makalah kasus 1

  • View
    54

  • Download
    5

Embed Size (px)

Transcript

A. KASUS HIV Tn. A usia 30 tahun dirawat di ruang 20 sudah 1 bulan. Tinggi badan 170cm, berat badan saat ini 50 kg, berat badan awal 60 kgmengeluh lemas tidak bergairah diare selama 40 hari, sehari empat kalibanyaknya sebanyaklebih kurang 250 cc setiap BAB terpasang infus dextrose 500 cc 40 GTT/menit di lengan kiri. Setelah operan perawat N memeriksa ada bengkak di tempat insersi infus. Infusan tercatat 5 hari yang lalu, kemudian perawat N berencana mengganti infus dengan pemasangan yang baru tapi klie menolak dengan alasan seluruh badan terasa sakit. Tn. A merasa bahwa penyakitnya tidk bisa disembuhkan dan ingin pulang saja. Beradasarkan pemeriksaan TTV, TD : 90/60 mmHg; suhu 40 derajat, respirasi: 28 kali/menit, nadi: 90 kali/menit. Tn. A sering mendadak mengidap flu seperti flu beratsampai suatu ketika hanya karena flu tersebutTn. A nyaris pingsan. Hasil pemeriksaan Laboratorium didapatkan nilai ELISA Western Blot (+) Neutropenia, Anemis normositik normokrom, limfosit CD4+ 200 sel/ l Obat yang dikonsumsi zidofudine. STEP 1 1. Nilai ELISA western blot 2. Neutropenia 3. Anemia normositik normokrom 4. Zidofudin 5. Insersi 6. CD4+ 7. GTT STEP 21. 2. 3. 4.

Kenapa klien mengidap diare? Bagaimana seharusnya tindakan perawat yang tidak mau diganti infusan? Berapa hari normal pemasangan infus? Berapa nilai normal limfosit?

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Kenapa klien karena hanya flu sampai pingsan? Klien banyak keluhannya tapi mengapa hanya diberi satu obat? Mengapa TTV abnormal Penyebab sakit seluruh badan? Tindakan perawat untuk klien A terhadap kesembuhan? Bagaiman tindakan pertama oleh perawat dalam menangani klien A? Nilai ELISA western Blot (+) menunjukan apa? Penyebab Tn. A sering mendadak flu? Penyebab berat badan turun? Tujuan obat zidofudin dan efek sampingnya? Obata yang bisa dikonsumsi selain obat zidofudin? Faktor yang memengaruhi terhadap penyakit klien?

STEP 3 1. HIV yang diserang adalah kekebalan tubuh, diare karena banyak kuman yang masuk. 2. Pasien punya hak otonomi tapi perawat menjelaskan dulu efek samping jika tidak diganti, selain itu komunikasi terapeutik dan kolaborasi dalam pemberian antipiretik. 3. Infus maksimal 3 hari. 4. LO 5. Aliran O2 ke otak rendah dan berat badan rendah sehingga kehilangan kesadaran diri. 6. LO 7. Infut untuk tubu berkurang, adanya sekret, sistem imun gangguan suhu karena sistem imun sedangkan Respirasi dari kompensasi paru untuk napas tak efektif. 8. HIV menyerang tubuh, kekebalan lemah sementara energi kurang jadi tubuh terasa sakit atau lemah. Karena reaksi inflamasi yang menjalar ke seluruh tubuh.

9. Memperbanyak pendukung agar tindakan medis bisa dilanjutkan. Perawat berperan jangan mengacuhkan serta dukungan sosio , psiko, spiritual. 10. Diare karena menguras cairan tubuh sehingga lemah. Membujuk agar mau diganti infus. 11. LO 12. LO 13. LO 14. LO 15. LO 16. Saat kekebalan tubuh lemah mudah terserang penyakit, lingkungan juga berpengaruh. Selai itu gaya hidup dan juga keturunan. STEP 4 1. Penurunan leukosit dan peningkatan E. Colli mengakibatkan usus terinfeksi sehingga penyerapan abnormal dan terjadilah diare. 2. Virus sifatnya dorman sehingga imun rendah mengakibatkan virus aktif dan menyerang sistem pernapasan sehingga mengakibatkan peningkatan sekret mengakibatkan jalan napas terganggu dan paru berkompensasi menyebabkan respirasi meningkat dan terjadi penurunan kadar oksigen dalam darah sehingga oksigen ke otakpun berkurang yang mengakibatkan penurunan kesadaran. STEP 5 Learning Objective: Step 1 1. ELISA Western Blot 2. Neutropnia 3. Anemi normositik normokrom 4. Zidofudin 5. CD4+

Step 2 1. Nilai normal limfosit 2. Mengapa hanya diberi satu macam obat/ 3. Nilai ELISA Western Blot (+) menunjukan apa? 4. Tujun pemberian obat zidofudin dan efek sampingnya? 5. Obat yang bisa dikonsumsi selain obat zidofudin? Step 4 Semua B. ISTILAH PENTING No. 1. ELISA Linked Immunosorbent Assay) 2. Western Blot Istilah (Enzyme- Suatu Definisi pemeriksaan tes darah untuk

memeriksa infeksi HIV yang berfungsi untuk mendeteksi adanya antibody terhadap HIV didalam aliran darah. Suatu pemeriksaan lanjutan yang lebih canggih pda orang yang seropositif untuk membuktikan kebenaran hasil pemeriksaan ELISA.

3.

Anemia

Normositik Penyakit anemia, yaitu ukuran dan bentuk sel darah merah normal sera mengandung hemoglobin yang normal tetapi menderita anemia.

Normokrom

4.

Neutropenia

Kelainan pada darah yang dapat diketahui melalui jumlah sel neutrofil yang berkurang (rendah).

5.

Zidofudin

Obat yang berfungsi untuk memperlambat AIDS dan dapat menunda terjadinya AIDS pada oraang yang tertulah HIV yang belum

menujukkan gejala AIDS. 6. CD4 Salah satu jenis sel darah putih yang dapat disebut juga sel pembantu (helper-Tcell) atau juga sebagai panglima dari sistem imun.

C. PENJELASAN KASUS

1. ANATOMI DAN FISIOLOGI Sistem kekebalan tubuh sendiri diartikan sebagai semua mekanisme yang digunakan oleh tubuh untuk menangkal pengaruh faktor atau zat yang berasal dari lingkungan, yang asing bagi tubuh kita. Secara garis besar, sistem kekebalan tubuh kita dibagi menjadi dua bagian, yaitu sistem kekebalan alami (innate immunity) dan sistem kekebalan dapatan (acquired immunity) yang keduanya saling bekerja sama menangkal zat asing dari luar tubuh yang tentu apabila dibiarkan akan berbahaya bagi tubuh. Di dalam sistem ini, peranan senyawa kimia tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan cukup luas dan beragam dengan mekanisme kerja yang unik. Salah satu senyawa kimia yang berperan penting dalam kekebalan tubuh dapatan adalah antibodi. Antibodi adalah suatu protein yang dihasilkan oleh suatu sel dalam tubuh kita (dinamakan sel limfosit B dan termasuk ke dalam kelompok sel darah putih) sebagai respon terhadap adanya antigen (antigen adalah senyawa kimia atau zat asing atau mikroba yang tidak dikehendaki tubuh karena berbahaya yang mampu membangkitkan respon kekebalan pada tubuh kita) yang masuk dalam tubuh. Antibodi mempunyai ciri khas, yaitu spesifik terhadap jenis tertentu dari antigen. Ribuan atau jutaan jenis antigen yang masuk akan merangsang dibentuknya ribuan atau jutaan jenis antibodi pula. Setiap detik sekitar 2000 molekul antibodi diproduksi oleh sel limfosit B. Salah satu contoh peristiwa yang

melibatkan antibodi adalah ketika kulit kita terkena infeksi karena luka maka akan timbul nanah. Nanah ini merupakan sel darah putih penghasil antibodi yang mati setelah berperang melawan antigen. Antibodi diproduksi sesudah host diinjeksi dengan antigen. Respon antibodi merupakan puncak dari serangkaian interaksi antara makrofag, sel T, sel B terhadap hadirnya antigen asing. Tahap pertama dari respon antibodi dimulai dari fagositosis antigen oleh makrofag atau sel lain dalam system

retikuloendotelial yang meliputi sel-sel Langerhans di kulit, sel dendritik pada spleen dan lymph node, serta monosit dalam darah. Sel-sel tersebut berdasarkan fungsi imunologisnya digolongkan sebagai antigen-presenting cells (APC). Produksi antibodi diawali dengan melakukan injeksi atau imunisasi pada host atau hewan coba. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini yaitu

penanganan dan pemilihan hewan coba, cara injeksi, sifat dan dosis antigen. Kualitas suatu antibodi dinilai dari beberapa hal, yaitu: konsentrasi kemurnian dan spesifisitas. Untuk menentukan kemurnian biasanya dipakai teknik

elektroforesis. Beberapa teknik biasanya digabung untuk menentukan spesifitas sepeti kemampuan antibodi bereaksi dengan protein lain atau protein yang serupa dari spesies lain. Antibodi merupakan senjata yang tersusun dari protein dan dibentuk untuk melawan sel-sel asing yang masuk ke tubuh manusia. Senjata ini diproduksi oleh sel-sel B, sekelompok prajurit pejuang dalam sistem kekebalan. Antibodi akan menghancurkan musuh-musuh penyerbu. Antibodi mempunyai dua fungsi, pertama untuk mengikatkan diri kepada sel-sel musuh, yaitu antigen. Fungsi kedua adalah membusukkan struktur biologi antigen tersebut lalu

menghancurkannya. Berada dalam aliran darah dan cairan non-seluler, antibodi mengikatkan diri kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Mereka menandai molekulmolekul asing tempat mereka mengikatkan diri. Dengan demikian sel prajurit tubuh dapat membedakan sekaligus melumpuhkannya, layaknya tank yang hancur

dan tak dapat bergerak atau melepaskan tembakan setelah dihantam rudal saat pertempuran. Antibodi bersesuaian dengan musuhnya (antigen) secara sempurna, seperti anak kunci dengan lubangnya yang dipasang dalam struktur tiga dimensi. Tubuh manusia mampu memproduksi masing-masing antibodi yang cocok untuk hampir setiap musuh yang dihadapinya. Antibodi bukan berjenis tunggal. Sesuai dengan struktur setiap musuh, maka tubuh menciptakan antibodi khusus yang cukup kuat untuk menghadapi si musuh. Hal ini karena antibodi yang dihasilkan untuk suatu penyakit belum tentu mangkus bagi penyakit lainnya. Membuat antibodi spesifik untuk masing-masing musuh merupakan proses yang luar biasa, dan pantas dicermati. Proses ini dapat terwujud hanya jika sel-sel B mengenal struktur musuhnya dengan baik. Dan, di alam ini terdapat jutaan musuh (antigen).

2. DEFINISI HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang t