of 78 /78
3 Kode/ Nama Rumpun Ilmu*: 797/ Pengembangan Kurikulum LAPORAN TAHUN TERAKHIR PENELITIAN PRODUK TERAPAN TAHUN KEDUA DARI RENCANA DUA TAHUN INTEGRASI KOMPETENSI SPRITUAL DAN SOSIAL KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMP NEGERI KOTA MEDAN AKRIM, S.Pd.I., M.Pd 012212790 2 (KETUA) Drs. ZAINAL AZIS, M.M., M.Si 011312630 1 (ANGGOTA) MUNAWIR PASARIBU, S.PdI., M.A 011607830 5 (ANGGOTA) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA OKTOBER 2016

Kode/ Nama Rumpun Ilmu*: 797/ Pengembangan Kurikulum

  • Author
    others

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Kode/ Nama Rumpun Ilmu*: 797/ Pengembangan Kurikulum

LAPORAN TAHUN TERAKHIR
PENELITIAN PRODUK TERAPAN
2013 PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMP NEGERI
KOTA MEDAN
1
(ANGGOTA)
5
(ANGGOTA)
Penelitian ini adalah penelitian lanjutan hibah bersaing (sekarang disebut Penelitian Produk Terapan) yang dilaksanakan oleh Akrim, dkk (2015 dan 2016) dengan tujuan mengujicoba model integrasi kompetensi spiritual dan sosial yang telah dirancang pada tahun pertama sehingga dapat diketahui kekurangannya dan dilakukan perbaikan baik itu yang berasal dari materi pelajaran, penilaian, redaksi, maupun tampilannya dan lain-lain. Pengembangan buku ajar matematika kelas VII SMP dilakukan dengan Pendekatan Saintifik dengan lebih menekankan pengintegrasian kompetensi spritual dan sosial kedalam kompetensi pengetahuan dan keterampilan pada materi pembelajarannya, soal-soal latihan, dan juga tugas projek. Beberapa bagian materi diharapkan dapat menggiring siswa untuk mengaitkan materi yang dipelajari dengan nilai-nilai kehidupan.
Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2016 pada 3 SMP Negeri di Kota Medan yang menyelenggarakan pendidikan berbasis Kurikulum 2013 yakni SMP Negeri 1, 34, dan 38 Medan. Untuk mencapai hasil penelitian yang tepat, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian Research and Develompent. Peneliti juga terlibat secara aktif menemui, mengamati, serta mewawancarai partisipan (guru sebanyak 6 orang, murid 60 orang, maupun wali murid sebanyak 24 orang) guna mengungkap kelemahan model dan buku ajar pengintegrasian nilai spritual dan sosial di dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pada mata pelajaran matematika kelas VII SMP. Peserta didik diajak untuk merenungkan ciptaan Tuhan dan merefleksikan diri apakah sikap dan karakternya sesuai dengan nilai sosial yang baik.
Pada tahun kedua ini, draft buku ajar Matematika Kelas VII SMP yang diujicobakan pada sekolah berbasis Kurikulum 2013 mendapat respon positif dari murid, guru, dan orang tua murid. Respon positif murid pada Materi sebesar 80%, Penyajian sebesar 76,67%, Bahasa dan Keterbacaan 86,66%, Suplemen Materi terkait Kompetensi Spiritual dan Sosial sebesar 80%, Aktifitas dan Media Pembelajaran 75%, Latihan dan Tugas 76,67, Feedback sebesar 90%. Sedangkan guru juga menangapi positif kehadiran buku ini dengan tanggapan positif pada Tujuan Pembelajaran sebesar 100%, Input sebesar 83,33%, Setting sebesar 83,33%, Aktifitas (metode, teknik, dan media pembelajaran) sebesar 83,33%, Peran Guru sebesar 100%, serta Peran Siswa sebesar 100%. Beberapa orang tua yang diminta pendapatnya melalui angket merespon baik konten buku ini dengan respon positif terhadap Motivasi Belajar di Rumah sebesar 83,33%, Sikap di Rumah dan Lingkungan sebesar 79,17%, dan Etika Bicara di Rumah dan Masyarakat juga sebesar 79,17%. Pada prinsipnya responden menyukai bagian yang menyentuh tentang nilai sikap terutama pada materi, soal, refleksi dan renungkan. Mereka menjadi terbiasa dengan nilai sikap yang tertera pada buku tersebut sekaligus menggali nilai positif lain yang bisa dikembangkan pada materi dalam buku tersebut.
Kata Kunci: buku ajar, ujicoba, evaluasi, respon positif
i
PRAKATA
Alhamdulillah kami panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang
telah memberikan berkah berupa kesehatan, kesempatan dan juga pemikiran yang
lapang, sehingga Laporan Tahun Terakhir Penelitian Produk Terapan
(sebelumnya disebut Hibah Bersaing) yang berjudul “Integrasi Kompetensi
Spritual dan Sosial Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran Matematika Di
SMP Negeri Kota Medan” dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu”.
Pada kesempatan ini, kami juga ingin mengucapkan terimakasih dan
penghargaan yang sebesar-besarnya kepada beberapa pihak yang telah
memberikan bantuan dan arahan selama penelitian ini berlangsung hingga
terlaksananya penulisan laporan ini, yaitu diantaranya kepada:
1. Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ditjen Pendidikan
Tinggi Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
yang telah mendanai seluruh kegiatan penelitian ini
2. Bapak Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang telah
memberikan dukungan terhadap segala kegiatan penelitian yang dilakukan
oleh para dosen UMSU.
3. Ketua LPPM UMSU beserta seluruh stafnya, yang telah memfasilitasi dan
menjembatani tim peneliti dengan pihak DP2M Dikti sehingga penelitian
ini dapat dilaksanakan.
4. Pihak reviewer baik internal maupun eksternal, yang telah memberikan
masukan terhadap proposal penelitian kami, sehingga layak untuk diteliti.
5. Kepala Sekolah SMP Negeri 1, SMP Negeri 34, dan SMP Negeri 38
Medan beserta para stafnya yang telah memberikan izin dan fasilitas
kepada kami untuk dapat meneliti di sekolah –sekolah tersebut.
6. Guru-Guru Matematika di SMP Negeri 1, SMP Negeri 34 , dan di SMP
Negeri 38 Medan, yang telah bersedia menjadi subjek penelitian dalam
observasi yang telah kami lakukan guna memperoleh data dibutuhkan
terkait penelitian ini
7. Murid, dan wali murid SMP Negeri 1, SMP Negeri 34, dan SMP Negeri
38 Medan sebagai responden angket dan wawancara dalam penelitian ini.
ii
8. Pihak-pihak terkait yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu yang telah
memberikan sumbang saran sebagai penguat data primer maupun
sekunder.
Kami mendoakan semoga segala sesuatu yang telah bapak dan ibu berikan
demi kesempurnaan penelitian ini mendapatkan balasan dari Allah SWT. Kami
juga menyadari bahwa Laporan Tahun Terakhir ini masih jauh dari sempurna
baik dalam isi maupun sistematikanya yang kemungkinan besar belum dapat
mewakili apa yang telah kami lakukan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, kami
mengharapkan adanya saran dan masukan yang membangun bagi kesempurnaan
laporan ini, sehingga nantinya dapat menjadi pembelajaran bagi kami
kedepannya.
2.2 Landasan Penyususnan Buku Ajar.......................................................6
2.4 Pengembangan Buku Ajar MM Integrasi Kompetensi Spiritual dan Sosial.................................................................................................10
2.5 Struktur Buku Ajar MM Integrasi Kompetensi Spiritual dan Sosial .13
2.6 Roadmap (Peta Jalan) Penelitian .......................................................15
BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN .........................................18
3.1 Tujuan Penelitian ...............................................................................18
3.2 Manfaat Penelitian .............................................................................18
BAB 4. METODE PENELITIAN.......................................................................20
5.1 Analisa Hasil Uji Coba Model Integrasi Kompetensi Spritual dan Sosial..................................................................................................26
5.2 Analisa Hasil Uji Coba Buku Ajar.....................................................30 5.3 Luaran Penelitian ...............................................................................49
Tabel 2.1 Kompetensi Inti Matematika SMP kelas VII Kurikulum 2013 ...............8
Tabel. 5.1. Hasil Target Capaian............................................................................49
Proses. .................................................................................................11
spiritual dan sosial ...............................................................................12
Gambar 3.1 Prosedur Penelitian.............................................................................22
Gambar 5.1 Diagram Respon Siswa terhadap Materi Buku Ajar .........................32
Gambar 5.2 Diagram Respon Siswa terhadap Penyajian Buku Ajar ....................33
Gambar 5.3 Diagram Respon Siswa terhadap Bahasa dan Keterbacaannya Buku
Ajar MM .............................................................................................34
Gambar 5.4 Diagram Respon Siswa terhadap Suplemen Materi Buku Ajar MM
terkait kompetensi Spiritual dan Sosial..............................................35
Gambar 5.6 Diagram Diagram Respon Siswa Terhadap Latihan dan Tugas........37
Gambar 5.7 Diagram Respon Siswa Terhadap Umpan Balik Buku Ajar MM......38
Gambar 5.8 Respon Guru Terhadap Tujuan Pembelajaran pada Buku Ajar MM.39
Gambar 5.9 Diagram Respon Guru Terhadap Input Buku Ajar MM ....................40
Gambar 5.10 Diagram Respon Guru Terhadap Setting Pembelajaran ................41
Gambar 5.11 Diagram Respon Guru Terhadap Aktivitas dalam Buku Ajar MM ..42
Gambar 5.12 Respon Guru Terhadap Peran Siswa dalam Buku Ajar MM ...........44
Gambar 5.12 Respon Guru Terhadap Peran Guru dalam Buku Ajar MM.............45
Gambar 5.14 Diagram Respon Wali Murid terhadap Motivasi Belajar Siswa di
Rumah .................................................................................................46
Gambar 5.15 Diagram Respon Wali Murid terhadap Sikap di Rumah dan
Lingkungan..........................................................................................47
Gambar 5.16 Diagram Respon Wali Murid Terhadap Tata Bicara Siswa di Rumah
dan Lingkungan...................................................................................48
vii
Internasional
viii
1
kelas, oleh sebab itu kurikulum merupakan acuan bagi guru dalam
menentukan bahan pembelajaran dan metode yang sesuai yang dapat diterapkan
untuk mencapai tujuan pendidikan. Demi meningkatkan kualitas pendidikan di
Indonesia menjadi lebih baik, pemerintah telah melakukan beberapa pergantian
Kurikulum sesuai dengan realita situasi pendidikan yang ada. Hingga akhirnya
Pemerintah Indonesia mencetuskan kurikulum yang menekankan
penanaman nilai-nilai spiritual dan sosial pada diri peserta didik yaitu Kurikulum
2013.
pendukung lain. Kurikulum sendiri tidak boleh kaku dan tentunya membutuhkan
penafsiran, penjelasan, pemedomanan baik melalui petunjuk teknis, seminar,
lokakarya hingga buku ajar. Pembelajaran dan buku ajar merupakan dua hal yang
resiprokal (saling melengkapi). Pembelajaran akan berlangsung secara efektif jika
dilengkapi dengan salah satunya adalah buku ajar. Buku ajar dapat dirancang serta
digunakan dengan baik jika memperhatikan sejumlah prinsip dalam pembelajaran.
Kompenen pembelajaran terdiri atas peserta didik, pendidik atau pendidik, bahan
ajar, cara penyajian bahan ajar, dan asesmen (penilaian). Buku ajar yang baik
adalah buku ajar yang mampu merefleksikan kesatupaduan atas seluruh
komponen, sehingga bahan ajar, cara penyajian bahan ajar, dan asesmen
(penilaian) dapat dengan mudah ditelaah dan diimpelemntasikan, baik oleh
peserta didik maupun pendidik.
bahan ajar. Perhatian yang besar terhadap materi dan penyampaiannya sesuai
dengan target, telah mengakibatkan buku ajar lebih mengutamakan hasil dan
melupakan proses. Buku ajar dibuat sedemikian rupa sebagai wadah bahan ajar
dihapalkan, sehingga kemampuan akhir yang dimiliki peserta didik hanya sebatas
kemampuan mengingat. Sering sekali konteks kehidupan dinafikan padahal murid
2
kesalahkaprahan rancang bangun buku ajar semacam ini adalah melupakan nilai
konteks dan permasalahan kehidupan yang selama ini gersang dikaitkan dengan
materi pembelajaran. Sebagai contoh permasalahan buang sampah sembarangan,
dan mubazir semestinya bisa dikikis dengan materi yang mengajarkan rasa syukur
terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat (Kompetensi
Spritual). Kasus bullying (penggertakan) dikalangan siswa seharusnya mampu
diredam melalui materi ajar yang dikaitkan dengan sikap berbagi, toleran dan
kasih sayang (Kompetensi Sosial). Nilai-nilai kehidupan tersebut semestinya
disisipkan pada bahan ajar, pedoman skenario pembelajarannya serta
penilaiannya.
Selain daripada masalah diatas, ketika seorang peserta didik dihadapkan
pada masalah yang berbeda, peserta didik tidak mampu memecahkan masalah dan
mengambil keputusan dengan baik. Akhirnya, buku ajar yang dirancang
mengikuti prinsip ini hanya memperkuat anggapan bahwa belajar tentang,
misalnya matematika adalah belajar tentang matematika dan bukan belajar
matematika untuk menjadi manusia yang mampu berfikir logis, terukur dan
sistematis.
Pada hakikatnya, buku ajar merupakan media pembelajaran suatu disiplin
ilmu atau pengetahuan tertentu. Sebagai media, buku ajar harus berisikan bahan
ajar, cara penyajian bahan ajar, dan model asesmen (penilaian). Materi yang
dijadikan bahan ajar disajikan dengan cara tertentu, sehingga peserta didik
memiliki kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman, keterampilan, dan
perasaan sebagai refleksi atas kemampuan tersebut, peserta didik akan dapat
memecahkan persoalan-persoalan, baik yang diajukan dalam latihan maupun
persoalan dalam kehidupan nyata. Buku ajar juga harus mampu membantu
pendidik dalam meningkatkan cara mengajarnya, dan membantu mereka dalam
meningkatkan kemampuan peserta didik.
Idealnya seorang pendidik dianggap memiliki pengalaman mengajarkan
materi keilmuan tanpa buku ajar. Akan tetapi, cara demikian tidak akan
berlangsung lama. Banyak pendidik yang memiliki keterbatasan sejumlah hal
untuk menambah materi pelengkap, sehingga mau tidak mau mereka dalam
3
mengajar hanya mengandalkan buku ajar semata. Hal ini berarti buku ajar
merupakan media pembelajaran yang sangat penting dalam proses belajar
mengajar.
Pada tahun pertama, penulis telah menemukan model integrasi kompetensi
spritual dan sosial kurikulum 2013 pada mata pelajaran Matematika dan juga draf
buku ajar Matematika kelas VII SMP. Perpaduan Kompetensi spritual dan sosial
dalam pembelajaran dapat diaplikasikan jika pendidik memilih pembelajaran yang
bersifat PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan
menyenangkan) dengan memperhatikan kesesuaian dengan materi pelajaran.
Pengembangan buku ajar matematika kelas VII SMP dilakukan dengan
pendekatan Saintifik dengan lebih menekankan perpaduan nilai dengan
pengetahuan dan keterampilan pada materi pembelajaran, soal-soal latihan, dan
juga tugas projek. Selain itu, pada buku ajar tersebut juga terdapat kolom
“refleksi” dan “renungkan” yang dapat mengarahkan siswa untuk mengaitkan
materi yang dipelajari dengan nilai-nilai kehidupan.
Oleh karena itu, buku ajar yang telah dirancang, harus disusun seefektif
dan seefisien mungkin sehingga peserta didik dan pendidik terbantu dalam proses
belajar mengajar disiplin ilmu tertentu. Maka penelitian pada tahun kedua ini
difokuskan pada pengujicobaan draft buku ajar Matematika Kelas VII SMP
sehingga didapatkan buku ajar yang layak dan konstruktif dalam menghasilkan
output (luaran) pendidikan yang lebih baik tidak hanya dari segi kognitif
(pengetahuan) dan psikomotorik (keterampilan) tapi juga dari segi spiritual dan
sosial.
dalam penelitian adalah:
Kurikulum 2013 pada mata pelajaran Matematika di SMP setelah dirancang
pada penelitian tahun 2015?
4
Spritual dan Sosial Kurikulum 2013 pada mata pelajaran Matematika di
SMP setelah disusun pada penelitian tahun 2015?
5
UNESCO (2004: 13) menyatakan bahwa “Curriculum is what is learned
and what is taught (context); how it is delivered (teaching- learning methods);
how it is assessed (exams, for example); and the resources used (e.g., books used
to deliver and support teaching and learning)”. Kurikulum adalah jantungnya
pendidikan dimana bahan, proses, isi dan tujuan pembelajaran ditentukan olehnya.
Sementara itu, buku ajar adalah jenis buku yang diperuntukan bagi peserta didik
sebagai bekal pengetahuan dasar, dan digunakan sebagai sarana belajar serta
dipakai untuk menyertai sebuah institusi pendidikan.
Buku ajar dirancang sesuai dengan kurikulum, namun hubungan ini tidak
bersifat kaku. Kurikulum tidak bersifat menentukan segala sesuatu. Kurikulum
masih memerlukan penafsiran, penjelasan, perincian, perlengkapan, pengayaan,
dan pemanduan terhadap kompetensi hasil belajar, indikator dan materi pokok.
Dalam penyusun buku ajar, seorang penulis perlu mempersiapkan silabus dan
metode pembelajaran, dan mempersiapkan bahan-bahan serta cara penyajiannya,
yang tidak dicantumkan dalam kurikulum. Fungsi kurikulum pada dasarnya
adalah sebatas Garis-garis Besar Haluan Pembelajaran (GBHP) yang bersifat
selalu berubah.
Oleh karena itu, penyusunan buku ajar harus didasarkan atas prinsip
dinamika kualitas atau prinsip perbaikan kualitas yang seimbang. Prinsip ini
merupakan jawaban atas sifat dinamis dari kurikulum. Begitu terjadi perubahan
kurikulum, buku ajar dapat disesuaikan dengan perubahan, dengan cara
merevisinya. Prinsip perbaikan kualitas berkelanjutan akan mendorong penulis
untuk selalu melakukan pengawasan kualitas dan perubahan secara bertahap atas
rancangan buku: isi, materi, soal, dan latihan dan sebagainya. Oleh karena itu,
dikenal adanya istilah buku ajar edisi revisi 1 dan 2 atau buku ajar edisi baru
dengan penambahan dan lain-lain.
tentang substansinya maupun tentang penyajiannya. Penggunaan buku ajar
merupakan bagian dari budaya buku, yang menjadi salah satu tanda masyarakat
maju. Dipandang dari proses pembelajaran, buku ajar mempunyai peran penting.
Jika tujuan pembelajaran adalah untuk menjadikan peserta didik memiliki
berbagai kompetensi, maka perancangan buku ajar harus memasukan sejumlah
prinsip yang dapat meningkatkan kompetensi yang hendak dimiliki peserta didik.
2.2 Landasan Penyusunan Buku Ajar
Penyusunan buku ajar yang baik adalah berlandaskan:
a) Landasan Keilmuan
Salah satu landasan penyusunan buku ajar adalah landasan keilmuan mata
pelajaran tertentu. Pernyataan yang harus diajukan ketika merancang buku ajar
adalah mata pelajaran berada diranah ilmu apa. Dengan mengetahui landasan
kelimuan, mudah bagi penulis untuk mengetahui cakupan serta susunan buku ajar
yang hendak ditulis.
berpilar pada epistemologis, ontologis, dan aksiologis. Prinsip ketaatasasan
keilmuan dengan demikan juga akan terdapat pada buku ajar. Prinsip demikian
dirancang untuk menjawab: l) apa yang hendak dibahas, (2) mengapa penting
membahas, 3) bagaimana membahas dan menyajikan, dan 4) untuk siapa
pembahasan ditujukan. Berdasarkan pandangan diatas, buku ajar dirancang
berlandaskan sejumlah prinsip berikut.
1. Prinsip akar rumput: penentuan mata pelajaran dinilai dari disiplin
keilmuan yang diketahui, dikuasai, dan sangat dikuasai.
2. Prinsip kejelasan tujuan/ kebermaknaan: penentuan tujuan penulisan atau
perancangan buku ajar berdasarkan penentuan keunggulan kompetensi apa
yang hendak diraih.
3. Prinsip ketaatasasan keilmuan: Cetak biru buku ajar mengikuti patokan
keilmuan yang berpilar pada ontologis, eptistimologis, dan aksiologis.
Mencari jawaban atas pernyataan: Apa yang hendak dibahas, Mengapa
7
pembahasan ditujukan.
5. Prinsip keotentikan
6. Prinsip standarisasi
7. Prinsip dinamika
8. Prinsip keseimbangan
9. Prinsip komunikatif:
Landasan selanjutnya adalah keterbacaan materi dan ketatabahasaan yang
digunakan. Hal hal yang harus dipahami dalam penyusunan buku ajar terkait
dengan bagaimana materi harus diolah agar memberikan kemudahan bagi peserta
didik untuk memahaminya, dan bagaimana panjang dan suasana kata, frasa,
kalimat, dan wacana tidak menyulitkan. Buku ajar yang memberi kemudahan
kepada peserta didik untuk memahaminya disebut sebagai buku ajar yang
mempunyai keterbacaan yang baik. Dengan demikian, penting sekali untuk
merancang buku ajar berbasis komunikatif.
2.3 Penulisan Buku Ajar Matematika
Proses penyusunan buku ajar mata pelajaran tertentu akan memulai
beberapa tahap sebagai berikut:
a. Telaah Kurikulum 2013
secermat mungkin sambil memberikan catatan atau tanda-tanda atas bahan yang
dianggap penting dan menarik perhatian. Secara umum, yang ditelaah dari
kurikulum adalah landasan filosofis yang dijadikan dasar dalam pengembangan
kurikulum. Landasan ini tercermin melalui pendekatan pembelajaran, tujuan
pendidikan, isi, prosedur, dan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan, serta
sarana penilaian.
8
untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta
memiliki sopan santun disiplin yang tinggi. Menurut Nasution (1995),
pembelajaran matematika sebagai salah satu bidang studi yang diajarkan di
SMP dan MTs mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Matematika dapat digunakan untuk mengetahui gejala-gejala alam.
2. Dengan penggunaan metode matematika, segala sesuatu dalam
pengambilan keputusan dapat diperhitungkan.
4. Matematika dapat digunakan dalam lapangan kerja.
5. Matematika dapat menyampaikan ide-ide secara benar, tepat dan jelas
kepada orang lain.
Dalam kurikulum 2013, pembelajaran matematika harus mengandung 4
kompetensi inti yaitu spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan.
Penintegrasian kompetensi spiritual dan sosial kedalam mata pelajaran
matematika dianggap sulit dan tidak realistis oleh sebagian pihak termasuk oleh
guru pelajaran matematika karena nilai spiritual dan sosial tidak bisa dimasukkan
ke semua materi pembelajaran. Kompetensi inti mata pelajaran matematika kelas
VII SMP dideskripsikan pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.1 Kompetensi Inti Matematika SMP kelas VII Kurikulum 2013
KOMPETENSI INTI
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomenna dan kejadian tampak mata
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/ teori.
9
komponen yang harus dikembangkan dalam menyusun silabus adalah:
1. Kompetensi Inti,
2. Kompetensi dasar,
3. Materi pokok,
4. Pengalaman belajar,
Organisasi buku ajar tetap mengikuti struktur tata tulis pada umumnya,
yakni diawali dengan pendahuluan, isi, dan penutup. Layaknya sebuah buku, buku
ajar merupakan suatu kesatuan yang bermakna. Kebermaknaan ini ditandai oleh
adanya ikatan organisasi. Oleh karena itu, pada awal naskah, buku ajar selalu
berisikan informasi umum tentang buku, tujuan umum yang hendak dioapai
setelah mempelajari buku, cara penggunaan, serta cara pengerjaan latihan dan
soal.
d. Pemilihan Materi
Pemilihan materi yang akan dibahas pada bab setiap buku ajar perlu
disesuaikan dengan kurikulum dengan ukuran- ukuran standar berikut ini:
1. Pemilihan materi standar sesuai dengan kurikulum,
2. Pemilihan materi ditinjau dari segi tujuan pendidikan,
3. Pemilihan materi ditinj au dari segi keilmuan,
4. Pemilihan materi dilihat dari relevansinya dengan perkembangan ilmu dan
teknologi.
Penyajian materi merupakan panduan terhadap cara menyajikan materi
yang terdapat di dalam buku ajar. Unsur-unsur yang terdapat didalamnya adalah:
10
4. Kemudahan dipahami,
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik, jelas, dan benar serta bahasa
ragam formal/ ilmiah dalam penyajian materi adalah keharusan. Bahasa yang baik
dan jelas adalah bahasa yang sesuai dengan keperluan komunikasi dalam bahasa
pembelajaran. Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah
kebahasaan. Bahasa ragam formal/ilmiah adalah bahasa yang sesuai dengan
suasana pembelajaran. Penggunaan bahasa yang baik, jelas, dan benar akan
mendorong kemampuan berbahasa yang baik dikalangan peserta didik, baik
secara lisan maupun tulisan. Selain masalah bahasa, keterbacaan ide atau materi
dapat diciptakan melalui penentuan ilustrasi yang beragam. Terkait dengan
ilustrasi, kita dapatkan media lain, seperti gambar, foto, warna, dan bahkan suara
untuk memperkuat ide yang disampaikan pada buku ajar. Untuk setiap materi
disetiap bab, selalu tersedia ilustras yang sesuai. Hindari penggunaan ilustrasi
yang tidak mendukug ide bahan ajar.
2.4 Pengembangan Buku Ajar Matematika Terintegrasi Kompetensi
Spiritual dan Sosial
Dengan adanya buku ajar, siswa dituntun untuk berlatih, berpraktik, atau
mencobakan teori-teori yang sudah dipelajari dari buku tersebut. Penulisan buku
ajar matematika kelas VII SMP dirancang oleh tim dengan menggunakan
pendekatan saintifik dan mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh BSNP
(Badan Standar Nasional Pendidikan) dengan mengikuti 3 aspek utama yaitu
11
kualitas kelayakan isi, kualitas kelayakan penyajian, kualitas kelayakan bahasa
dan keterbacaan. Kelayakan isi buku ajar lebih terkait pada apakah materi
mendukung tercapainya KI (Kompetensi Inti) dan KD (Kompetensi Dasar) dari
mata pelajaran tersebut. Selanjutnya materi yang disajikan mulai dari pengenalan
konsep, definisi, prosedur, tampilan output, contoh, kasus, latihan, sampai dengan
interaksi antar-konsep sesuai dengan tingkat pendidikan peserta didik dan sesuai
dengan yang diamanatkan oleh Kompetensi Dasar (KD).
Berikut ini panduan alur penulisan buku ajar berdasarkan temuan
penelitian tahun pertama:
Gambar 2.1 Alur Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran menurut Standar Proses.
Dalam rancangan buku ajar ini, dimasukkan berbagai nilai-nilai spritual
dan sosial yang terintegrasi dengan konpetensi pengetahuan dan keterampilan,
baik itu dalam soal-soal latihannya, maupun dalam penjelasan materinya. Selain
itu di buku ini, terdapat kolom Refleksi dan Renungkanlah yang dapat
menggiring siswa untuk mengaitkan materi yang dipelajari dengan nilai-nilai
Perencanaan Proses Pembelajaran
Menanya (ingin tahu,
percaya diri, dll)
kedalam kompetensi pengetahuan:
1. Seorang pedagang semangka yang jujur membeli 6 keranjang semangka.
Masing-masing keranjang berisi 25 buah semangka. Rata-rata berat satu
buah semangka 5 kg. Harga pembelian tiap keranjang Rp160.000,00.
Kemudian keranjang dibuka, ternyata 4% dari keseluruhan semangka itu
busuk. Sisanya kemudian dijual dengan harga Rp 1.500,00 per kilo. Untung
atau rugikah pedagang itu?
2. Tedy, Saleh dan Aris selalu bekerja sama menanam benih di kebun.
Setiap memasukkan benih ke dalam tiga lubang, Tedy merogoh kantong benih
di pinggangnya. Saleh merogoh kantongnya setiap mengisi 4 lubang,
sementara Aris merogoh kantongnya setelah mengisi 5 lubang. Jika pada
lubang petama mereka mengisi bersamaan setiap berapa lubangkah mereka
akan mengisi bersama lagi?
Contoh pengintegrasian nilai spritual dan sosial yang terdapat pada kolom
“renungkan” di bagian akhir materi dalam setiap Bab.
Gambar 2.2 Kolom “Renungkan” merupakan bentuk integrasi kompetensi spiritual dan sosial
13
Sosial
Pada umumnya sebuah buku memiliki struktur yang standar dengan isinya
yang terdiri atas sampul, kata sambutan, kata pengantar, petunjuk buku, daftar isi,
daftar tabel dan gambar, indeks, hingga daftar pustaka. Buku ajar yang telah
dihasilkan pada penelitian tahun sebelumnya memiliki struktur dan karakteristik
yang berbeda dengan buku matematika lain. Kekhasan buku tersebut terletak pada
suplemen materi yang terkait dengan penanaman nilai spiritual dan sosial tanpa
meninggalkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Walaupun pada
prakteknya penanaman nilai spiritual dan sosial tadi bergantung pada
keterampilan guru dalam mengolah pembelajaran yang bermuatan nilai namun
kehadiran buku ini memperjelas dan mempertegas khazanah kompetensi spiritual
dan sosial. Berikut ini beberapa poin buku ajar matematika kelas VII SMP
terintegrasi kompetensi spitual dan sosial yang khas dari buku-buku lain.
1. Sampul dan Narasi Bab
Sampul bab disuguhkan dalam setiap bab dengan gambar atau ilustrasi
yang relevan dengan topik bab dan menariknya lagi dinarasikan sesuai
dengan konteks penggunaan topik matematika tersebut dengan kehidupan
sehari-hari. Hal ini bisa menumbuhkan sikap syukur, kreatif, ingin tahu
siswa dan lain-lain.
Memang bagian ini serupa dengan buku ajar Kurikulum 2013 dari
kementerian pendidikan dan kebudayaan namun ditambahkan sedikit
dengan kata-kata yang menumbuhkan sikap khususnya pada pengalaman
belajar agar nilai tanggung jawab, bekerjasama, jujur dan sikap lainnya
tumbuh.
Peta konsep merupakan bagian yang menjabarkan susunan materi berupa
diagram alur. Sedangkan Istilah Penting merupakan definisi operasional
terhadap istilah terkait dengan judul atau topik bab. Bagian buku ini
diharapkan dapat menumbuhkan sikap belajar sistematis, logis, kreatif dan
lain-lain.
14
Masing-masing tugas diberikan bobot kesulitan dan alokasi yang sesuai
dengan target pembelajaran agar murid terlatih dalam memcahkan
permasalahan matematika. Tugas Mandiri mendorong siswa bersikap
tanggungjawab secara individu, mandiri, dan tepat waktu. Tugas
kelompok menekankan pada sikap kerjasama, tanggung jawab terhadap
kelompok, solidaritas. Kemudian Tugas Proyek membiasakan siswa
bersikap kreatif, inovatif, disiplin, kerjasama dalam menciptakan hasil
karya keilmuan terkait matematika.
5. Wahana Diskusi, Cari Tahu, dan Renungkanlah
Bagian khas ini disisipkan di tempat yang berbeda dan kadang tidak
bersamaan akan tetapi masing-masing bagian bertujuan membentuk sikap
siswa. ‘Wahana Diskusi’ merupakan wadah tempat siswa saling bertukar
pendapat, berdiskusi dan berargummentasi terkait suatau problematika
topik matematika sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap
menghargai pendapat, toleran, bersyukur dan lain sebagainya. ‘Cari
Tahu’ membangun kemandirian siswa dalam menemukan informasi lebih
tentang sebuah topik matematika sekaligus menanamkan nilai kreatif,
sabar dan lain-lain. Sedangkan ‘Renungkanlah’ mengajak siswa
merenungkan kebesaran Tuhan, bersyukur, bersimpati dan lain sebagainya
dengan paparan yang sesuai dengan konteks bhasan matematika tertentu.
6. Latihan, Uji Kompetensi, dan Portofolio
Sekilas latihan, uji kompetensi, dan portofolio merupakan hal biasa dan
lumrah terdapat dalam buku-buku lain namun perlu diketahui bahwa soal
yang disuguhkan pada siswa memiliki muatan spiritual dan sosial dengan
menyisipkan kata-kata bernilai baik dan positif. Sebagaimana dalam
contoh berikut:
membeli sepatu membutuhkan biaya 55%-nya, 15% untuk membeli
ikat pinggang, dan sisanya untuk membeli kemeja, tentukan: a.
15
Harga sepatu, b. Harga ikat pinggang, c. harga kemeja! (Bab 2:
Bilangan hal. 78)
Dalam soal tersebut terdapat kata yang bercetak tebal yang merupakan
nilai yang ingin ditumbuhkembangkan dalam proses pembelajaran
matematika. Ketika siswa membacanya mudah-mudahan siswa tersugesti
untuk melakukan tindakan bernilai karakter tersebut.
7. Ringkasan, Ingatlah dan Refleksi
Pada bagian ‘Ringkasan’ siswa diajak merangkum apa yang telah
dipelajari sehingga muncul sikap mawas diri, tanggung jawab, dan
sebagainya. Bagian ‘Ingatlah’ mengajak siswa mengingat bagian penting
dari pengetahuan yang didapat dalam buku maupun pengetahuan
sebelumnya yang merupakan pondasi dasar topik matematika tertentu dan
dikaitkan dengan topik yang sedang dibahas. Bagian ini akan memacu
siswa bersikap logis dan kritis mengaitkan pengetahuan sebelumnya.
Dalam bagian ‘Refleksi’ siswa dibimbing untuk memecahkan masalah
belajarnya dengan bercermin terhadap apa yang telah siswa dapat,
mengapa susah mengerjakan soal tertentu. Bagian ‘Refleksi’ juga
memberikan kesempatan pada siswa secara berani dan jujur meminta guru
mengulangi penjelasan bahasan topik matematika.
2.6 Roadmap (Peta Jalan) Penelitian
Sejak awal peluncurannya, Kurikulum 2013 telah banyak menuai kritikan
dimasyarakat. Banyak pihak yang meragukan keberhasilan kurikulum tersebut
mengingat belum matangnya persiapan guru maupun sekolah untuk
mengimplementasikan kurikulum tersebut. oleh sebab itu, penelitian tentang
bagaimana pelaksanaan kurikulum 2013 di lapangan, akan sangat membantu
dalam menyempurkan kurikulum ini.
Beberapa penelitian terkait pelaksanaan kurikulum 2013 baru dimulai pada
2 tahun belakangan ini, mengingat Kurikulum ini sendiri baru diterapkan secara
serentak pada tahun ajaran 2014/ 2015. Surasa (2013) dalam penelitiannya tentang
pelaksanaan kurikulum 2013 pada pembelajaran Ekonomi di SMA, menyebutkan
bahwa dalam pengembangan komponen Kurikulum 2013, guru belum memiliki
16
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan acuan yang dipaparkan pada
kurikulum 2013.
SMA menyatakan bahwa pembelajaran di SMA belum terlaksana sesuai dengan
acuan pelaksanaan pemerintah, dimana guru belum mampu mengimplementasikan
kurikulum 2013 dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa.
Menurutnya, faktor penghambat dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah
kurangnya buku pegangan yang sesuai dari kurikulum 2013, kemampuan guru
yang belum optimal dalam menggunakan sumber belajar, media pembelajaran,
dan metode dalam proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran tidak
berjalan sesuai yang diharapkan.
2013 di Madrasah Ibtidaiyah menyatakan bahwa kesiapan Madrasah Ibtidaiyah
melaksanakan kurikulum 2013 belum begitu optimal. Hal ini terlihat dari kepala
madrasah yang belum sepenuhnya siap dalam hal pembinaan artistik. Kesiapan
pendidik di madrasah ibtidaiyah juga belum sepenuhnya siap dalam hal kesiapan
pedagogik dan profesional. Sedangkan kesiapan sarana prasarana sudah cukup
baik karena hal ini dibuktikan dengan tercapainya kriteria yang telah ditentukan.
Sedangkan kesiapan keuangan belum sepenuhnya memadai dalam hal anggaran
untuk perangkat pembelajaran.
Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti membawa dampak
baik dalam peningkatan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah SWT. Dari
hasil penelitiannya, ditemukan bahwa pelaksanaan ibadah shalat fardlu peserta
didik dalam kehidupan sehari-hari cenderung meningkat setelah diberlakukannya
kurikulum 2013.
Dari beberapa penelitian diatas, dapat diketahui bahwa secara garis besar
implementasi kurikulum 2013 belum berjalan dengan sempurna. Namun, untuk
penelitian tentang bagaimana pengintegrasian pendidikan karakter berupa
kompetensi Spritual dan Sosial pada mata pelajaran Matematika di SMP belum
pernah dilakukan sebelumnya. Tidak hanya itu, selama ini belum ada penelitian
17
yang mencoba mengembangkan model RPP, model pembelajaran, dan bank soal
yang dapat dijadikan acuan bagi guru dalam mengintegrasikan Kompetensi
Spiritual dan Sosial pada mata pelajaran matematika di SMP. Oleh sebab itu, hasil
dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi
para pemangku kebijakan, pihak sekolah, dan guru dalam menyempurnakan
kurikulum 2013.
Gambar 2.3 Bagan Road Map Penelitian
Surasa (2013)
Guru belum memiliki kemampuan yang optimal untuk mengembangkan silabus dan RPP sesuai dengan acuan yang dipaparkan di kurikulum 2013.
Septiani (2014)
media pembelajaran, dan metode pembelajaran
yang sesuai dengan kurikulum 2013.
Simorangkir (2014)
Ilmawati (2014)
Implementasi Kurikulum 2013 membawa dampak baik dalam peningkatan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah SWT
Penelitian tentang bagaimana pengintegrasian kompetensi Spritual dan Sosial pada mata pelajaran Matematika di SMP dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajarannya belum pernah dilakukan sebelumnya.
Penelitian Tahun I (2015)
1. Model Integrasi kompetensi Spritual dan Sosial pada mata pelajaran Matematika kelas VII SMP
2. Rancangan Buku Ajar Matematika kelas VII SMP
Penelitian Tahun II (2016)
uji coba dan finalisasi Model dan buku ajar matematika kelas VII SMP
18
1. untuk mengujicoba model integrasi kompetensi spiritual dan sosial yang
telah dirancang sehingga nantinya dapat diketahui kekurangannya dan
dilakukan perbaikan.
2. untuk mengujicoba buku ajar matematika kelas VII yang mengintegrasikan
kompetensi spiritual dan sosial yang telah disusun sehingga nantinya dapat
diketahui kekurangannya dan dilakukan perbaikan.
3.2 Manfaat Penelitian
dengan melihat realita implementasi Kurikulum 2013 yang masih kurang tepat,
integrasi Kompetensi Spritual dan Sosial pada Kurikulum 2013 belum mengena.
Maka dihasilkanlah sebuah draft buku ajar Matematika Kelas VII SMP sebagai
jawaban dari permasalahan tersebut. Para peneliti membantu tenaga pendidik
Matematika SMP untuk lebih memadukan nilai-nilai sikap dalam pembelajaran
Matematika. Namun tentunya baik tidaknya sebuah buku ajar perlu dilakukan
pengujicobaan di sekolah-sekolah untuk mengetahui efektifitasnya.
Penelitian ini juga berkontribusi untuk dapat menghasilkan Buku Pedoman
yang diperuntukkan bagi guru matematika kelas VII SMP sehingga dapat
membantu guru dalam mengoptimalkan perannya untuk menanamkan kompetensi
spiritual dan sosial pada diri siswa melalui pembelajaran Matematika SMP.
Selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
dalam rangka menjadi solusi bagi persoalan tenaga pendidik maupun peserta
didik dalam menanamkan nilai, moral, budaya dan karakter bangsa melalui proses
pembelajaran khususnya pembelajaran Matematika di SMP. Perpaduan nilai
spiritual dan sosial kedalam ranah pengetahuan dan keterampilan membutuhkan
19
pemikiran dan ide yang konstruktif. Hasil penelitian ini juga diharapkan mampu
menjadi evaluasi baik bagi guru, kepala sekolah maupun pemerintah dalam
pengembangan pelaksanaan Kurikulum 2013.
development) yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan produk
pendidikan dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiono, 2010). Produk
yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah model pengintegrasian
kompetensi spritual dan sosial serta buku ajar matematika kelas VII SMP yang
isinya tidak hanya menekankan aspek pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga
aspek spritual dan sosial. Penelitian pengembangan bersifat longitudinal (multi
years). Menurut Borg & Gall (2003), penelitian pengembangan adalah penelitian
yang berorientasi untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang
digunakan dalam pendidikan. Penelitian pengembangan bukan untuk membuat
teori atau menguji teori melainkan untuk mengembangkan produk-produk yang
efektif untuk digunakan di sekolah.
4.2 Prosedur Penelitian
prosedur sebagai berikut:
1. Tahap 1 (identifikasi masalah dan kebutuhan)
Pada tahap ini, Kegiatan yang dilakukan meliputi:
a. Melakukan observasi di 3 SMP Negeri di kota Medan yang menerapkan
Kurikulum 2013 untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan kurikulum
2013 disekolah-sekolah tersebut dan bagaimana pengintegrasian
Kompetensi Spritual dan Sosial Kurikulum 2013 pada mata pelajaran
matematika khususnya kelas VII mulai dari perencanaan
pembelajarannya, pelaksanaan pembelajarannya dan juga penilaiannya.
b. Mengumpulkan data terkait permasalahan (kendala) yang dihadapi oleh
guru terkait penerapan kurikulum 2013 terutama dalam memadukan
21
keterampilan dalam pembelajaran matematika
mereka mengenai pembelajaran matematika yang menggunakan
kurikulum 2013 .
guru tentang kemungkinan solusi yang dapat dilakukan untuk
mengatasi permasalahan yang mereka hadapi dalam
pengimplementasian Kurikulum 2013.
Tahap ini bertujuan untuk merancang model pembelajaran matematika
yang mampu memadukan kompetensi spritual dan sosial dengan
kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Adapun kegiatan yang
dilakukan pada tahap ini adalah:
a. menyusun model pengintegrasian kompetensi spritual dan sosial
dengan kompetensi pengetahuan dan keterampilan pada mata
pelajaran matematika kelas VII SMP
b. menyusun rencana pembelajaran matematika dengan menekankan
pencapaian kompetensi spritual dan sosial pada diri siswa
c. merancang buku ajar matematika yang isinya mendukung
pencapaian kompetensi spiritual dan sosial
3. Tahap 3 (validasi produk)
Pada tahap ini, produk yang telah dirancang selanjutnya
dikonsultasikan dengan beberapa ahli (experts) yang menguasai
permasalahan pembelajaran matematika. Hal ini dilakukan untuk
mendapatkan masukan atau evaluasi terkait produk tersebut sehingga
layak untuk digunakan. Adapun para ahli yang turut menilai rancangan
buku ajar yang telah disusun oleh tim peneliti adalah beberapa dosen
matematika yang berasal dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
UMSU.
22
Untuk menguji efektivitas dari model pengintegrasian kompetensi
spritual dan sosial serta buku ajar matematika yang telah dikembangkan
pada tahun sebelumnya, maka dilakukanlah ujicoba pemakaian buku
tersebut pada siswa kelas VII SMP di kota Medan.
2. Tahap 2 (Analisis dan Revisi II)
Dari hasil ujicoba yang dilakukan di sekolah-sekolah, maka
dilakukan analisis terhadap respon guru dan siswa terkait model
pengintegrasian kompetensi spritual dan sosial dalam pembelajaran
matematika serta buku ajar tersebut. Apabila ada kekurangan dari model
dan buku ajar tersebut, maka keduanya akan direvisi kembali hingga
menghasilkan model dan buku ajar yang benar-benar teruji.
Prosedur penelitian dapat dilihat pada pada Gambar 3.1 berikut ini:
Gambar 3.1 Prosedur Penelitian
Penelitian yang difokuskan pada integrasi kompetensi spritual dan sosial
(Kompetensi Inti I dan II) pada mata pelajaran matematika di SMP kelas VII
berlokasi di 3 SMP Negeri kota Medan dalam rangka mengamati pengintegrasian
kedua kompetensi tersebut pada mata pelajaran Matematika SMP khususnya pada
kelas VII. Karena telah mendapat surat Dinas Pendidikan Kota Medan dan atas
Identifikasi masalah dan kebutuhan
23
permintaan kami bahwa penelitian dapat berlangsung lebiah dari satu tahun maka
tim peneliti melanjutkan penelitian ini di 3 SMP yang telah secara jelas
melaksanakan Kurikulum 2013. Apabila terdapat beberapa SMP Negeri Kota
Medan yang pada tahun 2016 ini menyatakan menggunakan Kurikulum 2013,
maka peneliti tetap melanjutkan Ujicoba Model dan Buku Ajar hanya di SMP
Negeri berikut antara lain:
1. SMP Negeri 1 Medan beralamat di Jl Bunga Asoka No. 6 Medan Selayang
2. SMP Negeri 34 Medan beralamat di Jl. Brigjen M.Zein Hamid Gg.
Perbatasan Baru Medan Maimun
3. SMP Negeri 38 Medan beralamat di Jl. Marelan VII No. 99 Medan
Marelan
4.4 Fish Bone
Penelitian ini dilakukan selama 2 tahun dimana pada tahun pertama, peneliti
melakukan investigasi terhadap permasalahan yang terjadi dilapangan terkait
pelaksanaan kurikulum 2013 terutama terkait dengan bagaimana guru
menuangkan kompetensi spritual dan sosial pada pembelajaran matematika kelas
VII SMP. Hasil investigasi tersebut menjadi dasar bagi peneliti untuk merancang
pola integrasi kompetensi spritual dan sosial pada mata pelajaran matematika
kelas VII SMP dalam proses perencanaannya, proses pembelajarannya dan juga
penilaiannya. Selain itu, dilakukan juga pengembangan terhadap buku ajar
matematika yang isi didalamnya mendukung teritegrasinya kompetensi spritual
dan sosial dengan kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Pada tahun kedua,
dilakukan ujicoba terhadap buku ajar yang telah dikembangkan pada tahun I untuk
melihat efektivitas dari buku tersebut.
Berikut ini ditampilkan diagram alir penelitian (Fish bone):
24
- Buku ajar Matematika kelas VII
Lembar Penilaian
Pelaksanaan Kurikulum
Kepala Sekolah
Revisi I
Data pada penelitian ini adalah bentuk pengamatan pelaksanaan ujicoba
buku ajar, angket, wawancara, dan penilaian kompetensi spritual dan sosial yang
dikorelasikan dengan perubahan tingkah laku siswa menjadi lebih baik setelah
mengikuti pembelajaran berbasis Kurikulum 2013. Data tersebut diperoleh
melalui observasi dan angket. Selain itu peneliti juga menggunakan responden
sebagai sumber data, penentuan responden didasarkan pada pendapat Spradley
(1980) yang menyatakan bahwa responden adalah mereka yang terlibat langsung
dalam aktivitas yang menjadi objek penelitian. Responden dalam penelitian ini
ditentukan berdasarkan kebutuhan si peneliti untuk mendapatkan informasi
mengenai penerapan Kurikulum 2013 yakni guru sebanyak 6 orang, murid
sebanyak 60 orang, dan wali murid sebanyak 24 orang. Data yang diperoleh
menjadi dasar revisi, evaluasi, dan finalisasi Buku Ajar Matematika untuk kelas
VII SMP.
Semua data yang telah didapatkan dari penelitian ini kemudian dianalisis
dan dijadikan acuan atau tolok ukur dalam penyempurnaan buku. Analisis data
dari laporan penelitian ini adalah sebagai berikut:
5.1 Analisa Hasil Uji Coba Model Integrasi Kompetensi Spritual dan Sosial
5.1.1 Perencanaan Pembelajaran
Sesuatu yang terencana dengan baik maka akan menghasilkan yang baik
pula begitu juga sebuah proses pembelajaran di sekolah sebagai pabrik yang
menghasilkan sebuah luaran manusia yang terdidik. Maka perlu direncanakan
bahan atau materi pembelajaran yang diterapkan, kegiatan pembelajaran yang
dilaksanakan, indikator pencapaian kompetensi yang dicantumkan, penilaian yang
berlakukan, alokasi waktu yang dipaki, dan sumber belajar yang dirumuskan
dalam silabus. Agar komponen tersebut juga memfasilitasi terjadinya
pembelajaran yang dapat membantu siswa mengembangkan nilai-nilai, maka
perlu dilakukan adaptasi terhadap komponen kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi, dan teknik penilaian dari silabus. Penambahan dan/atau
modifikasi kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian serta teknik penilaian
dalam silabus harus memperhatikan kesesuaiannya dengan Kompetensi Inti dan
Kompetensi Dasar yang berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan.
Perpaduan nilai spiritual dan sosial perlu difasilitasi dan dikembangkan
sejak proses pembelajaran dirancang melalui RPP. Guru-guru telah berkomitmen
untuk menambahkan unsur nilai spiritual dan atau sosial dalam RPP mereka
sebagaimana terdeskripsi sebagai berikut:
dengan membubuhkan kata-kata yang mengandung nilai spiritual dan
sosial dalam tiap kegiatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran
yang didesain bernuansa mengembangkan kompetensi spiritual dan sosial.
2) Telah menyesuaikan indikator pencapaian kompetensi pada RPP terutama
pada indikator Kompetensi Dasar yang terkait pengetahuan dan
27
pencapaian kompetensi spiritual dan sosial.
3) Telah mengadaptasi dan mengembangkan teknik penilaian pada RPP baik
dengan pengamatan, penilaian sendiri, penilaian antar teman maupun
dengan jurnal secara konsisten untuk mengembangkan dan/atau mengukur
perkembangan kompetensi spiritual dan sosial siswa.
5.1.2 Pelaksanaan Pembelajaran
a. Kegiatan Pendahuluan
mengembangkan nilai spiritual dan sosial antara lain seperti berikut ini.
1) Guru masuk ruang kelas tepat waktu (kedisiplinan);
2) Ketika guru masuk ruang kelas, mengucapkan salam dengan ramah
kepada siswa (santun, kepedulian);
3) Berdoa sebelum memulai pelajaran dan mendoakan siswa lain yang
sedang sakit agar lekas sembuh (kereligiusan, kepedulian);
4) Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu (kedisiplinan);
5) Memberikan teguran kepada siswa yang terlambat dengan sopan
(kedisiplinan, santun dan kepedulian)
spiritual dan sosial yang sesuai.
7) Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan
sesuai silabus.
KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. Guru matematika telah menggunakan metode
yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran,
28
1) meminta peserta didik secara mandiri untuk melihat dan mendengar
baik media visual, audio maupun audiovisual tentang topik/tema
materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam
takambang (belajar dari alam yang selalu mengajarkan kearifan)
dengan memuji ciptaan tuhan, bersyukur atas sempurnyanya
cipataannya (religious, bersyukur, mandiri, berfikir logis, kreatif,
ingin tahu);
2) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara
peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya
dengan sopan dan tertib (ingin tahu, kerja sama, saling
menghargai);
informasi, guru:
tertulis (kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai, santun);
4) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan
masalah, dan bertindak tanpa rasa takut (kreatif, percaya diri, kritis);
5) memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran berbasis masalah,
proyek, penelusuran, penemuan (kerjasama, saling menghargai,
tanggung jawab);
6) memfasilitasi siswa menganalisis pola matematika dengan cermat
terkait dengan permasalahan sehari-hari (teliti, kreatif, kerja keras,
percaya diri).
7) memfasilitasi siswa menyajikan secara tertulis atau lisan dengan
tanggung jawab dan percaya diri terhadap hasil pembelajaran, apa
yang telah dipelajari, keterampilan atau materi yang masih perlu
29
kerjasama).
mengkonfirmasi, sanggahan dan alasan, memberikan tambahan
informasi, atau melengkapi informasi ataupun tanggapan lainnya.
(santun, rasa hormat, berfikir kritis).
c. Kegiatan penutup
a. Selain kesimpulan yang terkait dengan aspek pengetahuan, siswa
agar difasilitasi untuk mendapat pelajaran moral yang berharga,
yang dipetik dari pengetahuan/ keterampilan dan/atau proses
pembelajaran yang telah dilaluinya.
b. Umpan balik yang terkait dengan produk maupun proses harus
menyangkut baik kompetensi maupun karakter dan dimulai dengan
aspek-aspek positif yang ditunjukkan oleh siswa untuk
menumbuhkan kemandirian.
d. Kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program
pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik
tugas individual maupun kelompok diberikan dalam rangka tidak
hanya terkait dengan pengembangan kemampuan intelektual tetapi
juga kepribadian.
5.1.3 Penilaian Pembelajaran
tes dan nontes. Penilaian terhadap penguasaan konsep matematika dilakukan
melalui instrumen tes dan diberikan skor sesuai dengan bentuknya. Instrumen
30
tes digunakan mengukur aspek pengetahuan atau keterampilan. Sebagaimana telah
diungkapkan pada penelitian sebelumnya bahwa dalam proses penilaian hasil
belajar siswa, guru dituntut untuk membuat instrumen penilaian yang meliputi 4
kompetensi yaitu kompetensi spritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan.
Namun kenyataannya, untuk menilai kompetensi spritual dan sosial, guru hanya
menggunakan teknik observasi tanpa membuat rubrik penilaian yang jelas,
sehingga perkembangan nilai-nilai spritual dan sosial pada diri siswa tidak dapat
terlihat secara objektif.
matematika SMP Kota Medan maka guru telah memaklumi pencantuman
instrumen non tes yang dapat berupa lembar pengamatan yang digunakan oleh
guru (pengamat) atau angket isian untuk siswa. Butir-butir pernyataan pada
lembar pengamatan atau angket isian disusun berdasarkan indikator-indikator dari
nilai karakter yang akan diungkap. Adapun teknik penilaian yang dapat dipakai
untuk mengetahui perkembangan karakter adalah pengamatan atau observasi,
penilaian antar teman, dan penilaian diri sendiri dan jurnal.
Pada prinsipnya guru telah mengaplikasikan model integrasi kompetensi
spiritual dan sosial yang telah dihasilkan pada penelitian sebelumnya ditambah
dengan pendampingan sehingga setelah diamati dari proses perencanaan,
pelakasanaan, dan penilaian pembelajarannya memudahkan guru dalam
menjalankan kurikulum 2013 yang mengamanatkan untuk memasukkan nilai
spiritual dan sosial secara integratif dengan kompetensi pengetahuan dan
keterampilan. Namun perlu terus dilakukan diskusi dan kajian lanjut untuk terus
menyempurnakan pola atau model yang telah dikembangkan secara bersama.
5.2 Analisa Hasil Uji Coba Buku Ajar
Untuk mendapatkan buku ajar yang representatif dan dapat digunakan
dalam pembelajaran matematika SMP kelas VII, maka dilakukan analisa ujicoba
buku ajar Matematika Kelas VII. Analisa dilakukan untuk menentukan ketepatan
dan kesesuaian buku ajar dengan kebutuhan siswa, guru, maupun wali siswa.
Analisa ini diperoleh dari siswa, wali murid, dan guru. Analisa kebutuhan
dilaksanakan melalui penggunaan instrumen. Sebagai landasan untuk melakukan
31
perancangan dan pengembangan dalam pembuatan buku ajar matematika SMP
kelas VII, hasil analisis instrumen buku ajar dari siswa, guru, dan wali murid di
SMP sangat diperlukan sebagaimana dijabarkan pada sub judul berikut.
5.1.1 Siswa
Data mengenai analisa tanggapan siswa sebanyak 60 orang di 3 SMP
Negeri Kota Medan dengan rincian masing-masing 20 siswa diminta
respon mereka mengenai buku ajar yang tepat untuk memenuhi keinginan
mereka sebagian besar diperoleh melalui jawaban-jawaban dalam kuesioner
dapat dilihat dalam lampiran dan dijabarkan sebagai berikut:
5.1.1.1 Materi
disimpulkan bahwa 80% siswa SMP dari 60 siswa responden menyatakan
materi buku Matematika SMP dari hasil penelitian ini layak untuk
menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan. Selanjutnya, 13,33%
siswa atau 8 orang memilih materi yang lama karena mereka merasa
belum menguasai materi tersebut dengan cukup baik. Sisanya, 6,67%
tidak menyukai materi baru karena mereka belum begitu menguasai materi
yang lama. Hal ini tercermin pada diagram di bawah ini:
32
5.1.1.2 Penyajian
Sehubungan dengan penyajian materi di dalam buku ajar, berdasarkan
hasil kuesioner terdapat 76,67% atau 46 siswa SMP menyukai lay out (tata
letak) dan sajian yang benar-benar baru bagi mereka. Penyajian dalam buku
tersebut dirasa memberikan wawasan dan pengetahuan yang kontekstual
dengan kehidupan mereka. Selain itu, penyajian baru terasa lebih
menyenangkan dan mengasyikkan untuk mereka pelajari. Namun ada
23,33% atau 14 siswa yang menyatakan bahwa lebih baik menggunakan
penyajian yang lama supaya mudah diingat. Tanggapan siswa tentang
penyajian ini dideskripsikan pada diagram di bawah ini:
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
80%
32
5.1.1.2 Penyajian
Sehubungan dengan penyajian materi di dalam buku ajar, berdasarkan
hasil kuesioner terdapat 76,67% atau 46 siswa SMP menyukai lay out (tata
letak) dan sajian yang benar-benar baru bagi mereka. Penyajian dalam buku
tersebut dirasa memberikan wawasan dan pengetahuan yang kontekstual
dengan kehidupan mereka. Selain itu, penyajian baru terasa lebih
menyenangkan dan mengasyikkan untuk mereka pelajari. Namun ada
23,33% atau 14 siswa yang menyatakan bahwa lebih baik menggunakan
penyajian yang lama supaya mudah diingat. Tanggapan siswa tentang
penyajian ini dideskripsikan pada diagram di bawah ini:
13,33% 6,67%
Jumlah Siswa
5.1.1.2 Penyajian
Sehubungan dengan penyajian materi di dalam buku ajar, berdasarkan
hasil kuesioner terdapat 76,67% atau 46 siswa SMP menyukai lay out (tata
letak) dan sajian yang benar-benar baru bagi mereka. Penyajian dalam buku
tersebut dirasa memberikan wawasan dan pengetahuan yang kontekstual
dengan kehidupan mereka. Selain itu, penyajian baru terasa lebih
menyenangkan dan mengasyikkan untuk mereka pelajari. Namun ada
23,33% atau 14 siswa yang menyatakan bahwa lebih baik menggunakan
penyajian yang lama supaya mudah diingat. Tanggapan siswa tentang
penyajian ini dideskripsikan pada diagram di bawah ini:
Jumlah Siswa
5.1.1.3 Bahasa dan Keterbacaan
Disempurnakan), penggunaan istilah, simbol, dan ikon di dalam buku ajar
serta keterbacaan dari hasil kuesioner menunjukkan bahwa 86,66% siswa
SMP atau 52 siswa menyukai tata bahasa dan keterbacaannya. Menurut
mereka, dengan adanya deskripsi awal disertai dengan gambar terkait topik
pada tiap Bab membuat buku ajar terlihat lebih kontekstual dan aplikatif,
dan menggiring siswa pada pemahaman. Namun, sebanyak 6,67% siswa
atau 4 siswa merasa tata bahasa dan keterbacaannya membingungkan, jadi
mereka tidak menyukainya. Sementara itu, 6,67% siswa menyatakan tidak
penting tata bahasa dengan materi matematika karena menurut mereka
matematika adalah ilmu hitung yang abstrak dan tak pasti. Hal ini
tergambar pada diagram berikut ini:
0 5
76,67%
5.1.1.3 Bahasa dan Keterbacaan
Disempurnakan), penggunaan istilah, simbol, dan ikon di dalam buku ajar
serta keterbacaan dari hasil kuesioner menunjukkan bahwa 86,66% siswa
SMP atau 52 siswa menyukai tata bahasa dan keterbacaannya. Menurut
mereka, dengan adanya deskripsi awal disertai dengan gambar terkait topik
pada tiap Bab membuat buku ajar terlihat lebih kontekstual dan aplikatif,
dan menggiring siswa pada pemahaman. Namun, sebanyak 6,67% siswa
atau 4 siswa merasa tata bahasa dan keterbacaannya membingungkan, jadi
mereka tidak menyukainya. Sementara itu, 6,67% siswa menyatakan tidak
penting tata bahasa dengan materi matematika karena menurut mereka
matematika adalah ilmu hitung yang abstrak dan tak pasti. Hal ini
tergambar pada diagram berikut ini:
23,33% 0%
5.1.1.3 Bahasa dan Keterbacaan
Disempurnakan), penggunaan istilah, simbol, dan ikon di dalam buku ajar
serta keterbacaan dari hasil kuesioner menunjukkan bahwa 86,66% siswa
SMP atau 52 siswa menyukai tata bahasa dan keterbacaannya. Menurut
mereka, dengan adanya deskripsi awal disertai dengan gambar terkait topik
pada tiap Bab membuat buku ajar terlihat lebih kontekstual dan aplikatif,
dan menggiring siswa pada pemahaman. Namun, sebanyak 6,67% siswa
atau 4 siswa merasa tata bahasa dan keterbacaannya membingungkan, jadi
mereka tidak menyukainya. Sementara itu, 6,67% siswa menyatakan tidak
penting tata bahasa dengan materi matematika karena menurut mereka
matematika adalah ilmu hitung yang abstrak dan tak pasti. Hal ini
tergambar pada diagram berikut ini:
Jumlah Guru
Gambar 5.3 Diagram Respon Siswa terhadap Bahasa dan Keterbacaannya Buku
Ajar MM
materi sehingga keberadaannya dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan suatu kasus matematika dengan sederhana.
5.1.1.4 Suplemen Materi Terkait Kompetensi Spritual dan Sosial
Saat membicarakan suplemen di dalam buku ajar, dari hasil kuesioner
terlihat bahwa 80% atau 48 dari 60 siswa SMP menyukai adanya bagian
buku yang menyertakan ‘Wahana Diskusi’, ‘Renungkan’, ‘Cari Tahu’,
‘Ingatlah’, ‘Tugas Proyek’ dan ‘Refleksi’ secara umum mereka mendapat
pencerahan akan pentingnya memiliki nilai-nilai spiritual dan sosial dalam
hidup. Makna tanggung jawab, mandiri, jujur maupun bersyukur bisa
mereka selami sambil belajar dengan buku tersebut. Menurut mereka, hal
tersebut memberikan wawasan dan pengetahuan baru, dapat menguji
kemampuan, dan membuat buku tampak lebih bervariasi sehingga tidak
membosankan, dan membuat otak mereka untuk berfikir. Namun, ada
13,33% atau 8 siswa yang tidak setuju dengan hal tersebut. Mereka merasa
0
10
20
30
40
50
60
86,66%
Gambar 5.3 Diagram Respon Siswa terhadap Bahasa dan Keterbacaannya Buku
Ajar MM
materi sehingga keberadaannya dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan suatu kasus matematika dengan sederhana.
5.1.1.4 Suplemen Materi Terkait Kompetensi Spritual dan Sosial
Saat membicarakan suplemen di dalam buku ajar, dari hasil kuesioner
terlihat bahwa 80% atau 48 dari 60 siswa SMP menyukai adanya bagian
buku yang menyertakan ‘Wahana Diskusi’, ‘Renungkan’, ‘Cari Tahu’,
‘Ingatlah’, ‘Tugas Proyek’ dan ‘Refleksi’ secara umum mereka mendapat
pencerahan akan pentingnya memiliki nilai-nilai spiritual dan sosial dalam
hidup. Makna tanggung jawab, mandiri, jujur maupun bersyukur bisa
mereka selami sambil belajar dengan buku tersebut. Menurut mereka, hal
tersebut memberikan wawasan dan pengetahuan baru, dapat menguji
kemampuan, dan membuat buku tampak lebih bervariasi sehingga tidak
membosankan, dan membuat otak mereka untuk berfikir. Namun, ada
13,33% atau 8 siswa yang tidak setuju dengan hal tersebut. Mereka merasa
6,67% 6,67%
Gambar 5.3 Diagram Respon Siswa terhadap Bahasa dan Keterbacaannya Buku
Ajar MM
materi sehingga keberadaannya dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan suatu kasus matematika dengan sederhana.
5.1.1.4 Suplemen Materi Terkait Kompetensi Spritual dan Sosial
Saat membicarakan suplemen di dalam buku ajar, dari hasil kuesioner
terlihat bahwa 80% atau 48 dari 60 siswa SMP menyukai adanya bagian
buku yang menyertakan ‘Wahana Diskusi’, ‘Renungkan’, ‘Cari Tahu’,
‘Ingatlah’, ‘Tugas Proyek’ dan ‘Refleksi’ secara umum mereka mendapat
pencerahan akan pentingnya memiliki nilai-nilai spiritual dan sosial dalam
hidup. Makna tanggung jawab, mandiri, jujur maupun bersyukur bisa
mereka selami sambil belajar dengan buku tersebut. Menurut mereka, hal
tersebut memberikan wawasan dan pengetahuan baru, dapat menguji
kemampuan, dan membuat buku tampak lebih bervariasi sehingga tidak
membosankan, dan membuat otak mereka untuk berfikir. Namun, ada
13,33% atau 8 siswa yang tidak setuju dengan hal tersebut. Mereka merasa
Jumlah Siswa
bahwa tambahan materi seperti ‘Renungkanlah’ dan lain-lain diatas terasa
susah dan tidak sesuai dengan kemampuan mereka sehingga membuat
mereka tidak percaya diri. Sementara itu, 6,67% atau 4 siswa tidak
mempermasalahkan adanya suplemen tambahan terkait kompetensi spiritual
dan sosial. Berikut diagram yang menampilkan tanggapan siswa tentang
suplemen materi terkait kompetensi spiritual dan social:
Gambar 5.4 Diagram Respon Siswa terhadap Suplemen Materi Buku Ajar MM
5.1.1.6 Aktifitas dan Media Pembelajaran
Sehubungan dengan materi yang terdapat banyak interaksi di dalam
kelas untuk membantu pembelajaran, sebanyak 75% siswa menyatakan
setuju terhadap hal itu. Menurut mereka, materi tersebut akan membuat
mereka bisa saling berdiskusi, mengenal satu sama lain, bertukar informasi,
dan memberikan kesempatan untu bertanya. Sedangkan 23,67% siswa
menyatakan tidak setuju karena mereka lebih suka dengan penjelasan guru
dan belajar di luar kelas. Sementara itu, 1,33% siswa menyatakan terkadang
setuju dan terkadang tidak setuju tergantung kondisinya. Respon pada
aktifitas dan media pembelajaran tersebut terdeskripsi dalam diagram
dibawah ini:
0 5
80%
bahwa tambahan materi seperti ‘Renungkanlah’ dan lain-lain diatas terasa
susah dan tidak sesuai dengan kemampuan mereka sehingga membuat
mereka tidak percaya diri. Sementara itu, 6,67% atau 4 siswa tidak
mempermasalahkan adanya suplemen tambahan terkait kompetensi spiritual
dan sosial. Berikut diagram yang menampilkan tanggapan siswa tentang
suplemen materi terkait kompetensi spiritual dan social:
Gambar 5.4 Diagram Respon Siswa terhadap Suplemen Materi Buku Ajar MM
5.1.1.6 Aktifitas dan Media Pembelajaran
Sehubungan dengan materi yang terdapat banyak interaksi di dalam
kelas untuk membantu pembelajaran, sebanyak 75% siswa menyatakan
setuju terhadap hal itu. Menurut mereka, materi tersebut akan membuat
mereka bisa saling berdiskusi, mengenal satu sama lain, bertukar informasi,
dan memberikan kesempatan untu bertanya. Sedangkan 23,67% siswa
menyatakan tidak setuju karena mereka lebih suka dengan penjelasan guru
dan belajar di luar kelas. Sementara itu, 1,33% siswa menyatakan terkadang
setuju dan terkadang tidak setuju tergantung kondisinya. Respon pada
aktifitas dan media pembelajaran tersebut terdeskripsi dalam diagram
dibawah ini:
13,33% 6,67%
Setuju berpengaruh
bahwa tambahan materi seperti ‘Renungkanlah’ dan lain-lain diatas terasa
susah dan tidak sesuai dengan kemampuan mereka sehingga membuat
mereka tidak percaya diri. Sementara itu, 6,67% atau 4 siswa tidak
mempermasalahkan adanya suplemen tambahan terkait kompetensi spiritual
dan sosial. Berikut diagram yang menampilkan tanggapan siswa tentang
suplemen materi terkait kompetensi spiritual dan social:
Gambar 5.4 Diagram Respon Siswa terhadap Suplemen Materi Buku Ajar MM
5.1.1.6 Aktifitas dan Media Pembelajaran
Sehubungan dengan materi yang terdapat banyak interaksi di dalam
kelas untuk membantu pembelajaran, sebanyak 75% siswa menyatakan
setuju terhadap hal itu. Menurut mereka, materi tersebut akan membuat
mereka bisa saling berdiskusi, mengenal satu sama lain, bertukar informasi,
dan memberikan kesempatan untu bertanya. Sedangkan 23,67% siswa
menyatakan tidak setuju karena mereka lebih suka dengan penjelasan guru
dan belajar di luar kelas. Sementara itu, 1,33% siswa menyatakan terkadang
setuju dan terkadang tidak setuju tergantung kondisinya. Respon pada
aktifitas dan media pembelajaran tersebut terdeskripsi dalam diagram
dibawah ini:
Jumlah Siswa
5.1.1.7 Latihan dan Tugas
Saat ditanya apakah mereka suka latihan yang memberikan
kesempatan untuk praktik di dalam kelas, sebanyak 76,67% atau 46 siswa
menyukai hal tersebut. Menurut mereka, latihan yang seperti itu dapat
mempermudah mereka dalam praktik dan memberikan latihan bagi mereka
untuk mengasah kemampuan. Sedangkan sebanyak 13,33% atau 8 siswa
tidak menyukai latihan tersebut karena mereka lebih menyukai
pembelajaran di dalam kelas. Selanjutnya 10% atau 6 siswa menyatakan hal
tersebut biasa saja dan tergantung kesulitan dari masing-masing individu.
Keragaman respon siswa tentang latihan dan tugas ini tergambar dalam
diagram berikut:
5.1.1.7 Latihan dan Tugas
Saat ditanya apakah mereka suka latihan yang memberikan
kesempatan untuk praktik di dalam kelas, sebanyak 76,67% atau 46 siswa
menyukai hal tersebut. Menurut mereka, latihan yang seperti itu dapat
mempermudah mereka dalam praktik dan memberikan latihan bagi mereka
untuk mengasah kemampuan. Sedangkan sebanyak 13,33% atau 8 siswa
tidak menyukai latihan tersebut karena mereka lebih menyukai
pembelajaran di dalam kelas. Selanjutnya 10% atau 6 siswa menyatakan hal
tersebut biasa saja dan tergantung kesulitan dari masing-masing individu.
Keragaman respon siswa tentang latihan dan tugas ini tergambar dalam
diagram berikut:
5.1.1.7 Latihan dan Tugas
Saat ditanya apakah mereka suka latihan yang memberikan
kesempatan untuk praktik di dalam kelas, sebanyak 76,67% atau 46 siswa
menyukai hal tersebut. Menurut mereka, latihan yang seperti itu dapat
mempermudah mereka dalam praktik dan memberikan latihan bagi mereka
untuk mengasah kemampuan. Sedangkan sebanyak 13,33% atau 8 siswa
tidak menyukai latihan tersebut karena mereka lebih menyukai
pembelajaran di dalam kelas. Selanjutnya 10% atau 6 siswa menyatakan hal
tersebut biasa saja dan tergantung kesulitan dari masing-masing individu.
Keragaman respon siswa tentang latihan dan tugas ini tergambar dalam
diagram berikut:
Jumlah Siswa
5.1.1.8 Feedback (Umpan Balik)
Sehubungan dengan adanya feedback pada sebuah materi, sebanyak
90% dari 60 siswa menyukai dengan adanya hal tersebut. Menurut mereka,
koreksi atau feedback itu akan membuat mereka mengetahui yang salah,
memberhasilkan komunikasi, meningkatkan kemampuan diri,
mempermudah mencari informasi, mempermudah mengoreksi diri,
mempermudah mengetahui kemampuan diri, mengetahui mana yang
salah dan mana yang benar, dan menambah pengetahuan. Sedangkan
sebanyak 10% atau 6 siswa saja menyatakan tidak menyukai dengan
adanya feedback atau koreksi karena hal tersebut membuat mereka tidak
senang dan merasa tidak percaya diri. Tanggapan siswa lebih detil dapat
dilihat dalam diagram berikut:
37
5.1.1.8 Feedback (Umpan Balik)
Sehubungan dengan adanya feedback pada sebuah materi, sebanyak
90% dari 60 siswa menyukai dengan adanya hal tersebut. Menurut mereka,
koreksi atau feedback itu akan membuat mereka mengetahui yang salah,
memberhasilkan komunikasi, meningkatkan kemampuan diri,
mempermudah mencari informasi, mempermudah mengoreksi diri,
mempermudah mengetahui kemampuan diri, mengetahui mana yang
salah dan mana yang benar, dan menambah pengetahuan. Sedangkan
sebanyak 10% atau 6 siswa saja menyatakan tidak menyukai dengan
adanya feedback atau koreksi karena hal tersebut membuat mereka tidak
senang dan merasa tidak percaya diri. Tanggapan siswa lebih detil dapat
dilihat dalam diagram berikut:
37
5.1.1.8 Feedback (Umpan Balik)
Sehubungan dengan adanya feedback pada sebuah materi, sebanyak
90% dari 60 siswa menyukai dengan adanya hal tersebut. Menurut mereka,
koreksi atau feedback itu akan membuat mereka mengetahui yang salah,
memberhasilkan komunikasi, meningkatkan kemampuan diri,
mempermudah mencari informasi, mempermudah mengoreksi diri,
mempermudah mengetahui kemampuan diri, mengetahui mana yang
salah dan mana yang benar, dan menambah pengetahuan. Sedangkan
sebanyak 10% atau 6 siswa saja menyatakan tidak menyukai dengan
adanya feedback atau koreksi karena hal tersebut membuat mereka tidak
senang dan merasa tidak percaya diri. Tanggapan siswa lebih detil dapat
dilihat dalam diagram berikut:
Jumlah Siswa
38
Gambar 5.7 Diagram Respon Siswa terhadap Umpan Balik Buku Ajar MM
5.1.2 Guru
Selain melakukan analisa tanggapan buku ajar pada siswa, kuesioner
juga diberikan kepada 6 guru matematika dari SMP Negeri Kota Medan
yang menerapkan Kurikulum 2013 untuk mengetahui tanggapan mereka
terhadap buku ajar. Ada 6 komponen dalam buku ajar yang perlu dibahas
dalam rangka memberikan feedback terhadap buku ajar yang telah
dirancang yaitu Tujuan, Input, Setting, Aktifitas, Peran Siswa, Peran Guru.
Berikut adalah hasil dari analisa tanggapan yang dilakukan kepada guru:
5.2.1 Tujuan Pembelajaran
karakter apabila tujuan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada
pengetahuan tetapi juga sikap. Guru merespon baik dengan persentase
100% atau 6 orang mengakui terdapat penambahan orientasi tujuan dalam
kegiatan belajar dengan pencapaian sikap atau nilai tertentu dalam mata
pelajaran matematika seperti berpikir logis, kritis, kerja keras,
0
10
20
30
40
50
60
90%
positif
38
Gambar 5.7 Diagram Respon Siswa terhadap Umpan Balik Buku Ajar MM
5.1.2 Guru
Selain melakukan analisa tanggapan buku ajar pada siswa, kuesioner
juga diberikan kepada 6 guru matematika dari SMP Negeri Kota Medan
yang menerapkan Kurikulum 2013 untuk mengetahui tanggapan mereka
terhadap buku ajar. Ada 6 komponen dalam buku ajar yang perlu dibahas
dalam rangka memberikan feedback terhadap buku ajar yang telah
dirancang yaitu Tujuan, Input, Setting, Aktifitas, Peran Siswa, Peran Guru.
Berikut adalah hasil dari analisa tanggapan yang dilakukan kepada guru:
5.2.1 Tujuan Pembelajaran
karakter apabila tujuan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada
pengetahuan tetapi juga sikap. Guru merespon baik dengan persentase
100% atau 6 orang mengakui terdapat penambahan orientasi tujuan dalam
kegiatan belajar dengan pencapaian sikap atau nilai tertentu dalam mata
pelajaran matematika seperti berpikir logis, kritis, kerja keras,
10% 0%
38
Gambar 5.7 Diagram Respon Siswa terhadap Umpan Balik Buku Ajar MM
5.1.2 Guru
Selain melakukan analisa tanggapan buku ajar pada siswa, kuesioner
juga diberikan kepada 6 guru matematika dari SMP Negeri Kota Medan
yang menerapkan Kurikulum 2013 untuk mengetahui tanggapan mereka
terhadap buku ajar. Ada 6 komponen dalam buku ajar yang perlu dibahas
dalam rangka memberikan feedback terhadap buku ajar yang telah
dirancang yaitu Tujuan, Input, Setting, Aktifitas, Peran Siswa, Peran Guru.
Berikut adalah hasil dari analisa tanggapan yang dilakukan kepada guru:
5.2.1 Tujuan Pembelajaran
karakter apabila tujuan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada
pengetahuan tetapi juga sikap. Guru merespon baik dengan persentase
100% atau 6 orang mengakui terdapat penambahan orientasi tujuan dalam
kegiatan belajar dengan pencapaian sikap atau nilai tertentu dalam mata
pelajaran matematika seperti berpikir logis, kritis, kerja keras,
Jumlah Siswa
keingintahuan, kemandirian, percaya diri sedangkan karakter pokok yang
dikembangkan dalam mata pelajaran matematika meliputi religius, jujur,
cerdas, tangguh, peduli, dan demokratis telah tercantum di dalam buku ajar
tersebut. Berikut diagram yang menggambarkan tanggapan guru:
Gambar 5.8 Respon Guru Terhadap Tujuan Pembelajaran pada Buku Ajar MM
Namun demikian dari diskusi yang telah dilakukan didapatkan
beberapa saran pada beberapa materi yang perlu ditambahkan nilai spiritual
dan sosialnya. Memang diakui penulis buku ajar Matematika kelas VII
merupakan living documents (dokumen yang terus membutuhkan perbaikan)
sehingga siapapun bisa member masukan pada buku tersebut.
5.2.2 Input
dilaksanakannya aktivitas belajar oleh siswa. Input dapat berupa teks lisan
maupun tertulis, grafik, diagram, gambar, model, chart, benda
sesungguhnya, film dan sebagainya. Guru merespon positif terhadap input
yang memperkenalkan nilai-nilai dan tidak hanya menyajikan materi atau
0
1
2
3
4
5
6
100%
keingintahuan, kemandirian, percaya diri sedangkan karakter pokok yang
dikembangkan dalam mata pelajaran matematika meliputi religius, jujur,
cerdas, tangguh, peduli, dan demokratis telah tercantum di dalam buku ajar
tersebut. Berikut diagram yang menggambarkan tanggapan guru:
Gambar 5.8 Respon Guru Terhadap Tujuan Pembelajaran pada Buku Ajar MM
Namun demikian dari diskusi yang telah dilakukan didapatkan
beberapa saran pada beberapa materi yang perlu ditambahkan nilai spiritual
dan sosialnya. Memang diakui penulis buku ajar Matematika kelas VII
merupakan living documents (dokumen yang terus membutuhkan perbaikan)
sehingga siapapun bisa member masukan pada buku tersebut.
5.2.2 Input
dilaksanakannya aktivitas belajar oleh siswa. Input dapat berupa teks lisan
maupun tertulis, grafik, diagram, gambar, model, chart, benda
sesungguhnya, film dan sebagainya. Guru merespon positif terhadap input
yang memperkenalkan nilai-nilai dan tidak hanya menyajikan materi atau
0% 0%
keingintahuan, kemandirian, percaya diri sedangkan karakter pokok yang
dikembangkan dalam mata pelajaran matematika meliputi religius, jujur,
cerdas, tangguh, peduli, dan demokratis telah tercantum di dalam buku ajar
tersebut. Berikut diagram yang menggambarkan tanggapan guru:
Gambar 5.8 Respon Guru Terhadap Tujuan Pembelajaran pada Buku Ajar MM
Namun demikian dari diskusi yang telah dilakukan didapatkan
beberapa saran pada beberapa materi yang perlu ditambahkan nilai spiritual
dan sosialnya. Memang diakui penulis buku ajar Matematika kelas VII
merupakan living documents (dokumen yang terus membutuhkan perbaikan)
sehingga siapapun bisa member masukan pada buku tersebut.
5.2.2 Input
dilaksanakannya aktivitas belajar oleh siswa. Input dapat berupa teks lisan
maupun tertulis, grafik, diagram, gambar, model, chart, benda
sesungguhnya, film dan sebagainya. Guru merespon positif terhadap input
yang memperkenalkan nilai-nilai dan tidak hanya menyajikan materi atau
Jumlah Guru
materi atau pengetahuan tersebut dengan persentase 83.33% atau 5 guru.
Sama halnya dengan murid, guru juga menyukai bagian buku ajar yang
menyertakan ‘Wahana Diskusi’, ‘Renungkan’, ‘Cari Tahu’, ‘Ingatlah’, dan
‘Refleksi’. Bagian tersebut menyentuh nilai sikap yang memang sangat
berkaitan dengan konteks pengetahuan dan keterampilan. Diagram di bawah
ini menggambarkan tanggapan guru tentang input buku ajar:
Gambar 5.9 Diagram Respon Guru Terhadap Input Buku Ajar MM
5.2.3 Setting (Pengaturan)
berpasangan, atau dalam kelompok. Masing-masing setting berimplikasi
terhadap nilai-nilai yang terdidik. Setting waktu penyelesaian tugas yang
pendek (sedikit), misalnya akan menjadikan siswa terbiasa kerja dengan
cepat sehingga menghargai waktu dengan baik. Sementara itu kerja
kelompok dapat menjadikan siswa memperoleh kemampuan bekerjasama,
0 0.5
1 1.5
2 2.5
3 3.5
4 4.5
materi atau pengetahuan tersebut dengan persentase 83.33% atau 5 guru.
Sama halnya dengan murid, guru juga menyukai bagian buku ajar yang
menyertakan ‘Wahana Diskusi’, ‘Renungkan’, ‘Cari Tahu’, ‘Ingatlah’, dan
‘Refleksi’. Bagian tersebut menyentuh nilai sikap yang memang sangat
berkaitan dengan konteks pengetahuan dan keterampilan. Diagram di bawah
ini menggambarkan tanggapan guru tentang input buku ajar:
Gambar 5.9 Diagram Respon Guru Terhadap Input Buku Ajar MM
5.2.3 Setting (Pengaturan)
berpasangan, atau dalam kelompok. Masing-masing setting berimplikasi
terhadap nilai-nilai yang terdidik. Setting waktu penyelesaian tugas yang
pendek (sedikit), misalnya akan menjadikan siswa terbiasa kerja dengan
cepat sehingga menghargai waktu dengan baik. Sementara itu kerja
kelompok dapat menjadikan siswa memperoleh kemampuan bekerjasama,
83,33% 16,67% 0%
positif dan berpengaruh
40
materi atau pengetahuan tersebut dengan persentase 83.33% atau 5 guru.
Sama halnya dengan murid, guru juga menyukai bagian buku ajar yang
menyertakan ‘Wahana Diskusi’, ‘Renungkan’, ‘Cari Tahu’, ‘Ingatlah’, dan
‘Refleksi’. Bagian tersebut menyentuh nilai sikap yang memang sangat
berkaitan dengan konteks pengetahuan dan keterampilan. Diagram di bawah
ini menggambarkan tanggapan guru tentang input buku ajar:
Gambar 5.9 Diagram Respon Guru Terhadap Input Buku Ajar MM
5.2.3 Setting (Pengaturan)
berpasangan, atau dalam kelompok. Masing-masing setting berimplikasi
terhadap nilai-nilai yang terdidik. Setting waktu penyelesaian tugas yang
pendek (sedikit), misalnya akan menjadikan siswa terbiasa kerja dengan
cepat sehingga menghargai waktu dengan baik. Sementara itu kerja
kelompok dapat menjadikan siswa memperoleh kemampuan bekerjasama,
Respon Guru Terhadap Input Buku Ajar MM
Jumlah guru
Secara umum setting dari aktivitas yang ada dalam buku tersebut
sudah baik dengan respon positif. Guru memberikan pernyataan positif
terhadap setting dalam Buku Ajar MM tersebut dengan persentase 83,33%
atau 5 guru.
Tugas kelompok, tugas proyek, wahana diskusi dan jumlah soal
latihan dan uji kompetensi sudah cukup memadai Namun masih ada
beberapa aktivitas yang perlu diperbaiki dalam penempatannya. Dari uji
coba yang dilakukan masih banyak siswa yang kesulitan dalam
mengerjakan task secara individu. Disarankan lebih diperbanyak
penggunaan aktivitas yang memungkinkan siswa untuk mengerjakan task
secara berpasangan atau berkelompok. Hal ini dikarenakan dalam setiap
task, siswa tidak hanya memerlukan pemahaman tentang konten dari materi
yang dipelajari akan tetapi mereka juga harus memahami bahasa dari materi
tersebut.
41
Secara umum setting dari aktivitas yang ada dalam buku tersebut
sudah baik dengan respon positif. Guru memberikan pernyataan positif
terhadap setting dalam Buku Ajar MM tersebut dengan persentase 83,33%
atau 5 guru.
Tugas kelompok, tugas proyek, wahana diskusi dan jumlah soal
latihan dan uji kompetensi sudah cukup memadai Namun masih ada
beberapa aktivitas yang perlu diperbaiki dalam penempatannya. Dari uji
coba yang dilakukan masih banyak siswa yang kesulitan dalam
mengerjakan task secara individu. Disarankan lebih diperbanyak
penggunaan aktivitas yang memungkinkan siswa untuk mengerjakan task
secara berpasangan atau berkelompok. Hal ini dikarenakan dalam setiap
task, siswa tidak hanya memerlukan pemahaman tentang konten dari materi
yang dipelajari akan tetapi mereka juga harus memahami bahasa dari materi
tersebut.
41
Secara umum setting dari aktivitas yang ada dalam buku tersebut
sudah baik dengan respon positif. Guru memberikan pernyataan positif
terhadap setting dalam Buku Ajar MM tersebut dengan persentase 83,33%
atau 5 guru.
Tugas kelompok, tugas proyek, wahana diskusi dan jumlah soal
latihan dan uji kompetensi sudah cukup memadai Namun masih ada
beberapa aktivitas yang perlu diperbaiki dalam penempatannya. Dari uji
coba yang dilakukan masih banyak siswa yang kesulitan dalam
mengerjakan task secara individu. Disarankan lebih diperbanyak
penggunaan aktivitas yang memungkinkan siswa untuk mengerjakan task
secara berpasangan atau berkelompok. Hal ini dikarenakan dalam setiap
task, siswa tidak hanya memerlukan pemahaman tentang konten dari materi
yang dipelajari akan tetapi mereka juga harus memahami bahasa dari materi
tersebut.
dan/ atau tanpa pendidik) dengan input belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Guru memberikan rekomendasi positif terhadap aktivitas
belajar yang tercantum dalam buku ajar tersebut dengan respon positif
83,33% atau 5 guru. Mereka menganggap aktifitas dalam buku tersebut
dapat membimbing siswa menginternalisasikan nilai-nilai. Mereka juga
setuju dengan aktivitas belajar aktif yang mendorong terjadinya autonomous
learning (pembelajaran mandiri) dan learner-centered (berpusat pada
siswa). Pembelajaran autonomous learning dan learner-centered secara
otomatis membantu siswa memperoleh banyak nilai kehidupan. Keterangan
diatas didasarkan pada respon guru tentang aktifitas dalam buku ajar
tersebut:
Gambar 5.11 Diagram Respon Guru Terhadap Aktivitas dalam Buku Ajar MM
Berdasarkan hasil tanggapan dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang
digunakan didalam buku sudah bagus. Namun demikian, masih perlu
adanya penambahan variasi dari aktivitas yang mengacu pada konten dari
0 0.5
1 1.5
2 2.5
3 3.5
4 4.5
42
dan/ atau tanpa pendidik) dengan input belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Guru memberikan rekomendasi positif terhadap aktivitas
belajar yang tercantum dalam buku ajar tersebut dengan respon positif
83,33% atau 5 guru. Mereka menganggap aktifitas dalam buku tersebut
dapat membimbing siswa menginternalisasikan nilai-nilai. Mereka juga
setuju dengan aktivitas belajar aktif yang mendorong terjadinya autonomous
learning (pembelajaran mandiri) dan learner-centered (berpusat pada
siswa). Pembelajaran autonomous learning dan learner-centered secara
otomatis membantu siswa memperoleh banyak nilai kehidupan. Keterangan
diatas didasarkan pada respon guru tentang aktifitas dalam buku ajar
tersebut:
Gambar 5.11 Diagram Respon Guru Terhadap Aktivitas dalam Buku Ajar MM
Berdasarkan hasil tanggapan dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang
digunakan didalam buku sudah bagus. Namun demikian, masih perlu
adanya penambahan variasi dari aktivitas yang mengacu pada konten dari
16,67% 0%
42
dan/ atau tanpa pendidik) dengan input belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Guru memberikan rekomendasi positif terhadap aktivitas
belajar yang tercantum dalam buku ajar tersebut dengan respon positif
83,33% atau 5 guru. Mereka menganggap aktifitas dalam buku tersebut
dapat membimbing siswa menginternalisasikan nilai-nilai. Mereka juga
setuju dengan aktivitas belajar aktif yang mendorong terjadinya autonomous
learning (pembelajaran mandiri) dan learner-centered (berpusat pada
siswa). Pembelajaran autonomous learning dan learner-centered secara
otomatis membantu siswa memperoleh banyak nilai kehidupan. Keterangan
diatas didasarkan pada respon guru tentang aktifitas dalam buku ajar
tersebut:
Gambar 5.11 Diagram Respon Guru Terhadap Aktivitas dalam Buku Ajar MM
Berdasarkan hasil tanggapan dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang
digunakan didalam buku sudah bagus. Namun demikian, masih perlu
adanya penambahan variasi dari aktivitas yang mengacu pada konten dari
Respon Guru Terhadap Aktivitas Buku Ajar MM
Jumlah Guru
kepada konten dari pembelajaran, hal ini dikarenakan untuk mencapai
tujuan dari pembelajaran SMP pada ranah sikap itu sendiri.
5.2.5 Peran Murid
pencari tahu, pelaku eksperimen, partisipan diskusi, penyaji hasil-hasil
diskusi dan eksperimen, pelaksana proyek, dan sebagainya. Untuk itu
diperlukan buku ajar yang mampu memfasilitasi dalam mengenal, menjadi
peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai kebaikan hidup. Agar siswa
terfasilitasi dalam mengenal, menjadi peduli, dan menginternalisasi
karakter, siswa harus diberi peran aktif dalam pembelajaran.
Dari hasil tanggapan guru, ditemukan bahwa guru menganggap buku
ajar tersebut mampu membuat siswa berperan aktif didalam kelas. Misalnya
aktivitas yang meminta siswa untuk melakukan diskusi mengenai suatu
topic dengan persantase tanggapan positif sebanyak 100%. Akan tetapi
banyak dari aktivitas yang ada masih mengacu pada controled activities
(aktifitas yang dikondisiskan). Disarankan perlu adanya penambahan
aktivitas yang berupa free activities (bebas dari pengkondisian) dengan
harapan mampu meningkatkan kreativitas siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran khususnya dalam membentuk siswa yang berkarakter. Berikut
diagram tanggapan guru terhadap peran siswa dalam buku ajar:
44
Gambar 5.12 Respon Guru Terhadap Peran Siswa dalam Buku Ajar MM
5.2.6 Peran Guru
spritual dan sosial siswa. Peran guru memfasilitasi internalisasi nilai-
nilai oleh siswa antara lain guru sebagai fasilitator, motivator,
partisipan, dan pemberi umpan balik. Dari hasil tanggapan guru, mereka
mengapresiasi positif aspek spiritual dan sosial yang dikembangkan dalam
buku tersebut. Metode dan teknik pembelajar