Click here to load reader

Kortikosteroid Sistemik

  • View
    23

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

DAFTAR PUSTAKA1. Chrousos,George. Adrenocorticosteroid and Adrenocortical Antagonists. In: Katzung BG, editor. Basic and Clinical Pharmacology. 9th ed.USA : The McGraw-Hill Companies, Inc., 2004 : 641-6582. Valencia,Isabel,Kerdel,Fransisco. Topical Glukocorticosteroids. In:Wolff, Klaus, Jhonson, Richard, editor. Fitzpatrick’s Colour Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 5th edition. USA : The McGraw-Hill Companies, Inc., 2005 : 2324 – 2327.

Text of Kortikosteroid Sistemik

CLINICAL SCIENCE SESSION

KORTIKOSTEROID SISTEMIK

Oleh:

Valentine Natasya 1301-1211-0630

Rani Pitta Omas1301-1211-0655

Preseptor:

Reiva Farah Dwiyana, dr., SpKK., M. Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

RUMAH SAKIT DR. HASAN SADIKIN

BANDUNG

2012

Pendahuluan

Kortikosteroid dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid. Efek utama glukokortikoid adalah penyimpanan glikogen hepar dan efek anti-inflamasinya, sedangkan pengaruhnya pada keseimbangan air dan elektrolit kecil. Efek utama golongan mineralokortikoid adalah terhadap keseimbangan air dan elektrolit, sedangkan pengaruhnya pada penyimpanan glikogen hepar kecil. Golongan mineralokortikoid tidak mempunyai efek anti-inflamasi.

Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 3 golongan berdasarkan masa kerjanya, yaitu kerja singkat, sedang, dan lama. Sediaan kerja singkat mempunyai masa paruh biologis kurang dari 12 jam. Sediaan kerja sedang mempunyai masa paruh biologis 12-36 jam. Sediaan kerja lama mempunyai masa paruh biologis lebih dari 36 jam.

Kortikosteroid alami yang paling banyak dihasilkan oleh tubuh adalah kortisol. Kortisol disintesis dari kolesterol oleh kortex adrenal. Sekresi kortisol per hari berkisar antara 10 sampai 20 mg, dengan puncak diurnal sekitar pukul 8 pagi.

Cara pemberian dan dosis

Sediaan kortikosteroid dapat diberikan secara oral, parenteral (IV, IM, intrasinovial, dan intra lesi), topikal pada kulit dan mata (dalam bentuk salep, krim, losion), serta aerosol melalui jalan nafas. Kortikosteroid sistemik banyak digunakan dalam bidang dermatologi karena obat tersebut memiliki efek anti-inflamasi.

Jika glukokortikoid oral diresepkan, prednison merupakan sediaan yang paling umum dipilih. Glukokortikoid biasanya diberikan harian, meskipun untuk penyakit akut dosis terpisah harian dapat diberikan. Dosis inisial sering diberikan harian untuk mengontrol proses penyakit, dapat berkisar antara 2,5 mg sampai beberapa ratus miligram per hari. Jika digunakan kurang dari 2 minggu, pengobatan glukokortikoid dapat dihentikan tanpa tapering. Dosis minimal yang memungkinkan dari agen short-acting untuk diberikan setiap pagi akan meminimalisir efek samping. Karena kadar kortisol memuncak pada sekitar jam 8 pagi, aksis HPA paling sedikit tersupresi bila diberikan pada pagi hari tersebut. Ini disebabkan karena feedback maksimal dari supresi sekresi ACTH oleh pituitari telah terjadi. Glukokortikoid kadar rendah saat malam memberikan efek sekresi yang normal dari ACTH.

Glukokortikoid intravena digunakan dalam dua situasi. Yang pertama adalah untuk penanganan stress pada pasien yang sakit akut atau yang menjalani operasi, dan untuk pasien yang memiliki adrenal supresi dari terapi glukokortikoid harian. Yang kedua adalah untuk pasien dengan penyakit tertentu, seperti resistent pyoderma gangrenosum, pemfigus atau pemfigoid bulosa yang parah, SLE yang serius, atau dermatomyositis, untuk mencapai pengendalian yang cepat terhadap penyakit. Methylprednisolone digunakan dengan dosis 500 mg sampai 1 g perhari karena potensinya yang tinggi dan aktivitas retensi sodium yang rendah. Efek samping serius yang berhubungan dengan pemberian intravena adalah reaksi anafilaktik, kejang, aritmia, dan sudden death. Efek samping lain adalah hipotensi, hipertensi, hiperglikemi, pergeseran elektrolit, dan psikosis akut. Pemberian yang lebih lambat, 2-3 jam, telah meminimalisir banyak efek samping yang serius.

Mekanisme Kerja

Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormon memasuki sel jaringan melalui membran plama secara difusi pasif di jaringan target, kemudian bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel jaringan dan membentuk kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan konfirmasi, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini merupakan perantara efek fisiologis steroid.

Efek

Pengaruh kortikosteroid terhadap fungsi dan organ tubuh :

a. Glukokortikoid

Menimbulkan metabolisme perantara normal

Glukokortikoid membantu glukoneogenesis dengan jalan meningkatkan ambilan asam amino oleh hati dan ginjal serta meningkatkan aktivitas enzim glukoneogenik. Obat-obat ini merangsang katabolisme protein dan lipolisis.

Meningkatkan retensi terhadap stress

Dengan meningkatkan kadar glukosa plasma, glukokortikoid memberikan energi yang diperlukan tubuh untuk melawan stress yang disebabkan oleh trauma, infeksi, perdarahan, dan ketakutan. Glukokortikoid dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, dengan jalan meningkatkan efek vasokonstriksi rangsangan adrenergik pada pembuluh darah kecil.

Merubah kadar sel darah dalam plasma

Glukokortikoid menyebabkan penurunan eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit dengan jalan meredistribusinya ke dalam jaringan limfoid dari sirkulasi. Sebaliknya, glukokortikoid meningkatkan kadar haemoglobin trombosit, eritrosit, dan leukosit polimorfonuklear dalam darah.

Efek anti-inflamasi

Glukokortikoid memiliki kemampuan untuk mengurangi respon peradangan secara dramatis dan untuk menekan imunitas. Penggunaan klinik kortikoteroid sebagai anti-inflamasi merupakan terapi paliatif, yaitu gejalanya dihambat sedangkan penyebabnya masih ada.

Mekanisme kerja anti-inflamasi glukokortikosteroid melalui difusi pasif glukokortikosteroid melalui membran sel, diikuti pengikatan ke protein reseptor di sitoplasma. Kompleks hormon-reseptor ini kemudian bergerak menuju nukleus dan meregulasi transkripsi beberapa gen target. Terdapat 3 mekanisme utama dari glukokortikoid, sebagai berikut:

1. Efek langsung pada ekspresi gen dengan membentuk ikatan antara reseptor glukokortikoid (GRs) dan elemen responsif glukokortikoid (GREs). Hal ini menyebabkan induksi protein seperti annexin I dan MAPK phosphatase (menurunkan produksi phospholipase A2 mengurangi asam arakidonat berkurangnya formasi prostaglandin dan leukotrien)

2. Efek tidak langsung melalui interaksi antara GRs dengan faktor transkripsi lain. Hal ini menyebabkan efek inhibisi pada sintesis mediator-mediator pro-inflamatori (sitokin, interleukin, molekul adesi, dan protease)

3. Efek yang dimediasi oleh reseptor glukokortikoid melalui second messenger cascades, pada non-genomic pathway.

Mempengaruhi komponen lain sistem endokrin

Penghambatan umpan balik produksi kortikotropin oleh peningkatan glukokortikoid menyebabkan penghambatan sintesis glukokortikoid lebih lanjut, sedangkan hormon pertumbuhan menurun.

Efek pada sistem lain

Dosis tinggi glukokortikoid merangsang asam lambung dan produksi pepsin yang dapat menyebabkan eksaserbasi ulkus. Efeknya pada susunan saraf pusat mempengaruhi status mental. Terapi glukokortikoid kronik dapat menyebabkan kehilangan massa tulang berat. Miopati mnimbulkan keluhan lemah.

b. Mineralokortikoid

Mineralokortikoid membantu kontrol volume cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit, terutama Na, K.

Farmakokinetik

Lebih dari 90 % glukokortikoid yang diabsorbsi terikat dengan protein plasma, kebanyakan terikat dengan globulin pengikat kortikosteroid dan sisanya dengan albumin. Afinitas globulin tinggi tetapi kapasitas ikatnya rendah, sebaliknya afinitas albumin rendah tetapi kapasitas ikatnya tinggi. Pada kadar rendah atau normal, sebagian besar kortikosteroid terikat globulin. Bila kadar kortikosteroid meningkat, jumlah hormon yang terikat albumin dan yang bebas juga meningkat, sedangkan yang terikat globulin sedikit mengalami perubahan. Kortikosteroid berkompetisi sesamanya untuk berikatan dengan globulin. (3)

Kortikosteroid dimetabolisme dalam hati oleh enzim mikrosom pengoksidasi. Metrabolitnya dikonjugasi menjadi asam glukoronat dan sulfat. Produknya diekskesikan melalui ginjal. (1)

Indikasi

Penggunaan kortikosteroid lebih banyak bersifat empiris, kecuali untuk terapi substitusi pada defisiensi. Enam prinsip terapi yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan obat kortikosteroid, yaitu :

untuk tiap penyakit pada tiap pasien, dosis efektif harus ditetapkan dengan trial and error, serta harus di re-evaluasi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan penyakit,

suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak berbahaya,

penggunaan kortikosteroid untuk beberapa hari tanpa adanya kontraindikasi spesifik, tidak membahayakan kecuali dengan dosis yang sangat besar,

bila pengobatan diperpanjang sampai beberapa minggu atau bulan hingga dosis melebihi dosis substitusi, insiden efek samping dan efek letal potensial akan bertambah,

penggunaan kortikosteroid bukan merupakan terapi kausal atau kuratif tetapi hanya bersifat paliatif karena efek anti-inflamasinya, kecuali untuk insufisiensi adrenal,

penghentiaan pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang dengan dosis besar mempunyai resiko insufisiensi adrenal hebat dan dapat mengancam jiwa.

Ada beberapa pertimbangan dalam pemilihan glukokortikoid :

sediaan dengan efek mineralokortikoid minimal biasanya dipilih untuk menurunkan efek retensi sodium.

penggunaan prednisone atau obat sejenisnya dalam jangka panjang dengan afinitas steroid-receptor yang lemah dapat menurunkan efek samping. Penggunaan jangka panjang dari obat seperti dexametason yang memiliki waktu paruh yang lebih panjang dan afinitas steroid-receptor yang tinggi dapat menghasilkan efek samping yang lebih banyak tanpa efek terapeutik yang lebih baik.

Jika pasien tidak merespon pada kortison atau prednison, penggantian dengan bentuk aktifnya, kortisol dan

Search related