of 40 /40
METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED SNOWBALL THROWING PADA MATERI GELOMBANG TRANSVERSAL DAN GELOMBANG LONGITUDINAL Oleh, Aldofina Kristin Muniarti NIM: 192009036 TUGAS AKHIR Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Matematika guna memenuhi sebagian dari persyaratan untuk memeperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITA KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2015

METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED …

  • Author
    others

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED …

rencana pelaksanaan pembelajaranTHROWING PADA MATERI GELOMBANG TRANSVERSAL DAN GELOMBANG LONGITUDINAL
Oleh,
Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Matematika
guna memenuhi sebagian dari persyaratan untuk memeperoleh gelar Sarjana
Pendidikan
Nama : Aldofina Kristin Muniarti
Wacana
METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED SNOWBALL THROWING PADA
MATERI GELOMBANG TRANSVERSAL DAN GELOMBANG LONGITUDINAL
Yang dibimbing oleh:
2. Prof. Ferdy S. Rondonuwu, Ph.D.
adalah benar-benar karya saya.
Di dalam laporan tugas akhir ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan atau
gagasan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk
rangkaian kalimat atau gambar serta simbol yang saya akui seolah-olah sebagai karya
saya sendiri tanpa memberikan pengakuan pada penulis atau sumber aslinya.
Salatiga, 7 Januari 2015
anakNya yang mau berserah
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena penulis
menyadari bahwa hanya karena penyertaanNya sehingga penulis bisa menyel esaikan
tugas akhir ini.
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Fisika di Universitas Kristen Satya Wacana
Salatiga.
Penulis menyadari penuh, bahwa keberhasilan yang dicapai untuk
menyelesaikan tugas akhir ini tidak lepas dari dukungan serta bantuan dari berbagai
pihak disekitar penulis yang sangat penulis hormati, kasihi dan sayangi. Untuk itu, pada
kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Ibu Marmi Sudarmi selaku pembimbing utama dan Bapak Ferdy S. Rondonuwu
selaku pembimbing pendamping yang penulis sangat hormati yang sudah
bersedia menyediakan waktu, membimbing, memotivasi penulis dalam
penyusunan skripsi ini.
2. Kepala sekolah dan guru-guru SMP Negeri 2 Kudus yang penulis hormati yang
sudah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian.
3. Siswa kelas 2B SMP Negeri 2 Kudus yang sangat penulis kasihi yang sudah mau
bekerjasama dengan penulis selama penelitian.
4. Segenap Dosen Pengajar Pogram Studi Pendidikan Fisika, terima kasih atas
semuanya yang penulis dapatkan selama perkuliahan.
5. Semua laboran Fisika UKSW Mas Sigit, Pak Tafip dan Mas Tri terima kasih untuk
bantuannya selama ini.
6. Keluarga tercinta (Bapak, Ibu, Dek Nike, Dek Yosua), yang sangat penulis cintai.
Terima kasih atas semua dukungan dan doanya. Skripsi ini penuli s
persembahkan khusus untuk Bapak dan Ibu. Semoga Tuhan akan selalu
memberkati kita semua.
7. Sahabat yang selalu berada disamping penulis untuk selalu menol ong,
mendukung, dan selalu menjadi tempat curahan hati penulis, Betha Haryoputri .
Terima kasih untuk semuanya, semoga Tuhan memberkati kehidupanmu
bersama keluarga.
8. Teman-teman seperjuangan (Dwi, Koko, Marta dan Sendy ). Semoga kita bisa
wisuda bersama-sama. Amin!
9. Teman-teman angkatan 2009. Terima kasih atas kebersamaannya dan kerja
samanya selama beberapa tahun ini. Khususnya untuk Yanti teman
seperjuangan dalam penyusunan skripsi.
10. Teman-teman yang selama ini selalu mendukung penulis (Krispina, Diyaning,
Sahida, dll), terima kasih.
11. Seluruh pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. Semoga Tuhan
Yesus memberkati kita semua.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik
dan saran yang membangun penulis harapkan dari pembaca untuk hasil yang lebih baik
lagi di masa yang akan datang. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, penulis
minta maaf.
Akhir kata, semoga tulisan ini bisa berguna bagi semua pihak yang berkepentingan
dan semoga Tuhan memberkati kita semua.
Salatiga, 7 Januari 2015
Aldofina Kristin Muniarti, Ferdy S. Rondonuwu, Marmi Sudarmi Program Studi Pendidikan Fisika
Fakultas Sains dan Matematika - Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga 50711, Jawa Tengah – Indonesia
email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi guru dalam membuat RPP dengan
model Cooperative Learning sehingga dapat digunakan sebagai alat evaluasi dalam
meningkatkan efektifitas dan efisiensi belajar yang akan meningkatkan motivasi
belajar siswa, serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang berpengaruh
terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas (PTK) dengan subjek penelitian kelas VIII yang berjumlah 20 orang.
Intrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi siswa, lembar quisioner
dan tes tertulis, yang kemudian dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan 81% siswa
aktif dalam kegiatan diskusi dan 85% siswa sudah mencapai tingkat ketuntasan
belajar. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Snowball
Throwing dapat diimplementasikan sebagai strategi pembelajaran dikelas.
Kata kunci : Pembelajaran Kooperatif, Numbered Snowball Throwing (NHT), Gelombang
1. PENDAHULUAN
Metode ceramah masih banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Penggunaan metode ceramah ini menuntut siswa untuk mendengarkan informasi dari guru, selain itu siswa juga tidak diberi kesempatan untuk belajar bersama. Terlebih masih ada beberapa sekolah yang menerapkan sistem rangking, sehingga menuntut siswa untuk bersaing dalam belajar. Kedua hal ini secara tidak langsung akan menyebabkan siswa cenderung bersikap individu. Kegiatan belajar semacam ini akan berakibat siswa menjadi mudah lupa akan materi yang diberikan dan kurangnya kerjasama siswa dalam pembelajaran baik itu dengan guru maupun dengan teman yang lain [2]. Padahal secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari kerjasama sama itu sangat penting jika suatu saat siswa terjun ke masyarakat [8].
Terkait hal ini sekolah harus melakukan suatu perubahan dalam proses belajar
mengajar yang menekankan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar dengan
menggunakan metode pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif sendiri
merupakan model pembelajaran gotong royong atau biasa disebut kerja sama. Metode
pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe salah satunya model pembelajaran
Kooperative Learning tipe Numbered Snowball Throwing (NST). Hal yang menarik adalah
adanya kelompok-kelompok kecil di ruang kelas yang mendorong siswa untuk aktif dalam
merumuskan masalah dan memecahkan masalah [7]. Tujuan dari penelitian ini adalah dari
Aldofina Kristin Muniarti, Ferdy S. Rondonuwu, Marmi Sudarmi Program Studi Pendidikan Fisika
Fakultas Sains dan Matematika - Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga 50711, Jawa Tengah – Indonesia
email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi guru dalam membuat RPP dengan
model Cooperative Learning sehingga dapat digunakan sebagai alat evaluasi dalam
meningkatkan efektifitas dan efisiensi belajar yang akan meningkatkan motivasi
belajar siswa, serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang berpengaruh
terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas (PTK) dengan subjek penelitian kelas VIII yang berjumlah 20 orang.
Intrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi siswa, lembar quisioner
dan tes tertulis, yang kemudian dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan 81% siswa
aktif dalam kegiatan diskusi dan 85% siswa sudah mencapai tingkat ketuntasan
belajar. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Snowball
Throwing dapat diimplementasikan sebagai strategi pembelajaran dikelas.
Kata kunci : Pembelajaran Kooperatif, Numbered Snowball Throwing (NHT), Gelombang
1. PENDAHULUAN
Metode ceramah masih banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Penggunaan metode ceramah ini menuntut siswa untuk mendengarkan informasi dari guru, selain itu siswa juga tidak diberi kesempatan untuk belajar bersama. Terlebih masih ada beberapa sekolah yang menerapkan sistem rangking, sehingga menuntut siswa untuk bersaing dalam belajar. Kedua hal ini secara tidak langsung akan menyebabkan siswa cenderung bersikap individu. Kegiatan belajar semacam ini akan berakibat siswa menjadi mudah lupa akan materi yang diberikan dan kurangnya kerjasama siswa dalam pembelajaran baik itu dengan guru maupun dengan teman yang lain [2]. Padahal secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari kerjasama sama itu sangat penting jika suatu saat siswa terjun ke masyarakat [8].
Terkait hal ini sekolah harus melakukan suatu perubahan dalam proses belajar
mengajar yang menekankan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar dengan
menggunakan metode pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif sendiri
merupakan model pembelajaran gotong royong atau biasa disebut kerja sama. Metode
pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe salah satunya model pembelajaran
Kooperative Learning tipe Numbered Snowball Throwing (NST). Hal yang menarik adalah
adanya kelompok-kelompok kecil di ruang kelas yang mendorong siswa untuk aktif dalam
merumuskan masalah dan memecahkan masalah [7]. Tujuan dari penelitian ini adalah dari
penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi guru dalam membuat RPP dengan model
Cooperative Learning sehingga dapat digunakan sebagai alat evaluasi dalam meningkatkan
efektifitas dan efisiensi belajar yang akan meningkatkan motivasi belajar siswa, serta
keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang berpengaruh terhadap aktivitas dan hasil
belajar siswa.
2. Tinjauan Pustaka
2.1 Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif mengacu pada metode pembelajaran di mana si swa bekerja
sama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar untuk mencapai satu tujuan
bersama. Lima unsur yang perlu diperhatikan untuk mencapai hasil yang maksimal yaitu
saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar
angota, dan evaluasi proses kelompok [6].
2.2 Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan varian dari diskusi kelompok. teknik ini
memberikan ruang bagi siswa untuk saling membagikan ide dan mempertimbangkan
jawaban yang tepat. Teknis pelaksanaannya, guru meminta siswa duduk berkelompok.
Masing-masing angota diberi nomor. Setelah selesai guru memanggil nomor siswa untuk
mempresentasikan hasil diskusinya. Begitu seterusnya hingga semua nomor terpanggil.
Pemanggilan dilakukan secara acak dengan tujuan semua siswa benar-benar telibat dalam
diskusi [4].
Snowball sendiri diartikan sebagai bola salju, sedangkan Throwing berarti melempar.
Jadi Snowball Throwing adalah melempar bola salju. Dalam pembelajaran Snowball
Throwing, bola salju merupakan kertas yang berisi pertanyaan yang dibuat oleh siswa
kemudian dilempar kepada temannya sendiri untuk dijawab [1]. Menurut Mohib Asrori
(2010), Snowball Throwing merupakan salah satu model pembelajaran aktif (activelearning)
yang dalam pelaksanaannya banyak melibatkan siswa [3]. Peran guru di sini hanya sebagai
pemberi arahan awal mengenai topik pembelajaran dan selanjutnya penertiban terhadap
jalannya pembelajaran. Pembelajaran snowball throwing sendiri menuntut agar siswa dapat
bekerjasama dengan teman satu kelompoknya.
3
Numbered Snowball Throwing merupakan model pembelajaran kooperatif dengan
menggabungkan model kooperatif tipe NHT (Numbered Snowball Throwing) dengan model
kooperatif tipe Snowball Throwing.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Numbered Snowball Throwing adalah : 1. Guru membagi siswa dalam 5 kelompok, 1 kelompok berangotakan 4 siswa. Kemudian
guru menjelaskan materi sesuai RPP, sehingga mau tidak mau siswa akan mencatat
materi yang digunakan sebagai dasar pembuatan soal.
2. Guru memberikan satu lembar kerja kepada setiap siswa, untuk menuliskan satu pertanyaan dari hasil diskusi kelompok. Sehingga tiap kelompok mempunyai 4 pertanyaan dan kunci jawaban. Dalam hal membuat soal guru juga mengoreksi soal dan kunci jawaban agar pertanyaan siswa dengan kunci jawaban ada kaitannya dengan materi. Jika soal dan kunci jawaban belum sesuai dengan materi siswa diminta mendiskusikan kembali.
3. Kemudian kertas soal tersebut dibuat seperti bola. Kelompok A melempar 1 bola yang berisi soal ke setiap kelompok lain. Kelompok B melempar 1 bola ke setiap kelompok lain, dan seterusnya secara bergantian sehingga 1 kelompok mendapatkan 4 soal dari masing-masing kelompok lain.
4. Guru memberi waktu kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban dari 4 soal yang ada
dalam kelompok. Dalam hal ini 1 siswa diharuskan menjawab 1 soal.
5. Guru menunjuk setiap siswa dengan nomor tertentu dalam setiap kelompok untuk
menjawab dan mempresentasikan masing-masing jawaban.
6. Kemudian siswa yang menuliskan pertanyaan dapat memberi tanggapan tentang jawaban dari siswa yang menjawab. Kemudian guru memberi kesempatan kepada siswa lain untuk menanggapi jawaban siswa hingga mencapai kesepakatan. Dengan catatan jika jawaban tidak mencapai kesepakatan maka guru akan menjadi penengah
sekaligus membenarkan konsep.
7. Kemudian guru mereview ulang semua pertanyaan dan jawaban siswa.
8. Guru memberikan evaluasi kepada setiap siswa untuk mengetahui apakah hasil belajar
siswa mengalami peningkatan.
Getaran dan gelombang merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa gelombang adalah getaran yang merambat. Terjadi gelombang karena adanya peristiwa getaran, namun terjadinya getaran belum tentu
C1 C2
C3 C4
D1 D2
D3 D4
B1 B2
B3 B4
A1 A2
A3 A4
E1 E2
E3 E4
4
menyebabkan gelombang. Syarat perlu agar suatu gelombang terjadi adalah adanya medium dan energi. Gelombang yang dapat memindahkan energi ketika ketika sedang merambat dari sumber usikan disebut gelombang berjalan. Berdasarkan arah rambat dan getarannya, gelombang berjalan dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu gelombang transversal
dan gelombang longitudinal.
Karakteristik dari gelombang tranversal sendiri yaitu 1) gelombang transversal memiliki arah getar dan arah rambat yang saling tegak lurus, 2) Jarak antara garis normal dan puncak atau lembah disebut amplitude, 3) Panjang satu gelombang adalah jarak antara dua titik yang memiliki fase gelombang yang sama. Dimana panjang satu gelombang dapat dihitung dari puncak gelombang menuju puncak gelombang atau dari dasar gelombang menuju dasar
gelombang. Contoh dari gelombang longitudinal adalah gelombang bunyi.
Sedangkan karakteristik dari gelombang longitudinal yaitu 1) gelombang yang memiliki arah getar dan arah rambatnya sama, 2) Panjang satu gelombang adalah 1 rapatan dan 1
renggangan.
Kemudian untuk mencari hubungan antara periode T , frekuensi f , panjang
gelombang , dan cepat rambat gelombang (v) adalah: v = jika T maka v = λ x f,
dengan: v = cepat rambat gelombang (m/s); λ = panjang gelombang (m);T = periode (s); f =
frekuensi (Hz) [5].
3. Metodologi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sampel yang digunakan
adalah siswa SMP 2 Kudus kelas VIII sebanyak 20 siswa.
3.1 Prosedur pelaksanaan penelitian
1. Tahap persiapan Hal yang dilakukan peneliti dalam tahap ini adalah menyusun rencana pembelajaran,
menyusun rancangan evaluasi, menyusun lembar observasi dan kuisioner.
2. Tahap tindakan Dalam tahap ini peneliti melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana
pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif tipe Numbered Snowball Throwing,
mulai dari motivasi sampai dengan tahap evaluasi dan pemberian kuisioner.
3. Tahap observasi
dalam kegiatan pembelajaran. Dalam tahap ini peneliti menggunakan lembar observasi
siswa untuk mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
4. Tahap refleksi
Dalam tahap refleksi hasil yang diperoleh dari pelaksanaan observasi dikumpulkan, hasil
nilai tes siswa kemudian dianalisis. Dalam hal ini, dapat dilihat apakah pene litian sudah
5
75 dan 80% siswa aktif dalam kegiatan diskusi.
3.2 Teknik Pengumpulan Data.
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan
observasi, tes, dan lembar quisioner siswa. 1) Observasi dilakukan untuk mengumpulkan
data aktivitas siswa meliputi pembuat soal menanggapi jawaban dari masing-masing siswa,
berdiskusi untuk menemukan jawaban yang benar, anggota kelompok yang lain menanggapi
jawaban dari pembuat soal, kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal dan
kelompok yang menjawab, menjelaskan kepada teman yang belum mengerti, dengan
menggunakan lembar observasi. 2) Tes tertulis, digunakan untuk mengukur ketuntasan hasil
belajar siswa yang dilakukan di akhir pelajaran. 3) Lembar quisioner digunakan untuk
mengetahui minat belajar siswa terhadap metode pembelajaran.
3.3 Pengembangan Instrument Penelitian.
Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi siswa,
tes tertulis, dan lembar quisioner sebagai alat evaluasi hasil belajar siswa. Langkah
penyusunan instrument adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang ada pada RPP.
2. Membuat kriteria penilaian aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran. Obsevasi
dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar
observasi.
3. Membuat soal tes kemampuan hasil belajar siswa berdasarkan aspek kognitif. Tes
berbentuk esai sebanyak 10 soal. Tes disusun sesuai dengankompetensi yang ingin
dicapai dalam pembelajaran.
4. Menyusun lembar quisioner yang berisi 6 pertanyaan yang bersangkutan dengan minat
belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran numbered snowball throwing.
3.4 Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu :
1. Data kuantitatif (nilai hasil belajar siswa) dapat dianalisis secara deskriptif. Dalam hal ini
peneliti mencari nilai rata-rata dan persentase keberhasilan belajar. Presentase
keberhasilan dari penelitian adalah sebesar 80%. Dimana 80% siswa minimal
mendapatkan nilai 75. Nilai ini dapat dihitung dengan cara :
6
%nilai=
2. Data kualitatif, yaitu data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi
gambaran tentang tingkat pemahaman siswa terhadap mata pelajaran (kognitif),
pandangan atau sikap siswa terhadap metode belajar (afektif), aktivitas siswa mengikuti
pelajaran, perhatian, antusias dalam belajar, kepercayaan diri, dan motivasi belajar.
Dalam hal ini data kualitatif meliputi wawancara dan lembar observasi siswa.
4. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian ini disusun berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa, tes dan
lembar quisioner siswa.
4.1 Siklus I
4.1.1 Observasi
Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I terdapat pada tabel 1 :
Tabel 1. Aktivitas siswa pada siklus I
Siswa Jenis Aktivitas
1 2 3 4 5 Jumlah %
A1 √ √ √ √ √ 5 100
A2 √ √ √ 3 60
A3 √ √ √ 3 60
A4 √ √ √ 3 60
B1 √ √ √ √ √ 5 100
B2 √ √ √ 3 60
B3 √ √ 2 40
B4 √ √ 2 40
C1 √ √ √ 3 60
C2 √ √ √ √ 4 80
C3 √ √ 2 40
C4 √ √ √ √ √ 5 100
D1 √ √ √ 3 60
D2 √ √ √ √ 4 80
D3 √ √ √ 3 60
D4 √ √ √ √ 4 80
E1 √ √ √ √ 4 80
% 100 100 60 40 35 Keterangan :
1 = Pembuat soal menanggapi jawaban dari masing-masing siswa
2 = Berdiskusi untuk menemukan jawaban yang benar
3 = Anggota kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal
4 = Kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal dan kelompok yang
menjawab
Dari hasil pengamatan aktivitas belajar siswa menunjukkan bahwa secara keseluruhan peran
aktif siswa dalam kegiatan ini tergolong cukup aktif. Hal ini dapat dilihat dari data peraspek
diperoleh prosentase yaitu pembuat soal menanggapi jawaban dari masing-masing siswa
sebanyak (100%), berdiskusi untuk menemukan jawaban yang benar sebanyak (100%),
anggota kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal sebanyak (60%),
kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal dan kelompok yang menjawab
sebanyak (40%), dan menjelaskan kepada teman yang belum mengerti sebanyak (35%),
sehingga secara umum hasil observasi siswa berdasarkan tabel 1, menunjukkan prosentase
aktivitas siswa sebesar 67%.
1. Pembuat soal menanggapi jawaban dari masing-masing siswa
Berdasarkan table 1, semua siswa aktif melakukan kegiatan ini, karena siswa yang
membuat soal juga membuat kunci dari soal sehingga siswa yang membuat soal wajib
memberikan tanggapan.
2. Berdiskusi untuk menemukan jawaban yang benar
Berdasarkan table 1, semua siswa aktif melakukan kegiatan ini, karena dalam
menjawab soal siswa wajib melakukan diskusi terlebih dahulu sebelum mengemukakan
jawabannya.
3. Anggota kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal
8
Bedasarkan table 1, siswa yang aktif melakukan kegiatan ini sebanyak 60% dan 40%
siswa masih kurang aktif dalam melakukan kegiatan ini. Hal ini disebabkan beberapa siswa
merasa bahwa jawaban dari teman yang lain sudah benar, jadi tidak perlu menanggapi lagi.
4. Kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal dan kelompok yang
menjawab
Berdasarkan table 1, siswa yang aktif melakukan kegiatan ini sebanyak 40% dan 60%
siswa masih kurang aktif dalam melakukan kegiatan ini. Hal ini disebabkan beberapa siswa
merasa masih kurang menguasai materi sehingga siswa ragu untuk menanggapi.
5. Menjelaskan kepada teman yang belum mengerti
Berdasarkan table 1, siswa yang aktif melakukan kegiatan ini sebanyak 35% dan 65%
siswa masih kurang aktif melakukan kegiatan ini. Hal ini disebabkan karena penguasaan
materi masih kurang sehingga masih banyak bertanya kepada guru dibanding bertanya
kepada sesama siswa.
4.1.2 Hasil Belajar
Siswa Nilai
Siswa Nilai
A1 78
C3 63
A2 55
C4 78
A3 63
D1 70
A4 55
D2 68
B1 78
D3 70
B2 65
D4 70
B3 68
E1 73
B4 63
E2 70
C1 65
E3 55
C2 73
E4 65
Dari tabel hasil tes siswa menunjukkan bahwa siswa yang mencapai tingkat ketuntasan
belajar secara individu hanya 3 orang (15%) yang mencapai KKM ≥ 75. Bedasarkan data
tersebut menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa hanya mencapai 15%, dapat
dikatakan belum mencapai target yang diinginkan, karena dalam penelitian target yang
harus tercapai yaitu 80% siswa mendapatkan nilai 75 dan 80% siswa aktif dalam kegiatan
diskusi.
9
4.2 Hasil Refleksi.
Berdasarkan hasil tes dan aktivitas siswa pada siklus I dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran pada siklus I ini belum memuaskan. Pada hasil tes siswa terlihat, bahwa
tingkat ketuntasan belajar siswa hanya 3 orang atau sebesar 15% dari jumlah keseluruhan
siswa yang mencapai KKM ≥ 75. Sedangkan untuk aktivitas belajar siswa hanya mencapai
prosentase 67%. Sehingga perlu diadakan siklus II agar semua siswa mencapai target yang
telah ditentukan. Kendala yang dialami peneliti pada siklus I yaitu kecilnya peran serta siswa
dalam kegiatan ini, disebabkan karena waktu yang diperlukan dalam menyampaikan materi
terlalu lama, konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru juga belum penuh
dan belum terfokus, mereka cenderung mengobrol dengan teman, sehingga siswa kurang
jelas kegiatan apa yang harus dilakukan. Oleh karena itu, perlu diadakan perbaikan pada
siklus berikutnya.
4.3.1 Observasi
Karena pada siklus I target yang di harapkan belum tercapai, maka dilakukan siklus II.
Sebagai refleksi dari siklus I maka pada siklus II guru tidak lagi memberikan materi dari awal,
melainkan garis besar materi, karena siswa masih memiliki catatan untuk dipelajari kembali.
Selain itu guru juga memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih banyak aktif dalam
pembelajaran. Guru diharapkan lebih tegas lagi dalam memberi teguran kepada siswa yang
tidak memperhatikan penjelasan guru. Sehingga pada saat diskusi berlangsung siswa akan
lebih aktif dan tugas siswa menjadi lebih jelas.
Tabel 3. Aktivitas siswa pada siklus II
Siswa Jenis Aktivitas Jumlah Aktivitas yang diikuti siswa
1 2 3 4 5 Jumlah %
A1 √ √ √ √ √ 5 100
A2 √ √ √ 3 60
A3 √ √ √ √ 4 80
A4 √ √ √ √ 4 80
B1 √ √ √ √ √ 5 100
B2 √ √ √ 3 60
B3 √ √ √ 3 60
B4 √ √ 2 40
C1 √ √ √ √ 4 80
C2 √ √ √ √ 4 80
C3 √ √ √ √ √ 5 100
% 100 100 60 60 65 Keterangan :
1 = Pembuat soal menanggapi jawaban dari masing-masing siswa
2 = Berdiskusi untuk menemukan jawaban yang benar
3 = Anggota kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal
4 = Kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal dan kelompok yang
menjawab
Dari hasil pengamatan aktivitas belajar siswa menunjukkan bahwa secara keseluruhan peran
aktif siswa dalam kegiatan ini tergolong aktif. Hal ini dapat dilihat dari data peraspek
diperoleh prosentase yaitu pembuat soal menanggapi jawaban dari masing-masing siswa
sebanyak (100%), berdiskusi untuk menemukan jawaban yang benar sebanyak (100%),
anggota kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal sebanyak (60%),
kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal dan kelompok yang menjawab
sebanyak (60%), dan menjelaskan kepada teman yang belum mengerti sebanyak (65%),
sehingga secara umum hasil observasi siswa berdasarkan tabel 1, menunjukkan prosentase
aktivitas siswa sebesar 81%.
1. Pembuat soal menanggapi jawaban dari masing-masing siswa
Berdasarkan table 3, semua siswa aktif melakukan kegiatan ini, karena siswa yang
membuat soal juga membuat kunci dari soal sehingga siswa yang membuat soal wajib
memberikan tanggapan, selain itu guru juga terlibat di dalam kegiatan ini. Ketelibatan guru
dalam kegiatan ini adalah membimbing siswa dalam membuat pertanyaan dan kunci
jawaban agar sesuai materi dan dapat dimengerti oleh siswa.
11
2. Berdiskusi untuk menemukan jawaban yang benar
Berdasarkan table 3, semua siswa aktif melakukan kegiatan ini, karena dalam
menjawab soal siswa wajib melakukan diskusi terlebih dahulu sebelum mengemukakan
jawabannya. Selain itu peran guru juga sangat penting dalam kegiatan ini, dimana guru
membimbing jalannya diskusi siswa.
3. Anggota kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal
Bedasarkan table 3, siswa yang aktif melakukan kegiatan ini sebanyak 60% dan 40%
siswa masih kurang aktif dalam melakukan kegiatan ini. Hal ini disebabkan beberapa siswa
sudah menjawab pertanyaan dengan benar sehingga siswa yang lain merasa tidak perlu
menanggapi.
4. Kelompok yang lain menanggapi jawaban dari pembuat soal dan kelompok yang
menjawab
Berdasarkan table 3, siswa yang aktif melakukan kegiatan ini sebanyak 60% dan 40%
siswa masih kurang aktif dalam melakukan kegiatan ini. Hal ini disebabkan beberapa siswa
sudah menjawab pertanyaan dengan benar, sehingga siswa yang lain merasa sudah puas
dan diskusi dapat dilanjutkan dengan membahas pertanyaan yang lain.
5. Menjelaskan kepada teman yang belum mengerti
Berdasarkan table 3, siswa yang aktif melakukan kegiatan ini sebanyak 65% dan 35%
siswa masih kurang aktif melakukan kegiatan ini. Hal ini menujukkan sudah ada kemauan
siswa untuk mempelajari materi dan berusaha menjelaskan kepada teman yang masih
belum mengerti tentang materi menurut bahasa dan pengertiannya sendiri. Selain itu guru
juga berperan aktif dalam kegiatan ini agar tidak terjadi miskonsepsi.
4.3.2 Hasil Belajar.
Siswa Nilai
Siswa Nilai
A1 85
C3 78
A2 75
C4 85
A3 78
D1 78
A4 75
D2 78
B1 85
D3 85
B2 75
D4 85
B3 73
E1 85
B4 65
E2 78
C1 78
E3 65
C2 78
E4 75
Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa siswa yang mendapatkan nilai minimal 75 sebanyak 17 siswa, sehingga prosentase keberhasilan dari siswa yang memahami materi dapat diperoleh sebesar 85%. Hasil persen ini didapatkan dari perhitungan :
%85%100 20
17 x . Dengan demikian maka ketuntasan hasil belajar siswa dapat dikatakan
sudah mencapai tingkat ketuntasan belajar, karena suatu kelas dikatakan tuntas dalam belajar jika persentase sudah mencapai paling sedikit 80% dan 80% siswa aktif dalam
kegiatan diskusi.
Analisa tanggapan siswa terhadap metode yang diberikan :
1. Sebanyak 100% siswa menjawab bahwa model pembelajaran CL tipe Numbered
Snowball Throwing merupakan hal yang baru, dengan alasan belum pernah ada kegiatan
percobaan langsung dikelas yang biasanya disampaikan dengan powerpoint atau ani masi
dan dilakukan langsung di laboratorium fisika. Selain itu pembelajaran juga lebih
menyenangkan karena setiap siswa dapat terjun langsung membuat pertanyaan dan kunci
jawaban. Hal ini menunjukkan bahwa metode ini memang baru mereka alami.
2. Sebanyak 85% siswa menjawab model pembelajaran CL tipe Numbered Snowball
Throwing merupakan model pembalajaran yang menarik, dengan alasan siswa terlibat
langsung dalam pembelajaran, selain itu pembelajaran berjalan lebih menarik dan lebih
santai. Hal ini menunjukkan bahwa metode ini dapat dikatakan menarik, karena siswa
menikmati pembelajaran sehingga siswa dapat memahami materi dengan mudah.
3. Sebanyak 85% siswa menjawab penggunaan model pembelajaran CL tipe Numbered
Snowball Throwing mempermudah siswa dalam memahami materi, dengan alasan adanya
percobaan langsung di depan kelas, selain itu dengan adanya diskusi siswa menjadi lebih
mengerti tentang materi. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan metode ini dapat
mempermudah siswa dalam memahami materi.
4. Sebanyak 85% siswa menjawab termotifasi untuk belajar fisika setelah belajar tentang
karakteristik gelombang transversal dan gelombang longitudinal dengan model
pembelajaran CL tipe Numbered Snowball Throwing, dengan alasan pembelajaran fisika jika
dilakukan dengan percobaan secara langsung akan lebih mudah dimengerti dan
pembelajaran juga lebih menarik. Selain itu siswa juga dibebaskan dalam berpendapat,
sehingga semua siswa terlibat langsung dalam pembelajaran.
5. Sebanyak 90% siswa menjawab bahwa ada hal yang menyenangkan dari pembelajaran
secara berkelompok dengan tipe Numbered Snowball Throwing seperti yang baru saja
13
dilakukan, dengan alasan siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, hal ini dapat dilihat
bahwa siswa lebih leluasa dalam bertukar pendapat, siswa juga dapat membantu teman
yang kesulitan memahami materi, dan bekerjasama dalam memecahkan masalah.
6. Sebanyak 25% siswa menjawab bahwa ada kesulitan yang dirasakan ketika belajar secara
berkelompok dengan tipe Numbered Snowball Throwing, dengan alasan masih ada
beberapa siswa yang kurang peduli terhadap tugasnya dan hanya sibuk sendiri, selain itu
masih ada rasa canggung karena belum terbiasa bekerjasama dengan teman yang tidak
akrab. Hal ini menunjukkan bahwa metode ini mengajarkan kepada siswa untuk dapat
bekerjasama.
Berdasaran hasil analisa data yang telah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulan,
bahwa dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Snowball
Throwing pada materi gelombang transversal dan gelombang longitudinal >80% siswa
mengatakan model pembelajaran ini dapat menarik minat belajar mereka dalam belajar
fisika. Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode ini, pemahaman siswa
tentang materi yang disampaikan menjadi lebih baik, terlebih metode ini mengajarkan siswa
untuk bekerjasama dalam satu kelompok.
5.2 SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disarankan :
1. Penelitian ini dapat dilaksanakan pada kelas yang memiliki siswa kurang aktif dalam
pembelajaran. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat mengetahui tingkat pemahaman
siswa terhadap materi.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi peneliti lain dalam penelitian
tindakan kelas untuk menginplementasikan model pembelajaran yang lain yang dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran.
Daftar Pustaka
Artikel Jurnal :
[1] Agustina, Entin T. 2013. Implementasi Model Pembelajaran Snowball Throwing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Membuat Produk Kria Kayu dengan Peralatan Manual. INVOTEC. Vol. IX. No.1. halaman 17-28.
[2] Ekoningtyas, Maryanti. 2013. Pengaruh Pembelajaran Think-Pair-Share dipadu pola Pemberdayaan Berpikir melalui Pertanyaan terhadap Keterampilan Metakognitif, Berpikir
14
Kreatif, Pemahaman Konsep IPA dan Retensinya serta Sikap Sosial Siswa. Jurnal Pendidikan Sains. Vol. 1, No. 4.halaman 332-342.
Buku: [3] Asrori, Mohib. 2010. Penggunaan Model Belajar Snowball Throwing dalam
Meningkatkan Keaktifan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. [4] Huda, M. (2011). Cooperative Learning, Metode, Teknik, Struktur dan Model
Penerapan. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. [5] Sugeng Yuli Irianto, Wasis. 2008. IPA SMP dan MTs Kelas VIII. Jakarta : Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional. [6] Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning, Mempraktikkan Cooperative Learning Di Ruang-
Ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo. Skripsi : [7] Haryani. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Struktur Bumi. (Skripsi). Surakarta : Universitas Sebelas Maret .
[8] Oskar. 2012. Desain dan Penerapan Cooperative Learning Tipe Bertukar pasangan Pada materi Pemuaian Gas. (Skripsi). Salatiga : Universitas Kristen Satya Wacana.
15
September 8, 2012
Memahami konsep getaran dan penerapan getaran, gelombang, dan optika dalam
produk teknologi sehari-hari
B. Kompetensi Dasar:
C. Indikator:
3. Memformulasikan hubungan panjang gelombang, frekuensi, dan cepat rambat
gelombang
3. Siswa dapat menjelaskan hubungan panjang gelombang, frekuensi, dan kecepatan
gelombang
H. Peralatan :
1. Slinki
Eksplorasi
Membuat ayunan dengan bandul berupa kerucut yang bagian dalamnya diisi pasir,
bagian ujung kerucut terbuka, sehingga saat diisi pasir, pasir tersebut dapat keluar ke
bawah. Ayunan tersebut digantungkan pada statif. Pada bagian kaki statif diselipkan
kertas untuk menampung jatuhnya pasir dari bandul. Berikut merupakan gambar
ayunan tersebut:
1. Motivasi
guru mengayunkan bandul kerucut berisi pasir, kemudian bertanya “pola apa yang
berbentuk pada kertas?” (hanya garis) . Guru menyeret kertas sehingga terbentuk pola
gelombang, bertanya,”bagaimana bentuk pola setelah kertas saya seret?” (pola
gelombang). Kemudian guru menginformasikan bahwa getaran adalah gerak bolak-
balik di sekitar titik kesetimbangan. Sedangkan gelombang merupakan getaran yang
merambat. Berdasarkan arah rambatan dan arah getarannya, gelombang dibedakan
menjadi dua, yaitu gelombang transversal dan gelombang longitudinal.
Perumusan masalah 1
Guru melakukan demonstrasi gelombang tranversal dengan slinki, seperti gambar
berikut:
2. Ke mana arah rambatnya? (horisontal atau ke depan)
3. Jika arah getar vertikal, sedangkan arah rambatnya horisontal,
Gambarkan di papan tulis:
bagaimana hubungan antara arah getar dan arah rambat? Sejajar atau tegak
lurus? (saling tegak lurus)
Pertanyaan menggiring menarik kesimpulan:
1. Jadi apa itu gelombang transversal? (gelombang yang arah getar dan arah
rambatnya saling tegak lurus)
Kesimpulan:
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah getar dan arah rambatnya saling
tegak lurus
Gelombang transversal
Infokan bahwa:
1. Jarak semua titik pada bukit dan lembah gelombang ke titik seimbang disebut
simpangan, simpangan maksimum terletak pada B-b dan D-d, simpangan
maksimum disebut amplitudo, jadi B-b dan D-d adalah amplitudo gelombang.
2. Satu panjang gelombang sama dengan satu bukit dan satu lembah. Dimana
dapat dihitung dari puncak gelombang menuju puncak gelombang atau dari
dasar gelombang menuju dasar gelombang.
Guru mengajak siswa untuk menentukan satu pajang gelombang dari gambar 1.
Tentukan jarak 1 gelombang jika dimulai dari titik :
1. A (A-B-C-D-E)
2. B (B-C-D-E-F)
3. C (C-D-E-F-G)
4. D (D-E-F-G-H)
5. E (E-F-G-H-I)
Rangkuman :
1. Gelombang transversal adalah gelombang yang arah getar dan arah rambatnya
saling tegak lurus
2. 1 bukit dan 1 lembah = 1 gelombang. Contohnya : A-B-C-D-E ; B-C-D-E-F ; C-D-E-
F-G ; D-E-F-G-H ; E-F-G-H-I
September 8, 2012
gambar berikut:
2. Ke mana arah rambatnya? (ke kanan)
Pertanyaan menggiring menarik kesimpulan:
1. Apa itu gelombang longitudinal? (gelombang yang arah getar dan arah
rambatnya searah)
Kesimpulan
Gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getar dan arah rambatnya sama
gelombang longitudinal
1 rapatan dan 1 regangan = 1 gelombang
guru mengajak siswa untuk menentukan satu panjang gelombang dari gambar 3.
Tentukan jarak 1 gelombang jika dimulai dari titik :
1. A (A-E )
2. B (B-F)
3. C (C-G)
4. D (D-H)
5. E (E-I)
Rangkuman:
1. Gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getar dan arah rambatnya
searah
2. Panjang satu gelombang adalah 1 rapatan dan 1 renggangan. Contohnya : A-E ; B-
F ; C-G ; D-H ; E-I
menganalisa apakah gelombang tersebut gelombang transversal atau gelombang
longitudinal.
Bagaimana hubungan antara periode T , frekuensi f , panjang gelombang , dan
cepat rambat gelombang v ?
Guru memberikan penjelasan bahwa rumus untuk menghitung gelombang sama dengan
benda yang bergerak lurus beraturan, yaitu t
s v , dimana s merupakan jarak yang
ditempuh oleh objek tersebut dan t adalah waktu yang diperlukan untuk menempuh
September 8, 2012
7
jarak s dalam ukuran sekon. Pada gelombang, jarak s yang dimaksud adalah panjang
gelombang, maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai satu gelombang disebut
periode (T). sehingga didapatkan rumus:
T v ..................(1)
1. Apa hubungan antara periode dan frekuensi? f
T 1
….. (2)
2. Jika persamaan (2) dimasukan ke dalam persamaan (1), bagaimana rumus v?
T v
Kesimpulan :
Hubungan antara antara periode T , frekuensi f , panjang gelombang , dan cepat
rambat gelombang adalah T
Konfirmasi
Konsilidasi
Guru menerapkan pembelajaran kooporatif tipe Numbered Snowball Throwing (NST) yaitu :
1. Guru membagi siswa dalam 5 kelompok, 1 kelompok berangotakan 4 siswa. Kemudian
guru menjelaskan materi sesuai RPP, sehingga mau tidak mau siswa akan mencatat
materi yang digunakan sebagai dasar pembuatan soal.
2. Guru memberikan satu lembar kerja kepada setiap siswa, untuk menuliskan satu pertanyaan dari hasil diskusi kelompok. Sehingga tiap kelompok mempunyai 4 pertanyaan dan kunci jawaban. Dalam hal membuat soal guru juga mengoreksi soal dan kunci jawaban agar pertanyaan siswa dengan kunci jawaban ada kaitannya dengan materi. Jika soal dan kunci jawaban belum sesuai dengan materi siswa diminta mendiskusikan kembali.
C1 C2
C3 C4
D1 D2
D3 D4
B1 B2
B3 B4
A1 A2
A3 A4
E1 E2
E3 E4
8
3. Kemudian kertas soal tersebut dibuat seperti bola. Kelompok A melempar 1 bola yang berisi soal ke setiap kelompok lain. Kelompok B melempar 1 bola ke setiap kelompok lain, dan seterusnya secara bergantian sehingga 1 kelompok mendapatkan 4 soal dari masing-masing kelompok lain.
4. Guru memberi waktu kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban dari 4 soal yang ada
dalam kelompok. Dalam hal ini 1 siswa diharuskan menjawab 1 soal.
5. Guru menunjuk setiap siswa dengan nomor tertentu dalam setiap kelompok untuk
menjawab dan mempresentasikan masing-masing jawaban.
6. Kemudian siswa yang menuliskan pertanyaan dapat memberi tanggapan tentang jawaban dari siswa yang menjawab. Kemudian guru memberi kesempatan kepada siswa lain untuk menanggapi jawaban siswa hingga mencapai kesepakatan. Dengan catatan jika jawaban tidak mencapai kesepakatan maka guru akan menjadi penengah
sekaligus membenarkan konsep.
7. Kemudian guru mereview ulang semua pertanyaan dan jawaban siswa.
8. Guru memberikan evaluasi kepada setiap siswa untuk mengetahui apakah hasil belajar
siswa mengalami peningkatan.
September 8, 2012
Siswa Pertanyaan Jawaban
A 1 Diketahui :
kecepatan gelombang tersebut?
dan frekuensi gelombang : 7 Hz.
Hitunglan kecepatan 1 gelombang! smxv
fxv
/147217
1. A
2. B
3. c
A 4 Diketahui jumlah gelombang adalah 12
gelombang dengan waktu 4 detik dan
panjang gelombang 15 cm, berapa
kecepatan gelombangnya? smxxfv
transversal?
rambatnya tegak lurus.
B 2 Apa yang dimaksud dengan amplitudo? Amplitude adalah simpangan
maksimum gelombang.
T v atau xfv
longitudinal!
arah getarnya searah
rapatan dan satu renggangan
dari gelombang longitudinal?
C 2
A B
Jika A – B = 3 cm dan T = 0,3 s, berapa
cepat rambat gelombang tersebut?
transversal?
arah getarnya tegak lurus
bukit dan satu lembah
gelombang transversal?
lurus.
gelombang transversal pada 1 panjang
gelombang ?
transversal meliputi 1 bukit dan 1
lembah.
D 2 Apa itu periode? Periode : waktu yang diperlukan untuk
mencapai satu panjang gelombang.
D 3 Apa yang dimaksud dengan frekuensi? Frekuensi adalah banyaknya getaran
tiap detik.
gelombang 75 m, berapa frekuensinya? hz v
f
xfv
yang membentuk 2 gelombang
E 2
pada gelombang longitudinal?
longitudinal adalah 1 rapatan dan 1
renggangan.
dan gelombang longitudinal?
2. Satu gelombang terdiri atas satu
bukit dan satu lembah
dan arah getarnya searah
rapatan dan satu renggangan
1. Ada berapa gelombang gambar di bawah ini:
Gambar 1. Gelombang transversal
a. B-C-D-E-F
b. F-G-H
c. F-G-H-I
d. K-L
3. Jika pada gambar 1, jarak titik A ke titik M adalah 15 cm, berapa cm panjang
gelombangnya?
4.
Ada berapa gelombang yang terbentuk pada gambar 2?
5. Jika jarak A ke B 25 cm, berapa panjang gelombangnya?
6.
A
B
C
D
E
F
H
Gambar.2
13
7.
Jika waktu yang diperlukan untuk bergerak dari A ke B adalah 9 detik. Tentukan:
a. Periode
b. Frekuensi
c. Amplitudo
8. Waktu yang butuhkan gelombang longitudinal untuk merambat dari A ke B adalah 1
sekon.
Hitunglah berapa frekuensi gelombang
9. Sebuah tali dengan panjang 6 m, ujungnya digerakkan sehingga membentuk 2 bukit
dan 2 lembah. Waktu yang diperlukan untuk membentuk 1 bukit dan 1 lembah adalah
1,5 sekon. Hitunglah kecepatan gelombang tersebut!
10.
Sebuah slinki yang diberi usikan membentuk gelombang longitudinal dengan laju 1 m/sekon. Jika dalam waktu 6 sekon terbentuk tiga rapatan dan tiga
regangan, tentukan :
a. Periode