of 37 /37
1 USULAN PENELITIAN HIBAH BERSAING JUDUL PENELITIAN REKONSTRUKSI TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM) SEBAGAI STRATEGI IMPLEMENTASI SISTEM AKUNTANSI BERBASIS AKRUAL DI PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG TIM PENGUSUL Yulita Zanaria, S.E., M.Si., Akt., CA. NIDN. 0213076802 Suyanto, S.E, M.Si., Akt., CA. NIDN. 0230107502 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO APRIL 2015 KODE/NAMA RUMPUN ILMU : 562/AKUNTANSI

KODE/NAMA RUMPUN ILMU : 562/AKUNTANSI

  • Author
    others

  • View
    8

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KODE/NAMA RUMPUN ILMU : 562/AKUNTANSI

BERBASIS AKRUAL DI PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG
TIM PENGUSUL
NIDN. 0213076802
NIDN. 0230107502
2.2 Teori Self-Efficacy ................................................................ 6
Usefulness ............................................................................. 7
perceived usefulnes dan perceived ease of use ..................... 7
2.5 Dimensi Budaya Maskulinitas/Femininitas dalam perceived
usefulnes dan perceived ease of use ..................................... 9
2.6 Perceived usefulnes dalam Perceived ease of use,
Behavioral Intention to Use dan Attitude ............................ 10
2.7 Hubungan Commitment to System dalam perceived ease of
use, attitude dan Behavioral Intention to Use ..................... 11
2.8 Kerangka Konseptual Penelitian .......................................... 11
2.9 Roadmap Penelitian .............................................................. 12
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian ..................................................................... 13
3.3 Tahapan Penelitian .................................................................. 14
3.4 Luaran Penelitian .................................................................... 16
4.1 Biaya Penelitian ...................................................................... 17
4.2 Jadwal Penelitian ..................................................................... 17
Akuntansi Pemerintahan mengunakan akrual basis, menjelaskan bahwa batas
waktu penerapan sistem akuntansi akrual secara penuh (full accrual) paling
lambat 5 tahun sejak diterbitkan. Namun hingga batas waktu yang ditetapkan,
pemerintah Provinsi Lampung masih banyak kendala yang dihadapi sehingga
sampai saat ini belum bisa menerapkan secara penuh dan masih menggunakan
sistem akuntansi basis kas menuju akrual (cash toward accrual). Model
Technology Acceptance Model (TAM) dalam implementasi sistem karena konsep
tersebut dianggap paling baik dalam menjelaskan perilaku user atau pemakai
terhadap sistem teknologi informasi baru. Namun, penerapan TAM selama ini
masih terbatas pada variabel inti dan perlu mempertimbangkan beberapa faktor
yang mengacu pada situasi di pemerintahan propinsi Lampung.
Identifikasi kendala aparat pemerintah daerah yang terlibat dalam
rekontruksi rancangan dan implementasi sistem akuntansi berbasis akrual
menggunakan metode deskriptif kualitatif serta analisis SWOT. Analisis data
dalam rekonstruksi model adalah Structural Equation Model (SEM) dengan
program AMOS. Analisis ini ditujukan untuk memperoleh bukti empiris mengenai
konsep Technology Acceptance Model (TAM) mampu menjelaskan perilaku user
dalam penerimaan implementasis sistem akuntansi berbasis akrual di Pemerintah
Provinsi Lampung.
implementasi sistem akuntansi berbasis akrual dan teridentifikasinya kendala-
kendala di Pemerintah Provinsi Lampung. Sedangkan untuk tahun kedua berupa
model fit TAM dalam implementasi sistem akuntansi berbasis akrual yang
terpublikasikan dalam jurnal ilmiah nasional ber-ISSN.
5
Organisasi sektor publik di Indonesia telah banyak mengalami perubahan
baik secara kelembagaan, organisasi dan manajerial dalam rangka memenuhi
kebutuhan yang semakin meningkat akan akuntabilitas keuangan, efisiensi dan
efektifitas. Perubahan manajemen sektor publik tersebut kemudian dikenal dengan
istilah New Public Management (NPM). NPM berakar dari teori manajemen yang
beranggapan bahwa praktik bisnis komersial dan manajemen sektor swasta adalah
lebih baik dibandingkan dengan praktik dan manajemen pada sektor publik.
(Mardiasmo, 2012).
perubahan pada akuntansi sektor publik, yaitu perubahan sistem akuntansi dari
akuntansi berbasis kas menjadi akuntansi berbasis akrual. Perubahan tersebut
diperlukan karena sistem akuntansi berbasis kas dianggap saat ini tidak lagi
memuaskan, terutama karena kekurangannya dalam menyajikan gambaran
keuangan yang akurat dan dalam memberikan informasi manajemen yang berguna
dan memadai untuk memfasilitasi perencanaan dan proses kinerja (Cohen, et, al.
2007). Menurut Christiaens, et al. (2013) reformasi akuntansi pemerintahan
sering menjadi langkah pertama reformasi pemerintah dan itulah sebabnya dapat
dianggap sebagai kondisi yang penting dan prasyarat bagi keberhasilan reformasi
pemerintah lainnya di bawah gelombang transformasi kebijakan pemerintah,
seperti reformasi organisasi dan manajerial. Oleh karena itu, penerapan yang
efektif dan sukses dari reformasi akuntansi berperan penting dan dominan dalam
penerapan dan keberhasilan praktik dan teknik dalam manajemen organisasi
sektor publik. Tanpa implementasi yang memadai dan sukses, semua manfaat,
tujuan dan harapan reformasi akan hilang karena fakta bahwa sistem akuntansi
yang baru tidak akan dapat memberikan informasi manajerial dan keuangan yang
relevan dan akurat untuk mendukungnya (Christiaens dan Van Peteghem, 2013).
6
dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan UU No. 15
Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
Negara. Salah satu ketentuan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara yaitu mewajbkan adanya Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) sebagai basis penyusunan laporan keuangan bagi instansi
pemerintah. Dalam salah satu penjelasan di Undang-undang Perbendaharaan
Negara disebutkan bahwa SAP dimaksud ditetapkan dalam suatu peraturan
pemerintah yang saat ini diatur dengan PP No. 71 Tahun 2010. Salah satu ciri
pokok dari perubahan tersebut adalah penggunaan basis akuntansi dari basis kas
menjadi basis akrual. Secara sederhana, akuntansi berbasis kas mengakui dan
mencatat transaksi pada saat terjadinya penerimaan dan pengeluaran kas dan tidak
mencatat aset dan kewajiban. Sedangkan basis akrual mengakui dan mencatat
transaksi pada saat terjadinya transaksi (baik kas maupun non kas) dan mencatat
aset dan kewajiban.
Pada PP No. 71 Tahun 2010 menetapkan bahwa batas waktu penerapan
sistem akuntansi berbasis akrual secara penuh (full accrual) adalah tahun 2015.
Namun kenyataannya penerapan sistem akuntansi berbasis akrual tersebut
menjadi kendala bagi sebagian besar Pemerintah Daerah/Kota di Indonesia
termasuk Pemerintah di Provinsi Lampung. Sehingga sampai saat ini belum bisa
diterapkan secara penuh dan masih menggunakan sistem akuntansi berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 yaitu basis kas menuju akrual (cash
toward accrual. Kenapa Pemerintah Provinsi Lampung belum secara penuh
menerapkan sistem akuntansi berbasis akrual sesuai amanat PP Nomor 71 Tahun
2010? Bagaimana tingkat kesiapan pemerintah Provinsi Lampung dalam
mengimplementasikan sistem akuntansi berbasis akrual? Apa sebenarnya yang
menjadi tantangan bagi pemerintah Provinsi Lampung dalam implementasi sistem
akuntansi tersebut? Bagaimana strategi sistem akuntansi berbasis akrual dapat
diimplementasikan? Hal inilah yang menjadi pertanyaan mendasar bagi peneliti
dan berusaha menjelaskannya dalam penelitian ini.
7
konsep Technology Acceptance Model (TAM). Penggunaan model TAM
didasarkan pada pendapat Venkatesh dan Davis (2010) yang menyatakan bahwa
sejauh ini TAM merupakan sebuah konsep yang dianggap paling baik dalam
menjelaskan perilaku user atau pemakai terhadap sistem teknologi informasi baru.
Menurut Venkatesh dan Davis (2010) TAM secara empiris terbukti menjelaskan
40% usage intensions dan behavior.
Secara teoritis dan praktis TAM merupakan model yang dianggap paling
tepat dalam menjelaskan bagaimana user menerima sebuah sistem. TAM
menyatakan bahwa behavioral intension to use ditentukan oleh dua keyakinan
yaitu: pertama, perceived usefulness yang didefinisikan sebagai sejauh mana
seseorang yakin bahwa menggunakan sistem akan meningkatkan kinerjanya.
Kedua, perceived ease of use yang didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang
yakin bahwa penggunaan sistem adalah mudah. TAM juga menyatakan bahwa
dampak variabel-variabel eksternal seperti (karakteristik sistem, proses
pengembangan dan pelatihan) terhadap intension to use adalah dimediasi oleh
perceived of usefulness dan perceived ease of use. Konsep TAM juga menyatakan
bahwa perceived usefulness dipengaruhi oleh perceived ease of used.
Namun demikian, selama ini penerapan TAM hanya terbatas pada variabel
inti yang dalam kenyataannya masih terdapat beberapa faktor atau variabel lain
yang perlu dipertimbangkan, seperti self efficacy, dimensi budaya dan
commitment to system use. Pada penelitian ini, selain menggunakan konsep inti
variabel-variabel TAM, juga mengembangkan dengan menambahkan variabel-
variabel lain sebagai bentuk modifikasi tambahan konsep TAM dengan mengacu
pada situasi yang ada pada pemerintahan propinsi Lampung.
Pengembangan variabel TAM dalam penelitian ini meliputi self efficacy,
dimensi budaya dan commitment to system use yang terdiri dari tiga dimensi yaitu
internalization, identification, dan compliance dalam menjelaskan proses
penerimaan penggunaan sistem akuntansi akrual basis. Self efficacy berakar dari
teori kognitif sosial yang menyatakan bahwa dengan melihat orang lain melalukan
sesuatu, maka seseorang akan memiliki persepsi mengenai kemampuan dirinya
dalam melakukan hal yang sama, Lewis et, al. (2013). Bandura dalam Lewis et al
8
melakukan sebuah pekerjaan dengan baik.
Dua dimensi budaya Hofstede yang dimasukkan dalam model studi ini
merupakan bentuk dari pengembangan model TAM yang telah ada. Budaya yang
diadopsi adalah penghindaran ketidakpastian dan maskulinitas/femininitas. Kedua
dimensi ini sangat berhubungan dengan teknologi (Hofstede, 2013; Venkatesh
and Morris, 2010). Budaya mempengaruhi cara manusia bertindak di dalam
organisasi. Bagaimana orang bekerja, memandang pekerjaan mereka, bekerja bersama
rekan kerja, dan memandang masa depan sebagian besar ditentukan oleh norma
budaya, nilai-nilai, dan kepercayaan (Ott dalam Gibson et al., 2006).
1.6 Perumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang di atas, rumusan pertanyaan penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang menjadi kendala utama dalam implementasi sistem akuntansi
berbasis akrual?
2. Bagaimana kesiapan Pemerintah Provinsi Lampung dalam menerapkan secara
penuh sistem akuntansi berbasis akrual sesuai amanat PP Nomor 71 Tahun
2010?
menjelaskan perilaku user dalam penerimaan implementasis sistem akuntansi
berbasis akrual?
Pemerintah Provinsi Lampung dalam implementasi sistem akuntansi
berbasis akrual?
Nomor 71 Tahun 2010?
dalam implementasis sistem akuntansi berbasis akrual?
1.8 Urgensi Penelitian
mengganti PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
mengunakan accrual basis, pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa
langkah untuk meningkatkan kinerja sektor publik. Pada Peraturan Pemerintah
tersebut menjelaskan bahwa batas waktu penerapan sistem akuntansi akrual secara
penuh (full accrual) paling lambat 5 tahun sejak diterbitkan. Namun demikian
hingga batas waktu yang ditetapkan, pemerintah Provinsi Lampung masih banyak
kendala yang dihadapi sehingga dapat menerapkan secara penuh dan masih
menggunakan sistem akuntansi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun 2005 yaitu basis kas menuju akrual (cash toward accrual.
Implementasi serta perubahan sebuah sistem keuangan merupakan suatu
persoalan tersendiri apabila hal ini tidak ditanggapi secara serius dan bijaksana
oleh para aparatur pemerintah, karena hal ini dapat mempengaruhi sikap dan
perilaku pegawai di lingkungan pemerintahan. Hal ini terjadi karena setiap
perubahan sistem dapat saja mengancam karier maupun posisi kerja bagi sebagian
pegawai yang selama ini merasa diuntungkan dengan sistem lama. Oleh karena
itu, pemerintah daerah perlu memperhatikan berbagai faktor perilaku dalam
implementasi sistem accrual basis sehingga dapat meningkatkan manfaat dari
implementasi sistem yang baru tersebut.
Penggunaan model Technology Acceptance Model (TAM) didasarkan
pada pendapat Venkatesh dan Davis (2010) yang menyatakan bahwa sejauh ini
TAM merupakan sebuah konsep yang dianggap paling baik dalam menjelaskan
perilaku user atau pemakai terhadap sistem teknologi informasi baru. Secara
teoritis dan praktis TAM merupakan model yang dianggap paling tepat dalam
menjelaskan bagaimana user menerima sebuah implementasi sistem. Namun,
penerapan TAM selama ini masih terbatas pada variabel inti yang perlu
mempertimbangkan beberapa faktor atau variabel lain. Oleh karena itu, penelitian
10
ini mengembangkan dengan menambahkan variabel-variabel lain sebagai bentuk
modifikasi tambahan konsep TAM dengan mengacu pada situasi yang ada pada
pemerintahan propinsi Lampung, yaitu self efficacy, dimensi budaya dan
commitment to system use.
Technology Acceptance Model (TAM), diperkenalkan pertama kali oleh
Davis pada tahun 1989. TAM dibuat khusus untuk pemodelan adopsi pengguna
system informasi. TAM mendeskripsikan terdapat dua faktor yang secara
dominan mempengaruhi integrasi teknologi. Faktor pertama adalah persepsi
pengguna terhadap manfaat teknologi. Sedangkan faktor kedua adalah persepsi
pengguna terhadap kemudahan penggunaan teknologi (ease of use). Kedua faktor
tersebut mempengaruhi kemauan untuk memanfaatkan teknologi (usefulness).
Selanjutnya kemauan untuk memanfaatkan teknologi akan mempengaruhi
penggunanan teknologi yang sesungguhnya.
adalah penilaian seseorang terhadap kemampuannya sendiri untuk mengorganisasi
dan memutuskan tindakan yang diperlukan dari suatu keadaan untuk rnencapai
kinerja tertentu. Self-Efficacy terkait dengan pertimbangan tentang apa yang bisa
dilakukan terkait dengan ketrampilan/skill yang dimilikinya. Sumber utama dari
Self-Efficacy adalah persepsi dan interpretasi secara fisik dan emosi. Menurut
Davis (2009) perceived ease merupakan variabel perluasan dari self efficacy yang
diteorikan sebagai determinan dari perilaku. Seseorang akan mempertimbangkan
keyakinannya dalam melakukan tindakan didasarkan atas emosi yang pernah
dilalui sebagai dasar dalam menyelesaikan tindakan.
Self-Efficacy berperan dalam mempengaruhi proses motivasi melalui
sejumlah usaha yang akan digunakan individu dan seberapa lama mereka terus
bekerja pada tugasnya saat ada hambatan. Individu dengan self-Efficacy rendah
akan merusak motivasi melalui perasaan bahwa mereka tidak mampu untuk
menyelesaikan tugas itu, sebelum tugas tersebut dicobanya. Pengaruh self-
Efficacy pada proses affective bisa dilihat pada tingkat stress dan depresi
12
daripengalaman individu pada situasi yang susah dan mengancam (Bandura,
(dalam Lewis et al, 2013). Davis et al. (2009) memformulasikan model TAM,
dan memberikansaran bahwa penelitian dimasa yang akan datang perlu
melakukan pengujianvariabel eksternal dalam memahami bagaimana seseorang
bisa menerima atau menolak sistem teknologi informasi.
2.3 Self-Efficacy, perceived ease of use dan perceived Usefulness
Menurut Roger sebagaimana dinyatakan oleh Lewis (2013) variabel yang
paling penting dalam menjelaskan interpretasi kognitif mengenai teknologi
informasi adalah hal-hal yang berkaitan dengan individu. Karakteristik seseorang
akan membentuk keyakinan mengenai teknologi baru dengan menggabungkan
informasi dari sejumlah chanel termasuk media masa dan hubungan interpersonal.
Orang-orang dengan tingkat keinovativan tinggi diharapkan mengembangkan
keyakinan yang lebih positif mengenai teknologi.
Gahtani dan Said, (2007) menemukan self-efficacymempunyai pengaruh
signifikan terhadap perceived usefulness dan mempunyai peran yang kritis dalam
penerimaan teknologi oleh pemakai. Sementara peneliti yang lainnya Kulviwat, et
al,. (2005) menemukan bahwa Self-Efficacy mempengaruhi secara tidak langsung
pada attitude melalui perceived usefulness dan perceived ease of use.
2.4 Dimensi Budaya penghindaran ketidakpastian dalam perceived usefulnes
dan perceived ease of use
Budaya penghindaran ketidakpastian mengacu pada keadaan di mana orang
merasa terancam oleh situasi yang tidak jelas dan mencoba untuk menghindari
situasi tersebut. Orang-orang yang berbudaya penghindaran ketidakpastian yang
tinggi akan berbuat apa saja yang terbaik untuk menghindari ketidakpastian.
Sebaliknya, orang-orang yang berbudaya penghindaran ketidakpastian yang
rendah tidak berusaha menghindari ketidakpastian dan berani menerima resiko.
Kegunaan dan kemudahan penggunaan sistem merupakan dua faktor yang bisa
mengurangi ketidakpastian sehingga orang-orang yang berbudaya penghindaran
ketidakpastian yang tinggi akan memperkuat pengaruh persepsi kemudahan
penggunaan terhadap persepsi kegunaan, serta pengaruh persepsi kemudahan
13
kegunaan, serta pengaruh persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi kegunaan
terhadap niat menggunakan teknologi. Amel Ben Zakour (2005) berpendapat
bahwa individu dengan nilai konteks budaya pengindaran yang tinggi akan
mempunyai sedikit persepsi tentang penerimaan penggunaan teknologi informasi
dibandingkan individu yang mempunyai nilai konteks budaya penghindaran lebih
rendah.
Uncertainty Avoidance (UA). Penghindaran ketidakpastian mengungkapkan
sejauh mana anggota masyarakat merasa tidak nyaman dengan ketidakpastian dan
ambiguitas (Hogg dan Vaughann (2008). Selanjutnya, Hogg dan Vaughann (2008)
menggambarkan dimensi penghindaran ketidakpastian sebagai perencanaan untuk
stabilitas dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Ketidakpastian akan masa
depan merupakan fakta dasar dari kehidupan manusia yang mana mereka
mencoba untuk mengatasi melalui domain tekhnologi, hukum, dan agama (Baker
& Carson, 2011). Ketidakpastian yang ekstrim menciptakan kecemasan yang
berat, dan masyarakat telah mengembangkan cara untuk mengatasi ketidakpastian
yang melekat pada ketidakpastian hidup (Hofstede, 2005).
Individu dengan budaya penghindaran ketidakpastian yang rendah
memiliki karakteristik toleran terhadap aturan atau hal yang tabu. Individu
tersebut lebih menyukai inovasi dan ide-ide maupun perilaku yang menyimpang
serta memiliki ketertarikan terhadap suatu hal yang berbeda. Selain itu, bagi
individu dengan penghindaran ketidakpastian yang rendah memiliki agresi dan
emosi yang tidak diperlihatkan. Individu akan lebih di motivasi oleh suatu prestasi
dan harga diri (Hofstede, 2005).
Sebaliknya, karakteristik seseorang dengan budaya penghindaran
ketidakpastian yang tinggi antara lain takut terhadap sesuatu yang tidak pasti atau
ambigu dan tidak menyukai ide-ide serta perilaku yang menyimpang atau berbeda.
Individu akan lebih menerima resiko yang sudah dikenalnya. Selain itu mereka
jarang melakukan inovasi dikarenakan bagi mereka sesuatu yang baru merupakan
14
hal yang ditakuti. Individu akan lebih dimotivasi oleh harga diri dan keamanan.
Mereka memiliki prinsip yakni waktu adalah uang atau ‘time is money’ (Hofstede,
2005).
perceived ease of use
Budaya maskulinitas mengacu pada sikap tegas, kuat, dan berfokus pada
kesuksesan material, sedangkan budaya femininitas mengacu pada sikap rendah
hati, lemah lembut, dan memperhatikan kualitas hidup. Baik orang-orang
berbudaya maskulinitas maupun orang-orang berbudaya femininitas dua-duanya
mementingkan kegunaan sistem karena orang-orang berbudaya maskulinitas
menekankan pada sasaran kerja, seperti penghasilan dan promosi, pengakuan, dan
peningkatan kinerja dan orang-orang yang berbudaya femininitas menekankan
sasaran personal, seperti persahabatan, lingkungan yang menyenangkan,
keamanan posisi.
Selain itu, dualitas dari jenis kelamin seperti maskulinitas dan femininitas
merujuk kepada fakta mendasar yang mana setiap masyarakat mengatasi sesuatu
dengan cara yang berbeda pula. Definisi dari sisi maskulinitas di dimensi ini
merupakan preferensi masyarakat untuk suatu prestasi, kepahlawanan, ketegasan,
dan imbalan materi untuk sukses. Masyarakat dalam arti luas lebih kompetitif di
dimensi ini. Berlawanan dengan dimensi femininitas yang menyinggung
mengenai preferensi untuk kerja sama, kerendahan hati, menjaga yang lemah, dan
kualitas hidup. Masyarakat luas di dimensi femininitas ini lebih berorientasi
kepada konsensus atau permufakatan bersama (Hofstede, 2005).
Selain itu pada dimensi ini lebih mengutamakan solidaritas antar sesama
serta pentingnya menjalin hubungan yang hangat terhadap sesama. Sedangkan
pada budaya maskulinitas dikarakteristikkan sebagai seorang yang tegas,
ambisius, tangguh, dan simpati untuk yang kuat. Dalam menghadapi konflik
sebisa mungkin resolusi konflik dilakukan dengan memerangi mereka, terjadinya
kompetisi di antara rekan kerja, dan uang merupakan hal yang penting.
Penelitian dimensi maskulinitas telah dilakukan oleh Hofstede di
Indonesia. Di Indonesia sendiri dimensi maskulinitas memiliki skor 46 yang
15
memiliki arti bahwa Indonesia tergolong kedalam dimensi femininitas
dikarenakan nilai yang didapatkan cukup rendah. Status di Indonesia dan simbol
nyata dari keberhasilan merupakan hal yang penting namun tidak selalu
keuntungan materil yang dijadikan motivasi. Seringkali posisi yang memegang
peranan lebih penting bagi mereka yaitu “gengsi” (outward appearance) atau
harga diri. Masyarakat dengan tingkat maskulinitas tinggi yang didominasi oleh
kaum pria, akan lebih berani mengambil resiko dan lebih spekulatif. Masyarakat
yang memiliki tingkat maskulinitas tinggi akan mengakibatkan rendahnya tingkat
konservatisme (Hofstede, 2005).
2.6 Perceived usefulnes dalam Perceived ease of use, Behavioral intention to
use dan Attitude
Perceived ease of use didefinisikan sebagai suatu tingkat kepercayaan
individu bahwa dengan menggunakan teknologi akan membawa mereka terbebas
dari usaha secara fisik dan mental (Gahtani dan Said, 2007). Menurut konsep
TAM, attitude secara bersama-sama dipengaruhi oleh perceived usefullness,
perceived ease of use dan variabel eksternal seperti commitment to system use dan
self efficacy, (Warsaw et al. dalam Wahyudi, 2006). Davis et al. (2009)
membuktikan bahwa Perceived ease of use mempunyai dampak baik secara
langsung atau tidak langsung pada perceived usefulnes, melalui attitude.
Gahtani (2007) menyatakan bahwa perceived ease of use menjelaskan
persepsi user terhadap usaha yang diperlukan untuk memanfaatkan sebuah sistem.
Menurut Shih (2004) persepsi ini memiliki dampak terhadap intensi seseorang
untuk memanfaatkan intension to use). Hasil penelitian Pedersen (2013) secara
empirik juga mendukung pernyataan Sun dan Zhang (2006) menyatakan bahwa
perceived usefulness secara signifikan dipengaruhi oleh perceived ease of use.
Menurut Davis (2009) seseorang cenderung menggunakan sebuah sistem
apabila mereka percaya bahwa sistem akan membantu dalam mencapai kinerja
yang diinginkan. Meskipun demikian, kepercayaan terhadap manfaat sistem tidak
akan membantu dalam pemanfaatan apabila mereka meyakinan bahwa sistem sulit
digunakan sehingga usaha ekstra yang dikeluarkan untuk mencapai kinerja tidak
sepadan dengan hasi yang dicapai. Hal ini menunjukkan bahwa perceived ease of
16
use mempengaruhi perceived usefulness dan attitude. Menurut Davis et al. (2009)
attitude merupakan cermin perasaan suka atau tidak suka tentang kinerja dari
target perilaku yang telah dilakukan. Mathieson, (2011) menemukan variabel
attitude secara statistik signifikan untuk menjelaskan variabel behavior intention
to use.
2.7 Hubungan Commitment to System dalam perceived ease of use, attitude dan
Behavioral Intention to Use
(2005) Internalization, identification, and compliance menggambarkan
komitmen-komitmen yang berbeda dari keinginan untuk memenuhi tujuan-tujuan
personal yang berbeda. Internalization terkait dengan pengadopsian perilaku
pengguna sistem yang didasarkan atas penerimaan norma dan nilai yang sama.
Identification terjadi ketika pengguna sistem mengadopsi sikap dan
perilaku untuk mencapai kepuasan dan self-defining relationship dengan orang
atau kelompok lain. Compliance terjadi ketika pengguna sistem mengadopsi
perilaku secara khusus untuk memperoleh penghargaan atau menghindari
hukuman. Menurut Yogesh a dan Dennis Galletta (2005) Affective commitment
(identification and internalization) berpengaruh secara positif terhadap perceived
usefulness and ease of use melalui pengadopsian dan perluasan penggunaan.
Affective commitment juga berpengaruh positif terhadap user attitude.
17
penerimaan implementasi sistem akuntansi akrual basis sebagai berikut:
Gambar 2.1
Roadmap penelitian ditujukan untuk memberikan gambaran peta penelitian
selama 5 (lima) tahun yang telah maupun rencana akan dilakukan oleh peneliti.
Tabel 2.1
Roadmap Penelitian
Judul
Penelitian
Rekonstruksi
Technology
Acceptance
Model
(TAM)
sebagai
strategi
implementasi
Model
peningkatan
kinerja
Pemerintah
Provinsi
Lampung
berbasis
budaya
kompetansi
daerah.
Perceived
Usefulness
Self -
Efficacy
Pengaruh
keadilan
organisasional
terhadap
intensitas
kemangkiran
dan kuantitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif merupakan suatu model penelitian
yang berusaha untuk membuat gambaran/paparan dan menggali secara cermat
serta mendalam tentang fenomena sosial tertentu tanpa melakukan intervensi dan
hipotesis. Ruang lingkup penelitian ini meliputi dua segi, segi kewilayahan dan
segi substansi (isi).
dilakukan dengan tujuan untuk menguji dan merekonstruksi model Technology
Acceptance Model (TAM) sebagai upaya implementasi sistem akuntansi berbasis
akrual. Penentuan sampel penelitian dengan menggunakan teknik purposive-
sampling.
Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan jenis data yang berupa data primer dan data
sekunder. Data primer akan dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara
mendalam (indepth interview). Kuesioner diberikan kepada seluruh pegawai
pemerintah Provinsi Lampung sesuai dengan kriteria sampel yang diambil.
Wawancara mendalam dilakukan dengan pejabat Pemerintah Provinsi Lampung
dan pegawai struktural lainnya.
Selain data primer, penelitian ini juga menggunakan data sekunder yang
didapat dari hasil publikasi, baik dari instansi pemerintah, buku, jurnal dan situs
internet. Dengan demikian, metode pengumpulan data secara variatif
menggunakan beberapa teknik, tergantung pada data yang dikehendaki dan
sumber data.
Gambaran kegiatan yang akan dilaksanakan secara multi tahun terdiri dari
beberapa tahapan sebagai berikut:
dan implementasi sistem akuntansi berbasis akrual. Analisis kendala
menggunakan metode deskriptif kualitatif serta analisis SWOT.
Analisa SWOT dalam hal ini adalah identifikasi berbagai faktor secara
sistematis untuk merumuskan strategi Pemerintah Provinsi Lampung dalam
implementasi sistem. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (Strenggths) dan peluang (Opportunities), namun
secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan
ancaman (Threats) dalam implementasi sistem akuntansi berbasis akrual di
Provinsi Lampung.
(kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat
ini. Hal ini sering disebut dengan Analisis Situasi.
b. Tahap Analisis Kesiapan Implementasi (Tahun Pertama) yaitu tahap
pengumpulan data dan penelusuran melalui studi teoritis maupun studi
empiris pada pejabat Pemerintahan Provinsi Lampung dan kelengkapan
organisasi pemerintahan. Data yang dikumpulkan berkaitan dengan
bagaimana kesiapan Pemerintah Provinsi Lampung dalam menerapkan secara
penuh sistem akuntansi berbasis akrual sesuai amanat PP Nomor 71 Tahun
2010. Kesiapan Pemerintah dalam implementasi dilihat dari kesiapan
peraturan/keputusan yang ada, kesiapan sumber daya manusia dan kesiapan
teknologi.
c. Tahap Rekonstruksi Model TAM (Tahun Kedua) adalah analisis data
dengan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) sebagai upaya
implementasi sistem akuntansi berbasis akrual. Analisis data ini termasuk
Structural Equation Model (SEM) dengan program AMOS. Analisis ini
ditujukan untuk memperoleh bukti empiris mengenai konsep Technology
21
Provinsi Lampung.
Analisis dan konstruksi model TAM didasarkan pada beberapa hal yaitu:
pertama, perceived usefulness yang menunjukkan sejauh mana seseorang
yakin bahwa menggunakan sistem akan meningkatkan kinerjanya. Kedua,
perceived ease of use yang menunjukkan sejauh mana seseorang yakin bahwa
penggunaan sistem adalah mudah. Ketiga, bahwa dampak variabel-variabel
eksternal seperti (karakteristik sistem, proses pengembangan dan pelatihan)
terhadap intension to use selalu dimediasi oleh perceived of usefulness dan
perceived ease of use.
dibuatkan dalam sebuah diagram alir sebagai berikut:
Tahap Persiapan Tahap Pelaksanaan
Tahun I Tahun II
Survey
Pendahuluan
dan
Pengumpulan
Data
Pendukung
Koordinasi/
konsolidasi
Luaran penelitian tahun pertama berupa teridentifikasinya kendala-kendala
dan buku tentang peta kesiapan implementasi sistem akuntansi berbasis akrual di
Pemerintah Provinsi Lampung. Sedangkan untuk tahun kedua berupa model fit
TAM dalam implementasi sistem akuntansi berbasis akrual yang terpublikasikan
dalam jurnal ilmiah nasional ber-ISSN.
Indikator Capaian yang Terukur
luaran (output) penelitian dapat dilihat pada tabel beriku ini:
Tabel 3.1
No. Tahapan
tabel berikut ini:
1. Gaji dan Upah 27.170.000
13,750,000
4. Perjalanan, penginapan dan
Waktu penelitian ini direncanakan berlangsung selama 2 (dua) tahun dengan
rincian sebagai berikut :
Jenis Kegiatan Tahun 1 (Bulan Ke)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Survey Lapangan
2. Pembuatan Proposal
3. Interview Mendalam
5. Analisis SWOT
6. Penyusunan Deskripsi
Jenis Kegiatan Tahun 1 (Bulan Ke)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Pengambilan Data
3. Konfirmasi & Diskusi
Technologycceptance Model. Journal of Management Information System,
13 (2);185-204.
Compeau, DR., & Higgins, C. A., Huff, S. 2005. Social Cognitif Theory and
Individual Reaction to Computing Technology: A Longtudinal Study.MIS
Quarterly, 23 (2) 145-158.
Davis, F.D, Bagozzi. R.P. & Warshaw. P.R. 2009. User acceptance of computer
technology: a comparison of two theoretical models, ManagementScience,
35, 982-1003.
Davis, F.D. 2009. Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use and User
Acceptance of Information Technology, MIS Quarterly.
Eikebrokk, R Tom dan Oeystein Sorebo. 2007. Technology acceptance
insituations with alternative technologies: http://nokobit.bi.no/nokobit
Gahtani, Al. and Said S. 2007. System Characteristics, User Perceptions
andAttitudes in the Prediction of Information Technology Acceptance
(AStructural Equation Model), Administraive Sciences Dept King
KhaledUniversity, Abha Saudi Arabia.
Institutions, and Organizations Across Nations. Edisi Kedua. Beverly
Hills: SAGE Publications
Kira, Dennis; Raafat George Saade; 2007; The Emotional State of Tehcnology
Acceptance; http://informingscience.org
Lewis, William, Ritu Agarwal dan V Sambamurthy. 2008. Sourche of Influence
on Beliefs Information Technology Use: An Empirica; Study of Knoledge
Worker, MIS Quarterly Vol. 27 No. 4
Malhotra, Yogesh dan. Galletta, Dennis F.2009, Extending the Technology
Acceptance Model to Account for Social Influence: Theoretical Bases and
Empirical Validation, Proceedings of the 32nd Hawaii International
Conference on System Sciences, USA.
Mathieson, K. 2011. Predicting User Intentions: Comparing the Technology
Acceptance Model with the Theory of Planned Behavior, Itrformation
Systems Research, Vol. 2, pp.173-191.
Ndubisi, Oli Nelson. 2005. Effect of Perception And Personal Traits On Computer
Technology Adoption By Women Entrepreneurs In Malaysia; Journal of
Asia Entrepreneurship and Sustainability
Pemerintah Republik Indonesia, 2003. Undang Undang Nomor 17 tahun 2003
tentang Keuangan Negara.
2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Petra S.M. Wijaya. 2005. Pengujian Model Penerimaan Teknologi Internet Pada
Mahasiswa. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, Vol. l, No. l.Februari.
Pikkarainen, et al. 2004. Consumer acceptance of online banking: an extension of
the technology acceptance model Internet Research Volume 14 – Number
3 pp. 224-235
Schillewaert, Niels.et al. 2010. The Acceptance of Information Technology in the
Sales Force. Business Research Center Working Paper.
Sun, Heshan dan Zhang, Ping. 2006. The Role Moderating Factors in
UserTechnology Acceptance. Int. .J. Human-Computer Studies. No. 63,
hal.53-78.
Venkatesh, V, & Morris M. G. 2010. Why Don't Men Ever Stop to Ask for
Direction? Gender, Social Influence and their Role in Technology
Acceptance and Usage Behavior. MISS Quarterly, Vol. 24 No. 1, March.
Wahyudi, Nanang. 2006, Analisis Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Reputasi
Perusahaan, Kepuasan Dan Loyalitas Nasabah, Tesis Universitas
Stikubank,Tidak dipublikasikan
Xiao, xue; Heshan Sun. 2006. User Acceptance of Virtuall Technologies;
Yi Y Mun, Yujong Hwang. 2012. Predicting The Use Of Web Based Information
Systems: Intrinsic Motivation And Self Efficacy, Eighth
AmericasConference on Information Systems
Zhang, Ping, Heshan Sun. 2006. An Empirical Study on Causal Relationships
between Perceived Enjoyment and Perceived Ease
27
2. Peralatan 12,670,000
4. Perjalanan, penginapan dan pertemuan/lokakarya 15.300.000
Jumlah Biaya 63,330,000
Angota 1 27.500 10 40 11.000.000 11.000.000
SUB TOTAL (Rp) 33.000.000 33.000.000
2. Peralatan Penunjang
Peralatan penunjang 1 Flas disk 5 buah 250.000 1.250.000 1.000.000
Peralatan penunjang 2 CD 2 lusin 60.000 120.000 60.000
Peralatan penunjang 3 Sewa komputer
dan printer
Peralatan penunjang 4 Cetak
3. Bahan Habis Pakai
buah
40.000,
450.000
Perjalanan ke
25.000,
20.000,
500.000
3.500.000,
2.800.000,
2.000.000
3.500.000,
2.800.000,
2.000.000
No Nama NIDN Bidang Ilmu
Alokasi
Waktu
(Jam/Mgu)
A. Identitas Diri
1. Nama Lengkap (dengan gelar) Yulita Zanaria, S.E., M.Si., Akt., CA.
2. Jenis Kelamin Perempuan
4. NBM 812229
5. NIDN 0213076802
7. Email [email protected]
9. Alamat Kantor Jl. Ki Hajar Dewantara No.116 Kota Metro
10. Nomor Telepon/Faks (0725)42445 – 42454
11. Lulusan yg Telah Dihasilkan S-1= >100 org; S-2= - org; S-3= - org
12. Mata Kuliah yg Diampu
1. Akuntansi Keuangan
2. Pengantar Akuntansi
3. Akuntansi Lanjutan
B. Riwayat Pendidikan
S-1 S-2 S-3
No Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber Jumlah
1. 2010
Daerah (PAD) Kota Metro
No Tahun Judul Pengabdian Kepada
Masyarakat
Pendanaan
E. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal 5 Tahun Terakhir.
No Judul Artikel Ilmiah Volume/
Nomor/ Tahun
publik
persepsi para profesional akuntan
berkaitan dengan pekerjaan
November 2009
2009
Derivatif
Jurnal
Manajemen
2009
Derivatif
Jurnal
Manajemen
32
Pertemuan/Seminar Ilmiah dalam 5 Tahun Terakhir.
No Nama Pertemuan
No Judul Buku Tahun Jumlah
Halaman Penerbit
I. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya
dalam 5 Tahun Terakhir.
No Judul/Tema/Jenis Rekayasa Sosial
Jumlah
J. Penghargaan yang Pernah Diraih dalam 5 Tahun terakhir (dari
Pemerintah, Asosiasi atau Intitusi lainnya)
No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi
Penghargaan Tahun
2013
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hokum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuian dengan kenyataan, saya sanggup menerima resikonya.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Penelitian Hibah Besaing.
33
A. Identitas Diri
1. Nama Lengkap (dengan gelar) Suyanto, S.E., M.Si., Akt., CA.
2. Jenis Kelamin Laki-laki
4. NIDN 0230107502
6. Email [email protected]
8. Alamat Kantor Jl. Ki Hajar Dewantara No.116 Kota Metro
9. Nomor Telepon/Faks (0725)42445 – 42454
10. Mata Kuliah yg Diampu
1. Akuntansi Manajemen
Manggala Yogyakarta
Outcome Based Effect. (studi
Nama
Pembimbing/Promotor
Akt.
No Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber Jumlah
1. 2009
Kota Metro.
Daerah (PAD) Kota Metro
No Tahun Judul Pengabdian Kepada
Masyarakat
Pendanaan
2. 2010
PDM Kota Metro
Keuangan”
6 2014
Rumah Sakit
untuk Meningkatkan Nilai
Metro
Metro
Yayasan
DAMANDIR
I
Rumah Sakit
E. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal 5 Tahun Terakhir.
No Judul Artikel Ilmiah
Based Effect dan Non Outcome Based Effect.
Nopember
2010
terhadap Kinerja Pegawai di Pemerintah Kota
Metro
Kinerja Karyawan PT. BPR Eka Bumi Artha
Metro
Profesi Akuntan Pendidik (Studi Empiris pada
Perguruan Tinggi di Provinsi Lampung
Oktober
2014
Pertemuan/Seminar Ilmiah dalam 5 Tahun Terakhir.
No Nama Pertemuan
Perpajakan Indonesia.
G. Penghargaan yang Pernah Diraih dalam 5 Tahun terakhir (dari
Pemerintah, Asosiasi atau Intitusi lainnya)
No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi
Penghargaan Tahun
2013
36
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Penelitian Hibah Bersaing.
37
Nama : Yulita Zanaria, S.E., M.Si., Akt., CA.
NIDN : 0213076802
Pangkat / Golongan : Pembina / IV.a
Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
Alamat : Jl. Satelit 1 No. 39 B, Iring Mulyo, Kec. Metro Timur.
Dengan ini menyatakan bahwa proposal penelitian saya dengan judul:
Rekonstruksi Technology Acceptance Model (TAM) Sebagai Strategi
Implementasi Sistem Akuntansi Berbasis Akrual di Pemerintah Provinsi
Lampung, yang diusulkan dalam skim Hibah Bersaing tahun anggaran 2016
bersifat original dan belum pernah dibiayai oleh lembaga / sumber dana lain.
Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidak sesuaian dengan pernyataan ini,
maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku
dan mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas negara.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-
benarnya.