Inferensi Kausal Dlm Epidemiologi1

  • View
    670

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kedokteran

Text of Inferensi Kausal Dlm Epidemiologi1

INFERENSI KAUSAL DALAM EPIDEMIOLOGI

BAB I

PENDAHULUAN

Studi epidemiologi terbanyak dilakukan untuk menyelidiki hubungan antara faktor dan penyakit, yang lebih disukai adalah eliminasi (atau kontrol) efek dari faktor-faktor lain. Uji penggabungan banyak dibentuk sejalan dengan statistik inferensi. Namun gabungan yang ditemukan pada beberapa studi tidak dapat langsung dikatakan sebagai kumpulan penyebab. Investigator akan meyakinkan pembaca, dengan beragam pembuktian dan gabungan yang ditemukan nyata dan dapat menjadi suatu gabungan penyebab dengan mempertimbangkan kriteria penyebab spesifik.

Dengan menggunakan statistik inferensi, adanya suatu gabungan adalah refleksi dari suatu kondisi variasi faktor yang berhubungan untuk (dapat menjelaskan) variasi kejadian penyakit, kemungkinan adanya peran lain. Hal ini biasa dikenal sebagai asosiasi statistik. Pada era teknologi komputer ini perhitungan peluang (kemungkinan, probabilitas) tidak hanya diformulasikan tetapi juga disimulasi (mengulang sampel dari populasi yang terkenal).

Kesimpulan kausal sangat penting secara fundamental untuk memajukan pengetahuan ilmiah. Pendirian Popper adalah dalam sifat akhirnya, setiap teori itu tentatif. Setiap teori dapat secara potensial dapat dijatuhkan oleh data yang tidak cocok yang tidak mungkin dijadikan pertanyaan. Maka berbagai sudut pandang, pengetahuan ilmiah dan kemajuannya selalu melalui beragam percobaan untuk menyangkal teori-teori yang telah ada.

Dengan memperhatikan isu-isu dalam kesimpulan kausal dalam epidemiologi, walaupun, akan sangat berguna untuk membuat pembedaan antara kesimpulan yang ditujukan untuk mendirikan etiologi dan kesimpulan yang ditujukan untuk mendapatkan keputusan tindakan atau keputusan tidak ada tindakan. Pendirian Popper kurang bisa diaplikasikan dalam kesimpulan kausal untuk mendukung pembuatan-keputusan, karena pentingnya tindakan sesuai dengan waktu. Walaupun keputusan individual dan kolektif seringkali didasarkan pada konsiderasi selain dari pengetahuan ilmiah, dan bahkan tanpa data kausal valid sekalipun, kesimpulan kausal sangat fundamental dalam pembuatan-keputusan. Lebih jauh lagi, penilaian kausalitas-akhirnya oleh kewenangan pemerintah dan publik yang lebih besar-merupakan basis kritis untuk resolusi dari isu-isu kontroversial, misalnya, pembatasan produk-produk seperti tembakau, saccharin, kopi, kontrasepsi oral, senjata genggam; kontrol polusi dan seterusnya.

Semua kerja ilmiah itu tidak lengkap-apakah itu eksperimental ataupun observasional. Semua kerja ilmiah itu berkemungkinan untuk ditumbangkan atau dimodifikasi oleh pengetahuan yang lebih maju. Yang mana tidak memberikan kita kebebasan untuk mengabaikan pengetahuan yag telah kita miliki, atau menangguhkan tindakan yang tampaknya dibutuhkan setiap waktu.

Konsep dari kausal dan inferensi kausal telah diajarkan secara meluas pada pengalaman belajar mandiri. Model dari kausasi yang menjelaskan penyebab dalam sufficient cause dan komponennya mengiluminasi prinsip-prinsip penting seperti dalam hal multikausal, hubungan kekuatan dari komponen penyebab pada prevalensi dari komponen penyebab pelengkap dan interaksi antara komponen penyebab.

Para filosof menyetujui bahwa proporsi kausal tidak dapat dibuktikan, dan menemukan aturan dari pembatasan pada semua filosofi dari inferensi kausal. Meskipun, aturan logika, kepercayaan dan penelitian dalam mengevaluasi proporsi kausal tidak tetap. Inferensi kausal dalam epidemiologi lebih baik dalam mengukur suatu efek daripada proses criteria untuk menentukan apakah terdapat efek atau tidak.

Apa yang dimaksud dengan kausasi? Walaupun diantara mereka yang mempelajari kausasi sebagai objek kerja, konsepnya diajarkan secara meluas, dan dicobled bersama dari pengalaman terdahulu. Sebagai generasi muda, setiap orang berkembang dan menguji sebuah penemuan dari penjelasan kausal yang telah ada dan memicu untuk lebih mengontrol kejadian tersebut.

Sedangkan yang dimaksud dari epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit dan status kesehatan pada populasi manusia. Tujuan riset epidemiologi adalah:

(1) Mendeskripsikan keadaan penyakit dan status kesehatan pada populasi dengan cara menghitung frekuensi penyakit dan penyebarannya pada berbagai kelompok individu/populasi, tempat, dan waktu;

(2) Menjelaskan etiologi penyakit dengan cata mengidentifikasi faktor-faktor penyebab penyakit;

(3) Meramalkan kejadian penyakit dan status kesehatan pada populasi; dan

(4) Mengendalikan distribusi penyakit pada populasi dengan cara mencegah kejadian baru, memberantas kasus yang ada, memperpanjang hidup penderita penyakit, dan meningkatkan status kesehatan penderita penyakit.

Bagaimana tujuan-tujuan riset tersebut dapat dicapai? Bagaimana epistemologi (filosofi pengetahuan) yang mendasari riset epidemiologi modern? Apa prosedur dan metode yang digunakan dalam riset epidemiologi? Bagaimana metode inferensi kausal dalam riset etiologi? Bagaimana konsep kausalitas? Kita akan segera mengupas pokok-pokok bahasan tersebut.

BAB II

INFERENSI KAUSAL DALAM EPIDEMIOLOGI

II.1.FILOSOFI DAN INFERENSI ILMIAHFilosofi adalah penyelidikan bebas dari keterbatasan pengetahuan manusia serta kategorisasi umum pengalaman dan realitas. Filosofi sepanjang sejarah mencakup dua hal pokok yang berkaitan: keyakinan agama dan moral di satu pihak, dan penyelidikan pengetahuan positif di lain pihak. Cabang filsafat yang berurusan dengan teori, hakikat, dan lingkup pengetahuan disebut epistemologi.

Abad ketujuh belas merupakan era konflik religi. Teologi Kristen harus mempertahankan diri dari pembantahan dan penyanggahan dalam segala bentuknya. Doktrin di Eropa Barat mengalami disintegrasi. Pada saat yang sama penyelidikan pengetahuan positif memasuki tahapan baru dan semangat baru. Bidang-bidang baru ilmu pengetahuan dibuka oleh Galileo, Copernicus, Kepler, dan masih banyak lagi. Secara bertahap menjadi jelas, proses di alam harus diterangkan dengan hukum-hukum alam yang diekspresikan secara kuantitatif. Kunci pemahaman alam diperoleh melalui penerapan matematika dan metode pengukuran yang teliti. Konsep alam Aristoteles tentang system dan hirarki benda-benda alam berdasarkan pembedaan kualitatif mulai dipandang tidak memadai lagi. Galileo dikutuk gereja karena menyangkal teori ortodoks Aristoteles tentang gerak benda. Keyakinan kosmologik Kristen abad pertengahan makin digoyang dengan temuan Copernicus dan Kepler mengenai system tata surya, yang menentang keyakinan pada zaman itu bahwa manusia di bumi adalah pusat alam dan moral.

Epidemiologi sebagai sebuah disiplin ilmu terapan sangat dipengaruhi oleh dua aliran filosofi: rasionalisme dan empirisme. Aliran rasionalisme menggunakan logika deduktif, yaitu bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dimulai dengan aksioma yang bersifat umum dan kita anggap sebagai benar, kemudian dikembangkan menjadi kesimpulan-kesimpulan yang lebih spesifik, disertai argumentasi yang kuat bahwa tiap-tiap langkah logik itu tidak bertentangan dengan aksioma yang sudah dianggap benar.

Faham rasionalisme yang telah dirintis oleh Plato (427-347 SM) di jaman Yunani Kuno dan mencapai puncaknya pada abad ketujuh belas yang disebut Era Penalaran (The Age Reason), dengan filsuf antara lain Descartez, Galileo, Hobbes, Spinoza dan Liebniz (Hampshire, 1962). Rene Descartez (1596-1650) dianggap sebagai filsuf rasionalis modern pertama yang berhasil membebaskan diri dari cara berfikir Yunani Kuno, Romawi dan Abad Pertengahan. Descartez adalah filsuf sekaligus matematisi, dan lebih suka menyendiri agar dapat berfikir jernih ketimbang melibatkan diri kepada urusan-urusan politik dan kemasyarakatan. Sebagai seorang Katolik yang loyal, ia tidak melihat perlunya mempertentangkan agama dan ilmu pengetahuan modern. Salah seorang sahabatnya adalah matematisi besar di jamannya, yaitu Fermat. Descartez memberikan contoh matematika sebagai paradigma pengetahuan yang dibangun dengan jelas dan pasti (clarity and distinctness). Menurut Descartes, pengetahuan berkembang langkah demi langkah dari sebuah konklusi tak terbantahkan ke konklusi lainnya. Suatu rumus baru matematik dikatakan sahih, sebab tidak bertentangan dengan aksioma yang telah dikatakan benar.

Sampai kini rasionalisme masih digunakan dalam epidemiologi, untuk mengembangkan teori-teori tentang penyakit. Fenomena dipelajari melalui abstraksi-abstraksi, menggunakan model matematik. Eksistensi epidemiologi teoritik yang menggunakan logika deduktif itu diakui sebagai sebuah subdisiplin ilmu epidemiologi (Kleinbaum et al., 1982).

Karl Popper (1902- ), filsuf abad ke duapuluh beraliran rasionalis kritis, bahkan melestarikan elemen-elemen rasionalisme dalam konsep pemikirannya yang disebut hipotetiko-deduktif. Dalam bukunya The Logic of Scientific Discovery (1968), Popper menegaskan syarat-syarat pertumbuhan pengetahuan dimulai dengan merumuskan hipotesis melalui pemikiran deduktif dan imajinasi kreatif, lalu hipotesis itu diuji dengan keras dan disanggah; penyanggahan itu dipergunakan untuk merumuskan hipotesis baru dan teori baru. Jadi pengamatan empirik ditujukan untuk membuktikan kesalahan (refutation, falsification) teori dan gagasan, bukannya untuk membenarkan teori dan gagasan (justification, corroboration, confirmation). Falsifikasi teori selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis baru, menyempurnakan pengetahuan, dan pengujian hipotesis baru. Demikian seterusnya. Jadi, menurutPopper, tujuan pengulangan riset (replikasi) adalah untuk menambah bukti-bukti kesalahan hipotesis, dan bukanyya untk memperkuat bukti-bukti kebenaran hipotesis. Hanya dengan demikian peneliti dapat menyempurnakan hipotesis dan membuat generalisasi dari temuan-temuannya untuk membangun pengetahuan baru (Buck, 1975).

Pengetahuan yang dikembangkan hanya berdasarkan akal, persepsi dan argumentasi abstrak m