of 12 /12
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL KELOMPOK :1 SHIFT : A SOAL : I. Preformulas !a" A#"f Struktur (FI.IV, 1995). Nama kimia 4-(2-Hidroksi-3-isopropolamino propoksi) !nilas!tatamida (FI.IV, 1995). "umus mol!kul #14H22N2$3 (FI.IV, 1995). %!rat mol!kul 2&&,3 (FI.IV, 1995). '!m!rian S!r uk puti atau ampir puti , tidak !r au atau ampir tidak !r au (FI.IV, 1995). *!larutan + ak sukar larut dalam air, larut dalam !tanol mutlak, praktis tidak larut da (FI.IV, 1995). itik l!l! 152-155 # (FI.IV, 1995). Inkompati ilitas Sta ilita 'anas Hidrolisis/oksidasi #a a0a idak ta an p!manasan dan l!m a a an a a0a Kesm$ula% : %!ntuk at akti 0an di unakan asam %!ntuk s!diaan larutan #ara st!rilisasi s!diaan st!rilisasi ak ir d!n an auto la ! *!masan ial II. Per&"u%'a% To%s"as(Osmolar"as )a% Da$ar a. To%s"as !tod! k!s!taraan '!r itun an *. Osmolar"as INJEKSI ATENOLOL 6ik!t 7 IS$ at!nolol 8 2 % at!nolol 8 2&&,3 6it Hit +t!nolol 8 ,5 m /ml 8 5 m /1 ml 8 , 5 m /1 ml : 1 ; 8 , 5; < 8 1= : (7 IS$ / % ) 8 1= : (2/2&&,3) 8 ,12=& +t!nolol 8 , 5; : ,12=& 8 , &3>; Na#l 8 ,9; - , &3>; 8 ,>93&; ( ipotonis) Na#l 0an di utu kan 8 ,>93&; : 1 ,5 8 , 9345 r

Jurnal Praktikum Teknologi Sediaan Steril

Embed Size (px)

DESCRIPTION

h

Citation preview

JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

KELOMPOK : 1 SHIFT : A

INJEKSI ATENOLOL SOAL :

I. Preformulasi Zat AktifStruktur (FI.IV, 1995).

Nama kimia4-(2-Hidroksi-3-isopropolamino propoksi) fenilasetatamida (FI.IV, 1995).

Rumus molekulC14H22N2O3 (FI.IV, 1995).

Berat molekul266,3 (FI.IV, 1995).

PemerianSerbuk putih atau hampir putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau (FI.IV, 1995).

KelarutanAgak sukar larut dalam air, larut dalam etanol mutlak, praktis tidak larut dalam eter (FI.IV, 1995).

Titik leleh152-155 C (FI.IV, 1995).

Inkompatibilitas

Stabilita Panas Hidrolisis/oksidasi Cahaya Tidak tahan pemanasan dan lembab

Tahan cahaya

Kesimpulan :

Bentuk zat aktif yang digunakan : asam

Bentuk sediaan : larutan

Cara sterilisasi sediaan : sterilisasi akhir dengan autoclave

Kemasan : vial

II. Perhitungan Tonisitas/Osmolaritas dan Dapara. TonisitasMetode : kesetaraan

Diket : LISO atenolol = 2 BM atenolol = 266,3Dit :Hit :Atenolol = 0,5 mg/ml = 50 mg/100ml = 0,05 mg/100ml x 100% = 0,05%E = 17 x (LISO / BM) = 17 x (2/266,3) = 0,1276Atenolol = 0,05% x 0,1276 = 0,00638%NaCl = 0,9% - 0,00638% = 0,8936% (hipotonis)NaCl yang dibutuhkan = 0,8936% x 10,5 = 0,09345 grPerhitungan :

b. OsmolaritasPerhitungan :

Kesimpulan :Sediaan bersifat hipo-iso-hipertonis : ____________________Perhatian yang harus dicantumkan dalam informasi obat :________________________________________________________________________

c. DaparJenis dapar/kombinasi

Target pH

Kapasitas dapar

Perhitungan :

III. Pendekatan FormulaNoBahanJumlah (%)Fungsi / alasan penambahan bahan

1Atenolol 0,5 mg/mlZat aktif

2NaCl0.89 %Pengisotonis

3

4Aqua proinjeksi Add 10mlPelarut

Di buat 2 vial (10 ml/vial) Atenolol = 0.5 mg x 20 ml = 10 mg + 5 % = 10.5 mg NaCL = 0.89% x 20 ml = 0.178 g + 5 % = 0.1869 g Aqua pro injeksi ad 21 ml

IV. Preformulasi eksipient4.1. NaClStruktur kimiaNa Cl (Rowe, 2009)

Rumus molekulNaCl (Rowe, 2009)

Nama kimiaNatirum klorida

SinonimAlberger; chlorure de sodium; common salt; hopper salt; natrii chloridum; natural halite; rock salt; saline; salt; sea salt; table salt (Rowe, 2009)

Berat molekul58,44

PemerianHahlur bentuk kubus, tidak berwarna atau serhuk hahlur putih; rasa asin (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)

KelarutanMudah larut dalam air; sedikit lehih mudah larut dalam air mendidih; larut dalam gliserin; sukar larut dalam etanol (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)

pH 6,7 7,3 (Rowe, 2009)

pKa-

Titik leleh-

InkompatibilitasDengan besi, perak, timbale, dan garam merkuri,serta metil paraben dan agen pengoksidasi (Rowe, 2009)

Stabilitas Panas Hidrolisis/oksidasi Cahaya--Harus terlindungi dari cahaya matahari (Rowe,2009)

KegunaanPengencer tablet dan kapsul; agen tonisitas (Rowe, 2009)

PenyimpananDalam wadah tertutup rapat sejuk, dan kering (Rowe, 2009)

4.2. NaOHStruktur kimiaNa-OH (FI.IV, 1995).

Rumus molekulNaOH (FI.IV, 1995).

Nama kimiaNatirum hidroksida (FI.IV, 1995).

Berat molekul40,00 (FI.IV, 1995).

PemerianPemerian putih atau praktis putih, massa melebur, berbentuk pellet, serpihan atau batang bentuk lain. Keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur bila dibiarkan di udara, akan cepat menyerap karbon dioksida dan lembab (FI.IV, 1995).

KelarutanMudah larut dalam air dan dalam etanol (FI.IV, 1995).

pH 12-14 (British pharmacopoeia, 2009).

pKa-

Titik leleh318 C (British pharmacopoeia, 2009).

InkompatibilitasBasa kuat dan tidak kompatibel dengan senyawa yang mudah mengalami hidrolisis atau oksidasi. Bereaksi dengan asam, ester dan eter dalam larutan air (Rowe,dkk, 2009).

Stabilitas Panas Hidrolisis/oksidasi CahayaHarus disimpan dalam wadah non-logam kedap udara, sejuk dan kering. Mudah menyerap kelembaban dan mencai, tetapi kemudian memadat kembali karena penyerapan karbon dioksida dan pembentukan natrium karbonat (Rowe,dkk, 2009).

Kegunaan

PenyimpananWadah tertutup rapat (FI. IV, 1995).

4.3. Aqua Proinjeksi

Struktur kimiaH-O-H (FI.IV, 1995).

Rumus molekulH2O (FI.IV, 1995).

PemerianCairan, jernih, tidak berwarna, tidak berbau (FI.IV, 1995).

KelarutanLarut dalam pelarut polar (FI.IV, 1995).

pH 12-14 (British pharmacopoeia, 2009).

pKa-

InkompatibilitasDapat bereaksi dengan obat-obatan dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis dan suhu tinggi. Dapat bereaksi dengan logam alkali, garam anhidrat dan berbagai bahan organik dan kalsium karbida (Rowe,dkk, 2009).

Stabilitas Panas Hidrolisis/oksidasi CahayaStabil di lingkungan es, cair dan uap dilindungi oleh ion dan kontaminasi organik yang dapat menyebabkan konduktivitas dan jumlah karbon organik meningkat (Rowe,dkk, 2009).

Kegunaan

PenyimpananWadah tertutup rapat (Rowe,dkk, 2009).

V. Persiapan Alat/Wadah/Bahan a. AlatNoNama alatJumlahCara sterilisasi (lengkap)

1Batang pengaduk2Oven, 170C, 2 jam

2Corong 1Oven, 170C, 2 jam

3Erlenmeyer 1Autoclave, 121C, 15 menit

4Gelas beaker3Autoclave, 121C, 15 menit

5Gelas ukur1Autoclave, 121C, 15 menit

6Kaca arloji4Oven, 170C, 2 jam

7Karet pipet tetes3Autoclave, 121C, 15 menit

8Pipet tetes3Oven, 170C, 2 jam

b. WadahNoNama alatJumlahCara sterilisasi (lengkap)

1

2Karet vial2Etanol 70%, 24 jam

3Vial 2Oven, 170C, 2 jam

c. Bahan (hanya untuk cara aseptic)NoNama bahanJumlahCara sterilisasi (lengkap)

1Atenolol 10.5 mgSterilisasi akhir dg autoclave, 121C, 15 menit

2NaCl189 mgautoclave, 121C, 15 menit

3

4Aqua proinjeksi Add 21mlAutoclave, 121C, 15 menit

VI. Penimbangan BahanJumlah sediaan yang dibuat : 2 vial

NoNama bahanJumlah yang ditimbang

1Atenolol 10.5 mg

2NaCl189 mg

3

4Aqua proinjeksiAd 21 ml

VII. Prosedur PembuatanRUANGPROSEDUR

Disiapkan alat, wadah dan bahan yang diperlukan

Grey Area(Ruang Sterilisasi)Disterilkan sesuai prosedur :Dicuci alat, wadah dan bahan , dikeringkan dan dibungkus dengan kertas perkamen 2 lapisSebelum disterilkan, dikalibrasi gelas beker 100ml menjadi 50mlDisterilkan alat, wadah dan bahan dengan metode : Panas basah (autoclave, 121C, 15 menit) : gelas beker, kaca arloji, pipet tets, gelas ukur, batang pengaduk, erlenmeyer dan vial Kimia (etanol 70%, 24 jam) : karet pipet tetes, karet tutup vial Panas kering (oven, 170C, 1 jam) : batang pengaduk, NaCL, NaOH

Dibuat aqua proinjeksi : disterilkan 100ml aquades dengan autoclave, 121C, 15 menit

Setelah disterilkan, semua alat dan wadah dimasukkan ke dalam white area, transfer box

Ruang PenimbanganDitimbang bahan-bahan menggunakan kaca arlojiDi-addkan aqua proinjeksi dengan gelas ukur sampai 1ml

White Area(Ruang Pencampuran)Disiapkan aqua proinjeksiDilarutkan atenolol ke dalam gelas beker dengan aqua proinjeksi secukupnya, diaduk hingga homogen dengan batang pengadukDilarutkan masing-masing bahan eksipien dalam gelas beker dengan aqua proinjeksi secukupnya, diaduk hingga homogen dengan batang pengadukDimasukkan satu-persatu larutan eksipien ke dalam larutan zat aktif, diaduk hingga homogen dengan batang pengadukDihomogenkan campuran larutan, kemudian larutan ditambahkan aqua proinjeksi sampai mencapai 80% dari total volume sediaanDilakukan pengecekan pH menggunakan pH indikator universalBila pH belum mencapai nilai yang diharapkan, maka ditambahkan NaOH hingga pH larutan mencapai 6, lalu digenapkan dengan aqua proinjeksiDisaring larutan sediaan menggunakan membran filter (0,45m) dan ditampung dengan erlenmeyerDiisi setiap vial dengan sediaan sebanyak 10,5ml, ditutup vial aluminium foilDibawa vial ke ruang penutupan melalui transfer box

White Area(Ruang Penutupan Grade C)Ditutup vial yang sudah terisi dengan tutup karet vial, lalu diseal dengan aluminium foil

Grey Area(Ruang Sterilisasi)Disterilisasi sediaan menggunakan autoclave, 121C, 15 menitDisimpan sediaan didalam gelas kimia yang telah dilapisi kapasBotol yang sudah disterilisasi dibawa ke ruang evaluasi untuk dilakukan evaluasi pada sediaan

Grey Area(Ruang Evaluasi)Dilakukan evaluasi sediaanDiberi etiket dan brosurDikemas dalam wadah sekunder

VIII. Evaluasi SediaanNoJenis evaluasiPrinsip evaluasiJumlah sampelHasil pengamatanSyarat

1Penetapan pHMenggunakan air bebas karbondioksida P. Elektroda, larutan baku, larutan uji1Ph= 6Nilai pH dalam darah normal 7,35 7,45 (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)

2Penetapan volume injeksi dalam wadahMenggunakan spuit yang bisa menampung isi 3 buah ampul dan dipindahkan ke dalam sediaan semula 1Vol = 8.6 mlVolume injeksinya itu harus dilebihkan. Kelebihan volume yang dianjurkan dipersyaratkan dalam FI IV (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)

3Bahan partikulat dalam injeksiBebas dari partikel yang dapat diamati pada pemeriksaan secara visual.Bertujuan untuk memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilitas dan volume serta kestabilan sediaan. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995Bebas partikulatTidak ada boleh bahan partikulat pada sediaan injeksi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995

4Uji kebocoranBertujuan untuk memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilitas dan volume serta kestabilan sediaan. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)

Volume pada sediaan injeksi harus sesuai dengan jumlah volume pada etiket yang tertera (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)

5Uji kejernihan larutanDilakukan dibawah cahaya yang terdifusi, tegak lurus ke arah bawah tabung.Setiap larutan obat suntik harus jernih dan bebas dari kotoran sehingga diperlukan uji kejernihan secara visual (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995Larutan jernihSetiap sediaan injeksi yang dibuat harus terlihat jernih (tidak ada zat atau bahan pengotor lain pada sediaan injeksi) (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)

6Uji keseragaman sediaanMenimbang 10 vial satu per satu dan ditetapkan sesuai monografi

7Uji efektivitas pengawet antimikroba

8Uji kandungan zat antimikrobazat yang tertera tidak lebih dari 20% dari jumlah yang tertera pada etiket

8Uji sterilitasMenginokulasi langsung kedalam media pembenihan lalu diinkubasi pada suhu 2 sampai 250C

9Uji pirogentasUji dilakukan dalam ruang terpisah yang khusus dan dengan kondisi yang sama dengan ruang pemeliharaan

10Uji endokrin bakteriDilakukan menggunakan limunus amebocyte lysate (LAL)

Kesimpulan :Sediaan memenuhi syarat / tidak memenuhi syarat

IX. PembahasanPada praktikum kali ini dilakukan percobaan pembuatan injeksi atenolol. Tujuan pada praktikum kali ini adalah agar mahasiswa dapat memehamai dan membuat Injeksi injeksi atenolol. Injeksi merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kuit atau melalui kulit atau selaput lendir. Solutio atau larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suing, kecuali dinyatakan lain. Untuk larutan steril yang diugnakan sebagai obat uar harus mmenuhi syarat yang tertera pada injectiones.Atenolol merupakan agen pemblok reseptor beta-adrenergik (-adrenergik)yang selektif pada reseptor1 tanpa aktivitas agonis parsial simpatomimetik intrinsik atau stabilisasi membran.Atenolo di berikan sebagai anti hipertensi. Rute pemberian adalah intravena dikarenakan efek yang di inginkan cepat. Adapun keuntungan dan kerugian nya Keuntungan sediaan parenteral: Aksi obat lebih cepatCocok untuk obat inaktif jika diberikan oralObat yang mengiritasi bila diberikasn secara oral Kondisi pasien (pingsan, dehidrasi) sehingga tidak memungkinkan obat diberikan secar oralDapat digunakan secara depo terapi. Kemurniaan dan takaran zat berkhasiat lebih terjamin. Kerugian sediaan parenteral:Karena bekerja cepat, jika terjadi kekeliruan sukaar dilakukan pencegahan.Secara ekonomi lebih mahal dibandingkan sediaan per oral .Risiko, kalau alergi atau salah obat maka tidak bisa langsung dighilangkan Cara pemberian lebih sukar, butuh personil khusus, misal di rumah sakit oleh dokter atau perawat.

Pada praktikum kedua yaitu membuat injeksi Atenolol yang berfungsi sebagai anti hipertensi Pembuatan dengan menggunakan pelarut air. Atenolol merupakan zat yang larut dalam air, sehingga pembuatanya juga lebih stabil dengan pelarut air. Pembawa air yang digunakan adalah a.p.i (aqua pro injeksi). Aqua pro injeksi di buat dengan didihkan aqua bides selama 30 menit dihitung dari setelah air mendidih di atas api lalu didinginkan.d i + karbon aktif 0,1% dari volume,dipanaskan 60-70oC selama 15 menit.dinginkan kemudian di saring dan di sterilisasi wadah yang di gunakan adalah vial transparan di karenakan zat aktif tidak rusak oleh cahayaFormulasi sediaan injeksi ,atenolol sebagai zat aktif stabil dalam rentang ph yang luas sehingga tidak di perlukan penambahan dapar. langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan pengecekan tonisitas larutan dalam formula, apakah akan menghasilkan larutan infuse isotonis atau tidak isotonis. Larutan harus dibuat isotonis karena nantinya akan berinteraksi langsung dengan darah. Jika hipertonis, dimana tekanan osmotiknya lebih besar dari tekanan darah makan dapat terjadi plasmolisis atau hilangnya kadar air dari sel darah, sehingga sel darah akan mengkerut. Jika larutan hipotonis, yaitu tekanan osmotiknya kurang dari tekanan darah maka akan terjadi hemolisis yaitu eritrosit akan pecah. Hal ini karena air akan masuk kedalam eritrosit dengan melewati membran semi permiabel sehingga terjadi peningkatan volume darah, dan jika berkelanjutan akan pecah. Pada pemberian secara intravena dalam volume yang kecil isotonis bukanlah syarat yang mutlak. Hal ini karena jumlah cairan tubuh jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah cairan yang dimasukkan, sehingga terjadi pengenceran yang cepat. pada larutan hipotonis akan mengalami peristiwa osmose. Osmose merupakan peristiwa dimana terjadi aliran cairan dari tekanan rendah ke tekanan tinggi. Karena hipotonis mempunyai tekanan yang lebih rendah dari cairan tubuh, maka sel darah lama-kalamaan akan pecah kerana tidak mampu lagi menampung cairan yang masuk. Pecahnya sel darah merah dinamakan hemolisis. Peristiwa hemolisis bersifat irreversible yang artinya tidak dapat balik lagi seperti semula. Oleh karena itu sangat membayahakan jika sediaan parenteral yang dimasukkan ke dalam tubuh bersifat hipotonis.Berdasarkan hasil perhitungan didapat nilai 0.00638 % yang artinya injeksi atenolol dalam formula bersifat hipotonis, sehingga perlu pengatasan agar sifatnya berubah dari hipotonis mejadi isotonis. Larutan yang hipotonis,tidak boleh dimasukkan ke dalam tubuh karena selain menyebabkan rasa sakit, juga dapat menimbulkan efek yang membahayakan mengatasinya, maka perlu penambahan zat pengisotonis,tujuannya adalah untuk mencegah rasa nyeri yang ditimbulkan karena perbedaan tekanan osmosis antara larutan dan jaringan. Dalam praktik ini zat pengisotonis yang digunakan adalah NaCL dimana dari perhitungan di dapat NaCL yang perlu di tambahkan 0.89 %Prosedur kerja nya yang pertama mensterilkan semua alat yang di butuhkan menggunakan metode yang sesuai , sterilisasi uap (panas basah) dengan menggunakan autoclave, sterilisasi panas kering menggunakan oven. Sterilisasi uap air ini lebih efektif dibandingkan dengan sterilisasi panas kering. Bila ada uap air, bakteri akan dikoagulasi dan dirusak pada temperatur yang lebih rendah daripada tidak ada kelembaban. Sel bakteri dengan air besar umumnya lebih mudah dibunuh. Pada spora-spora yang kadar airnya relatif rendah maka akan sulit dihancurkan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa proten esensial organisme tersebut. Adanya uap air yang panas dalam sel mikroba menimbulkan kerusakan pada temperatur yang lebih rendah. Sedangkan untuk sterilisasi panas kering, kematian mikroba diakibatkan karena adanya sel mikroba mengalami dehidrasi diikuti dengan pembakaran pelan-pelan atau proses oksidasi.Proses selanjutnya adalah menimbang Atenolol dan Nacl . Di larutkan NaCl dengan aqua pro injeksi kemudian atenolol di larutkan didalam larutan NaCL. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam vial kemudian di periksa Ph nya,hasil pemeriksaan menunjukkan sediaan sudah sesuai dengan rentang Ph nya sehingga tidak perlu di adjust PH nya. Apabila zat terlalu asam maka dapat di tambahkan NaOH dan apabila terlalu basa dapat di tambah HCL. Kemudian di tambah aqua pi ad tanda kalibrasi kemudian di saring dengan membrane filter lalu di sterilisasi akhir menggunakan autoklaf lalu di evaluasi.Uji pH Uji pH ini bertujuan unttuk mengetahui sifat ke asam-basaan dari sediaan injeksi Atenolol yang dibuat. Uji pH ini berkaitan dengan stabilitas obat dan keamanan dalam penggunaan. Hasil pemeriksaan pH larutan yang didapat yaitu 6. Ini berarti memenuhi untuk pH sediaan parenteral yaitu antara 5 sampai 6 karena pH tersebut isohidris dengan nilai pH darah dan cairan tubuh lainnya. Isohidris yaitu keadaan dimana pH larutan sama dengan pH darah ataupun cairan tubuh. Namun jika dalam uji ini belum memenuhi persyaratan pH maka perlu dilakukan penyesuaian pH agar memenuhi syarat. Jika terlalu asam, maka bisa ditambah larutan NaOH 0,1 N. Dan jika terlalu basa dapat ditambah larutan HCl 0,1 N. Tujuan dari pengaturan pH ini adalah untuk meningkatkan stabilitas obat. Selain itu juga untuk mencegah adanya rangsangan atau rasa sakit sewaktu disuntikkan. Karena jika terlalu tinggi dapat menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan jika terlalu rendah maka menyebabkan rasa sakit sewaktu disuntikkan.Uji partikel asing Tujuan dari uji partikel asing ini adalah agar mengetahui apakah ada partikel dalam larutan. Partikel asing tersebut merupakan partikel-partikel yang tidak larut yang dapat berasal dari larutan dan zat kimia yang terkandung, lingkungan, peralatan, personal, maupun dari wadah. Partikel asing tersebut dapat menyebabkan pembentukan granuloma patologis dalam organ vital tubuh. Untuk mengetahui keberadaan partikel asing dilakukan dengan menerawang sediaan pada sumber cahaya. Dari hasil uji ini didapat bahwa tidak terdapat partikel asing dalam injeksi. Jika terdapat partikel asing bisa terjadi karena sewaktu penyaringan masing ada partikel yang lolos dari saringan.Uji kejernihan Tujuan dilakukan uji kejernihan ini adalah untuk mengetahui kejernihan dari larutan infus yang dibuat. Kejernihan adalah suatu batasan yang relatif, yang artinya sangat dipengaruhi oleh penilaian subjektif dari pengamat. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh bahwa larutan infus yang dibuat memenuhi syarat kejernihan.Pengujian keseragaman volume berkaitan dengan uji kebocoran. Untuk injeksi dalam bentuk cairan, volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan. Dari pengujian ini didapatkan hasil yaitu terdapat penyusutan. Sehingga dapat dikatakan tidak memenuhi keseragaman volume, yaitu 10 ml setelah sterilisasi volumenya menjadi 8.6 ml

x. Kesimpulanformula yang di usulkan :Atenolol 0.5 mg/mlNaCL 0.89 %Aqua pi ad 10 ml

X. Daftar PustakaBritish Pharmacopoeia. (2009). British Pharmacopoeia, Volume I & II. London: Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA)

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Inodonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Kawasaki, Jiro. 2006. The Japanese Pharmacopoeia. Jepang : The Minister of Health, Labour, and Welfare.Rowe, Raymond C., Paul J Shesky, and Marian E Quinn. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition. London : the Phamaceutical Press and Washington: the American Pharmacists Association.Sweetman, Sean C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference 36th. London : the Pharmaceutical Press.

USP. 2007. United States Pharmacopoiea- National Formulary 30. United States : The Official Compendia of Standards.