of 35 /35
BAB I PENDAHULUAN Sistem saraf terdiri dari neuron dan neurolgia yang tersusun membentuk sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi (SST). Susunan saraf pusat terdiri dari otak dan medula spinalis sedangkan sistem saraf tepi merupakan sistem saraf diluar sistem saraf pusat yang membawa pesan dari dan menuju sistem saraf pusat untuk menjalankan otot dan organ tubuh. Tidak seperti sistem saraf pusat, sistem saraf tepi tidak dilindungi oleh tulang, sehingga rentan terhadap trauma (Snell, 2006). Sistem saraf tepi terbagi menjadi sistem saraf somatik dan sistem saraf otonomik. Saraf-saraf tersebut mengandung serabut saraf aferen dan eferen. Pada umumnya serabut eferen terlibat dalam fungsi motorik, seperti kontraksi otot atau sekresi kelenjar sedangkan serabut saraf aferen biasanya menghantarkan rangsangan sensoris dari kulit, selaput lendir dan struktur yang lebih dalam (Groot, 1997). Stimulasi diterima oleh reseptor sistem saraf tepi yang selanjutnya akan dihantarkan oleh sistem saraf sensoris dalam bentuk impuls listrik ke sistem saraf pusat. Pada sistem saraf pusat impuls diolah dan diinterpretasikan untuk kemudian jawaban atau respon diteruskan kembali oleh sistem saraf tepi menuju efektor yang berfungsi sebagai pencetus jawaban akhir. Sistem saraf yang membawa jawaban atau respon adalah sistem 1

Referat Anatomi Saraf Tepi

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Referat Anatomi Saraf Tepi

Citation preview

Page 1: Referat Anatomi Saraf Tepi

2

BAB I

PENDAHULUAN

Sistem saraf terdiri dari neuron dan neurolgia yang tersusun membentuk sistem saraf pusat

(SSP) dan sistem saraf tepi (SST). Susunan saraf pusat terdiri dari otak dan medula spinalis

sedangkan sistem saraf tepi merupakan sistem saraf diluar sistem saraf pusat yang membawa

pesan dari dan menuju sistem saraf pusat untuk menjalankan otot dan organ tubuh. Tidak

seperti sistem saraf pusat, sistem saraf tepi tidak dilindungi oleh tulang, sehingga rentan

terhadap trauma (Snell, 2006).

Sistem saraf tepi terbagi menjadi sistem saraf somatik dan sistem saraf otonomik.

Saraf-saraf tersebut mengandung serabut saraf aferen dan eferen. Pada umumnya serabut

eferen terlibat dalam fungsi motorik, seperti kontraksi otot atau sekresi kelenjar sedangkan

serabut saraf aferen biasanya menghantarkan rangsangan sensoris dari kulit, selaput lendir

dan struktur yang lebih dalam (Groot, 1997).

Stimulasi diterima oleh reseptor sistem saraf tepi yang selanjutnya akan dihantarkan

oleh sistem saraf sensoris dalam bentuk impuls listrik ke sistem saraf pusat. Pada sistem saraf

pusat impuls diolah dan diinterpretasikan untuk kemudian jawaban atau respon diteruskan

kembali oleh sistem saraf tepi menuju efektor yang berfungsi sebagai pencetus jawaban

akhir. Sistem saraf yang membawa jawaban atau respon adalah sistem saraf motorik.

Jawaban yang terjadi dapat berupa jawaban yang dipengaruhi oleh kemauan (volunter) dan

jawaban yang tidak dipengaruhi oleh kemauan (involunter). Jawaban volunter melibatkan

sistem saraf somatik sedangkan yang involunter melibatkan sistem saraf otonom, efektornya

adalah otot polos, otot jantung dan kelenjar sebasea (Ganong, 2003).

1

Page 2: Referat Anatomi Saraf Tepi

2

BAB II

NEUROANATOMI SISTEM SARAF TEPI

2.1 Struktur Serabut Saraf Tepi

Neuron merupakan unit fungsional dasar susunan saraf. Neuron terdiri dari badan sel saraf

dan prosesus-prosesusnya. Badan sel saraf merupakan pusat metabolisme dari suatu neuron.

Badan sel mengandung nukleus dan sitoplasma. Nukleus terletak di sentral, berbentuk bulat

dan besar. Di dalam sitoplasma terdapat retikulum endoplasma serta mengandung organel

seperti substansia Nissl, apparatus Golgi, mitokondria, mikrofilamen, mikrotubulus, dan

lisosom. Membran plasma dan selubung sel membentuk membran semipermeabel yang

memungkinkan terjadinya proses difusi ion-ion tertentu melalui membran ini dan

menghambat ion lainnya. Processus sel neuron terbagi menjadi dendrit-dendrit dan sebuah

sel akson. Neuron mempunyai banyak dendrit yang menghantarkan impuls saraf ke arah

badan sel saraf. Akson merupakan processus badan sel yang paling panjang dan

menghantarkan impuls dari segmen awal ke terminal sinaps. Segmen awal badan sel

merupakan elevasi badan sel berbentuk krucut yang tidak mengandung granula Nissl dan

disebut akson hillock (Snell,2006).

Neuron memiliki kemampuan metabolisme yang sangat tinggi, tetapi tidak dapat

menyimpan zat-zat makan dan oksigen. Oleh karena itu neuron perlu didukung oleh

neuroglia yang menyuplai zat makanan dan oksigen untuk kelangsungan hidupnya. Sel

pendukung sangat penting antara lain adalah sel satelit dan sel schwann. Sel Schwann pada

SST bersifat seperti oligodendroglia pada SSP. Sebagian besar akson pada susunan saraf tepi

dilapisi myelin dan membentuk segmen-segmen seperti di SSP. Tiap sel schwann hanya

melapisi satu segmen, berbeda dengan oligodendroglia yang mengembangkan beberapa

“tangan” ke tiap segmen. Sel Schwann juga berbeda dari oligodendria dalam pembentukan

sel baru . Bila terjadi kerusakan pada saraf tepi, sel Schwann membentuk serangkaian

silinder yang berperan sebagai penunjuk arah pertumbuhan akson (Kahle,2000).

Mielin adalah campuran dari lipid dan protein. Pada susunan saraf tepi, selubung

mielin diproduksi oleh sel schwann dan hanya terdapat satu sel schwann untuk setiap segmen

serabut saraf. Mula-mula serabut saraf atau akson membentuk lekukan ditepi sebuah sel

schwann. Lalu membran eksternal sel schwann membentuk mesoakson yang menggantung

akson didalam sel schwann saat akson menyatu dengan sel schwann. Selanjutnya sel schwann

Page 3: Referat Anatomi Saraf Tepi

3

berotasi mengelilingi akson sehingga membran plasma membungkus akson berbentuk seperti

spiral. Arah spiral sesuai dengan arah jarum jam pada beberapa segemen, dan berlawanan

arah dengan jarum jam pada segmen lain. Awalnya selubung ini longgar, namun sitoplasma

antar lapisan membran menghilang secara bertahap. Yang tertinggal hanya sitoplasma yang

ada didekat permukaan dan daerah nukleus. Selubung menjadi ketat dengan maturasi serabut

saraf. Ketebalan mielin bergantung pada jumlah spiral membran sel schwann. Selubung sel

schwann dan mielin yang dikandungnya, diselingi setiap 1-2 mm oleh konstruksi berbentuk

cincin yang disebut nodus Ranvier. Pada nodus ranvier, dua sel schwann yang berdekatan

berakhir pada selubung mielin menjadi lebih tipis. Nodus ini memainkan peran penting dalam

perkembangan efek rangsangan dari reseptor ke medula spinalis atau sebaliknya, dengan

mengadakan konduksi cepat impuls melalui konduksi saltatori dari potensi aksi. Makin tebal

selubung mielin makin cepat konduksi serat saraf (Snell, 2006).

Sel-sel schwann dilapisi oleh selapis jaringan ikat, yaitu endoneurium. Jaringan ikat

yang melapisis beberapa berkas serat saraf disebut perineurium dan jaringan ikat yang

membungkus saraf lebih besar disebut epineurium. Lapiasan jaringan ikat ini melindungi

saraf dari cedera mekanis dan kontak langsung dengan bahan yang merusak saraf. Jaringan

ikat membawa pembuluh darah yang memberi makan serat saraf (Duus, 1996).

Gambar 2.1 Struktur Neuron (Gambar skematik) (Snell, 2006)

Page 4: Referat Anatomi Saraf Tepi

4

Gambar 2.2. Potongan Melintang Susunan Saraf (Duus, 2005)

Jenis-jenis neuron diklasifikasikan berdasarkan morfologi neuron yang ditentukan

oleh jumlah, panjang, dan bentuk percabangan neuritnya antara lain neuron unipolar, neuron

bipolar dan neuron multipolar. Pada SST neuron sensorik berbentuk unipolar dan neuron

motorik berbentuk multipolar (Sukardi,1985). Neuron unipolar adalah neuron yang badan

selnya memiliki satu neurit yang bercabang menjadi dua tidak jauh dari badan sel, satu

menuju ke struktur perifer dan yang lain masuk ke susunan saraf pusat. Cabang-cabang neurit

tunggal ini mempunyai karakteristik struktur dan fungsi sebuah akson. Pada tipe neuron ini,

cabang-cabang terminal halus yang ditemukan diujung perifer akson pada reseptor sering

disebut sebagai dendrit. Contoh bentuk neuron ini ditemukan di ganglion radiks posterior.

Neuron bipolar mempunyai badan sel yang memanjang dari masing-masing ujungnya keluar

satu neurit. Contoh neuron tipe ini ditemukan pada sel-sel bipolar retina dan sel-sel di ganglia

vestibularis dan cochlearis sensorik. Neuron multipolar memiliki banyak neurit yang timbul

dari badan sel. Semua neurit merupakan dendrit, kecuali akson yang merupakan sebuah

prosesus yang panjang. Sebagian besar neuron diotak dan medula spinalis merupakan neuron

multipolar (Snell, 2006).

Neuron dapat juga diklasifikasan menurut ukurannya yaitu neuron golgi tipe 1

memiliki sebuah akson panjang yang berukuran 1 meter atau lebih pada kasus yang luar

biasa. Akson-akson pada neuron ini membentuk traktus yang panjang pada otak dan medula

spinalis serta serabut saraf perifer. Sel-sel piramid di korteks serebri, sel-sel purkinje di

korteks serebeli, serta sel-sel motorik medula spinalis merupakan contoh neuron golgi tipe

ini. Neuro golgi tipe II mempunyai sebuah akson pendek yang berakhir pada badan sel yang

Page 5: Referat Anatomi Saraf Tepi

5

ada di dekatnya atau sama sekali tidak ada. Neuron tipe ini jauh lebih banyak dari pada

neuron golgi tipe I. Dendrit-dendrit pendek yang berasal dari neuron ini memberikan bentuk

yang seperti bintang. Neuron golgi tipe II ini terdapat sangat banyak di korteks serebri dan

serebeli dan sering berfungsi sebagai inhibitor (Snell, 2006).

Gambar 2.3 Klasifikasi neuron menurut jumlah, panjang, dan bentuk percabangan neurit

(Snell, 2006)

Gambar 2.4. Gambar Skematis Jenis Neuron Pada Sistem Saraf Perifer (Snell, 2006)

Page 6: Referat Anatomi Saraf Tepi

6

2.2. Komponen Sistem Saraf Tepi

Susunan saraf tepi terdiri dari: nervus kranialis, dan nervus spinalis (nervi

segmentales) ,kedua komponen susunan tersebut diatas juga dikenal sebagai susunan saraf

cerebrospinal atau craniospinal, serta susunan saraf visceral, yang terdiri dari : susunan saraf

visceral aferen dan susunan saraf visceral eferen yang juga dikenal sebagai susunan saraf

otonom atau susunan saraf vegetatif (E. Sukardi,1985).

Sistem saraf tepi terdiri dari susunan saraf motorik dan susunan saraf sensorik. Sistem

saraf ini dimulai dari neuron motorik dan neuron sensorik menuju ke neuromuscular

junction dan otot (Snell, 2006).

2.2.1. Nervus Kranialis

Ada 12 pasang nervus kranialis yang meninggalkan otak dan berjalan melalui foramina pada

tengkorak. Beberapa nervus kranialis tersusun dari serabut-serabut aferen yang membawa

impuls ke otak (N. Olfaktorius, N. Optikus, N. Vestibulokoklearis). Beberapa terdiri dari

serabut-serabut eferen (N. Okulomotorius, N. Trochlearis, N. Abduscen, N. Accesorius, N.

Hipoglosus), dan sisanya tersusun dari serabut aferen dan eferen (N. Trigeminus, N. Facialis,.

Glossofarin geus, N. Vagus). ( Duus, 2006)

2.2.2. Nervus Spinalis

Terdapat 31 pasang nervus spinalis yang meninggalkan medula spinalis dan berjalan melalui

foramina intervertebralis di kolumna vertebralis. Masing-masing nervus spinalis

berhubungan dengan medula spinalis melalui 2 radiks: radiks anterior dan radiks posterior.

Radiks anterior terdiri dari berkas-berkas serabut saraf yang membawa impuls saraf menjauhi

susunan saraf pusat; serabut-serabut saraf ini disebut serabut eferen. Radiks posterior terdiri

dari berkas-berkas serabut saraf yang membawa impuls saraf menuju susunan saraf pusat;

serabut-serabut saraf ini disebut serabut aferen. Oleh karena berfungsi meneruskan informasi

ke susunan saraf pusat, serabut-serabut ini disebut serabut-serabut sensorik. Badan sel serabut

saraf ini terletak di dalam pembesaran radiks posterior yang disebut ganglion radiks posterior.

Radiks Anterior bergabung dengan radiks posterior tepat di bagian distal ganglion spinalis

dan keduanya membentuk saraf perifer spinalis. Jadi setiap segmen tubuh mempunyai

pasangan saraf spinalisnya masing-masing (Snell, 2007).

Penomeran nervus spinalis berdasarkan korpus vertebrae. Meskipun terdapat tujuh

vertebrae servikalis, ada delapan pasang nervus spinalis, karena nervus spinalis teratas keluar

(atau masuk) ke kanalis spinalis tepat diatas vertebrae cervikalis 1. Dengan demikian nervus

servikalis pertama (C1), keluar dari kanalis spinalis antara os oksipitalis dan vertebra

servikalis 1 (atlas), dan C8 keluar diantara vertebra servikalis VII (terbawah) dan vertebra

Page 7: Referat Anatomi Saraf Tepi

7

torakalis I. Pada tingkat torakal, lumbal dan sakral, masing-masing saraf spinalis keluar (atau

masuk) ke kanalis spinalis di bawah nomer vertebra yang sesuai. Dengan demikian, pada

bagian ini jumlah pasangan saraf spinalis sesuai dengan jumlah vertebranya.(12 torakal, 5

lumbal, dan 5 sakral). Akhirnya terdapat sepasang nervus koksigeus (atau kadang-kadang

lebih dari sepasang) (Duus,2005).

Gambar 2.5 Nervus cranialis : distribusi serat saraf sensorik dan motorik (Netter, 2006)

Page 8: Referat Anatomi Saraf Tepi

8

Gambar 2.6 Pembentukan nervus spinalis (Snell, 2006),

Gambar 2.7 Penomeran segmen radiks saraf dan segmen keluarnya n. Spinalis dari kanalis

spinalis (Duus,2005)

.

Page 9: Referat Anatomi Saraf Tepi

9

2.3. Reseptor Sensorik

Reseptor adalah organ sensorik khusus yang merekam perubahan fisik dan kimiawi di

lingkungan eksternal dan internal organisme dan mengubahnya (transduksi) menjadi impuls

elektrik yang akan di proses oleh sistem saraf. Organ tersebut ditemukan di ujung perifer

serabut saraf aferen. Beberapa reseptor memberikan informasi kepada tubuh mengenai

perubahan di lingkungan eksternal sekitar (eksteroreseptor) atau lingkungan eksternal yang

jauh (telereseptor, seperti telinga dan mata). Eksteroseptor ini dapat dibagi lagi dalam tiga

macam yaitu: tangoseptor, termoseptor, nosiseptor. Propioreseptor, seperti labirin telinga

dalam, menghantarkan informasi mengenai posisi dan pergerakan kepala pada suatu ruang,

regangan otot dan tendon, posisi sendi, kekuatan yang diperlukan untuk melakukan gerakan

tertentu, dan sebagainya.Propioseptor ini dapat dibagi lagi dalam tiga macam yaitu: kerucut

otot (muscle spindle), alat dari Golgi, alat dari Pacini. Akhirnya, proses di dalam tubuh

dilaporkan oleh enteroreseptor, yang disebut juga viseroreseptor (antara lain osmoreseptor,

kemoreseptor, dan baroreseptor). Masing-masing jenis reseptor berespon terhadap stimulus

yang sesuai dan spesifik, bila intensitasnya berada diatas ambang batas. Organ reseptor

banyak terdapat di kulit tetapi juga ditemukan di daerah tubuh yang lebih dalam dan di visera

(Duus, 2005; Ngoerah, 1991).

Sebagian besar reseptor di kulit adalah eksteroreseptor. Reseptor ini terbagi menjadi

dua kelas: (1) ujung saraf bebas dan (2) ujung organ berkapsul. Ujung saraf bebas ditemukan

di celah antara sel epidermal, dan kadang juga ditemukan pada sel yang lebih spesial yang

berasal dari sel saraf, seperti diskus taktil Merkel. Namun, ujung saraf bebas tidak hanya

terdapat di kulit, tetapi hampir di seluruh organ tubuh, untuk menghantarkan informasi

nosiseptif dan suhu yang berkaitan dengan cedera selular. Diskus Merkel terutama terletak di

bantalan jari dan berespon terhadap raba dan tekanan ringan (Duus, 2005).

Ujung organ berkapsul yang berdiferensiasi kemungkinan sangat berperan pada

mediasi modalitas sensorik epikritik seperti raba halus, diskriminasi, getar, tekanan dan

sebagainya. Ujung saraf peritrikial disekitar folikel rambut ditemukan di seluruh area kulit

yang berambut dan diaktivasi oleh pergerakan rambut. Sebaliknya, korpuskel taktil Meissner

hanya ditemukan pada kulit yang tidak berambut, terutama pada telapak tangan dan kaki,

juga pada bibir, ujung lidah, dan genital, dan memberikan respon terbaik terhadap raba dan

tekanan ringan. Korpuskel Vater-Pacini berlapis (korpuskel Pacini) ditemukan pada lapisan

kulit yang lebih dalam, terutama di daerah antara kutis dan subkutis, serta memediasi sensasi

tekanan. Ujung bulbus Krause sebelumnya dianggap sebagai reseptor dingin, sedangkan

Page 10: Referat Anatomi Saraf Tepi

10

korpuskel Ruffini dianggap sebagai reseptor hangat, tetapi saat ini fungsi keduanya masih

diragukan (Duus, 2005).

Reseptor sensoris khusus seperti korpuskulus Meissner, ujung saraf bebas yang

melebar, korpuskulus Pacini dan ujung Ruffini mengirimkan impuls di dalam serabut saraf

tipe A jenis beta yang mempunyai kecepatan hantaran sebesar 30 sampai 70 meter perdetik

(Guyton, 2006).

Kelompok organ reseptor yang kedua terletak di dalam kulit, di otot, tendon, fasia,

dan sendi. Di otot, misalnya, dapat ditemukan spindel otot, yang berespons terhadap regangan

muskulatur. Setiap spindel otot biasanya mengandung 3-10 serabut otot berstriata yang halus,

yang disebut serabut otot intrafusal, kebalikan dari serabut ekstrafusal dari otot itu sendiri.

Jenis reseptor lain ditemukan di daerah transisi antara otot dan tendon, fasia dan atau kapsul

sendi (Duus, 2005).

Gambar 2.8 Beberapa tipe ujung saraf somatosensorik (Guyton, 2006)

Serabut saraf dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan diameternya, kecepatan

hantarannya dan ciri-ciri fisiologisnya. Serabut tipe A adalah serabut yang besar dan

bermielin dengan hantaran yang cepat dan menghantarkan berbagai impuls motorik atau

sensorik. Serabut ini paling peka terhadap gangguan akibat tekanan makanik atau kekurangan

oksigen. Serabut tipe B lebih kecil dari pada serabut tipe A dan bermielin, serabut ini

memiliki hantaran lambat dan berfungsi otonom. Serabut tipe C adalah serabut yang paling

kecil dan tidak bermielin, serabut ini menghantarkan impuls paling lambat dan

menghantarkan rasa nyeri.

Page 11: Referat Anatomi Saraf Tepi

11

Tabel 2.1. Klasifikasi serabut saraf berdasarkan kecepatan hantaran dan ukuran (Snell, 2006)

Tipe serabut Kec.hantar (m/dt)

Diameter (μ/m)

Fungsi Mielin Kepekaan terhadap

anestesi lokal

Serabut tipe A Alfa

Beta Gamma Delta

70-12040-7010-156-30

12-205-123-62-5

Motorik, otot rangkaSensoris, raba, tekan, getar“Muscle spindle”Nyeri (tajam,lokal), suhu, raba

YaYaYaYa

Paling kecil

Serabut tipe B

3-15 <3 Otonom praganglion Ya

Serabut tipe C

0,5-2 0,4-1,2 Nyeri (difus,dalam), suhu, Otonom postganglion

Tidak Paling besar

2.4. Susunan Saraf Tepi Sensorik

Susunan saraf tepi sensorik adalah susunan saraf di sepanjang jalur sensoris antara reseptor di

kulit sampai dengan ganglion spinalis. Semua impuls yang berasal dari reseptor di kulit, otot,

sendi dan organ dalam dikirim ke pusat melalui saraf perifer, pleksus, saraf spinal, radiks

posterior dan kemudian membentuk ganglion spinalis yang berada di foramen intervertebralis

selanjutnya menuju ke dalam medula spinalis untuk diteruskan ke otak. Ketika saraf

mencapai ganglion spinalis, serat terbagi menjadi kelompok menurut fungsinya. Hanya

beberapa dari impuls yang datang dari otot, sendi, fasia dan jaringan lain mencapai tingkat

kesadaran, kebanyakan melayani kontrol otomatis aktivitas motorik yang diperlukan untuk

berjalan dan berdiri (Duus, 1996).

Pada orang dewasa, medula spinalis lebih pendek daripada kolumna vertebralis.

Medula spinalis berakhir kira-kira pada tingkat diskus intervertebralis antara vertebra lumbal

pertama dan kedua. Sebelum usia tiga bulan, segmen medula spinalis, ditunjukan oleh

radiksnya, langsung menghadap ke vertebra yang bersangkutan. Sesudah itu, kolumna

tumbuh lebih cepat daripada medula. Radiks tetap melekat pada foramina intervertebralis

asalnya dan menjadi bertambah panjang ke arah akhir medulla (konus terminalis), akhirnya

terletak pada tingkat vertebra lumbalis kedua. Dibawah tingkat ini, spasium subaraknoid yang

seperti kantong, hanya mengandung radiks posterior dan anterior yang membentuk kauda

equina. Ketidaksesuaian antara lokasi segmen medula spinalis dan vertebra yang

Page 12: Referat Anatomi Saraf Tepi

12

bersangkutan, yang bertambah pada waktu mendekati konus terminalis, harus diperhitungkan,

dalam usaha mengetahui lokasi tingkat poses penyakit spinalis.

Ke arah perifer, serat aferen yang berasal dari satu radiks dorsalis bergabung dan

melayani daerah segmen tertentu dari kulit disebut dermatom. Jumlah dermatom sebanyak

radiks segmental. Karena dermatom berhubungan dengan berbagai segmen radiks medula

spinalis maka mempunyai nilai diagnostik yang besar dalam menentukan tingkat ketinggian

dari kerusakan medula spinalis. Serat yang membentuk saraf perifer berasal dari berbagai

radiks. Jika saraf mengalami kerusakan, serat yang mempersarafi satu bagian dari dermatom,

tidak dapat bergabung dengan saraf yang mensuplai bagian lain dari dermatom, karena serat-

serat tersebut berjalan dalam serat perifer yang berbeda. Akibatnya, hilangnya sensorik yang

disebabkan oleh kerusakan saraf perifer, memeperlihatkan pola yang sangat berbeda dengan

yang disebabkan oleh kerusakan radiks spinalis. Tumpang tindih daerah sensorik radikular.

Keadaan ini sangat mempermudah deteksi adanya gangguan sensorik. Pada daerah

dermatomik, regio untuk sensasi raba, tumpang tindihnya lebih besar dari pada untuk sensasi

nyeri. Oleh karena itu, kerusakan hanya satu atau dua radiks, akan menyebabkan penurunan

sensitivitas raba yang sukar dikenal, sedangkan penurunan sensitivitas nyeri dan suhu, lebih

mudah ditemukan. Jika saraf perifer yang rusak, daerah hipestesia umumnya lebih besar dari

pada daerah hipalgesia. Oleh karena itu hipestesia lebih mudah dikenal. (Duus, 1996).

Yang mungkin sulit adalah membedakan gangguan sensorik yang disebabkan oleh

lesi radikuler Cervical (C)8 dari gangguan sensorik yang disebabkan oleh kerusakan saraf

ulnaris dan gangguan sensorik lesi radikuler Lumbal (L) 5 – Sakral (S) 1 dengan gangguan

sensorik yang disebabkan oleh kerusakan saraf peroneus karena daerah yang terlibat hampir

sama. Setiap saraf sensorik perifer memiliki daerah yang pasti untuk inervasinya sehingga

memungkinkan untuk mengidentifikasi kerusakan saraf melalui pemeriksaan yang cermat

(Duus, 1996).

Myotome didefinisikan sebagai distribusi otot dari saraf tulang belakang tunggal

(Radiks ventralis), dan analog dengan dermatom kulit. Pengetahuan tentang miotom dari

setiap saraf spinalis, dan dari segmen yang menunjukkan otot pada khususnya,

memungkinkan menentukan lokasi klinis dan elektromiografi dari lesi radikuler yang

menyebabkan disfungsi motorik. (Rohkmm, 2004)

Page 13: Referat Anatomi Saraf Tepi

13

Gambar 2.9 Inervasi segmental kulit (Duus, 2005)

Gambar 2.10 Dermatom dan Myotome (Rohkmm, 2004)

Page 14: Referat Anatomi Saraf Tepi

14

2.5. Sirkuit Regulasi Perifer

Serabut aferen yang berdiameter besar yang berasal dari spindel otot membentuk banyak

cabang terminal segera setelah masuk ke medula spinalis. Beberapa cabang ini membentuk

kontak sinaptik langsung dengan neuron di substansia grisea kornu anterior. Neuron-neuron

tersebut kemudian menjadi awal serabut eferen motorik, dan dengan demikian disebut sel

motorik kornu anterior. Neurit eferen keluar dari medula spinalis melalui radiks anterior dan

kemudian berjalan di sepanjang saraf perifer ke otot –otot rangka (Duus, 2005).

2.5.1.Refleks Monosinaptik dan Polisinaptik

Lengkung saraf terbentuk dari otot rangka ke medula spinalis dan kembali lagi, tersusun dari

dua neuron: neuron sensorik aferen dan neuron motorik aferen. Lengkung ini membentuk

lengkung refleks monosinaptik sederhana. Karena lengkung dimulai dan berakhir di otot yang

sama, refleks yang berkaitan disebut refleks otot intrinsik (propioseptif). Refleks

monosinaptik ini juga memiliki komponen polisinaptik. Refleks tidak hanya bermanifestasi

berupa kontraksi otot yang bersangkutan, tetapi juga berupa relaksasi otot-otot antagonisnya.

Inhibisi sel-sel otot yang menimbulkan relaksasi otot tersebut merupakan proses polisinaptik

yang timbul melalui interneuron di substansia grisea medula spinalis (Duus, 2005).

Lengkung refleks lain yang penting adalah refleks fleksor polisinaptik, suatu refleks

protektif dan hindar (flight) yang dimediasi oleh banyak interneuron dan oleh sebab itu

disebut polisinaptik. Potensial aksi yang muncul di reseptor kulit (nosisseptor) untuk refleks

ini berjalan melewati serabut aferen ke substansia gelatinosa medula spinalis, kemudian

dihantarkan melalui sinaps ke dalam berbagai jenis sel yang dimiliki oleh aparatus neurona

intrinsik medula spinalis (interneuron, neuron asosiasi, dan neuron komissura). Beberapa sel

tersebut terutama neuron asosiasi, memproyeksikan prosesusnya ke berbagai level spinal,

keatas maupun kebawah, yang disebut fasikulus propius. Setelah melewati beberapa sinaps,

impuls eksitatorik akhirnya mencapai neuron motorik dan berjalan di sepanjang akson eferen

ke radiks nervus spinalis, saraf perifer, dan otot, menimbulkan kontraksi otot untuk respon

menghindar. (Duus, 2005).

Page 15: Referat Anatomi Saraf Tepi

15

Gambar 2.11 Refleks monosinaptik dengan inhibisi polisinaptik (Duus, 2005)

Gambar 2.12 Refleks fleksor dengan hubungan polisinaptik (Duus, 2005)

Page 16: Referat Anatomi Saraf Tepi

16

2.5.2.Regulasi Panjang Dan Tegangan Otot

Masing-masing otot memiliki dua sistem umpan balik: (Duus, 2005)

1. Sistem kontrol untuk panjang, yaitu serabut kantong inti spindel otot berfungsi

sebagai reseptor panjang.

2. Sistem kontrol untuk tegangan, yaitu organ tendon Golgi dan serabut rantai inti

spindel otot berfungsi sebagai reseptor tegangan.

Spindel otot adalah reseptor untuk regangan (panjang) dan tegangan yang dideteksi oleh dua

jenis serabut intrafusal yang berbeda yang disebut serabut kantong inti (nuclear bag fiber)

dan serabut rantai inti (nuclear chain fiber). Spindel otot umumnya terdiri dari dua serabut

kantong inti dan empat atau lima serabut rantai inti.

Gambar 2.13 Sirkuit regulasi untuk panjang otot (Duus, 2005)

Gambar 2.14 Sirkuit regulasi untuk tegangan otot (Duus, 2005)

2.6 Susunan Saraf Tepi Motorik

Susunan saraf tepi motorik dimulai dari motor neuron di kornu anterior medula spinalis.

Neuron-neuron yang menyalurkan impuls motorik dari medula spinalis ke sel otot skeletal

dinamakan Lower Motor Neuron (LMN). LMN dengan aksonnya dinamakan final common

Page 17: Referat Anatomi Saraf Tepi

17

pathway impuls motorik. LMN dibedakan menjadi alfa motor neuron (berukuran besar,

aksonnya yang tebal dan mensarafi serabut otot ekstrafusal) dan gamma motor neuron

(berukuran kecil, aksonnya halus dan mensarafi otot intrafusal). Tiap motor neuron

menjulurkan hanya satu akson yang ujungnya bercabang-cabang sehingga setiap akson dapat

berhubungan dengan sejumlah serabut otot. Penghambatan gerakan dilaksanakan oleh sel

interneuron (sel Renshaw). Akson menghubungi sel serabut otot melalui sinaps. Otot-otot

individual dipersarafi oleh beberapa radiks spinalis ventralis (persarafan plurisegmental).

Akibatnya jika satu radiks dipotong, tidak terjadi kehilangan fungsi yang nyata. Paralisis pola

radikular hanya tampak bila beberapa radiks yang berdekatan rusak. Setiap radiks motorik

mempunyai otot indikatornya sendiri sehingga memungkinkan untuk mendiagnosis

kerusakan radiks dengan elektromiogram terutama di daerah servikal atau lumbal (Duus,

1996).

Radiks ventralis dan dorsalis bergabung di foramen intervertebralis menjadi satu

berkas saraf spinal dan dinamakan sesuai foramen intervertebralis yang dilewati. Pada

pangkal ekstrimitas, ramus anterior nervus spinalis membentuk pleksus yang rumit. Cabang-

cabang ventral dari saraf spinalis mempersarafi anggota badan bergabung bersama untuk

membentuk pleksus servikalis (C1- C4), pleksus brakialis (C5-T1), pleksus lumbal (T12-L4),

dan pleksus sakralis (L4-S4). Pleksus brakialis membentuk 3 berkas yaitu tubuh bagian atas

(berasal dari akar C5 dan C6), tubuh bagian tengah (C7), dan tubuh bagian bawah (C8, T1).

Bagian tubuh ini dibagi menjadi bagian-bagian, yang bergabung kembali untuk mempersarafi

bagian lateral (C5-C7), posterior (C5-C8), dan medial (C8 dan T1). Gambaran cabang

pleksus brakialis ke saraf dari ekstremitas atas dapat dilihat pada gambar. Persarafan bagian

anterior ekstremitas bawah berasal dari pleksus lumbalis, yang terletak di belakang dan di

dalam otot psoas mayor; bagian posterior ekstremitas bawah mendapat persarafan dari

pleksus sakral. Saraf coccygeal (yang saraf tulang belakang terakhir yang muncul dari hiatus

sakral) bergabung dengan saraf S3-S5 untuk membentuk pleksus coccygeus, yang

menginervasi coccygeus tersebut dan kulit di atas tulang ekor dan anus (Rohkmm, 2004).

Pleksus servikalis dan pleksus brakialis terdapat pada pangkal ektremitas atas

sedangkan pleksus lumbalis dan pleksus sakralis terdapat pada pangkal ektremitas bawah

sehingga serabut saraf yang berasal dari berbagai segmen medula spinalis disusun dan

didistribusikan secara efisien di dalam trunkus saraf yang berbeda menuju berbagai bagian

ekstremitas atas dan bawah (Mardjono, 2006).

Pleksus brakhialis membentuk tiga berkas yaitu fasikulus lateralis, posterior dan

medialis sesuai dengan topografinya terhadap arteri aksilaris. Fasikulus posterior merupakan

Page 18: Referat Anatomi Saraf Tepi

18

induk nervus radialis, fasikulus medialis menjadi pangkal nervus ulnaris, sedangkan nervus

medianus disusun oleh serabut dari fasikulus lateralis dan medialis. Sindrom Horner

berkorelasi dengan lesi di pleksus brakhialis karena sindrom Horner dihasilkan oleh

terputusnya hubungan ortosimpatetik dari ganglion servikal superior yang terletak di daerah

pleksus brakhialis. Enam saraf perifer penting keluar dari pleksus brakhialis yaitu n.torakalis

longus, n.aksilaris, n.radialis, n.muskulokutaneus, n.medianus dan n.ulnaris. Pada sindrom

pleksus brakhialis akibat proses difus terdapat gejala motorik dan sensorik terutama di area

C5 dan C6 (Mardjono, 2006).

Gambar 2.15 Pleksus Servikalis (Rohkman, 2004)

Page 19: Referat Anatomi Saraf Tepi

19

Gambar 2.16 Pleksus Brakialis (Rohkman, 2004)

Penataan pleksus lumbosakralis lebih sederhana dari pada pleksus brakhialis. Pleksus

lumbosakralis terdiri dari pleksus lumbalis dan pleksus sakralis. Pleksus lumbalis disusun

oleh cabang anterior saraf spinal L1, 2, 3 dan sebagian L4. Saraf perifer yang berinduk pada

pleksus lumbalis adalah n.kutaneus femoralis lateralis, n.femoralis, n.genito femoralis dan

n.obturatorius.

Pleksus sakralis disusun oleh cabang anterior saraf spinal L4-S3. Saraf perifer kulit

yang berasal dari pleksus sakralis adalah n.gluteus superior dan inferior, n.kutaneus femoralis

posterior dan n.iskiadikus. Saraf perifer kulit yang mengurus kulit daerah inguinal ialah

n.ilioinguinalis sedangkan daerah kulit tungkai atas lainnya disarafi n.kutaneus femoralis

lateralis dan n.kutaneus femoralis anterior. Persarafan kulit tungkai bawah, bagian medial

diurus cabang pleksus lumbalis dan bagian lateral posterior diurus oleh cabang pleksus

sakralis. Seluruh kulit kaki kecuali yang menutupi maleolus medialis, diurus cabang pleksus

sakralis. N.iskiadikus merupakan kelanjutan pleksus sakralis, pada fosa poplitea n.iskiadikus

bercabang dua yaitu n.tibialis dan n.peroneus komunis. Cabang kulit n.tibialis adalah

n.kutaneus suralis medialis, n.plantaris dan n.plantaris medialis. Cabang kutan n.peroneus

komunis ialah n.kutaneus suralis lateralis, n.peroneus profundus dan superfisialis, n.kutaneus

dorsalis pedis intermedius dan n.kutaneus dorsalis pedis medialis (Netter, 2002).

Page 20: Referat Anatomi Saraf Tepi

20

Gambar 2.17 Pleksus Lumbalis (Rohkmann, 2004)

Gambar 2.18 Pleksus Sakralis (Rohkman, 2004)

Page 21: Referat Anatomi Saraf Tepi

21

BAB III

PENUTUP

Sistem saraf manusia adalah suatu jalinan jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan

saling berhubungan satu dengan yang lain. Sistem saraf mengkoordinasi, menafsirkan dan

mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem tubuh yang

penting ini juga mengatur kebanyakan aktivitas sistem tubuh lainnya. Sistem saraf tepi (SST)

merupakan sistem saraf diluar sistem saraf pusat yang membawa pesan dari dan menuju

sistem saraf pusat untuk menjalankan otot dan organ tubuh.

Sistem saraf tepi terbagi menjadi sistem saraf somatik dan sistem saraf otonomik.

Saraf-saraf tersebut mengandung serabut saraf aferen dan eferen. Pada umumnya serabut

eferen terlibat dalam fungsi motorik seperti kontraksi otot dan sekresi kelenjar sedangkan

serabut aferen biasanya menghantarkan rangsang sensorik dari kulit, selaput lendir dan

struktur yang lebih dalam. Stimulasi diterima oleh reseptor sistem saraf perifer yang

selanjutnya akan dihantarkan oleh sistem saraf sensoris dalam bentuk impuls listrik ke sistem

saraf pusat. Susunan saraf tepi terdiri dari: nervus kranialis, dan nervus spinalis (nervi

segmentales), kedua komponen susunan tersebut diatas juga dikenal sebagai susunan saraf

cerebrospinal atau craniospinal, serta susunan saraf visceral, yang terdiri dari : susunan saraf

visceral aferen dan susunan saraf visceral eferen yang juga dikenal sebagai susunan saraf

otonom atau susunan saraf vegetatif.

Pada sistem saraf pusat impuls diolah dan diinterpretasikan, kemudian jawaban atau

respon diteruskan kembali melalui sistem saraf tepi menuju efektor yang berfungsi sebagai

pencetus jawaban akhir. Sistem saraf membawa jawaban atau respon sistem saraf motorik.

Jawaban yang terjadi dapat berupa jawaban yang dipengaruhi oleh kemauan (volunter) dan

jawaban yang tidak dipengaruhi oleh kemauan (involunter). Jawaban volunter melibatkan

sistem saraf somatik sedangkan jawaban involunter melibatkan sistem saraf otonom. Efektor

dari sistem saraf somatik adalah otot rangka sedangkan untuk sistem saraf otonom,

efektornya adalah otot polos, otot jantung dan kelenjar sebasea.

Page 22: Referat Anatomi Saraf Tepi

22

DAFTAR PUSTAKA

Duus, Peter. 1996. Sistem sensorik dan sistem motorik. In : Diagnosis Topik,

Neurologi, Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. 2nd ed. Jakarta : EGC; hal. 1-73.

Duus, Peter. 2005. Diagnosis Topik, Neurologi, Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. 4th

ed. Jakarta : EGC; Hal.16-60.

Ganong, W.F. 2003. Fisiologi saraf dan sel otot. In : Fisiologi Kedokteran. Jakarta :

EGC; Hal. 49-115.

Groot,J. 1997. Pemberian sinyal dalam susunan saraf. In : Neuroanatomi korelatif.

Jakarta : EGC; hal. 19-28.

Guyton, Arthur C. 1996. MD: Human Physiology and Mechanism of Disease. Jakarta :

EGC; p.120-125.

Kahle, W. 2000. Atlas Berwarna dan Teks Anatomi Manusia Sistem Saraf dan Alat-

Alat Sensoris. 1st ed. Jakarta : Hipokrates; p. 16-40.

Mardjono, Sidharta. 2006. Neurologi Klinis Dasar : Susunan Neuromuskular dan

Patofisiologi Susunan Neuromuskular. Jakarta: Dian Rakyat. hal 1-59.

Netter F. 2002. Atlas of Neuroanatomy and Neurophysiology. Selection from the Netter

collection of medical illustration. Texas: Icon Custom Communications. p.65

Ngoerah IGNG. 1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf: Sistem neuromuskulus.

Surabaya : Airlangga university press; hal. 1-28.

Rohkmm, Reinhard. 2004. Color Atlas Of Neurology. Peripheral Nervous System.

German : Georg Thieetie Verlag. p.32-39.

Sukardi E. 1985. Neuroanatomica Medika: Dasar-dasarNeurofisiologi dan Anatomi

Sinapsis. Jakarta: UI-press; hal. 15-35.

Snell RS. 2006. Neuroanatomi Klinik: SerabutSaraf, Saraf Tepi,Ujung Reseptor dan

Efektor, Dermatom serta Aktivitas Otot. Jakarta: EGC; hal. 35-149.