I Saraf Perifer

  • View
    347

  • Download
    21

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan praktikum saraf perifer dan otot rangka

Text of I Saraf Perifer

PRAKTIKUM II

LAPORAN PRAKTIKUM FAALSARAF PERIFER DAN OTOT RANGKA

Oleh:Tatit Syahadani A011211131035Nadhila Atsari011211131042Zefrizal Nanda Mardani011211131045Fiera Avrillia Ferdianty011211131047Dafina Balqis011211131048Dinda Zafira 011211131049

Fakultas KedokteranUniversitas AirlanggaBAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangSusunan saraf secara fungsional dapat dibagi menjadi susunan saraf motorik dan susunan saraf sensorik. Kedua susunan saraf tersebut dapat dibagi lagi menjadi susunan saraf pusat dan susunan saraf perifer. Nervus ischiadicus merupakan salah satu saraf motorik somatik perifer yang mengandung beberapa akson yang keluar dari cornu anterior medulla spinalis yang mungkin saja mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda dan mensarafi musculus gastrocnemius.Untuk mengetahui kepekaan saraf perifer (nervus ischiadicus) dapat dilakukan dengan cara memberikan rangsangan listrik tunggal pada nervus ischiadicus dengan berbagai intensitas (dimulai dari intensitas rendah ke intensitas tinggi: rangsangan subliminal, rangsangan liminal, rangsangan supraliminal, rangsangan submaksimal, rangsangan maksimal, rangsanagn supramaksimal) dan melihat ada tidaknya kontraksi musculus gastrocnemius serta mengukur amplitudo (kekuatan) kontraksi dari otot tersebut.Bila otot dirangsang dengan rangsangan maksimal secara beruntun (multiple) dengan frekuensi yang berbeda, maka rangsangan tersebut dapat menimbulkan gambaran kontraksi otot yang berbeda pula (muscle twitch, treppe, summation contraction, incomplete tetanic contraction, complete tetanic contraction).Kekuatan kontraksi otot disamping dipengaruhi oleh tingkat kepekaan saraf yang melayaninya dan cara perangsangannya juga dipengaruhi oleh faktor pembebanan yang diberikan kepeda otot tersebut. Pembebanan pada otot dapat diberikan pada saat otot kontrakasi (after loaded) dapat juga diberikan pada saat sebelum otot kontraksi (preloaded). After loaded maupun preloaded mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap kekuatan kontraksi dan kerja otot.

1.2 Masalah1. Bagaimanakah kerja kepekaan saraf perifer (nervus ischiadicus)?2. Bagaimanakah kerja kontraksi tetani (musculus gastrocnemius)?3. Bagaimana pengaruh pembebanan terhadap kekuatan kontraksi otot dan kerja otot (musculus gastrocnemius):a. Pada saat afterload (beban diberikan kepada otot pada saat otot kontraksi)?b. Pada saat preload (beban diberikan kepada otot sebelum otot kontraksi)?

1.3 Tujuan1. Mengamati dan mempelajari kepekaan saraf perifer (nervus ischiadicus)2. Mengamati dan mempelajari kontraksi tetani (musculus gastrocnemius)3. Mengamati dan mempelajari pengaruh pembebanan terhadap kekuatan kontraksi otot dan kerja otot (musculus gastrconemius)a. Afterload (beban diberikan kepada otot pada saat otot kontraksi)b. Preload (beban diberikan kepada otot sebelum otot kontraksi)

BAB IIMETODE KERJA2.1 Alat dan bahan1. Statif, alat penulis & sekrup penyangga.2. Tempat beban & beban.3. Papan fiksasi & jarum fiksasi.4. Alat/jarum penusuk.5. Kimograf & kertas grafik.6. Stimulator listrik.7. Larutan ringer & pipet.8. Benang.

2.2 Tata Kerjaa. Kepekaan Saraf Perifer Untuk mengamati dan mempelajari kepekaan saraf perifer (n. ischiadicus) lakukan langkah-langkah sebagai berikut:1. Siapkan sediaan nervus ischiadicus dan musculus gastrocnemius.2. Tahanlah penulis kontraksi otot dengan sekrup penyangga.3. Berikan rangsangan tunggal (dengan menggunakan elektroda perangsang stimulator listrik) pada nervus ischiadicus dimuali dengan intensitas rangsangan yang paling kecil, selanjutnya secara bertahap besar inensitas rangsangan dinaikkan dengan intrerval waktu 30 detik.Setiap kali menambah intensitas rangsangan, drum kimograf harap diputar sekitar 0,5 cm supaya gambaran alat penulis pada kertas kimograf tidak tumpang tindih.4. Perhatikan apa yang tergambar oleh penulis pada kertas kimograf. Dengan melihat hasil yang tergambar pada kertas kimograf, tentukan besar: rangasangan subliminal rangsangan liminal rangsangan supraliminal rangsangan submaksimal rangsangan maksimal rangsang supramaksimal

b. Pengaruh Pembebanan Terhadap Kekuatan Kontraksi Dan Kerja Otot Rangka1. Kontraksi After loaded.i. Aturlah sekrup penyangga sehingga ujung sekrup penyangga penulis dan garis dasar (baseline) penulis tidak berubah. Dengan demikian panjang otot tidak akan berubah (tidak diregang oleh tempat beban mauapun beban yang ditambahkan).ii. Dalam keadaan tanpa pengisian bebean dengan kimograf dalam keadaan diam, rangsanglah nervus ischiadicus dengan rangsangan tunggal maksimal. Setiap kali akan memberikan rangsanan jangan lupa memutar drum kimograf sekitar 0,75 cm dan memberi istirahat sediaan otot-saraf selama 20 detik antara satu rangsangan dengan rangsangan berikutnya.iii. Beri beban 10 gram, putar kimograf 0,75 cm, interval waktu rangsang +/- 20 detik, kemudian beri rangsangan tunggal maksimal lagi.iv. Ulangi tindakan (iii) dengan setiap kali menambah beban sebesar 10 gram hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi.v. Dari hasil gambaran penulis pada kertas kimograf: Hitunglah kerja otot (W : work) untuk setiap pembebanan.KERJA OTOT = BEBAN x PEMENDEKAN OTOT

Buatlah grafik yang menggambarkan hubungan antara besar beban (pada absis) dengan besar kerja otot (pada ordinat). Berilah penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut.

2. Kontraksi Preloaded i. Ambillah semua beban dari tempat beban.ii. Longgarkan sekrup penyangga yang menyangga penulis sehingga musculus gastrocnemius secara langsung menahan empat bebean. Aturlah letak penulis sehingga posisisnya horizontal.iii. Rangsanglah nervus ischiadicus dengan rangsangan tunggal maksimal. Setiap kali akan memberikan rangsangn jangan lupa memutar drum kimograf sekitar 0,75 cm dan memberi istirahat sediaan otot-saraf selama 20 detik antara satu rangsangan dengan rangsangan berikutnya.iv. Beri beban 10 gram, putar kimograf 0,75 cm, kembalikan penulis posisi horizontal, kemudian beri rangsangan tunggal maksimal lagi.v. Ulangi tindakan ad. D dengan setiap kali menambah beban sebesar 10 gram hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi.vi. Dari hasil gambaran penulis pada kertas kimograf: Hitunglah kerja otot (W : work) untuk setiap pembebanan.KERJA OTOT = BEBAN x PEMENDEKAN OTOT

Buatlah grafik yang menggambarkan hubungan antara besar beban (pada absis) dengan besar kerja otot (pada ordinat). Berilah penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut. Bandingkan dan beri penjelasan mengenai perbedaan antara grafik pada kontraksi afterload dengan kontraksi preload.

c. Kontraksi TetaniUntuk mengamati dan mempelajari kontraksi tetani, lakukan langkah-langkah yang merupakan lanjutan dari langkah-langkah diatas sebagai berikut:1. Berikan rangsangan maksimal secara beruntun (multiple maximal stimulus; successive maximal stimulus) dimulai dengan frekuensi rendah selama 3-5 detik, selanjutnya secara bertahap frekuensi rangsangan ditingkatkan dengan interval waktu sekitar 60 detik (untuk memberi istirahat yang cukup bagi otot) sampai terjadi complete tetanic contraction (kontraksi tetani lurus).2. Perhatikan apa yang tergambar oleh penulis pada kertas kimograf.Dengan melihat hasil yang tergambar pada kertas kimograf, catatlah masing-masing data frekuensi rangsangan dan gambaran grafik kontraksi yang dihasilkan, selanjutnya masukkan data tersebut pada tabel data yang tersedia.Catatan: Selama melakukan praktikum ini jangan lupa menetesi sediaan otot-saraf dengan larutan ringer.BAB IIIHASIL3.1 Data Kepekaan Saraf PeriferKepekaan saraf perifer( Nervus Ischiadicus)

Rangasangan (volt)Kontraksi (cm)

0,10

0,32,3

0,52,6

0,72,7

12,3

1,21,3

1,41,2

1,51,1

31

50,9

70,9

Besar rangsangan subliminal: 0,1Besar rangsangan liminal:0,3Besar rangsangan supraliminal:0,5Besar rangsangan submaksimal:0,5Besar rangsangan maksimal:0,7Besar rangsangan supramaksimal:1 - 7

3.2 Data Pengaruh Pembebanan Terhadap Kekuatan Kontraksi Dan Kerja OtotKONTRAKSI AFTER LOADED(musculus gastrocnemius)

Beban (gram)Kontraksi (cm)Kerja (Joule)

50.15 x 10-6

150.11,5 x 10-5

2500

KONTRAKSI PRELOADED(musculus gastrocnemius)

Beban (gram)Kontraksi (cm)Kerja (Joule)

51,57,5 x 10-5

15115 x 10-5

250.512,5 x 10-5

350.310,5 x 10-5

4500

3.2 Data Gambaran Kontraksi Akibat Rangsangan Dengan Berbagi FrekuensiKONTRAKSI SUMASI-KONTRAKSI TETANI

Frekuensi Rangsangan(kali/detik)Kontraksi SUMASI (+/-)Kontraksi TETANI (+/-)

1 x / detik--

2 x / detik--

3 x / detik--

4 x / detik--

5 x / detik--

10 x / detik+-

25 x / detik+-

50 x / detik++

100 x / detik-+

BAB IVPEMBAHASAN4.1 Diskusi Hasila.Kepekaan Saraf PeriferBesarnya rangsangan yang diberikan pada saraf ischiadicus mempengaruhi kontraksi pada otot gastrocnemius. Otot memiliki stimulus ambang yaitu voltase listrik minimum yang menyebabkan otot berkontraksi. Jika stimulus tidak mencapai ambang batasnya maka otot tidak akan memberikan respon. Pada praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan bahwa:a)Rangsangan subliminal adalah rangsangan yang diberikan tetapi belum ada satu motor unit yang bereaksi terhadap rangsangan tersebut dalam bentuk potensial aksi. Dalam praktikum kami, besar rangsangan subliminalnya adalah0,1volt. Dimana besar kontraksinya 0. Ini menunjukkan bahwa katak yang kami uji cobakan belum mengalami potensial aksi sehingga belum ada rangsangan yang mengalir.b)Rangsangan liminal adalah rangsangan yang diberikan dan mulai terjadi reaksi dari satu motor unit yang paling peka atau dalam kata lain terjadi kontraksi pertama kali. Dalam praktikum kami besar rangsangan liminalnya adalah0,3volt dengan besar kontraksi2,3 cm. Ini adalah saat pertama kali katak memberikan respon kepada rangsangan yang kami berikan,