of 23 /23
Sediaan Semisolid Steril Tanggal praktikum : 28 Mei 2015 I. Tujuan Praktikum - Mengetahui dan mampu membuat formulasi sediaan semisolid steril yang baik dan cara pembuatannya - Mengetahui dan mampu melakukan evaluasi sediaan semisolid steril II. Pendahuluan Sediaan semisolid steril umumnya sediaan topikal yang digunakan pada mata dan kulit. Untuk sediaan mata digunakan bentuk sediaan salep steril yang bersifat oklusif agar dapat menempel lebih lama pada daerah yang dileskan dan tidak mudah diencerkan oleh air mata. Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, yang dimaksud dengan salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. Salep mata adalah sediaan semisolida steril yang mempunyai penampilan homogen dan ditujukan untuk pengobatan konjungtiva. Salep mata digunakan untuk tujuan terapeutik dan diagnostik, dan mengandung obat seperti antimikroba (antibakteri dan antivirus), kortikosteroid, antiinflamasi nonsteroid dan midriatik.

Laporan Sediaan Semisolid Steril

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Farmasi

Citation preview

Page 1: Laporan Sediaan Semisolid Steril

Sediaan Semisolid Steril

Tanggal praktikum : 28 Mei 2015

I. Tujuan Praktikum

- Mengetahui dan mampu membuat formulasi sediaan semisolid steril

yang baik dan cara pembuatannya

- Mengetahui dan mampu melakukan evaluasi sediaan semisolid steril

II. Pendahuluan

Sediaan semisolid steril umumnya sediaan topikal yang digunakan

pada mata dan kulit. Untuk sediaan mata digunakan bentuk sediaan salep

steril yang bersifat oklusif agar dapat menempel lebih lama pada daerah

yang dileskan dan tidak mudah diencerkan oleh air mata.

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, yang dimaksud dengan

salep mata adalah salep yang digunakan pada mata.

Salep mata adalah sediaan semisolida steril yang mempunyai

penampilan homogen dan ditujukan untuk pengobatan konjungtiva. Salep

mata digunakan untuk tujuan terapeutik dan diagnostik, dan mengandung

obat seperti antimikroba (antibakteri dan antivirus), kortikosteroid,

antiinflamasi nonsteroid dan midriatik.

Salep mata dapat mengandung satu atau lebih zat aktif yang

terlarut atau terdispersi dalam basis yang sesuai.

Keuntungan sediaan salep mata yaitu sediaan optalmik umumnya

memberikan bioavailabilitas lebih besar dari pada sediaan larutan dalam air

yang ekuivalen. Hal ini disebabkanm karena waktu kontak yang lebih lama

sehingga jumlah obat yang diabsorpsi lebih tinggi. Kekurangannya adalah

salep mata dapat mengganggu penglihatan, kecuali digunakan saat akan

tidur.

Page 2: Laporan Sediaan Semisolid Steril

Syarat-syarat salep mata:

- Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan di bawah kondisi yang

benar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilitas yang

resmi.

- Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan

menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma.

- Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan

untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme

yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. Bahan

antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol, paraben atau

merkuri organik. Bahan obat yang ditambahkan ke dalam dasar salep

berbentuk larutan atau serbuk halus.

- Salep mata harus bebas dari partikel kasar dan harus memenuhi syarat

kebocoran dan partikel logam pada Uji Salep Mata.

- Salep mata tidak boleh mengndung partikel yang dapat mengiritasi

mata.

- Wadah salep mata harus dalam keadaan steril pada waktu pengisian dan

penutupan. Wadah salep mata harus tertutup rapat dan disegel untuk

menjamin sterilitas pada pemakaian pertama.

- Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata, memungkinkan

difusi obat dalam cairan mata dan teta mempertahankan aktivitas obat

dalam jangka waktu tertentu dalam kondisi penyimpanan yang sesuai.

Page 3: Laporan Sediaan Semisolid Steril

III. Alat dan Bahan

III.1Alat

- Cawan penguap

- Kasa steril

- Spatula

- Sudip

- Timbangan elektrik

- Oven

- Mortir

- Stampe

III.2Bahan

- Tetrasiklin HCl

- Paraffin liquid

- BHT

- Benzalkonium klorid

- Vaselin flavum

IV. Daftar Informasi Bahan

IV.1 Analisa Farmakologi

1) Zat aktif : Tertrasiklin HCl

a. Dosis

1% dari dumlah sediaan (Martindale 28, 1982, hal 1222)

b. Indikasi

- Jerawat

- Actynomycosis

- Balantidiasis

- Malaria

- Infeksi vibrio

- Infeksi campylobacter

- Chancroid

- Infeksi Chlanydiar dan Mycoplasma

- Infeksi Dientamuba fragilis

Page 4: Laporan Sediaan Semisolid Steril

c. Kontra Indikasi

- Tetrasiklin kecuali doksisikli umumnya kontraindikasi pada

pasien dengan gangguan ginjal.

- Tetrasiklin tidak boleh diberikan kepada pasien yang

diketahui hipersensitif pada kelompok atibiotik ini

d. Efek Samping

- Efek gastrointestinal

- Alergi

- Anemia megaloblastik

- Perubahan tulang dan gigi

- Hepatotoksik

- Pembentukan eritema berlebihan

- Hipertensi intracanial

- Lupus erythematosus

- Neprotoksik

- Blokade neuromuskular

- Fotosensitif

- Reaksi kulit

- Supra-infeksi

e. Perhatian

- Perhatian harus diberikan jika terjadi kerusakan fungsi ginjal

- Penggunaan tetrasiklin pada wanita hamil harus dihindari

- Dosis antikoagulan kemungkinan dapat terduksi dengan

adanya tetrasiklin

f. Interaksi

Terjadi interaksi dengan Cymetidin, obat diuretik, litium

karbonat, dan plenformin.

g. Mekanisme kerja

Tetrasiklin memiliki aktivitas bakteriostatik sektrum luas dan

menghambat sintesis protein dengan cara memblokade ikatan

dari amynoactil tRNA ke mRNA kompleks ribosom. Ikatan

Page 5: Laporan Sediaan Semisolid Steril

reversibel dapat terjadi terutama pada subunit ribosom 30S dari

organisme (bakteri). Sintesis dinding sel bakteri tidak dihambat.

IV.2 Anailsa Preformulasi

1) Zat aktif : Tetrasiklin HCl

Rumus molekul : C22H24O8.HCl

Bobot molekul : 480,9

Pemerian : Tetrasiklin merupakan serbuk ristal berwarna

kuning, higroskopis, dengan rasa yang kuat.

Titik leleh : 214° C (disertai dekomposisi)

pH : 1,8 – 2,8 dalam 1% b/v larutan

pKa : 3,3 (asam); 7,7 (netral); 9,7 (basa) pada suhu 25° C

Kelarutan : Tetrasiklin HCl larut dalam air (1:10); sedikit larut

dalam etanol (1:100); praktis tidk larut dalam aseton,

kloroform, eter. Larut dalam etanol dan larutan

karbonat atau hidroksi alkali, mekipun dapat terurai

oleh hidroksi alkali. Larutan dalam air menjadi

keruh karena adanya endapan dari tetrasiklin HCl.

Stabilitas : Tetrasiklin secara cepat tidak aktif pada pH < 2 dan

terurai pada pH > 7. Dalam larutan, tetrasiklin

terdegradasi oleh epimerisasi dan dehidrasi menjadi

4-epitetrasiklin (aktivitas antimikroba rendah) dan

anhidrat tetrasiklin HCl, selanjutnya masing-masing

menghasilkan produk toksik 4-epianhidratetrasiklin.

Epimerisasi bersifat reversibel. Reaksi pertama

terjadi pada pH antara 2,5 – 6, sedangkan tetrasiklin

dapat juga terdegradasi oleh oksidasi.

Inkompatbilitas: Tetrasiklin HCl telah dilaporkan inkompatibel

dengan larutan yang mengandung amikasin sulfat,

aminofilin, amfoterisin, natrium ampisilin,

barbiturat, benzilpenisilin, kalsium klorid, kalsium

glukonat, natrium karbenisilin, natrium sefafirin,

Page 6: Laporan Sediaan Semisolid Steril

natrium klorotiazid, natrium kloksasiklin,

kortikotropin, dimenhidrinat, garam eritromisin,

heparin, natrium metisilin, natrium nafsilin, natrium

nitrofurantoin, natrium nopobiosin, natrium

oksasiklin, natrium fenitoin, natrium bikabonat,

streptomisin sulfat, natrium sulfadiazin,

dientanolamin sulfurazol, natrium warfarin.

2) Zat Tambahan

a. Paraffin Liquid

Rumus molekul : C14-C18 (HOPE 6th, 2009, hal 446)

Pemerian : cairan kental, transparan, tidak

berfluoresensi, tidak berarna, hampir tidak

berbau, hampir tidah mempunyai rasa.

(FI III, 1979, hal 474)

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan etanol

95%, larut dalam kloroform dan eter.

(FI III, 1979, hal 474)

Stabilitas : mengalmi oksidasi bila terkena panas dan

cahaya.

Penyimpanan : Harus disimpan di dalam wadah kedap

udara, terlindung dari cahaya, di tempat

dingin dan kering.

Inkompatibilitas : Inkmpaibel dengan oksidator kuat.

Kegunaan : Emolien, lubrikan

(HOPE 6th, 2009, hal 446)

Page 7: Laporan Sediaan Semisolid Steril

b. BHT (Butylated Hydroxytoluene)

Pemerian : Hablur padat, putih atau kuning, bau khas

fenol.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, gliserin,

propilenglikol, asam-asam mineral dan

larutan alkali, mudah larut dalam etanol

dan dalam minyak.

Titik leleh : 70°C

Kegunaan : Antioksidan untuk minyak dan lemak

dengan konsentrasi 0,02%.

Stabilitas : Cahaya, kelembaban, dan panas dapat

menyebabkan hilangnya warna dan

kehilangan aktivitas.

Penyimpanan : Wadah tertutup rapat, terlindung dari

cahaya, di tempat dingin dan kering.

Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan oksidator kuat,

seperti peroksida dan permanganat.

(HOPE 6th, 2009, hal 75-76)

c. Benzalkonium Klorid

Rumus molekul : [C6H5CH2N(CH3)2R]

Bobot molekkul : Rata-rata 360

Pemerian : Serbuk amorf putih atau kekuning-

kuninngan-putih, gel kental. Higroskopis,

bersabun, dan memiliki bau sedikit

aromatik dan rasa sangat pahit.

Kelarutan : Praktis tidak larut dala eter; sangat larut

dalam aseton, etanol (95%), metanol,

propanol, dan air.

Kegunaan : Pengawet antimikroba (sediaan optalmik

dengan konsentrasi 0,01 – 0,02% b/v.

Page 8: Laporan Sediaan Semisolid Steril

Stabilitas : Benzalkonium klorida higroskopis dan

dapat rusak oleh cahaya, udara, dan logam.

Penyimpanan : bahan ruahan harus disimpan dalam wadah

kedap udara, terlindung dari cahaya dan

kontak dengan logam, di tempat dingin dan

kering.

Inkompatabilitas : Inkompatibel dengan aluminium, surfaktan

anionik, sitrat, cotton, fluorescein,

hidrogen peroksida, hypromellosa, iodid,

kaolin, lanolin, nitrat, surfaktan nonionik

konsentrasi tinggi, permanganat, protein,

salisilat, garam perak, sabun, sulfonamida,

tartat, zink oksida, zink sulfat, beberapa

campuran karet, dan beberapa cmpuran

plastik.

(HOPE 6th, 2009, hal 56-57)

d. Vaselin Flavum

Pemerian : Masa lunak, tembus cahaya, tidak berbau,

tidak berasa.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam, aseton, etanol,

gliserin dan air, larut dalam benzene carbon

disulfide, chloroform, eter dan hexan.

Kegunaan : Topikal ointment sampai 100%

Stabilitas : Masalah stabilitas terjadi karena

sejumlahkecil larutan dengan pemaparan

cahaya, larutan ini teroksidasi yang dapat

mengubah vaselin flavum dan menciptakan

bau yang tidak sedap.

Page 9: Laporan Sediaan Semisolid Steril

Inkompatibilitas : Bahan inert yang memiliki beberapa situs

inkompatibilitas.

Sterilisasi : Oven pada suhu 150oC selama 1 jam.

V. Pendekaan Preformulasi

Tetrasiklin HCl merupakan antibiotik yang memiliki spektrum luas,

aktif terhadap gram positif dan gram negatif, spiroket, mikoplasma,

riketsia, klamidia, dan protozoa tertentu. Tetrasiklin merupakan basa yang

sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam natrium atau garam HCl-nya

mudah larut dalam air. Talam bentuk larutan, tetrasiklin sangat labil jadi

cepat berkurang potensinya. Sehingga dibuat sediaan semisolid steril (salep)

tetrasiklin HCl untuk optalmik. Dosis Tertasiklin HCl untuk sediaan

optalmik adalah 1%, sehingga dalam formuls yang dibuat kali ini dipilih

dosis sebesar 1%.

Salep mata adalah sediaan semisolid steril yang mempunyai

penampilan homogen dan ditujukan untuk pengobatan konjungtiva. Salep

mata dapat mengandung satu atau lebih zat aktif yang terlarut atau

terdispersi dalam basis yang sesuai. Basis yang umum digunakan adalah

lanolin, vaselin, dan parafin liquidum serta dapat mengandung bahan

pembantu yang cocok seperti antioksidan, zat penstabil, dan pengawet.

Dalam formula yang dibuat kali ini digunakan vaselin flavum

sebagai basis, karena vaselin flavum merupakan basis salep yang aman/tidak

mengiriyasi mata, sedangkan vaselin putih dapat menyebabkan iritasi mata

oleh kelebihan asam yang dikansung. Parafin liquid 10% selain sebagai

basis, juga berperan untuk menurunkan viskositas dari vaselin flavum dan

untuk menghasilkan basis yang lebih halus. BHT 0,02% sebagai

antioksidan, karena pada formula ini mengandung parafin cair yang mudah

mengalami oksidasi. Benzalkonium klorid 0,01% sebagai pengawet

antimikroba karena salep mata harus mengandung bahan atau campuran

Page 10: Laporan Sediaan Semisolid Steril

yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan mikroba

yang mungkin masuk secara tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu

penggunaan.

Maka formula yang dibuat adalah:

Tetrasiklin HCl 1%

Parafin liquid 10%

BHT 0,02%

Benzalkonium klorid 0,01%

Vaselin flavum ad 10 g

VI. Perhitungan dan Penimbangan

Dibuat 10 pot salep dengan berat masing-masing 10 gram, maka volume

total = 10 x 10 = 100 gr + 2% = 102 gram.

Bahan yang Digunakan Untuk 10 g/pot Untuk 102 g/10 pot

Tetrasiklin HCl 1% 1% x 10 = 0,1 g 1% x 102 = 1,02 g

Parfin liquid 10% 10% x 10 = 1 g 10% x 102 = 10,2 g

BHT 0,02% 0,02% x 10 = 0,002 g 0,02% x 102 = 0,0204 g

Benzalkonium klorid 0,01% 0,01% x 10 = 0,001 g 0,01% x 102 = 0,0102 g

Vaselin flavum ad 10 g 10 – 1,103 = 8,897 g 102 – 11,2506 = 90,7494 g

Page 11: Laporan Sediaan Semisolid Steril

Vaselin flavum Parafin liquid

Ditimbang di atas cawan penguap yang telah dialasi kain kasa steril yang telah ditara

Ditimbang dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit ke dalam cawan yang berisi vaselin

Memilih nomor spindel

Disterilkan dalam oven 150oC selama 30 menitDiperas panas-panas dengan cara menjepitkan kain kasa dengan pinset sterilDidinginkan

Basis salep dingin Tetrasiklin HCl

Ditimbang Digerus dalam mortil sterilDitambah basis salep sedikit demi sedikit

Salep jadi

Dimasukkan ke dalam pot salep steril sebanyak 10 g Diberi etiket dan dikemas dalam kotak disertai brosur

Salep Mata Tetrasiklin HCl

VII. Prosedur

Page 12: Laporan Sediaan Semisolid Steril

Salep Mata Tetrasiklin HCl

Diukur pH dengan indikator pH universal pada suhu 25oC

Hasil pengukuran

Salep jadi Viskometer Brokkfield

Dipilih nomor spindel, dipasangkan pada gantunganDiatur kecepatan

Salep jadi dalam gelas kimia

Spindel dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi salep hingga salep mencapai tanda/lekukan pada spindelDipasang stop kontakDinyalakan rotor sambil menekan tombolDilihat jarum merah pada skalaDibaca angka yang ditunjukkan oleh jarum tersebutDihitung viskositas dengan cara, angka pembaca tersebut dikalikan suatu faktor yang dapat dilihat pada tabel yang terdapat di viskometer

Hasil pengukuran

Dimasukkan kedalam gelas kimia 100 mL

VIII. Evaluasi

VIII.1 Evaluasi Fisik

a. Homogenitas

- Dioleskan pada sekeping kaca

- Diamati sunannya homogen/tidak

b. Warna

c. pH

d. Viskositas (Viscometer Brookfield)

Page 13: Laporan Sediaan Semisolid Steril

IX. Hasil Pengamatan dan Perhitungan

IX.1 Hasil Pengamatan

Evaluasi Fisik Hasil Pengamatan

Homogenitas Menunjukkan susunan yang homogen

Warna Kuning

pH 5

Viskositas 28.000 cPS

IX.2 Perhitungan

a. Viskositas

- No. Spindel = 6

- Kecepatan = 20 Rpm

- Faktor Koreksi = 500

- Skala pembaca = 56

Viskositas = faktor koreksi x skala pembaca

= 500 x 56

= 28.000 cPS

X. Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan praktikum pembuatan sediaan

semisolid steril. Tujuan dari praktikum ini adalah untu mengetahui dan

mampu membuat formulasi sediaan semisolid steril yang baik dan cara

pembuatannya serta mengetahui dan mampu melakukan evaluasi sediaan

semisolid steril.

Pada praktikum kali ini idibuat formulasi semisolid steril berupa

salep mata dengan zat aktif Tetrasiklin HCl. Salep mata adalah sediaan

semisolid steril yang mempunyai penampilan homogen dan ditujukan untuk

pengobatan konjungtiva. Tetrasiklin HCl merupakan antibiotik yang

Page 14: Laporan Sediaan Semisolid Steril

memiliki spektrum luas, aktif terhadap gram positif dan gram negatif,

spiroket, mikoplasma, riketsia, klamidia, dan protozoa tertentu.

Dalam formula yang dibuat kali ini digunakan vaselin flavum

sebagai basis, karena vaselin flavum merupakan basis salep yang aman/tidak

mengiritasi mata, Parafin liquid 10% selain sebagai basis, juga berperan

untuk menurunkan viskositas dari vaselin flavum, BHT 0,02% sebagai

antioksidan, benzalkonium klorid 0,01% sebagai pengawet antimikroba.

Tahap pembuatan sama dengan pembuatan sediaan semisolid non

steril dengan menggunakan metode aseptik. Semua bahan disterilkan

terlebih dahulu sebelum dilakukan langkah yang sesuai dengan pembuatan

semisolid non steril. Basis disterilisasi dengan oven 150oC selama 30 menit.

Dari hasil evaluasi fisik yang terdiri dari homogenitas, warna, pH,

dan viskositas, salep menunjukkan susunan yang homogen, dimana salep

mata ini harus menunjukkan susunan yang homogen agar tidak

menimbulkan iritasi. Warna kuning, yang berasal dari basis vaselin flavum

dan tetrasiklin HCl. Dari hasil pengukuran pH, diperoleh pH 5, dimana pH

tersebut tidak memenuhi salah satu syarat sediaan optalmik yaitu

isohidris,dimana pH air mata adalah 7,4, tetapi pH 5 masih berada pada

rentang pH yang masih dapat ditoleransi oleh mata 3,5 – 8,5, diluar rentang

ini dapat mengiritasi dan meningkatkan laju lakrimasi. Dari hasil

pengukuran viskositas dengan menggunakan viscometer brookfield,

diperoleh viskoositas sebesar 28.000 cPS. Sediaan salep steril harus bersifat

oklusif agar dapat menempel lebih lama pada daerah yang dioleskan dan

tidak mudah diencerkan oleh air mata.

Page 15: Laporan Sediaan Semisolid Steril

XI. Kesimpulan

Dari hasil praktikum pembuatan sediaan semisolid steril, dapat

disimpulkan bahwa formula yang dibuat adala:

Tertrasiklin HCl 1%

Parafin liquid 10%

BHT 0,02%

Benzalkonium klorid 0,01%

Vaselin flavum ad 10 g

Evaluasi sediaan yang dilakukan menunjukkan bahwa sediaan

semisolid yang dibuat memiliki susunan yang homogen, berwarna kuning,

pH 5, dan viskositas 28.000 cPS

Page 16: Laporan Sediaan Semisolid Steril

DAFTAR PUSTAKA

Authority of the Board of the American Society of Health-System Pharmacist.

2008. AHFS Drug Information 4. USA : American Society of Health-

System Pharmacist.

Departement of Pharmaceutical Sciences. 1982. Martindale The Extra

Pharmacopoeia, twenty-eight edition. London : The Pharmaceutical

Press.

DEPKES RI. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Jakarta : DEPKES RI.

Lund, Walter. 1994. The Pharmaceutical Codex, twelfth edition. London : The

Pharmaceutical Press.

Mulyadi, Herry. 2006. Ujian Apoteker Agustus 2006 : Teori Sediaan Obat.

Rowe, Raymond C., Paul J Sheskey and Marian E Quinn. 2009. Handbook of

Pharmaceutical Excipients, sixth edition. London : PhP Pharmaceutical

Press.