of 18 /18
BAB I PENDAHULUAN Penyakit mata merah atau dalam istilah kedokteran disebut konjungtivitis adalah penyakit mata yang disebabkan oleh infeksi menular pada konjungtiva. Konjungtiva adalah selaput bening pada mata yang menutupi bagian mata berwarna putih serta permukaan mata dalam pada kelopak mata. Penyakit mata merah (konjungtivitis) disebabkan oleh bakteri atau virus, sehingga termasuk penyakit menular. Penularan penyakit ini bisa melalui kontak langsung dengan penderita. Pada beberapa kasus, penyakit mata merah (konjungtivitis) bisa juga disebabkan karena alergi terhadap sesuatu atau bisa juga disebabkan karena kemasukan suatu benda ke dalam mata yang mengakibatkan iritasi. Jika terjadinya karena alergi atau disebabkan suatu benda masuk ke dalam mata, maka penyakit mata merah (konjungtivitis) ini bukan termasuk penyakit menular. Disebut penyakit mata merah karena bagian mata berwarna putih akan berubah menjadi merah dikerenakan virus, bakteri, alergi maupun kemasukan suatu benda ke dalam mata. Beberapa kasus penyakit mata merah (konjungtivitis) memang akan sembuh meski tidak diobati, tetapi beberapa kasus mata merah (konjungtivitis) lainnya membutuhkan perawatan dan pengobatan. Di negara maju seperti Amerika pada tahun 2005, insidens rate konjungtivitis sebesar 10.000 penderita baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa dan juga lansia. Selain itu Pada 3% kunjungan di departemen penyakit mata di Amerika serikat, 30% 1

referat konjungtivitis

Embed Size (px)

Text of referat konjungtivitis

BAB I PENDAHULUANPenyakit mata merah atau dalam istilah kedokteran disebut konjungtivitis adalah penyakit mata yang disebabkan oleh infeksi menular pada konjungtiva. Konjungtiva adalah selaput bening pada mata yang menutupi bagian mata berwarna putih serta permukaan mata dalam pada kelopak mata. Penyakit mata merah (konjungtivitis) disebabkan oleh bakteri atau virus, sehingga termasuk penyakit menular. Penularan penyakit ini bisa melalui kontak langsung dengan penderita. Pada beberapa kasus, penyakit mata merah (konjungtivitis) bisa juga disebabkan karena alergi terhadap sesuatu atau bisa juga disebabkan karena kemasukan suatu benda ke dalam mata yang mengakibatkan iritasi. Jika terjadinya karena alergi atau disebabkan suatu benda masuk ke dalam mata, maka penyakit mata merah (konjungtivitis) ini bukan termasuk penyakit menular. Disebut penyakit mata merah karena bagian mata berwarna putih akan berubah menjadi merah dikerenakan virus, bakteri, alergi maupun kemasukan suatu benda ke dalam mata. Beberapa kasus penyakit mata merah (konjungtivitis) memang akan sembuh meski tidak diobati, tetapi beberapa kasus mata merah (konjungtivitis) lainnya membutuhkan perawatan dan pengobatan.Di negara maju seperti Amerika pada tahun 2005, insidens rate konjungtivitis sebesar 10.000 penderita baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa dan juga lansia. Selain itu Pada 3% kunjungan di departemen penyakit mata di Amerika serikat, 30% adalah keluhan konjungtivitis akibat bakteri dan virus, dan 15% adalah keluhan konjungtivitis alergi. Konjungtivitis juga salah satu penyakit mata yang paling umum di Nigeria bagian timur, dengan insidens rate yaitu 32,9% dari 949 kunjungan di Departemen Mata Aba Metropolis, Nigeria, pada tahun 2004 hingga 2006.1 Insidensi konjungtivitis di Indonesiaberkisar antara 2-75%. Data perkiraan jumlah penderita penyakit mata di Indonesia adalah 10% dari seluruh golongan umur penduduk per tahun dan pernah menderita konjungtivitis. Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%).3 Sampel penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY yang dicatat dari rekam medis pasien di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode Juni 2009-April 2010 didapatkan jumlah penderita konjungtivitis sebanyak 102 pasien.2Salah satu klasifikasi konjungtivitis yang juga cukup banyak diderita masyarakat adalah konjungtivitis alergi. Konjungtivitis alergi ini juga dikelompokkan menjadi beberapa macam yang salah satunya adalah konjungtivitis flikten. Konjungtivitis flikten adalah suatu peradangan pada konjungtiva dengan pembentukan satu atau lebih tonjolan kecil (flikten) yang diakibatkan oleh reaksi alergi(hipersensitivitas tipe IV). Penyakit ini dapat mengenai dua mata, tetapi dapat pula mengenai satu mata dan sifatnya sering kambuh. Apabila flikten timbul pada kornea dan sering kambuh, maka dapat berakibat gangguan penglihatan. Konjungtivitis flikten biasanya terdapat pada anak-anak dan kadang-kadang padaorang dewasa. Penyakit ini merupakan manifestasi alergi endogen, tidak hanya disebabkan protein bakteri tuberkulosis tetapi juga oleh antigen bakteri lain seperti stafilokokus. Dapat juga ditemukan pada kandidiasis, askariasis, helmintiasis. Pada konjungtivitis flikten kita perlu waspada dengan penyulit yang dapat terjadi, penyulit yang ditimbulkan adalah menyebarnya flikten ke dalam kornea atau terjadinya infeksi sekunder sehingga dapat menimbulkan abses. Meskipun demikian, konjungtivitis ini dapat sembuh sendiri dalam 2 minggu namun akan memungkinkan timbulnya kekambuhan.4

BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. Anatomi KonjungtivaKonjungtiva merupakan selaput lendir atau disebut juga sebagai lapisan mukosa. Konjungtiva terdiri atas epitel sel kolumnar bertingkat yang melapisi bagian sklera bola mata dan kelopak mata bagian dalam. Pada epitel kolumnar bertingkat terdapat sel goblet yang berfungsi untuk menghasilkan musin dan airmata sehingga dapat melembabkan bola mata dan mempermudah kelopak mata untuk membuka ataupun menutup.4Konjungtiva dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :1. Konjungtiva tarsal atau palpebra berada di bagian posterior kelopak mata dan sukar digerakkan dari tarsus. Konjungtiva tarsal superior dan inferior akan menutupi jaringan episklera disepanjang bola mata sampai berbatasan dengan konjungtiva bulbar.2. Konjungtiva bulbar menempel secara longgar pada septum orbital dibagian forniks dan dapat dilipat berkali-kali, hal ini untuk mempermudah pergerakan mata dan pembesaran kelenjar air mata. Konjungtiva bulbar juga secara longgar kapsul tenon dan seluruh permukaan sklera.3. Konjungtiva fornises atau forniks merupakan tempat peralihan antara konjungtiva tarsal dan konjungtiva bulbar.

Secara histologis lapisan konjungtiva adalah epitel konjungtiva yang terdiri atas 2sampai 5 lapis sel kolumnar, superfisial, dan basal. Epitel konjungtiva disekitar limbus, karunkel, dan perbatasan kelopak mata terdapat sel epitel gepeng. Sel epitel superfisial terdiri atas sel bulat atau sel goblet yang menghasilkan musin dan air mata sehingga dapat melembabkan bola mata serta mempermudah kelopak mata untuk membuka atau menutup. Sel epitel basal yang berada lebih dalam dari pada sel epitel superfisial dan berada di sekitar limbus memiliki pigmen yangmemberi warna. Stroma konjungtiva terdiri atas lapisan adenoid di bagian superfisial dan lapisan fibrosa di bagian dalam. Lapisan adenoid merupakan jaringan limfoid dan dibeberapa area mata dapat memiliki bentuk follicle-like tanpa sentral germinatikum. Lapisan adenoid ini baru akan berkembang saat usia beranjak 2-3bulan. Sedangkan lapisan fibrosa merupakan jaringan ikat yang melekat pada tarsal. Selain itu, pada stroma konjungtiva juga terdapat kelenjar aksesoris (kelenjar krause dan kelenjar wolfring) yang mirip dengan fungsi dan struktur kelenjar lakrimasi. Kelenjar krause lebih banyak berada pada forniks superior daripada forniks inferior dan kelenjar wolfring berada pada margin superior tarsus bagian atas.Konjungtiva diperdarahi oleh arteri siliaris anterior yang berasal dari arteri oftalmikus serta diperdarahi oleh arteri palpebra dimana kedua arteri ini beranastomosis. Arteri siliaris anterior berjalan mengikuti otot rektus penggerak bola mata kecuali otot rektus lateralis. Konjungtiva mendapat persarafan dari saraf oftalmikus cabang trigeminus. Sedangkan kelenjar getah bening lapisan-lapisan kelopak mata berasal dari pleksus kelenjar getah bening.6B. Konjungtivitis Flikten1. DefinisiKonjungtivitis flikten merupakan radang pada konjungtiva dengan pembentukan satu atau lebih tonjolan kecil (flikten) yang diakibatkan oleh reaksi alergi (hipersensitivitas tipe IV). Tonjolan sebesar jarum pentul yang terutama terletak di daerah limbus, berwarna kemerah-merahan disebut flikten. Flikten konjungtiva mulai berupa lesi kecil, umumnya diameter 1-3 mm, keras, merah, menonjol dan dikelilingi zona hyperemia. Secara histologis, flikten adalah kumpulan sel leukosit neutrofil dikelilingi sel limfosit, makrofag dan kadang-kadang sel datia berinti banyak.42. EtiologiKelainan ini merupakan manifestasi alergik (hipersensitivitas tipe IV) endogen tuberculosis, stafilokokus, coccidioidomycosis, candida, helmintes, virus herpes simpleks, toksin dari moluscum contagiosum yang terdapat pada margo palpebra dan infeksi fokal pada gigi, hidung, telinga, tenggorokan, dan traktus urogenital. Penyakit ini terutama mengenai anak-anak berumur 4-14 tahun dengan malnutrition dan TBC.43. KlasifikasiSecara klinis konjungtivitis flikten dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :a. Konjungtivitis fliktenTanda-tanda inflamasi tidak jelas, tidak menyebar, hanya terbatas pada tempat flikten, sekret hampir tidak ada

b. Konjungtivitis Kum fliktenTanda-tanda inflamasi jelas dan sekret dapat berupa mukopurulen. Konjungtivitis kum fliktenularis biasanya timbul karena infeksi sekunder bakteri.6

4. PatofisiologiHipersensitivitas tipe IV adalah reaksi lambat terhadap antigen eksogen. Reaksi inflamasi disebabkan oleh sel T CD4+ dan reaksi imunologis yang sama juga terjadi akibat dari reaksi inflamasi kronis melawan jaringan sendiri. IL1 dan IL17 berkontribusi dalam terjadinya penyakit organ spesifik yang etiologinya adalah proses inflamasi. Reaksi inflamasi yang berhubungan dengan sel Th1 akan didominasi oleh makrofag sedangkan, sel Th17 akan didominasi oleh neutrofil. Reaksi yang terjadi pada hipersensitivitas ini dibagi menjadi 2 tahap utama:a. Proliferasi dan diferensiasi sel T CD4+. Sel ini mengenali susunan peptide yang ditunjukkan oleh sel dendritik dan menyekresikan IL2 yang berfungsi sebagai autocrine growth factor untuk menstimulasi proliferasi antigen-responsived sel T. Perbedaan antara antigen-stimulated sel Tdengan Th1 atau Th17 terlihat pada produksi sitokin oleh APC (sel dendritik dan makrofag) saat aktivasi sel T. APC memproduksi IL12 yangmenginduksi diferensiasi sel T menjadi Th1. IFN- akan diproduksi oleh sel Th1 dalam perkembangannya. Jika APC memproduksi sitokin sepertiIL1, IL6, dan IL23; yang akan berkolaborasi dengan membentuk TGF- untuk menstimulasi diferensiasi sel T menjadi Th17. Beberapa daridiferensiasi sel ini akan masuk kedalam sirkulasi dan menetap di memory pool selama waktu yang lama.b. Respon terhadap diferensiasi sel T efektor apabila terjadi pajanan antigen yang berulang akan mengaktivasi sel T akibat dari antigen yang dipresentasikan oleh APC. Sel Th1 akan menyekresikan sitokin (umumnya IFN-) yang bertanggung jawab dalam banyak manifestasi dari hipersensitivitas tipe ini. IFN- mengaktivasi makrofag yang akan memfagositosis dan membunuh mikroorganisme yang telah ditandai sebelumnya. Mikroorganisme tersebut mengekspresikan molekul MHC II,yang memfasilitasi presentasi dari antigen tersebut. Makrofag juga menyekresikan TNF, IL1, dan kemokin yang akan menyebabkan inflamasi. IL12 juga merupakan hasil produksi makrofag yang akan memperkuat respon dari TH1. Semua mekanisme tersebut akan mengaktivasi makrofag untuk mengeliminasi antigen. Jika aktivasi tersebut berlangsung secara terus menerus maka inflamasi akan berlanjut sehingga jaringan luka akan menjadi semakin luas.Th17 diaktivasi oleh beberapa antigen mikrobial dan self antigen dalam penyakit autoimun. Sel Th17 akan menyekresikan IL17, IL22, kemokin, dan beberapa sitokin lain. Kemokin ini akan merekrut neutrofil dan monosit yang akan berlanjut menjadi proses inflamasi. Th17 juga memproduksi IL12 yang akan memperkuat proses Th17 sendiri. Reaksi oleh sel T CD8+ akan membunuh sel yang membawa antigen. Kerusakan jaringan oleh CTLs merupakan komponen penting dari banyak penyakit yang dimediasi oleh sel T dengan langsung melawan histokompatibilitasantigen tersebut. Mekanisme dari CTLs juga berperan penting untuk melawan infeksi virus. Pada infeksi virus, peptida virus akan memperlihatkan molekul MHC I dan kompleks yang akan diketahui oleh TCR dari sel T CD8+. Penghancuran sel yang telah terinfeksi akan berakibat eliminasinya infeksi tersebut dan juga akan berakibat pada kerusakan sel. Prinsip mekanisme pembunuhan sel yang terinfeksi yang dimediasi olehsel T yaitu CTLs yang mengenali sel target akan menyekresikan kompleks yang berisikan perforin, granzymes, dan protein yang disebut serglisin yang akan masuk ke sel target melalui proses endositosis. Dalam sitoplasma, sel target perforin memfasilitasi pengeluaran granzymes dari kompleks. Granzymes adalah enzim protease yang memecah dan mengaktivasi kaspase, yang akan menginduksi apoptosis dari sel target. Pengaktivasian CTLs juga mengekspresikan fast ligand, molekul yang homolog dengan TNF, yang dapat berikatan dengan fast expressed pada sel target dan memicu apoptosis. Sel T CD8+ juga memproduksi sitokin (IFN-) yang terlibat dalam reaksi inflamasi dalam DTH, khususnya terhadap infeksi virus dan terpapar oleh beberapa agen kontak.5. DiagnosisPenegakkan diagnosis dapat dilakukan dengan menilai dari gejala dan hasil pemeriksaan penunjang sebagai berikut:a. Gejala subjektif Konjungtivitis flikten menyebabkan iritasi dengan keluhan rasa sakit, mata merah, dan lakrimasi. Jika kornea ikut terlibat maka akan ditemukan keluhan fotofobia dan gangguan penglihatanb. Gejala objektif 1) Konjungtivitis Flikten SimpelTerlihat nodul putih kemerahan yang dikelilingi daerah hiperemis (pelebaran pembuluh darah konjungtiva) pada daerah sekitar limbus dan konjungtiva bulbar. Pada umumnya nodul hanya soliter namun dapat juga tumbuh lebih dari satu.

2) Konjungtivitis Flikten NecrotizingTerdapat flikten besar yang disertai proses nekrosis dan ulserasi sehingga memungkin terjadinya severe pustular konjungtivitis

3) Konjungtivitis Flikten MilierTerdapat multipel flikten yang berbentuk lingkaran disekitar limbus ataupun menyebar secara tidak merata

c. HistopatologiPada pemeriksaan histopatologi ditemukan kumpulan sel leukosit netrofil yang dikelilingi oleh sel limfosit, sel makrofag, dan sel datia berinti banyak. Pembuluh darah yang memperdarahi flikten mengalami proliferasi endotel dan sel epitel dibagian atas mengalami degenerasid. LaboratoriumDapat dilakukan pemeriksaan tinja jika dicurigai helmintiasis, pemeriksaan darah untuk mengetahui infeksi, dan kultur konjungtiva. Pemeriksaan sekret dengan pewarnaan gram dapat membantu mengidentifikasi penyebab maupun infeksi sekunder.6. PenatalaksanaanPenyebab primer dari penyakit ini harus diketahui dan ditangani terlebih dahulu, misalnya melalui pencarian infeksi fokal di telinga, hidung, tenggorokan, atau gigi. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah, urine, feses maupun foto toraks seringkali dilibatkan dalam usaha tersebut. Kortikosteroid topikal seperti Dexamethasone atau Prednisolone dalam sediaan obat tetes atau salep mata perlu diberikan karena dasar dari timbulnya konjungtivitis flikten adalah hipersensitivitas tipe lambat. Kerja dari kortikosteroid adalah menginhibisi aktivasi sel T sebagai mediator inflamasi yang utama dalam proses ini, sehingga respon proliferatif dan produksi sitokin berkurang. Kombinasi kortikosteroid dengan antibiotik seperti Kloramfenikol lebih dianjurkan mengingat banyak kemungkinan terdapat infeksi bakteri sekunder. Jika terdapat kondisi blefaritis atau masalah dermatologis yang lain, pemberian Doksisiklin oral dapat dipertimbangkan. Pada anak-anak dengan usia di bawah 8tahun dan wanita hamil, Eritromisin dapat menggantikan penggunaan Doksisiklin. Sikloplegik hanya dibutuhkan jika dicurigai adanya iritis. Dapat juga diberikan Roboransia yang mengandung vitamin A, B kompleks, dan C untuk memperbaiki keadaan secara general. Pada pemberian kortikosteroid lokal dalam jangka waktu lama perlu diwaspadai kontraindikasi dan adanya berbagai factor penyulit antara lain infeksi sekunder jamur atau virus, munculnya Glaukoma maupun Katarak7. PrognosisDengan penatalaksanaan yang komprehensif, umumnya konjungtivitis flikten akan sembuh spontan dalam 1-2 minggu dan tidak meninggalkan bekas kecuali flikten pada limbus. Prognosis menjadi relatif lebih buruk jika terjadi flikten pada kornea, abses kornea karena infeksi sekunder bakteri, dan perforasi kornea dalam luas yang terbatas. Namun beberapa keadaan penyulit tersebut dapat diatasi dengan penatalaksanaan yang memadai.

BAB III KESIMPULAN

Konjungtivitis flikten merupakan radang pada konjungtiva dengan pembentukan satu atau lebih tonjolan kecil (flikten) yang diakibatkan oleh reaksi alergi (hipersensitivitas tipe IV). Kondisi ini merupakan reaksi alergi terhadap endogen tuberkulosis, stafilokokus, coccidioidomikosis, candida, helmintes, virus herpes simpleks, toksin dari moluscum contagiosum yang terdapat pada margo palpebra dan infeksi fokal pada gigi, hidung, telinga, tenggorokan, dan traktus urogenital. Gejala klinis biasanya ringan, berupa lakrimasi berlebihan, mata merah setempat, dan iritasi dengan rasa sakit. Blefarospasme dapat terjadi jika terdapat pus mukopuruluen karena infeksi bakteri. Konjungtivitis fliktenularis harus dibedakan dengan kondisi serupa yang juga bersifat superfisial melalui anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi. Dasar dari penatalaksanaan penyakit ini adalah mengatasi penyakit yang mendasarinya dengan proses diagnostik dan terapi yang komprehensif. Korstikosteroid topikal wajib digunakan dalam kasus ini. Antibiotik topikal dan sistemik dapat digunakan sebagai terapi kombinasi jika terdapat infeksi sekunder. Dengan terapi yang memadai, prognosis kasus ini umumnya baik, tanpa komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA1. Hutagalung, P.Y. Karakteristik Penderita Konjungtivitis Rawat Jalan Di Rsud. Dr.Pirngadi Medan Tahun 2011. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 20112. Arrizal, R., 2011. Pengaruh Musim Hujan Dan Musim Kemarau Terhadap Angka Kejadian Konjungtivitis Di RS PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta Tahun 2009 Dan 2010. Yogyakarta.3. Depkes RI., 2004. Distribusi Penyakit Mata Dan Adneksa Pasien Rawat Inap Dan Rawat Jalan Menurut Sebab Sakit Di Indonesia Tahun 2004.Availablefrom:Http://Bankdata.Depkes.Go.Id/Data%20intranet/Sharing%20folder/Ditjen%20yanmedik/Seri%203/Tabels. Akses 25 Januari 2012.4. Illyas, S., 2010. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 2. Cetakan Ke Tujuh. Balai Penerbit FK UI, Jakarta.5. Vaughan, A., 2010. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Egc, Jakarta.6. Wijaya,Nana. 1993. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Egc

6