Hasil dan pembahasan

  • View
    1.177

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Hasil dari program

Text of Hasil dan pembahasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1.1 MODEL

Gambar 1.1 Blok Diagram Model IV.1.2 PENJABARAN MODEL (BANGUNAN PEMIKIRAN) Vegetasi bertambah jika intensitas replantasi bertambah, juga bertambahnya jumlah vegetasi akan menambah intensitas replantasi. Intensitas replantasi dapat dipengaruhi beberapa faktor di antaranya adalah periode penanaman dan luas lahan secara keseluruhan yang ditinjau dan asumsi dari pengamatan di lapangan beberapa Vegetasi per Area (km2). Hal inilah yang akan mempengaruhi intensitas replantasi yang akan menambah jumlah vegetasi dari tahun ke tahun. Vegetasi juga tidak hanya

40

berkembang biak tetapi juga mengalami kematian yang disebabkan oleh campur tangan manusia itu sendiri dan seberapa besar pengikisan tanah (erosi) juga akan menggangu kehidupan vegetasi. Dari kondisi seperti itulah vegetasi akan mengalami pertumbuhan atau perkembangan. Banyaknya vegetasi juga ditentukan berapa yang hidup kurang berapa yang mati. Jumlah peningkatan vegetasi dari tahun ke tahun akan memberikan dampak pengurangan erosi jika hujan turun atau sebaliknya berkurangnya vegetasi akan menimbulkan erosi yang meningkat. Tidak hanya itu erosi juga akan dipengaruhi oleh Slope (kemiringan lahan), type tanah dan RunOff (debit Limpasan). RunOff (debit limpasan) dapat ditentukan secara rasional yaitu merupakan pengaruh Intensitas curah hujan disilang dengan berapa luas area yang kita tentukan kemudian dikali dengan konstanta dan dikali lagi dengan koefesien Runoff (debit limpasan). tentunya koefesien Runoff selalu berubah rubah nilainya sesuai dengan berapa kemiringan lahan yang ada. Slope, Type tanah kemudian dampak vegetasi merupakan kondisi tanah yang bercampur dengan air. Kehilangan tanah akan memberikan manfaat pada tanah per unit air. Kondisi tanah tadi akan mempengaruhi juga tanah per unit air. Tanah per unit air ini jika dipertemukan dengan Runoff (debit limpasan) akan menghasilkan erosi. Terjadinya pengikisan tanah (erosi) akan mengurami volume tanah sebelumnya dan akan membawa endapan-endapan hasil pengikisan tanah tersebut ke sungai-sungai sehingga terjadilah sedimentasi di dalam waduk. 41

Curah hujan yang masuk kemudian berapa luas sungai akan menentukan berapa debit air yang masuk per satuan waktu. Dari sini lah kita dapat memperkirakan berapa tinggi air di waduk persatuan waktu. Debit air yang keluar sebanding dengan ketinggian waduk Air yang ada di waduk Bili-Bili akan di alirkan ke penampungan untuk di saring menjadi air bersih. Air bersih tersbut disimpan dalam tempat penampungan. Air yang keluar dikonsumsi(dipakai) dipengaruhi oleh pertambahan penduduk Kota Makassar dan Kabupaten Gowa di kali dengan berapa banyak pemakian air per orang per satuan waktu. Jumlah Penduduk akan dipengaruhi oleh angka pertumbuhan penduduk.

Pertambahan penduduk akan dipengaruhi laju kelahiran dan laju kematian. Laju kelahiran dikurang dengan laju kematian pada tahun itu sama dengan jumlah penduduk pada tahun itu. Laju kelahiran dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk dan pertambahan penduduk. Begitu juga dengan laju kematian dipengaruhi oleh angka kematian dan pertambahan penduduk. IV.2 KONDISI FISIOGRAFI DAS JENEBERANG Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang merupakan daerah yang mengalirkan air yang jatuh diatas daerah tersebut ke aliran sungai Jeneberang. Sungai Jeneberang sendiri memilki hulu sungai di sekitar puncak Gunung Bawakaraeng dan

42

Lompobattang pada ketinggian sekitar 1900 meter diatas permukaan laut (mdpl). Sungai ini mengalir dari tengah pulau Sulawesi bagian Selatan kearah pantai Barat Sulawesi Selatan, melalui waduk Bili-Bili dan bermuara di bagian selatan Kota Makassar. Hal ini menyebabkan DAS Jeneberang seluas 60.762 ha ini membentang dari timur ke barat diapit oleh DAS Tallo dan DAS Tangka dibagian utaranya, serta DAS Jenelata dibagian selatannya. Bentuk pola aliran sungai yang dendritik dengan dua cabang sungai besar yaitu Salo Malino di bagian utara dan Salo Kausisi di bagian Selatan, menyebabkan bentuk DAS Jeneberang memanjang dari timur ke barat dengan bagian hulu yang lebih luas dan mengerucut kearah waduk Bili-Bili setelah percabangan Salo Malino dan Salo Kausisi (Rahman Kurniawan,2004). Bentuk morfologi yang menonjol di sekitar hulu DAS Jeneberang adalah kerucut gunungapi Lompobattang, yang menjulang mencapai ketinggian 2876 mdpl yang tersusun oleh batuan gunung api Plistosen (Sukamto & Supriatna, 1982). Sementara bagian hilir DAS Jeneberang yang merupakan pesisir pantai barat Sulawesi Selatan merupakan dataran rendah yang sebagian besar terdiri dari daerah rawa dan daerah pasang surut. Sungai Jeneberang merupakan salah satu sungai besar yang membentuk dataran di daerah ini. IV.3 SLOPE (KEMIRINGAN), TANAH (SOIL) DAN VEGETASI (LAND USE) Ada beberapa macam nilai Slope yang ada di DAS Jenebeang. Klasifikasi yang paling mendasar dalam 5 kategori adalah jelas dengan kemiringan (Slope) 0 ~ 8 %,

43

dangkal kemiringan (Slope) 8 ~ 15 %, bergelombang kemiringan (Slope) 15 ~ 25 %, berbukit-bukit kemiringan (Slope) 25 ~ 40 % dan pegunungan kemiringan ( > 40% ). Kemringan lahan yang paling banyak adalah yang berbukit-bukit (25~40%) dengan persentase 38.48 % dan luas wilayah 147.93 Km2 seperti terlihat pada tabel 4.3.1 dibawah ini. Tabel 4.3.1 Beberapa Slope DAS JeneberangNo. 1.

Slope Class (%)0~8 (A)

Area (Km2) 48.30

Percentage (%) 12.57

2. 3. 4. 5.

8 ~ 15 (B) 16 ~ 25 (C) 26 ~ 40 (D) >40 (E)Total

43.29 58.73 147.93 86.15384.40

11.26 15.28 38.48 22.41100.00

Sumber : Zubair (1994) Ada 5 macam type tanah yang ada di DAS Jeneberang yaitu : Lithic Ustorthents (Entisols) 34.42 km2, Lithic Haplustults (Ultisols) 143.99 Km2, Typic Haplustults (Ultisols) 72.88 Km2, Typic Hapludults (Ultisols) 105.67 Km2 dan Typic Paleudults (Ultisols) 31.44 Km2. Jika kita memprensentasekan maka Lithic Ustorthents

(Entisols) 8.95 %, Lithic Haplustults (Ultisols) 36.94 %, Typic Haplustults (Ultisols) 18.96 %, Typic Hapludults (Ultisols) 26.97 %, Typic Paleudults (Ultisols) 8.18 %.

44

Tabel 4.3.2 Type Tanah Sekitar DAS Jeneberang No 1 2 3 4 5 Soil Type (sub-group) Area (km2) 34.42 143.99 72.88 105.67 31.44 384.40 Nilai Erodibilitas 0.25 0.30 0.32 0.27 0.28 --

Lithic Ustorthents (Entisols) Lithic Haplustults (Ultisols) Typic Haplustults (Ultisols) Typic Hapludults (Ultisols) Typic Paleudults (Ultisols) Total Sumber : zubair (1994)

Lahan di sekitar DAS Jeneberang banyak didominasi lahan pertanian seperti sawah, berbagai macam tanaman, lahan tandus (kering) serta perkebunan dan lain-lain. Selain itu juga lahan juga ada penduduk yang bermukim disitu, Sungai dan Dam BiliBili untuk lebih jelasnya terlihat dalam Tabel 4.3.3 (terlampir) Vegetasi yang tersebar disekitar Sungai Jeneberang terdiri dari 19 macam jenis vegetasi dengan luas lahan sekitar 380.40 km2. terlihat dari tabel (terlampir) luas semak-belukar (Bush) 12.40 %, Semak belukar tanaman (Bush/Arable) 3.28 %, Hutan rimba (Forest) 24.20 %, Hutan cemara (Pine Forest) 1.71 %, Hutan yang ditanami ( Crop Forest ) 3.30 %, Perkebunan (Plantation) 6.95 %, Perkebunan/semakblukar (Plantation/Bush) 1.43 %, Perkebunan Kopi (Coffee Plantation ) 0.42 %, tanaman (Arable Land) 0.93 %, tanaman/perkebunan (Arable Land/Plantation) 0.94 %, Lahan tidur (Idle Land) 4.66 %, kelompok penduduk (Settlement) 0.27 %, rumput (Grass) 1.93 %, rumput/semak-belukar (Grass/Bush) 1.48 %, Sawah (Rice Field) 14.79 %, Lahan Kering (Dry Field) 5.06 %, lahan kering/semak-belukar (Dry field/bush) 2.88 %, perkebunan teh (plantation teh) 0.14 %, Sungai (River) 3.73 % dan Dam 3.22 %. 45

Tabel 4.3.3 Jenis Vegetasi No. Vegetasi 1. Bush(semak-semak belukar) 2. Bush/Arable Land (semak belukar yang di tanam) 3. Forest (Hutan, rimba) 4. Forest/Grass (Hutan rimba/rumput) 5. Pine Forest (hutan cemara) 6. Crop Forest (Hutan yang di tanami) 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Plantation (penanaman,perkebunan) Plantation /Bush (perkebunan/semak belukar Coffee Plantation (perkebunan kopi) Arable Land (tanaman) Arable Land /Plantation (tanaman/perkebunan) Idle Land (lahan tidur) Settlement (kelompok penduduk) Grass (rumput) Grass/Bush (rumput/semak-belukar) Area (km2) 47.65 12.61 93.04 24.15 6.58 12.71 26.71 5.50 1.60 3.59 3.61 17.91 1.05 7.40 5.68 56.87 19.44 11.08 0.55 14.34 12.33 384.4 Persentase (%) 12.40 3.28 24.20 6.28 1.71 3.30 6.95 1.43 0.42 0.93 0.94 4.66 0.27 1.93 1.48 14.79 5.06 2.88 0.14 3.73 3.22 100.00

Rice Field (Padi) Dry Field (lahan kering) Dry Field/Bush (Lahan kering/ Semakbelukar) 19. Tea Plantation (Perkebunan teh) 20 River (Sungai) 21. Dam (DAM ) Total Sumber : Zubair (1994)

46

IV.4 CURAH HUJAN Berdasarkan Tabel menunjukan bahwa di daerah sekitar DAS Jeneberang mengalami curah hujan yang cukup tinggi. Curah hujan pada tahun 1999 rata-rata 3099 mm, pada tahun 2000 rata-rata 3029 mm, sedangkan pada tahun 2001 curah hujannya cukup tinggi yaitu 3741 mm, pada tahun 2002 yaitu 2929 mm, pada tahun 2003 yaitu 3184 mm dan pada tahun 2004 curah hujan rata-rata yaitu 2912 mm. Tabel 4.4.1 Curah Hujan No 1 2 3 4 5 6 Sumber : BMG Makassar Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Mm 3099 3029 3741 2929 3184 2912

Terlihat pada grafik diatas curah hujan tertinggi terjadi pada tahun 2001 yaitu mencapai 3741 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada tahun 2004 rata curah adalah 2912 mm. Data curah hujan ini di pantau dari 8 stasiun yaitu : Malino, Kampili, Mangempang, Majannang, Mardekaya, Bt Langkasa, dan Bili-Bili. Semua data yang terpantau perbulan kemudian kita total di rata-ratakan pertahun sehingga di dapat seperti pola hujan pada grafik dibawah ini.

47

Gambar 4.4.1 Hasil Simulasi Curah hujan tahunan 1999 2004 dalam (mm)

IV.5 EROSI Erosi merupakan faktor sangat penting. Karena erosi akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman akan terganggu, kemudian penumpukan di Waduk (sediment) aka