Makalah Kasus 1 Jadi

  • View
    234

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah kasus sistem respirasi

Text of Makalah Kasus 1 Jadi

MAKALAH KASUS 1TUBERKULOSIS

Disusun oleh :Kelompok 8Olvie Leonita220110140004Melinda Ardian220110140007Herlina Apriliani220110140012Wulan Selvia Andriani 220110140025Dewi Andriani 220110140036Intan Febryani R220110140052Agung Maulana Yusuf220110140058Lisnawati220110140082Tiffany Khoirunnisa220110140084Annisa Susanti K220110140087Annisa Aulia Suci220110140090Hanipah Fitriani 220110140096Mutia Nurul Annisa220110140128Nama Dosen TutorIkeu Nurhidayah, M.Kep., Sp.Kep.An

Fakultas KeperawatanUniversitas Padjadjaran2015DAFTAR ISI

Halaman JuduliDaftar IsiiiBAB I PENDAHULUAN11.1 Latar Belakang Masalah1BAB II TINJAUAN PUSTAKA22.1 Definisi22.2 Etiologi32.3 Manifestasi Klinik32.4 Patofisiologi52.5 Pengkajian62.6 Screening82.7 Pemeriksaan Penunjang102.8 Prinsip Pengobatan122.9 Pencegahan dan Pendidikan Kesehatan18BAB III ANALISIS KASUS 19BAB IV PRINSIP ASUHAN KEPERAWATAN 21BAB V PENUTUP255.1 Simpulan255.2 Saran25DAFTAR PUSTAKA26Lampiran27Notulensi SGDMind Map

ii

BAB IPENDAHULUAN0. Latar Belakang

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB ( Mycobacterium tubercolosis ). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. TB Anak adalah penyakit TB yang terjadi pada anak usia 0-14 tahun. Sumber penularan adalah pasien TB paru BTA positif, baik dewasa maupun anak karena faktor risiko penularan TB pada anak tergantung dari tingkat penularan, lama pajanan, daya tahan pada anak dan perlu diingat, pasien TB dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar daripada pasien TB dengan BTA negatif.

Tuberkulosis pada anak merupakan masalah khusus yang berbeda dengan TB pada orang dewasa. Perkembangan penyakit TB pada anak saat ini sangat pesat, contohnya saja Tuberkulosis Paru. Beban kasus TB anak di dunia tidak diketahui karena kurangnya alat diagnostik yang child-friendly dan tidak adekuatnya sistem pencatatan dan pelaporan pada kasus TB anak. Sekurang-kurangnya 500.000 anak di dunia menderita TB setiap tahunnya. Di Indonesia, proporsi kasus TB anak pada tingkat wilayah provinsi sampai fasilitas pelayanan kesehatan menunjukkan variasi proporsi yang cukup lebar yaitu 1,8-15,9%. Diperkirakan banyak anak menderita TB tidak mendapatkan penatalaksanaan yang tepat dan benar sesuai dengan ketentuan strategi DOTS sehingga kondisi tersebut akan memberikan dampak negatif pada morbiditas dan mortalitas anak.

Untuk menangani permasalahan TB anak telah diterbitkan berbagai panduan tingkat global karena TB pada anak sekarang menjadi komponen penting dalam pengendalian TB, dan dengan pendekatan kelompok risiko tinggi, salah satunya adalah anak mengingat TB merupakan salah satu penyebab utama kematian pada anak dan bayi. Melihat dari fakta dan fenomena ini, disinilah tugas kita sebagai tim pelayanan kesehatan khususnya perawat untuk melakukan penatalaksanaan kasus TB pada anak merupakan upaya komprehensif yang menggabungkan aspek klinis, program serta upaya kesehatan masyarakat.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1DefinisiPemakaian istilah flek paru secara historic berasal dari zaman dokter pra-kemerdekaan, ketika Belanda kolonial masih menduduki Indonesia, ketika itu teknologi radiodiagnosis telah tersedia sehingga pemeriksaan foto thoraks sudah memungkinkan. Istilah bercak dalam bahasa Belanda adalah Vlek. Dikatakan Vlek ketika terdapat bercak putih dalam temuan radiodiagnosis. Istilah flek paru ini sering digunakan oleh masyarakat sebagai nama lain dari Tuberkulosis.Tuberculosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang dan nodus limfe. Agens infeksius utama, Mycobacterium Tuberkulosis, adalah batang aerobic tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar ultraviolet. Gejala TBC paru adalah batuk produktif (berdahak) 3 minggu, batuk berdarah, sesak nafas, nyeri dada, lemah dan letih, berat badan menurun, nafsu makan menurun, berkeringat pada malam hari, demam yang tidak tinggi, pada anak terjadi pembesaran kelenjar limfe superficial yang tidak nyeri.Patologi:1. Tuberkulosis primerPenularan tuberkulosis karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara,biasanya menular melalui jalan napas.2. Tuberkulosis post-primerKuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun dan menyebabkan tuberkulosis dewasa ( tuberkulosis post-primer ),dalam waktu 3-10 minggu menjadi tuberkel.Bronchitis kronis adalah suatu kondisi dimana terjadi peradangan/infeksi pada bagian dinding dalam dari saluran nafas utama/bronkus. Saluran pernafasan adalah saluran yang terdapat di dalam paru-paru yang merupakan tempat aliran udara. Jika saluran pernafasan tersebut mengalami iritasi, maka akan terbentuk lendir yang tebal di dalamnya. Lendir tersebut dapat meyumbat sehingga menghalangi udara untuk mencapai paru-paru. Maka dari itu, gejala yang dapat terjadi berupa batuk berdahak yang banyak mengandung lendir, kesulitan bernafas dan dada terasa sesak. Bila keadaan ini berlangsung lebih darai 3 bulan, maka dikatakan bronchitis kronik. (Brunner & sunddart)

2.2 Etiologi1.Sumber penularan adalah pasien TB paru BTA positif, baik dewasa maupun anak.2. Anak yang terkena TB tidak selalu menularkan pada orang di sekitarnya, kecuali anak tersebut BTA Positif/ menderita adult type TB3. Faktor resiko penularan TB pada anak tergantung dari tingkat penularan, lama pajanan, daya tahan pada anak. Pasien TB dengan BTA Positif memberikan kemungkinan resiko penularan lebih besar daripada pasien TB dengan BTA negatif.4. Pasien TB dengan BTA negatif masih memiliki kemungkinan menularkan penyakit TB. Tingkat penularan pasien TB BTA Positif adalah 65%, pasien TB BTA negatif dengan hasil kultur positif adalah 26%, sedangkan pasien TB dengan hasil kultur negatif dan foto thoraks positif adalah 17%.

2.3 Manifestasi KlinikTuberkulosis paru termasuk insidius. Sebagian besar pasien menunjukkan:1. Demam tingkat rendah 2. Malaise3. Anoreksia 4. BB turun: Ketika Bakteri TB masuk mencapai alveolus, akanb menimbulkan respon imun dari magrofag. magrofag mengeluarkan TNF ( Tumor Nikrotik Factor ) dan IL 12 serta Chemokines untuk memfagositosis microorganism. Namun jika TNF dan IL 12 dikeluarkan berlebihan, makan akan merangsang pembentukan kahektin sehingga terjadilah kaheksia ( pembakaran lemak berlebih ) dan akhirnya menurunkan nafsu makan dan berat badanpun akan menurun5. Berkeringat malam 6. Nyeri dada7. Batuk menetap. Batuk pada awalnya mungkin non produktif, tetapi dapat berkembang kearah pembentukan sputum mukopurulen dengan hemoptisis.8. Benjolan dileher pada anak-anak: fungsi paru-paru belum optimal. Ketika bacteri Tb masuk ke paru-paru macrofag tidak dapat memfagositosis dengan sempurna sehingga bacteri yang belum terfagositosis akan menyebar ke saluran limfe dan menginfeksi saluran kelenjar getah bening. anak-anak biasanya mengalami TB ekstra paru. pada kasus 1 kemungkinan anak tersebut mengalami limfa denitif Tb karena gejala yang muncul adalah adanya pembesaran kelenjar limfe dileher kanan dan kiri. Benjolan ini tidak berbahaya karena TB kelenjar Tidak seperti Tb paru-paru, Tb kelenjar tidak mudah menular dan ketika pengobatan selesai benjolan akan menghilang.Tuberkulosis dapat mempunyai manifestasi atipikal pada lansia, seperti prilaku tidak biasa dan perubahan status mental, demam, anoreksia, dan penurunan berat badan. Basil TB dapat bertahan lebih dari 50 tahun dalam keadaan dorman. (Smeltzer & Bare, 2002 )

2.4 Patofisiologi TBC AnakHost yang terinfeksiBatuk, bersin, tertawa dll.

Udara tercemar(Droplet Nuclei)

Terhisap oleh orang lainMukosa SilierMukosa Intake Masuk Ke Bronkus

Tidak Terinfeksi Respon Imun TubuhReaksi Imun Meningkat Inflamasi Meluas Inflamasi Non-Spesifik

2-10 Minggu Pengeluaran Mediator Kimia Tidak Terlihat di Rontgen

Batuk Bersin Protein MolTNF Signifikan Terhadap PPD

Signifikan Terhadap IL-1 Penumpukan Sekret Kahektin PPD Set Point MK :Bersihan jalan nafas tdk efektif BB Turun

Hipertermi MK : Nutrisi < Kebutuhan

Berkeringat Di Malam

Bakteri Meningkat Pemberian OAT

Menginfeksi Saluran Nekrosis Pada Paru MK : Defisiensi Pengetahuan Limfe Fibrosis ParuLimfogen & Hematogen Encapsula Signifikan Terhadap RontgenPembengkakan Nodus Limfe Gangguan Difusi & Ventilasi MK:Gangguan Pertukaran Gas Leukositosis Penurunan Suplai O2 RR meningkat MK:Gangguan Pola NafasMK: ResTi Penyebaran Infeksi Mudah Lelah (Malaise)

MK: Gangguan Perkembangan

2.5 PengkajianA. Dasar Data Pengkajian Pasien Tuberculosis menurut buku Rencana Asuhan Keperawatan, Marilynn E. Doenges tahun 1999:1. Aktivitas/ Istirahat: Gejala : Kelelahan dan kelemahan, disebutkan pada kasus bahwa anak A mengalami berat badan yang turun dan tidak suka bermain diluar rumah. Kesulitan tidur pada malam hari karena demam.2. Integritas Ego:Gejala : Perasaan tak berdaya atau tak ada harapan saat dilakukan PPD test.Tanda : Ketakutan, pasien menangis dan kemudian ditenangkan oleh perawat.3. Makanan/Cairan: Gejala : Berat badan tidak naik tetapi cenderung turun, dengan usia anak 6 thn berat badannya 15 kg yang seharusnya berat badan idealnya adalah 20,7 kg.4. Interaksi Sosial:Gejala : Perasaan isolasi, anak A cenderung tidak suka bermain diluar dengan teman sebayanya ia lebih suka berdiam diri didalam rumah.5. Penyuluhan / pembelajar