C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

  • View
    202

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 1

    C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    Lecture Notes : Neurosains

    Theme : Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    Oleh : dr. Sophie Yolanda, M.Biomed

    A. Organisasi Sistem Saraf

    B. Sistem Saraf Tepi

    1. Divisi Aferen

    Divisi aferen ini merupakan divisi dari sistem saraf tepi yang

    disusun oleh neuron-neuron sensorik. Intinya, divisi aferen inilah

    yang akan menangkap stimulus dan dijadikan sinyal listrik.

    Stimulus-stimulus tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua

    macam yaitu yang disadari dan tidak disadari. Berikut

    mekanisme jalannya rangsang :

    Gambar 8.1 Organisasi Sistem Saraf

    Gambar 8.2

    Macam-Macam Stimulus

    Gambar 8.2 Stimulus Menuju Persepsi

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 2

    C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    Dalam melakukan tugasnya yaitu merangsang, stimulus

    memiliki beberapa sifat, antara lain :

    a) Modalitas (Jenis Rangsangan)

    Dalam hal ini lebih ditekankan kepada reseptor

    somatosensorik yang berlabel sesuai modalitas dan lokasi.

    Saat mencapai medulla spinalis, informasi dari neuron

    sensorik ini akan menghasilkan antara kedua hal berikut,

    yaitu :

    Menjadi bagian lengkung refleks sehingga

    menghasilkan gerak refleks

    Dibawa menuju otak tepatnya di korteks cerebral

    sebagai persepsi

    Intinya, jalur asenden yang menyalurkan stimulus

    sensasi somatik sadar ini menuju otak adalah jalur

    somatosensorik. Dalam jalur somatosensorik ini akan

    disusun oleh jalur berlabel (neuron orde 1 sampai neuron

    orde 3) di mana suatu reseptor sensorik khusus akan

    menyalurkan sinyal melalui jalur ini yang spesifik juga.

    Labeled line coding ini akan disusun oleh beberapa neuron

    yang berbeda-beda terutama struktur dan fungsinya.

    Berikut macam-macam neuronnya :

    b) Lokasi

    Lokasi rangsangan ini akan dibedakan dalam lokasi

    medan reseptif yang teraktivasi. Jalur tersebut kemudian

    teraktivasi sehingga dapat terjadi mekanisme penyampaian

    informasi menuju daerah korteks somatosensorik yang akan

    mempresentasikan lokasi tempat adanya rangsang.

    Lokasi yang merupakan tempat adanya stimulus akan

    diketahui oleh mekanisme receptive field, lateral inhibition,

    dan somatotopy.

    Gambar 8.3 Tipe Neuron Aferen

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 3

    C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    Receptive Field

    Dalam hal ini, semakin luas suatu neuron aferen

    mempersarafi suatu bagian tubuh, maka hanya neuron

    tersebut yang akan menerima rangsang. Misalnya ada

    dua jari yang ditempelkan berdekatan ke suatu daerah

    kulit, dan ternyata hanya terasa seperti satu jari yang

    merasakan. Berikut diagram penggambarannya :

    Inhibisi Lateral

    Dalam hal ini akan terjadi inhibisi stimulus rendah

    oleh stimulus tinggi. Misalnya adalah saat kita gatal itu

    ada stimulus menuju pusat integrasi, namun saat kita

    menggaruk akan terjadi penghilangan rasa gatal tadi,

    hal ini diakibatkan stimulus garukan menginhibisi

    stimulus gatal.

    Somatotopy

    Neuron aferen ini akan membawa sinyal dari bagian kiri

    ke otak kanan dan sebaliknya, hingga melewati

    thalamus dan berakhir ke korteks sensorik tepatnya di

    gyrus postcentralis. Pada bagian gyrus postcentralis ini

    akan ada pemetaan somatotopik untuk masing-masing

    Gambar 8.4 Receptive Field

    Gambar 8.5 Inhibisi Lateral

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 4

    C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    efektor. Berikut gambar dari pemetaan somatotopik

    pada gyrus postcentralis :

    Two Point Discrimination

    c) Intensitas dan Durasi

    Intensitas dan durasi dibedakan oleh frekuensi potensial

    aksi yang dimulai pada neuron aferen serta jumlah

    reseptornya yang teraktivasi. Intensitas dan durasi dari

    Gambar 8.6 Pemetaan Somatotopik pada Gyrus Postcentralis

    Gambar 8.7 Grafik Two Point Discrimination

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 5

    C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    stimulus ini akan diatur oleh dua mekanisme berikut, antara

    lain :

    Frekuensi dan Durasi dari Potensial Aksi

    Intensitas dari stimulus tidak bisa dikalkulasikan dari

    potensial aksi sebuah neuron sensorik karena sifatnya

    all or none. Maka dari itu intensitas ini dapat dilihat

    dari dua hal yaitu jumlah reseptor teraktivasi dan

    frekuensi dari potensial aksi.

    Setiap reseptor memiliki treshold berbeda-beda

    sehingga hanya reseptor yang memiliki reseptor paling

    sensitif yang dapat merespon ke stimulus yang

    berintensitas rendah.

    Selain itu, untuk durasi stimulus dapat dilihat dari

    durasi potensial aksi pada neuron sensorik. Secara

    umum, semakin lama durasi stimulus maka semakin

    lama durasi potensial aksi pada neuron sensorik primer.

    Namun hal ini tetap dipengaruhi oleh jenis reseptor

    yang memiliki adaptasi berbeda-beda, di mana ada dua

    jenis reseptor antara lain reseptor tonik dan reseptor

    fasik.

    Intinya adalah semakin tinggi amplitudo dan durasi

    dari suatu potensial aksi, akan semakin tinggi

    neurotransmiter yang akan dikeluarkan. Berikut

    skemanya :

    Adaptasi Reseptor

    Adaptasi reseptor dapat memengaruhi dari durasi

    suatu potensial aksi pada neuron sensorik primer.

    Berdasarkan adaptasinya, reseptor dapat dibedakan

    menjadi dua macam, antara lain:

    Gambar 8.8 Intensitas dan Durasi Potensial Aksi

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 6

    C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    - Reseptor Tonik

    Beradaptasi lambat bahkan tidak sama sekali

    Dapat mempertahankan informasi dari stimulus

    Awalnya meningkat tajam saat teraktivasi

    pertama kali, kemudian lambat dan

    mempertahankan potensial reseptor, sampai

    akhirnya berhenti ketika stimulus tidak ada lagi

    Contoh : Baroreseptor, reseptor iritas, beberapa

    reseptor taktil, dan reseptor proprioseptif

    - Reseptor Fasik

    Beradaptasi dengan cepat

    Namun tidak mempertahankan informasi dari

    stimulus

    Setelah terstimulasi, reseptor fasik dengan

    cepat beradaptasi kemudian teraktivasi, namun

    akan cepat juga terinaktivasi dan siap distimulasi

    kembali

    Contoh : reseptor taktil

    Kemudian, sekarang akan membahas beberapa macam

    reseptor yang diklasifikasikan berdasarkan jenis stimulusnya,

    antara lain :

    Tabel 8.1 Macam-Macam Reseptor Sensorik (1)

    No. Tipe Reseptor Stimulus

    1. Kemoreseptor oksigen, pH, beberapa molekul

    organik seperti glukosa

    2. Mekanoreseptor tekanan (baroreseptor), regangan

    (osmoreseptor), getaran,

    kecepatan, suara

    3. Fotoreseptor cahaya

    4. Termoreseptor derajat panas

    Berdasarkan strukturnya, reseptor dapat dibagi menjadi tiga

    jenis, antara lain :

    Tabel 8.2 Macam-Macam Reseptor Sensorik (2)

    No. Tipe Reseptor Penjelasan

    1. Sederhana Neuron dengan saraf ujung bebas

    di mana tidak memiliki akson

    bermielin.

    2. Kompleks Neuron dengan ujung saraf dilapisi

    jaringan ikat serta aksonnya

    bermielin.

    Gambar 8.9 Potensial Reseptor

    Tonik

    Gambar 8.10 Potensial Reseptor

    Fasik

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 7

    C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    3. Perasa Spesial Neuron dengan ujung saraf yang

    memiliki reseptor terspesialisasi (hair

    cell), memiliki sinaps, dan akson

    bermielin. Contohnya pada reseptor

    olfaktori.

    Kemudian berikut beberapa macam reseptor yang bersifat

    somatosensorik, antara lain :

    Tabel 8.3 Macam-Macam Reseptor Somatosensorik

    No. Tipe Reseptor Fungsi

    1. Reseptor rambut Menginderai pergerakan rambut

    2. Merkel Deteksi rangsang sentuhan ringan

    yang menetap, deteksi tekstur

    seperti tulisan Braille

    3. Pacini Deteksi getaran dan tekanan

    dalam di mana Pacini cepat

    bereaksi

    4. Ujung Ruffini Deteksi tekanan dalam yang

    dipertahankan, regangan kulit,

    namun lambat dalam beradaptasi

    5. Badan Meissner Deteksi pada sentuhan ringan

    untuk menggetarkan (menggelitik)

    Gambar 8.11 Macam-Macam Reseptor Sensorik

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 8

    C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    Kemudian ada beberapa reseptor lain seperti reseptor

    proprioseptif yang akan menerima stimulus mengenai kondisi

    keseimbangan tubuh. Selain itu, ada reseptor visera (reseptro

    organ dalam) yang secara umum adalah baroreseptor.

    Gambar 8.12 Reseptor Somatosensorik

    Gambar 8.13 Reseptor Viseral

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 9

    C8 Fisiologi Sistem Saraf Tepi

    Setelah mempelajari beberapa hal-hal mendasari mengenai

    divisi aferen, sekarang harus membahas transduksi pada

    neuron aferen. Transduksi merupakan proses mengkonversi

    suatu stimulu menjadi informasi di mana informasi tersebut di

    bawa dalam energi listrik (perubahan potensial membran)

    sehingga mengubah potensial reseptor.

    Dalam hal ini kita juga harus mengetahui mengenai

    potensial aksi. Potensial aksi ini akan dimulai di tempat

    inisiasinya yaitu axon initial segment atau bisa disebut axon

    hillock. Berikut mekanisme transduksi pada neuron aferen :

    Gambar 8.14 Transduksi pada Neuron Aferen

    Gambar 8.15 Dermatom

  • AUTHORED BY : IQBAL TAUFIQQURRACHMAN 10