of 32/32
BAB I PENDAHULUAN Stroke atau gangguan aliran darah ke otak yang disebabkan pecah atau tersumbatnya pembuluh darah sehingga pasokan oksigen dan nutrisi berkurang dan berakibat pada kerusakan jaringan otak. Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat dari gangguan fungsi otak (fokal / global) dengan gejala-gejala yang berlangsung 24 jam atau lebih atau menimbulkan kematian tanpa penyebab lain yang jelas selain vaskuler. 1 Stroke merupakan masalah bagi negara-negara berkembang. Di dunia, penyakit stroke meningkat seiring dengan modernisasi. Di Amerika Serikat, stroke menjadi penyebab kematian yang ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Diperkirakan ada 700.000 kasus stroke di Amerika Serikat setiap tahunnya, dan 200.000 diantaranya dengan serangan berulang. Menurut WHO, ada 15 juta populasi terserang stroke setiap tahun di seluruh dunia dan terbanyak adalah usia tua dengan kematian rata-rata setiap 10 tahun antara 55 dan 85 tahun. 2 Di Indonesia penelitian berskala cukup besar dilakukan oleh survey ASNA (Asean Neurologic Association) di 28 rumah sakit di seluruh Indonesia, pada penderita stroke akut yang dirawat di rumah sakit dan dilakukan survey 1

lapkas stroke

  • View
    35

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan kasus

Text of lapkas stroke

BAB I

PENDAHULUAN

Stroke atau gangguan aliran darah ke otak yang disebabkan pecah atau tersumbatnya pembuluh darah sehingga pasokan oksigen dan nutrisi berkurang dan berakibat pada kerusakan jaringan otak. Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat dari gangguan fungsi otak (fokal / global) dengan gejala-gejala yang berlangsung 24 jam atau lebih atau menimbulkan kematian tanpa penyebab lain yang jelas selain vaskuler.1Stroke merupakan masalah bagi negara-negara berkembang. Di dunia, penyakit stroke meningkat seiring dengan modernisasi. Di Amerika Serikat, stroke menjadi penyebab kematian yang ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Diperkirakan ada 700.000 kasus stroke di Amerika Serikat setiap tahunnya, dan 200.000 diantaranya dengan serangan berulang. Menurut WHO, ada 15 juta populasi terserang stroke setiap tahun di seluruh dunia dan terbanyak adalah usia tua dengan kematian rata-rata setiap 10 tahun antara 55 dan 85 tahun.2Di Indonesia penelitian berskala cukup besar dilakukan oleh survey ASNA (Asean Neurologic Association) di 28 rumah sakit di seluruh Indonesia, pada penderita stroke akut yang dirawat di rumah sakit dan dilakukan survey mengenai faktor-faktor resiko, lama perawatan, mortalitas dan morbiditasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita laki-laki lebih banyak dari perempuan dan profil usia dibawah 45 tahun cukup banyak yaitu 11,8%, usia 45-64 tahun berjumlah 54,7% dan diatas usia 65 tahun sebanyak 33,5%.3Stroke juga merupakan penyebab utama gangguan fungsional, dimana 20% penderita yang bertahan hidup masih membutuhkan perawatan di institusi kesehatan setelah 3 bulan dan 15-30% penderitanya mengalami cacat permanen. Stroke merupakan kejadian yang mengubah kehidupan dan tidak hanya mempengaruhi penderitanya namun juga seluruh keluarga dan pengasuh. Akibat gangguan fungsional ini menyebabkan penderita stroke harus mengeluarkan biaya yang besar untuk perawatan rehabilitasi disamping juga kehilangan produktivitasnya.3Pada penderita stroke dapat mengalami gangguan fungsi motorik, fungsi sensorik, saraf kranial, fungsi luhur, koordinasi dan otonom. Semua keadaan ini akan menyebabkan gangguan pada aktivitas kehidupan sehari-hari pada penderita.4 Oleh karena itu pencegahan stroke menjadi sangat penting. Upaya pencegahan antara lain berupa kontrol terhadap faktor risiko stroke dan perilaku hidup yang sehat (primary prevention). Bagi pasien yang telah mendapat serangan stroke, intervensi rehabilitasi medis sangat penting untuk mengembalikan pasien pada kemandirian mengurus diri sendiri dan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari tanpa menjadi beban bagi keluarganya.5BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Stroke

Menurut WHO, stroke adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat dari gangguan fungsi otak (fokal / global) dengan gejala-gejala yang berlangsung 24 jam atau lebih atau menimbulkan kematian tanpa penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Stroke memiliki gejala dan tanda sesuai bagian otak yang terkena, yang sebelumnya tanpa peringatan dan dapat sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, atau kematian, yang diakibatkan oleh gangguan aliran darah ke otak karena perdarahan ataupun non perdarahan.6

Gambar 1. Peredaran Darah Otak (www.faculty.washington.edu)

2.2 Epidemiologi Stroke

Stroke dapat ditemukan pada semua golongan umur, akan tetapi sebagian besar ditemukan pada golongan umur diatas 55 tahun. Insiden stroke pada usia 80-90 tahun adalah 300 per 10.000 penduduk, dimana mengalami peningkatan 100 kali lipat dibandingkan dengan insiden stroke pada usia 30-40 tahun sebesar 3 per 10.000 penduduk. Dari data di atas ditemukan kesan bahwa kejadian stroke meningkat sesuai dengan peningkatan umur.6

2.3 Faktor Risiko

Berbagai penelitian menunjukkan terdapat beberapa faktor risiko yang membuat seseorang menjadi lebih rentan terkena stroke. Faktor risiko stroke dibagi faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tak dapat dimodifikasi.6

1. Faktor risiko stroke yang tak dapat dimodifikasi

Usia Jenis kelamin

Ras atau etnis Riwayat keluarga atau keturunan2. Faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi

Hipertensi Merokok

Diabetes melitus

Obesitas

Stenosis karotis

2.4 Klasifikasi Stroke

Secara garis besar berdasarkan kelainan patologis yang terjadi, stroke dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu stroke non hemoragik dan stroke hemoragik.1. Stroke non hemoragik

Stroke non hemoragik disebabkan adanya kejadian yang menyebabkan aliran darah menjadi menurun atau bahkan terhenti sama sekali pada area tertentu di otak, misalnya karena terjadi emboli atau trombosis. Secara non hemoragik, stroke dapat dibagi berdasarkan manifestasi klinik. Berdasarkan manifestasi klinik yaitu:7

i. Serangan Iskemik Sepintas/Transient Ischemic Attack (TIA). Gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam.ii. Defisit Neurologik Iskemik Sepintas/Reversible Ischemic Neurological Deficit (RIND). Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam waktu kurang dari 3 minggu.

iii. Stroke Progresif (Progressive Stroke/Stroke In Evolution). Gejala neurologik makin lama makin berat.

iv. Stroke komplit (Completed Stroke/Permanent Stroke). Kelainan neurologik sudah menetap dan tidak berkembang lagi.

2. Stroke Hemoragik

Menurut WHO, dalam International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problem 10th Revision, stroke hemoragik dibagi atas:7

i. Perdarahan Intraserebral (PIS): Perdarahan Intraserebral (PIS) adalah perdarahan yang primer berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak dan bukan disebabkan oleh trauma. Perdarahan ini banyak disebabkan oleh hipertensi, selain itu faktor penyebab lainnya adalah aneurisma kriptogenik, diskrasia darah, penyakit darah seperti hemofilia, leukemia, trombositopenia, pemakaian antikoagulan angiomatosa dalam otak, tumor otak yang tumbuh cepat, amiloidosis serebrovaskular.ii. Perdarahan Subarakhnoidal (PSA): Perdarahan Subarakhnoidal (PSA) adalah keadaan terdapatnya/masuknya darah ke dalam ruang subarakhnoidal. Perdarahan ini terjadi karena pecahnya aneurisma (50%), pecahnya malformasi arteriovena atau MAV(5%), berasal dari PIS (20%) dan 25% penyebabnya tidak diketahui. iii. Perdarahan Subdural: Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terjadi akibat robeknya vena jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena di permukaan otak dan sinus venosus di dalam durameter atau karena robeknya araknoidea. 2.5 Gejala dan Tanda Stroke1. Adanya serangan defisit neurologis/kelumpuhan fokal, seperti hemiparesis (lumpuh sebelah badan yang kanan atau yang kiri saja)2. Mati rasa sebelah badan, terasa kesemutan, atau terbakar 3. Mulut atau lidah mencong jika diluruskan4. Sukar bicara atau bicara tidak lancar dan tidak jelas5. Tidak memahami pembicaraan orang lain6. Kesulitan mendengar, melihat, menelan, menulis, membaca, serta tidak memahami tulisan7. Kecerdasan menurun dan sering mengalami vertigo 8. Menjadi pelupa atau demensia9. Penglihatan terganggu, sebagian lapangan pandang tidak terlihat, gangguan pandangan tanpa rasa nyeri, penglihatan gelap atau ganda sesaat (hemianopsia)10. Tuli satu telinga atau pendengaran berkurang11. Emosi tidak stabil, seperti mudah menangis dan tertawa12. Kelopak mata sulit di buka13. Gerakan tidak terkoordinasi, seperti kehilangan keseimbangan14. Biasanya diawali dengan Transient Ischemic Attack (TIA) atau serangan stroke sementara.15. Gangguan kesadaran, seperti pingsan bahkan koma.62.6 Patogenesis Stroke1. Stroke Hemoragik

Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruang subaraknoid yang menimbulkan perubahan komponen intrakranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intrakranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga dapat berakibat kematian. Di samping itu, darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subaraknoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak, dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.82. Stroke Non Hemoragik

Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh trombus atau embolus. Trombus umunya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area trombus menjadi berkurang menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. Emboli disebabkan oleh embolus yang menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologi fokal. Perdarahan otak dapat disebakan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.82.7 Diagnosis Stroke

Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke di Indonesia 1999 mengemukakan bahwa diagnosis dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.91. Anamnesis

Anamnesis dapat dilakukan pada penderita sendiri, keluarga yang mengerti tentang penyakit yang diderita. Anamnesis dilakukan dengan mengetahui riwayat perjalanan penyakit, misalnya waktu kejadian, penyakit lain yang diderita, faktor-faktor risiko yang menyertai stroke.92. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain: pemeriksaan fisik umum (yaitu pemeriksaan tingkat kesadaran, suhu, denyut nadi, anemia, paru dan jantung, pemeriksaan neurologis dan neurovaskuler.93. Pemeriksaan Penunjang

Kemajuan teknologi kedokteran memberi kemudahan untuk membedakan antara stroke hemoragik dan stroke iskemik diantaranya: Computerized Tomograph Scanning (CT Scan), Cerebral angiografi, Elektroensefalografi (EEG), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Elektrokardiografi (EKG), pemeriksaan laboratorium dan lainnya.92.8 Rehabilitasi Medik

Program rehabilitasi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang terpadu dengan pendekatan medik, psikososial, educational vocational yang bertujuan mencapai kemampuan fungsional semaksimal mungkin dan mencegah serangan berulang. Dalam pelayanan rehabilitasi ini merupakan pelayanan dengan pendekatan multidisiplin yang terdiri dari dokter ahli saraf, dokter rehabilitasi medik, perawat, fisioterapi, terapi okupasi, pekerja sosial medik, psikolog serta klien dan keluarga turut berperan. Mobilisasi merupakan salah satu bentuk rehabilitasi awal dari kondisi penyakit tertentu, dalam hal ini pada klien yang mengalami serangan stroke sehingga terhindar dari komplikasi.102.9 Rehabilitasi Medik pada penderita stroke

Rehabilitasi medik mencakup fisik terapi, okupasional terapi dan terapi bicara. Di unit rehabilitasi penderita dan keluarga diberi pemahaman mengenai defisit neurologis yang diderita, mencegah komplikasi imobilisasi (misalnya pneumonia, deep vein thrombosis dan emboli paru, dekubitus, dan kontraktur otot), dan diberi instruksi-instruksi untuk mengatasi defisitnya.11Rehabilitasi stroke merupakan sebuah program komprehensif yang terkoordinasi antara medis rehabilitasi dengan tujuan mengoptimalkan dan memodifikasi kemampuan fungsional yang ada.12 Rehabilitasi medik meliputi tiga hal, yaitu rehabilitasi medikal, sosial,dan vokasional. 101. Rehabilitasi medik merupakan upaya mengembalikan kemampuan klien secara fisik pada keadaan semula sebelum sakit dalam waktu sesingkat mungkin.2. Rehabilitasi sosial merupakan upaya bimbingan sosial berupa bantuan sosial guna memperoleh lapangan kerja

3. Rehabilitasi vokasional merupakan upaya pembinaan yang bertujuan agar penderita cacat menjadi tenaga produktif serta dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan kemampuannya.

Prinsip-prinsip Rehabilitasi Medik:

1. Rehabilitasi dimulai sedini mungkin, bahkan dapat dikatakan bahwa rehabilitasi segera dimulai sejak dokter melihat penderita untuk pertama kalinya.2. Tidak ada seorang penderitapun yang boleh berbaring satu hari lebih lama dari waktu yang diperlukan, karena akan mengakibatkan komplikasi.

3. Rehabilitasi merupakan terapi multidisipliner terhadap seorang penderita dan rehabilitasi merupakan terapi terhadap seorang penderita seutuhnya.

4. Faktor yang paling penting dalam rehabilitasi adalah kontinuitas perawatan.

5. Perhatian untuk rehabilitasi lebih dikaitkan dengan sisa kemampuan fungsi neuromuskuler yang masih ada, atau dengan sisa kemampuan yang masih dapat diperbaiki dengan latihan.

6. Dalam pelaksanaan rehabilitasi termasuk pula upaya pencegahan serangan berulang.10Tahap Rehabilitasi.

1. Rehabilitasi stadium akut. Sejak awal tim rehabilitasi medik sudah diikutkan, terutama untuk mobilisasi. Programnya dijalankan oleh tim, biasanya latihan aktif dimulai sesudah prosesnya stabil, 24-72 jam sesudah serangan, kecuali perdarahan. Sejak awal terapi wicara diikut sertakan untuk melatih otot-otot menelan yang biasanya terganggu pada stadium akut. Psikolog dan Pekerja Sosial Medik untuk mengevaluasi status psikis dan membantu kesulitan keluarga.2. Rehabilitasi stadium subakut. Pada stadium ini kesadaran membaik, penderita mulai menunjukkan tanda-tanda depresi, fungsi bahasa mulai dapat terperinci.3. Rehabilitasi stadium kronik.Pada saat ini terapi kelompok telah ditekankan, dimana terapi ini biasanya sudah dapat dimulai pada akhir stadium subakut. Keluarga penderita lebih banyak dilibatkan, pekerja medik sosial, dan psikolog harus lebih aktif.10Terapi latihan

Terapi latihan adalah salah satu alat mempercepat pemulihan pasien dari cedera dan penyakit yang dalam pelaksanaannya menggunakan gerakan-gerakan aktif maupun pasif. Terapi latihan adalah kegiatan fisik yang reguler dan dilakukan dengan tujuan meningkatkan atau mempertahankan kebugaran fisik atau kesehatan dan termasuk di dalamnya fisioterapi dan okupasional terapi. 11Teknik fisioterapi1. Terapi panas seperi sinar infrared atau hot packs untuk mengurangi nyeri, relaksasi spasme otot superfisial dan meningkatkan aliran darah superfisial. Micro Wave Diathermy (MWD), Short Wave Diathermy (SWD), Ultra Sound Diathermy(USD). Terapi ini dapat diberikan misalnya pada penderita cervikal root syndrome, low back pain, dan sebagainya.2. Terapi listrik atau Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) untuk menghilangkan nyeri dan spasme otot. TENS paling sering digunakan untuk nyeri akut dan dapat juga nyeri kronik.Terapi ini dapat diberikan misalnya pada penderita dengan nyeri pasca operasi untuk mengurangi nyeri, carpal tunnel syndrome, dan sebagainya.

3. Teknik masase merupakan terapi fisik tertua dan termurah. Pada indikasi dan teknik yang tepat, hasil terapeutik sangat nyata. Digunakan untuk menghilangkan nyeri otot dan tendon, spasme otot, adhesi jaringan kutan dan subkutan serta relaksasi.Terapi ini dapat diberikan misalnya pada penderita stroke.

4. Hidroterapi adalah terapi fisik dengan menggunakan sifat-sifat fisik air. Manfaat air di dalam terapi latihan terlihat dari efek buoyancy air yang akan mengurangi efek gravitasi pada bagian manapun dari tubuh sehingga terdapat penurunan aktifitas tubuh dan latihan tidak disertai rasa nyeri. Terapi ini dapat diberikan misalnya pada penderita stroke.

Terapi ortotik prostetik dilakukan untuk mengembalikan fungsi dan mencegah atau mengoreksi kecacatan pasien. Digunakan alat bantu seperti: tripod, quadripod, dan walker.Terapi wicara adalah suatu tindakan atau usaha penyembuhan mengenai kelainan bahasa, suara, dan bicara. 13Psikolog melakukan evaluasi dan mengobati gangguan mental akibat penyakit, untuk meningkatkan motivasi serta berusaha mengatasi penyakitnya.13Pendekatan psikologis terutama berguna untuk memulihkan kepercayaan diri pasien yang biasanya sangat menurun setelah terjadinya stroke.14Petugas sosial medik memberikan bantuan kepada pasien demi menghadapi masalah sosial yang mempengaruhi pasien dalam hubungan dengan penyakit dan pasien. 13Setelah pasien bisa berjalan sendiri, terapi fisik dan okupasi perlu diberikan agar pasien bisa kembali mandiri.14 Terapi okupasi bertujuan untuk mengembangkan kecakapan/ keterampilan penderita untuk mencapai kehidupan yang produktif serta untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam hidup serta lingkungan mereka masing-masing. Terapi okupasi pada pasien stroke mencakup latihan:aktifitas kehidupan sehari-hari (makan, mandi, danberpakaian), latihan prevokasional, proper Body Mechanism, dan latihan dengan aktifitas.14BAB III

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PENDERITA

Nama

:Ny. LT

Umur

:54 tahun

Jenis kelamin

:Perempuan

Alamat

:Motoling

Pekerjaan

:Guru TK

Agama

:Kristen Protestan

Tanggal pemeriksaan

:23 September 2014

ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS)

Keluhan Utama

Kelemahan anggota gerak kiri.

Riwayat Penyakit Sekarang

Kelemahan anggota gerak kiri dialami oleh penderita sejak bulan Maret 2014. Terjadi secara tiba-tiba pada saat penderita sedang membersihkan rumah. Penderita langsung dibawah ke Rumah Sakit dan dirawat selama 12 hari. Kelemahan disertai dengan adanya bicara pelo,sakit kepala dan mulut mencong. Riwayat tersedak saat minum tidak ada. Riwayat mual,muntah, kejang dan penurunan kesadaran tidak ada. Buang air besar dan buang air kecil biasa. Saat ini penderita masih merasakan anggota gerak kirinya lemah namun penderita sudah dapat berjalan sendiri. Namun masih merasa kesulitan memakai baju sendiri dan naik turun tangga. Bicara sudah normal. Mulut Mencong tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat hipertensi (+) sejak 1 tahun lalu, minum obat tidak teratur.

Riwayat kolesterol (+) 6 bulan yang lalu

Riwayat DM, asam urat dan penyakit jantung belum pernah dialami penderita.

Riwayat stroke sebelumnya tidak ada.

Riwayat Penyakit Keluarga

Hanya penderita yang sakit seperti ini dalam keluarga.

Riwayat Kebiasaan

Pasien dominan menggunakan tangan kanan dalam melakukan aktivitasnya

Riwayat merokok dan alkohol tidak ada.

Sering makan makanan berlemak

Riwayat Sosial Ekonomi

Penderita adalah ibu rumah tangga, tinggal di rumah permanen 1 lantai dengan 2 anak tangga ke dapur, bersama suami dan 2 orang anaknya. Sumber penerangan dari Perusahaan Listrik Negara, air bersih berasal dari Perusahaan Air Minum, Wet Closet duduk berada di dalam rumah. Biaya sehari-hari cukup. Biaya pengobatan ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Riwayat Psikologis

Penderita merasa cemas dengan sakit yang dialaminya.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis

Keadaan umum

: Sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: E4M6V5

Tanda Vital

: Tekanan darah= 130/90 mmHg

Nadi

= 88 x/menit

Pernapasan

= 20 x/menit

Suhu

= 36,00 C

IMT (BB/TB2)

: 60(kg) / 1,552 (m2) = 24,97 kg/m2 (normal)

Kepala

: Normochepal

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat isokor 3 mm kiri = kanan, refleks cahaya langsung (+/+), refleks cahaya tidak langsung (+/+)

Hidung

: Sekret (-)

Telinga

: Sekret (-)

Mulut

: mencong (-)

Leher

: Trakea letak tengah, pembesaran KGB (-)

Toraks

: Simetris kiri = kanan.

Cor dan pulmo: dalam batas normal.

Abdomen

: Datar lemas, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba,

bising usus (+) normal

Ekstermitas

: Akral hangat, edema (-)

Status NeurologisKesadaran

: Glasgow Coma Scale Eye4 Motoric6 Verbal5

Tanda Rangsang Meningeal: Kaku Kuduk (-), laseque (-), kernig (-)

Nervus kranialis

: N.Olfaktorius: Normosmia

N. Optikus

: Normal

N. Okulomotorius: Normal

N. Trokhlearis: Normal

N. Trigeminus: Normal

N. Abdusen

: Normal

N. Facialis

: Normal

N. Vestibulo-kokhlearis : Normal

N. Glosofaringeus: Normal

N. Vagus

: Normal

N. Aksesorius: Normal

N. Hipoglosus: Normal

Status Motorik

Ekstremitas SuperiorEkstremitas inferior

DekstraSinistraDekstraSinistra

Gerakan

Kekuatan Otot

Tonus Otot

Refleks fisiologis

Refleks patologis

Sensibilitas

Protopatik

Proprioseptik Normal

5/5/5/5

Normal

+ Normal

Negatif

Normal

Normal Menurun

4/4/4/4

Menurun

+ Meningkat

Negatif

Normal

NormalNormal

5/5/5/5

Normal

+ Normal

Negatif

Normal

NormalMenurun

4/4/4/4

Menurun

+ Meningkat

Negatif

Normal

Normal

Indeks BarthelAktivitasTingkat KemandirianNNilai

Bladder Kontinensia, tanpa memakai alat bantu.

Kadang-kadang ngompol.

Inkontinensia urin. 10

5

010

Bowel/BAB Kontinensia, supositoria memakai alat bantu.

Dibantu.

Mandiri. 10

5

010

Toileting

Tanpa dibantu (buka/pakai baju, bersihkan dubur tidak mengotori baju), boleh berpegangan pada dinding, benda.

Dibantu hanya salah satu kegiatan diatas.

Dibantu. 10

5

05

Kebersihan diri Tanpa dibantu cuci muka, menyisir rambut, hias, gosok gigi, termasuk persiapan alat-alat tersebut.

Dibantu. 5

05

Berpakaian Tanpa dibantu

Dibantu sebagian

Dibantu. 10

5

05

Makan Tanpa dibantu.

Memakai alat-alat makan dibantu sebagian.

Dibantu. 10

5

010

Transfer/ berpindah Tanpa dibantu berpindah.

Bantuan minor secara fisik atau verbal.

Bantuan mayor secara fisik, tetapi dapat duduk tanpa dibantu.

Tidak dapat duduk / berpindah. 15

10

5

010

Mobilitas Berjalan 16m di tempat datar, boleh dengan alat bantu kecuali rolling walker, berjalan tanpa dibantu.

Menguasai alat bantunya, memakai kursi roda dengan dibantu.

Immobile. 15

10

515

Naik turun tangga Tanpa dibantu.

Dibantu secara fisik / verbal

Tidak dapat. 10

5

05

Mandi Tanpa dibantu.

Dibantu. 5

05

Total 10080

Nilai Interpretasi: 0-20 Disabilitas Total

80-90 Disabilitas Ringan25-45 Disabilitas Berat

100 Mandiri

50-75 Disabilitas Sedang Pemeriksaan Status Mini Mental

AspekPemeriksaanNilai

OrientasiSekarang ini tahun, musim, bulan, tanggal, hari apa?

Kita dimana? (Negara, propinsi, kota, rumah)5

55

5

RegistrasiPewawancara menyebutkan nama 3 buah benda; lemari, sepatu, buku, satu detik untuk setiap benda. Lansia mengulang ke 3 nama benda tersebut. Berikan 1 untuk setiap jawaban yang benar33

Atensi dan kalkulasiKurangi 100 dengan 7. Nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar. Hentikan setiap 5 jawaban. Atau, minta mengeja terbalik kata WAHYU (nilai diberi pada huruf yang benar sebelum kesalahan, misalnya uyahw = 2 nilai)53

MengingatTanyakan kembali nama 3 benda yang telah disebutkan di atas. Berilah nilai 1 untuk setiapjawaban yang benar.33

BahasaApakah nama benda ini? Perlihatkan pensil dan buku Ulangilah kalimat berikut : tanpa, bila, tetapiLaksanakan 3 buah perintah ini: Peganglah selembar kertas dengan tangan kanan, lipatlah kertas itu pada pertengahan dan letakkanlah di lantai

Pasien disuruh membaca dan melakukan perintah : pejamkan mata anda

Pasien disuruh menulis dengan spontan

Pasien disuruh menggambar benda di bawah ini

2

1

3

1

1

12

1

3

1

1

1

Total3028

Penilaian : < 24 dianggap terdapat gangguan kognitif

> 24 dianggap tidak terdapat gangguan kognitif

RESUME

Perempuan, 54 tahun, dengan kelemahan anggota gerak kiri sejak bulan Maret 2014. Terjadi secara tiba-tiba pada saat penderita sedang beraktivitas. Sakit kepala (+), bicara pelo (+). Riwayat hipertensi (+) tidak terkontrol. Riwayat kolesterol (+) sejak 6 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 130/90 mmHg, Nadi 88x/menit, Suhu 36C, RR 20x/menit, GCS: E4M6V5. Pemeriksaan nervus kranialis paresis tidak ada. Pada status motorik: kekuatan otot ektremitas superior sinistra 4/4/4/4 dan ekstremitas inferior sinistra 4/4/4/4, tonus otot menurun dan refleks fisiologis meningkat pada ekstremitas superior dan inferior sinistra. Indeks barthel 80 (disabilitas ringan) dan MMSE 28 (tidak ada gangguan kognitif).Diagnosis klinis: Hemiparesis sinistraDiagnosis etiologi: Stroke Iskemik

Diagnosis topis

: SubkortikalDiagnosis fungsional : Disabilitas ringan ( berpakaian dan naik

turun tangga )Problem: Kelemahan anggota gerak kiri (kekuatan otot ekstremitas superior sinistra 4/4/4/4 dan ekstremitas inferior sinistra 4/4/4/4) Gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari ( berpakaian dan naik turun tangga) Penderita cemas dengan sakit yang dialaminya.PROGRAM REHABILITASI MEDIK

Fisioterapi

Evaluasi :

Kelemahan anggota gerak kiri (kekuatan otot ekstremitas superior sinistra 4/4/4/4 dan ekstremitas inferior sinistra 4/4/4/4 )

Gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari ( berpakaian dan naik turun tangga),Program :

Infra red (IR) pada ekstremitas superior dan inferior sinistra

Latihan peningkatan lingkup gerak sendi (LGS) ekstremitas superior inferior dextra dan sinistra sebagai maintenence

Latihan kekuatan otot aktif dengan tahanan ekstremitas superior dan inferior sinistra

Latihan naik turun tangga Terapi Okupasi

Evaluasi :

Kelemahan anggota gerak kiri ( kekuatan otot ekstremitas superior sinistra 4/4/4/4 dan ekstremitas inferior sinistra 4/4/4/4 )

Gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari ( berpakaian dan naik turun tangga),Program :

Latihan peningkatan AKS (aktivitas kehidupan sehari-hari) dengan aktivitas dan keterampilan

Latihan koordinasi jari-jari tangan kiri

Ortotik Prostetik

Evaluasi :

Kelemahan anggota gerak kiri ( kekuatan otot ekstremitas superior sinistra 4/4/4/4 dan ekstremitas inferior sinistra 4/4/4/4 )

Program : Pasien ini memerlukan tripod

Terapi Wicara

Evaluasi:

Bicara dan menelan biasa

Program:

Saat ini belum ada Psikologi

Evaluasi :

Kontak dan pengertian baik

Penderita cemas dengan penyakitnya Program :

Memberi dukungan mental kepada penderita dan keluarganya agar penderita tidak cemas dengan sakitnya

Memberi dukungan agar penderita rajin menjalani terapi

Sosial MedikEvaluasi :

Penderita tinggal di rumah permanen dengan WC duduk.

Biaya hidup sehari-hari cukup

Program :

Kunjungan rumah untuk evaluasi faktor-faktor risiko di rumah dan lingkungan sekitarnya

EDUKASI

Rajin kontrol Rehabilitasi Medik dan Neurologi

Latihan fisik teratur

Mengatur pola makan

PROGNOSIS

Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam: dubia ad bonam

Quo ad sanationam: dubia ad bonam

DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. Stroke, Cerebrovascular accident. 2014. [citied 2014 sept 2]. Available from: http://www.who.int/topics/cerebrovascular_accident/en/ 2. Cristy I. Asosiasi genotip apolipoprotein dengan fungsi kognitif pada pasien pasca stroke iskemik [tesis]. Semarang: Universitas Diponegoro; 2011.3. Manurung ESA. Hubungan outcome fungsional dengan territori vaskular pada pasien stroke iskemik [tesis]. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara; 2011.4. Santoso TA. Kemandirian aktivitas makan, mandi dan berpakaian pada penderita stroke 6-24 bulan pasca okupasi [tesis]. Semarang: Program Studi Ilmu Rehabilitasi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro; 2013.5. Wirawan RP. Rehabilitasi stroke pada pelayanan kesehatan primer. Maj Kedokt Indon. 2009;(59):2:61-71.6. Nastiti D. Gambaran faktor risiko kejadian stroke pada pasien stroke rawat inap di Rumah Sakit Krakatau Medika Tahun 2011 [skripsi]. Depok: Program Studi Kesehatan Masyarakat; 2012.7. Sinaga SA. Karakteristik penderita stroke rawat inap di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2002-2006 [skripsi]. Universitas Sumatera Utara; 2008 8. Sirait M. Karakteristik penderita stroke hemoragik yang di rawat inap di RSUP H Adam Malik Medan Tahun 2007-2008 [skripsi]. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2009.9. Purwanti OS, Maliya A. Rehabilitasi klien pasca stroke. 2008:1(5):43-46.10. Yulinda W. Pengaruh empat minggu terapi latihan pada kemampuan motorik penderita stroke iskemia di RSUP H.Adam Malik Medan [skripsi]. Medan: Universitas Sumatera Utara; 200911. Widiyanto. Terapi gerak bagi penderita stroke. Medikora. 2009;1(5):118-129.12. Martono H, Kuswardani RAT. Strok dan penatalaksanaannya oleh internis. Dalam Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat penerbitan ilmu penyakit dalam;2010.hal.892-8.13. Sengkey LS, Angliadi LS, Mogi TI. Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik. 2006;1-60.22