Presentation Modul 1 Benjolan Di Leher Klp 1

  • View
    191

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of Presentation Modul 1 Benjolan Di Leher Klp 1

FANY (C 121 08 105) ANDI HILMI (C 121 10 269) SRI BINTARI RAHAYU (C 121 10 255) ST. MUSDALIFAH AHMAD (C 121 10 103) HERNI AMIRULLAH (C 121 10 253) MARWAH (C 121 10 260)

Nn.L 45 tahun, mengalami sesak nafas, dyspnea, sulit menelan, leher bertambah besar, suara parau. Nn. L sering mengeluh merasa cepat lelah dan nafsu makan menurun, cepat marah. Pada saat perawat melaksanakan pemeriksaan fisik terdapat atropi otot, BB turun, tremor halus pada tangan, mata melotot, kedipan berkurang.

Data Objektif : Identitas : Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 45 tahun Sesak nafas Dyspnea Sulit menelan Leher bertambah besar Sesak napas

Dyspnea Sulit menelan Leher bertambah besar Suara parau Pemeriksaan fisik : Atropi otot BB turun Tremor halus pada tangan Mata melotot Kedipan berkurang

Data Subjektif : Sering mengeluh merasa cepat lelah Nafsu makan menurun Cepat marah

No.

DATA DO : - Sesak nafas

MASALAH

1

- Dyspnea DS : -

Pola napas tidak efektif

DO : - Sulit menelan 2 - BB turun DS : Nafsu makan menurun DO : 3 DS : Tremor halus pada tangan

Ketidakseimbangan Nutrisi

Resiko Cedera

DO : Atropi otot DS: - Cepat lelah - Cepat marah

Intolerensi Aktivitas : Keletihan

DO : - Leher bertambah besar - Suara parau DS : DO : - Mata melotot - Kedipan berkurang DS : -

Gangguan Konsep Diri

Resiko kerusakan integritas jaringan

Jelaskan anatomi, fisiologi, histologi, dan histofisiologi yang berhubungan dengan benjolan di leher? Bagaimana pemeriksaan fisik, diagnostic, dan laboratorium pada benjolan di leher? Jelaskan dan sebutkan penyakit yang berhubungan dengan gejala benjolan di leher dan penanganannya? Askep pada penyakit yang berhubungan dengan benjolan di leher?

Kelenjar yang berhubungan dengan adanya benjolan di leher yaitu: kelenjar tiroid kelenjar hipofisis

Anatomi Terletak dibagian bawah leher, antara fascia koli media dan fascia prevertebralis. Kelenjar tyroid melekat pada trakhea sambil melingkarinya dua pertiga sampai tiga perempat lingkaran. Tyroid terdiri atas dua lobus, yang dihubungkan oleh istmus dan menutup cincin trakhea 2 dan 3.

Histology Pada usia dewasa berat kelenjar ini kira-kira 20 gram. Secara mikroskopis terdiri atas banyak folikel Dinding folikel terdiri dari selapis sel epitel tunggal dengan puncak menghadap ke dalam lumen, sedangkan basisnya menghadap ke arah membran basalis.

Histofisiologi

Sekresi T4 (tiroxin,tetraiodotironin), T3 (triiodotironin) dan Calcitonin. Terdiri atas lobus kanan dan kiri dipisahkan oleh istmus. Pada beberapa orang ditemukan lobus piramidal (lobus tambahan), merupakan sisa dari Tiroid primordial yang tumbuh dari dasar lidah melalui jalan duktus

AnatomiKelenjar hipofisis ini berbentuk Ovoid/kacang dengan ukuran 12 x 8 mm dan berat 500 mg yang terletak di sela tursika, rongga tulang basis otak, dan dihubungkan dengan hipotalamus oleh tungkai hipofisis atau hipofisial. Kelenjar hipofisis dibagi menjadi: a. HipofisisAnterior (Adenohipofisis) b. Hipofisis Posterior (Neurohipofisis)

Histologi Terdiri dari Embriologi adenohypofise & neurohypofise berbeda. Adenohypofise berkembang dari kantong rathke atap bakal rongga mulut. Neurohypofise berkembang dari divertikel neuroektoderal menonjol dari diensefalon membentuk infundibulum

Histofisiologi Sel neuroscretory pada Hipotalamus mensekresi releasing dan inhibitory hormon yang menstimuli atau menginhibisi aktifitas Hipofise anterior. Hipofise mensekresi inhibitary hormon Nukleus supraoptik memproduksi ADH (Anti Diuretic Hormon ) dan selanjutnya disimpan dalam hipofise posterior Nukleus paraventrikuler memproduksi Oxitocin (vasopresin) dan selanjutnya disimpan dalam hipofise posterior

1.Inspeksi 2.Palpasi 3.Auskultasi

Tes TSH (Tiroid Stimulating Hormone) membedakan kelainan yang disebabkan oleh penyakit pada kelenjar tiroid T3pemeriksaan mengukur secara tidak langsung kadar Tbg tidak jenuh T4 penentuan T4 serum dengan teknik radio imunnoassay Iodium radioaktif mengukur kecepatan ambialan iodium oleh kelenjar tiroid.

Pemeriksaan tendon arsilles Kadar kolestrol serum Elektrokardiogram(EKG) Pemeriksaan enzim otot (alanin transaminase (ALT)) atau serum glutamic- pyruvic transaminase(SGPT), lactic-Acid, dehydroginase(LDH), dan Creatine Kinase(CK)) Pemeriksaan USG, pemindai CT dan MRI dapat digunakan untuk menjelaskan atau memastikan masel pemeriksaan diagnostik yang lain.

1. Graves (penyakit kelenjar gondok)penyakit autoimun yang disebabkan oleh faktor genetic dan lingkungan. 2. Goiter pembesaran pada kelenjar tiroid. 3. Tiroiditis peradangan dari tiroidpenyakit virus (subacute thyroiditis).

Farmako Propiltiourasil (PTU) Nama generik : Propiltiourasil Nama dagang di Indonesia : Propiltiouracil (generik) Indikasi : goiter Kontraindikasi : hipersensisitif terhadap Propiltiourasil, blocking replacement regimen tidak boleh diberikan pada kehamilan dan masa menyusui. Bentuk sediaan : Tablet 50 mg dan 100 mg.

Dosis dan aturan pakai : untuk anak-anak 5-7 mg/kg/hari atau 150-200 mg/ m2/hari, dosis terbagi setiap 8 jam. Dosis dewasa 3000 mg/hari, dosis terbagi setiap 8 jam. Efek samping : ruam kulit, nyeri sendi, demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala, ada kecendrungan pendarahan, mual muntah, hepatitis. Mekanisme Obat: menghambat sintesis hormon tiroid dengan memhambat oksidasi dari iodin dan menghambat sintesis tiroksin dan triodothyronin. Resiko khusus : Hati-hati penggunaan pada pasien lebih dari 40 tahun karena PTU bisa menyebabkan hipoprotrombinnemia dan pendarahan, kehamilan dan menyusui, penyakit hati (Lee, 2006).

Methimazole Nama generik : methimazole Nama dagang : Tapazole Indikasi : agent antitiroid Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap methimazole dan wanita hamil. Bentuk sediaan : tablet 5 mg, 10 mg, 20 mg

Dosis dan aturan pakai : untuk anak 0,4 mg/kg/hari (3 x sehari); dosis pelihara 0,2 mg/kg/hari (3 x sehari). maksimum 30 mg dalam sehari. Untuk dewasa: ringan 15 mg/hari; sedang 30-40 mg/hari; berat 60 mg/ hari; dosis pelihara 5-15 mg/hari. Efek samping : sakit kepala, vertigo, mual muntah, konstipasi, nyeri lambung, edema. Resiko khusus : pada pasien diatas 40 tahun hati-hati bisa meningkatkan myelosupression, kehamilan (Lacy, et al, 2006)

Karbimazole Nama generik : Karbimazole Nama dagang di Indonesia : Neo mecarzole (nicholas). Indikasi : goiter Kontraindikasi : blocking replacement regimen tidak boleh diberikan pada kehamilan dan masa menyusui. Bentuk sediaan : tablet 5 mg

Dosis dan aturan pakai : 30-60 mg/hari sampai dicapai eutiroid, lalu dosis diturunkan menjadi 5-20 mg/hari; biasanya terapi berlangsung 18 bulan. Sebagai blocking replacement regimen, karbamizole 20 60 mg dikombinasikan dengan tiroksin 50 -150 mg. Untuk dosis anak mulai dengan 15 mg/hari kemudian disesuaikan dengan respon. Efek samping : ruam kulit, nyeri sendi, demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala, ada kecendrungan pendarahan, mual muntah, leukopenia. Resiko khusus : penggunaan pada pasien lebih dari 40 tahun karena PTU bisa menyebabkan hipoprotrombinemia dan pendarahan, kehamilan dan menyusui.

Tiamazole Nama generik : Tiamazole Nama dagang di Indonesia : Thyrozol (Merck). Indikasi : goiter Kontraindikasi : hipersensitivitas Bentuk sediaan : tablet 5 mg, 10 mg

Dosis dan aturan pakai : untuk pemblokiran total produksi hormon tiroid 25-40 mg/hari; kasus ringan 10 mg (2 x sehari); kasus berat 20 mg (2 x sehari); setelah fungsi tiroid normal (3-8 minggu) dosis perlahan-lahan diturunkanhingga dosis pemelihara 5 10 mg/hari. Efek samping : alergi kulit, perubahan pada sel darah, pembengkakan pada kelenjar ludah. Resiko khusus : jangan diberikan pada saat kehamilan dan menyusui, hepatitis.

Non farmako Terapi hormone tyroid diberikan untuk mengurangi aktivitas kelenjar tyroid dan produksi trioglobulin,. Jika terdapat gejala hipotyridisme hormone tyroid harus diresepkan. Tindakan beda diperlukan jika gejala penekan tetap ada.

1. Pengkajian Aktifitas/istirahat Sirkulasi Eliminasi Integritas ego Makanan/cairan Neurosensori Nyeri/kenyamanan Keamanan

2. Diagnosa keperawatanPola nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya pembesaran jaringan pada leher, penekanan trakhea. Perubahan pola nutrisi berhubungan dengan adanya penekanan daerah oesofagus, penurunan nafsu makan. Gangguan konsep diri (harga diri rendah) berhubungan dengan tidak efektifnya coping individu, adanya pembesaran pada leher. Resiko kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus.

3. IntervensiDiagnosa 1 Rencana tindakan : Pantau frekwensi pernafasan , kedalaman, dan kerja pernafasan Ajari klien latihan nafas dalam Selidiki keluhan kesulitan menelan Persiapkan operasi bila diperlukan.

Diagnosa 2Rencana tindakan : Kaji adanya kesulitan menelan, selera makan, kelemahan umum dan munculnya mual dan muntah. Pantau masukan makanan setiap hari dan timbang berat bada setiap hari serta laporkan adnaya penurunan. Kolaborasi : konsultasikan dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin.

Diagnosa 3 Rencana tindakan : Kaji tingkat perubahan rentang harga diri rendah Pastikan tujuan tindakan yang kita lakukan adalah realistis Sampaikan hal-hal yang positif secara mutlak untuk klien Diskusikan masa depan klien, bantu klien dalam menetapkan tujuan-tujuan jangka pendek dan panjang.

Diagnosa 4 Rencana tindakan : Identifikasi gangguan penutupan kelopak mata Evaluasi ketajaman mata Anjurkan pasien untuk menggunakan pelindung mata seperti kapas atau kacamata gelap Menginstrusikan cara melatih otot mata Diskusikan perasaan mengenai perubahan

4. Evaluasi Mempertahankan jalan napas paten, aspirasi

Search related