of 274 /274
ISBN: 978 602 1150 21 4 1 PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI MIKROORGANISME SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 BATU Mohammad Qodri [email protected] Guru SMA Negeri 1 Batu Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa untuk materi mikroorganisme dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Tahapan pembelajaran pada metode ini adalah; (1) materi mikroorganisme dibagi dalam sub-sub topic, sesuai dengan banyaknya kelompok ahli yang akan ditentukan, (2) siswa dibagi dalam kelompok-kelompok (asal) yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 -8 siswa, (3) setiap anggota kelompok (kelompok asal) kemudian menggabungkan diri dengan anggota kelompok lain dalam kelompok ahli, yang jumlahnya disesuaikan dengan pembagian materi, masing-masing kelompok ahli mempunyai tugas mempelajari satu sub materi, kemudian masing-masing anggota kelompok ahli kembali kepada kelompok asalnya, untuk menjelaskan materi yang telah dipelajari dari kelompok ahli, dan (4) melakukan presentasi kelompok dan diskusi klasikal untuk pemantapan materi, refleksi dan reward (5) memberikan post tes untuk mengukur tingkat pemahaman siswa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat pemahaman siswa (perolehan nilai rata-rata kelas) terhadap materi mikroorganisme sebesar 9,14 dan peningkatan ketuntasan klasikal sebesar 17,65 %. Kata kunci : pemahaman, jigsaw Pendidikan merupakan proses terus menerus yang bertujuan menghantarkn siswa secara individu maupun sosial mampu merubah sikap, perilaku dan kemampuan akademik lebih baik, sehingga diharapkan terbentuk masyarakat semakin hari semakin meningkat kualitasnya. Untuk itu siswa sebaga subyek pendidikan harus mau belajar secara terus menerus. Belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang lebih utuh. Konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya. Untuk melaksanakan proses pembelajaran yang bermakna diperlukan komponen- komponen pendukung yang memadai, baik kualitas pendidik, sarana dan prasarana, perangkat pembelajaran, dan dukungan lingkungan serta kesiapan siswa juga harus baik, jika salah satu dari komponen di atas kurang baik akan mengurangi makna proses dan hasil pendidikan. Menurut Subanji (2013) pembelajaran bermakna, dapat mendorong siswa: (1) mengonstruksi pengetahuan (materi) baru melalui pengaitan dengan pengetahuan lama, (2) memahami materi lebih dari sekedar tahu, (3) menjawab apa, mengapa, dan bagaimana; (4) menginternalisasi pengetahuan ke dalam diri sedemikian hingga membentuk perilaku, dan (5) mengolah perilaku menjadi karakter diri. Materi biologi yang selama ini dianggap cukup sulit dipahami siswa antara lain adalah materi mikroorganisme. Rendahnya pemahaman materi mikroorganisme pada siswa kelas X di SMAN 1 Batu dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas dan tingkat ketuntasan ulangan KD, sebagaimana tampak pada Tabel 1.

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE …apppi.org/wp-content/uploads/2017/03/prosiding-1-hal.-1-274.pdf · PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN ... Pembelajaran

  • Author
    vuhanh

  • View
    306

  • Download
    28

Embed Size (px)

Text of PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE...

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    1

    PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

    UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI MIKROORGANISME

    SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 BATU

    Mohammad Qodri

    [email protected]

    Guru SMA Negeri 1 Batu

    Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa untuk materi

    mikroorganisme dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

    Tahapan pembelajaran pada metode ini adalah; (1) materi mikroorganisme dibagi dalam

    sub-sub topic, sesuai dengan banyaknya kelompok ahli yang akan ditentukan, (2) siswa

    dibagi dalam kelompok-kelompok (asal) yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 -8

    siswa, (3) setiap anggota kelompok (kelompok asal) kemudian menggabungkan diri

    dengan anggota kelompok lain dalam kelompok ahli, yang jumlahnya disesuaikan

    dengan pembagian materi, masing-masing kelompok ahli mempunyai tugas mempelajari

    satu sub materi, kemudian masing-masing anggota kelompok ahli kembali kepada

    kelompok asalnya, untuk menjelaskan materi yang telah dipelajari dari kelompok ahli,

    dan (4) melakukan presentasi kelompok dan diskusi klasikal untuk pemantapan materi,

    refleksi dan reward (5) memberikan post tes untuk mengukur tingkat pemahaman

    siswa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat pemahaman siswa

    (perolehan nilai rata-rata kelas) terhadap materi mikroorganisme sebesar 9,14 dan

    peningkatan ketuntasan klasikal sebesar 17,65 %.

    Kata kunci : pemahaman, jigsaw

    Pendidikan merupakan proses terus menerus yang bertujuan menghantarkn siswa secara

    individu maupun sosial mampu merubah sikap, perilaku dan kemampuan akademik lebih

    baik, sehingga diharapkan terbentuk masyarakat semakin hari semakin meningkat

    kualitasnya. Untuk itu siswa sebaga subyek pendidikan harus mau belajar secara terus

    menerus. Belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta, tetapi merupakan

    kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang lebih utuh.

    Konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Belajar akan

    lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya.

    Untuk melaksanakan proses pembelajaran yang bermakna diperlukan komponen-

    komponen pendukung yang memadai, baik kualitas pendidik, sarana dan prasarana,

    perangkat pembelajaran, dan dukungan lingkungan serta kesiapan siswa juga harus baik, jika

    salah satu dari komponen di atas kurang baik akan mengurangi makna proses dan hasil

    pendidikan. Menurut Subanji (2013) pembelajaran bermakna, dapat mendorong siswa: (1)

    mengonstruksi pengetahuan (materi) baru melalui pengaitan dengan pengetahuan lama, (2)

    memahami materi lebih dari sekedar tahu, (3) menjawab apa, mengapa, dan bagaimana; (4)

    menginternalisasi pengetahuan ke dalam diri sedemikian hingga membentuk perilaku, dan (5)

    mengolah perilaku menjadi karakter diri.

    Materi biologi yang selama ini dianggap cukup sulit dipahami siswa antara lain adalah

    materi mikroorganisme. Rendahnya pemahaman materi mikroorganisme pada siswa kelas X

    di SMAN 1 Batu dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas dan tingkat ketuntasan ulangan KD,

    sebagaimana tampak pada Tabel 1.

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    2

    Tahun

    Kelas XMIPA1 Kelas XMIPA2

    Rerat

    a

    Nilai

    Tingkat

    Ketuntas

    an

    Rerat

    a

    Nilai

    Tingkat

    Ketuntas

    an

    2014-

    2015 68 58 % 64

    53 %

    2015-

    2016 72 67 % 62

    61 %

    Tabel 1. Nilai rata-rata dan tingkat ketuntasan

    Kondisi ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain; mikroorganisme merupakan

    material yang cukup sulit diamati karena ukurannya ekstra kecil, dan peralatan (mikroskop)

    yang dimiliki sekolah belum mampu untuk mengidentifikasi mikroorganismedengan

    memadai, sehingga pemahaman siswa diperoleh dari informasi buku-buku yang juga masih

    terbatas, disamping itu minat siswa untuk menghafal istilah-istilah latin yang cukup banyak

    dan asing masih rendah.

    Berdasarkan wawancara dengan sesama guru pengajar dan beberapa siswa di SMAN 1

    Batu deperoleh informasi bahawa metode pembelajaran yang selama ini diterapkan yaitu

    ceramah dan diskusi kelas kurang cocok untuk diterapkan untuk materi mikroorganisme.

    Karena itu untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi mikroorganisme perlu

    diupayakan mencari alternatif metode pembelajaran yang lebih baik dan sesuai untuk materi

    tersebut.

    Beberapa metode pembelajaran kooperatif yang berkembang saat ini

    1. Tipe STAD (Student Team Achievement Division)

    Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD),

    Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut: 1)

    Presentasi kelas. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode

    pembelajaran. 2) Kerja kelompok. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam kegiatan

    kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi,

    membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. 3) Tes. Setelah kegiatan

    presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam

    menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu. 4) Peningkatan skor individu.

    Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan

    memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok. 5) Penghargaan

    kolompok. Kelompok yang mencapai rata-rata skor tertinggi, diberikan penghargaan.

    2. Tipe Think-Pair-Share

    Tahapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah sebagai berikut; 1)

    Berpikir (Think): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan

    siswa diberi waktu untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri. 2)

    Berpasangan (Pair): Guru meminta para siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan

    mengenai apa yang telah dipikirkan. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5

    menit untuk berpasangan. 3) Berbagi (Share): Pada langkah akhir ini guru meminta

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    3

    pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan

    mengenai apa yang telah mereka bicarakan.

    3. Tipe Jigsaw

    Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-

    temannya di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di

    Universitas John Hopkins. Arends (1997) dalam bukunya menyimpulkan dengan kutipan

    sebagai berikut.

    Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang

    terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan

    bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam

    kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran

    kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil masing-masing terdiri dari

    4 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan

    bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan

    menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok.

    4. Tipe NHT (Numbered Heads Together)

    Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together (Kepala

    Bernomor) dikembangkan Spencer Kagan.

    Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads

    togetherantara lain: 1) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok

    mendapat nomor. 2) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok me-

    ngerjakannya. 3) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap

    anggota kelompok dapat mengerjakannya/menge-tahui jawabannya. 4) Guru memanggil

    salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka. 5)

    Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.

    5. Tipe GI (Group Investigation)

    Tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai

    berikut: 1) Tahap Pengelompokan (Grouping), Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan

    diinvestigasi serta mebentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai

    5 orang. 2) Tahap Perencanaan (Planning), Tahap Planning atau tahap perencanaan tugas-

    tugas pembelajaran. 3) Tahap Penyelidikan (Investigation) Tahap Investigation, yaitu tahap

    pelaksanaan proyek investigasi siswa. 4) Tahap Pengorganisasian (Organizing), Yaitu tahap

    persiapan laporan akhir. 5) Tahap Presentasi (Presenting), Tahap presenting yaitu tahap

    penyajian laporan akhir. 6) Tahap Evaluasi (Evaluating), Pada tahap evaluating atau

    penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa.

    Metode Jigsaw, kelebihan dan kelemahannya.

    Salah satu model pembelajaran kooperatif yang sering digunakan adalah Kooperatif

    Tipe Jigsaw (Iran, 2015; Masdalifa 2013; Viktorino 2013). Iran (2015) menemukan bahwa

    pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan aktifitas dan kreatifitas siswa. Menurut Masdalifa

    (2013), pada pembelajaran model Kooperatif Tipe Jigsaw setiap siswa adalah anggota dari

    dua kelompok yang berbeda yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Prinsipnya guru

    membagi topik besar menjadi sub-sub topik. Siswa memulai pelajaran dalam kelompok-

    kelompok asal. Pada Kooperatif Tipe Jigsaw, setiap anggota kelompok asal diberi tanggung

    jawab untuk menyelesaikan dan memahami salah satu sub topik. Untuk memahami sub-sub

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    4

    topik setiap anggota tim harus berkerja sama dengan anggota kelompok lain untuk berbagi

    pengetahuan secara efektif. Selanjutnya setiap siswa menjadi ahli dan mengajarkan ke

    anggota kelompok asalnya.

    Menurut Viktorino Teddy Loong (2013), pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

    memiliki langkah-langkah: (1) penjelasan dari guru, (2) siswa bekerja di kelompok ahli untuk

    menyelesaikan masalah yang berbeda, (3) siswa kembali ke kelompok asal untuk saling

    menjelaskan hasil pekerjaan di kelompok ahli kepada temannya, (4) kuis, dan (5) pemberian

    penghargaan. Dalam kooperatif Jigsaw para siswa dimotivasi untuk mempelajari materi

    pembelajaran yang diberikan sebaik mungkin dan bekerja keras di dalam kelompok ahli

    sehingga dapat membantu anggota kelompok lainnya.

    Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

    Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, menurut Ibrahim (Evairawati, 2012: 26)

    bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki beberapa kelebihan : 1) Dapat

    memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain, 2) Siswa dapat

    menguasai pelajaran yang disampaikan, 3) Setiap anggota berhak menjadi ahli dalam

    kelompoknya, 4) Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif, 5)

    Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain. Sedangkan kekurangannya, sebagai berikut

    : 1) Membutuhkan waktu yang lama, 2) Siswa cenderung tidak mau apabila ia sendiri yang

    pandai dan yang kurang pandai pun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya

    yang pandai walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.

    Menurut Budairi (2012:1) kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw antara

    lain sebagai berikut: 1) Mendorong siswa untuk lebih aktif di kelas, kreatif dalam berfikir

    serta bertanggungjawab terhadap proses belajar yang dilakukannya, 2) Mendorong siswa

    untuk berfikir kritis dan dinamis, 3) Memberi kesempatan setiap siswa untuk menerapkan dan

    mengembangkan ide yang dimiliki untuk menjelaskan materi yang dipelajari kepada siswa

    lain dalam kelompok belajar yang telah dibentuk oleh guru, 4) Diskusi tidak didominasi oleh

    siswa tertentu saja, tetapi semua siswa dituntut untuk menjadi aktif dalam diskusi tersebut.

    Sedangkan kekurangannya adalah : 1) Proses belajar mengajar (PBM) membutuhkan lebih

    banyak waktu dibanding metode yang lain, 2) Bagi guru metode ini memerlukan kemampuan

    lebih karena setiap kelompok membutuhkan penanganan yang berbeda.

    Berdasakan pendapat tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi

    kelebihan dari pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yaitu : (1) siswa dapat bekerjasama

    dengan teman kelompoknya, (2) siswa bertanggungjawab terhadap tugas diberikan, (3) siswa

    dapat menguasai materi lebih dari satu, (4) siswa lebih aktif dan antusias dalam

    mengembangkan kemampuan berbicara terhadap anggota kelompoknya.

    Sedangkan kelemahannya dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif

    tipe Jiigsaw yaitu: (1) membutuhkan waktu yang cukup lama, (2) memerlukan rencana yang

    matang dan kemampuan yang lebih dari guru untuk mempersiapkan pembelajarannya.

    Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh

    Elliot Aronson dan kawan-kawannya (1978) dari Universitas Texas, dan kemudian

    diadaptasikan oleh Slavin dkk. (1986) di Universitas John Hopkins sebagai metode

    Cooperative Learning. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw bisa digunakan dalam pengajaran

    membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara bahkan bisa digunakan dalam beberapa

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    5

    mata pelajaran seperti Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika,

    Agama, dan Bahasa.

    Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, guru memperhatikan skema atau latar

    belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemat ini agar bahan

    pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu siswa bekerja dengan sesama siswa dalam

    suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan

    meningkatkan keterampilan berkomunikasi, (Lie, 2010: 69). Sedangkan menurut Ibrahim

    (2000: 73) bahwa : Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model

    pembelajaran kooperatif dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6

    orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota

    bertanggungjawab untuk mempelajarai masalah tertentu dari materi yang diberikan dan

    menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

    Lebih lanjut, Slavin (2009: 237) mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan

    pembelajaran koperatif tipe Jigsaw, para siswa bekerja dalam tim yang heterogen seperti

    dalam STAD dan TGT, para siswa tersebut diberi tugas untuk membaca beberapa bab atau

    unit, dan diberikan lembar ahli yang terdiri atas topik-topik yang berbeda yang harus

    menjadi fokus perhatian masing-masing anggota tim saat mereka membaca. Setelah semua

    anak selesai membaca, siswa-siswa dari tim yang berbeda yang mempunyai fokus topik yang

    sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan topik mereka sekitar tiga puluh

    menit. Para ahli tersebut kemudian kembali kepada tim mereka dan secara bergantian

    mengajari teman satu timnya mengenai topik mereka. Yang terakhir adalah para siswa

    menerima penilaian yang mencakup seluruh topik, dan skor kuis akan menjadi skor tim,

    seperti dalam STAD.

    Johnson (Ayuksumadewi, 2013: 1) menyatakan bahwa Pembelajaran

    Kooperatif Jigsaw ialah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja

    sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun

    pengalaman kelompok. Senada dengan itu Ryashingwa (2013: 3) mengemukakan bahwa

    Pembelajaran kooperatif jenis Jigsaw adalah satu jenis pembelajaran kooperatif yang terdiri

    dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian

    materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam

    kelompoknya.

    Gambar 1. Ilustrasi Kelompok Jigsaw

    Kelompok Asal (1)

    A-1, B-1. C-1, D-1

    Kelompok Asal (2)

    A-2, B-2. C-2, D-2

    Kelompok Asal (3)

    A-3, B-3. C-3, D-3

    Kelompok Asal (4)

    A-4, B-4. C-4, D-4

    Kelompok Ahli (1)

    A-1, A-2. A-3, A-4

    Kelompok Ahli (2)

    B-1, B-2. B-3, B-4

    Kelompok Ahli (3)

    C-1, C-2. C-3, C-4

    Kelompok Ahli (4)

    D-1, D-2. D-3, D-4

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    6

    Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif

    tipe Jigsaw adalah suatu model pembelajaran kerjasama yang terdiri dari beberapa anggota

    dalam satu kelompok yang bertanggung jawab terhadap materi yang

    dipelajari dan dapat mengajarkannya kepada anggota lain dalam kelompoknya.

    Berdasarkan berbagai alasan di atas, maka peneliti mengadakan penelitian tindakan

    kelas pada materi mikroorganisme dengan mengambil judul Penerapan Pembelajaran

    Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Pemahaman Materi Mikroorganisme Siswa

    Kelas X SMA Negeri 1 Batu.

    METODE PENELITIAN

    Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas menggunakan model pembelaaran

    kooperatif tipe jigsaw, dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut :

    1) Tahap Perencanaan, pada tahap ini penerliti bekerjasama dengan rekan guru sejawat

    menyusun perangkat yang diperlukan antara lain : a) rencana pelaksanaan pembelajaran,

    b) lembar kerja siswa, c) pedoman penilaian, d) butir-butir soal, e) lembar observasi, f)

    lembar respon siswa, g) lembar penilaian diskusi, h) pengembangan media, i) mennyusun

    sumber belajar.

    2) Tahap Tindakan (Pengumpulan Data), pada tahap ini peneliti dibantu observer

    melaksanakan semua rencana yang telah ditentukan, peneliti melaksanakan kegiatan

    pembelajaran sementara observer melakukan pengamatan proses pembelajaran, penelitian

    ini dibagi dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan dan setiap pertemuan

    berlangsung selama 3 jam pelajaran.

    Pada setiap pertemuan pembelajaran, dilakukan tahapan sebagai berikut :

    a) Kegiatan pembukaan.

    Kegiatan ini diawali dengan memberikan salam yang dilanjutkan dengan berdoa

    bersama, kemudian guru melakukan apersepsi dan presensi, menjelaskan indikator dan

    tujuan pembelajaran, memberikan soal pretes dan terakhir menjelaskan rencana kegiatan

    pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari itu.

    b) Kegiatan inti.

    Membagi siswa dalam kelompok-kelompok asal, Memberikan sumber materi dan

    Lembar Kerja Ssiswa kepada setiap kelompok asal, Menentukan kelompok-kelompok

    ahli, Membimbing siswa dalam diskusi kelompok ahli, Membimbing siswa dalam

    kelompok asal, Mengatur proses presentasi dan diskusi kelas.

    c) Kegiatan penutup.

    Memberikan penguatan materi pembelajaran, dan menjawab pertanyaan-pertnyaan dari

    siswa, kemudian memberikan post test dan tugas untuk pertemuan berikutnya, terakhir

    mengakiri kegiatan pembelajaran dengan memberikan salam.

    Siklus I dilakukan 2 kali pertemuan, yaitu pertemua ke-1 pada hari selasa, tanggal 04

    Oktober 2016 selama 2 jam pelajaran dan Sabtu, tanggal 08 Oktober 2016 selama 1 jam

    pelajaran. Sedangkan pertemuan ke-2 pada hari selasa 11 Oktober 2016 selama 2 jam

    pelajaran dan hari Rabu, tanggal 12 Oktober 2016 selama1 jam pelajaran. Demikian juga

    dengan siklus II dilakukan 2 kali pertemuan, yaitu pertemuan ke-1 dilaksanakan pada hari

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    7

    Rabu, tanggal 26 Oktober 2016 selama 2 jam pelajaran dan Sabtu, tanggal 29 Oktober 2016

    selama 1 jam pelajaran. Sedangkan pertemuan ke-2 dilaksanakan pada hari Rabu, 02

    November 2016 selama 2 jam pelajaran dan hari sabtu, tangga 05 November 2016 selama 1

    jam pelajaran.

    Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, observer mencatat segala hal yang

    dianggap penting dan berkaitan dengan proses pembelajaran, terutama aktifitas siswa. Hasil

    observasi menjadi bahan diskusi antara peneliti dan observer, untuk mengevaluasi proses

    pembelajaran yang telah direncanakan dan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran

    berikutnya.

    3) Tahap Analisa data

    Data yang diperoleh dari siklus I adalah data-data yang menggambarkan tingkat

    pemahaman siswa kelas X-MIPA-1 dalam aspek kognitif, aspek psikomotor dan aspek

    sikap siswa terhadap pembelajaran biologi dengan metode kooperatif tipe Jigsaw. Nilai

    aspek kognitif diperoleh dari nilai pre test dan post test, nilai aspek psikomotor diperoleh

    dengan mengobservasi jalannya diskusi kelas, dan nilai sikap diperoleh dengan

    memberikan tabel respon siswa terhadap proses pembelajaran.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Perencanaan

    Pada tahap perencanaan dilakukan beberapa kegiatan yaitu; menyusun Rencana

    Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tipe Jigsaw, media pembelajaran, lembar kerja siswa,

    format pedoman dan instrumen penilaian, menyusun format observasi yang dilakukan

    bersama dengan teman guru sejawat pembina mata pelajaran biologi, hal ini dilakukan untk

    menyamakan persepsi dan tindakan dalam proses pembelajaran pada level kelas yang sama

    yaitu kelas X semester gasal.

    Tahap perencanan pembelajaran siklus I diawali dengan peneliti menyusun RPP model

    pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk mencapai 4 indikator kompetensi materi mikro

    organisme, yaitu: (a) mendeskripsikan ciri-ciri, struktur, bentuk, ukuran, (b) menggambarkan

    struktur tubuh, (c) menjelaskan cara hidup, (d) menjelaskan cara replikasi, dan (e)

    menjelaskan klasifikasinya. Selanjutnya, peneliti menyusun media pembelajaran berupa : (1).

    gambar-gambar ragam bentuk dan struktur mikroorganisme, (b) diagram replikasi

    mikroorganisme, (c) gambar-gambar penyakit yang disebabkan mikroorganisme, serta (c)

    video yang berkaitan dengan proses replikasi dan penularan penyakit oleh mikroorganisme.

    Disamping itu peneliti juga menyusun LKS sesuai dengan jumlah kelompok ahli yang

    dibentuk yaitu lima buah: (1) LKS tentang sejarah penemuan mikroorganisme, (2) LKS

    tentang struktur tubuh mikroorganisme, (3) LKS tentang cara replikasi mikroorganisme, dan

    (4) LKS tentang perbedaan siklus litik dan siklus lisogenik, serta (5) LKS tentang

    klasifikasi mikroorganisme.

    Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I maka perencanaan pembelajaran pada siklus II

    telah dilakukan beberapa perubahan utnuk pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut: 1) pada

    awal pembelajaran dilakukan apersepsi lebih baik, sehingga siswa diarahkan lebih focus pada

    proses pembelajaran yang akan dilakukan, 2) akan dilakukan persiapan sarana dan prasarana

    lebih baik, 3) membagi materi pembelajaran menjadi 7 bagian, sehingga kelompok ahli

    menjadi 7 kelompok, 4) soal-soal pre tes dan postes dibuat uraian terstruktur.

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    8

    Selanjutnya guru menyiapkan LKS sesuai dengan jumlah kelompok ahli yaitu: (1) LKS

    tentang ciri-ciri archaebacteria, (2) LKS tentang ciri-ciri eubacteria, (3) LKS tentang

    perbedaan sel archaebacteria dan eubacteria, (4) LKS tentang struktur sel eubakteria, (5)

    LKS tentang penggolongan archaebacteria, (6) LKS tentang penggolongan eubacteria, (7)

    LKS tentang cara hidup bakteri.

    Dalam penelitian ini pengetahuan kognitif siswa diukur dengan instrumen penilaian kognitif

    berupa soal-soal pre tes dan post tes dengan rubrik dan skala penilaian masing-masing yang

    disusun oleh peneliti sendiri. Aspek sikap diukur dengan lembar observasi respon siswa.

    Sedangkan aspek psikomotor dengan lembar observasi diskusi kelas yang dipegang oleh

    observer selama proses pembelajaran berlangsung.

    Pembelajaran dikatakan berhasil jika telah mencapai target minimal : (1) pada aspek kognitif

    jika nilai rata-rata kelas minimal 70, dan tingkat ketuntasan mencapai 80%, (2) untuk aspek

    psikomotor nilai rata-rata kelas minimal 75, dan (3) untuk aspek sikap nilai rata-rata kelas

    minimal 80.

    Pelaksanaan Tindakan

    Pelaksanaan pembelajaran siklus I dan sikus II pada dasarnya sama, yaitu diawali

    dengan kegiatan pembukaan, dimana guru memberikan salam dan menanyakan kondisi siswa

    secara umum, lalu guru memberikan apersepsi berupan informasi tentang Kompetensi Dasar

    dan indikator yang akan dicapai, lalu menyajikan data atau gambar atau video fenomena yang

    yang berkaian dengan mikroorganisme serta memberikan beberapa pertanyaan yang

    berkaitan dengan tayangan, kemudian guru memberikan pretes. Terakhir guru menjelaskan

    proses pembelajaran yang akan dilakukan pada pertemuan ini; (1) membagi siswa dalam

    kelompok-kelompok (kelompok asal), (2) menentukan kelompok ahli, (3) membagi sumber

    belajar dan LKS.

    Setelah kelompok asal ditentukan maka siswa dari masing-masing kelompok asal akan

    menuju ke kelompok ahli untuk mendiskusikan materi masig-masing kelompok ahli yang

    telah ditentukan. Saat siswa melakukan diskusi di kelompok ahli untuk membahas atau

    menjawab pertayaan-pertanaan yang ada di LKS guru senantiasa memberikan bantuan dan

    penjelasan mengenai hal-hal yang belum atau tidak dimengerti oleh siswa, dengan

    mengacungkan tangan dan mengemukakan pertanyaan kepada guru, selanjutnya guru akan

    memberikan penjelasan kepada kelompok tersebut.

    Siswa pada kelompok ahli masing-masing harus menyelesaikan semua pertanyaan

    yang ada di LKS dengan benar dan lengkap, karena hasil diskusi pada kelompok ahli akan

    dibawa ke kelompok asal masing-masing dan harus dibelajarkan kepada kelompoknya, dalam

    diskusi kelompok asal. Setelah diskusi di kelompok asal selesai maka masing-masing

    kelompok mengirimkan wakilnya untuk melakukan presentasi dan diskusi klasikal, masing-

    masing wakil kelompok mempresentasikan satu sub materi di depan kelas, kemudian

    dilakukan diskusi yang dipandu oleh moderator atau guru pembina.

    Pada kegiatan penutup peneliti memberikan pemantapan terhadap materi yang

    dipelajari oleh siswa, dan memberikan tugas untuk pertemuan berikutnya. Terakhir dilakukan

    post test menggunakan soal uraian terstruktur.

    Selama proses pembelajaran berlangsung observer mencatat segala hal yang dianggap

    perlu untuk digunakan dalam memperbaiki pelaksanaan pembelajaran berikutnya. Adapun

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    9

    hasil perolehan nilai rata-rata siswa pada aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotor selama

    pembelajaran siklus I adalah sebagai beikut:

    1) Rata-rata nilai pre test dan post test siklus I dan siklus II (Nilai kognitif)

    Nilai Siklus I Siklus II Selisih

    Pretes Postes Pretes Postes Pretes Postes

    Rata-rata 58.51 67.10 65.81 76.24 7.30 9.14

    Tertinggi 75.23 78.96 75.23 88.00 0.00 9.04

    Terendah 39.43 52.08 44.67 56.32 5.24 4.24

    Tingkat ketuntasan kelas 47.06 67.65 73.53 85.29 26.47 17.65

    Tabel 2. Perolehan nilai kogntif siklus I daa sikus II

    2) Rata-rata nilai respon siswa terhadap pembelajaran (Nilai sikap)

    NO PERNYATAAN TS KS S SS

    Jml % Jml % Jml % Jml %

    1. Materi pelajaran yang dipelajari menjadi

    lebih mudah di fahami 2 6.25 4 12.5 20 62.5 6 18.8

    2. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang

    digunakan dapat membantu memahami

    materi pelajaran

    1 3.13 4 12.5 21 65.6 6 18.8

    3. Suasana Belajar di kelas lebih

    menyenangkan 2 6.25 2 6.25 23 71.9 5 15.6

    4. Model pembelajaran yang digunakan

    guru (Jigsaw) membantu untuk lebih

    memahami materi pelajaran

    0 0 1 3.13 24 75 7 21.9

    5. Model pembelajaran yang digunakan

    guru (Jigsaw) cocok untuk memahami

    materi biologi selanjutnya

    2 6.25 3 9.38 19 59.4 8 25

    Tabel 3. Perolehan nilai afektif siklus I daa sikus II

    3) Rata-rata nilai hasil observasi diskusi kelas ( Nilai Psikomotor)

    Klp.

    Menyatakan

    pendapat Menanggapi Argumentasi Jumlah Skor Nilai

    Skl-

    1

    Skl-

    2

    Skl-

    1

    Skl-

    2

    Skl-

    1

    Skl-

    2

    Skl-

    1

    Skl-

    2

    Skl-

    1

    Skl-

    2

    1 3 3 - 3 3 - 2 3 1 8 9 1 67 75 8

    2 3 3 - 2 4 2 3 4 1 8 11 3 67 92 25

    3 3 4 1 3 3 - 3 3 - 9 10 1 75 83 8

    4 4 4 - 2 2 - 2 3 1 8 9 1 67 75 8

    5 4 4 - 3 3 - 4 4 - 11 11 - 92 92 -

    Rerata 3.4 3.6 1 2.6 3 2 2.8 3.4 1 8.8 10 1.5 73 83 10

    Tabel 4. Perolehan nilai kogntif siklus I dan sikus II

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    10

    Pengamatan

    Pengamatan pada siklus I dilakukan oleh beberapa orang observer dari teman sejawat,

    beberapa temuan hasil observasi yang dilakukan selama proses pmbelajaran dapat dijelaskan

    sebagai berikut : (1) siswa pada awal pembelajaran kurang terfokus, tetapi pada saat

    selanjutnya semua siswa bisa fokus pada pembelajaran, (2) masih banyak waktu yang

    digunakan untuk mempersiapkan sarana pembelajaran yang dibutuhkan, misalnya pengaturan

    meja perkelompok, pemberian label meja untuk masing-masing kelompok, (3) sebagian besar

    anggota dari kelompok ahli belum menyelesaikan atau menjawab semua persoalan yang

    diajukan dalam LKS, (4) soal-soal uraian yang diberikan ( pre tes dan post tes ) terlalu

    terbuka, sehingga hasil rekaman (5) pembagian atau pembentukan kelompok yang langsung

    dilakukan memerlukan waktu yang cukup banyak.

    Pada siklus II pengamatan dilakukan oleh 2 orang observer dari teman sejawat,

    beberapa temuan hasil observasi yang dilakukan selama proses pmbelajaran dapat dijelaskan

    sebagai berikut : (1) siswa pada awal pembelajaran sudah lebih fokus, tetapi pada saat

    selanjutnya semua siswa bisa fokus pada pembelajaran, (2) sebagian besar anggota dari

    kelompok ahli telah menyelesaikan atau menjawab semua persoalan yang diajukan dalam

    LKS, (3) soal-soal uraian yang diberikan (pre tes dan post tes) lebih terstruktur sehingga

    hasil sehingga siswa tidak ada yang Tanya tentang maksud butir-butir soal, (4) pembagian

    atau pembentukan kelompok yang langsung dilakukan memerlukan waktu yang lebih baik

    dari pada siklus I.

    Refleksi

    Refleksi telah dilakukan dengan berdiskusi bersama teman sejawat mendapatkan hasil

    sebagai berikut :

    Pada siklus I : (1) siswa pada awal pembelajaran tidak dapat fokus pada pembelajaran

    disebabkan oleh kurangnya guru peneliti dalam melakukan apersepsi; guru pada saat

    apersepsi hanya menunjukkan indikator dan tujuan pembelajaran yang akan di capai, guru

    tidak memberikan fenomena atau kasus yang dapat menarik siswa unuk lebih focus pada

    proses pembelajaran, oleh karena hal ini merupakan kelemahan dalam pelaksanaan siklus I.

    (2) masih banyaknya waktu yang digunakan untuk mempersiapkan sarana pembelajaran yang

    dibutuhkan (terutama susunan meja untuk diskusi), hal ini disebabkan oleh dekatnya waktu

    antara pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran berikutnya, sehingga persiapan untuk

    pelaksanaan pembelajaran kurang maksimal, kondisi ini mengakibatkan berkurangnya

    alokasi waktu untuk kegiatan-kegiatan pembelajaran berikutnya (baik pembukaan, inti

    maupun penutup). Kelemahan ini akan diperbaiki dalam pelaksanaan siklus II. (3) sebagian

    besar anggota dari kelompok ahli belum menyelesaikan atau menjawab semua persoalan

    yang diajukan dalam LKS.

    Adapun sebab-sebab terjadinya permasalahan pada pelaksanan siklus I yang ditemukan

    adalah (a) terlalu banyaknya anggota kelompok ahli untuk satu permasalahan, sehingga

    proses diskusinya kurang bisa berjalan dengan baik, (b) terlalu luasnya cakupan permasalah

    pada satu kelompok ahli, sehingga waktu yang disediakan kurang memadai, (c) sumber

    belajar yang jumlahnya terbatas, sehingga satu buku untuk 2-3 siswa, sehingga setiap siswa

    kurang mendapatka akses dari sumber belajar yang memadai. (d) soal-soal uraian yang

    diberikan ( pre tes dan post tes ) terlalu terbuka, hal ini mengakibatkan perolehan nilai siswa

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    11

    kurang atau tidak optimal. (e) pembagian atau pembentukan kelompok yang langsung

    dilakukan memerlukan waktu yang cukup banyak, hal ini mengakibatkan banyak waktu yang

    tersita, sehigga mengurangi alokasi waktu untuk pembahasan materi.

    Hasil refleksi pelaksanaan siklus I tampak bahwa masih banyak ditemukan kelemahan-

    kelemahan, sebagaimana telah disajikan pada paragraph di atas. Oleh karena itu perlu

    diadakan perencanaan dan pelaksanaan yang lebih baik pada siklus II. Pada siklua II telah

    dilakukan perbaikan pada tahap perencanaan dan pelaksanaan, perbaikan-perbaikan tersebut

    antara lain adalah : (1) pada saat apersepsi guru memberikan fenomena atau kasus yang

    dapat menarik siswa untuk lebih fokus pada proses pembelajaran, (2) guru telah menata

    sarana untuk pelaksanaan pembeajaran lebih baik (penataan meja kelompok, nomor

    kelompok asal, nomor kelompok ahli, pembagian LKS, pembagian kelompok asal), (3) guru

    telah memecah materi pembelajaran menjadi bagian-bagian yang lebih banyak yaitu 7 sub

    bahasan, sehingga jumlah kelompok ahli akan lebih banyak tetapi cakupan materi setiap

    kelompok ahli lebih sedikit, diharapkan dengan demikian alokasi waktu yang tersedia cukup

    untuk membahas soal atau masalah di kelompok ahli, (4) guru telah menyusun soal-soal pre

    dan post test uraian terstruktur, tidak terbuka.

    Simpulan

    Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang telah dilakukan baik dari siklus I dan siklus II

    dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut:

    1. Bahwa secara akademik penerapan metode kooperatf tipe Jigsaw dapat meningkatkan

    pemahaman siswa terhadap materi mikroorganisme;

    2. Dari aspek afektif, metode kooperatf tipe Jigsaw dapat meningkatkan katertarikan siswa

    terhadap materi mikroorganisme;

    3. Pada aspek psikomotor, metode kooperatf tipe Jigsaw dapat meningkatkan keterampilan

    siswa terhadap materi mikroorganisme.

    Saran

    Dalam hal pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode Kooperatif tipe Jigsaw

    maka peneliti mempnyai saran-saran sebagai berikut:

    1. Hendaknya segala hal yang menjadi sarana pendukung pelaksanaan pembelajaran

    disiapkan dengan benar, agar tidak menjadi hambatan pelaksanaan pembelajaran;

    2. Hendaknya pembagian kelompok-kelompok ahli memperhatikan cakupan materi yang

    akan dipecahkan oleh kelompok tersebut dan waktu yang tersedia;

    3. Hendaknya sumber-sumber belajar ( buku-buku, hand out, web site, dll.) disediakan

    dengan baik, begitu pula lembar kerja mesti disediakan dengan cukup;

    4. Hendaknya perencanaan waktu masing-masing tahapan pembelajaran diperhatikan

    dengan baik, sehingga pada saat pelaksanaan pembelajaran tidak terjadi permasalahan;

    5. Hendaknya hasil refleksi dari siklus sebelumnya benar-benar dijadikan pertimbangan

    untuk memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan siklus berikutnya.

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    12

    DAFTAR RUJUKAN

    Arends, R. I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: McGraw Hill

    Companies

    Ayukusumadewi.2013. PembelajaranKooperatifTipejigsaw, (Online),(http://ayukusumadewi.

    wordpress.com/2013/02/08/pembelajaran-kooperatif tipe-jigsaw/. Diakses 15

    September 2016)

    Budairi, A. 2012. Pendidikan/ Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Jigsaw dan

    STAD, Diakses 15 Januari 2014.

    Ibrahim, M., Fida R., Nur, M. dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa

    Press.

    Lie, A., 1994. Jigsaw: A Cooperative Learning Method for the Reading Class.Waco, Texas:

    Phi Delta Kappa Society.

    Marlina, 2014. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Opeasi Hitung Campuran

    Melalui Model Pembelajaran Koopeatif Tipe Jigsaw. J-TEQIP, Tahun V, Nomor 2,

    2014 Jurnal Peningkatan Kualitas Guru.

    Ryashingwa.2013. ModelPembelajaranTipeJigsaw, (Online), (http://riyashingwa.blogspot.co

    m/2013/05/model-pembelajaran-tipe-jigsaw.html, Diakses 15 September 2016).

    Slavin. 1995. Cooperative Learning Theory. Second Edition. Massachusetts: Allyn and

    Bacon Publisher.

    Subanji, 2013. Revitalisasi Pembelajaran Bermakna dan Penerapannya dalam Pembelajaran

    Matematika Sekolah. Proseding seminar Nasional J-TEQIP 2011.

    Viktorino Teddy Loong, 2013. Peningkatan Prestasi Belajar Materi Kesebangunan dan

    Kongruensi Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Pada Siswa

    Kelas IXA SMP Negeri 4 Tahun Pelajaran 2013/2014. Prosiding Seminar Nasional

    J-TEQIP 2013.

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    13

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH UNTUK

    MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATERI JARINGAN

    TUMBUHAN PADA SISWA KELAS X SMK NEGERI 2 BATU

    Siti Sulichah

    [email protected]

    SMK Negeri 2 Batu

    Abstark : Materi jaringan tumbuhan sulit dipahami oleh siswa karena banyak memuat

    nama nama dan tampilan gambar jaringan yang hampir sama, sehingga siswa sulit

    mengingat dalam mendeskripsikan materi tersebut. Untuk itu diperlukan metode yang

    mampu mengatasi hal itu. Penelitian ini menggunakan pendekatan Make and Match

    untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa melalui mengingat nama-nama

    jaringan tumbuhan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dengan pembelajaran

    kooperatif model Make and Match terdapat kenaikan meningkatkan keaktifan siswa pada

    siklus I dengan nilai rata-rata 56,9 mengalami peningkatan pada siklus II dengan nilai rata-

    rata 75,1, meningkatkan hasil belajar siswa yaitu pada siklus I dengan nilai rata-rata 60

    mengalami peningkatan pada siklus II dengan nilai rata-rata 78,9. Prosentase peningkatan

    pada keaktifan siswa sebesar 18,2% dan prosentase peningkatan pada hasil belajar siswa

    sebesar 18,9%.

    Kata Kunci : jaringan tumbuhan, make and match

    Jaringan tumbuhan adalah sekelompok sel yang memiliki fungsi, asal dan struktur

    yang sama. Jaringan dipelajari secara khusus dalam ilmu histologi. Dalam arti sempit,

    Pengertian jaringan tumbuhan adalah apabila sel-sel berkumpul pada tumbuhan. Jaringan

    pada tumbuhan dibagi menjadi 2 macam yaitu: jaringan meristem, yaitu jaringan yang sel-

    selnya aktif membelah dan jaringan permanen/dewasa, yaitu jaringan yang sudah mengalami

    pengkhususan/spesialisasi, selnya sudah tidak mengalami perubahan lagi (Syamsuri, Istamar.

    2004).

    Materi Jaringan tumbuhan ini merupakan materi yang harus dikuasai siswa dengan

    baik karena materi ini penting dan prasyarat bagi siswa untuk lebih mendalami materi lainnya

    yang terkait dengan program keahlian agribisnis yang mereka masuki. Kenyataan di

    lapangan, meskipun materi ini merupakan materi prasyarat, siswa cenderung kurang aktif dan

    tidak antusias dalam menerima pembelajaran di kelas. Hal ini berakibat tidak tercapainya

    tujuan pembelajaran dan KKM yang sudah ditetapkan. Guru dengan berbagai cara telah

    mengusahakan agar semua siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran standar

    juga telah dilaksanakan, berbagai media pembelajaran yang ada di sekolah telah

    dimanfaatkan, berbagai bentuk penugasan telah diberikan untuk dilaksanakan oleh siswa,

    baik di dalam maupun di luar kelas, mulai dari tugas melakukan observasi, melakukan

    eksperimen, membuat laporan singkat hasil eksperimen atau hasil observasi, mengerjakan

    LKS, dan lain sebagainya. Namun demikian, dalam berbagai kesempatan tanya jawab,

    diskusi kelas, maupun ulangan harian, prestasi belajar mereka masih sangat rendah.

    Berdasarkan catatan guru, aktivitas siswa dalam tanya jawab dan diskusi kelas

    masing-masing hanya sebesar 30% dan 35% dari 24 siswa yang ada. Sebagian besar dari

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    14

    siswa justru memperlihatkan aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran, seperti

    kelihatan bengong dan melamun, kurang bergairah, kurang memperhatikan, bermain-main

    sendiri, berbicara dengan teman ketika dijelaskan, canggung berbicara atau berdialog dengan

    teman waktu diskusi, dan lain sebagainya. Sementara itu dari hasil ulangan harian prestasi

    belajar mereka hanya sebesar 45% yang berhasil mencapai batas KKM (Kriteria Ketuntasan

    Minimal). Padahal KKM yang ditetapkan bagi Kelas X SMK Negeri 2 Batu Tahun Pelajaran

    2016/2017 untuk mata pelajaran biologi hanya sebesar 75.

    Melihat data aktivitas dan prestasi belajar siswa yang demikian rendah tersebut jelas

    hal itu mengindikasikan adanya permasalahan serius dalam kegiatan pembelajaran yang harus

    segera dicarikan pemecahannya. Bertolak dari permasalahan tersebut kemudian dilakukan

    refleksi dan konsultasi dengan guru sejawat untuk mendiagnosis faktor-faktor yang mungkin

    menjadi penyebab timbulnya masalah. Dari situ diperoleh beberapa faktor kemungkinan

    penyebab, di antaranya adalah: (1) faktor rendahnya minat dan motivasi belajar siswa; (2)

    faktor penyampaian materi dari guru; (3) faktor pengelolaan kelas; dan (4) faktor kesulitan

    adaptasi dan kerjasama di antara siswa.

    Dari berbagai faktor kemungkinan penyebab tersebut Guru lebih condong pada faktor

    ke-2, yaitu faktor penyampaian materi dari guru, diantaranya adalah pembelajaran yang

    terpusat pada guru, dimana guru dominan menggunakan metode ceramah sehingga

    pengetahuan yang didapat oleh siswa berasal dari guru bukan dibangun sendiri secara

    bertahap oleh siswa atas dasar pemahaman sendiri, selain itu, kemampuan guru dalam

    menyampaikan materi kurang memadai sehingga pembelajaran terasa kurang menarik dan

    cenderung membosankan.

    Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi

    adalah dengan mengembangkan metode pembelajaran yang dapat menciptakan suasana

    belajar yang aktif, menyenangkan, membantu siswa memahami materi pelajaran yang sulit,

    dan membantu guru mengajarkan materi yang kompleks, adalah metode pembelajaran Make

    and Match , Model pembelajaran Make and Match atau mencari pasangan dikembangkan

    oleh Lorna Curran (1994). Pembelajaran kooperatif tipe Make and Match merupakan salah

    satu model pembelajaran yang digunakan untuk mengatasi keterbatasan sarana dan dapat

    meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran kooperatif memberikan keuntungan bagi

    semua golongan siswa yang terlibat bekerjasama dalam menyelesaikan tugas-tugas

    akademiknya.

    Banyak model dalam pembelajaran kooperatif. Salah Satu diantaranya adalah model

    Make and Match (Istarani: 2015). Menurut Rohendi (2010), langkah langkah penerapan

    make a match sebagai berikut: a) guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa

    konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya

    kartu jawaban, b) setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal atau jawaban,

    c) tiap siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegangnya, d) setiap siswa

    mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya, e) setiap siswa yang dapat

    mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi nilai, f) jika siswa tidak dapat

    mencocokkan kartunya dengan temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu

    jawaban) akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati bersama, g) setelah satu babak,

    kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian

    seterusnya, h) Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    15

    pelajaran. Model pembelajaran make a match dipilih karena model ini memiliki keunggulan

    yaitu siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam

    suasana yang menyenangkan. Diharapkan dengan menerapkan model Make and Match akan

    memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari pasangan dan merespon serta saling

    kerja sama satu sama lain, sehingga kegiatan pembelajaran lebih kondusif, sederhana,

    bermakna, dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Sholihah,

    2010). Metode pembelajaran Make and Match digunakan untuk menyelesaikan masalah

    yang dihadapi karena metode pembelajaran ini dapat memupuk kerja sama siswa dalam

    menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang ada di tangan mereka, proses

    pembelajaran lebih menarik dimana tampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti

    proses pembelajaran, keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan

    kartunya masing-masing, dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

    Berdasarkan fakta tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian

    dengan menerapkan metode pembelajaran Make and Match dalam mata pelajaran biologi

    pada materi Struktur & Fungsi Jaringan pada tumbuhan kompetensi dasar Memahami

    konsep keterkaitan antara struktur sel pada jaringan dengan fungsi organ pada tumbuhan dan

    hewan di kelas X Semester ganjil SMK Negeri 2 Batu Tahun Pelajaran 2016/2017.

    METODE PENELITIAN

    Penelitian ini menggunakan Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan

    tindakan pendekatan kooperatif metode Make and Match. Penelitian ini dilaksanakan di SMK

    Negeri 2 Batu pada bulan Oktober tahun 2016, adapun yang menjadi subyek dalam penelitian

    ini adalah siswa kelas X APT A, dengan jumlah siswa sebanyak 24 orang.

    Penelitian dilakukan dalam bentuk siklus yang terdiri dari 2 siklus dengan uraian

    sebagai berikut,

    1. Siklus I

    - Persiapan

    Membuat RPP dengan metode Make and Match

    - Tindakan

    Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP

    - Observasi

    Melakukan pengamatan kegiatan pembelajaran dikelas.

    Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi dengan metode make and match.

    - Refleksi

    Melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan

    2. Siklus II

    Dilakukan seperti siklus I dengan pembenahan dari hasil refleksi siklus II

    3. Kesimpulan

    Diambil setelah siklus I dan II didapatkan hasilnya.

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    16

    Alur penelitian tindakan kelas yang digunakan disajikan pada Gambar 1.

    Ya

    Belum

    Gambar 1 : Alur penelitian tindakan kelas

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    Siklus I

    Persiapan

    Tahap persiapan dilakukan dengan penyusunan RPP yang disesuaikan dengan metode

    pembelajaran yang digunakan yaitu Make and Match, membuat media pembelajaran berupa

    kartu soal dan jawaban, membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menyusun evaluasi

    disertai pedoman penilaiannya.

    Tindakan

    Tahap tindakan berupa pelaksanaan RPP yang meliputi tiga kegiatan, yaitu kegiatan

    pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan diawali memberi

    salam, memberi pertanyaan untuk mengaitkan dengan pembelajaran sebelumnya,

    menanyakan apakah siswa di rumah sudah membaca dan mempelajari materi sebelumnya,

    dan menjelaskan tujuan pembelajaran pada hari ini serta sintak dari metode yang digunakan

    yaitu metode Make and Match.

    Model Make and Match di awali oleh guru dengan mengocok kartu kemudian

    membagikan kepada semua siswa, secara bersama-sama siswa membuka dan membaca

    kartunya kemudian siswa akan mencari pasangan dari kartunya, setelah lengkap dan benar

    siswa melaporkan kepada guru dan guru akan memberikan penilaian. Kegiatan ini dilakukan

    dua kali. Pada saat pencarian kartu pasangan, guru juga melakukan pengamatan untuk

    menilai keaktifan ketelitian dan kejujuran siswa, setelah semua siswa mendapatkan kartu

    pasangannya (empat orang), siswa yang memperoleh kartu dalam satu kelompok jaringan

    bergabung dalam satu kelompok, masing masing kelompok mempresentasikan nama,

    gambar, ciri-ciri, dan fungsi jaringan pada kartu yang didapatnya, kelompok yang lain

    bertindak sebagai penyanggah dan penanya.

    Pada kegiatan penutup guru dan siswa Guru bersama-sama membuat rangkuman

    /simpulan pelajaran, guru melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang

    sudah dilaksanakan, guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran,

    Ber-

    hasil

    ?

    Observasi awal

    siklus perencanaan

    Observasi

    pelaksanaan

    Refleksi dan analisis

    data

    Pelaksanaan tindakan

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    17

    Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya, yaitu melanjutkan

    kegiatan presentasi ,

    Pada pertemuan ke dua, kegiatan pendahuluan diawali dengan pemberian salam ,

    mengingatkan tentang kegiatan pembelajaran minggu lalu, dilanjutkan dengan kegiatan inti

    yaitu presentasi dari kelompok yang belum tampil, pada kegiatan penutup guru bersama

    siswa menyimpulkan kegiatan pembelajaran dipertemuan ke dua dan melaksanakan kegiatan

    post test.

    Observasi

    Pada kegiatan observasi dan monitoring ada beberapa temuan dari observer antara

    lain sebagai berikut 1) pada awal sampai akhir kegiatan siswa berkonsentrasi dan antusias

    dalam mengikuti permainan, meskipun ada juga yang tidak memperhatikan dan beraktifitas

    sendiri atau bercanda dengan temannya bukan tentang pelajaran, 2). beberapa siswa ada yang

    salah memasangkan karena tidak membaca materi yang sebelumnya sudah diberikan , 3)

    pada saat presentasi kelompok beberapa siswa masih ramai dan tidak mendengarkan 4) pada

    saat guru merefleksi kegiatan pembelajaran dengan bertanya kepada siswa tentang materi,

    ada beberapa siswa yang tidak bisa menjawabnya.

    Refleksi

    Kegiatan refleksi berupa diskusi dilakukan bersama observer setelah kegiatan

    observasi dilaksanakan, hasil dari diskusi adalah sebagai berikut: 1) Pada kegiatan awal tidak

    semua siswa berkonsentrasi mendengarkan penjelasan guru, sehingga perlu adanya

    pemberian motivasi yang menarik, terkait dengan materi pembelajaran agar siswa lebih

    berkonsentrasi, 2) pada awal kegiatan inti siswa antusias tapi lama kelamaan antusias siswa

    berkurang mungkin karena waktu bermain memasangkan kartu hanya sebentar dimana

    setelah siswa mendapatkan kartu pasangannya permainan sudah selesai, meskipun kegiatan

    tersebut diulang dua kali. 3) Siswa hanya memahami secara mendalam pada satu atau dua

    macam jaringan saja, karena metode Make and Match yang digunakan secara klasikal

    akibatnya ketika tahap penutup dan guru memberi pertanyaan beberapa siswa tidak dapat

    menjawabnya.

    Dari hasil refleksi pada siklus 1, dapat disimpulkan bahwa peneliti belum berhasil,

    perlu ada revisi pada RPP yang sudah disusun, antara lain pada kegiatan pendahuluan yaitu

    pada pemberian motivasi, pada kegiatan inti dimana permainan tidak dilaksanakan secara

    klasikal tapi secara kelompok dengan harapan pemahaman siswa pada materi bisa

    menyeluruh. Kegiatan presentasi ditiadakan di gantikan dengan mengerjakan LKS.

    Rencana Siklus II

    Persiapan

    Siklus II dilakukan untuk memperbaiki siklus I, karena pada siklus I ada banyak

    temuan masalah yang menyebabkan hasil belum maksimal, baik pada RPP maupun

    pelaksanaan RPP. Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran pada siklus I, maka dibuatlah

    perencanaan tindakan siklus II. Bentuk perencanaan tersebut meliputi:1) Penentuan topik

    bahasan lanjutan, 2) Pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) perbaikan yang

    disesuaikan dengan pokok bahasan dan refleksi yang pertama, 3) Pembuatan lembar

    observasi kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran Biologi berbasis saintifik dengan

    model Make and Match, 4) Pembuatan Kartu Permainan (berupa kartu soal dan jawaban) dan

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    18

    perangkat penunjang, 5) membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menyusun evaluasi

    disertai pedoman penilaiannya.

    Tindakan

    Tindakan II dan observasi II dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 8 Nopember 2016.

    Tahap tindakan berupa pelaksanaan RPP yang meliputi tiga kegiatan, yaitu kegiatan

    pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan diawali memberi

    salam, memberi pertanyaan untuk mengaitkan dengan pembelajaran sebelumnya,

    menanyakan apakah siswa di rumah sudah membaca dan mempelajari materi sebelumnya,

    dan menjelaskan tujuan pembelajaran pada hari ini serta sintak dari metode yang digunakan

    yaitu metode Make and Match, dilanjutkan dengan menanyangkan video tentang penyakit-

    penyakit pada jaringan hewan

    Kegiatan inti dimulai dengan kegiatan permainan, guru membagi siswa melalui

    kelompok-kelompok, tiap-tiap kelompok mendapat satu set kartu, salah satu siswa mengocok

    kartu dan membagi ke anggota kelompoknya masing-masing satu dan membiarkan satu kartu

    terbuka, selanjutnya siswa memeriksa kartu masing-masing apakah kartunya cocok dengan

    kartu yang terbuka (seperti permainan domino atao omben) diikuti dengan siswa lain, yang

    kartunya tidak cocok mengambil kartu lagi demikian seterusnya sampai kartu habis, siswa

    dengan kartu yang habis terlebih dahulu akan mendapat reward, permainan kartu ini

    dilakukan sampai tiga kali putaran, setelah putaran terakhir siswa mengerjakan LKS dan

    dikumpulkan sebagai bagian dari penilaian guru. Pada kegiatan penutup guru bersama siswa

    melakukan refleksi tanya jawab dan mengambil kesimpulan, dilanjutkan dengan mengerjakan

    post test

    Observasi

    Pada kegiatan observasi dan monitoring ada beberapa temuan dari observer antara

    lain sebagai berikut 1) pada awal sampai akhir siswa berkonsentrasi dan antusias dalam

    mengikuti permainan, karena mereka mempunyai aktivitas sendiri-sendiri yang

    membutuhkan konsentrasi, dibandingkan kegiatan pembelajaran pada siklus I, dimana

    kegiatan permainan dilakukan secara klasikal 2). Pada kegiatan permainan beberapa siswa

    masih ada yang salah memasangkan karena tidak membaca materi yang sebelumnya sudah

    diberikan tapi sudah di atasi oleh adanya kunci pemasangan kartu yang bisa dilihat untuk

    memastikan kecocokan kartu , 3) pada saat mengerjakan LKS beberapa siswa ada yang sibuk

    mengerjakan sendiri tanpa diskusi dengan kelompoknya seperti yang diinstruksikan guru 4)

    pada saat refleksi pembelajaran siswa sudah menjawab dengan baik dan benar 5) pada saat

    guru melakukan post test siswa tertib menjawab soal post test.

    Refleksi

    Kegiatan refleksi berupa diskusi bersama observer, setelah kegiatan observasi

    dilaksanakan, hasil dari diskusi adalah sebagai berikut: 1) Pada kegiatan awal semua siswa

    berkonsentrasi mendengarkan penjelasan guru, 2) kegiatan berikutnya berupa penayangan

    video yang membuat siswa lebih berkonsentrasi memperhatikan dan menjawab pertanyaan

    guru terkait tayangan tersebut 3) pada awal sampai akhir kegiatan inti siswa antusias dalam

    melakukan permainan, ada kekurangan permainan putaran pertama beberapa siswa kurang

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    19

    memahami peraturan kegiatan permainan sehingga perlu adanya penjelaskan peraturan

    permainan dalam bentuk tertulis dan dibagikan perkelompok, tetapi diputaran berikutnya

    sudah mulai lancar, 4) penjelasan guru lebih ditekankan agar pada saat mengerjakan LKS

    sesuai dengan instruksi yang diberikan, 5) pada saat post test siswa mengerjakan dengan baik

    dan tertib.

    Hasil dari refleksi pada siklus II terdapat peningkatan prosentase aktifitas siswa

    dibanding pada siklus I, dengan rincian 4 siswa memperoleh nilai keaktifan 88%, 12 siswa

    77% dan 8 siswa 66% , dengan rata-rata 77%, nilai post test pada siklus II juga terdapat

    peningkatan dibandingkan dengan nilai post test pada siklus I. Dari hasil post test yang

    diperoleh siswa pada siklus II didapat nilai rata-rata 78,9. Siswa yang tuntas belajar sejumlah

    21 anak ( 87,5%) dan siswa yang tidak tuntas belajar sejumlah 3 anak ( 12,5 %). Secara

    umum siswa telah mampu memahami konsep, macam, letak dan fungsi jaringan hewan ,

    namun masih perlu ditingkatkan agar hasil yang didapat lebih lagi.

    Secara hasil penelitian dapat dirangkum dalam tabel berikut :

    Tabel 1. Prosentase keaktifan siswa pada siklus I dan siklus II

    Siklus Prosentase siswa

    yang tuntas

    Prosentase siswa

    yang tidak tuntas Nilai Rata-rata

    Siklus I 25 % 75 % 56,9

    Siklus II 77 % 23 % 75,1

    Perbandingan peningkatan aktifitas siswa antara siklus I dan siklus II dideskripsikan

    sebagai berikut: Pada siklus I nilai rata-rata kelas adalah 56,9 dan pada siklus II adalah 75,1

    Hal ini berarti terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 18,2%. Dengan melihat

    prosentase aktifitas siswa, pada siklus I prosentase siswa yang tuntas 25% dan prosentase

    siswa yang tidak tuntas 75 % sedangkan pada siklus II prosentase siswa yang tuntas 77% dan

    prosentase siswa yang tidak tuntas 23%. Terjadi peningkatan prosentase siswa yang tuntas

    sebesar 52%.

    Tabel 1. Hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II

    Siklus Prosentase siswa

    yang tuntas

    Prosentase siswa

    yang tidak tuntas Nilai Rata-rata

    Siklus I 8,3 % 91,6 % 60

    Siklus II 87,5 % 12,5 % 78,9

    Perbandingan hasil belajar siswa antara siklus I dan siklus II dideskripsikan sebagai

    berikut: Pada siklus I nilai rata-rata kelas adalah 60 dan pada siklus II adalah 78,9 Hal ini

    berarti terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 18,9%. Dengan melihat prosentase

    hasil belajar, pada siklus I prosentase siswa yang tuntas 8,3% dan prosentase siswa yang tidak

    tuntas 91,6 % sedangkan pada siklus II prosentase siswa yang tuntas 87,5% dan prosentase

    siswa yang tidak tuntas 12,5%. Terjadi peningkatan prosentase siswa yang tuntas sebesar

    79,2%.

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    20

    KESIMPULAN

    Berdasarkan paparan, analisis data hasil penelitian, mulai dari siklus I dan siklus II

    maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Make and Match dapat

    meningkatkan keaftifan dan hasil belajar materi jaringan tumbuhan pada siswa kelas X SMK

    Negeri 2 Batu.

    Saran yang dapat diberikan untuk meningkatkan keaftifan dan hasil belajar,

    disarankan kepada guru bidang studi IPA/Biologi untuk me-nerapkan pembelajaran Make

    and Match pada materi tertentu yang sekarakter dengan materi jaringan tumbuhan.

    DAFTAR RUJUKAN

    Istarani, 2014. 58 Model Pembelajaran.

    Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi untuk SMA kelas XI. semester 1. Penerbit Erlangga: Jakarta.

    Sholihah, Barid. 2010. Upaya Meningkatkan Kemampuan Kognitif dalam Pembelajaran IPA

    dengan Model Make a Match pada Siswa kelas 2 SDN 01 Pulosari Kebakkramat

    Karanganyar. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: Universitas Muhammadiyah

    Surakarta

    Rohendi, D. 2010. Penerapan Cooperative Learning Tipe Make A Match untuk Meningkatkan

    Hasil Belajar Siswa Kelas VII Dalam Pembelajaran Teknologi Informasi dan

    Komunikasi. Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi PTIK. ISSN

    1979-9462 Vol. 3 No.1/Juni 2010.

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    21

    PENERAPAN MODEL KOOPERATIFTHINK PAIR SHARE (TPS) BERBANTUAN

    KEMASAN MINUMAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SPLDV

    BAGI SISWA KELAS X TEKNIK KIMIA SMK NEGERI 2 BATU

    Suhermin Rahayu

    SMK Negeri 2 Batu Jawa Timur Indonesia

    [email protected]

    Abstrak :Berdasakan pengalaman, hasil belajar siswa tentang SPLDV masih rendah.

    Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki hasil belajar SPLDV. Jenis penelitian adalah

    penelitian tindakan kelas dengan dua siklus dan 2 kali pertemuan. Subyek penelitian adalah

    29 orang, 15 laki-laki dan 14 perempuan, siswa kelas X Teknik Kimia SMK Negeri 2

    Batu.Pembelajaran dilaksanakan pada minggu ke 3 bulan Oktober 2016, dengan

    menerapkan model kooperatif TPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi

    peningkatan ketuntasan dari 65% pada siklus I menjadi 80% pada siklus II. Juga terjadi

    peningkatan keaktifan dan percaya diri siswa.

    Kata Kunci :TPS, SPLDV

    Standar proses dalam Kurikulum 2013 mensyaratkan bahwa pembelajaran harus

    berorientasi pada Student Center (siswa sebagai subyek aktif). Hal ini dimaksudkan agar

    siswa lebih antusias dan aktif juga kreatif apabila sebagai pemeran utama. Untuk membuat

    siswa menjadi aktif diperlukan ada sebuah metode pembelajaran yang dapat mewadahinya.

    Observasi awal yang dilakukan oleh penulis di Kelas X Teknik Kimia SMK Negeri 2

    Batu diperoleh fakta bahwa pembelajaran yang biasa dilakukan di kelas selama ini: (1) guru

    menjelaskan, siswa mendengarkan, (2) guru memberi contoh, siswa mencatat setiap contoh

    yang disampaikan,(3) guru memberilatihan soal dari buku,dan siswa mengerjakan,dan(4)

    pemberian tes. Pembelajaran dengan model tersebut membuat siswa menjadi bosan. Siswa

    hanya mampu meniru contoh yang diberikan oleh guru. Ketika soal yang diberikan berbeda

    (meskipun hanya sedikit), siswa sudah tidak bisa menyelesaikan. Akibatnya hasil belajar

    siswa rendah dan banyak yang tidak tuntas, dari 29 siswa di kelas X Teknik Mesin hanya

    30% yang mengalami ketuntasan. Guru dan siswa hanya sebagai pendengar yang tentunya

    sangat membosankan dan tidak menarik. Pembelajaran yang terpusat pada Guru kurang

    memberikan peluang siswa untuk mengungkapkan ide dan gagasannya (terlalu monoton). Hal

    senada yang dilakukan rekan sejawat yang sama-sama menggunakan metode ceramah

    hasilnya tidak jauh berbeda dengan pengalaman penulis.

    Proses pembelajaran yang dapat mengedepankan keaktifan siswa adalah dengan

    metode lain yang lebih terpusat pada siswa. Hal ini juga didukung oleh Ningsih (2015), bawa

    pembelajaran yang dilakukan dengan dominasi guru bisa menghambat proses belajar siswa.

    Karena itu perlu perbaikan pembelajaran, salah satunya dengan metode TPS. Pembelajaran

    TPS telah dikaji oleh beberapa peneliti (Ningsih, 2015; Subanji,2015;Siti,2012; Sukarmin

    dan Zulkifli,2013; Atik 2007). Ningsih (2015) melakukan penelitian tentang penerapan model

    Kooperatif tipe Think Pair Share dengan alat peraga KOTIF mampu meningkatkan kualitas

    proses dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 04 Padang Ulak Tanding.

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    22

    Menurut Subanji (2013), pembelajaran bermakna merupakan suatu proses sistematis dan

    terencana yang dirancang oleh guru untuk membelajarkan siswa sehingga terjadi kon-struksi

    pengetahuan melalui pengaitan pe-ngetahuan baru dengan pengetahuan lama dan siswa

    mampu: memahami materi lebih dari sekedar tahu; menjawab apa, mengapa, dan bagaimana;

    menginternalisasi pe-ngetahuan ke dalam diri sedemikian hingga membentuk perilaku; dan

    mengolah pe-rilaku menjadi karakter diri. Frank Lyman(dalam Siti,2012) menyatakan

    bahwa TPS memberikan kesempatan pada siswa untuk berfikir dan merespon serta saling

    bantu satu sama lain, keungulan lain dari pembelajar ini adalah optimalisasi partisipasi siswa.

    Kagan (dalam Atik, 2007) menyatakan manfaat TPS sebagai berikut : 1. Para siswa

    menggunakan waktu lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan mendengarkan satu sama

    lain ketika mereka terlibat dalam TPS lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka

    untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mengingat secara lebih

    sering penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik, 2. Para

    guru juga mempunyai waktu yg lebih banyak untuk berfikir ketika menggunakan TPS,

    mereka lebih konsentrasi mendengarkan jawaban siswa mengamati reaksi siswa dan

    mengajukan pertanyaan tingkat tinggi.

    Menurut Sukarmin dan Zulkifli (2013) penerapan cooperative learning TPS dalam

    pembelajaran matematika pada diskusi klasikal semua siswa terlihat antusias, siswa

    mendapatkan pengalaman langsung tidak hanya membayangkan saja. Hal ini ternyata

    menimbulkan kesenangan pada siswa dan juga meningkatkan pemahaman siswa. Artikel ini

    membahas hasil penelitian tindakan kelas tentang penerapan model kooperatif Think Pair

    Share (TPS) berbantuan kemasan minunan yang dapat meningkatkan hasil belajar SPLDV

    siswa Kelas X Teknik Kimia SMK Negeri 2 Batu.

    METODE PENELITIAN

    Penelitian ini dilakukan dalam kegiatan bentuk PTK (Penelitian Tindakan Kelas).

    Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua siklus yang diadopsi dari metode Kemmis &

    McTaggart. Tahapan dari tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan,

    observasi, dan refleksi (Sutarto, 2013). Alur penelitian tindakan kelas yang digunakan

    disajikan pada Gambar 1.

    Permasalahan Perencanaan Pelaksanaan tindakan I tindakan I

    Siklus I

    Refleksi Pengumpulan

    tindakan I data tindakan

    Perencanaan Pelaksanaan

    tindakan II tindakan II

    Siklus II

    Refleksi Pengumpulan

    tindakan II

    data tindakan

    Laporan PTK

    Gambar 1. Alur Penelitan Tindakan Kelas

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    23

    Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Pelaksanaan

    tahapan pada setiap siklus dilakukan di SMKN 2 Batu. Materi pada siklus 1 adalah sistem

    persamaan linier dua variabel dan materi pada siklus 2 adalah system pertidaksamaan linier.

    Di akhir siklus 1 dilakukan refleksi untuk perencanaan tahapan pada siklus 2. Refleksi yang

    dilakukan difokuskan pada aspek kegiatan guru dan kegiatan siswa, termasuk mencermati

    tahapan pembelajaran kooperatif model TPS mulai dari pendahuluan, kegiatan inti, maupun

    dalam kegiatan penutup.

    Garis besar pembelajaran TPS dimulai dengan penyajian masalah realistik kepada

    siswa untuk dipikirkan (Think), dilanjutkan pembagian pasangan (Pair) untuk mendiskusikan

    masalah yang diberi oleh guru, kemudian diakhiri dengan presentasi hasil kerja kelompok

    (Share). Untuk pembentukan kelompok, setiap kelompok terdiri dari 2 siswa dengan

    kemampuan yang berbeda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok

    berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Saat

    kerja individu maupun kelompok guru selalu berusaha untuk membantu siswa belajar,

    mengarahkan untuk membuat rangkuman, dan memberikan penegasan di akhir pertemuan.

    Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu dengan 3 orang teman sejawat

    sebagai observer. Intrumen penelitian berupa tes dengan materi sistem persamaan dan

    pertidaksamaan linear, tes hasil belajar. Observasi kegiatan siswa dilaksanakan selama proses

    pembelajaran secara menyeluruh di dalam kelas dengan mencatat dan mendokumentasikan

    kegiatan siswa dalam pembelajaran meliputi kemampuan kerja sama, keaktifan, dan capaian

    hasil belajar. Instrumen angket respon siswa diberikan kepada peserta didik setelah Siklus 2

    berakhir untuk memberikan jawaban sejumlah pertanyaan yang terkait dengan pembelajaran.

    Pada tahap akhir dilakukan analisis data secara kualitatif dari data yang terkumpul dari tiap-

    tiap siklus.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Siklus I

    Pelaksanaan penelitian Siklus I : Selasa, tanggal 11 Oktober 2016 sampai dengan hari

    Rabu, tanggal 17 Oktober 2016. Dengan subyek penelitian adalah siswa kelas X Teknik

    Kimia SMK Negeri 2 Kota Batu pada semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016-2017 sebanyak

    29 siswa terdiri atas 15 laki-laki dan 14 perempuan.

    Perencanaan

    Persiapan yang dilakukan oleh guru untuk proses pada pembelajaran siklus I diawali

    dengan kegiatan: (1) membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam dua kali

    pertemuan, (2) menyusun skenario pembelajaran, (3) memilih media yang akan digunakan

    pada proses pembelajaran, (4) membuat soal-soal berupa kuis, (5) membuat aturan /

    kesepakatan, (6) menyiapkan kelengkapan media pembelajaran, (7) menyusun test evaluasi,

    dan (8) menyusun lembar pedoman observasi .

    Penyusunan RPP diawali dengan 1) menentukan Kompetensi Dasar (KD) yaitu KD.

    Mendeskripsikan konsep sistem persamaan linier dua variabel dan mampu menerapkan

    berbagai strategi yang efektif dalam menentukan himpunan penyelesaiannya serta memeriksa

    kebenaran jawabannya dalam pemecahan masalah matematika. Membuat model matematika

    berupa SPLDV dari situasi nyata dan matematika, serta menentukan jawab dan menganalisis

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    24

    model sekaligus jawabnya.2) Selanjutnya peneliti menyusun scenario pembelajaran dengan

    menentukan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

    Adapun kegiatan pendahuluan sebagai berikut : a) guru menyiapkan peserta didik

    secara psikis dan fisik untuk mengikuti pembelajaran membuka dengan salam dan

    melakukan presensi peserta didik, b) guru mengajak siswa menyerukan yel-yel untuk

    menumbuhkan semangat ,memberi motivasi belajar secara kontekstual sesuai manfaat dan

    aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari. Guru mengingatkan dan bertanya kepada

    siswa tentang materi SPLDV di SMP, dan mengembangkan pertanyaan yang bisa dikaitkan

    dengan SPLDV seperti pertanyaan berikut ini : Bila kalian memperoleh 1 teh kotak dan 1

    ultramilk dengan membelanjakan Rp 10.000 tanpa sisa. Berapakah harga dua ultramilk dan

    dua teh kotak ? dengan mengarahkan siswa untuk membuat model matematika dari

    permasalahan realistik tersebut, c) guru memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran

    menyelesaikan SPLDV dengan menggunakan media manipulatif minuman kemasan.

    Kegiatan inti sebagai berikut : a) guru mengorganisasi siswa membagi siswa menjadi

    kelompok yang berpasangan (anggota pasangan ditentukan oleh guru dan bersifat heterogen),

    karena metode TPS maka anggota kelompok hanya terdiri dari 2 orang., b) guru membagikan

    aturan permainan kemasan teh kotak dan ultramilk pada masing-masing kelompok.

    Guru menjelaskan aturan permainan dan siswa mencermati. Kemudian pada kegiatan

    inti guru meminta salah salah satu anggota kelompok untuk mengambil nomor undian dan

    mengambil amlop sesuai nomor undian. Guru meminta siswa dalam kelompok untuk

    berdiskusi menyelesaikan masalah dalam amplop dan menuliskan persamaan linearnya .

    Guru mengamati diskusi kelompok dan membimbing kelompok yang mengalami kesulitan.

    Guru meminta salah satu anggota kelompok untuk bertukar pada kelompok yang telah

    ditetapkan. Guru meminta siswa dalam kelompok baru untuk saling menjelaskan masalah dan

    solusi masalah pada kelompok semula. Guru meminta siswa yang bertukar kembali pada

    kelompok semula. Guru meminta siswa dalam kelompok diskusi menentukan solusi yang

    sama dari dua persamaan linear yang telah didapat. Guru membimbing jalannya diskusi

    dalam kelompok. Guru meminta 7 kelompok dengan masalah yang berbeda untuk

    mempresentasikan hasil diskusinya. Guru meminta siswa untuk memberi tepuk tangan pada

    siswa yang telah presentasi.

    Kegiatan penutup Salah satu siswa diminta untuk menyimpulkan dari apa yang telah

    dipelajari (ciri-ciri, definisi serta model permasalahan dari SPLDV). Guru memberi

    penguatan bahwa solusi yang sama dari dua persamaan linear tersebut adalah solusi dari Guru

    memberikan Kuis 1 dan dikumpulkan (Soal penilaian Kuis 1). Pada bagian akhir kgiatan

    penutup, guru menyampaikan jawaban kuis 1 dan memberikan tugas rumah, serta dilanjutkan

    dengan guru menutup pelajaran dengan salam.

    Pelaksanaan Tindakan

    Pada tahap pelaksanaan tindakan ini dibagi dalam tiga tahap yaitu (1). Kegiatan

    pendahuluan (2) kegiatan inti, dan (3) kegiatan penutup.

    Pelaksanaan pada pendahuluan pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan

    yang dilakukan dengan mengungkap pengetahuan awal siswa dengan melakukan tanya jawab

    sebagai berikut:

    G: Apa yang kalian bawa jika pergi ke Alfamart ata Indomart ?

    S: Uang bu

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    25

    G: Untuk apa ?

    S: Belanja bu beli-beli snack dan lain-lain

    G :Jika ada hari ini saya bagikan uang kepada kalian sebesar Rp. 10.000,- dan

    saya minta kalian untuk membeli Teh kotak dan Ultra milk hingg uang itu tak

    bersisa apa kalian sanggup?

    S : Sanggup.

    G: Baiklah coba masing- masing memikirkan belanjaan dengan tanpa sisa

    Gambar 1. siswa memainkan uang mainan

    Dari dialog tersebut tampak bahwa siswa telah memiliki pengetahuan awal terkait

    materi SPLDV. Tindakan dilanjutkan dengan kegiatan inti sesuai dengan langkah-langkah

    TPS, yaitu pembentukan kelompok sesuai dengan metode TPS jumlah kelompok ada 2 orang

    dan pasangan ditentukan oleh guru ( 14 pasang siswa), kemudian masing-masing kelompok

    mengambil nomor undian dan mengambil amplop yang berisi tugas, pemberian tugas untuk

    dipikirkan sendiri,dan selanjutnya diselesaikan berdua dengan pasangannya. Kemudian dari

    masing-masing pasangan kelompok bertukar anggota dengan pasangan lain untuk

    menyelesaikan dan menemukan solusi dari dua persamaan dengan cara mengeliminasi untuk

    menentukan harga teh kotak (x) dan ultramilk (y).

    Dari kegiatan bertukar pasangan dan memasangkan dua persamaan yang berbeda

    masing-masing pasangan baru menemukan bahwa harga teh kotak (x) adalah Rp. 3000,- dan

    ultramilk (y) sebesar Rp. 5.000,-.dari 14 pasangan baru ditemukan 2 pasang kelompok

    seberapa pasang yaitu kelompok 1 bertemu dengan kelompok 12 tidak menghasilkan harga

    yang sama dengan kelompok lain. Ternyata setelah diselidiki bahwa penyebab dari perbedaan

    tersebut bukan karena kesalahan siswa menghitung dan bukan siswa tidak teliti, tetapi karena

    soal pada kelompok 1 kurang tepat, sebagaimana tampak pada Gambar 2.

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    26

    Gambar 2. soal tak tepat

    Setelah masing-masing pasangan menyelesaikan permasalahan dan menemukan solusinya,

    diminta pasangan untuk mempresentasikan hasil diskusinya.

    Pada tahapan penutup, masing-masing siswa mengerjakan kuis untuk keperluan

    evaluasi, guru memantau siswa untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang dialami

    siswa dari kesulitan dan temuan baru. Dari hasil tes diperoleh 65% siswa mengerjakan soal

    kuis dengan benar.

    Pengamatan

    Pada saat kegiatan pembelajaran, peneliti didampingi 3 teman sejawat sebagai observer

    yang melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Dari

    hasil pengamatan tersebut, observer mengemukakan bahwa saat membuka pelajaran, peneliti

    sudah memberikan motivasi, apersepsi, dan tujuan pembelajaran. Kemudian pada kegiatan

    inti, peneliti mengikuti langkah-langkah strategi pembelajaran kooperatif tipe TPS yang

    meliputi: penyajian masalah realistik kepada siswa untuk dipikirkan (Think), dilanjutkan

    pembagian pasangan (Pair) untuk mendiskusikan masalah yang diberi oleh guru, kemudian

    diakhiri dengan presentasi hasil kerja kelompok (Share). Pada kegiatan inti ini, peneliti juga

    mengamati dan melakukan penilaian terhadap aspek afektif siswa yang meliputi kemampuan

    kerja sama dalam berdiskusi, menjawab pertanyaan, serta mengkomunikasikan secara lisan.

    Dari hasil pengamatan, peserta didik ikut terlibat secara aktif dan tidak terlalu

    menggantungkan kepada guru, tetapi mereka merasa bertanggung jawab, bekerja sama, dan

    mempunyai rasa percaya diri yang kuat dalam diri peserta didik bahwa mereka mampu

    menjadi sumber belajar bagi temannya.

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    27

    Gambar 3. siswa presentasi

    Refleksi

    Refleksi dilakukan sebagai bagian akhir dari Siklus I. Berdasarkan hasil pengamatan

    guru dan observer terhadap sikap siswa menunjukkan masih ada beberapa siswa yang kurang

    aktif dan tidak serius dalam diskusi kelompok, serta adanya beberapa siswa yang merasa

    kebingungan dikarenakan belum terbiasa bekerja sama dengan kelompok diskusi. Hasil test

    siklus I ternyata baru 65% siswa yang memenuhi KKM (lebih dari 80). Hal tersebut

    disebabkan karena ada sejumlah 6 siswa yang hasil testnya masih memprihatinkan karena

    tidak memahami materi pelajaran. Untuk lebih meningkatkan persentase nilai ketuntasan

    belajar siswa, maka perlu dilakukan beberapa revisi terhadap tindakan-tindakan yang telah

    dilakukan pada Siklus I. Revisi tindakan tersebut selanjutnya akan diterapkan pada Siklus II.

    Adapun revisi tindakan yang akan dilakukan adalah: (1) memvariasikan metode pembelajaran

    kooperatif tipe TPS dengan pemberian kuis yang pelaksanaannya dilakukan setelah presentasi

    kelas, dimana setiap siswa bekerja sendiri-sendiri menjawab pertanyaan kuis sehingga siswa

    akan menjadi lebih aktif, (2) mengamati keaktifan siswa saat melaksanakan kegiatan diskusi

    melalui lembar observasi, serta (3) dengan meningkatkan kerjasama siswa dalam kegiatan

    diskusi.

    Siklus II

    Pelaksanaan penelitian Siklus I : Selasa, tanggal 1 November 2016 sampai dengan hari

    Rabu, tanggal 9 November 2016. Dengan subyek penelitian adalah siswa kelas X Teknik

    Kimia SMK Negeri 2 Kota Batu pada semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016-2017 sebanyak

    31 siswa terdiri atas 15 laki-laki dan 14 perempuan. Secara prinsip langkah-langkah

    pelaksanaan skilus II sama dengan pelaksanaan siklus I, perbedaan terletak pada materi dan

    fokus pengamatan kepada siswa sebagimana saran perbaikan hasil refleksi siklus I.

  • Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan

    Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur

    28

    Perencanaan

    Persiapan yang dilakukan oleh guru untuk proses pada pembelajaran siklus II diawali

    dengan kegiatan: (1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam dua kali

    pertemuan, (2) Menyusun skenario pembelajaran, (3) Memilih media yang akan digunakan

    pada proses pembelajaran, (4) Membuat soal-soal berupa kuis, (5) Membuat aturan /

    kesepakatan, (6) Menyiapkan kelengkapan media pembelajaran, (7) Menyusun test evaluasi,

    dan (8) Menyusun lembar pedoman observasi.

    Penyusunan RPP diawali dengan 1) Menentukan Kompetensi Dasar (KD) yaitu KD.

    Mendeskripsikan konsep sistem pertidaksamaan linier dua variabel dan mampu menerapkan

    berbagai strategi yang efektif dalam menentukan himpunan penyelesaiannya serta memeriksa

    kebenaran jawabannya dalam pemecahan masalah matematika. Membuat model matematika

    berupa SPtLDV dari situasi nyata dan matematika, serta menentukan jawab dan menganalisis

    model sekaligus jawabnya.2) Selanjutnya peneliti menyusun scenario pembelajaran dengan

    menentukan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

    Adapun kegiatan pendahuluan sebagai berikut : a) Guru mengajak siswa menyerukan

    yel-yel untuk menumbuhkan semangat, memberi motivasi belajar secara kontekstual sesuai

    manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari. Guru mengingatkan dan

    bertanya kepada siswa tentang materi SPtLDV di SMP, dan mengembangkan pertanyaan

    yang bisa dikaitkan dengan SPtLDV seperti pertanyaan berikut ini: Bila harga teh kotak Rp

    2000,- per kotak dan harga ultramilk Rp3000,- per kotak. Selidikilah banyak teh kotak dan

    ultramilk yang bisa didaptkan bila kalian hanya memiliki uang Rp 10.000,- ?, c) Guru

    memberikan penjelasan tujuan pembelajaran menyelesaikan SPtLDV dengan menggunakan

    media manipulatif minuman kemasan.

    Kegiatan inti sebagai berikut : a) Guru mengorganisasi siswa membagi siswa menjadi

    kelompok yang berpasangan (anggota pasangan ditentukan oleh guru dan bersifat heterogen),

    karena metode TPS maka anggota kelompok hanya terdiri dari 2 orang., b) Guru

    membagikan aturan permainan kemasan teh kotak dan ultramilk pada masing-masing

    kelompok.

    Guru menjelaskan aturan permainan dan siswa mencermati. Kemudian pada kegiatan

    inti Guru meminta salah salah satu anggota kelompok untuk mengambil nomor undian dan

    mengambil amlop sesuai nomor undian. Guru meminta siswa dalam kelompok untuk

    berdiskusi menyelesaikan masalah dalam amplop dan menuliskan pertidaksamaan linearnya.

    Guru mengamati diskusi kelompok dan membimbing kelompok yang mengalami kesulitan.

    Guru meminta salah satu anggota kelompok untuk bertukar pada kelompok yang telah

    ditetapkan. Guru meminta siswa dalam kelompok baru untuk saling menjelaskan masalah dan

    solusi masalah pada kelompok semula. Guru meminta siswa yang bertukar kembali pada

    kelompok semula. Guru meminta siswa dalam kelompok diskusi menentukan solusi yang

    sama dari dua pertidaksamaan linear yang telah didapat. Guru membimbing jalannya diskusi

    dalam kelompok. Guru meminta 7 kelompok dengan masalah yang berbeda untuk

    mempresentasikan hasil diskusinya. Guru meminta siswa untuk memberi tepuk tangan pada

    siswa yang telah presentasi.

    Kegiatan penutup salah satu siswa diminta untuk menyimpulkan dari apa yang telah

    dipelajari (ciri-ciri, definisi serta model permasalahan dari SPtLDV). Guru memberi

    penguatan bahwa solusi dari dua pertidaksamaan linear tersebut berupa pasangan banyak

  • ISBN: 978 602 1150 21 4

    29

    tehkotak dan ultramilk yang bisa diperoleh dengan uang tertentu. Guru memberikan Kuis 2

    dan dikumpulkan (Soal penilaian Kuis 2). Guru menyampaikan jawaban kuis 2 dan

    memberikan tugas rumah, tentang cara menyelesaikan SPtLDV untuk dipelajari pada

    pertemuan berikutnya. Guru menutup pelajaran dengan salam.

    Pelaksanaan Tindakan

    Tahap pelaksanaan tindakan ini dibagi dalam tiga tahap yaitu (1). kegiatan pendahuluan

    (2) kegiatan inti, (3) kegiatan penutup.

    Pelaksanaan kegiatan pendahuluan pembelajaran diawali dengan mengungkap pengetahuan

    awal siswa melalui tanya jawab sebagai berikut.

    G: Harga teh kotak Rp 2000,- per kotak dan harga ultramilk Rp 3000,- per kotak.

    Bila Bu Eni memiliki uang Rp 10.000,- , Selidikilah berapa banyak teh kotak dan

    ultramilk yang bisa dibeli Bu Eni ?

    S: Ya macam-macam bu !

    G: Jika kalian sebagai Bu Eni apa yang kalian lakukan ?

    S : Mencoba satu per satu dari masing-masing teh kotak dan ultramilk.

    G: Apakah ada syaratnya ?

    S: Ada Bu......, yaitu total harganya tidaklebih dari Rp 10.000,-

    G: Baiklah coba masing- masing menentukan banyak teh kotak dan ultramilk yang

    mungkin bisa dibeli Bu Eni.........

    Berdasarkan dialog tersebut nampak bahwa siswa telah memiliki pengetahuan awal

    terkait materi SPtLDV. Tindakan berikutnya adalah kegiatan inti yang disesuaikan dengan

    langkah-langkah TPS, yaitu pembentukan kelompok sesuai dengan metode TPS jumlah

    kelompok ada 2 orang sebanyak 6 pasang , dan sepasang beranggotakan 3 siswa dan

    pasangan ditentukan oleh guru ( 14 pasang siswa), kemudian masing-masing kelompok

    mengambil nomor undian dan mengambil amplop yang berisi tugas, pemberian tugas untuk

    dipikirkan sendiri, dan selanjutnya diselesaikan berdua dengan pasangannya. Kemudian dari

    masing-masing pasangan kelompok bertukar anggota dengan pasangan lain untuk

    menyelesaikan dan menemukan solusi dari dua pertidaksamaan dengan memisalkan banyak

    teh kotak adalah dan banyak ultramilk .

    Pada kegiatan bertukar pasangan dan memasangkan dua pertidaksamaan yang berbeda

    masing-masing pasangan baru menemukan bahwa banyak teh kotak (x) dan banyak ultramilk

    (y) memperoleh hasil yang berbeda-beda sesuai dengan banyak uang yang ada dalam amplop.

    Dan harga masing-masing teh kotak dan ultramilk. Setelah masing-masing pasangan

    menyelesaikan permasalahan dan menemukan solusinya, diminta pasangan untuk

    mempresentasikan hasil diskusinya.

    Pada tahapan penutup, masing-masing siswa mengerjakan kuis untuk keperluan

    evaluasi, guru memantau siswa untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang dialami

    siswa dari kesulitan dan temuan baru. Ternyata siswa sudah lebih 80 % bisa mengerjakan

    soal kuis yang diberikan oleh guru.

    Pengamatan

    Pada saat kegiatan pembelajaran, peneliti didampingi 3 teman sejawat sebag