Click here to load reader

Laporan krl

  • View
    1.087

  • Download
    9

Embed Size (px)

Text of Laporan krl

LAPORAN PRAKTIKUM

KONSERVASI DAN REHABILITASI LAHAN

USAHA KONSERVASI TERHADAP TINGKAT EROSI KECAMATAN BANTARUJEGKABUPATEN MAJALENGKA, PROVINSI JAWA BARATDiajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

Konservasi dan Rehabilitasi Lahan dengan dosen pengampu1. Prof.Dr.Darsiharjo M.si2. Drs. Jupri MTDisusun oleh:

Adhi Munajar

(1000920)Dini Nuraftiani(1001670)

Ikbal Saeful Aziz(1005616)

Mochamad Fajar I (1001776)

Suyanto

(1006644)

Yegi PerulamaD(1001436)Yoga Hepta Gumilar(1002055)

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIALUNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIABANDUNG2012BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lahan adalah bagian dari sumber daya alam yang makin terbatas ketersediaannya. Seperti sumber daya alam lainnya, lahan merupakan salah satu objek pemenuhan kebutuhan manusia. Tidak ada satu pun kebutuhan manusia di dunia ini yang tidak diperoleh dari lahan. Setiap tahunnya kebutuhan manusia akan pangan, sandang dan papan selalu meningkat dan hampir semua yang kita gunakan untuk kebutuhan hidup akhirnya kembali diperoleh dari alam dimana lahan itu disediakan.

Kebutuhan dan keinginan manusia terhadap lahan merupakan sifat naluriah dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Akan tetapi dalam pemenuhan kebutuhannya selalu ditemukan sifat kurang puas. Sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan lahan. Padahal lahan termasuk di dalamnya tanah dan air mudah mengalami kerusakan. Kerusakan lahan tersebut ditandai dengan hilangnya unsur hara bagi tumbuhan dan menurunnya fungsi lahan atau tanah sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar dan air tanah tersimpan.

Kerusakan lahan dapat terjadi secara alami, akan tetapi kerusakan lahan dapat diakibatkan oleh aktivitas manusia. Kerusakan lahan oleh manusia diakibatkan oleh adanya kegiatan yang secara langsung menyebabkan rusaknya daya dukung lahan antara lain pemanfaatan lereng bukit yang tidak sesuai dengan kemampuan peruntukkannya, untuk lahan pertanian yang tidak menerapkan teknologi konservasi bahkan tidak sedikit yang berubah fungsi menjadi areal pemukiman. Selain itu perambahan hutan merupakan indikasi yang jelas dari suatu kombinasi tekanan jumlah penduduk, inkonsistensi dalam rencana tata ruang wilayah dan rendahnya penegakkan hokum.

Dalam segi ekonomi, perubahan fungsi lahan tersebut dapat memberikan keuntungan kepada para petani. Tetapi dilihat dari segi ekologinya, hutan lindung Mandalawangi menjadi rusak sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem hutan. Perubahan fungsi lahan ini merupakan salah satu penyebab terjadinya bencana longsor di Gunung Mandalawangi yang terjadi pada awal tahun 2003 yang menimpa 2 desa yaitu Desa Mandalasari (Kp. Bojong Jambu, Kp. Babakan Nenggeng dan Kp. Sindangsari), Desa Karang Mulya (Kp. Buni Anten). Curah hujan yang tinggi, keadaan lereng yang curam dan vegetasi yang sedikit tidak dapat menyerap dan menahan air hujan, menyebabkan air hujan turun langsung ke kaki gunung dengan membawa lumpur dan material lainnya. Longsor di Gunung Mandalawangi termasuk jenis longsor aliran karena pola jaringannya yang menjari yang dipicu oleh aliran air permukaan sebagai dampak dari kurangnya vegetasi yang berfungsi sebagai penutup lahan sehingga tidak dapat menyerap dan menahan air hujan yang jatuh. Kurangnya vegetasi di kawasan longsor membuat kondisi Gunung Mandalawangi terlihat gundul. Dampak yang terjadi akibat longsor Mandalawangi ini yaitu banyaknya korban jiwa dan kerusakan material. Selain itu, dampak dari longsor yang masih dirasakan sampai sekarang adalah kondisi lahan bekas longsor yang menjadi rusak, kualitas lahan pertanian yang terkena longsor menjadi jelek menyebabkan produktivitas pertanian menurun, sumber mata air hilang sehingga penduduk yang berada di kaki Gunung Mandalawangi sering kekurangan air bersih apalagi di musim kemarau. Upaya konservasi yang dilakukan setelah bencana longsor yaitu dengan menanami tanaman pinus di kawasan hutan lindung dan buah-buahan, mahoni, dan tanaman lain di sekitar kawasan longsoran tersebut yang merupakan lahan milik masyarakat. Masyarakat yang memiliki lahan di sekitar longsoran tersebut melakukan tumpangsari dengan menanami kopi, tembakau, singkong, jagung, palawija dan tanaman musiman lainnya sehingga gunung tetap terlihat gundul. Begitu pula dengan upaya konservasi, kebanyakan petani tidak memperhatikan teknik konservasi yang baik untuk mencegah pengikisan air, yaitu masih memberlakukan kemiringan lahan yang berbeda dengan teknik konservasi yang sama. Lemahnya penerapan teknik konservasi tanah dapat menyebabkan terjadinya longsor susulan. Petani di kawasan longsor sebagian besar menggunakan teknik terasering tidak sempurna tanpa adanya tanaman penguat teras.Untuk memperbaiki lahan bekas longsor, perlu ada upaya pelestarian sumber daya alam yaitu dengan melaksanakan kegiatan konservasi lahan. Kegiatan konservasi lahan bertujuan untuk mencegah kerusakan lahan agar lahan dapat terpelihara dengan baik. Jika lahan terpelihara dengan baik, maka hasil produksi pertanian pun akan baik. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mencoba meneliti permasalahan tersebut dalam penelitian dengan judul Usaha Konservasi Terhadap Tingkat Erosi Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat.B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, untuk lebih terarahnya penelitian maka dirumuskan pertanyaan sebagai berikut :1. Faktor apa yang menyebabkan terjadinya erosi di Desa Cigedang?2. Bagaimanakah pengaruh bencana erosi terhadap aktivitas masyarakat?

3. Apakah teknik konservasi yang digunakan masyarakat pada lahan bekas bencana sesuai dengan karakteristik lahan tersebut ?

C. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :1. Untuk memperoleh gambaran faktor yang menyebabkan terjadinya erosi serta longsor di Desa Bantarujeg.

2. Untuk memperoleh gambaran sejauh mana bencana fisik (erosi, longsor, banjir, dll) dapat mempengaruhi aktivitas masyarakat.3. Untuk memperoleh gambaran terhadap kesesuaian teknik konservasi yang digunakan masyarakat dengan karakteristik lahan tersebut.

D. Manfaat

Manfaat yang ingin diperoleh dalam penelitian ini adalah :1. Diperoleh informasi tentang pemanfaatan lahan yang sesuai dengan kaidah konservasi di Desa Bantarujeg.2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan daerah.

3. Sebagai bahan informasi bagi masyarakat dan praktisi kehutanan dalam pengembangan dan pengelolaan lahan konservasi.

BAB II

Tinjauan Pustaka

A. Pengertian Konservasi dan Rehabilitasi

Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi.

Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang. Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut :

a) Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).

b) Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982).

c) Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).

d) Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).

Rehabilitasi upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga. (PP tahun 2008 tentang rehabilitasi dan reklamasi hutan).

B. Aspek-aspek yang mempengaruhi rehabilitasi dan Konservasi Lahan

a. Erosi Tanah

a) Pengertian Erosi

Erosi tanah adalah penyingkiran dan pengangkutan bahan dalam bentuk larutan atau suspensi dari tapak semula oleh pelaku berupa air mengalir (aliran limpasan), es bergerak atau angin (tejoyuwono notohadiprawiro, 1998: 74). Menurut G. kartasapoetra, dkk (1991: 35), erosi adalah pengikisan atau kelongsoran yang sesungguhnya merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan angin dan air, baik yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat tindakan atau perbuatan manusia.

Dua sebab utama terjadinya erosi adalah karena sebab alamiah dan aktivitas manusia. Erosi alamiah dapat terjadi karena adanya pembentukan tanah dan proses yang terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tanah secara alami. Sedangkan erosi karena aktivitas manusia disebabkan oleh terkelupasnya lapisan tanah bagian atas akibat cara bercocok tanam yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi tanah atau kegiatan pembangunan yang bersifat merusak keadaan fisik tanah (chay asdak, 1995: 441).

Lebih lanjut tentang terjadinya erosi dikemukakan ol

Search related