Personal Learning Environments Dan eLearning

  • Published on
    19-Oct-2015

  • View
    14

  • Download
    0

Transcript

Personal Learning Environments dan eLearning Selama dekade terakhir, penerapan elearning sebagian besar hanya menerapkannya dengan pendekatan Virtual Learning Environment (VLE), yaitu penerapan elearning dengan mengaplikasikannya melalui virtualisasi ruang kelas atau disebut virtual classroom. Dengan VLE guru yang memiliki peranan utama dalam sistem, dari sejak merencanakan pembelajaran sampai dengan evaluasi pembelajaran, hal ini berimbas pelaksanaannya sebagian besar kurang dinikmati oleh peserta didik yang memiliki karakter-karakter belajar yang berbeda-beda. Dari sana muncullah penerapan elearning dengan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) yang penerapannya sangat berbeda dibandingkan dengan pendekatan VLE. Penerapan PLEs menitik beratkan elearning sebagai sebuah kegiatan pembelajaran online yang dilakukan oleh individu pembelajar, bukan dilihat dari pemenuhan kebutuhan institusi penyelenggara pembelajaran. A. Konsep Personal eLearning Environments Personal Learning Environments atau disingkat PLEs adalah sebuah pendekatan atau cara pandang e-learning dilihat dari sudut pandang pengalaman belajar mandiri siswa/pengguna. Mohamed Amine Chatti mengibaratkan PLEs sebagai perlengkapan kecil-kecil namun lengkap, berbeda dengan LMS atau sering disebut dengan e-learning dengan pendekatan Virtual Learning Environment (VLE). Intinya bahwa PLEs melihat e-learning sebagai sebuah aktivitas yang biasa dilakukan seseorang ketika online, tools-nya bebas, bisa dengan social networking, blog atau tools lainnya. Hal ini diharapkan demotivasi yang biasa terjadi dapat dihilangkan atau setidaknya dikurangi. Jadi konsep awal PLEs adalah sebuah pendekatan atau cara pandang terhadap e-learning sebagai sebuah aktivitas pembelajaran yang dilakukan secara online oleh pembelajar (siswa) dengan tools yang biasa dan disenangi oleh pembelajar yang bersangkutan. PLEs ini diprediksikan akan menjadi titik tolak utama dalam pengembangan sistem e-learning di masa yang akan segera datang. 1. Ada 4 lapisan dalam pengoperasian PLES a. Online journal (contoh weblog) b. Social content networking (contoh: slide share, youtube, flickr) c. Social bookmarking (contoh: diigo, delicious) d. Social networking (contoh: facebook, twitter) 2. Dengan PLES Individu akan mampu melakukan: a. Membuat konten dan mempublikasikannya b. Mencari dan mengumpulkan informasi dari banyak sumber c. Merespon pertanyaan d. Berkomentar terhadap konten milik individu lain Setiap saat ketika anda online, anda belajar sesuatu melalui search engine, social networking, weblog, dll. Itulah yang disebut PLEs. B. Cara menciptakan Personal eLearning Environments Dibawah ini mungkin belum bisa dikatakan penciptaan, namun lebih pada pengkondisian siswa dalam pendekatan PLEs. Yaitu: 1. Tiap individu memiliki kontrol penuh atas kegiatan pembelajarannya. 2. Tiap individu berada dalam 1 atau lebih jaringan 3. Tiap PLEs saling mempengaruhi Dalam jaringan setiap individu atau siswa (harus )melakukan: a. Memberi tag yang sama dalam topik yang senada b. Merespon dan mendiskusikan konten yang senada c. Me-embed konten milik individu lain jika diperlukan untuk melengkapi kontennya d. Mengoleksi, mengolah dan membagikan konten 1. C. Definisi eLearning menurut tokoh-tokoh Terdapat beberapa perbedaan terminologi penulisan untuk menunjukan istilah pembelajaran online. Ada yang menuliskan dengan E-Learning, Elearning dan ada pula dengan penulisan eLearning. Menurut Wahono, fenomena ini hampir sama dengan fenomena terminologi penulisan E-Mail dan Email, yang pada akhirnya yang menjadi baku adalah penulisan Email (tanpa tanda hubung). Dalam paper ini terminologi penulisan yang digunakan adalah Elearning (tanpa tanda hubung). Model mengandung pengertian suatu pola, gaya, contoh, acuan, ragam dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Sedangkan model yang dimaksud adalah suatu pola dan alur proses pengembangan elearning yang dibuat, dihasilkan dan digunakan guna keberhasilan program kegiatan pembelajaran yang terdiri dari komponen input, proses dan output. Secara harfiah, elearning berasal dari dua kata dasar, yaitu e yang merupakan kependekan dari electronic atau elektronik dan learning atau pembelajaran. Sehingga elearning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang dibentuk atau menggunakan media elektronik. Namun, pada perkembangannya, pengertian elearning mengalami penyempitan makna, yaitu untuk menunjukan cara pembelajaran dengan menggunakan media internet, yang dapat menggantikan atau melengkapi pembelajaran konvensional sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Istilah e-Learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e-Learning dari berbagai sudut pandang. Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan: e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain. LearnFrame.Com dalam Glossary of e-Learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa: e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone. Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002) & Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah e atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet. e-Learning menurut Allan J. Henderson (2003:2) dinyatakan sebagai: a. e-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi komputer (biasanya terkoneksi internet). b. e-learning dapat digunakan untuk para pekerja dimana mereka dapat belajar pada di tempat kerja mereka tanpa harus pergi ke kelas. c. e-learning dapat dijadwalkan dengan kesepakatan antara instruktur dengan siswa d. e-Learning dapat merupakan can be an on-demand course dimana pembelajar dapat belajar mandiri sesuai waktu yang mereka inginkan. Dari beberapa devinisi tokoh-tokoh diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa istilah eLearning merupakan istilah untuk menunjukkan cara pembelajaran dengan menggunakan media internet, yang dapat menggantikan atau melengkapi pembelajaran konvensional sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Atau dapat juga didefinisikan e-Learning merupakan sebuah system pembelajaran dimana didukung oleh konsep pengembangan berkelanjutan, proses kolaboratif yang memfokuskan pada peningkatan kemampuan individual dan organisasi. Sistem eLearning didesain secara efektif melalui pengembangan komunikasi penggunaan media elektonik dan jaringan. Atau lebih mudahnya bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu e-Learning. Cisco (2001) menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut. Pertama, elearning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line. Kedua, e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi. Ketiga, e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. Keempat, Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar conten dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik.