of 25 /25
1 IKLIMATUL HAFAZAH

Kajian Fonologi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Kajian Fonologi

1

IKLIMATUL HAFAZAH

Page 2: Kajian Fonologi

2

TATARAN LINGUISTIK

FONOLOGI

FON ( bunyi) + LOGI ( ilmu )

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan bunyi-bunyi bahasa

FONETIK FONEMIK

Page 3: Kajian Fonologi

3

FONETIK

Mempelajari bunyi bahasa dengan tidak memperhatikan fungsi bunyi itu apakah ada pembeda makna atau tidak .

Fonetik Artikulasi

Mempelajari bagaimana mekanisme artikluasi alat tutur manusia digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa dan bagaimana bunyi itu diklasifikasi.

Fonetik Akustik

Mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fizikal atau fenomenon alam.Bunyi itu diselidiki frekuensi getaran dan intensitinya.

Fonetik Auditori

Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita

Page 4: Kajian Fonologi

4

ALAT-ALAT UCAP MANUSIA

Bagian atas mulut umumnya tidak bergerak(titik artikulasi)

Bagian bawah mulut dapat digerakan (artikulator)

CARA BUNYI DIHASILKAN

1. Udara dari paru-paru dihembuskan keluar

2. Bagian alat ujaran digerakkan

3. Pita suara digetarkan atau tidak digetarkan

Page 5: Kajian Fonologi

LanjutanUdara yang dihembuskan oleh paru-paru keluar melewati suatu daerah yang dinamakan daerah glotal. Udara ini kemudian lewat lorong yang dinamakan faring (fharynx). Dari faring ada dua jalan :

Melalui hidung( bunyi sengau/nasal)Melalui mulut (bunyi oral)

5

Page 6: Kajian Fonologi

6

BUNYI BAHASA

KONSONAN

Arus udara melalui rongga mulut mengalami sekatan

VOKAL

Arus udara melalui rongga mulut tanpasekatan.

Kawasanartikulasi

Cara artikulasi

Kedudukan lidah

Bahagian lidah yang terlibat

Keadaan bibir

Page 7: Kajian Fonologi

Klasifikasi Bunyi Vokal

Berdasarkan posisi Bibir Vokal Bundar yaitu vokal yang apabila dalam pengucapannya berbentuk bundar seperti bunyi /o/,/u/,/a/.Vokal Tak Bundar yaitu vokal yang apabila dalam pengucapannya tidak bundar atau tidak rata seperti /i/ dan /u/.

7

Page 8: Kajian Fonologi

Berdasarkan Tinggi Rendahnya Lidah

Vokal Tinggi yaitu vokal apabila dalam pengucapannya lidah diangkat dekat alveolum (lekung kaki gigi)seperti bunyi /i/ dan /u/.

Vokal Tengah yaitu vokal yang apabila dalam pengucapannya lidah diangkat sedikit seperti bunyi /e/ (pepet).

Vokal Rendah yaitu vokal yang apabila dalam pengucapannya lidah diturunkan serendah-rendahnya seperti bunyi /a/.8

Page 9: Kajian Fonologi

Vokal Depan yaitu vokal yang dibentuk dengan menggerakkan bagian belakang lidah kearah langit-langit sehingga terbentuk rongga yg menjadi ruang resonansi seperti bunyi /i/ dan /e/.

Vokal tengah/sentral yaitu vokal yang dibentuk dengan menggerakkan bagian depan dan bagian belakang lidah ke arah langit-langit sehingga terbentuk rongga resonansi, seperti bunyi /e/ (pepet).

Vokal Belakang yaitu vokal yg dibentuk dengan cara menggerakkan bagian depan lidah ke arah langit-langit, sehingga terbentuk rongga sebagai resonansi bagian belakang lidah dan langit-langit seperti bunyi /o/,/u/dan/a/ .

9

Page 10: Kajian Fonologi

10

i

e

ε

a

u

o

د

ь

Depan Tengah Belakang

Sempit

Separuh sempit

Separuh luas

Luas

ә

BAGAN VOKAL

Page 11: Kajian Fonologi

Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendah lidah , bagian lidah yang bergerak, serta strukturnya. Namun, yang dihasilkan bukan dua buah bunyi, melainkan hanya sebuah bunyi karena berada dalam satu silabel.

Contoh diftong dalam bahasa Indonesia adalah

[ai],[oi],[au] seperti terdapat pada kata kerbau dan harimau,kacau,kalau,amboi,capai.

11

Page 12: Kajian Fonologi

Berdasarkan titik artikulasi dan artikulator bunyi-bunyi konsonan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Konsonan bilabial yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir , bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [p] dan [b] dan[ m]. Dalam hal ini perlu diperhatikan bunyi [p] dan [b] adalah bunyi oral,yaitu yang dikeluarkan melalui mulut, sedangkan [m] adalah bunyi nasal yakni, bunyi yang dikeluarkan melalaui rongga hidung

12

Page 13: Kajian Fonologi

13

Konsonan Labiodental yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas ;gigi bawah merapat pada gigi atas. Yang termasuk konsonan labiodentals adalah bunyi [f] dan [v].

Konsonan Laminoalveolar , yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi; dalam hal ini , daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoalveolar adalah bunyi [t] dan [d].

Konsonan Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi [k] dan [g].

Page 14: Kajian Fonologi

Konsonan Hambat ( letupan, plosif, stop). Di sini alrtikulatot menutup sepenuhnya aliran udara , sehinnga udara mampat di belakang tempat penutupan itu. Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan terjadinya letupan . Yang termasuk konsonan letupan ini, anatara lain , bunyi [p], [b], [t], [d], [k] dan [g].

Konsonan geseran atau prikatif. Disini artikulator aktif mendekati artikulatoar pasif , membentuk celah sempit , sehingga udara yang lewat mendapat gangguan d icelah itu. Contoh yang termasuk konsonan geseran adalah bunyi [f], [s] dan [z].

14

Page 15: Kajian Fonologi

Konsonan paduan atau frikatif. Di sini artikulator aktif penghambat sepenuhnya aliran udara , lalu membentuk celah sempit dengan articulator pasif . Cara ini merupakan gabungan anatara hambatan dan prikatif. Yang termasuk konsonan paduan anatara lain bunyi [c] dan [j].

Konsonan sengauan atau nasal. Di sini altikulator aktif menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut , tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh konsonan nasal adalah[m],[n] dan [ŋ].

Konsonan getaran atau tril , di sini artikulator aktif melakukan kontak bruntun dengan articulator pasif sehingga getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang . Contohnya adalah konsonan [r].

15

Page 16: Kajian Fonologi

Konsonan sampingan atau lateral Di sini artikulator aktif menghambat aliran udara pada tengah mulut ; lalu membiarkan udara keluar melalui samping lidah . contohnya adalah konsonan [l].

Konsonan hampiran atau aproksimanDi sini artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal , tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonan geseran . Oleh karena itu bunyi yang dihasikan sering juga disebut semi vocal, ada dua buah bunyibyaitu /w/ dan /y/ .

16

Page 17: Kajian Fonologi

Bunyi segmental terwujutd bersama-sama dengan ciri suprasegmental, seperti tekanan, jangka, dan nada. Disamping itu ciri suprasegmental itu, pada untaian tuturan terdengar pula ciri suprasegmental yang lain, yaitu intonasi dan ritme (irama).Dalam kalimat tidak semua kata mendapat tekanan yg sama. Biasanya kata yang dianggap penting saja yg diberi tekanan. Tekanan yang demikian lazim disebut aksen.

17

Page 18: Kajian Fonologi

Fonemik18

Bunyi-bunyi bahasa yang dapat membedakan arti disebut dengan fonem. Cara membuktikan suatu bunyi disebut fonem dalam suatu bahasa adalah dengan cara mencari pasangan minimal dari kata-kata yang kontras/kata-kata yg berbeda arti. Bunyi yang perlu dibuktikan sebagai fonem atau tidak adalah bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis atau kesamaan ucapan.

Page 19: Kajian Fonologi

Bunyi yang dicurigai

Pasangan minimal yang dioposisikan

fonem

[i]

[e]

[u]

[o]

[b]

[t]

[a]

[a]

[i]

[a]

[p]

[d]

[bila]

[serI]

[durI]

[kota]

[baku

]

[tari]

[bala]

[sari]

[diri]

[kata]

[paku

]

[dari]

/i/

/e/

/u/

/o/

/b/

/t/

/a/

/a/

/i/

/a/

/p/

/d/19

Page 20: Kajian Fonologi

Asimilasi dan Disimilasiasimilasi yaitu pristiwa perubahan bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinnya.Contoh asimilasi:Sabtu dalam bahasa Indonesia lazim disebutkan [saptu], dimana terlihat [b] berubah menjadi [p] karena pengaruh [t].

20

Page 21: Kajian Fonologi

Lanjutan

DisimilasiDisimilasi adalah perubahan bentuk kata karena salah satu dari dua buah fonem yang sama diganti dengan fonem yang lain. Contoh disimilasi :

Disimilasi sinkronis

Contohnya : ber + ajarà belajar. Fonem /r/ pada awalan ber- diubah menjadi /l/.

Disimilasi diakronis

Contohnya : kata cipta berasal dari bahasa Sansekerta yaitu citta. Jadi terdapat perubahan dari fonem /tt/ menjadi /pt/.

21

Page 22: Kajian Fonologi

Metatesis dan Epentesis

22

Dalam proses metatesis yang diubah adalah urutan fonem-fonem tertentu yang biasanya terdapat bersama dengan bentuk asli, sehingga ada variasi bebas. Misalnya, jalur menjadi lajur, almari menjadi lemari. Sedangkan Epentesis, yaitu penambahan fonem di tengah kata. Contohnya : /upat/ menjadi /umpat/, /kapak/ menjadi /kampak/.

Page 23: Kajian Fonologi

Pelepasan bunyi adalah hilangnaya bunyi atau fonem pada awal, tangah dan akhir sebuah kata tanpa mengubah makna. Pelepasan dapat pula berupa kontraksi atau pemendekan kata. Pelepasan dibagi menjadi tiga, yaitu Aferesis, yaitu pelepasan fonem pada awal kata. Contohnya /tetapi/ menjadi  /tapi/, /baharu/ menjadi /baru.Sinkope, yaitu pelepasan fonem pada tengah kata. Contohnya /silahkan/ menjadi  /silakan/, /dahulu/ menjadi /dulu/Apokope, yaitu pelepasan fonem pada akhir kata. Contohnya /president/ menjadi  /president/, /standard/ menjadi /standar/

23

Page 24: Kajian Fonologi

24

Gugus konsonan adalah beberapa konsonan yang merupakan satu kesatuan. Gugus konsonan merupakan anggota sebuah suku kata.Gugus Bagan Posisi

Awal Tengah Akhir

/pl//kl//gl//br//tr//kr//ks//ps//dy//sw//str//skr/

PKGBTKKPDsTk

/plasma//klinik//global//brahma//tri//kritik//ksatria//psikologi/

/swadaya//strika//Skripsi/

/kompleks/

/isoglos//obral//putra//mikroskop//ekspres/

/Madya/

/instruksi//manuskrip/

l

r

s

y

sr

Page 25: Kajian Fonologi

See you on The TopHastalavista,…..

25