Click here to load reader

Perdarahan Post Partum

  • View
    652

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

perdarahan post partum

Text of Perdarahan Post Partum

BAB IPENDAHULUAN

Latar Belakang Kehamilan dan melahirkan menimbulkan risiko kesehatan yang besar, termasuk bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya. Kira-kira 40% ibu hamil (bumil) mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan; dan 15% dari semua bumil menderita komplikasi jangka panjang atau yang mengancam jiwa. Diberbagai negara, paling sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh perdarahan; proporsinya berkisar antara kurang dari 10% sampai hampir 60%. Walaupun seorang perempuan dapat bertahan hidup setelah mengalami perdarahan pasca persalinan (PPP), namun ia akan menderita kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan.Dimana angka kematian ibu tinggi dan sarana terbatas, maka pengenalan mengenai pencegahan dan penanganan PPP yang terbukti dapat dijalankan (evidence based practices) dengan biaya rendah bisa melindungi keselamatan ibu dan bayi. Yaitu penanganan persalinan kala III (waktu antara kelahiran bayi dan pelepasan plasenta) 1Di Inggris, separuh kematian ibu hamil akibat perdarahan disebabkan oleh proses postpartum (Bonnardalam Williams, 2006). Diperkirakan ada 14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan setiap tahunnya paling sedikit 128.000 wanita mengalami perdarahan sampai meninggal. Sebagian besar kematian tersebut terjadi dalam waktu 4 jam setelah melahirkan. 1Perdarahan post partum dapat disebabkan oleh beberapa faktor, tetapi pada referat ini, akan dibahas secara lebih mendalam tentang perdarahan post partum karena gangguan atau kegagalan koagulasi

BAB IIISI

A. Definisi Perdarahan PostpartumPerdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi setelah bayi lahir pervaginam atau lebih dari 1.000 mL setelah persalinan abdominal1,2,3. Kondisi dalam persalinan menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah perdarahan yang terjadi, maka batasan jumlah perdarahan disebutkan sebagai perdarahan yang lebih dari normal dimana telah menyebabkan perubahan tanda vital, antara lain pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, tekanan darah sistolik < 90 mmHg, denyut nadi > 100 x/menit, kadar Hb < 8 g/dL 2.Perdarahan post partum dibagi menjadi1,2,5:a) Perdarahan Post Partum Dini / Perdarahan Post Partum Primer (early postpartum hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah kala III.b) Perdarahan pada Masa Nifas / Perdarahan Post Partum Sekunder (late postpartum hemorrhage). Perdarahan pada masa nifas adalah perdarahan yang terjadi pada masa nifas (puerperium) tidak termasuk 24 jam pertama setelah kala III.

B. Anatomi dan Fisiologi1. Anatomi UterusUterus merupakan organ berongga yang berbentuk buah per, berdinding otot tebal. Pada orang dewasa muda nulipara, uterus panjangnya 8 cm, lebar 5 cm dan tebal 2,5 cm. Uterus dibagi menjadi beberapa bagian. Fundus, Corpus dan Cervix. Sebagian dari uterus tertutup oleh peritoneum atau serosa. Rongga uterus dilapisi endometrium.2

Gambar 2. Anatomi uterus dan adneksaBagian atas yang berbentuk seperti kubah disebut fundus. Fundus merupakan bagian uterus yang terletak diatas muara tuba uterina. Sedangkan corpus merupakan bagian uterus yang terletak di bawah muara tuba uterina. Corpus uteri bagian bawah sempit dan dilanjutkan sebagai cervix. Serviks terhubung dengan uterus pada os interna. Serviks terutama terdiri dari jaringan ikat fibrosa padat.1,3Ada beberapa lapisan yang terdapat dalam korpus uteri, antara lain endometrium, miometrium dan membrana basalis.

a) Endometrium Endometrium adalah lapisan mukosa yang melapisi rongga uterus pada wanita yang tidak hamil. Endometrium berupa membran tipis berwarna merah muda, menyerupai beludru, yang bila diamati lebih dekat terlihat banyak sekali lubang-lubang kecil yaitu ostia kelenjar-kelenjar uterus. Akibat perubahan siklis berulang yang terjadi selama masa reproduksi, tebal endometrium biasanya sangat bervariasi, yaitu dari 0,5 mm hingga 5 mm. Endometrium terdiri dari epitel permukaan, kelenjar dan jaringan mesenkim antarkelenjar yang mengandung banyak pembuluh darah.1,2Susunan vaskuler endometrium merupakan petanda penting dalam fenomena menstruasi dan kehamilan. Darah arteri dibawa ke uterus melalui arteri-arteri uterina dan ovarium. Setelah menembus dinding uterus dengan arah menyilang dan mencapai sepertiga tengah kedalamannya, cabang-cabang arteri berhubungan satu sama lain pada suatu lapisan yang sejajar dengan permukaan uterus dan karenanya pembuluh darah ini disebut arteriae arcuata.2,4Arteri-arteri endometrium terdiri dari aa. Spiralis yang merupakan kelanjutan dari arteriae radialis, dan aa. Basalis yang merupakan percabangan dari aa. Radialis dengan membentuk sudut tajam. Arteriae spiralis memperdarahi sebagian besar bagian tengah dan semua bagian sepertiga permukaan endometrium. Dinding pembuluh darah ini responsif (sensitif) terhadap kerja beberapa hormon, khususnya oleh vasokonstriksi dan oleh karenanya mungkin berperan penting dalam mekanisme menstruasi. Arteriae basalis berbentuk lurus, kalibernya lebih kecil dan lebih pendek daripada aa. Spiralis. Pembuluh darah ini hanya berjalan sepanjang lapisan basal endometrium atau hanya sedikit mencapai lapisan pertengahan serta tidak responsif terhadap kerja hormon.

b) Miometrium Miometrium, yang merupakan jaringan pembentuk sebagian besar uterus, terdiri dari kumpulan otot polos yang disatukan jaringan ikat dengan banyak serabut elastin di dalamnya. Banyaknya serabut otot pada uterus berkurang secara progresif ke arah kaudal, sehingga pada serviks, otot hanya meliputi 10% dari masa jaringan. Pada lapisan dalam dinding korpus uteri, relatif terdapat lebih banyak otot dibandingkan lapisan luarnya, sedangkan pada dinding anterior dan posterior terdapat lebih banyak otot dibandingkan dinding lateral. Selama kehamilan, miometrium menjadi semakin membesar akibat hipertrofi, namun tidak terjadi perubahan yang berarti pada kandungan otot di serviks. Perdarahan uterus terutama berasal dari a. Uterina, suatu cabang a. Iliaca interna.1,4Saluran serviks membuka ke arah vagina pada os eksterna. Cervix menembus dinding anterior vagina dan dibagi dalam pars supravaginalis dan pars vaginalis.

2. Batas-Batas UterusAnteriorCorpus uteri di anterior berbatasan dengan excavatio uterovesicalis dan permukaan superior vesica urinaria. Pars supravaginalis cervix berbatasan dengan permukaan superior vesica urinaria. Pars vaginalis cervix berbatasan dengan fornix anterior vagina.1

PosteriorCorpus uteri di posterior berbatasan dengan excavatio rectouterina (cavum Douglas) dan gelungan ileum atau colon sigmoideum yang ada didalamnya.1

LateralCorpus uteri berbatasan ke lateral dengan ligamentum latum dan a.v. uterina. Pars supravaginalis cervix berbatasan dengan ureter waktu ureter berjalan turun menuju vesica urinaria. Pars vaginalis cervix berbatasan dengan fornix lateral vagina. Tuba uterina masuk ke sudut superolateral uterus, dan ligamentum ovarii proprium dan ligamentum teres uteri melekat pada dinding uterus tepat diabawah sudut ini.1

Dalam keadaan normal, pada sebagian besar wanita, sumbu panjang vagian membentuk sudut 90o. Posisi ini dinamakan Anteversio uterus. Selanjutnya, sumbu panjang corpus uteri membungkuk kedepan pada setinggi ostium internum terhadap sumbu panjang cervix, membentuk sudut sekitar 170o. Posisi ini dinamakan Anteflexio uterus. Pada beberapa wanita, fundus dan corpus uteri membungkuk ke belakang terhadap vagina, sehingga uterus terletak pada excavatio rectouterina (cavum Douglas). Pada keadaan ini, dikatakan uterus posisinya Retroversi. Bila corpus uteri juga membungkuk kebelakang terhadap cervix, dikatakan Retrovleksio.1

C. Jenis Perdarahan PostpartumMenurut terjadinya, perdarahan postpartum dibagi menjadi dua jenis : 1,31. Perdarahan postpartum dini, bila perdarahan terjadi dalam 24 jam pertama.(penyebab perdarahan postpartum mencakup atonia uteri, potongan plasenta yang tertinggal, laserasi saluran genital bawah, ruptur uterus, inversi uterus, plasentasi abnormal, koagulopati).2. Perdarahan postpartum lambat, bila perdarahan terjadi setelah 24 jam pertama tetapi kurang dari 6 minggu pasca perasalinan.(penyebabnya mencakup potongan plasenta yang tertinggal, infeksi (endometriosis), koagulopati dan subinvolusi lokasi plasenta).

D. Faktor Resiko Perdarahan PostpartumBeberapa keadaan yang dapat menimbulkan resiko perdarahan postpartum antara lain : 1. Pelahiran janin besar (makrosomi).2. Pelahiran dengan menggunakan forceps3. Persalinan pervaginam setelah operasi sectio secarea.4. Persalinan yang dipacu dengan oksitosin5. Multipara6. Hidramnion 7. Riwayat dengan perdarahan postpartum.8. Pasien dengan plasenta previa,

E. Etiologi Perdarahan PostpartumEtiologi perdarahan postpartum antara lain :1,2 1. Atonia uterusPerdarahan obstetri sering disebabkan oleh kegagalan uterus untuk berkontraksi secara memadai setelah pelahiran.Faktor resiko mencakup overdistensi uterus (akibat polihidramnion, kehamilan kembar, makrosomia janin), paritas tinggi, persalinan cepat atau memanjang, infeksi, atonia uterus sebelumnya dan pemakaian obat perelaksasi uterus.Uterus yang mengalami overdistensi besar kemungkinan besar mengalami hipotonia setelah persalinan. Dengan demikian, wanita dengan janin besar, janin multipel atau hidramnion rentan terhadap perdarahan akibat atonia uteri.Tanda dan gejala dari atoni uterus antara lain : kontraksi uterus lemah, perdarahan pervaginam berwarna merah tua dan diikuti tanda-tanda shock.2. Potongan plasenta yang tertinggalPerdarahan postpartum dini jarang disebabkan oleh retensi potongan plasenta yang kecil, tetapi plasenta yang tersisa sering menyebabkan perdarahan pada akhir masa nifas.Kemungkinan terjadinya postpartum diakibatkan karena tertinggalnya kotiledon atau lobus sekenturiat (terlihat pada 3% plasenta). Pemeriksaan plasenta dapat mengidentif