselamatan dan Keamanan

Keselamatan (safety) adalah suatu keadaan/kondisi ketika seseorang, kelompok atau masyarakat terhindar dari segala bentuk ancaman bahaya / kecelakaan. Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak dapat diduga dan tidak diharapkan yang dapat menimbulkan kerugian, sedangkan keamanan (security) adalah keadaan aman dan tentram bebas dari ancaman/ penyakit. Untuk dapat mendukung keselamatan dan keamanan diperlukan kerja area sensori motorik yang baik pada korteks serebri.

Prinsip pencegahan injuri termasuk pendidikan mengenai hal-hal yang membahayakan keamanan dan strategi pencegahan; pengontrolan lingkungan dan mesin-mesin (kemanan aktif atau pasif dikemudian hari yang mungkin mencegah injuri dari produk atau alat yang digunakan), dan penguatan pada pengaturan diantara peralatan, pengaman, tenaga kerja dan sebainya.

Keamanan aktif termasuk pemberian pengaturan pada tingkah laku seseorang yang dapat menguntungkannya. Keamanan pasif atau automatic termasuk pengaturan yang menggunakan mesin dan peralatan dan tidak membutuhkan tingkah laku seseorang yang spesifik untuk menjadi aktif. Kantung udara, pengaman tempat tidur adalah contoh dari keamanan pasif. Keamanan pasif adalah lebih menguntungkan dari pada keamanan aktif dalam pengerjaannya, karena tidak membutuhkan penjelasan tahu pendidikan kepada klien atau individu tersebut.

Keamanan dan keselamatan merupakan kebutuhan dasar manusia, yang merupakan kebutuhan prioritas kedua setelah kebutuhan fisiologis pada Hirarki kebutuhan Maslow. Keamanan tidak hanya pencegahan kecelakaan dan injuri tetapi juga mengijinkan seseorang untuk merasakan bebas dalam beraktivitas tanpa bahaya.

2

Keamanan mengurangi stress, meningkatkan satus kesehatan umum. Keamanan memungkinkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka seperti dicintai dan mencintai dan harga diri dan memungkinkan seseorang mencapai kebutuhannya. Dampak positif dalam kehidupannya adalah menghasilkan status kesehatan mental yang lebih baik dan fungsi individu lebih efektif (Craven, 2001)

2.1.1 Karakteristik dari keamanan

Karakteristik dari kemanan mencakup 3 hal yaitu pervasiveness (mempengaruhi/mengisi), perception (persepsi), dan management (managemen) (Craven, 2001):

1. Pervasiveness

Kemanan adalah pengisi, mempengaruhi segalanya. Scara khusus, individu sangat memperhatikan kemanan pada setiap atau semua aktivitasnya, termasuk makan, bernafas, tidur, bekerja, dan bermain. Secara umum, individu mengasumsikan atau bertanggung jawab terhadap kemanan dari mereka sendiri.

2. PerceptionPersepsi seseorang terhadap bahaya mempengaruhi dalam penyusunan kemanan ke dalam aktivitas sehari-hari mereka. Pengukuran kemanan efektif hanya sejauh sebagai seseorang yang mengerti secara akurat dan menghindari bahaya. Manusia tidak mengerti faktor-faktor keamanan, tetapi mereka belajar secara sendiri melalui proses kehidupan mereka. Kematangan membawa dalam menyusun hal-hal yang mungkin membahayakan dan menyadari betapa pentingnya keamanan. Keluarga, guru, pekerja kesehatan dan hukum berkontribusi dalam meningkatkan tingkat pengetahuan dan kesadaran akan keamanan dan prinsip-prinsip pencegahan injuri.

3. Management

Seseorang mungkin pada suatu waktu menyadari bahaya dalam lingkungannya. Ia akan mengukur terhadap hal tersebut untuk mencegah bahaya dan mempraktekkan keamanan.

3

Pencegahan adalah karakteristik utama dari keamanan. Perawatan diri termasuk dalam praktek keamanan, tetapi keamanan bagi yang lainnya harus memberikan hal yang lebihbaik.

2.1.2 Hubungan Perkembangan Usia dengan Pemenuhan kebutuhan Keamanan

Keamanan sangat dipengaruhi oleh tahap perkembangan seseorang dalam hidupnya. Kemampuan fisiologis dan psikologis sesorang dalam pemenuhan kebutuhan keamanan sangat tergantung pada kematangan perkembangannya. Hal-hal yang membahayakan keamanan sangat berbeda pada kelompok umur pada risiko dalam pembedaan injurinya. Intervensi keperawatan ditujukan dalam tingkatan umur yang berbeda dalam pemenuhan kebutuhan keselamatan. Perkembangan umur seseorangan dapat dibagi ke dalam bayi (newborn and infant), toddler and preschooler, school age child and adolecent, adult and older adult.

1. Newborn and Infant

Bayi karena belum matangnya semua system tubuh seperti system muskoloskeletal, persarafan, termoregulasi dan sebagainya sangat rentan terhadap bahaya kemanannya. Bayi biasanya hanya menagis dan banyak komunikasi non verbal yang tersampaikan sehingga peran perawat sangat besar dalam memberikan pemenuhan kebutuhan keamanan. Bahaya yang mengancam bayi seperti terbakar, jatuh, dan trauma injuri lainnya. Bayi pada umumnya sering memasukan sesuatu ke dalam mulutnya, dan ini merupakan hal yang membahayakan dan harus dilakukan pencegahan. Kondisi kemananan yang tidak terpenuhi pada bayi akan mengakibatkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangannya.

Penyediaan lingkungan yang aman bagi bayi diantaranya adalah: temperature suhu yang nyaman, tidak mengikat atau mengekang, pakaian yang adekuat, kehangatan, air mandi hangat, udara yang bersih, mainan yang aman, pengaman tempat tidur pada kursi dan tangga, pencegahan terkunci, memberi bantalan pada sandaran tempat tidur dan mengubah meja, menutup pusat-pusat listrik, dan pengaturan ruangan mobil serta penggunaan sabuk pengaman.

4

2. Toddler and Preschooler

Bahaya yang mengancam keamanan pada usia ini adalah jatuh, terbakar, bengkak, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan oleh belum sempurnanya system muskoloskeletal dan neurologinya. Perawat harus dapat meminimalkan adanya bahaya keamanan pada tahap perkembangan ini. Perkembangan pada masa ini sering diikuti dengan keinginan anak untuk tahu segalanya sehingga mencoba hal baru yang mereka terima, seiring dengan perkembangan organ panca indera mereka.Mainan yang diberikan haruslah aman bagi anak. Seting peralatan rumah haruslah hati-hati disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak preschool dan toddler.

3. School Age and Adolescent

Pada tahap perkembangan ini, factor fisiologis anak telah mengalami kematangan sehingga anak akan mengalami perluasan peran dan melakukan hal-hal yang baru bagi mereka sesuai dengan pengalaman hidup mereka. Anak mengalami banyak kegiatan aktivitas diluar rumah dengan kelompok sebaya mereka sehingga terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan latihan/aktivitas dengan istirahat/tidur mereka. Hal tersebut dapat memungkinkan terjadinya bahaya fisik yang mengancam keamanan anak. Support dari keluarga sangat diperlukan bagi anak karena anak tidak banyak mau dikekang tetapi anak memerlukan perhatian dan pengertian dari dukungan baik fisik maupun psikologis dari keluarga, kelompok sebaya maupun perawat.

4. Adult and Older Adult

Pada orang dewasa terlah terjadi kematangan baik fisik maupun psikologisnya. Bahaya kemanan dapat terjadi di rumah, tempat kerja, dan lain-lain. Kematian atau kondisi yang mengancam keamanan pada perkembangan ini adalah jatuh atau kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja dan sebagainya.

5

Pada orang lanjut usia bahaya yang mengancam adalah jatuh dan cedera yang diakibatkan oleh proses degenerasi pada sistem tubuh karena bertambah usia mereka sehinga daya persepsi dan kognisi mereka mengalami penurunan sehingga mengakibatkan terjadi potensial atau risiko untuk jatuh dan cedera.

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keselamatan & KeamananKemampuan seseorang untuk melindungi dirinya di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: genetik, status kesehatan, lingkungan, status psikososial, penggunaan alkohol dan obat-obatan tertentu.

UsiaIni erat kaitannya dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki individu. Anak-anak biasanya belum mengetahui tingkat kebahayaan dari suatu lingkungan yang dapat menyebabkan cedera pada mereka. Sedangkan lansia umumnya akan mengalami penurunan sejumlah fungsi organ yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk melindungi diri, salah satunya adalah kemampuan persepsi-sensorik.

Gangguan persepsi sensoriPersepsi-sensorik yang akurat terhadap stimulus lingkungan merupakan hal yang vital bagi keselamatan individu. Individu yang mengalami gangguan persepsi-sensorik (pendengaran, penglihatan, penciuman, sentuhan) beresiko tinggi mengalami cedera

Tingkat kesadaranSegala bentuk gangguan kesadaran (misal: pengaruh narkotik, obat penenang, alkohol; disorientasi; tidak sadar; kurang tidur, halusinasi) dapat memebahayakan keselamatan dan keamanan seseorang.

6

Status mobilisasi dan Kesehatan

Klien dengan gangguan ekstrimitas (misal: paralisis, lemah otot, gangguan keseimbangan tubuh, inkoordinasi) berisisko tinggi mengalami cedera. Sedangkan klien yang lemah karena penyakit atau prosedur pembedahan tidak selalu waspada dengan kondisi mereka.

Keadaan EmosiEmosi yang tidak stabil akan mengubah kemampuan seseorang dalam mempersepsikan bahaya lingkungan. Situasi yang penuh tekanan dapat menurunkan tingkat konsentrasi, mengganggu penilaian, dan menurunkan kewaspadaan terhadap stimulus eksternal.

Kemampuan BerkomunikasiKlien dengan gangguan bicara atau afasia, individu dengan hambatan bahasa dan mereka yang tudak dapat membaca atau buta huruf beresiko mengalami cedera.

Tingkat pengetahuan tentang keamanan

Informasi tentang keamanan sangat penting guna menurunkan tingkat kebahayaan lingkungan. Dalam hal ini perawat bertanggung jawab memberikan informasi yang akurat kepada klien yang berada di rumah sakit.

Gaya Hidup

Gaya Hidup yang menyebabkan individu beresiko tinggi antara lain lingkungan kerja yang tidak aman, lingkungan perumahan di daerah rawan (misal: sungai, lereng gunung, jalan raya), tingkat sosial ekonomi yang rendah, akses yang mudah untuk mendapatkan obat-obatan dan lai-lain.

Lingkungan

Kondisis lingkungan yang tidak aman dapat mengancam keselamatan dan keamanan individu. Stimulus lingkungan seperti bunyi yang sangat keras dapat menyebabkan gangguan pada fungsi pendengaran. Bahan-bahan berbahaya seperti racun, zat kimia, emisi, logam berat (merkuri), racun bakteri (tetanus, difteri, botulisme) dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan saraf. Lebih lanjut, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi normal tubuh, baik yang sifatnya sementara atau menetap.

7

j). Penggunaan antibiotik yang tidak rasionalk). Keadaan imunitasl). Ketidakmampuan tubuh dalam memproduksi sel darah putihm).Statrus nutrisi2.3 Macam-macam Bahaya / Kecelakaan

1. Macam-macam Bahaya / Kecelakaan Berdasarkan Tempatnya:

a).Di Rumah

Tersedak, Jatuh,Tertekan alat-alat rumah tangga, Tersiram air panas, Jatuh dari jendela / tangga, Terpotong, Luka tusuk / gores, Luka bakar, Tenggelam, Terkena pecahan kaca,Terkunci dalam kamar, Jatuh dari sepeda, Keracunan

b).Di Rumah Sakit

Mikroorganisme, Cahaya, Kebisingan, Temperatur,Kelembapan,Cedera / jatuh, Kesalahan prosedur, Peralatan medic, Radiasi, Keracunan inhalasi,Elektrik syok, Asfiksia dan kebakaran

2. Macam-macam Bahaya / Kecelakaan Berdasarkan Kelompok Usia

a) Bayi dan Anak prasekolah

Kecelakaan dalam rumah tangga yang dapat mengancam jiwa (misal: tenggelam di kolam renang)

b) Usia sekolah

- Lingkungan sekolah, sarana transportasi, teman, aktivitas setelah sokolah dapat menjadi ancaman bagi keselamatan anak

- Cedera seperti jatuh, terimpa benda, menyeberang

- Orang asing merupakan resiko ancaman tertinggi bagi anak. Ajarkan untuk tidak menerima ajakan dari orang asing.

- Olahraga, misanya bersepeda (90% penyebab kecelakaan dan kematian)

- Tenggelam. Kejadian ini meningkat pada usia 15-24 tahun karena penggunaan alkohol dan ketergantungan obat.

8

c) Remaja

- Kecelakaan lalu lintas: sebanyak 85% tidak menggunakan sabuk pengaman, mabuk, pengaruh obat.

- Praktik seksual. Remaja berisiko tinggi terkena PMS (penyakit menular seksual), karenanya mereka memerlukan konseling tentang praktik seksual yang ama dan KB.

d) Dewasa

- Gaya hidup. Mengkonsumsi alkohol berlebihan, kecelakaan sepeda motor, merokok.

- Stress

e) Lansia

- Penyakit yang sering muncul antara lain sakit kepala, infeksi dan lain-lain.

- Jatuh menjadi penyebab kematian pada 70% lansia di atas usia 65 tahun.

- Perubahan fisik dan gangguan sensorik pada lansia menyebabkan insidensi kecelakaan mobil dan kebakaran.

2.4 Tindakan Pencegahan Terhadap Bahaya Cedera

Langka-langkah untuk menjamin keselamatan individu di semua kelompok usia berfokus pada:

- Observasi dan perkiraan kemungkinan bahaya sehingga bahaya dapa t di hindari

- Pendidikan klien guna meningkatkan kemampuan klien dalam melindungi keluarganya dari cedera

Berikut adalah tindakan pencegahan terhadap bahaya cedera:

1. Bayi

Upaya melindungi keselamatan bayi antara lain dengan menyediakan alat permainan yang besar, lunak, tidak beujung tajam; tidak meninggalkan botol bayi yang masih penuh saat bayi masih menyusu; menjauhkan benda-benda kecil, tajam, beracun dari jangkauan bayi; menutup stop kontak dan kabel dengan penbungkus khusus.

9

2. Anak-anak

Upaya perlindungingan bagi anak antara lain: dengan menggunakan pengaman pada sisi tempat tidur , tidak meninggalkan anak sendiri saat duduk, berjalan, mandi dan lain-lain; memasang pengaman pintu yang kokoh dan aman; mengajari anak berenang sedini mungkin tetapi tetap dalam pengawasan.

3. Prasekolah

Ajarkan anak untuk tidak berbicara atau menerima apapun dari orang asing. Ajarkan anak selalu berjalan di pinggir dan meminta bantuan bila hendak menyeberang. Tegaskan anak untuk tidak memakan makanan yang tergeketak di piggir jalan. Gunakan pengaman pada kompor.

4. Usia sekolah

Ajarkan anak cara menggunakan alat bermain/beraktivitas. Ajarkan anak cara bersepeda yang aman dan ingatkan mereka untuk selalu menggunakan helm dan pelindung sendi kaki atau tangan. Jauhkan ala-alat elektrik dari jangkauan anak. Tekankan rasa bertanggung jawab pada anak selama bermain atau berpergian.

5. Remaja

Ajarkan remaja cara mengendarai mobil/ sepeda motor secara terstruktur serta cara mengatasi masalah mesin. Ingatkan remaja untuk mengendarai mobil dalam batas kecepatan, selalu menggunakan sabuk keselamatan, dan tidak mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Tekankan bahaya penggunaan obat-obatan dan alkohol. Kenali setiap perubahan pada perilaku dan kebiasaan dan dengarkan argumen mereka.

2.5 Tindakan Pencegahan Kecelakaan di Rumah Sakit

a)Mengkaji tingkat kemampuan pasien untuk melindungi diri sendiri dari kecelakaan.b)Menjaga keselamatan pasien yang gelisah selama berada di tempat tidurc)Menjaga keselamatan klien dari infeksi dengan mempertahankan teknik aseptik, menggunakan alat kesehatan sesuai tujuan.d)Menjaga keselamatan klien yang dibawa dengan kursi roda10e)Menghindari kecelakaan : Mengunci roda kereta dorong saat berhenti Tempat tidur dalam keadaan rendah dan ada penghalang pada pasien yang gelisah Bel berada pada tempat yang mudah dijangkau

Meja yang mudah dijangkau Kereta dorong ada penghalangnyaf)Mencegah kecelakaan pada pasien yang menggunakan alat listrik misalnya suction, kipas angin, dan lain-lain.g)Mencegah kecelakaan pada klien yang menggunakan alat yang mudah meledak seperti tabung oksigen dan termos.h)Memasang lebel pada obat, botol, dan obat-obatan yang mudah terbakar

i)Melindungi semaksimal mungkin klien dari infeksi nosokomial seperti penempatan klien terpisah antara infeksi dan non-infeksij)Mempertahankan ventilasi dan cahaya yang adekuatk)Mencegah terjadinya kebakaran akibat pemasangan alat bantu peneranganl)Mempertahankan kebersihan lantai ruangan dan kamar mandim)Menyiapkan alat pemadam kebakaran dalam keadaan siap pakai dan mampu menggunakannya.n)Mencegah kesalahan prosedur : identitas klien harus jelas.2.6 Kebijakan Rumah Sakit Terkait Keselamatan Klien

Kebijakan Rumah Sakit Terkait Keselamatan Klien meliputi:

1) Kecelakaan yang disebabkan oleh klien (client-inherent accident)

Contoh kecelakaan ini antara lain: cedera, terbakar, memakan atau menyuntikan zat asing, mencedarai diri sendiri dan lain-lain. Peran perawat dalam kasusu ini antara lain mencatat dan mendokumentasikan kecelakaan yang terjadi secara akurat dan komplet serta berkoordinasi dengan tim kesehatan lain untuk membuat perlindungan hukum bagi profesi dan institusi yang bersangkutan dari tuntutan klien.

11

2) Kecelakaan terkait prosedur (procedure-related accident)

Jenis kecelakaan ini biaasanya terjadi pada saat terapi sebagai akibat kesalahan prosedur. Contohnya adalah kesalahan dalam pemberian cairan, penggunaan peralatan eksternal, atau ketika melakukan tindakan perawatan (misal: penggantian balutan). Peran perawat dalam hal ini antara lain memberikan obat dengan prinsip lima benar, mencegah kesalahan dalam pemberian cairan IV (kelebihan atau kekurangan), serta mencegah paparan kuman patogen pada saat mengganti balutan.

3) Kecelakaan terkait peralatan (equipment-related accident)

Kecelakaan ini biasanya di sebabkan oleh tidak berfungsinya atau rusaknya alat-alat elektronik (misal: tersengat arus listrik saat menggunakan peralatan elektronik, baterai tidak bekerja dan lain-lain). Peran perawat dalam hal ini adalah memeriksa peralatan sebelum dan sesudah di gunakan, tidak melakukan pemantauan atau terapi dengan peralatan elektronik jika tidak ada instruksi, serta mengkaji adanya kemungkinan bahaya tersengat listrik.

2.7 Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Masalah Keamanan

1. Pengkajian

Perawat memberikan perawatan kepada klien dan keluarga di dalam komunitas mereka dan tempat pelayanan kesehatan. Untuk memastikan lingkungan yang aman, perawat perlu memahami hal-hal yang memberikan kontribusi keamanan rumah, komunitas, atau lingkungan pelayanan kesehatan, dan kemudian mengkaji berbagai ancaman terhadap keamanan klien dan lingkungan. Pengkajian yang dilakukan pada klien antara lain pengkajian terhadap riwayat dan pemeriksaan fisik. Pengkajian terhadap lingkungan, termasuk rumah klien dan tempat pelayanan kesehatan, mencakup inspeksi pada fasilitas tersebut.

a. Data Subjective

Pengkajian difokuskan pada masalah riwayat kesehatan klien yang terkait dengan kebutuhan keamanan seperti: pernahkah klien jatuh, mengalami patah tulang, pembatasan aktivitas, dan sebagainya.

12

Klien perlu ditanyakan tentang tindakan pengamanan di mobil, perhatian terhadap tanda bahaya, tindakan pengamanan anak atau bayi di rumah, status imunisasi, pengertian dan pemahaman klien tentang kesehatan dan keamanan. Perlu digali juga tentang perubahan lingkungan, support sistem, tahap tumbuh kembang.

Perawat perlu mengidentifikasi adanya faktor risiko untuk keamanan klien mencakup: kondisi dewasa, fisiologi, kognitif, pengobatan, lingkungan, dan kondisi anak-anak.

Dewasa seperti, riwayat terjatuh, usia yang lebih tua pada wanita, penggunaan alat bantu (alat bantu jalan, tongkat), prosthesis anggota badan bagian bawah, umur lebih 65 tahun, dan hidup sendiri.

Fisiologi seperti: kehadiran penyakit akut, kondisi post operasi, kesulitan penglihatan, kesulitan pendengaran, arthritis, orthostatik hipotensi, tidak dapat tidur, pusing ketika memutar kepala atau menegakkan kepala, anemia, penyakit vaskuler, neoplasma, kesulitan mobilitas fisik, kerusakan keseimbangan dan neuropati.

Kognitive, seperti: penurunan status mental (kebingungan, delirium, dimensia, kerusakan orientasi orang, tempat dan waktu)

Pengobatan, seperti obat anti hipertensi, penghambat ACE, antidepresan trisiklik, obat anti cemas, hipnotik atau transquilizer, diuretik, penggunan alkohol, dan narkotika.

Lingkungan, seperti: adanya restrain, kondisi cuaca atau lingkungan, pencahayaan, kelembaban, ventilasi, penataan lingkungan.

Anak-anak, seperti: umur dibawah 2 tahun, penggunaan pengaman, penataan ruang, penggunaan mainan.

b. Data Objective

Data objective dapat diperoleh perawat dengan melakukan pemeriksaan fisik terkait dengan sistem: neurologis, cardiovaskuler dan pernafasan, integritas kulit dan mobilitas. Pengkajian juga mencakup prosedur test diagnostik.

13

1. Sistem Neurologis

* Status mental

* Tingkat kesadaran

* Fungsi sensori

* Sistem reflek

* Sistem koordinasi

* Test pendengaran, penglihatan dan pembauan

* Sensivitas terhadap lingkungan

2. Sistem Cardiovaskuler dan Respirasi

* Toleransi terhadap aktivitas

* Nyeri dada

* Kesulitan bernafas saat aktivitas

* Frekuensi nafas, tekanan darah dan denyut nadi

3. Integritas kulit

* Inspeksi terhadap keutuhan kulit klien

* Kaji adanya luka, scar, dan lesi

*Kaji tingkat perawatan diri kulit klien

4. Mobilitas

* Inspeksi dan palpasi terhadap otot, persendian, dan tulang klien

* Kaji range of motion klien

* Kaji kekuatan otot klienkaji tingakt ADLs klien

Test diagnostik mencakup: pengukuran tekanan darah, ECG, pengukuran kadar gula darah dan kolesterol, pemeriksaan darah lengkap, dan sebagainya.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul terkait dengan pemenuhan kebutuhan keamanan dan keselamatan, berdasarkan NANDA 2004-2006 adalah sebagai berikut:

1. Risiko cedera atau risiko jatuh yang berhubungan dengan perubahan mobilisasi, dan penataan lingkungan fisik di rumah.

14

2. Risiko keracunan yang berhubungan dengan kontaminasi zat kimia pada makanan atau air, penyimpanan obat-obatan yang mudah dijangkau oleh anak-anak, dan penurunan penglkihatan.

3. Risiko trauma yang berhubungan dengan kontak dengan udara dingin yang ekstrem, dan obstruksi jalan nafas.

4. Gangguan proses pikir yang berhubungan dengan kehilangan memori, kesulitan tidur, dan efek samping obat.

5. Perubahan manajemen pemeliharaan rumah yang berhubungan dengan keuangan yang tidak memadahi, dan perubahan fungsi kognitif.

6. Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi informasi, dan tidak terbiasa dengan tindakan pencegahan untuk anak-anak.

7. Risiko perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan paparan terhadap lingkuingan panas atau dingin yang ekstrem, dan mekanisme kontrol suhu tubuh yang tidak matang.

3. Perencanaan

Perawat merencanakan intervensi terapeutik untuk klien dengan risiko atau aktual mengalami gangguan keamanan. Tujuan keseluruhan untuk klien yang mengalami ancaman keamanan adalah klien terbebas dari cedera. Perawat merencanakan intervensi yang individual dengan berdasarkan pada beratnya risiko yang dihadapi klien, tahap perkembangan, status kesehatan, dan gaya hidup.

Intervensi keperawatan dirancang untuk memberikan perawatan yang aman dan efisien. Berikut ini adalah tujuan yang berfokus pada kebutuhan klien terhadap keamanan:

1.Bahaya yang dapat dimodifikasi dalam lingkungan rumah akan berkurang

2.Klien akan menggunakan obat-obatan dan peralatan dengan benar dan melakukan tindakan pengobatan.

3.Klien mengidentifikasi dan menghindari risiko yang mungkin dialami dalam komunitas.

15

Peting memperhatikan kondisi rumah klien ketika merencanakan terapi untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat keamanan klien. Perencanaan keperawatan juga melibatkan pemahaman kebutuhan klien untuk mempertahankan kemandiriannya. Perawat dan klien bekerja sama dalam membuat cara mempertahankan keterlibatan klien dalam menciptakan lingkungan yang aman di rumah sakit dan di rumah. Pendidikan klien dan keluarga merupakan intervensi keperawatan utama untuk menurunkan kecelakaan.

Perencanaan keperawatan yang dapat disusun oleh perawat berdasarkan NOC/NIC untuk mengatasi masalah keperawatan yang terkait denmgan kebutuhan keamanan adalah:

NOC (Perawatan Hasil Klasifikasi):

1. Perlindungan penyalahgunaan: perlindungan diri orang lain atau tergantung dari penyalahgunaan.

2. Keseimbangan: kemampuan untuk menjaga keseimbangan tubuh

3. Pengetahuan: keamanan pribadi: sejauh mana pemahaman disampaikan tentang pencegahan cedera yang tidak disengaja

4. Risiko kontrol: tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman kesehatan yang sebenarnya, pribadi, dan dimodifikasi.

5. Risiko deteksi: tindakan yang diambil untuk mengidentifikasi ancaman kesehatan pribadi

6. Perilaku Keselamatan: Jatuh pencegahan: individu atau pengasuh tindakan untuk meminimalkan faktor risiko yang mungkin endapan jatuh.

7. Perilaku Keselamatan: Depan lingkungan fisik: individu atau pengasuh tindakan untuk meminimalkan faktor-faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kerugian fisik atau cedera di rumah.

8. Keselamatan perilaku: Pribadi: individu atau pengasuh upaya untuk mengendalikan perilaku yang dapat menyebabkan cedera fisik

9. Keselamatan status: Terjun terjadinya: jumlah jatuh dalam seminggu terakhir.

10. Keselamatan status: cedera fisik: keparahan cedera dari kecelakaan dan trauma

16

NIC (Perawatan Intervensi Klasifikasi):

1. Pengelolaan lingkungan: Keamanan, pemantauan dan manipulasi lingkungan fisik untuk mempromosikan keselamatan.

2. Manajemen lingkungan: Pekerja keselamatan; pemantauan dan manipulatuion tempat kerja untuk mempromosikan keselamatan dan kesehatan pekerja.

3. Kejatuhan pencegahan: melembagakan tindakan pencegahan khusus dengan pasien pada risiko cedera karena jatuh

4. Pendidikan kesehatan; mengembangkan dan menyediakan instruksi dan pengalaman belajar untuk memfasilitasi adaptasi sukarela konduktif perilaku untuk kesehatan pada individu, keluarga, kelompok, atau komunitas.

5. Tindakan pencegahan Laser: membatasi risiko cedera pada pasien yang berhubungan dengan penggunaan laser.

6. Manajemen sensasi perifer: pencegahan atau minimisasi cedera atau ketidaknyamanan pada pasien dengan sensasi diubah.

7. Fisik menahan diri: aplikasi, pemantauan, dan penghapusan perangkat menahan mekanik atau pengekangan manual yang digunakan untuk membatasi mobilitas fisik pasien

8.Positioning: deliberatif penempatan pasien atau bagian tubuh untuk mempromosikan fisiologis dan / atau kesejahteraan psikologis.

9. Tekanan manajemen: meminimalkan tekanan untuk bagian tubuh.

10.Radiasi manajemen Theraphy: membantu pasien untuk memahami dan meminimalkan efek samping dari pengobatan radiasi.

11. Kejang pencegahan, perawatan pasien selama kejang dan negara postictal.

12. Surveilans Kulit: pengumpulan dan analisis data pasien untuk menjaga integritas kulit dan selaput lendir.

13.Tindakan pencegahan Bedah: meminimalkan Potensi untuk cedera iantrogenic ke pasien yang berhubungan dengan prossedure bedah.

14. Pengawasan: akuisisi purposefull dan berkelanjutan, interpretasi, dan syntesis data pasien untuk pengambilan keputusan klinis.

15. Pengawasan keamanan: akuisisi purposefull dan berkelanjutan, interpretasi, dan analisis informasi tentang pasien dan lingkungan untuk digunakan dalam mempromosikan dan menjaga keselamatan pasien.

17

16. Pengajaran: Penyakit proses; membantu pasien untuk memahami informasi berhubungan dengan proses penyakit tertentu.

17. Pengajaran: individu, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pengajaran dirancang untuk memenuhi kebutuhan khusus pasien.

18. Pengajaran: Bayi perawatan; instruksi pada perawatan memelihara dan fisik yang dibutuhkan selama tahun pertama kehidupan.

19. Pemantauan tanda vital: koleksi dan analisis cardiovaskuler, pernapasan, dan data suhu tubuh untuk menentukan dan mencegah komplikasi.

20. Posisi: Kursi Roda:; penempatan pasien di kursi roda benar dipilih untuk meningkatkan kenyamanan, mempromosikan integritas kulit, dan menumbuhkan kemandirian.

4. Tindakan Keperawatan

Tindakan keperawatan dilakukan berdasarkan perencanaan yang telah disusun sesuai dengan permasalahan keamanan yang dihadapi oleh klien. Perawat melakukan tindakan untuk mencapai NOC yang telah ditetapkan mellaui pelaksanaan NIC yang telah disusun.

Implementasi keperawatan ditujukan untuk meningkatkan dan mempertahankan keamanan klien. Karena sebagian besar tindakan keperawatan dapat diterapkan pada semua lingkungan, maka intervensi tersebut harus terdiri dari dua bagian: pertimbangan tahap perkembangan dan perlindungan lingkungan.Kategori pertama dari intervensi mencakup intervensi yang spesifik untuk mengurangi risiko pada setiap kelompok perkembangan usia. Intervensi lingkungan bertujuan untuk memodifikasi lingkungan sehingga dapat megeliminasi atau meminimalkan bahaya yang ada atau berpotensial.

5. Evaluasi

Rencana perawatan, yang dirancang untuk mengurangi risioko pada klien dievaluasi dengan cara membandingkan criteria hasil dengan tujuan yang ditetapkan selama tahap perencanaan. Jika tujuan telah tercapai, maka intervensi keperawatan dianggap efektif dan tepat.

18

Jika tidak tercapai, maka perawat harus menentukan apakah ada risiko baru yang berkembang pada klien atau apakah risiko sebelumnya tetap ada.

Klien dan keluarga harus berpartisipasi untuk menentukan cara permanent untuk mengurangi risiko yang mengancam keamanan. Perawat mengkaji kebutuhan klien dan keluarga secara terus menerus untuk menentukan dukungan tambahan seperti perawatan di rumah, terapi fisik, dan konseling, dan pendidikan kesehatan lanjutan.

Lingkungan yang aman berperan penting dalam meningkatkan , mempertahankan dan memulihkan kesehatan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat mengkaji klien dan lingkungannya untuk menentukan factor risiko cedera, megelompokkan factor-faktor risiko tersebut, membuat diagnosa keperawatan, dan merencanakan intervensi yang spesifik, termasuk pendidikan kesetan klien. Hasil yang diharapkan meliputi lingkungan fisik yang aman, pengetahuan klien tentang factor-faktor yang menunjang keamanan dan tindakan pencegahan, dank lien terbebas dari cedera.

KEAMANAN & KESELAMATANKeselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya / kecelakaan. Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak dapat diduga dan tidak diharapkan yang dapat menimbulkan kerugian, sedangkan keamanan adalah keadaan aman dan tentram.

Tugas seorang perawat : 1. Tugas utamanya adalah meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya sakit2. Mengurangi resiko terjadinya kecelakaan yang mungkin terjadinya di RS3. Lingkungan adalah semua faktor baik fisik maupun psikososial yang mempengaruhi hidup dan keadaan klien 1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keselamatan & Keamanan1) Usia 2) Tingkat kesadaran 3) Emosi 4) Status mobilisasi 5) Gangguan persepsi sensori 6) Informasi / komunikasi7) Penggunaan antibiotik yang tidak rasional 8) Keadaan imunitas 9) Ketidakmampuan tubuh dalam memproduksi sel darah putih 10) Statrus nutrisi 11) Tingkat pengetahuan2. Macam-macam Bahaya / Kecelakaan a) Di Rumah

- Tersedak

- Jatuh

- Tertekan alat-alat rumah tangga

- Tersiram air panas

- Jatuh dari jendela / tangga

- Terpotong

- Luka tusuk / gores

- Luka bakar

- Tenggelam

- Terkena pecahan kaca

- Terkunci dalam kamar

- Jatuh dari sepeda

- Keracunan

b) Di Rumah Sakit

- Mikroorganisme

- Cahaya

- Kebisingan

- Temperatur

- Kelembapan

- Cedera / jatuh

- Kesalahan prosedur

- Peralatan medik

- Radiasi

- Keracunan inhalasi

- Elektrik syok

- Asfiksia dan kebakaran

3. Pencegahan Kecelakaan di Rumah Sakita) Mengkaji tingkat kemampuan pasien untuk melindungi diri sendiri dari kecelakaan.b) Menjaga keselamatan pasien yang gelisah selama berada di tempat tidur c) Menjaga keselamatan klien dari infeksi dengan mempertahankan teknik aseptik, menggunakan alat kesehatan sesuai tujuan.d) Menjaga keselamatan klien yang dibawa dengan kursi rodae) Menghindari kecelakaan : o Mengunci roda kereta dorong saat berhenti o Tempat tidur dalam keadaan rendah dan ada penghalang pada pasien yang gelisaho Bel berada pada tempat yang mudah dijangkau o Meja yang mudah dijangkauo Kereta dorong ada penghalangnyaf) Mencegah kecelakaan pada pasien yang menggunakan alat listrik misalnya suction, kipas angin, dan lain-lain.g) Mencegah kecelakaan pada klien yang menggunakan alat yang mudah meledak seperti tabung oksigen dan termos.h) Memasang lebel pada obat, botol, dan obat-obatan yang mudah terbakar

i) Melindungi semaksimal mungkin klien dari infeksi nosokomial seperti penempatan klien terpisah antara infeksi dan non-infeksij) Mempertahankan ventilasi dan cahaya yang adekuatk) Mencegah terjadinya kebakaran akibat pemasangan alat bantu penerangan l) Mempertahankan kebersihan lantai ruangan dan kamar mandim) Menyiapkan alat pemadam kebakaran dalam keadaan siap pakai dan mampu menggunakannya.n) Mencegah kesalahan prosedur : identitas klien harus jelas.