of 33 /33
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu mata pelajaran yang erat kaitannya dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Apabila suatu Negara mengalami kemajuan dalam mengkaji Ilmu Pengetahuan Alam maka dapat dipastikan IPTEK di Negara tersebut juga berkembang pesat. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip- prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Depdiknas, 2006 : 5). Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Pembelajaran IPA secara ideal seharusnya mengaktifkan dan mendorong siswa untuk bekerja secara ilmiah, selama ini pembelajaran IPA di

PTK IPA SMP

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: PTK IPA SMP

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu mata pelajaran yang erat kaitannya dengan perkembangan

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan

Alam (IPA). Apabila suatu Negara mengalami kemajuan dalam mengkaji Ilmu

Pengetahuan Alam maka dapat dipastikan IPTEK di Negara tersebut juga

berkembang pesat.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu

tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan

kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-

prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Depdiknas, 2006 :

5). Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk

mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih

lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman

langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami

alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan

berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh

pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Pembelajaran IPA secara ideal seharusnya mengaktifkan dan

mendorong siswa untuk bekerja secara ilmiah, selama ini pembelajaran IPA di

Page 2: PTK IPA SMP

2

SMP Negeri 1 Kanor lebih banyak menggunakan metode ceramah dan tanya

jawab. Realitas menunjukkan sebanyak 52 % nilai IPA di kelas VIII dari hasil

ulangan harian kurang dari KKM Individu yang ditentukan sekolah yaitu

sebesar 75. Sedangkan rata – rata nilai kelas adalah 67,50. Ini menunjukkan

bahwa selama ini prestasi belajar siswa di kelas VIII dalam mata pelajaran

IPA masih rendah. Hal ini disebabkan kurangnya motivasi dan antusiasme

siswa dalam belajar IPA . Sehingga Perlu di terapkan suatu strategi

pembelajaran inovatif yang dapat menambah motivasi dan antusiasme siswa

dalam belajar IPA.

Salah satu jenis strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan

siswa secara aktif berpartisipasi dalam pembelajaran dan menciptakan suasana

yang menyenangkan dalam belajar adalah Pembelajaran dengan menerapkan

strategi Quantum Teaching. Dalam Quantum teaching, pembelajaran

berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap

siswa sehingga diharapkan siswa dapat melibatkan seluruh emosinya dalam

belajar.

Menurut Bobby De Porter dalam buku Quantum Teaching (dalam Ani

, 2003:3) menjelaskan Quantum Teaching adalah konsep yang menguraikan

cara-cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar , lewat pemaduan

unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran

yang diajarkan. Dengan menerapkan quantum teaching dalam pembelajaran

IPA diharapkan dapat lebih menggairahkan suasana pembelajaran sehingga

siswa lebih termotivasi dalam belajar yang pada akhirnya dapat melejitkan

prestasi belajar.

Page 3: PTK IPA SMP

3

Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini mengambil judul :

“PENERAPAN PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING UNTUK

MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPA PADA

MATERI SISTEM PERNAFASAN DI KELAS VIII C SMP NEGERI 1 KANOR

BOJONEGORO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2013/2014”

B. Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan

sebagai berikut :

1. Bagaimana strategi Quantum Teaching dapat meningkatan motivasi

belajar siswa pada materi sistem pernafasan di kelas VIII C SMP Negeri

1 Kanor Bojonegoro?

2. Bagaimana strategi Quantum Teaching dapat meningkatkan prestasi

belajar siswa pada materi sistem pernafasan di kelas VIII C SMP Negeri

1 Kanor Bojonegoro?

2. Pemecahan Masalah

Siswa akan lebih mudah memahami materi sistem pernafasan jika

materi tersebut disajikan dengan strategi pembelajaran yang memungkinkan

terjadi interaksi antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa

serta timbulnya suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran

Quantum Teaching mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses

pembelajaran dengan memperkaya pengalaman belajarnya.

Page 4: PTK IPA SMP

4

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan Rumusan Masalah , penelitian ini bertujuan untuk :

1. Ingin mengetahui peningkatkan motivasi belajar siswa dengan strategi

Quantum Teaching pada materi sistem pernafasan di kelas VIII C SMP

Negeri 1 Kanor Bojonegoro

2. Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada materi sistem

pernafasan di kelas VIII C SMP Negeri 1 Kanor Bojonegoro

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi semua baik guru,

siswa maupun untuk sekolah yang bersangkutan.

1. Bagi Guru

memotivasi guru agar lebih kreatif dalam berinovasi mencari

model-model pembelajaran yang lain yang dirasa tepat untuk

mrnyampaikan suatu konsep pembelajaran.

Meningkatkan kualitas pembelajaran

Menambah ketrampilan guru dalam membuat penelitian tindakan

kelas (PTK)

2. Bagi siswa.

Meningkatkan pemahaman IPA melalui strategi Quantum teaching

Meningkatkan kreatifitas berfikir siswa untuk memecahkan masalah

dalam kehidupan sehari-hari terutama yang ada hubungannya dengan

IPA .

3. Bagi sekolah.

Meningkatkan kualitas pembelajaran di SMP Negeri 1 Kanor.

Page 5: PTK IPA SMP

5

Dapat digunakan sebagai contoh suatu model pembalajaran. Model

pembelajaran ini diharapkan nantinya dapat dikembangkan dengan

cara kolaborasi dengan guru lain yang semata pelajaran, sehingga

tercipta suatu iklim yang kondusif untuk mengembangkan model

pembelajaran yang berkualitas, demi perbaikan mutu pendidikan

terutama di sekolah tersebut.

E. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII C SMP Negeri 1 Kanor

Bojonegoro

2. Proses pembelajaran menggunakan strategi Quantum teaching dengan

meteri pembelajaran gaya dan gerak.

3. Waktu penelitian ini pada semester I tahun pelajaran 2013/2014

Page 6: PTK IPA SMP

6

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Prestasi Belajar IPA

1. Pengertian Prestasi belajar IPA

Prestasi adalah pencapaian atau tingkat daya serap. Dalam Ensiklopedi

Umum dijelaskan pengertian secara etimologis dari kata prestasi itu adalah

Hasil yang dicapai dari yang dilakukan, dikerjakan. (Pringgodibyo, 1993 :263)

Maka prestasi belajar adalah pencapaian atau perolehan yang didapat

setelah suatu kegiatan pembelajaran pada suatu periode tertentu. Prestasi itu

lebih lanjut tercermin pada adanya perubahan.

Dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, siswa dikondisikan untuk

mengalami suatu proses interaksi dengan lingkungan. Pada aktivitas Interaksi

tersebut siswa dihadapkan dengan nilai-nilai positif dalam suatu pembelajaran

yang diharapkan akan berdampak pada perubahan perilaku yang mengarah

pada nilai positif tersebut. Perubahan perilaku yang mengarah pada nilai

positif itulah yang merupakan subtansi dari prestasi belajar itu.

Jadi jelaskah kiranya bahwa prestasi belajar IPA adalah pencapaian

yang berwujud perubahan yang terjadi pada diri siswa (seseorang) yang

mengarah pada tingkat nilai positif tertentu. Dalam pembelajaran IPA prestasi

tersebut sering kali disimbolkan dengan angka yang berjenjang dalam skala

tertentu yang menunjukkan tingkatan yang dicapai oleh siswa setelah

mengikuti suatu periodesasi pembelajaran.

Page 7: PTK IPA SMP

7

Dapat dikatakan juga bahwa prestasi belajar merupakan tingkat

kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai

informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi

belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam

mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport

setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar

IPA siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat

memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.

2. Aspek-Aspek Prestasi Belajar Siswa

Aspek-aspek prestasi belajar bisa dilihat dari beberapa sudut pandang.

Dalam hal ini S. Bloom dalam Abdullah (2008:42) mengemukakan bahwa

aspek-aspek itu meliputi aspek kognitif (pemahaman, kecerdasan),

pshychomotor (aspek ketrampilan) dan Afektif Domain yakni sikap.

Demikian menyangkut aspek-aspek prestasi belajar. suatu contoh

prestasi yang berkenaan dengan prestasi belajar bidang study IPA tentu

tinggallah mengaitkan dengan aspek-aspek tersebut misalnya dalam aspek

kognitif ditandai dengan tingkat hafalan, pemahaman, analisis, sintesis,

terhadap konsep-konsep IPA . Sedang Afektif misalnya sikapnya yang sesuai

dengan kaidah ilmiah seperti jujur, disiplin, rendah hati, menghargai orang

lain dan lain sebagainya. Dalam kaitan prestasi bidang studi IPA ini justru

antara aspek kognitif dan yang lainnya harus mempunyai suatu keseimbangan.

Page 8: PTK IPA SMP

8

B. Pembelajaran Quantum Teaching

1. Pengertian, Asas dan Tujuan Quantum Teaching

Adapun pengertian Quantum Teaching Menurut Bobby De Porter

(2003:3) adalah konsep yang menguraikan cara-cara baru dalam

memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan

pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan .

Quantum Teaching menjadikan segala sesuatu berarti dalam proses

belajar mengajar, setiap kata, pikiran, tindakan asosiasi dan sampai

sejauhmana mengubah lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran.

Sebagaimana ungkapan di atas, Colin Rose (2001:247) juga berpendapat

bahwa Quantum Teaching adalah panduan praktis dalam mengajar yang

berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap

siswa. Metode ini sarat dengan penemuan-penemuan terkini yang

menimbulkan antusiasme siswa. Quantum Teaching menjadikan ruang-

ruang kelas ibarat sebuah konser musik yang memadukan berbagai

instrumen sehingga tercipta komposisi yang menggerakkan dari

keberagaman tersebut. Sebagai guru yang akan mempengaruhi kehidupan

murid, anda seolah-olah memimpin konser saat berada di ruang kelas.

Adapun asas Quantum Teaching adalah bawalah dunia mereka ke

dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka. Hal ini mengingatkan

kita pada pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama.

Memasuki terlebih dahulu dunia mereka berarti akan memberi izin untuk

memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan mereka menuju

Page 9: PTK IPA SMP

9

kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Dengan mengaitkan apa

yang diajarkan oleh guru dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan

yang didapatkan dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi

atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, dengan mudah dunia

siswa dibawa ke dunia guru atau pengajar. Guru akan memberikan

pemahaman tentang isi dunia itu.

Adapun tujuan Quantum Teaching menurut Bobby (2003:4)

adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan

prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan Terdapat perbedaan

antara tujuan dan prioritas. Tujuan merupakan hasil akhir yang ingin diraih.

Sedangkan prioritas merupakan tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam

mencapai tujuan. Menciptakan suasana yang dinamis dalam belajar, dengan

memadukan berbagai unsur-unsurnya serta melakukan penggubahan,

merupakan tahapan-tahapan untuk mencapai ilmu pengetahuan yang luas

sebagai tujuan.

2. Prinsip Quantum Teaching

Adapun prinsip Quantum Teaching adalah sebagai berikut:

a) Segalanya berbicara

Menurut Bobby (2003:7) segalanya dari lingkungan kelas hingga

bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran,

semuanya mengirim pesan tentang belajar.

b). Segalanya bertujuan

Semua yang terjadi dalam penggubahan kita, mempunyai tujuan. Oleh

karena itu, Kathy Wagone (2004:7) membuat istilah yang

Page 10: PTK IPA SMP

10

memotivasi: “tetapkanlah sasaran tersebut agar bisa berprestasi setiap

harinya”.

c). Pengalaman Sebelum Pemberian Nama

Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang

akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses yang paling

baik terjadi ketika siswa telah mendapatkan informasi sebelum

memperoleh kesimpulan dari apa yang mereka pelajari.

d). Akui Setiap Usaha

Belajar mengandung resiko. Belajar berarti keluar dari kenyamanan.

Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat

pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Seperti kata

Noelle C. Nelson ( dalam Yulianto Rahmat, 2005:7) bahwa pujian atau

penghargaan kepada seseorang atas karyanya memunculkan suatu

energi yang membangkitkan emosi positif.

e). Jika Layak Dipelajari, Layak Pula Dirayakan

Perayaan adalah sarapan para pelajar juara. Perayaan memberikan

umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan minat dalam

belajar. Sehubungan dengan itu, Dryden (2004:327) berpesan bahwa

ingatlah selalu untuk merayakan setiap keberhasilan.

3. Langkah – langkah penerapan Quntum Teaching

Quantum Teaching merupakan salah satu jenis strategi

pembelajaran yang berorientasi untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas

dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan

Page 11: PTK IPA SMP

11

(Fun and Motivated Learning). Dalam penerapannya Quantum Teaching

memiliki langkah – langkah antara lain :

a. Tumbuhkan

Langkah pertama yang dilakukan oleh guru adalah menumbuhkan

motivasi siswa dalam belajar, memikat siswa dan menyertakan siswa

secara langsung dalam pembelajaran.

b. Alami

Langkah kedua adalah member siswa pengalaman belajar dan

menumbuhkan kebutuhan untuk mengetahui.

c. Namai

Langkah ketika guru memberikan data saat siswa minat siswa telah

mencapai maksimal.

d. Demonstrasikan

Langkah keempat guru mengkaitkan pengalaman dengan data baru agar

siswa menghayai pengetahuan yang telah di dapat.

e. Ulangi

Langkah kelima guru mengajak siswa untuk mengulangi konsep yang

telah di bahas dan juga dalam fase ini guru melaksanakan evaluasi

f. Rayakan

Langkah terakhir guru dan siswa merayakan atau melakukan selebrasi

terhadap kesuksesan pembelajaran yang telah dilakukan.

Page 12: PTK IPA SMP

12

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena

penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas.

Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan

bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang

diinginkan dapat dicapai.

Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru bekerja sama dengan teman

sejawat. Hal ini peneliti lakukan agar dalam penelitian ini siswa dapat diamati

secara maksimal. Kehadiran peneliti sebagai guru dalam kelas dilakukan seperti

biasanya tanpa ada perbedaan dari hari biasa.

A. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah Guru IPA dan siswa – siswi kelas VIII C SMP

Negeri 1 Kanor Bojonegoro pada materi system pernafasan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2013/2014.

Sebagaimana tertera dalam jadwal berikut.

Uraian Kegiatan

BULAN DAN PEKAN

Ags

III

Ags

IV

Sept

I

Sept

II

Sept

III

Sept

IV

Okt

I

Persiapan X

Pelaksanaan penelitian X X

Pengolahan Data X

Penyusunan Laporan PTK

X X

Page 13: PTK IPA SMP

13

2. Tempat penelitian

adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk

memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SMPN 1

Kanor Bojonegoro.

C. Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang

dilaksanakan terdiri dari 2 siklus dan tiap siklusnya terdiri dari 1 kegiatan

tatap muka , dengan masing – masing tatap muka selama 2 jam pelajaran ( 2 x

35 menit ).

Setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan,

pengamatan, dan refleksi. Hal ini dapat dilihat dalam Gb. 3.1 sebagai berikut

:

Gambar 3.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas (Suharsimi Arikunto dkk, 2007:9)

Perencanaan

Pelaksanaan SIKLUS I Refleksi

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi Pelaksanaan SIKLUS II

Pengamatan

?

Page 14: PTK IPA SMP

14

SIKLUS I :

1. Tahap Perencanaan :

Pada siklus I membahas Pokok Bahasan Listrik Statis dengan materi

Hubungan gaya dan gerak, sebagai sumber belajar siswa yang didahului

oleh perencanaan yang meliputi :

a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) tentang sistem

pernafasan .

b. Menyusun LKS tentang sistem pernafasan

c. RPP yang telah disusun diberikan kepada teman guru untuk dipelajari

dan dikoreksi apabila terdapat kekurang-kekurangan.

d. Menyusun soal-soal evaluasi yang akan diujikan secara tertulis kepada

siswa setiap pertemuan.

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan :

a. Siswa diberikan informasi untuk membaca buku literatur agar konsep

yang akan dipelajari siswa telah mendapatkan informasi sekilas yang

nantinya akan dipelajari bersama.

b. Guru menyajikan kegiatan pembelajaran dengan mengikuti langkah-

langkah sebagaimana yang telah direncanakan di RPP.

c. Siswa mengikuti kegiatan KBM sesuai dengan rencana yang telah

ditentukan di RPP.

d. Guru sebagai observer memasuki kelas bersama-sama dalam kegiatan

pembelajaran.

Page 15: PTK IPA SMP

15

3. Tahap Observasi dan Evaluasi tindakan :

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :

a. Guru observer melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan PTK

dengan menggunakan lembar observasi aktivitas dan respon siswa

serta guru penyaji.

b. Peningkatan hasil belajar siswa diperoleh dari tes hasil belajar yang

dilakukan di akhir penyajian materi.. Data ini akan dijadikan bahan

pertimbangan dalam melakukan refleksi pada siklus berikutnya.

4. Tahap Refleksi :

Pada tahap refleksi, disampaikan evaluasi terhadap proses pembelajaran

pada siklus I dan dijadikan bahan pertimbangan untuk memasuki siklus II.

Pertimbangan yang dilakukan apabila pada siklus I terdapat indikator yang

belum tercapai antara lain :

a. Jika Ketuntasan belajar siswa secara individu <75

b. Jika ketuntasan belajar secara klasikal siswa <85 % siswa yang tuntas

secara individu

SIKLUS II

Siklus II dilaksanakan dengan melihat hasil siklus I. Jika pada siklus I

sudah tercapai harapan penelitian maka tidak dilaksanakan siklus II, tetapi jika

siklus I masih belum menunjukkan hasil peningkatan hasil belajar siswa maka

dilanjutkan siklus II.

Page 16: PTK IPA SMP

16

D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP )

Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai

pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing –

masing RPP berisi Standar Kompetensi kompetensi dan Kompetensi

Dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, dan

kegiatan belajar mengajar. (RPP Terlampir )

2. Lembar Kegiatan Siswa

Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu

proses pengumpulan data hasil kegiatan pemberian tugas. Lembar kerja

siswa ( terlampir )

3. Tes Formatif

Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan

dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep IPA

pada materi system pernafasan. Tes formatif ini diberikan setiap akhir

putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah uraian ( terlampir ).

4. Lembar observasi aktivitas siswa ( terlampir )

5. Angket respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran. ( terlampir).

Page 17: PTK IPA SMP

17

E. Analisis Data

Analisis digunakan untuk menjawab masalah penelitian yaitu apakah

Pembelajaran dengan menerapkan strategi Quantum Teaching dapat

meningkatkan prestasi belajar siswa dalam materi gaya dan gerak.

Setelah semua data terkumpul, kemudian dianalisis sebagai berikut :

1. Data Hasil Belajar Siswa ( Ranah Kognitif)

Data hasil belajar siswa dianalisis menggunakan KKM (Kriteria

Ketuntasan Minimum) dirumuskan sebagai berikut :

KKM Individu = 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎

𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚𝑥 100%

KKM Klasikal = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 x 100%

Dalam penelitian ini siswa dikatakan tuntas secara individual apabila

skornya mencapai 75 %. Ketuntasan klasikal dicapai apabila dalam satu

kelas siswa yang tuntas secara individu minimal 85 %.

2. Data hasil pengamatan

Data hasil pengamatan hasil belajar ranah afektif dan psikomotor :

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑛𝑐𝑢𝑙

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑥 100%

Page 18: PTK IPA SMP

18

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Siklus I

a. Perencanaan (Planning)

Perencanaan tindakan dilakukan dengan mempersiapkan segala

sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, diantaranya :

1) Menyusun perangkat pembelajaran, yang terdiri dari :

a) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran

b) Menyiapkan media pembelajaran

c) Membuat lembar kerja siswa

2) Menyusun pedoman pengamatan, yang terdiri dari :

a) Pedoman pengamatan aktivitas siswa

b) Angket respon siswa

b. Pelaksanaan ( Acting)

Kegiatan pembelajaran berpedoman pada Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) dengan langkah – langkah sebagai berikut :

1) Kegiatan Awal

a) Kegiatan belajar dimulai dengan salam kemudian dilanjutkan

dengan menjelaskan bahwa materi yang dipelajari hari ini tentang

sistem pernafasan.

Page 19: PTK IPA SMP

19

b) Guru memulai dengan pernyataan : ” sebelum kita mulai belajar

IPA hari ini saya ingin bertanya apakah kalian kuat tidak bernafas

dalam 10 menit ?

c) Guru menugaskan siswa untuk membentuk kelompok

beranggotakan 4 - 5 orang dan terbentuklah dan setiap kelompok

melakukan percobaan seperti yang ada pada LKS yaitu percobaan

I. Dalam melakukan percobaan siswa masih terlihat canggung dan

meminta bantuan dari guru.

2) Kegiatan Inti

a) Guru menugaskan masing-masing siswa dalam kelompok untuk

menjawab pertanyaan yang ada di LKS. Tampak beberapa siswa

dalam kelompok mengerjakan dengan lancar tetapi ada yang

kesulitan dalam mengerjakan soal yang telah diberikan dalam LKS.

b) Guru menugaskan masing – masing kelompok untuk memaparkan

hasil dengan cara mengundi.

c) Masing-masing kelompok menyampaikan hasil pekerjaannya

dengan diwakili oleh dua orang siswa. Saat sesi tanya jawab

berlangsung siswa-siswi terdiam, sehingga guru harus menawarkan

pertanyaan beberapa kali, baru kemudian terjadi Tanya jawab.

3) Kegiatan Akhir

a) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang materi yang

telah dibahas untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap materi

system pernafasan.

Page 20: PTK IPA SMP

20

b) Guru bersama-sama siswa merayakan kesuksesan pembelajaran

kali ini dengan bertepuk tangan dan bernyanyi bersama.

c. Pengamatan ( Observing)

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan diperoleh data-data

sebagai berikut :

1. Data Hasil Aktivitas Siswa

Hasil observasi aktivitas siswa seperti pada tabel berikut :

Tabel 4.1 Rekapitulasi Nilai Aktivitas siswa dalam pembelajaran siklus I

Nilai Kriteria Frekuensi %

< 70 Tidak Aktif 8 27,67

70 – 100 Aktif 22 73,33

Pada tabel 4.3 di atas, dapat diketahui yang memperoleh nilai >

70 = 22 siswa, dan yang memperoleh nilai <70 = 8 siswa. Dari kriteria

yang ditetapkan yaitu ketuntasan individu = 70 dan ketuntasan klasikal =

85 % ke atas. Maka ketuntasan klasikal aktivitas siswa pada siklus I baru

mencapai 73,33 % sehingga belum mencapai indikator yang ditentukan.

Untuk memperbaiki pelaksanakan pembelajaran terutama agar aktivitas

siswa dapat meningkat dan mencapai indikator yang ditentukan maka

pembelajaran perlu dilanjutkan ke siklus II.

2. Data Hasil Belajar Siswa

Hasil tes prestasi yang dilakukan setelah berlangsungnya

pembelajaran adalah sebagai berikut :

Page 21: PTK IPA SMP

21

Tabel 4.4 Rekapitulasi hasil belajar siswa mata pelajaran IPA siklus I

KKM Keterangan Frekuensi %

≥ 75 Tuntas 21 70

< 75 Belum Tuntas 9 30

Dari tabel 4.4 di atas dapat dikatakan bahwa pada siklus I siswa

yang tuntas baru mencapai 70% dan yang belum tuntas 30%, sehingga

pada siklus I belum mencapai indikator yang telah ditentukan yaitu

minimal 85% siswa sudah tuntas belajar. Untuk memperbaiki

pelaksanakan pembelajaran terutama agar hasil belajar siswa dapat

meningkat dan mencapai indikator ketuntasan yang ditentukan maka

pembelajaran maka perlu dilanjutkan pada siklus II.

3. Data Hasil Respon Siswa

Dari hasil skoring terhadap angket respon siswa didapat hasil

sebagai berikut :

Tabel 4.5 Rekapitulasi hasil respon siswa mata pelajaran IPA siklus I

Nilai Kriteria Frekuensi %

≥70 Positif 20 66,67

<70 Negatif 10 33,33

Dari tabel 4.5 di atas dapat dikatakan bahwa pada siklus I siswa

yang memberikan respon positif 66,67% dan yang memberikan respon

negatif 33,33%, sehingga pada siklus I belum mencapai indikator yang

telah ditentukan yaitu minimal 85% siswa memberikan respon positif

terhadap pembelajaran. Untuk memperbaiki pelaksanakan pembelajaran

terutama agar respon siswa dapat meningkat dan mencapai indikator

yang ditentukan maka pembelajaran maka perlu dilanjutkan pada siklus

II.

Page 22: PTK IPA SMP

22

d. Refleksi ( Reflection)

Melalui tindakan refleksi akan diketahui kelebihan dan kekurangan

yang dilakukan dalam pelaksanaan. Dari data hasil pengamatan dicari

penjelasannya, dianalisis dan dikaji secara matang. Dari data yang diperoleh

setelah penelitian siklus I dilaksanakan, maka terdapat beberapa hal yang

perlu dibahas secara lebih lanjut, yaitu :

1) Aktivitas Siswa

Setelah peneliti memperoleh data nilai rata-rata siswa pada siklus

I yang baru mencapai 73,33% hal tersebut disebabkan :

- Siswa belum terbiasa dengan pembelajaran yang menekankan

keaktifan siswa.

- Siswa belum terampil dalam melakukan percobaan.

Hal tersebut dapat dilihat pada saat kegiatan belajar mengajar

masih ada beberapa siswa yang masih melakukan aktivitas yang tidak

relevan dengan kegiatan belajar mengajar sehingga kurang

memperhatikan pelajaran dan pengarahan dari guru.

2) Hasil Belajar Siswa

Setelah peneliti memperoleh data nilai rata-rata siswa pada

siklus I yang baru mencapai 70 %. Hal tersebut dikarenakan dalam

mengikuti kegiatan belajar mengajar masih banyak siswa yang kurang

konsentrasi, kurang memperhatikan petunjuk yang ada di Lembar

Kegiatan Siswa. Pada siklus II diharapkan pembelajaran dapat berjalan

lebih optimal dengan meningkatkan konsentrasi dan perhatian siswa

pada pelajaran yang berlangsung.

Page 23: PTK IPA SMP

23

3) Respon Siswa

Setelah peneliti memperoleh data respon siswa pada siklus I

yang baru mencapai 66,67%. Secara klasikal siswa belum menunjukkan

respon positif terhadap pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan dalam

mengikuti kegiatan belajar mengajar terpaku pada pembelajaran yang

sebelumnya.

Dari temuan-temuan dan kelemahan-kelemahan yang peneliti

peroleh dari kegiatan pembelajaran pada siklus I tersebut akan dibuat

acuan untuk perbaikan pada siklus II agar aktivitas siswa, hasil belajar

dan respon siswa mengalami peningkatan.

2. Siklus II

Pada siklus II ini peneliti tetap menggunakan pembelajaran dengan

pendekatan Quantum Teaching pada pembelajaran IPA materi sistem

pernafasan. Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut :

a. Perencanaan (Planning)

Perencanaan tindakan dilakukan dengan mempersiapkan segala

sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, diantaranya :

1) Menyusun perangkat pembelajaran, yang terdiri dari :

a) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran

b) Menyiapkan media pembelajaran

c) Membuat lembar kerja siswa

2) Menyusun pedoman pengamatan, yang terdiri dari :

a) Pedoman pengamatan aktivitas siswa

Page 24: PTK IPA SMP

24

b) Angket Respon siswa

b. Pelaksanaan ( Acting)

Kegiatan pembelajaran berpedoman pada Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) dengan langkah – langkah sebagai berikut :

1) Kegiatan Awal

a) Kegiatan belajar dimulai dengan salam kemudian dilanjutkan dengan

menjelaskan bahwa materi yang dipelajari hari ini tentang sistem

pernafasan

b) Guru memulai dengan pernyataan : ” sebelum kita mulai belajar IPA

hari ini, bu guru ingin bertanya apa yang terjadi jika seseorang

kekurangan oksigen ?

c) Guru menugaskan siswa untuk membentuk kelompok beranggotakan

4 - 5 orang dan terbentuklah dan setiap kelompok melakukan

percobaan seperti yang ada pada LKS. Dalam melakukan percobaan

siswa sudah terlihat terampil dalam menggunakan peralatan.

2) Kegiatan Inti

d) Guru menugaskan masing-masing siswa dalam kelompok untuk

menjawab pertanyaan yang ada di LKS berdasarkan percobaan yang

telah dilakukan. Tampak beberapa siswa dalam kelompok mengerjakan

dengan lancar ..

e) Guru menugaskan masing – masing kelompok untuk memaparkan

hasil dengan cara mengundi.

f) Masing-masing kelompok menyampaikan hasil pekerjaannya dengan

diwakili oleh dua orang siswa. Saat sesi tanya jawab berlangsung

Page 25: PTK IPA SMP

25

siswa-siswi terdiam, sehingga guru harus menawarkan pertanyaan

beberapa kali, baru kemudian terjadi Tanya jawab.

3) Kegiatan Akhir

g) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang materi yang telah

dibahas untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap materi system

pernafasan.

h) Guru bersama-sama siswa merayakan kesuksesan pembelajaran kali ini

dengan bertepuk tangan dan bernyanyi bersama.

c. Pengamatan (Observing)

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan diperoleh data-data

sebagai berikut :

1. Data Hasil Aktivitas Siswa

Hasil observasi aktivitas siswa seperti pada tabel berikut :

Tabel 4.6 Rekapitulasi Nilai Aktivitas siswa dalam pembelajaran siklus II

Nilai Kriteria Frekuensi %

< 70 Tidak Aktif 4 13,33

70 – 90 Aktif 26 86,67

Pada tabel 4.6 di atas, dapat diketahui yang memperoleh nilai >

70 = 26 siswa, dan yang memperoleh nilai <70 = 4 siswa. Dari kriteria yang

ditetapkan yaitu ketuntasan individu = 70 dan ketuntasan klasikal = 85 % ke

atas. Dari hasil pengamatan aktivitas siswa, ketuntasan klasikal aktivitas

siswa pada siklus II mencapai 88,88 % sehingga sudah mencapai indikator

yang ditentukan, sehingga tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.

Page 26: PTK IPA SMP

26

2. Data Hasil Belajar Siswa

Sedangkan hasil tes prestasi yang dilakukan setelah

berlangsungnya pembelajaran adalah sebagai berikut :

Tabel 4.7 Rekapitulasi hasil belajar siswa mata pelajaran IPA siklus II

KKM Kriteria Frekuensi %

≥ 70 Tuntas 27 90

< 70 Belum Tuntas 3 10

Dari tabel 4.7 di atas dapat dikatakan bahwa pada siklus II siswa

yang tuntas mencapai 90% dan yang belum tuntas 10%, sehingga pada

siklus II sedah melebihi indikator yang telah ditentukan yaitu minimal 85%

siswa sudah tuntas belajar, sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus

berikutnya.

3. Data Hasil Respon Siswa

Dari hasil skoring terhadap angket respon siswa didapat hasil

sebagai berikut :

Tabel 4.8 Rekapitulasi hasil respon siswa mata pelajaran IPA siklus I

Nilai Kriteria Frekuensi %

≥70 Positif 26 86,67

<70 Negatif 4 13,33

Dari tabel 4.8 di atas dapat dikatakan bahwa pada siklus I siswa

yang memberikan respon positif 86,67 % dan yang memberikan respon

negatif 13,33%, sehingga pada siklus II sudah melebihi indikator yang telah

ditentukan yaitu minimal 85% siswa memberikan respon positif terhadap

pembelajaran. Sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya.

Page 27: PTK IPA SMP

27

d. Refleksi ( Reflection)

Dari data yang diperoleh setelah penelitian siklus II, maka ada

beberapa hal yang perlu dibahas secara lebih lanjut, yaitu :

1) Aktivitas Siswa

Setelah peneliti memperoleh data nilai rata-rata siswa pada siklus

II yang mencapai 86,67% yang sudah melebihi indikator yang telah

ditentukan. Hal tersebut disebabkan siswa sudah bisa beradaptasi dengan

pembelajaran Quantum Teaching dengan baik, selain itu siswa juga

sudah trampil melakukan percobaan. Perhatian dan bimbingan guru

membuat siswa cenderung lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.

2) Hasil Belajar Siswa

Setelah peneliti memperoleh data nilai rata-rata siswa pada siklus

II terjadi peningkatan yaitu ketuntasan klasikal mencapai 90%. Dari

hasil tersebut menunjukkan bahwa siswa lebih mudah memahami materi

dengan pendekatan pembelajaran Quantum Teaching. Dengan demikian

hasil belajar siswa lebih meningkat

3) Respon Siswa

Setelah peneliti memperoleh data respon siswa pada siklus II

mencapai 86,67%. Secara klasikal siswa sudah menunjukkan respon

positif terhadap pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan dalam

mengikuti kegiatan belajar mengajar sudah merasa senang dan lebih

mudah memahami materi.

Page 28: PTK IPA SMP

28

B. Pembahasan

Dari data-data hasil penelitian dilakukan pembahasan sebagai berikut :

1. Aktivitas Siswa

Tabel 4. 9 Persentase peningkatan aktivitas siswa siklus I dan II

Data yang diperoleh Hasil

Peningkatan Siklus I Siklus II

Frekuensi % Frekuensi %

∑ siswa yang tuntas 22 73,33 26 86,67

Indikator ≥ 85 %

Dari tabel 4.9 diatas dapat dilihat secara jelas bahwa aktivitas siswa

dengan menggunakan pembelajaran Quantum Teaching dari siklus I sampai

siklus II mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 25,92%. Hal

ini disebabkan dengan pembelajaran Quantum Teaching siswa lebih

memberi kesempatan siswa untuk aktif berdiskusi dan bekerjasama dalam

kelompok.

Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I dan II secara

keseluruhan dapat digambarkan dengan histogram berikut :

Gambar 4.1 Histogram Aktivitas siswa Siklus I sampai dengan siklus II

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

Siklus I siklus II

62,96

88,88

Page 29: PTK IPA SMP

29

2. Hasil Belajar Siswa

Tabel 4. 10 Presentase peningkatan hasil belajar siswa siklus I dan II

Data yang diperoleh

Hasil

Peningkatan Siklus I Siklus II

Frekuensi % Frekuensi %

∑ siswa yang tuntas 16 59,25 23 85,18 25,92 %

Indikator ≥ 85%

Dari tabel 4.10 diatas dapat dilihat secara jelas bahwa hasil belajar

siswa dengan menggunakan pembelajaran Quantum Teaching dari siklus I

sampai siklus II mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 25,92

%. Hal ini disebabkan dengan pembelajaran Quantum Teaching siswa lebih

termotivasi dalam belajar karena pembelajaran dikemas dengan

menyenangkan, sehingga hasil belajar siswa meningkat.

Hasil belajar siswa pada siklus I dan II secara keseluruhan dapat

digambarkan dengan histogram berikut :

Gambar 4.2 Histogram Hasil Belajar Siswa Siklus I sampai dengan siklus II

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

Siklus I siklus II

59,25

85,18

Page 30: PTK IPA SMP

30

3. Respon Siswa

Tabel 4. 11 Presentase respon siswa siklus I dan II

Data yang diperoleh

Hasil

Peningkatan Siklus I Siklus II

Frekuensi % Frekuensi %

∑ siswa yang memberi respon

positif

18 66,67 24 88,88 22,22%

Indikator ≥ 85%

Dari tabel 4.11 diatas dapat dilihat secara jelas bahwa respon siswa

dengan menggunakan pembelajaran Quantum Teaching dari siklus I sampai

siklus II mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 22,22%. Hal

ini disebabkan dengan pembelajaran Quantum Teaching siswa lebih senang

dalam belajar dan siswa juga merasa pembelajaran Quantum Teaching

merupakan hal yang baru bagi mereka.

Respon siswa pada siklus I dan II secara keseluruhan dapat

digambarkan dengan histogram berikut :

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

siklus I

Siklus II

66.67

88.88

Gambar 4.3 Histogram Hasil Belajar Siswa Siklus I sampai dengan siklus II

Page 31: PTK IPA SMP

31

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Penggunaan Strategi Pembelajaran Quantum Teaching pada mata

pelajaran IPA materi gaya dan gerak di kelas VI SDN Banjaran dapat

meningkatkan aktivitas siswa dari siklus I sebesar 62,96% menjadi 88,88

% pada siklus II.

2. Penggunaan Strategi Pembelajaran Quantum Teaching pada mata

pelajaran IPA materi gaya dan gerak di kelas VI SDN Banjaran dapat

meningkatkan Hasil belajar siswa siklus I 59,25% menjadi 85,18% pada

siklus II.

3. Penggunaan Strategi Pembelajaran Quantum Teaching pada mata

pelajaran IPA materi gaya dan gerak di kelas VI SDN Banjaran dapat

meningkatkan Respon siswa siklus I 66,67% menjadi 88,88% pada siklus

II.

4. Penerapan Strategi Pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan

prestasi belajar pada mata pelajaran IPA materi gaya dan gerak di kelas

VI SDN Banjaran Baureno Bojonegoro.

Page 32: PTK IPA SMP

32

B. Saran

1. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dapat dikembangkan pembelajaran

dengan media yang lebih variatif.

2. Menggunakan strategi pembelajaran Quantum Teaching pada materi yang

lain pada pembelajaran sains atau mata pelajaran lain.

Page 33: PTK IPA SMP

33

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir. 2008. Strategi Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah.

Bandung: Maestro. AG. Pringgodigdo dkk. 1993. Ensiklopedi Umum, Yogyakarta : Yayasan

Kanisuius

Arsyad, Azhar. 1997. Media Pengajaran. Jakarta : Raja Grafindo Perkasa Bobby De Porter. 2003. Quantum Teaching, Terjemahan oleh Ary Nilandari Cet.

XI. Bandung : Kaifa

Dave Maier. 2001. Accelerated Learning (Cet.I), terjemahan oleh Astuti. Bandung : Kaifa

Depdiknas, 2006. Standar Kompetensi mata pelajaran IPA SD . Jakarta

Goleman, Daniel. 2000. Emotional Intelligence (terjemahan). Jakata : PT Gramedia Pustaka Utama.

Gordon Dryden. 2004. Revolusi Cara Belajar. Terjemahan Ari Nilandari Cet. VIII : Bandung: Kaifa

Joni , T. R. 1992. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif. Jakarta : Universitas Terbuka

Kathy Wagone. 2004. Seni Meraih Sukses Sederhana, terjemahan oleh Arman Prayitno. Batam : Interaksara

Muhibbin Syah. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya

Noelle C. Nelson, Jeannine L. Calaba, 2005. The Power of Appreciation. Terjemahan oleh Yulianto Rahmat. Jakarta: Buana Ilmu Populer

Rahadi, Aristo. 2004. Media dalam Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Suharsimi Arikunto. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Bumi Aksara

Susilana, Rudi & Riyana, Cepi. 2007. Media Pembelajaran : Hakikat,

Pengembangan, Pemanfaatan dan Penilaian, Bandung : Wacana Prima