SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

  • Upload
    asmara

  • View
    284

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    1/87

    i

    PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP AKTIVITAS FISIK

    PADA LANSIA OSTEOARTHRITIS DIPANTI SOSIAL TRESNA

    WHERDA BUDI SEJAHTERA PROVINSI KALIMANTAN

    SELATAN BANJARBARU

    TAHUN 2015

    SKRIPSI

    ASMARA ARI SANDI

    NPM.11312 AS1

    SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

    PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN

    BANJARMASIN, 2015

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    2/87

    ii

    i

    PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP AKTIVITAS FISIK

    PADA LANSIA OSTEOARTHRITIS DIPANTI SOSIAL TRESNA

    WHERDA BUDI SEJAHTERA PROVINSI KALIMANTAN

    SELATAN BANJARBARU

    TAHUN 2015

    Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan

    Pada Program Studi S1 Keperawatan

    Oleh:

    ASMARA ARI SANDI

    NPM. 11312 AS1

    SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

    PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN

    BANJARMASIN, 2015

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    3/87

    iii

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    4/87

    iv

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    5/87

    v

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    6/87

    vi

    PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

    Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

    Nama mahasiswa : Asmara Ari Sandi

    NPM : 11312 AS1

    Prodi : S1 Keperawatan

    Jenis Karya : Skripsi

    Sebagai civitis akademik Stikes Muhammadiyah Banjarmasin, yang turut serta

    mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan

    kepada Stikes Muhammadiyah Banjarmasin Hak Bebas Royalti atas karyailmiyah saya berjudul :

    Pengaruh Senam Lansia Terdahap Aktivitas Fisik Pada Lansia Osteoarthritis di

    Panti Sosial Tresna Wherda Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan

    Banjarbaru Tahun 2015

    Dengan adanya Hak Bebas Royalti ini maka, Stikes Muhammadiyah Banjarmasin

    mempunyai kebebasan secara penuh untuk menyimpan, melakukan editing,

    mengalihkan ke format/media yang berbeda, melakukan kelolaan berupa

    database, serta melakukan publikasi tugas akhir saya ini dengan pertimbangan

    tetap mencantumkan nama penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta

    Peryataan ini saya buat dengan sebenarnya.

    Dibuat di : Banjarmasin

    Pada Tanggal : Agustus 2015

    Saya yang menyatakan,

    (Asmara Ari Sandi)

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    7/87

    vii

    vi

    PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

    SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH

    BANJARMASIN

    Skripsi, 24 Agustus 2015

    Asmara Ari sandi

    NPM: 11312 AS1

    Pengaruh Senam Lansia Terhadap Aktivitas Fisik Lansia Pada Penderita

    Osteoarthritis Di Panti Tresna Werdha Banjar Baru tahun 2015

    ABSTRAK

    Permasalahna pada lansia cukup banyak salah satunya osteoartrhitisyang dapat

    mengganggu aktivitas fisik lansia. Osteoarthritis cukup mengganggu aktivitas

    fisik lansia, salah satu cara mengatasi osteoarthritis dengan mengikuti senam

    lansia.

    Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senam lansia terhadap aktivitas

    fisik lansia pada penderita Osteoartritis.

    Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experimentdengan rancangan pretest

    posttest. Populasi penelitian ini adalah seluruh lansia di Panti Tresna Werdha

    Banjarbaru yang memiliki masalah osteoartritis dengan jumlah 15 responden

    yang diberikan intervensi senam lansia. Penelitian ini menggunakan metode

    randomdengan uji wilcoxson.

    Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan sebelum dan sudah senam lansia

    yang di lakukan dengan uji wilcoxson di dapatkan hasil 0.001 hasil tersebut

    kurang dari alfa p0,05, dengan kata lain ada pengaruh senam lansia terhadap

    aktivitas fisik lansia pada penderita osteoarthritis.

    Kata kunci : Aktivitas Fisik,Osteoartritis, Senam Lansia

    Kepustakaan : 45 (2004-2015)

    KATA PENGANTAR

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    8/87

    viii

    vii

    Assalamualaikum.wr.wb.

    Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang tiada

    pernah berhenti dicurahkan kepada semua hamba-Nya yang mau berdoa dan

    berusaha tiada henti. Shalawat dan salam tidak lupa pula penulis haturkan pada

    junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Atas kekuatan dan kemampuan yang

    diberikan-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

    Selesainya penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak, pada

    kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

    1. Bapak M. Syafwani, S.Kep.,M.Kep.,Sp.Jiwa selaku ketua Sekolah Tinggi

    Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin dan juga sebagai pembimbing I

    yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan perbaikan dalam hal

    materi, petunjuk maupun saran kepada penulis.

    2. Bapak Solikin, Ns.,M.Kep.,Sp.KMB selaku Ketua Program Studi S1

    Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin.

    3. Ibu Noor Amaliah, S.Kep.,Ns selaku Pembimbing Akademik (PA) yang

    sangat berjasa dalam proses perkuliahan penulis selama kurang lebih 4 tahun

    ini.

    4. Bapak Suroto,SKM.,M.kes selaku pembimbing II tentang metodologi

    penelitian sekaligus pembimbing teknik penulisan yang telah memberikan

    bimbingan tentang cara metodologi penelitian dan teknik penulisan yang

    baik.

    5. Bapak dan Ibu dosen pengajar beserta staf Sekolah Tinggi Ilmu

    Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin yang selama ini banyak

    memberikan bekal pengetahuan kepada penulis dan telah membantu

    demi lancarnya segala urusan dalam penelitian ini.

    6. Bapak Poniman dan Ibu Sriwulan selaku orang tua serta keluarga besar yang

    sangat peneliti sayangi, yang terus mendoakan dan memberikan dukungan

    serta memfasilitasi untuk keberhasilan penulis.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    9/87

    ix

    7.

    Teman-teman khususnya Laila Fitriana, Ade Saputra, Irinne Gustina Arnisty

    terima kasih kalian telah memberikan semangat dan motivasi dalam penulisan

    penelitian ini.

    8.

    Keluarga perawat kelas E khususnya M.Anas Ali, Maulana Sam Ariskandar ,

    Andre, Ikhwan, Haidir dll yang selalu menghadirkan semangat dan juga

    bantuan untuk kelancaran penelitian ini.

    9.

    Teman-teman S.1 Keperawatan Ners A, kebersamaan kita selama 4 tahun ini

    telah memberikan warna dalam hidup ini. Terimakasih telah menjadi teman

    terbaik.

    Penulis sadar bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena

    itu penulis mengucapkan mohon maaf atas segala kekurangan yang ada dalam

    penyusunan skripsi ini.

    Akhir kata penulis mengucapakan banyak terimakasih dan skripsi ini dapat

    bermanfaat bagi semua pihak pada umumnya dan penulis sendiri khususnya.

    Banjarmasin, Agustus 2015

    Penulis

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    10/87

    x

    ix

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ....................................................................................LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ...............................................

    LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ...........................................................

    PERNYATAAN ORISINIL PENELITIAN .................................................

    PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ..........................................

    ABSTRAK .....................................................................................................

    KATA PENGANTAR ..................................................................................

    DAFTAR ISI .................................................................................................

    DAFTAR TABEL .........................................................................................

    DAFTAR GAMBAR ....................................................................................

    DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................

    BAB 1 PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang ..........................................................................

    1.2 Rumusan Masalah .....................................................................

    1.3 Tujuan .......................................................................................

    1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................

    1.5 Penelitian Terkait ......................................................................

    BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Konsep Lansia ........................................................................

    2.2 Masalah yang Terjadi pada Lansia ........................................

    2.3 Konsep Senam Lansia ............................................................

    2.4 Aktivitas Fisik pada Lansia ....................................................

    2.5 Kegiatan Sehari-hari pada Lansia ..........................................

    2.6 Bentuk Gangguan pada Lansia .............................................

    2.7 Osteoarthritis

    2.8 Keterkaitan Senam Lansia dengan Aktivitas Fisik Lansia ....

    2.9 Kerangka Teori Penelitian .....................................................

    2.10 Kerangka Konsep Penelitian ..................................................

    2.11 Hipotesa/Pertanyaan Penelitian .............................................

    BAB 3 METODE PENELITIAN3.1 Desain Penelitian ....................................................................

    3.2 Definisi Operasional ...............................................................

    3.3 Populasi, Sampel dan Sampling .............................................

    3.4 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................

    3.5 Jenis Senam yang digunakan....................................................

    3.6 Langkah-langkah Penelitian ....................................................

    3.7 Alat Pengumpulan Data .........................................................

    3.8 Teknik Pengambilan Data ......................................................

    3.9 Teknik Analisa Data ...............................................................

    3.10 Etika Penelitian ......................................................................

    iii

    iii

    iv

    v

    vi

    vii

    ix

    xi

    xii

    xiii

    1

    3

    4

    4

    5

    6

    8

    11

    16

    18

    19

    22

    30

    31

    32

    32

    33

    34

    34

    36

    36

    36

    37

    37

    38

    39

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    11/87

    xi

    BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Lokasi Penelitian ......................................................................

    4.2 Karakteristik Responden............................................................4.3 Pembahasan...............................................................................

    4.4 Keterbatasan Penelitian ............................................................

    4.5 Implikasi Hasil Penelitian Bidang Keperawatan ......................

    BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan ...............................................................................

    5.2 Saran .........................................................................................

    DAFTAR RUJUKAN

    LAMPIRAN

    40

    4346

    51

    51

    52

    52

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    12/87

    xii

    xi

    DAFTAR TABEL

    3.1 Definisi Operasional .................................................................................. 344.1 Luas Wilayah Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera ........................ 41

    4.2 Jumlah Lanjut Usia Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera .......... 42

    4.3 Sumber Daya Tenaga PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru Tahun 2015 ...... 42

    4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ................................ 43

    4.5 Karakteristik Responden Berdasarakan Umur ............................................ 44

    4.6 Kondisi Aktifitas Sebelum Senam Lansia .................................................... 44

    4.7 Kondisi Aktifitas Sesudah Senam Lansia ..................................................... 454.8 Hasil Analisis Pengaruh Senam Lansia Terhadap Aktifitas Fisik Pada

    Lansia Osteoarthritis.......................................................................................45

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    13/87

    xiii

    xii

    DAFTAR GAMBAR

    Kerangka Konsep Penelitian .............................................................................. 31

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    14/87

    xiv

    xiii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian

    Lampiran 2 Surat izin Penelitian

    Lampiran 3 Permohonan Menjadi Responden

    Lampiran 4 Lembar Persetujuan Menjadi Responden

    Lampiran 5 Lembar Observasi

    Lampiran 6 Data Hasil Penelitian

    Lampiran 7 Lembar Konsultasi

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    15/87

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia

    adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) manusia Indonesia. Hampir

    setiap tahunnya negara Indonesia selalu menempati peringkat keempat dunia,

    untuk kategori penduduk orang berusia lanjut terbanyak di dunia yaitu setelah

    Cina, India, dan Amerika Serikat (AS) (Nugroho,2002).

    Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu

    masa anak, masa dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari oleh setiap

    individu. Pertambahan usia akan menimbulkan perubahan-perubahan pada

    struktur dan fisiologis dari berbagai sel/jaringan/organ dan sistem yang ada

    pada tubuh manusia.

    Proses ini menjadikan kemunduran fisik maupun psikis. Kemunduran psikis

    ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, penurunan pendengaran,

    penglihatan memburuk, gerakan lambat, dan kelainan berbagai fungsi organ

    vital. Sedangkan kemunduran psikis terjadi peningkatan sensitivitas

    emosional, menurunnya gairah, bertambahnya minat terhadap diri, dan minat

    kegiatan rekreasi tidak berubah (hanya orientasi dan subyek saja yang

    berbeda).

    Ada 2 proses penuaan, yaitu penuaan secara primer dan penuaan secara

    sekunder. Penuaan primer akan terjadi bila terdapat perubahan pada tingkat

    sel, sedangkan penuaan sekunder merupakan proses penuaan akibat faktor

    lingkungan fisik dan sosial, stres fisik/psikis, serta gaya hidup dan diet dapat

    mempercepat proses menjadi tua.

    Lanjut usia (lansia) sebagai tahap akhir dari siklus kehidupan manusia, sering

    diwarnai dengan kondisi hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Jumlah

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    16/87

    2

    penduduk lanjut usia diperkirakan 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan

    diperkirakan pada tahun 2020 akan mencapai 1,2 milyar. Di negara maju

    seperti Amerika Serikat pertambahan orang lanjut usia 1000 orang perhari.

    Pada tahun 2020 jumlah penduduk lansia di Indonesia diperkirakan sebesar

    28,8 juta jiwa dengan usia harapan hidup 71,1 tahun (Menkokesra,2007).

    Pertambahan penduduk lansia secara bermakna akan disertai oleh berbagai

    masalah dan akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan lansia, baik

    dalam individu maupun bagi keluarga dan masyarakat antara lain meliputi

    fisik, biologis dan mental. Mengingat lansia sangat memerlukan perhatian

    khusus sesuai keberadaannya. Usaha untuk memperbaiki fungsi organ dapat

    ditempuh dengan cara aktivitas fisik atau olah raga yang teratur dan

    berkesinambungan.

    Menurut Hardin (2006), peneliti dari Arthritis Foundation, Atlanta, AS

    olahraga membuat berat badan turun dan ini baik bagi sendi agar tidak kaku

    dan otot lebih kuat. Maka olah raga yang disarankan untuk para Lansia antara

    lain berjalan kaki, senam, aerobik dan olahraga ringan lainnya.

    Ditinjau dari kecenderungan masalah berbagai penyakit pada lanjut usia

    merupakan golongan yang rawan terhadap masalah penyakit degeneratif.

    Karena pada lansia terjadi penurunan kegiatan sel-sel tubuh, maka perlu

    mendapat keseimbangan dari kebutuhan dalam memperbaiki fungsi organ

    dengan cara olahraga yang teratur.Dengan olah raga yang teratur seperti

    dilakukannya senam lansia.

    Salah satunya yang sering diderita para lansia karena penurunan kerja

    jantung, tetapi terkadang ada lansia yang kurang berperan aktif dalam

    aktifitas senam lansia dikarenakan keterbatasan fisiknya, tetapi sebagai tenaga

    kesehatan harus mempunyai solusi agar tetap menyamaratakan untuk

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    17/87

    3

    memberikan pelayanannya yang terbaik pada lansia di PSTW Budi Sejahtera

    Banjarbaru.

    Sesuai dengan pengalaman pada saat studi pendahuluan di Panti Sosial

    Tresna Wherda Budi Sejahtera Banjarbaru. Jumlah lansia yang mengalami

    penyakit osteoartrhitis ada 15 orang lansia dan yang mengalami penyakit

    osteoarthritis mengikuti senam setiap 1 kali dalam seminggu. Dari hasil

    wawancara didapat aktivitas yang diberikan secara rutin senam lansia yang

    diberikan setiap 1 kali dalam seminggu oleh instruktur yang sudah

    profesional kurang lebih berjumlah 1 orang untuk memberikan senam lansia

    didalam Panti Sosial Tresna Werda Budi Sejahtera Banjarbaru sebagai

    aktivitas fisik agar dapat menjaga kesehatan lansia tetap dalam keadaan

    bugar dan mengurangai dari penyakit osteoartrhitis.

    Jadi, senam lansia ini dapat mengurangi resiko terjadinya osteoatrhitis pada

    lansia dan dapat mengidentifikasi hasil dari senam lansia terhadap aktifitas

    pada lansia pre dan post melakukan kegiatan senam lansia yang dilakukansecara rutin setiap 1 kali dalam seminggu.

    Berdasarkan pengalaman dan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan

    penelitian dengan judul Pengaruh Senam Lansia Terhadap Aktifitas Fisik

    Pada Lansia Osteoatrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

    1.2 Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam

    penelitian ini adalah :

    Apakah ada pengaruh senam lansia terhadap aktifitas fisik pada lansia

    osteoatritis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    18/87

    4

    1.3 Tujuan Penelitian

    1.3.1 Umum

    Menjelaskan Pengaruh Senam Lansia Terhadap Aktivitas Fisik Pada

    Lansia Osteoatrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

    1.3.2 Khusus

    1.3.2.1 Mengidentifikasi aktifitas fisik sebelum diberikan senam lansia

    pada lansia osteoatrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

    1.3.2.2 Mengidentifikasi aktifitas fisik sesudah diberikan lansia pada

    lansia oteoatrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

    1.3.2.3 Menganalisa pengaruh senam lansia terhadap aktifitas fisik

    lansia di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

    1.4 Manfaat Penelitian

    1.4.1 Manfaat Teoritis atau Akademis

    Didalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan

    informasi bagi petugas di Panti maupun instruktur senam lansia tentang

    manfaat dari keefektifan senam lansia yang diberikan secara benar,

    sehingga dapat bermanfaat untuk kesehatan jantung para lansia dan

    dapat menjaga kebugaran serta mengisi waktu aktifitas yang membuat

    para lansia terhindar dari stress.

    1.4.2 Manfaat Praktis

    Manfaat penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk memberikan

    masukan dalam hal mengidentifikasi dari pengaruh aktifitas fisik yaitu

    senam lansia terhadap aktifitas pada lansia yang dilakukan pemeriksaan

    pre dan post, untuk dapat memantau aktifitas fisik selalu dalam batas

    normal, sehingga para lansia terhindar dari penyakit jantung terutama

    osteoatrhitis khususnya pada lansia di PSTW Budi Sejahtera

    Banjarbaru.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    19/87

    5

    1.5 Penelitian Terkait

    Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Margiyati,2010) tentang

    Pengaruh Senam Lansia terhadap aktifitas fisik pada Lansia Penderita

    Hipertensi di Posyandu Lansia Ngudi Waras, Dusun Kemloko, Desa Bergas

    Kidul. Penelitian ini menggunakan desain Pra Eksperimental One Group

    Pretest-Posttest Design. Untuk jumlah populasinya berjumlah 60 responden

    serta sampel yang diambil berjumlah 12 responden dengan teknik purposive

    sampling. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah

    desain yang digunakan menggunakan desain Quasi Eksperimen serta jumlah

    populasi yang berbeda yaitu 107 responden dan jumlah sample yang diambil

    berjumlah 20 responden. Pengambilan sampling sama dengan menggunakan

    purposive sampling serta uji statistik menggunakan software SPSS 17.0.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    20/87

    6

    BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Konsep Lansia

    2.1.1 Definisi

    Pengertian lansia adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik

    yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai

    mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa. Ketika kondisi

    hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan

    memasuki selanjutnya, yaitu lansia, kemudian mati. Bagi manusia yang

    normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam

    setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi

    lingkungannya (Darmojo, 2004).

    Lanjut Usia (Lansia) adalah orang tua yang berusia 55 tahun keatas

    (Depkes RI,2001). Ketika usia pensiun ditentukan pada usia 65 tahun

    melalui legislasi Social Securitypada tahun 1930-an, maka masyarakat

    Amerika menerima usia 65 tahun sebagai awal usia tua, ini

    menunjukkan definisi kronologis usia yang paling sering dipakai dalam

    masyarakat. Namun, usia fungsional dan fisiologis berbeda dari satu

    individu dengan lainnya dan karenanya tidak bisa distandardisasi.

    (Menurut Nugroho, Wahjudi.2000).

    2.1.2 Batasan-Batasan Lanjut Usia (Menurut Nugroho, Wahjudi.2000)Mengenai kapankah orang disebut Lansia, sulit dijawab secara

    memuaskan.

    Dibawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur.

    2.1.2.1 Departemen Kesehatan RI membagi lansia sebagai berikut :

    a. Kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa

    vibrilitas.

    b.

    Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai senium.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    21/87

    7

    c.

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO sebagai

    presenium.

    d. Kelompok usia lanjut (kurang dari 65)

    2.1.2.2 Lanjut Usia meliputi :

    a. Usia pertengahan (midlle age) antara kelompok usia 45

    sampai 59 tahun.

    b. Lanjut usia (elderly) antara 60 dan 74 tahun.

    c. Lanjut usia tua (old) antara 75 dan 90 tahun.

    d.

    Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

    2.1.2.3 Menurut Pasal 1 Undang-undang No.4 Tahun 1965:

    Seseorang dinyatakan sebagai orang jompo atau usia lanjut

    setelah yang bersangkutan mencapai usia 55 tahun, tidak

    mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk

    keperluan hidupnya sehari-hari, dan menerima nafkah dari

    orang lain.

    2.1.2.4 Proses Penuaan dan Perubahan yang Terjadi pada Lansia

    (Menurut Mubaroq, W.i. 2010)

    2.1.3 Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan,

    yaitu masa anak, masa dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari

    oleh setiap individu. Pertambahan usia akan menimbulkan perubahan-

    perubahan pada struktur dan fisiologis dari berbagai sel/jaringan/organ

    dan sistem yang ada pada tubuh manusia.

    Ada dua proses penuaan, yaitu penuaan secara primer dan penuaan

    secara sekunder. Penuaan primer akan terjadi bila terdapat perubahan

    pada tingkat sel, sedangkan penuaan sekunder merupakan proses

    penuaan akibat faktor lingkungan fisik dan sosial, stres fisik/psikis,

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    22/87

    8

    serta gaya hidup dan diet dapat mempercepat proses menjadi tua.Secara

    umum, perubahan fisiologis proses penuaan adalah sebagai berikut :

    a. Perubahan mikro merupakan perubahan yang terjadi dalam sel

    seperti :

    1)Berkurangnya cairan dalam sel.

    2)Berkurangnya ukuran sel.

    3)

    Berkurangnya jumlah sel.

    b. Perubahan makro, yaitu perubahan yang jelas dapat diamati atau

    terlihat seperti:

    1)

    Erosi pada permukaan sendi-sendi

    2)Terjadinya osteoporosis

    3)Otot-otot mengalami atrofi

    4)

    Presbiopi

    5)Adanya arteriosklerosis

    6)Menopouse pada wanita

    7)Kulit tidak elastis

    8)

    Rambut memutih.

    2.2 Masalah Yang Terjadi Pada Lansia

    Secara individu, pengaruh proses menusa dapat menimbulkan bebagai

    masalah fisik baik secara fisik-biologik, mental maupun sosial ekonomis.

    Dengan semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran

    terutama dibidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan

    pada peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya

    gangguan didalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat

    meningkatkan ketergantungan yang memerlukan orang lain.

    Lanjut usia tidak saja ditandai dengan kemunduran fisik, tetapi dapat pula

    berpengaruh terhadap kondisi mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan

    sosialnya akan semakin berkurang hal mana akan dapat mengakibatkan

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    23/87

    9

    berkurangnya integrasi dengan lingkungannya. Hal ini dapat memberikan

    dampak pada kebahagiaan seseorang (Stanley, 2007).

    Pada usia mereka yang telah lanjut, sebagian diri mereka masih mempunyai

    kemampuan untuk bekerja. Permasalahannya yang dapat timbul adalah

    bagaimana memfungsikan tenaga dan kemampuan mereka tersebut didalam

    situasi keterbatasan kesempatan kerja.

    Masalah-masalah pada lanjut usia di kategorikan ke dalam empat besar

    pendertaan lanjut usia yaitu imobilisasi, ketidakstabilan, gangguan mental,

    dan inkontinensia.

    2.2.1 Imobilisasi dapat disebabkan karena alasan psikologis dan fisik. Alasan

    psikologis diantaranya apatis, depresi, dan kebingungan. Setelah faktor

    fsikologis, masalah fisik akan terjadi sehingga memperburuk kondisi

    imobilisasi tersebut dan menyebabkan komplikasi sekunder (Watson,

    2003).

    faktor fisik yang menyebabkan imobilisasi mencakup

    frakturekstremitas, nyeri pada pergerakan artrithis, paralis dan

    penyakit serebrovaskular, penyakit kardiovarkular yang menimbulkan

    kelelahan yang ekstrim selama latihan, sehingga tidak terjadi

    ketidakseimbangan. Selain itu penyakit seperti parkinson dengan

    gejala tumor dan ketidakmampuan untuk berjalan merupakan

    penyebab imobilisasi.

    2.2.2 Ketidakstabilan adalah jatuh karena kejadian ini sering dialami oleh

    lanjut usia dimana wanita yang jatuh, dua kali lebih sering dibanding

    pria. Jatuh adalah sesuatu kejadian yang di laporkan penderita atau

    saksi mata yang melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang

    mendadak terbaring dan terduduk dilantai tau tempat yang lebih

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    24/87

    10

    rendah dengan atau tanpa kehilangan kesdaran atau luka yang akibat

    jatuh dapat menyebabkan imobilisasi (Watson, 2003).

    2.2.3 Gangguan mental merupakan yang sering terjadi sehubungan dengan

    terjadinya kemerosotan daya ingat. Beberapa kasus iniberhubungan

    dengan penyakit-penyakit yang merusak jaringan otak, sehingga

    kebanykan maslah turunnya daya ingat lanjut usia bukanlah sebagai

    akibat langsung proses penuan tetapi karena penyakit.

    Sebagian besar lanjut usia memerlukan perawatan karena menderita

    gangguan mental. Konfusi (kebingungan) adalah maslah utama

    mempunyai konsekuensi untuk semua aktivitas sehari-hari. Lanjut

    usia yang mengalami konfusi tidak akan mampu untuk makan, tidak

    mampu mengontrol diri, bahkan menunjukan prilaku yang agresif

    sehingga lanjut usia memerlukan perawatan lanjutan usia mengatasi

    ketidakmampuan dan keamanan lingkungan tempat tinggal lanjut usia

    secara umum. Bantuan yang diberikan adlah melalui petugas panti

    dan dukungan keluarga (Watson, 2003).

    2.2.4 Insiden inkontinensia biasanya meningkat pada lanjut usia yang

    kehilangan kontrol berkemih dan defakasi. Hal ini berhubungan

    dengan faktor akibat penuaan dan faktor nutrisi seperti yang telah

    dijelaskan diatas adalah efek dari imobilisasi.

    Inkontinensia lebih banyak diderita oleh perempuan dari pada laki-

    laki. Wanita yang melahirkan anak dengan otot dasar panggul yang

    lemas, menjadi penyebab inkotinensia. Pada laki-laki, penyebab

    umumnya adalah pembesaran kelenjar prostat dan diperlukan prosedur

    bedah untuk menangani kondisi tersebut (Watson, 2003).

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    25/87

    11

    2.3 Konsep Senam Lansia

    2.3.1 Definisi

    Senam berasal dari kata yunani yaitu gymnastic, gymnos berati

    telanjang dimana pada zaman tersebut orang yang melakukan senam

    harus bertelanjang, dengan maksud agar keleluasaan gerak dan

    pertumbuhan badan yang dilatih dapat terpantau.

    Senam adalah aktivitas fisik yang dilakukan baik sebagai cabang

    olahraga tersendiri maupun sebagai latihan untuk cabang olahraga

    lainnya.

    Pengertian lansia adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik

    yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai

    mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai

    kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup

    berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki

    selanjutnya, yaitu lansia, kemudian mati. Bagi manusia yang normal,

    siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap

    fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi

    lingkungannya (Darmojo, 2004).

    Jadi, senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan

    terarah serta yang diikuti oleh lansia yang dilakukan dengan maksud

    meningkatkan kemampuan fungsional raga. Senam lansia ini dirancang

    secara khusus untuk melatih bagian-bagian tubuh serta pinggang, kaki

    serta tangan agar mendapatkan peregangan bagi para lansia, namun

    dengan gerakan yang tidak berlebihan. Jika diperhatikan, senam lansia

    tidak membuat pesertanya banyak bergerak seperti olahraga aerobik,

    tujuannya adalah agar stamina dan energi para lansia tidak terkuras

    habis.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    26/87

    12

    2.3.2 Manfaat Senam Lansia

    Semua senam dan aktifitas olahraga ringan tersebut sangat bermanfaat

    untuk menghambat proses degeneratif/ penuaan. Senam ini sangat

    dianjurkan untuk mereka yang memasuki usia pralansia(45 tahun) dan

    usia lansia (65 tahun ke atas).

    Senam lansia disamping memiliki dampak positif terhadap peningkatan

    fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam meningkatkan imunitas

    dalam tubuh manusia setelah latihan teratur. Tingkat kebugaran di

    evaluasi dengan mengawasi kecepatan denyut jantung waktu istirahat

    yaitu kecepatan denyut nadi sewaktu istirahat. Jadi supaya lebih bugar.

    Kecepatan denyut jantung sewaktu istirahat harus menurun.

    Dengan mengikuti senam lansia efek minimalnya adalah lansia merasa

    berbahagia, senantiasa bergembira, bisa tidur lebih nyenyak, pikiran

    tetap segar. Selain itu memperlancar proses degenerasi karena

    perubahan usia, mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan

    jasmania dalam kehidupan( Adaptasi), dan fungsi melindungi, yaitu

    memperbaiki tenaga cadangan dalam fungsinya terhadap bertambahnya

    tuntutan, misalnya sakitSebagai rehabilitas pada lanjut usia terjadi

    penurunan masa otot serta kekuatannya, laju denyut jantung maksimal,

    toleransi latihan, kapasitas aerobic dan terjadinya peningkatan lemak

    tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia dapat

    mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan

    dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan/ olahraga seperti

    senam lansia dapat mengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti

    hipertensi, diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan kecelakaan

    (Darmojo, 2001; 81).

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    27/87

    13

    2.3.3 Jenis-Jenis Senam Lansia

    2.3.3.1 Senam kebugaran Lansia

    Jenis olahraga yang bisa dilakukan pada lansia antara lain

    adalah senam lansia. Aktivitas olahraga ini akan membantu

    tubuh tetap dan segar karena melatih tulang tetap kuat,

    mendorong jantung bekrja optimal, dan membantu

    menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh.

    Dapat dikatakan bugar, atau dengan perkataan darah baik

    sehingga tubuh jasmani yang baik bila jantung dan peredaran

    darah baik sehingga tubuh seluruhnya dapat menjalankan

    fungsinya dalam waktu yang cukup lama.

    2.3.3.2 Senam otak

    Manfaat dari senam otak antara lain : melepas otak dari

    ketegangan, meningkatkan kecerdasan akademik, mengurangi

    stress, meningkatkan daya ingat, meningkatkan kemampuan

    berbahasa, memperbaiki kondisi emosional yang berpengaruh

    pada kondisi sosial.

    2.3.3.3 Senam osteoporosis

    Kendati osteoporosis dikenal sebagai penyakit silent killer

    (pembunuh tersembunyi), tidak berarti kedatangannya tidak

    bisa diantisipasi.osteoporosis sebenarnya bisa dicegah, tetapi

    dengan beberapa persyaratan. Untuk mencegah osteoporosis,

    maka kebiasaan merokok, minum kopi, alkohol dan soft drink

    harus di kurangi. Sebaliknya harus membiasakan

    mengkonsumsi makanan mengandungkalsium tinggi seperti

    teri, udang rebon, kacang-kacangan, tempe atau minum susu.

    Kenapa harus mengkonsumsi kalsium merupakan elemen

    mineral yang paling banyak dibutukan untuk kesehatan tulang.

    Tetapi, yang perlu diingat dalam mencegah osteoporosis, gizi

    saja tanpa dibarengi oleh latihan fisik ternyata fisik tidak cukup.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    28/87

    14

    Untuk itu ada senam osteoporosis untuk mencegah dan

    mengobati terjadinya pengeroposan tulang. Daerah yang rawan

    osteoporosis adalah area tulang punggung, pakngkal paha dan

    pergelangan tangan.

    2.3.3.4 Senam hipertensi

    Olahraga atau senam hipertensi adalah bagian dari usaha untuk

    mengurangi berat badan dan mengelola stress dua faktor yang

    mempertinggal resiko hipertensi.

    2.3.3.5 Senam diabetes mellitus

    Variasi gerakan dalam senam diabetes cukup banyak. Senam

    tersebut dapat mengelola semua organ tubuh manusia, mulai

    otak hingga ujung kaki. Sebab, dampak penyakit kencing manis

    menyerang seluruh tubuh, dampak paling ringan adalah kaki

    kesemutan. Sedangkan yang terparah adalah menderita stroke.

    Karena manfaatnya banyak, senam diabetes tidak hanya

    diperuntukan bagi kalangan diabetes. Tapi, senam itu juga bisa

    dilakukan oleh orang yang belum jadi penderita diabetes.

    Tujuannya, mencegah agar tak terkena penyakit tersebut.

    2.3.3.6 Olahraga rekreatif atau jalan santai

    Liburan adalah waktu yang paling banyak ditunggu setiap orang

    walaupun untuk liburan banyak hal yang bisa dilakukan dari

    mulai yang sederhana sampai liburan yang memakan biaya

    tinggi, tetapi hal itu bukan masalah sepanjang kita

    memfokuskan pada aspek positif liburan terutama untuk

    kesehatan. Peneliti telah menunjukan liburan ternyata sangat

    dianjurkan oleh para dokterkarena memiliki pengaruh terhadap

    kesehatan.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    29/87

    15

    2.3.4 Prinsip Senam Lansia

    2.3.4.1 Gerakan bersifat dinamis (berubah-ubah)

    2.3.4.2 Bersifat progresif (bertahap meningkat)

    2.3.4.3 Adanya pemanasan dan pendinginan pada setiap latihan

    2.3.4.4 Lama latihan berlangsung 15-60 menit

    2.3.4.5 Frekuensi latihan perminggu minimal 3 kali dan optimal 5 kali

    2.3.5 Langkah - langkah Penelitian

    2.3.5.1 Persiapan tempat atau halaman di Panti Wherda

    2.3.5.2 Persiapan alat seperti, kaset recorder, leptop dll

    2.3.5.3 Persiapan lansia

    2.3.5.4 langkahlangkah senam

    a. Pemanasan (10 menit)

    1)Berdiri tegak, menghadap kedepan

    2)Jalan ditempat dengan hitungan 4x8 hitungan

    3)Jalan maju, mundur, gerakan kepala menengok samping,

    miringkan kepala menundukan kepala 8x8

    4)Melangkahkan satu langkah kesamping dengan

    menggerakkan bahu 8x8

    5)Dorong tumit kanan kedepan bergantian dengan tumit kiri,

    angkat kaki, tekuk lengan 8x8

    6)

    Peregangan dinamis dengan jalan ditempat hitungan 8x8

    7)Gearakan perenggangan dinamis dan statis hitungan 8x8

    2.3.5.5 Pendinginan (10 menit )

    2.3.5.6 Manfaat senam yang saya teliti di atas tersebut untuk

    mendapatkan kesegaran jasmani yang baik pada lansia, karena

    orang yang melakukan senam, peredaran darah akan lancar dan

    lansia merasakan rasa gembira.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    30/87

    16

    2.3.6 Langkah - langkah kegiatan senam

    2.3.6.1 Persiapan tempat atau halaman di Panti Wherda

    2.3.6.2 Persiapan alat seperti, kaset recorder, leptop dll

    2.3.6.3 Persiapan lansia

    2.3.6.4 langkahlangkah senam

    a.

    Jalan di tempat (2 x 8)

    b. Angguk kepala (2 x 8)

    c. Tengok kepala kiri kanan (2 x 8)

    d.

    Patahkan kepala kiri kanan (2 x 8)

    e. Angkat bahu kiri (1 x 8)

    f. Angkat bahu kanan (1 x 8)

    g.

    Angkat kedua bahu (2 x 8)

    h. Buka kaki, tangan pegang di depan (1 x 8)

    i. Buka kaki, tangan di atas (1 x 8)

    j. Buka kaki, tangan ke bawah (1 x 8)

    k.

    Badan condong kekiri, tangan ke atas (2 x8) dan sebaliknya

    l. Pegang siku kanan kiri (2 x 8)

    m.

    Telapak tanagn dibelakang (2 x 8)

    n. Telapak tangan kanan dan kiri (2 x 8)

    o. Jalan di tempat dan ambil nafas (2 x 8)

    p.

    Peralihan jalan ditempat (1 x 8)

    q. Langkah kaki kanan dan kiri (1 x 8)

    r.

    Jalan ditempat (1 x 8)

    s. Langkah kaki kanan kiri (1 x 8)

    2.4 Aktifitas Fisik Pada Lansia

    2.4.1 Definisi

    Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang membutuhkan energi

    untuk mengerjakannya, seperti berjalan, menari, mengasuh cucu, dan

    lain sebagainya. Aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    31/87

    17

    melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang serta yang ditujukan untuk

    meningkatkan kebugaran jasmani disebut olahraga. Manfaat olahraga

    pada lansia antara lain dapat memperpanjang usia, menyehatkan

    jantung,otot, dan tulang, membuat lansia lebih mandiri, mencegah

    obesitas,mengurangi kecemasan dan depresi, dan memperoleh

    kepercayaan diri yang lebih tinggi (Farizati, 2002).

    Perkumpulan senam lansia Indonesia misalnya beranggotakan ribuan

    orang yang sebagian besar para lansia latihan fisik akan memberi

    manfaat baik pada fisik maupun kejiwaan.

    2.4.1.1 Manfaat Fisik

    Manfaat fisik didapat karena aktivitas fisik akan menguatkan

    otot jantung dan memperbesar bilik jantung. Kedua hal ini akan

    meningkatkan efesiensi kerja jantung. Elastisitas pembuluh

    darah akan meningkat sehingga jalannya darah akan lebih

    lancar dan tercegah pula keadaan tekanan darah tinggi dan

    penyakit jantung koroner. Lacarnya pembuluh darah juga akan

    membuat lancar pula pembuangan zat sisa sehingga tidak

    mudah lelah. Otot rangka akan bertambah kekuatan, kelentukan

    dan daya tahannya, sehingga mendukung terpeliharanya

    kelincahan serta kecepatan reaksi. Dengan kedua hal ini

    kecelakaan lebih dapat terhindarkan. Kekuatan akan kepadatan

    tulang akan bertambah karena adnya tarikan otot sewaktu

    latihan fisik, dan tercegahnya pengeroposan tulang. Persendian

    akan terasa lentur,sehingga gerakan sendi tidak akan terganggu.

    Dengan manfaat fisik ini, berbagai penyakit degeneratif

    (misalnya : jantung, hipertensi, diabetes mellitus, rematik) akan

    tercegah atau sedikit teratasi. Berat badan tubuh terpelihara dan

    kebugaran akan bertambah sehingga produktivitas akan

    meningkatkan dan dapat menikmatimasa tua dengan bahagia.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    32/87

    18

    2.4.1.2 Manfaat Kejiwaan

    Beberapa ahli mendapatkan kesimpulan bahwa aktivitas fisik

    dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih tenang, kurang

    dan kecemasan. Latihan fisik akan membuat seseorang lebih

    kuat menghadapi stres dan gangguan hidup sehari-hari, lebih

    dapat berkonsentrasi, tidur lebih nyenyak. Hal ini disebabkan

    karena gerakann fisik bisa digunakan untuk memproyeksikan

    ketegangan, sehingga setelah latihan, orang merasa ada beban

    jiwa yang terbebaskan. Disamping iu penurunan kadar garam

    dan peningkatan kadar epineprhin serta endorphin membuat

    orang merasa bahagia, tenang dan percaya diri.

    2.5 Kegiatan Sehari-hari pada Lansia

    2.5.1 Mandi

    Tidak menerima bantuan (masuk dan keluar bak mandi sendiri jika

    mandi dengan menjadi kebiasaan), menerima bantuan untuk

    mandihanya satu bagian tubuh (seperti punggung atau kaki), menerima

    bantuan mandi lebih dari satu bagian tubuuh (atau tidak dimandikan).

    2.5.2 Berpakaian

    Mengambil baju dan memakai baju dengnan lengkap tanpa bantuan,

    kecuali mengikat tali sepatu, menrima bantuan dalam memakai baju,

    atau membiarkan sebagian tetap tidak berpakaian.

    2.5.3 Ke kamar kecil

    Pergi kekamar kecil membersihkan diri, dan merapikan baju tanpa

    bantuan (dapat menggunakan objek untuk menyokong seperti tongkat,

    walker, atau kursi roda, dan dapat mengatur bedpan malam hari atau

    bedpan pengosongan pada pagi hari, menriamaa bantuan kekamar kecil

    membersihkan diri, atau dalam merapikan pakaian sesudah

    eliminasi,atau menggunakan bedpan atau pispot pada malam hari, tidak

    ke kamar kecil untuk proses eliminasi.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    33/87

    19

    2.5.4 Berpindah

    Berpindah dari tempat tidur seperti berpindah ke dan dari kursi tanpa

    bantuan (mungkin menggunakan alat/objek untuk mendukung spserti

    tempat atau alat bantu jalan), berpindah ke dan dari tempat tidur atau

    kursi dengan bantuan, bergerak naik atau turun dari tempat tidur.

    2.5.5 Kontinen

    Mengontrol perkemihan dan defekasi dengan komplit oleh diri sendiri,

    kadang-kadang mengalami ketidakmampuan untuk mengontrol

    perkemihan dan defekasi, pengawasan membantu mempertahankan

    control urin atau defekasi, kateter digunakan atau kontnensa.

    2.5.6 Makan

    Makan sendri tanpa bantuan, makan sendiri kecuali mendapatkan

    bantuan dalam mengambil makanan sendri, menerima bantuan dalam

    makan sebagian atau sepenuhnya dengan menggunakan selang atau

    cairan intravena.

    2.6 Bentuk Gangguan Pada Lansia

    2.6.1 Demensia

    Demensia adalah suatu gangguan intelektual / daya ingat yang

    umumnya progresif dan ireversibel. Biasanya ini sering terjadi pada

    orang yang berusia > 65 tahun.

    2.6.2 Stres

    Gangguan stres merupakan hal yang terpenting dalam problem lansia.

    Usia bukan merupakan faktor untuk menjadi depresi atau stres tetapi

    suatu keadaan penyakit medis kronis dan masalah-masalah yang

    dihadapi lansia yang membuat mereka depresi. Gejala depresi pada

    lansia dengan dewasa muda berbeda dimana pada lansia terdapat

    keluhan somatik.

    2.6.3 Skizofrenia

    Skizofrenia biasanya dimulai pada masa remaja akhir / dewasa muda

    dan menetap seumur hidup. Wanita lebih sering menderita skizofrenia

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    34/87

    20

    lambat dibanding pria. Perbedaan onset lambat dengan awal adalah

    adanya skizofrenia paranoid pada tipe onset lambat.

    2.6.4 Gangguan Delusi

    Onset usia pada gangguan delusi adlah 40 55 tahun, tetapi dapat

    terjadi kapan saja. Pada gangguan delusi terdapat waham yang tersering

    yaitu : waham kejar dan waham somatik.

    2.6.5 Gangguan Kecemasan

    Gangguan kecemasan adalah berupa gangguan panik, fobia, gangguan

    obsesif konfulsif, gangguan kecemasan umum, gangguan stres akut,

    gangguan stres pasca traumatik. Onset awal gangguan panik padalansia

    adalah jarang, tetapi dapat terjadi. Tanda dan gejala fobia pada lansia

    kurang serius dari pada dewasa muda, tetapi efeknya sama, jika tidak

    lebih dapat menimbulkan debilitasi pada pasien lanjut usia. Teori

    eksistensial menjelaskan kecemasan tidak terdapat stimulas yang dapat

    didentifikasi secara spesifik bagi perasaan yang cemas secara kronis.

    Kecemasan yang tersering pada lansia adalah tentang kematiannya.

    Orang mungkin menghadapi pikiran kematian dengan rasa putus asadan

    kecemasan, bukan dengan ketenangan hati dan rasa integritas.

    Kerapuhan sistem saraf anotomik yang berperan dalam perkembangan

    kecemasan setelah suatu stresor yang berat. Gangguan stres lebih sering

    pada lansia terutama jenis stres pasca traumatik karena pada lansia akan

    mudah terbentuk suatu cacat fisik.

    2.6.6 Gangguan Somatiform

    Gangguan somatiform ditandai oleh gejala yang sering ditemukan pada

    pasien > 60 tahun. Gangguan biasanya kronis dan prognosis adalah

    berhati-hati. Untuk mententramkan pasien perlu dilakukan pemeriksaan

    fisik ulang sehingga ia yakin bahwa merka tidak memiliki penyakit

    yang mematikan. Terapi pada gangguan ini adalah dengan pendekatan

    psikologis dan farmakologis.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    35/87

    21

    2.6.7 Gangguan Penggunaan Alkohol dan Zat lain

    Riwayat minum / ketergantungan alkohol biasanya memberikan riwayat

    minum berlebihan dimulai pada masa remaja / dewasa. Mereka

    biasanya memiliki penyakit hati. Sejumlah besar lansia dengan riwayat

    penggunaan alkohol terdapat penyakit dimensia yang kronis seperti

    ensefalopati wernicke dan sindrima korsakoff. Presentasi klinis pada

    lansia termasuk terjatuh, konfusi, heiginis pribadi yang buruk,

    malnutrisi dan efek pemaparan. Zat yang dijualbeban seperti kafein dan

    nikotin sering disalahgunakan. Di sini harus diperhatikan adanya

    gangguan gastrointestiral kronis pada lansiapengguna alkohol maupun

    tidak obat-obat sehingga tidak terjadi sesuatu penyakit medik (

    Darmojo, 2006 ).

    2.6.8 Gangguan Tidur / Insomnia

    Usia lanjut adalah faktor tunggal yang paling sering berhubungan

    dengan peningkatan prevalensi gangguan tidur atau insomnia.fenomena

    yang sering dikeluhkan lansia daripada usia dewasa muda adalah

    gangguan tidur, ngantuk siang hari dan tidur sejenak di siang hari

    ( Nugorho, 2008 ).

    Secara klinis, lansia memiliki gangguan pernafasan yang berhubungan

    dengan tidur dan gangguan pergerakan akibat medikasi yang lebih

    tinggi dibanding dewasa muda. Disamping perubahan sistem regulasi

    dan fisiologis,penyebab gangguan tidur primer pada lansia insomnia.

    Selain itu gangguan mental lain, kondisi medis umum, faktor sosial dan

    lingkungan. Gangguan tersering pada lansia pria adalah gangguan

    Rapid Eye Movement (REM). Hal yang menyebabkan gangguan tidur

    juga termasuk adanya gejala nyeri, nokturia, sesak nafas, nyeri perut (

    Nugorho, 2008 ).

    Keluhan utama pada lansia sebenarnya adalah lebih banyak terbangun

    pada dini hari dibandingkan dengan gangguan dalam tidur.perburukan

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    36/87

    22

    yang terjadi adalah perubahan waktu dan konsolidasi yang

    menyebabkan gangguan pada kualitas tidur pada lansia.

    Berdasarkan The National Old Peoples Walfare Council di Inggris

    menyebutkan bahwa penyakit atau gangguan umum pada lanjut usia

    meliputi depresi mental, gangguan pendengaran, bronkitis kronis,

    gangguan pada tungkai/sikap berjalan, gangguan pada koksa/sendi

    panggul, anemia, demensia, gangguan pengelihatan, ansetas/kecemasan,

    dekompensasi kordis, diabetes mellitus, osteomalasia, hipotiroidisme

    dan gangguan defakasi.

    2.6.9 Gangguan Aktivitas Dasar Sehari-hari

    Permasalahan yang sering dialami oleh lansia adalah kemunduran

    dibidang fisik-biologis yang berhubungan dengan gangguan aktivitas

    yang dapat mengakibatkan penurunan peranan-peranan sosialnya. Hal

    ini mengakibatkan pula timbulnya gangguan di dalam hal mencukupi

    kebutuhan hidupnya sehingga dapat jlljkkjmengakibatkan

    ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain.

    2.7 Osteoartritis

    2.7.1 Definisi

    Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif kronik non

    inflamasi yang berkaitan dengan kerusakan kartilogi sendi. Penyakit ini

    bersifat progresif lambat, ditandai dengan adanya degenerasi tulang

    rawan sendi, hipertrofi tulang pada tepinya, sklerosis tulang subkondral,

    perubahan pada membran sinoval, disertai nyeri, biasanya setelah

    aktivitas berkepanjangan, dan kekakuan, khususnya pada pagi hari atau

    setelah aktivitas. Penyakit ini disebut juga degenerative arthritis,

    hypertrophic arthritis, dan degenerative joint disease. Osteoartritis

    adalah bentuk artritis yang paling umum terjadi yang mengenai mereka

    di usia lanjut atau usia dewasa dan salah satu penyebab terbanyak

    kecacatan di negara berkembang.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    37/87

    23

    2.7.2 Klasifikasi

    Osteoartritis diklasifikasikan oleh Altman et al menjadi 2 golongan

    yaitu OA primer dan OA sekunder.

    2.7.7.1 Osteoartritis Primer

    Osteoartritis primer atau OA idiopatik belum diketahui

    penyebabnya dan tidak berhubungan dengan penyakit sistemik

    maupun proses perubahan lokal pada sendi. Meski demikian,

    osteartritis primer banyak dihubungkan pada penuaan. Pada

    orang tua, volume air dari tulang muda meningkat dan susunan

    protein tulang mengalami degenerasi. Akhirnya, kartilogi mulai

    degenerasi dengan mengelupas atau membentuk tulang muda

    yang kecil. Pada kasus-kasus lanjut, ada kehilangan total dari

    bantal kartilogi antara tulang-tulang dan sendi-sendi.

    Penggunaan berulang dari sendi-sendi yang terpakai dari tahun

    ke tahun dapat membuat bantalan tulang mengalami iritasi dan

    meradang, menyebabkan nyeri dan pembengkakan sendi.

    Kehilangan bantalan tulang ini menyebabkan gesekan antar

    tulang, menjurus pada nyeri dan keterbatasan mobilitas sendi.

    Peradangan dari kartilogi dapat juga menstimulasi pertumbuhan-

    pertumbuhan tulang baru yang terbentuk di sekitas sendi-sendi.

    Osteoartritis primer ini dapat meliputi sendi-sendi perifer (baik

    satu maupun banyak sendi), sendi interphalang, sendi besar

    (panggul,lutut), sendi-sendi kecil (carpometacarpal,

    metacarpophalangeal), sendi apophyseal dan atau intervertebral

    pada tulang belakang, maupun variasi lainnya seperti OA

    inflamatorik erosif, OA generalisata, chondromalacia patella,

    atauDiffuse Idiopathic Skeletal Hyperostosis (DISH).

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    38/87

    24

    2.7.7.2 Osteoartritis Sekunder

    Osteartritis sekunder adalah OA yang disebebkan oleh penyakit

    atau kondisi lainnya, seperti pada post-traumatik, kelainan

    kongenital dan pertumbuhan (baik lokal maupun generalisata),

    kelaina tulang dan sendi, penyakit akibat deposit kalsium,

    kelainan endikrin, metabolik, inflamasi,imobilitas yang terlalu

    lama, serta faktor resiko lainnya seperti obesitas, operasi

    berulang kali pada struktur-struktur sendi, dan sebagainya.

    2.7.3 Epidemiologi Osteoartritis

    Osteoartritis merupakan penyakit sendi pada orang dewasa yang paling

    umum di dunia. Felson (2008) melaporkan bahwa satu dari tiga orang

    dewasa memiliki tanda-tanda radiologis terhadap OA. OA pada lutut

    merupakan tipe OA yang paling umum dijumpai pada orang dewasa.

    Penelitin epidemiologi dari Joern ey al (2010) menemukan bahwa

    oarang dewasa dengan kelompok 60-64 tahun sebanyak 22%. Pada pria

    dengan kelompok umur yang sama, dijumpai 23% menderita OA. Pada

    lutut kanan, sementara 16,3% sisanya didapati menderita OA pada lutut

    kiri. Berbeda halnya pada wanita yang terdistribusi merata, dengan

    insiden OA pada lutut kanan sebanyak 24,2% dan pada lutut kiri

    sebanyak 24,7%.

    2.7.4 Patogenesis Osteoartritis

    Osteoartritis selama ini di pandang sebagai akibat dari suatu proses

    ketuan yang tidak dapat dihindari. Namun, peneltian para pakar

    sekarang menyatakan bahwa OA ternyata merupakan penyakit

    gangguan homeostasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan

    struktur proteoglikan kartilago yang menyebabkan belum diketahui.

    Jejas mekanis dan kimiawi diduga merupakan faktor penting yang

    merangsang terbentuknya molekul abnormal dan produk degradasi

    kartilago di dalam cairan sinovial sendi yang mengakibatkan terjadi

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    39/87

    25

    inflamasi sendi, kerusakan kondrosit, dan nyer. Jejas mekanik dan

    kimiawi pad sinovial sendi yang terjadi multifaktorial antara lain karena

    faktor umumr, humoral, genetik, obesitas, stress mekanik atau

    penggunaan sendi yang berlebihan, dan defek anotomik.

    Kartilago sendi merupakan terget utama perubahan degeneratif pada

    OA. Kartilago sendi ini secara umum berfungsi untuk membuat gerakan

    sendi bebas gesekan karena terendam dalam cairan sinovial dan sebagai

    absorb shok, penahan bebandari tulang. Pada OA, terjadi gangguan

    homeostasis dari metabolisme kartilago sehingga terjadi kerusakan

    struktur proteoglikan kartilago, erosi tulang rawan, dan penurunan

    cairan sendi.

    Tulang rawan (kartilago) sendi dibentuk oleh sel kondrosit dan matriks

    ekstraseluler, yang terutama terdiri dari air (65%-80%), proteoglikan,

    dan jaringan kolagen. Kondrosit berfungsi mensintesis jaringan lunak

    kolagen tipe II untuk penguat sendi dan proteoglikan untuk membuat

    ajringan tersebut elastis, serta memelihara matriks tulang rawan

    sehingga fungsi bantalan rawan sendi tetap terjaga dengan baik.

    Kartilago tidak memiliki pembuluh darah sehingga proses perbaikan

    pada kartilago berbeda dengan jaringan-jaringan lain. Di kartilago,

    tahap perbaikannya sangat terbatas mengingat kurangnya vaskularisasi

    dan respon inflamasi sebelumnya.

    Secara umum, kartilago akan mengalami replikasi dan memproduksi

    matriks baru untuk memperbaiki diri akibat jejas mekainis maupun

    kimiawi. Namun dengan hal ini, kondrosit gagal mensintesis matriks

    yang berkualitas dan memelihara keseimbangan antara degredasi dan

    sintesis matriks ekstraseluler, termasuk produksi kolagen tipe I, III, VI,

    dan X yang berlebihan dan sintesis proteoglikan yang pendek.

    Akibatnya, terjadi perubahan pada diameter dan orientasi serat kolagen

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    40/87

    26

    yang mengubah biomekanik kartilago, sehingga sendi kehilangan sifat

    kompresbilitasnya.

    Beberapa keadaan seperti trauma / jejas mekanik menginduksi

    pelepasan enzim degradasi, seperti strimelysin dan Matrix

    Metalloproteinasis (MMP). Stromelysin mendegradasi proteglikan,

    sedangkan MMP mendegredasi proteoglikan dan kolagen matriks

    ektraseluler. MMP diproduksi oleh kondrosit, kemudian diaktifkan

    melalui kaskade yang melibatkan proteinase serin (aktivator

    plasminogen), radikal bebas, dan beberapa MMP tipe membran.

    Kaskade enzimatik ini dikontrol oleh berbagai inhibator, termasuk

    TIMP dan inhibator aktivator plasminogen. Tissue inhibator of

    metalloproteinases (TIMP) yang umumnya berfungsi menghambat

    MMP tidak dapat bekerja optimal karena di dalam rongga sendi ini

    cenderung bersifat asam oleh karena stromelysin (pH 5,5), sementara

    TIMP baru dpat bekerja optimal pada pH 7,5.

    2.7.5 Diagnosis Osteoartritis

    Diagnosis OA didasarkan pada gambaran klinis yang dijumpai

    (Soerosos, 2006).

    2.7.5.1 Tanda dan Gejala Klinis

    Pada umumnya, pasien OA mengatakan bahwa keluhan-

    keluhan yang dirasakannya telah berlangsung lama, tetapi

    berkembang secara perlahan Berikut adalah keluhan yang dapat

    dijumpai pada pasien OA :

    a. Nyeri Sendi

    Keluhan ini merupakan keluhan utama pasien. Nyeri

    biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang

    dengan istirahat. Beberapa gerakan dan tertentu terkadnag

    dapat menimbulkan rasa nyeri yang melebihi gerakan lain.

    Perubahan ini dapat ditemuakan meski OA masih tergolong

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    41/87

    27

    dini (secara radiologis). Umumnya bertamba berat dengan

    semakin beratnya penyakit sampai sendi hanya bisa

    digoyangkan dan menjado kontraktur, hambatan gerak

    dapat konsentris (seluruh arah gerakan) maupun eksentris

    (salah satu arah gerakan saja) (Soeroso, 2006)..

    Kartilago tidak mengandung serabut dan kehilangan

    kartilago pada sendi tidak diikuti denagn timbulnya nyeri.

    Sehingga dpat diasumsikan bahwa nyri yang timbul pada

    OA berasal dari luar kartilago (Felson,2008).

    Pad apenelitian dengan menggunakan MRI, didapat bahwa

    summber dari nyeri yang timbul diduga bersal dari

    peradangan sendi (senovitis), efusi sendi, dan edema

    sumsun tulang (Felson, 2008).

    Osteofit merupakan salah satu penyebab timbulnya nyeri.

    Ketika osteofit tumbuh, inervasi neurovaskular menembusi

    bagian dasar tulang hingga ke kartilago dan menuju ke

    osteofit yang sedang berkembang hal ini menimbulkan

    nyeri (Felson, 2008).

    Nyeri dapat timbul dari bagian diluar sendi, termasukk

    bursae di dekat sendi. Sumber nyeri yang umum di lutut

    adalah akibat dari anserine bursitis dan sindrom iliotibial

    band (Felson, 2008).

    b. Hambatan Gerakan Sendi

    Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat secara

    perlahan sejalan dengan pertambahan rasa nyeri (Soeroso,

    2006).

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    42/87

    28

    c.

    Kaku Pagi

    Rasa kaku pada sendi dapat timbul setelah pasien berdiam

    diri atau tidak melakukan banyak gerakan, seperti duduk di

    kursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama, bahkan

    setelah bangun tidur di pagi hari ( Soeroso, 2006).

    d.

    Krepitasi

    Krepitasi atau rasa gemeratak yang timbul pada sendi yang

    sakit. Gejala ini umum dijumpai pada pasien OA lutut. Pada

    awalnya hanya berupa perasaan akan adanya sesuatu yang

    patah atau remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa.

    Seiring dengan perkembangan penyakit, krepitasi dapat

    terdengar hingga jarak tertentu. (Soeroso,2006).

    e. Pembesaran Sendi (deformitas)

    Sendi yang terkena secara perlahan dapat membesar

    (Soeroso, 2006).

    f.

    Pembengkakan Sendi yang Asimetris

    Pembengkakan sendi yang timbul dikarenakna terjadi efusi

    pada sendi yang biasanya tidak banyak ( < 100 cc) atau

    karena adanya osteofit, sehingga bentuk permukaan sendi

    berubah (Soeroso, 2006).

    g. Tanda-tanda Peradangan

    Tanda-tanda adanya peradangan pada sendi (nyeri tekan,

    gangguan gerak, rasa hangat yang merata, dan warna

    kemerahan) dapat dijumpai pada OA karena adanya

    synovitis. Biasanya tnda-tanda ini tidak menonjol dan

    timbul pada perkembangan penyakit yang lebih jauh. Gejala

    ini dijumpai pada OA lutut (Soeroso,2006).

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    43/87

    29

    h. Perubahan Gaya Berjalan

    Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien dan

    merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien

    OA, terlebih pada pasien lanjut usia. Keadaan ini selalu

    berhubungan dengan nyeri karena menjadi tumpuan berat

    badan terutama pada OA lutut (Soeroso, 2006).

    2.7.6 Pemeriksaan Diagnostik

    Pada penderita OA, dilakukan pemeriksaan radiografi pada sendi

    yang terkena sudah cukup unutk memberikan suatu gambaran

    diagnostik. Gambaran Radiografik sendi yang menyokong diagnosis

    OA adalah :

    a. Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat

    pada bagian yang menanggung beban sperti lutut).

    b. Peningkatan densitas tulang subkondral (sklerosis).

    c.

    Kista pada tulang.

    d. Osteofit pada pinggir sendi.

    e.

    Perubahan strukut anatomi sendi.

    Berdasarkan temuan-temuan radiografik diatas, maka OA dapat

    diberikan suatu derajat. Kriteria OA berdsarkan temuan

    radiografik dikenal sebagai kriteria Kellgren dan Lawrence yang

    membagi OA dimulai dari tingkat ringan hinggatingkat berat.

    Perlu diingat bahwa pada awal penyakit, gambaran radiografis

    sendi masih terlihat normal (Felson, 2006).

    2.7.7 Pemeriksaan Laboratorium

    Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tidak banyak

    berguna. Pemeriksaan darah tepi masih dalam batas-batas normal.

    Pemeriksaan imunologi masih dalam batas-batas normal. Pada OA yang

    disertai peradangan sendi dapat dijumpai peningkatan ringan sel

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    44/87

    30

    peradangan ( < 8000 / m) dan peningkatan nilai protein (Soeroso,

    2006).

    2.7.8 Penatalaksanaan

    Penatalaksanaan pada OA bertujuan untuk mengontrol nyeri,

    memperbaiki fungsi sendi yang terserang, menghambat progresifitas

    penyakit, serta edukasi pasien.

    2.9 Keterkaitan Senam Lansia dengan Aktivitas fisik lansia

    Fase menurunnya kemampuan akal dan fisik yang di mulai dengan adanya

    beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia

    mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan

    anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan

    fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu lansia, kemudian mati. Bagi

    manusia yang normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan

    baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan

    kondisi lingkungannya.

    Dengan mengikuti senam lansia efek minimalnya adalah lansia merasa

    berbahagia, senantiasa bergembira, bisa tidur lebih nyenyak, pikiran tetap

    segar. Selain itu memperlancar proses degenerasi karena perubahan usia,

    mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmania dalam kehidupan(

    Adaptasi), dan fungsi melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam

    fungsinya terhadap bertambahnya tuntutan, misalnya sakitSebagai rehabilitas

    pada lanjut usia terjadi penurunan masa otot serta kekuatannya, laju denyut

    jantung maksimal, toleransi latihan, kapasitas aerobic dan terjadinya

    peningkatan lemak tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia

    dapat mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan

    dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan/ olahraga seperti senam

    lansia dapat mengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti hipertensi,

    diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan kecelakaan.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    45/87

    31

    Aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang melibatkan gerakan tubuh

    berulang-ulang serta yang ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani

    disebut olahraga. Manfaat olahraga pada lansia antara lain dapat

    memperpanjang usia, menyehatkan jantung,otot, dan tulang, membuat lansia

    lebih mandiri, mencegah obesitas,mengurangi kecemasan dan depresi, dan

    memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi.

    2.10 Kerangka Teori Penelitian

    Kerangka teori adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan

    suatu teori dengan faktor-faktor yang penting diketahui dalam suatu

    penelitian. sebagai kerangka teori dalam penelitian ini adalah Pengaruh

    Senam Lansia aktivitas yang saling terkait untuk melihat fungsi dari Senam

    Lansia terhadap aktifitas fisik.(Menurut Notoatmodjo,2010).

    Input Proses Output

    Gambar 2.1: Kerangka Teori

    Senam Lansia:

    1. Pre test

    2. Post test

    LansiaAktivitas Fisik

    1. Pembagian usia lansia:

    a. Usia pertengahan (midlle

    age) ialah kelompok usia

    45 sampai 59 tahun.

    b. Lanjut usia (elderly)

    antara 60 dan 74 tahun.

    c. Lanjut usia tua (old)

    antara 75 dan 90 tahun.d. Usia sangat tua (very

    old) diatas 90 tahun.

    2. Jenis kelamin

    a. Pria

    b. Wanita

    a. Berjalan kaki

    b. Senam jantungsehat.

    c. Aerobik

    d. Senamosteoporosis

    e. Olahraga ringanlainnya.

    1. Kegiatan sehari-hari

    a. Makan

    b. Berpindah tempat

    c. Ke kamar kecil

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    46/87

    32

    Senam Lansia

    2.11 Kerangka Konsep Penelitian

    Merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang

    peneliti menyusun teori atau singkatnya kerangka konsep membahas saling

    ketergantungan antara variable yang dianggap perlu untuk melengkapi

    dinamika situasi atau hal yang sedang akan diteliti (Alimul,2007).

    Berdasarkan teori yang telah diuraikan pada tinjauan pustaka, maka kerangka

    konsep dalam penelitian ini dapat menggambarkan pada gambar dibawah ini :

    Pengaruh senam Lansia terhadap aktivitas fisik pada lansia di PSTW Budi

    Sejahtera Banjarbaru.

    Gambar 2.2: Kerangka konsep

    Keterangan : Diteliti

    Berhubungan

    2.12 Hipotesa/Pertanyaan penelitianAda pengaruh bermakna antara pengaruh senam lansia terhadap aktivitas fisik

    pada lansia di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

    Aktivitas Sebelum Aktivitas Sesudah

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    47/87

    33

    BAB 3

    METODE PENELITIAN

    3.1 Desain Penelitian

    Rancangan penelitian merupakan hasil dari suatu tahap keputusan yang dibuat

    oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan.

    Rancangan sangat erat dengan kerangka konsep sebagai petunjuk

    perencanaan pelaksanaan suatu penelitian (Nursalam, 2003).

    Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen semu (Quasi

    Experiment Design) artinya desain ini tidak mempunyai pembatasan yang

    ketat terhadap randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol

    ancaman-ancaman validitas. Dalam hal ini kecuali, penelitian mempunyai

    keuntungan dengan melakukan observasi (pengukuran yang berulang-ulang),

    pre testdanpost test.

    Bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut:

    Pre test Perlakuan Post test

    O1 X O2

    Keterangan:

    1. O1 : Pre test untuk mengetahuai aktivitas fisik pada lansia osteoarthritis

    sebelum di lakukan senam lansia.

    2.

    X : Perlakuan (Senam Lansia).

    3. O2 : Post test untuk mengetahui perubahan aktivitas fisik pada lansia

    osteoarthritis setelah di lakukan senam lansia.

    23

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    48/87

    34

    3.2 Definisi Operasional

    Definisi Operasional bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau

    pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta

    pengembangan instrumen (observasi). Definisi operasional penelitian ini

    adalah :

    Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional

    Variabel Definisi Paremeter Alat ukur Skala Kategori

    Dependen:

    Aktivitas

    fisik

    a.Pre test

    b.Post test

    Aktivitas fisik

    adalah setiap

    gerakan tubuh

    yang

    membutuhkan

    energy untuk

    mengerjakannya.

    Kegiatan sehari-hari

    - Makan

    - Berpindah tempat

    - Ke kamar kecil

    Observasi Ordinal -Baik (7-9)

    -Cukup

    (4-6)

    -Kurang

    (0-3)

    Independen:

    Senam

    lansia

    Senam lansia

    adalah

    serangkaian

    gerak nada yang

    teratur dan

    terarah serta

    yang diikuti oleh

    lansia yang

    dilakukan dengan

    meningkatkan

    kemampuan

    fungsional raga.

    - Frekuensi,

    diberikannya senam 1

    hari dalam seminggu

    selama 3 minggu

    - Durasi, selama

    melaksanakan senam

    lansia diberikan

    waktu > 20 menit

    - Lamanya, mengikuti

    senam lansia sampai

    waktu yang

    dibataskan

    Suara

    musik dan

    panduan

    instruktur

    senam

    3.3 Populasi, Sampel dan Sampling

    Populasi adalah setiap subyek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

    Populasi merupakan seluruh subyek atau obyek tertentu yang akan diteliti.

    Bukan hanya subyek atau obyek yang dipelajari saja tetapi seluruh

    karakteristik atau sifat yang dimiliki subyek atau obyek tersebut (Hidayat,

    2003). Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lansia yang

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    49/87

    35

    memiliki riwayat dengan osteartrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru

    yang berjumlah 15 lansia dari kapasitas penampungan maksimal berjumlah

    112 lansia yang sudah dibagi menjadi satu kelompok untuk mengikuti senam

    lansia dengan kriteria yang telah ditentukan peneliti di PSTW Budi Sejahtera

    Banjarbaru.(Nursalam, 2003).

    Sampel adalah bagian dari populasi yang dapat dipergunakan sebagai subyek

    penelitian (Nursalam, 2003). Sampel adalah sebagian jumlah dan

    karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, bila populasi besar dan

    peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi misalnya

    keterbatasan dana, tenaga dan waktu maka peneliti menggunakan sampel

    yang diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2003).

    Sampling adalah suatu praktek statistk yang berhubungan dengan pemilihan

    observasi individual yang ditujukan untuk memahami populasi yang terkait,

    khususnya untuk kepentingan pembuatan inferensi statistic.

    Dalam Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan simple random

    samplingdengan cara peneliti membuat one group. Jadi sampel yang diambil

    dalam penelitian ini berjumlah 15 Responden dengan satu kelompok yang

    akan diberi perlakuan di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

    Kriteria sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

    berikut :

    3.3.1

    Kriteria Inklusi

    3.3.1.1 Lansia ikut senam sebanyak 3 kali.

    3.3.1.2 Lansia ikut senam senam minimal 20 menit.

    3.3.1.3 Lansia ikut senam dengan serius.

    3.3.1.4 Lansia bisa ikut mandiri dalam senam.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    50/87

    36

    3.4 Tempat dan Waktu Penelitian

    Penelitian ini akan dilakukan di Panti Sosial Tresna Werda Banjarbaru.

    Alasan peneliti memilih tempat tersebut karena PSTW Budi Sejahtera

    Banjarbaru merupakan panti dengan jarak yang paling dekat dari panti yang

    lain di daerah Banjarbaru. Penelitian ini akan dilakukan dalam waktu satu

    bulan dengan pengolahan data yang didapat selama penelitian di PSTW Budi

    Sejahtera Banjarmasin.

    3.5 Jenis Senam yang digunakan

    3.5.1 Senam kebugaran Lansia

    Jenis olahraga yang bisa dilakukan pada lansia antara lain adalah senam

    lansia. Aktivitas olahraga ini akan membantu tubuh tetap dan segar

    karena melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja optimal,

    dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam

    tubuh. Dapat dikatakan bugar, atau dengan perkataan darah baik

    sehingga tubuh jasmani yang baik bila jantung dan peredaran darah baik

    sehingga tubuh seluruhnya dapat menjalankan fungsinya dalam waktu

    yang cukup lama.

    3.6 Langkah - langkah Penelitian

    3.6.1 Persiapan tempat atau halaman di Panti Wherda

    3.6.2 Persiapan alat seperti, kaset recorder, leptop dll

    3.6.3 Persiapan lansia

    3.6.4 langkahlangkah senam

    3.6.4.1 Pemanasan (10 menit)

    a. Jalan di tempat (2 x 8)

    b. Angguk kepala (2 x 8)

    c. Tengok kepala kiri kanan (2 x 8)

    d. Patahkan kepala kiri kanan (2 x 8)

    e. Angkat bahu kiri (1 x 8)

    f. Angkat bahu kanan (1 x 8)

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    51/87

    37

    g. Angkat kedua bahu (2 x 8)

    h. Buka kaki, tangan pegang di depan (1 x 8)

    i. Buka kaki, tangan di atas (1 x 8)

    j. Buka kaki, tangan ke bawah (1 x 8)

    k. Badan condong kekiri, tangan ke atas (2 x8) dan sebaliknya

    l. Pegang siku kanan kiri (2 x 8)

    m. Telapak tanagn dibelakang (2 x 8)

    n. Telapak tangan kanan dan kiri (2 x 8)

    o. Jalan di tempat dan ambil nafas (2 x 8)

    p. Peralihan jalan ditempat (1 x 8)

    q. Langkah kaki kanan dan kiri (1 x 8)

    r. Jalan ditempat (1 x 8)

    s. Langkah kaki kanan kiri (1 x 8)

    3.6.4.4 Pendinginan (10)

    3.6.4.5 Manfaat senam yang saya teliti di atas tersebut untuk

    mendapatkan kesegaran jasmani yang baik pada lansia, karena

    orang yang melakukan senam, peredaran darah akan lancar dan

    lansia merasakan rasa gembira.

    3.7 Alat Pengumpulan Data

    Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian berupa: observasi

    Karena, data yang akan dikumpulkan menyangkut pemeriksaan fisik seperti

    pengukuran aktivitas fisik pada lansia yang Osteoartrhitis pre test dan post

    test setelah diberikan perlakuan yaitu Senam lansia terhadap aktivitas fisik

    pada lansia osteoartrhitis yang sudah dibentuk menjadi satu kelompok.

    Alat yang digunakan dalam penelitian observasi aktivitas fisik dihitung

    berdasarkan kesesuaian kunci jawaban setiap pertanyaan yang cocok, jika

    jawaban baik maka nilainya , jika jawaban cukup nilainya 0, begitu juga bila

    jawabannya kurang nilainya 0.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    52/87

    38

    3.8 Teknik Pengambilan Data

    Pengambilan data adalah suatu proses pendekatan pada subyek dan proses

    pengambilan karakteristik subyek yang diperlukan dalam penelitian

    (Nursalam, 2003). Metode pengambilan data yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah mengumpulkan data berupa pengamatan observasi

    (Observasi Eksperimental). Dalam observasi ini observee dicoba atau

    dimasukkan ke dalam suatu kondisi atau situasi tertentu (Notoatmodjo, 2010).

    Prosedur pengambilan data yang dilakukan secara langsung pada subyek yang

    dirawat di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru. Pertama yang dilakukan peneliti

    ialah mengidentifikasi tempat penelitian dan populasi target kemudian

    mengajukan surat permohonan izin untuk mengadakan penelitian. Persetujuan

    telah didapatkan kemudian penelitian melakukan pendekatan kepada calon

    responden, bila mendapat persetujuan maka responden bersedia dengan

    menandatangani surat persetujuan. Peneliti kemudian bekerja sama dengan

    instruktur senam yang sudah profesional untuk memberikan perlakuan pada

    responden yang memenuhi kriteria pada kelompok yang di berikan perlakuan.

    3.9 Teknik Analisa Data

    Analisa bevariat yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

    berhubungan atau berkorelasi. Penelitian ini menggunakan rumus Wilcoxson

    yaitu uji nonparametrik merupakan alat uji statisktik yang digunakan untuk

    menguji hipotesis komparatif (uji beda) bila datanya berskala numerik pada

    dua sampel berhubungan (related).Menurut Algifari (2003).

    Sebuah sampel dikatakan related apabila dalam sebuah penelitian, peneliti

    hanya menggunakan satu sampel, namun diberi perlakuan (treatment) lebih

    dari satu kali.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    53/87

    39

    Rumus Wilcoxson:

    Z = () ()()

    Keterangan :

    Z = Nilai hitung n = Nilai yang tidak sama

    T = Jumlah rangking terkecil

    3.10 Etika Penelitian

    Etika penelitian bertujuan untuk melindungi hak-hak responden untuk

    menjamin kerahasiaan identitas responden dan kemungkinan terjadinya

    ancaman terhadap responden.

    Dalam melakukan penelitian, peneliti mendapat rekomendasi dari

    institusinya atas pihak lain mengajukan permohonan izin kepada

    institusi/lembaga setempat penelitian.Menurut Notoatmodjo (2010).

    Setelah mendapat persetujuan barulah melakukan penelitian dengan

    menekankan masalah etika yang meliputi :

    3.8.1Informed consent

    Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti

    yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan

    manfaat penelitian, bila subyek menolak maka penelitian tidak

    memaksakan dan tetap menghormati hak-hak subyek.

    3.8.2Anonymity(tanpa nama)

    Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama

    respon, tetapi lembar tersebutr diberikan kode.

    3.8.3Confidentiality

    Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya kelompok

    data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    54/87

    40

    BAB 4

    HASIL PENELITIAN

    4.1Lokasi Penelitian

    4.1.1Panti Sosial Tersna Werdaha Budi Sejahtera Banjarbaru

    Panti Sosil Tresna Werdha Budi Sejahtara Provinsi Kalimantan Selatan

    Di Banjarbaru yaitu salah satu usaha pemerintah dalam penanganan

    lanjut usia terlantar melalui program pelayanan dalam panti dengan

    harapan lanjut usia dapat menikmati hidupnya dalam panti berupa

    pelayanan pengasramaan, jaminan hidup seperti makan, minum dan

    pakaian, pemeliharaan kesehatan, pengisian waktu luang termasuk

    rekreasi, bimbingan sosial, mental dan agama serta latihan

    keterampilan.

    Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera Provinsi

    Kalimantan Selatan Di Banjarbaru berdiri pada tahun 1977 dengan

    nama Sasana Trena Werdha Rawa Sejahtera, yang berlokasi di jalan A.

    Yani Km. 18.700 kelurahan landasan ulin barat dengan daya tampung

    50 orang. Mengingat kondisi bangunan kurang memenuhi syarat maka

    sejak tahun 1981 dipindahkan ke lokasi yang baru yaitu di jalan A.Yani

    Km 21.700 Landasan Ulin Tengah Banjarbaru dengan nama Panti

    Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera sesuai dengan SK

    Mensos Nomor: 6 HUK/ tanggal 5 februari 1994 dengan kapasitas daya

    tamping 100 orang.

    Berdasarkan SK Gubernur Kalimantan selatan Nomor: 026/DIKDA-

    KEU/2002 tanggal 16 Januari 2002, PSTW Pembimbing Budi Sejahtera

    Landasan Ulin Banjarbaru.

    40

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    55/87

    41

    Tabel 4.1 Luas Wilayah Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera

    Banjarbaru Tahun 2015

    No Bangunan Luas wilayah (m2)

    1 Kantor 500

    2 Aula 250

    3 Wisma tamu 70

    4 Poliklinik 100

    5 Wisma (13) 90-135

    6 Dapur 220

    7 Mushala 80

    8 Gudang 48

    9 Rumah dinas (7 buah) -10 Pos jaga 24

    4.1.2Gambaran Umum Lanjut Usia di Lokasi Penelitian

    Kapasitas lanjut usia di Panti Tresna Werdha Budi Sejahtera Provinsi

    Kalimantan Selatan Banjarbaru sesuai dengan peraturan Gubernur

    Kaliamantan Selatan No 8 tahun 2010 yaitu berjumlah 110 orang.

    Berdasarkan penelitian pada tanggal 17- 31 Juli 2015 jumlah lanjut usia

    sebanyak 112 orang, yang terdiri dari 62 orang perempuan dan 50 laki-

    laki. Jumlah lanjut usia di masing-masing wisma menurut jenis kelamin

    dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut:

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    56/87

    42

    Tabel 4.2 Jumlah Lanjut Usia Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi

    Sejahtera Banjarbaru

    No Wisma Jumlah Lanjut Usia

    Laki-Laki Perempuan

    1 Dahlia 0 7

    2 Teratai 0 8

    3 Seroja 10 0

    4 Melati 0 8

    5 Sakura 0 9

    6 Flamboyant 9 0

    7 Anggrek 7 0

    8 Mawar 0 79 Isolasi A 0 8

    10 Isolasi B 5 0

    11 Aster 10 0

    12 Cempaka 0 9

    13 Kenanga 0 6

    14 Nusa indah 9 0

    Total 50 62

    Tabel 4.3 Sumberdaya Tenaga PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru Tahun

    2015No Sumber Daya Tenaga Kerja Jumlah (Energi)

    Pegawai negeri sipil (PNS)

    1 Pejabat Structural 3

    2 Pejabat Fungsional 5

    3 Staf

    Tenaga Honorer

    1 Tenaga Honorer 19

    Tenaga Pendukung

    1 Satpam 4

    2 Pengasuh 11

    3 Dokter 14 Perawat 3

    5 Ahli Gizi 1

    6 Juru Masak 3

    7 Tukang Kebun 1

    8 Clanning Service 2

    9 Tukang Cuci 1

    Jumlah 85

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    57/87

    43

    Fasilitas dan pelayanan yang dilakukan di dalam dan di luar gedung

    Panti Sosial Tresna Werdha Banjarbaru, yaitu dengan melaksanakan

    kegiatan diantaranya:

    4.1.2.1 Pelayanan sosial, berupa bimbingan individual atau kelompok.

    4.1.2.2 Pelayanan fisik, berupa senam kesegaran jasmani dan kerja

    bakti bagi para lanjut usia yang kondisi fisiknya

    memungkinkan.

    4.1.2.3 Pelayanan psikososial, berupa kegiatan penyaluran bakat/hobi

    dan pengisian waktu luang.

    4.1.2.4 Pelayanan spiritual/keagamaan, berupa bimbingan rohani dn

    ibadah.

    4.1.2.5 Pelayanan pendamping, berupa mendampingi kegiatan sehari-

    hari.

    4.1.2.6 Pelayanan pemakaman, berupa pengurusan jenazah.

    4.2Karakteristik Responden

    4.2.1

    Karakteristik responden

    Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 15 responden diambil

    pada bulan 17 Juli 2015. Karakteristik responden peneliti meliputi jenis

    kelamin dan usia.

    Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

    No Jenis kelamin Frekuensi Persen (%) Kumulatif (%)

    1 perempuan 3 20.0 20.0

    2 Laki-laki 12 80.0 100.0Total 15 100.0

    Dari data tabel 4.4 diatas nilai data responden berdasarkan jenis

    kelamin mayoritas responden terbanyak adalah laki-laki sebanyak 12

    orang (80%)

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    58/87

    44

    Tabel 4.5 Kakteristik Responden Berdasarkan Umur

    No Usia Frekuensi Persen (%)

    1 65 1 6.72 67 1 6.7

    3 68 2 13.3

    4 69 1 6.7

    5 70 1 6.7

    6 72 2 13.3

    7 73 1 6.7

    8 74 1 6.7

    9 75 2 13.3

    10 76 1 6.7

    11 78 1 6.712 80 1 6.7

    Total 15 100

    Dari data tabel 4.5 diatas nilai data responden berdasarkan umur

    mayoritas responden terbanyak adalah 72 dan 75 tahun yaitu masing-

    masing 2 orang yaitu dengan masing masing 13.3% .

    4.2.2 Analisis Univariat

    4.2.2.1 Gambaran Aktifitas Fisik Sebelum Senam Lansia

    Analisis univariat dalam penelitian ini adalah mengemukakan

    kondisi aktifitas lansia. Penelitian ini menggunakan 15 sampel,

    dilakukan pengukurang nilai peningkatan aktifitas anara sebelum

    perlakuan dan sesudah perlakuan. Berikut hasil responden

    sebelum dan sesudah senam lansia.

    Tabel 4.6 Kondisi Aktifitas Fisik Sebelum Senam Lansia di

    PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru

    No Katagori Frekuensi Persen (%)

    1 Baik 1 6.7

    2 Cukup 11 73.3

    3 Kurang 3 20

    Total 15 100

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    59/87

    45

    Dari tabel 4.6 diatas di dapatkan mayoritas skor aktivitas

    responden sebelum senam lansia terbanyak adalah cukup

    sebanyak 11 orang yaitu 73.3%.

    4.2.2.2 Gambaran Aktifitas Fisik Sesudah Senam Lansia

    Tabel 4.7 Kondisi Aktifitas Fisik Sesudah Senam Lansia di

    PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru

    Dari tabel 4.7 diatas di dapatkan mayoritas skor aktivitas

    responden sesudah senam lansia yang adalah baik sebanyak 11

    orang yaitu 73.3%.

    4.2.3 Analisis Bivariat

    4.2.3.1 Anilisis bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis yang

    dirumuskan dalam peneltian. Uji hipotesis dengan menggunakan

    uji wilcoxson.

    Tabel 4.8 Hasil Analisis Pengaruh Senam Lansia Terhadap

    Aktivita Fisik Pada Lansia Osteoartritis

    SebelumSetelah Senam

    TotalBaik Cukup Kurang

    f % F % f % f %

    Baik 1 100 0 0 0 0 1 100

    Cukup 10 90,9 1 9,1 0 0 11 100

    Kurang 0 0 2 66,7 1 33,3 3 100

    Total 11 73.3 3 20.0 1 6.7 15 100.0

    p Value = 0,001; = 0,05

    No Katagori Frekuensi Persen (%)

    1 Baik 11 73.3

    2 Cukup 3 20

    3 Kurang 1 6.7Total 15 100.

  • 7/23/2019 SKRIPSI pengaruh senam lansia terhadap hipertensi

    60/87

    46

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum senam lansia

    dengan kategori cukup namun setelah senam dengan kategori

    baik sebanyak 10 orang (66.7%). Hasil uji wilcoxsondiatas pada

    tabel 4.8 dapat disimpulkan bahwa hasil dari nilai signifikan

    didapatkan sebesar 0.001 Hal ini menandakan bahwa nilai

    tersebut lebih kecil dari alfa yaitu p 0,05, dalam hal ini Ha

    diterima dan Ho ditolak artinya ada pengaruh senam lansia

    terhadap aktivitas fisik pada lansia osteoartitis di Panti Sosial

    Tresna Wherda Budi Sejahtera Banjarbaru.

    4.3 Pembahasan

    4.4.1 Kondisi aktivitas fisik sebelum melakukan senam lansia pada lansia

    osteoatritis.

    Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa aktivitas

    responden di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera

    Provinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru sebelum dilakukan intervensi

    didapatkan mayoritas aktivitas responden sebelum senam lansia dengan

    kategori cukup sebanyak 11 orang (73.3%).

    Dari 15 orang 3 diantaranya kurang dalam aktivitas fisik, hal ini di

    dalam index makan, lansia yang setelah makan mereka tidak dapat

    mencuci piring sendiri, mereka merasa sakit kalau melipat kakinya

    terlalu lama karena dalam mencuci piring harus melipat kaki terlebih

    dahulu. Hal ini sesuai dengan hasil observasi tentang Lansia mencuci

    piring sendiri sehabis makan tanpa bantuan dengan jawaban kurang

    terbanyak. Dalam index berpindahtempat lansia tidak dapat berjalan

    terlalu jauh, sering mengeluh sakit jika berjalan jauh.ini sesuai dengan

    jawaban lansia berpindah tempat dari wisma ke wisma yang lain dengan

    jawaban terendah