Click here to load reader

Perdarahan Post Partum

  • View
    28

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

perdarahan post partum

Text of Perdarahan Post Partum

  • PERDARAHAN PERSALINANProblem Based Learning: Skenario 1FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS YARSI JAKARTA

  • KELOMPOK B 2LORENZO NAKITA TIGANA1102007166TEFFI PRIMA NUGRAHA1102007275LUKMAN ARYADI1102007167MADINAHTUL HUJJAH1102007168MEGA AYUPUTRI1102007174MEITA PUTRI ALDILLAH1102007175RAHMAH MUFLIHANA1102007222RATIH MARY FARAHDISA1102007224RATU BALQIS AF1102007225

  • PERDARAHAN PERSALINAN

    Seorang wanita, usia 29 tahun (G4P3A0) aterm, melahirkan bayi laki-laki, ditolong oleh bidan. Bayi langsung menangis,BB 1500 gr, panjang badan 48 cm. Pasca persalinan ibu mengalami perdarahan sehingga bidan merujuk ibu dan bayi ke rumah sakit terdekat. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter laki-laki yang sedang bertugas di UGD terhadap ibu didapatkan : TD : 90/60 mmHg ; N 120 x / menit ; RR 24 x / menit ; suhu 37,5 C. Ibu didiagnosis mengalami HPP (Haemorrhagic Post Partum)ec Atonia uteri. Pemeriksaan terhadap didapatkan suhu 36 C. Pada usia 40 jam bayi terlihat kuning, kadar bilirubin total 15 gr / dl, bilirubin indirek 14,2 gr /dl sehingga dilakukan fototerapi.

  • STEP I SASARAN BELAJAR

    I.Memahami dan menjelaskan PPP(Perdarahan Post Partum)1.1 Definisi1.2 Klasifikasi1.3 Etiologi dan faktor risiko1.4 Gejala klinis1.5 Diagnosis1.6 Penatalaksanaan

    II.Memahami dan menjelaskan Hipotermia2.1 Definisi2.2 Etiologi dan faktor risiko2.3 Gejala klinis2.4 Diagnosis2.5 Penatalaksanaan

  • III.Memahami dan menjelaskan Hiperbilirubinemia3.1 Definisi3.2 Klasifikasi3.3 Etiologi3.4 Patofisiologi3.5 Gejala klinis3.6 Diagnosis3.7 Penatalaksanaan

  • STEP II MANDIRI

  • STEP IIII.Memahami dan menjelaskan PPP (Perdarahan Post Partum)

    1.1 Definisi Perdarahan Post PartumPerdarahan post partum adalah perdarahan atau kehilangan darah lebih dari 500 ml melalui jalan lahir yang terjadi selama atau setelah persalinan kala III.1.2 Klasifikasi Perdarahan Post PartumKlasifikasi berdasarkan waktu terjadinya ada dua :1. Perdarahan pascapersalinan primer (Early Postpartum Haemorrhage, atau perdarahan pascapersalinan segera).2. Perdarahan pascapersalinan sekunder (Late Postpartum Haemorrhage, atau perdarahan masa nifas, atau perdarahan pascapersalinan lambat, atau PPP kasep)

  • Klasifikasi berdasarkan penyebabnya :1.Perdarahan dari tempat implantasi plasenta2.Perdarahan karena robekan3.Gangguan koagulasi1.3 Etiologi dan faktor risiko Perdarahan Post PartumA. Atonia uteriAtonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus gagal untuk berkontraksi dan mengecil sesudah janin keluar dari rahim. Pada perdarahan karena atonia uteri ini, uterus membesar dan lembek pada palpasi

  • Predisposisi atonia uteri :GrandemultiparaUterus yang terlalu regang (hidramnion, hamil ganda, anak besar (BB > 4000 gr)Kelainan uterus (uterus bicornis, mioma uteri, bekas operasi)Plasenta previa dan solutio plasenta (perdarahan anteparturn)Partus lama (exhausted mother)Partus presipitatusHipertensi dalam kehamilan (Gestosis)Infeksi uterusAnemi beratPenggunaan oksitosin yang berlebihan dalam persalinan (induksi partus)Riwayat perdarahan pascapersalinan sebelumnya atau riwayat plasenta manualPimpinan kala III yang salah, dengan memijit-mijit dan mendorong-dorong uterus sebelum plasenta terlepasIUFD yang sudah lama, penyakit hati, emboli air ketuban (koagulopati)Tindakan operatif dengan anestesi umum yang terlalu dalam.

  • B.Robekan jalan lahir1. Robekan serviks2. Perlukaan vagina3. Robekan perineumC.Retensio plasentaRentensio plasenta adalah belum lahirnya plasenta jam setelah anak lahir.D.Sisa plasentaE .Kelainan pembekuan darah

    F. Inversio uteri

  • 1.4 Gejala klinis Perdarahan Post PartumGejala klinis dibagi berdasarkan etiologi masing-masing :1.Atonia uteriGejala dan tanda yang selalu ada:a. Uterus tidak berkontraksi dan lembekb. Perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan pascapersalinan primer)2.Robekan jalan lahir

    Gejala dan tanda yang selalu ada : a. Perdarahan segera b. Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir c. Uterus kontraksi baik d. Plasenta baik

  • 3.Retensio plasenta

    Gejala dan tanda yang selalu ada: a. Plasenta belum lahir setelah 30 menit b. Perdarahan segera c. Uterus kontraksi baik4.Sisa plasenta

    Gejala dan tanda yang selalu ada: a. Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap b. Perdarahan segera5.Inversio uterus

    Gejala dan tanda yang selalu ada: a. Uterus tidak teraba b. Lumen vagina terisi massa c. Tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir) d. Perdarahan segera e. Nyeri sedikit atau berat

  • 1.5 Diagnosis Perdarahan Post PartumBerikut langkah-langkah sistematik untuk mendiagnosis perdarahan post partum :(1) Palpasi uterus: bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri(2) Memeriksa plasenta dan ketuban apakah lengkap atau tidak.(3) Lakukan eksplorasi cavum uteri untuk mencari:- Sisa plasenta atau selaput ketuban- Robekan rahim- Plasenta suksenturiata(4) Inspekulo: untuk melihat robekan pada serviks, vagina, dan varises yang pecah(5) Pemeriksaan Laboratorium periksa darah yaitu Hb, COT (Clot Observation Test), dan lain-lain.

  • 1.6 Penatalaksanaan Perdarahan Post PartumTujuan utama pertolongan pada pasien dengan perdarahan postpartum adalah menemukan dan menghentikan penyebab dari perdarahan secepat mungkin. Terapi pada pasien dengan perdarahan postpartum mempunyai dua bagian pokok :

    a. Resusitasi dan manajemen yang baik terhadap perdarahanPemberian cairan: berikan ringer lactate atau normal saline

    Transfusi darah: bisa berupa whole blood ataupun packed red cell

    Evaluasi pemberian cairan dengan memantau produksi urin (dikatakan perfusi cairan ke ginjal adekuat bila produksi urin dalam 1 jam 30 cc atau lebih)

  • b. Manejemen penyebab PPPTentukan penyebab PPP :Atonia uteri

    1. Apabila terus teraba lembek dan tidak berkontraksi dengan baik perlu dilakukan massase yang lebih keras dan pemberian oxytocin2. Lakukan kompres bimanual apabila perdarahan masih berlanjut3. ErgotamineTrauma jalan lahir1. Eksplorasi jalan lahir 2. Reparasi penjahitan setelah diketahui sumber perdarahan3. Evaluasi perdarahan setelah penjahitan selesaiGangguan pembekuan darahPemberian produk pengganti darah (trombosit,fibrinogen)

  • Pencegahan perdarahan post partum1. Perawatan masa kehamilan2. Persiapan persalinan 3. Persalinan4. Uterotonica dapat diberikan segera sesudah bahu depan bayi dilahirkan

  • II. Memahami dan menjelaskan Hipotermia

    2.1 Definisi HipotermiaBayi hipotermia adalah bayi dengan suhu badan dibawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5 derajat celcius2.2 Etiologi dan faktor risiko Hipotermia Faktor PencetusFaktor pencetus terjadinya hipotermia :a. Faktor lingkungan b. Syok c. Infeksi d. Gangguan endokrin metabolik e. Kurang gizi, energi protein (KKP) f. Obat obatan g. Aneka cuaca

  • Etiologi terjadinya hipotermia pada bayi yaitu :

    1.Jaringan lemak subkutan tipis2.Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar3.Cadangan glikogen dan brown fat sedikit4.BBL (Bayi baru lahir) tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan 5.Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang berisiko tinggi mengalami hipotermia.2.3 Gejala klinis Tanda tanda hipotermia sedang :a. Aktifitas berkurang, letargis b. Tangisan lemah c. Kulit berwarna tidak rata (cutis malviorata)d. Kemampuan menghisap lemah e. Kaki teraba dingin

  • Tanda tanda hipotermia berata. Aktifitas berkurang, letargis b. Bibir dan kuku kebiruan c. Pernafasan lambat d. Pernafasan tidak terature. Bunyi jantung lambat f. Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolik g. Resiko untuk kematian bayi

    Tanda tanda stadium lanjut hipotermiaa. Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terangb. Bagian tubuh lainnya pucatc. Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)

  • 2.4 Diagnosis HipotermiaDiagnosis hipotermi ditegakkan dengan pengukuran suhu. Melalui aksila merupakan prosedur pengukuran suhu bayi yang dianjurkan, karena mudah, sederhana dan aman2.5 Penatalaksanaan HipotermiaHipotermia Sedang

    1) Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih, dapat hangat 2) Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru bila ibu dan bayi berada dalam satu selimut atau kain hangat yang diserterika terlebih dahulu. Bila selimut atau kain mulai mendingin, segera ganti dengan selimut / kain yang hangat. 3) Ulangi sampai panas tubuh ibu mendingin, segera ganti dengan selimut / kain yang hangat.

    Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara : a) Memberi tutup kepala / topi bayi b) Mengganti kain / popok bayi yang basah dengan yang kering dan hangat

  • b. Hipotermi Berat

    1) Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih, dan hangat 2) Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru, bila perlu ibu dan bayi berada dalam satu selimut atau kain hangat 3) Bila selimut atau kain mulai mendingin. Segera ganti dengan selimut atau lainnya hangat ulangi sampai panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi 4) Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara : a) Memberi tutup kepala / topi kepala b) Mengganti kain / pakaian / popok yang basah dengan yang kering atau hangat5) Biasanya bayi hipotermi menderita hipoglikemia. Karena itu ASI sedini mungkin dapat lebih sering selama bayi menginginkan. Bila terlalu lemah hingga tidak dapat atau tidak kuat menghisap ASI. Beri ASI dengan menggunakan NGT. Bila tidak tersedia alat NGT. Beri infus dextrose 10% sebanyak 60

  • Pencegahan Hipotermia 1. Mengeringkan dan membungkus bayi dengan kain yang hangat2. Meletakkan bayi didekat ibu 3. Memastikan ruang bayi yang terbaring cukup hangatIII. Memahami dan menjelaskan Hiperbilirubinemia 3.1 Definisi Hiperbilirubine