20
LBM 2 STEP 1 1. Chemosis Is any udem / stroma conjuctiva. Karena akumulasi cairan disekitarnya. 2. Copious purullen Ditemukan saat sudah ganas. Contoh bakteri gonnocochen. Sekret bersifat seperti air dan bersifat purulen 3. Conjuctiva Injection Is hyperemys of a. Conjunctiva posterior. From fornix to limbus cornea 4. Papils Adanya suatu tonjolan pada conjuctiva STEP 2 1. How is the vascularisation of conjuctiva? 2. Why the patient have his red eyes since 3 days ago? 3. The mechanism of discharge production? 4. Why there are severe spasm palpebra, conjuctiva injection, chemosis, and copious purullen? 5. Why his eyelid difficult to open and looks sticky? 6. Why the patient in ophtalmolofy status is udem palpebra? 7. Wht there were papils in superior, inferir and tarsal conjuctiva? 8. What the relation of symphtoms with microbiology test of negative diplococcus? 9. What are the kinds of secret? 10. What the relation between age and the symphtoms? 11. What are the etiology of the disease? 12. DD?

LBM 2 Mata

  • Upload
    daning

  • View
    311

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

lbm2 modul penglihatan

Citation preview

LBM 2

STEP 11. Chemosis Is any udem / stroma conjuctiva. Karena akumulasi cairan disekitarnya.

2. Copious purullenDitemukan saat sudah ganas. Contoh bakteri gonnocochen. Sekret bersifat seperti air dan bersifat purulen

3. Conjuctiva InjectionIs hyperemys of a. Conjunctiva posterior. From fornix to limbus cornea

4. PapilsAdanya suatu tonjolan pada conjuctiva

STEP 21. How is the vascularisation of conjuctiva?2. Why the patient have his red eyes since 3 days ago?3. The mechanism of discharge production?4. Why there are severe spasm palpebra, conjuctiva injection, chemosis, and copious purullen?5. Why his eyelid difficult to open and looks sticky?6. Why the patient in ophtalmolofy status is udem palpebra?7. Wht there were papils in superior, inferir and tarsal conjuctiva?8. What the relation of symphtoms with microbiology test of negative diplococcus?9. What are the kinds of secret?10. What the relation between age and the symphtoms?11. What are the etiology of the disease?12. DD?13. What are the supportive examinations needed to the patient?14. What the therapy of scenario?

STEP 71. How is the vascularisation of conjuctiva?

Pembuluh darah pada konjungtiva :a. arteri konjngtiva posteriormendarahi konjungtiva bulbib. arteri siliar anterior atau episklera , mencabangkan : arteri episkleramasuk ke bola mata dengan arteri siliar posterior longus, bergabung membentuk arteri sirkular mayor atau pleksus siliarismendarahi iris dan badan siliar. Arteri perkorneamendarahi kornea Arteri episklera, merupakan bagian arteri siliar anteriormendarahi bola mata. Bila pembuluh darah di atas melebarmata merah. Atau bias karena pecahnya pembuluh darah di atas.(Ilmu Penyakit Mata, Sidarta Ilyas)

Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan arteria palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama dengan banyak vena konjungtiva membentuk jaringan vaskular konjungtiva yang sangat banyak (Vaughan, 2010). Konjungtiva juga menerima persarafan dari percabangan pertama nervus V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit (Tortora, 2009).

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31458/4/Chapter%20II.pdf

2. Why the patient have his red eyes since 3 days ago? Benda asing masuk tubuh akan membentuk suatu mekanisme pertahanan tubuh melalui reaksi inflamasi atau peradangan, yang pertama kali terjadi adalah adanya kalor (panas) karena vasodilatasi pembuluh darah, tapi hal ini sangat jarang terjadi pada mata karena organ nya kecil dan pembuluh darahnya tidak banyak dan kecil-kecil, kemudian akan timbul rubor (kemerahan) karena vasodilatasi pembuluh darah dan meningkatnya aliran darah pada daerah yang terkena, kemudian terjadi tumor (pembengkakan) karena adanya peningkatan masa jaringan akibat edema dan transudasi jaringan, lalu timbul dolor (rasa nyeri) karena akibat rangsangan pada serabut saraf sensoris dan akhirnya dapat menyebabkan fungsiolesa (fungsi organ yang terkena menjadi terganggu).(OFTALMOLOGI UMUM, Daniel G. Vaughan dkk)Sistem pertahanan pada konjungtivitis: Temperatur yang lebih rendah dari udara sekitar Adanya kelopak mata untuk menyibak kotoran Adanya air mata untuk membersihkan kotoran Adanya lisozim yang berperan sebagai antibakteri Adanya imunoglobulin pada air mataKhurana AK. Comprehensive Ophthalmology. Ed ke-4. New Delhi: New Age International. 2007

3. The mechanism of discharge production?Respon

-non spesifik: anatomi & fisiologi tubuh -> bakterisidal -> dihancurkan-spesifik 5 tanda inflamasi ( kalor(panas), rubor ( merah ). Semua jenis conjuctiva merah, dolor ( gatal) , tumor (chimosis) pd semua conjuctiva , fungsi olesa.Humoral : jaringan lomfoid -> sel T Infeksi -> imunitas aktif( membentuk antibodi terhadap antigen yg masuk & pasif ( didapat ) .

Antigen -> ditangkap sel fagosit -> sel Th 2 -> sitokin inflamasi -> dirangsang sel B -> igE -> diikat sel mast -> degranulasi sel mast -> mediator infla ( histamin ) -> discharge . Inflamasi -> serbukan sel radang -> leukosit lebih banyak PMN ( conjuctivitis bakteri ), MN ( virus ) -> dr stroma ke permukaan epitel -> bergabung dg fibrin dan mucus dr sel goblet -> eksudat ( menyebabkan perlengketan pd tepi mata ) -> mata sulit dibuka. Terutama pd pagi hari.

Pagi hari ?Mata terbuka -> suhu di mata dan lebih rendah drpd suhu badan -> mata tertutup ( suhu sama , karena perbedaan suhu discharge yg dihasilkan berbeda ). Saat tidur -> secret mengumpul -> melengketkan kelopak mata.

4. Why there are udem with severe spasm of palpebra , conjuctiva injection, chemosis, and copious purullen? Injeksi KonjungtivaMelebarnya pembuluh darah arteri konjungtiva posterior atau injeksi konjungtiva ini dapat terjadi akibat pengaruh mekanis, alergi, ataupun infeksi pada jaringan konjungtiva. Injeksi konjungtival mempunyai sifat :1. Mudah digerakkan dari dasarnya. Hal ini disebabkan arteri konjungtiva posterior melekat secara longgar pada konjungtiva bulbi yang mudah lepas dari dasarnya sclera.2. Pada radang konjungtiva pembuluh darah ini terutama didapatkan di daerah forniks.3. Ukuran pembuluh darah makin besar ke bagian perifer, karena asalnya dari bagian perifer atau arteri siliar anterior.4. Berwarna pembuluh darah merah segar.5. Dengan tetes adrenalin 1:1000 injeksi akan lenyap sementara.6. Gatal7. Fotofobia tidak ada8. Pupil ukuran normal dengan reaksi normal Ilyas, Sidharta.2005. Ilmu Penyakit Mata.Edisi 3.Jakarta:Balai Penerbit FKUI

Etiologi : akibat pengaruh mekanis, alergi, atau injeksi pada jaringan konjungtiva Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus. Pada hiperemia konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papila yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensasi ini merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh darah yang hiperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien mengeluh sakit pada iris atau badan silier berarti kornea terkena. OFTALMOLOGI UMUM JILID 1 EDISI 11, DANIEL VAUGHAN, WIDYA MEDIKA

Chimosis Adanya agens perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (kemosis) dan hipertrofi lapis limfoid stroma (pembentukan folikel). Sel-sel radang bermigrasi dari stroma konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Sel-sel ini kemudian bergabung dengan fibrin dan mukus dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.OFTALMOLOGI UMUM JILID 1 EDISI 11, DANIEL VAUGHAN, WIDYA MEDIKA

Spasme palpebra Udem -> spasme Copius purullenCopius : banyak Purullem : cairann keruh warna kuningHistamin -> menginfiltrasi -> infeksi sel leukosit Cairan diperiksa -> banyak sel leukosit akibat proses infeksi

5. Why his eyelid difficult to open and looks sticky? Eksudat konjungtiva sangat spesifik, berwarna putih susu kental, lengket, elastic dan fibrinous. Peningkatan sekresi mucus yang kental dan adanya peningkatan jumlah asam hyaluronat, mengakibatkan eksudat menjadi lengket. Hal ini memberikan keluhan adanya sensasi seperti ada tali atau cacing pada matanya.Penutupan kelopak mata yang lama akan membuat suhu sama dengan suhu badan. Pada kelopak mata yang terbuka biasanya suhunya lebih rendah dibandingkan suhu badan akibat penguapan air mata. Suhu mata yang sama dengan suhu badan akan mengakibatkan berkembang biaknya kuman dengan baik. Suhu badan merupakan inkubator yang optimal untuk kuman sehingga kuman akan memberikan peradangan yang lebih berat pada konjungtiva, sehingga sekret akan bertambah diwaktu bangun pagi.Ilmu Penyakit Mata, Prof. Dr. Sidarta Ilyas, Sp.M, 2002 Adanya agens perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (kemosis) dan hipertrofi lapis limfoid stroma (pembentukan folikel). Sel sel radang bermigrasi dari stroma konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Sel sel ini kemudian bergabung dengan fibrin dan mukus dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.OFTALMOLOGI UMUM JILID 1 EDISI 11, DANIEL VAUGHAN, WIDYA MEDIKA

6. Wht there were papils in superior, inferir and tarsal conjuctiva?

Etiologi : akibat pengaruh mekanis, alergi, atau injeksi pada jaringan konjungtiva Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus. Pada hiperemia konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papila yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensasi ini merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh darah yang hiperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien mengeluh sakit pada iris atau badan silier berarti kornea terkena. OFTALMOLOGI UMUM JILID 1 EDISI 11, DANIEL VAUGHAN, WIDYA MEDIKA

7. What the relation of symphtoms with microbiology test of negative diplococcus? Ophthalmology: A Pocket Textbook Atlas. Gerhard Klaus Lang. 2007

8. What are the kinds of secret?Sekret serous Encer seperti air dengan penyebabnya virus. Setelah 2-3 hari dapat menjadi mukopurulen, karena super infeksi dari kuman komensal, (daya tahan menurun sehingga kuman komensal tumbuh tak terkendali)Sekret mucous kental, bening, elastis (bila ditarik dengan ujung kapas), penyebabnya biasanya karena proses khronis/alergi Fibrin-fibrin dalam keadaan utuh. Klinis : bila ditutul kapas akan mulur (elastis) Sebab zat mucous terdiri dari fibrin

Sekret purulen Makin ganas kumannya makin purulen (nanah) mis : Gonococcen Banyak sel yang mati, terutama lekosit, dan jaringan nekrose Kuman-kumannya type ganas, fibrin sudah hancur. Bila ditutul kapas, ia akan terhisap, sifatnya seperti air,berwarna kuning Campuran : mucopurulen, kental berwarna kuning, elastis. Penyebabnya: biasanya kumankokus yang lain.

Sekret Pseudo-membranacea Seolah-olah seperti melekat pada konjungtiva tetapi mudah diambil dan tak mengakibatkan perdarahan. Penyebabnya antara lain streptococcus haemoliticus

Sekret Membranous : Misal : pada konjungtivitis diphtherica. Terbentuk sekret, sel - sel lepas dan terbentuk jaringan nekrotik. Terjadi defek konjungtiva. Membran sukar dilepas dan bila dipaksa akan berdarah karena ada ulkus dibawahnya. Bila dilepas /dikupas akan berdarah

Sekret Sanguis Sekret berdarah. Terdapat pada konjungtivitis karena virus yang sangat virulen. Sering disertai sekret purulen setelah dua/ tiga hari, karena ada super infeksi dari bakteri komensal.

9. What the relation between age and the symphtoms? Ophthalmology: A Pocket Textbook Atlas. Gerhard Klaus Lang. 2007

10. What are the etiology of the disease? BakteriDitemukan Gram (-) a. Hiperakut : pd N.Gonorhea, meningitisb. Akut : pneumococcusc. Kronik : S. Aureus, d. Subakut : H.Influenza Virus Parasit Jamur Alergi

11. DD? Secara umum, konjungtivitis dibagi menjadi empat, yaitu:Temuan Klinik dan SitologiViralBakterialKlamidialAlergik

GatalMinimalminimalminimalHebat

HiperemiaGeneralisatageneralisatageneralisatageneralisata

Mata berairBanyaksedangsedangSedang

EksudasiMinimalbanyakbanyakminimal

Adenopati preaurikulerSeringjarangHanya sering pada konjungtivitis inklusiTak ada

Pada kerokan dan eksudat yang dipulasMonositBakteri, PMNPMN, sel plasma, badan inklusiEosinofil

Disertai sakit tenggorokan dan demamSesekalisesekaliTak pernahTak pernah

(OFTALMOLOGI UMUM, Daniel G. Vaughan dkk)

OPHTHALMIA NEONATORUM

Ophthalmia neonatorum is the name given to bilateral inflammation of the conjunctiva occurring in an infant, less than 30 days old. It is a preventable disease usually occurring as a result of carelessness at the time of birth. As a matter of fact any discharge or even watering from the eyes in the first week of life should arouse suspicion of ophthalmia neonatorum, as tears are not formed till then.EtiologySource and mode of infectionInfection may occur in three ways: before birth, during birth or after birth.1. Before birth infection is very rare through infected liquor amnii in mothers with ruptured membrances2. During birth. It is the most common mode of infection from the infected birth canal especially when the child is born with face presentation or with forceps.3. After birth. Infection may occur during first bath of newborn or from soiled clothes or fingers with infected lochia.Causative agents1. Chemical conjunctivitis It is caused by silver nitrate or antibiotics used for prophylaxis.2. Gonococcal infection was considered a serious disease in the past, as it used to be responsible for 50 per cent of blindness in children. But, recently the decline in the incidence of gonorrhoea as well as effective methods of prophylaxis and treatment have almost eliminated it in developed countries. However, in many developing countries it still continues to be a problem.3. Other bacterial infections, responsible for ophthalmia neonatorum are Staphylococcus aureus, Streptococcus haemolyticus, and Streptococcus pneumoniae.4. Neonatal inclusion conjunctivitis caused by serotypes D to K of Chlamydia trachomatis is the commonest cause of ophthalmia neonatorum in developed countries.5. Herpes simplex ophthalmia neonatorum is a rare condition caused by herpes simplex-II virus.Incubation periodIt varies depending on the type of the causative agent as shown below:Causative agent Incubation period1. Chemical 4-6 hours2. Gonococcal 2-4 days3. Other bacterial 4-5 days4. Neonatal inclusion conjunctivitis 5-14 days5. Herpes simplex 5-7 daysSymptoms and signs (Fig. 4.19)1. Pain and tenderness in the eyeball.2. Conjunctival discharge. It is purulent in gonococcal ophthalmia neonatorum and mucoid or mucopurulent in other bacterial cases and neonatal inclusion conjunctivitis.3. Lids are usually swollen.4. Conjunctiva may show hyperaemia and chemosis. There might be mild papillary response in neonatal inclusion conjunctivitis and herpes simplex ophthalmia neonatorum.5. Corneal involvement, though rare, may occur in the form of superficial punctate keratitis especially in herpes simplex ophthalmia neonatorum.ComplicationsUntreated cases, especially of gonococcal ophthalmia neonatorum, may develop corneal ulceration, which may perforate rapidly resulting in corneal opacification or staphyloma formation.TreatmentProphylactic treatment is always better than curative.A. Prophylaxis needs antenatal, natal and postnatal care.1. Antenatal measures include thorough care of mother and treatment of genital infections when suspected.2. Natal measures are of utmost importance, as mostly infection occurs during childbirth. Deliveries should be conducted under hygienic conditions taking all aseptic measures. The newborn baby's closed lids should be thoroughly cleansed and dried.3. Postnatal measures include : Use of either 1 percent tetracycline ointment or 0.5 percent erythromycin ointment or 1 percent silver nitrate solution (Crede's method) into the eyes of the babies immediately after birth. Single injection of ceftriaxone 50 mg/kg IM or IV (not to exceed 125 mg) should be given to infants born to mothers with untreated gonococcal infection.B. Curative treatment. As a rule, conjunctival cytology samples and culture sensitivity swabs should be taken before starting the treatment.1. Chemical ophthalmia neonatorum is a self-limiting condition, and does not require any treatment.2. Gonococcal ophthalmia neonatorum needs prompt treatment to prevent complications.i. Topical therapy should include : Saline lavage hourly till the discharge is eliminated. Bacitracin eye ointment 4 times/day. Because of resistant strains topical penicillin therapy is not reliable. However in cases with proved penicillin susceptibility, penicillin drops 5000 to 10000 units per ml should be instilled every minute for half an hour, every five minutes for next half an hour and then half hourly till the infection is controlled. If cornea is involved then atropine sulphate ointment should be applied.ii. Systemic therapy. Neonates with gonococcal ophthalmia should be treated for 7 days with one of the following regimes: Ceftriaxone 75-100 mg/kg/day IV or IM, QID. Cefotaxime 100-150 mg/kg/day IV or IM, 12 hourly. Ciprofloxacin 10-20 mg/kg/day or Norfloxacin 10 mg/kg/day. If the gonococcal isolate is proved to be susceptible to penicillin, crystalline benzyl penicillin G 50,000 units to full term, normal weight babies and 20,000 units to premature or low weight babies should be given intramuscularly twice daily for 3 days.3. Other bacterial ophthalmia neonatorum should be treated by broad spectrum antibiotic drops and ointments for 2 weeks.4. Neonatal inclusion conjunctivitis responds well to topical tetracycline 1 per cent or erythromycin 0.5 per cent eye ointment QID for 3 weeks. However, systemic erythromycin (125 mg orally, QID for 3 weeks should also be given since the presence of chlamydia agents in the conjunctiva implies colonization of upper respiratory tract as well. Both parents should also be treated with systemic erythromycin.5. Herpes simplex conjunctivitis is usually a selflimiting disease. However, topical antiviral drugs control the infection more effectively and may prevent the recurrence.

Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. Ed ke-4. New Delhi: New Age International. 2007

Lecture Notes Oftalmologi, Bruce james.dkk12. What are the supportive examinations needed to the patient? Swab : pengecatan gram , pengecatan giemsa. Memastikan karena GO / tdk -> pengecatan metylen blue. Membedakan dg mengingococcus -> test maltosa (-)

13. What the therapy of scenario?GO -> penicilin ( salep/ suntikann ) : 50rb /kg selama 7 hariSecret dibersihkan dg kapas yg dibasahi garam fisiologis tiap jam. Penicillin tetes mata tiap jam. Periksa gonococcus tiap hari sampai negativ. Punya enzym proteolitik -> bila secret makin lama tdk dibersihkan -> kuman masuk/ tembus bola mata . masuk kornea. Harus sering dibersihkan, ditetes , dan diperiksa tiap hari. jam -> 1 jam. Injeksi / tetes mata boleh dilakukan. (injeksi jarang )