Makalah Kasus 1 KDRT

  • View
    465

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Makalah Kasus 1 KDRT

Text of Makalah Kasus 1 KDRT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA(KDRT)REPRODUKSI SYSTEM I

Disusun Oleh :TUTOR 5SARITA SARASWATI 220110100004TSAALITS MUHARROROH220110100016TRI AYU LESTARI220110100028NUR ASIYAH 220110100040RIA OCTAVYANI220110100052SISCA DAMAYANTI220110100064WINA TRESNAWATI220110100076KAMILA AZIZAH RABIULA220110100088FEBRIANI RATNA AYU220110100100PUTRI AYU PRIMA DEWI220110100112FUJI LESTARI220110100124DHEA DEZHITA220110100136

FAKULTAS ILMU KEPERAWATANUNIVERSITAS PADJADJARAN 2013

Chair: Tsaalits Muharroroh (220110100016)Scriber meja: Nur Asiyah (220110100040)Scriber papan tulis : Tri Ayu lestari (220110100028)

Kasus 1 (KDRT)Seorang wanita berusia 30 tahun datang ke P2TP2A untuk melaporkan tindakan suaminya yang sering memukulinya. Sang istri sudah tidak kuat lagi dengan tindakan suaminya itu. Dia sering dipukuli dengan menggunakan tangan/ benda-benda di sekitarnya. Suami sering memukuli istri jika istri tidak memenuhi kebutuhannya dan terkadang suaminya sering melakukan kekerasan dalam hubungan seksual. Tidak hanya tindakan memukuli istri namun perilaku dan ucapan kasar dari suami kerap kali dilontarkan kepada sang istri. Mata pencarian suami adalah tukang becak yang sudah sering tidak bekerja karena sepi penumpang maka istri sudah tidak pernah menerima nafkah lagi dari suaminya. Mereka tinggal di perkampungan kumuh pinggiran sungan ciliwung. Anak sebanyak 5 orang yang tidak melanjutkan sekolah mereka karena masalah biaya. Sang istri menceritakan bahwa sang suami sering memukuli istrinya karena masalah sepele, suaminya sudah sering memukuli mulai usia pernikahan 3 tahun yang lalu. Saat dilakukan pemeriksaan terhadap istri terdapat luka lebam disekujur badan, tampak sering menangis dan ketakutan. Sering menyendiri dan tampak murungA. DefinisiPengertian kekerasan menurut WHO (1999) Kekerasan adalah .penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang (masyarakat) yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar atau trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak.Sedangkan, definisi dari kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT menurut UU no. 23 tahun 2004 adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau pederitaan secara fisik, seksual, psikologis dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Maka dapat disimpulkan bahwa KDRT adalah penggunaan kekuatan fisik dan ancaman terhadap seorang individu didalam keluarga terutama istri (perempuan) yang mengakibatkan trauma baik secara fisik maupun psikologis.

B. Faktor Faktor Penyebab KDRTAda faktor-faktor terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga khususnya yang dilakukan oleh suami terhadap istri, yaitu :1. Adanya hubungan kekuasaan yang tidak seimbang antara suami dan istri.Anggapan bahwa suami lebih berkuasa dari pada istri telah terkonstruk sedemikian rupa dalam keluarga dan kultur serta struktur masyarakat. Bahwa istri adalah milik suami oleh karena harus melaksanakan segala yang diinginkan oleh yang memiliki. Hal ini menyebabkan suami menjadi merasa berkuasa dan akhirnya bersikap sewenang-wenang terhadap istrinya.2. Ketergantungan ekonomi.Faktor ketergantungan istri dalam hal ekonomi kepada suami memaksa istri untuk menuruti semua keinginan suami meskipun ia merasa menderita. Bahkan, sekalipun tindakan keras dilakukan kepadnya ia tetap enggan untuk melaporkan penderitaannya dengan pertimbangan demi kelangsungan hidup dirinya dan pendidikan anak-anaknya. Hal ini dimanfaatkan oleh suami untuk bertindak sewenang-wenang kepada istrinya.3. Kekerasan sebagai alat untuk menyelesaiakan konflik.Faktor ini merupakan faktor dominan ketiga dari kasus kekerasan dalam rumah tangga. Biasanya kekerasan ini dilakukan sebagai pelampiasan dari ketersinggungan, ataupun kekecewaan karena tidak dipenuhinya keinginan, kemudian dilakukan tindakan kekerasan dengan tujuan istri dapat memenuhi keinginannya dan tidak melakukan perlawanan. Hal ini didasari oleh anggapan bahwa jika perempuan rewel maka harus diperlakukan secara keras agar ia menjadi penurut. Anggapan di atas membuktikan bahwa suami sering menggunakan kelebihan fisiknya dalam menyelesaikan problem rumah tangganya.4. Persaingan.Di sisi lain, perimbangan antara suami dan istri, baik dalam hal pendidikan, pergaulan, penguasaan ekonomi baik yang mereka alami sejak masih kuliah, di lingkungan kerja, dan lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal, dapat menimbulkan persaingan dan selanjutnya dapat menimbulkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Bahwa di satu sisi suami tidak mau kalah, sementara di sisi lain istri juga tidak mau terbelakang dan dikekang.5. Frustasi.Terkadang pula suami melakukan kekerasan terhadap istrinya karena merasa frustasi tidak bisa melakukan sesuatu yang semestinya menjadi tanggung jawabnya. Hal ini biasa terjadi pada pasangan-pasangan seperti dibawah ini :a. Belum siap kawin.b. Suami belum memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap yang mencukupi kebutuhan rumah tangga.c. Serba terbatas dalam kebebasan karena masih menumpang pada orang tua atau mertua.d. Kesempatan yang kurang bagi perempuan dalam proses hukum.Pembicaraan tentang proses hukum dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak terlepas dari pembicaraan hak dan kewajiban suami istri. Hal ini penting karena bisa jadi laporan korban kepada aparat hukum dianggap bukan sebagai tindakan kriminal tapi hanya kesalahpahaman dalam keluarga. Hal ini juga terlihat dari minimnya KUHAP membicarakan mengenai hak dan kewajiban istri sebagai korban, karena posisi dia hanya sebagai saksi pelapor atau saksi korban. Dalam proses sidang pengadilan, sangat minim kesempatan istri untuk mengungkapkan kekerasan yang ia alami.

Beberapa faktor pencetus terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai berikut :1. Faktor Masyarakat Kemiskinan Urbanisasi yang terjadi keenjangan pendapatan di antara penduduk kota. Masyarakat keluarga ketergantungan obat Lingkungan dengan frekuensi dan kriminalitas yang tinggi2. Faktor Keluarga Adanya anggota keluarga yang sakit dan membutuhkan bantuan terus-menerus, misalnya anak dengan kelainan mental dan orang lanjut usia (lansia). Kehidupan keluarga yang kacau, tidak saling mencintai dan menghargai serta tidak menghargai peran wanita. Kurang adanya keakraban dan hubungan jaringan sosial pada keluarga. Sifat kehidupan keluarga inti bukan keluarga luas.3. Faktor IndividuDi Amerika Serikat, mereka yang mempunyai resiko lebih besar mengalami kekerasan dalam rumah tangga ialah sebagai berikut : Wanita yang lajang, bercerai, atau ingin bercerai. Berumur 17-28 tahun. Ketergantungan obat atau alkohol atau riwayat ketergantungan kedua zat tersebut. Sedang hamil. Mempunyai partner dengan sifat memiliki dan cemburu berlebihan.

Faktor Presdiposisia. Faktor PsikologisPsycoanalytical Theory; Teori ini mendukung bahwa perilaku agresif merupakan akibat dari instinctual drives. Freud berpendapat bahwa perilaku manusia di pengaruhi oleh dua insting. Pertama insting hidup yang dapat di ekspresikan dengan seksualitas; dan kedua, insting kematian yang diekspresikan dengan agresivitas.Frustation agression theory ; teori yang dikembangkan oleh pengikut Freud ini berawal dari asumsi, bahwa bila usaha seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan maka akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk melukai orang atau objek yang menyebabkan frustasi. Jadi hampir semua orang melakukan tindakan agresif mempunyai riwayat perilaku agresif.Pandangan psikologi lainnya mengenai perilkau agresif, mendukung pentingnya peran dari perkembangan presdiposisi atau pengalaman hidup. Ini menggunakan pendekatan bahwa manusia mampu memilih mekanisme koping yang sifatnya tidak merusak. Beberapa contoh dari pengalaman tersebut : Kerusakan otak organik, retardasi mental, sehingga tidak mampu menyelesaikan secara efektif. Severe Emotional deprivation atau rejeksi yang berlebihan pada masa kanak-kanak, atau seduction parental, yang mengkin telah merusak hubungan saling percaya (trust) dan harga diri. Terpapar kekerasan selama masa perkembangan, termasuk child abuse atau mengobservasi kekerasan dalam keluarga, sehingga membentuk pola pertahanan atau koping.

b. Faktor Sosial BudayaSocial Learning Theory; teori yang dikembangkan oleh Bandura (1977) ini mengemukakan bahwa agresi tidak berbeda dengan respon-respon yang lain. Agresi dapat di pelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan makan semakin besar kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan merespon terhadap keterbangkitaan emosionalnya secara agresif sesuai dengan respon yang di pelajarinya. Pembelajaran ini bisa internal atau ekternal. Contoh internal; orang yang mengalami keterbangkitan seksual karena menonton film erotis menjadi lebih agresif dibandingkan mereka yang tidak menonton film tersebut; seseorang anak yang marah karena tidak boleh beli es kemudian ibunya memberinya es agar si anak mendapatkan apa yang dia inginkan. Contoh eksternal; seorang anak menunjukan perilaku agresif setelah melihat seseorang dewasa mengekspresikan berbagai bentuk perilaku agresif terhadap sebuah boneka.Kultural dapat pula mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang dapat diterima atau tidak dapat diterima. Sehingga dapat membantu individu untuk mengekspresikan marah dengan cara asertif.c. Faktor biologisAda beberapa penelitian membuktikan bahwa dorongan agresif mempunyai dasar biologis. Penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa adanya pemberian stimulus elektris ringan pada hipotalamus (yang berada di tengah sistem limbik binatang ternyata menimbulkan perilaku agre