Click here to load reader

JUMLAH ANGKA KUMAN TOTAL DAN IDENTIFIKASI KUMAN

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of JUMLAH ANGKA KUMAN TOTAL DAN IDENTIFIKASI KUMAN

KUMAN PATOGEN PADA IKAN TUNA (THUNNUS SP) DARI
PASAR IKAN KEDONGANAN, BALI
Dr.dr. A. A Ngurah Subawa, M.Si
BAGIAN PATOLOGI KLINIK
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/
Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat
menyelesakan Laporan penelitian yang berjudul: JUMLAH ANGKA KUMAN
TOTAL DAN IDENTIFIKASI KUMAN PATOGEN PADA IKAN TUNA
(Thunnus Sp) DARI PASAR IKAN KEDONGANAN, BALI. Laporan
penelitian ini merupakan studi pendahuluan untuk menjadi acuan dalam tahap
penelitian Pemeriksaan Kadar Histamin di dalam Ikan Tuna metode ELISA.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada rekan – rekan yang telah
memberi kesempatan melakukan penelitian di Sub Lab Kesehatan Lingkungan
RSUP. Sanglah serta ketua Departemen Patologi Klinik atas ijin penelitian yang
diberikan. Laporan penelitian Jumlah Angka Kuman Total dan Identifikasi
Kuman Patogen Pada Ikan Tuna (Thunnus sp) Dari Pasar Ikan Kedoganan, Bali.
Denpasar, 11 Desember 2017
2.2 Histamin .……………………………………………………………… 4
2.4 Road Map dan Hipotesis Penelitian ……...…………………………… 7
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian …………………………………………………. 9
3.3 Populasi dan Subjek Penelitian ………………………………………. 10
3.4 Bahan Uji ……………………………………………………………... 10
3.5 Variabel Penelitian …………………………………………………… 11
3.7 Alat Penelitian ………………………………………………………. 12
3.8 Prosedur Penelitian …………………………………………………… 12
3.9 Analisis Data ……………………………………………………….. 14
4.1 Anggaran Biaya ………….……….................................................... 15
4.2 Jadwal Penelitian ….………………………………………………… 15
5.1 Hasil Penelitian ….………………………………………………… 16
6.1 Kesimpulan ….………………………………………………… 22
6.2 Saran ….………………………………………………… 22
Indonesia merupakan negara penghasil tuna terbesar kedua di dunia dengan
memasok lebih dari 16 persen total produksi tuna dunia. Ikan tuna merupakan
ikan dari familia Scombridae, memiliki kandungan histidin dengan level tinggi
yang akan diubah menjadi histamin pada kondisi hangat (suhu 20 - 30 0 C) oleh
bakteri pembentuk histamin yang memiliki enzim histidine decarboxylase.
Histamin merupakan salah satu bahaya dalam pangan maka ditetapkan suatu
standar sebagai batas toleransi maksimum bagi histamin yang terkandung pada
daging ikan. Tinggi rendahnya standar berbeda-beda tergantung negara tujuan
ekspor.
Penelitian eksperimental ini bertujuan untuk profil organoleptis, keasaman,
serta jumlah bakteri total dan jumlah bakteri pembentuk histamine dalam ikan
tuna dari peraiaran Indonesia. Pengujian organoleptik ditujukan pada warna dan
lendir permukaan tubuh, dan tekstur daging. Metode yang digunakan untuk uji
organoleptik adalah metode score sheet dengan skala nilai 1-9. Nilai organoleptik
9 menunjukkan ikan dalam kondisi sangat segar.Kondisi ikan segar ditunjukkan
dengan nilai 7-8. Nilai 5-6 merupakan ambang batas antara kondisi ikan dan jelek.
Ikan dinyatakan busuk dan tidak layak dikonsumsi yaitu pada nilai organoleptik
1-4. Nilai pH merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan
tingkat kesegaran ikan. Pada proses pembusukan ikan, perubahan pH daging ikan
sangat besar peranannya karena berpengaruh terhadap proses autolisis dan
penyerangan bakteri. pH daging ikan biasanya berkisar antara 7- 7,5 dan dapat
turun hingga tergantung dari Rentang pH ikan tuna dari 7.0 – 7.21 (pH netral),
menunjukkan mutu ikan tuna yang baik. Keberadaan bakteri dalam suatu bahan
pangan dapat ditandai dari jumlah koloni per gram bahan pangan melalui uji
jumlah angka kuman. Hasil uji angka kuman pada sampel dapat dulihat pada
tabel 1. Pada pemeriksaan angka kuman total, sebanyak 62.5 % tidak memenuhi
syarat Permenkes RI No. 1096/Menkes/ PER/VI/ 2011 dan SNI 7888 tahun 2009
(memiliki jumlah angka kuman ≥10 6 ) tetapi tidak diketemukan bakteri pathogen
(seperti Eschericia coli dan Salmonella sp). Disarankan perlunya pengawasan
mulai dari ikan ditangkap hingga ke proses penyimpanan sebagai upaya untuk
mempertahankan mutu ikan tuna yang dihasilkan.
Dengan mempelajari kadar histamine dan jumlah bakteri pembentuk
histamine dalam ikan tuna, diperoleh suatu data mengenai mutu dan keamanan
pangan ikan tuna yang yang dijual di Pasar Ikan Kedonganan. Selain itu dengan
mengetahui potensi ikan tuna, kasus penolakan ikan tuna Indonesia oleh karena
kadar histamin yang melebihi standard tidak terjadi. Disarankan perlunya
pengawasan mulai dari ikan ditangkap hingga ke proses penyimpanan sebagai
upaya untuk mempertahankan mutu ikan tuna yang dihasilkan.
Kata kunci: Histamine, TPC, Bakteri Pembentuk Histamin
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan tuna merupakan ikan dari familia Scombridae, genus Thunnus, terdiri
dari bermacam-macam jenis antara lain yaitu: mandidihang (Thunnus albacores),
mata besar (Thunnus obesus), abu-abu (Thunnus tonggol), tongkol (Euthinnus
afinis), albakora (Thunnus allalunga) dan sirip biru (Thunnus thynus). Ikan tuna
memiliki kandungan protein yang tinggi antara 22,6 - 26,2 gr/ 100 gr daging dan
lemak yang rendah, antara 0,2 - 2,7 gr/ 100 gr daging, mengandung mineral
kalsium, fosfor, besi dan sodium, vitamin A (retinol), dan vitamin B (thiamin,
riboflavin dan niasin), membuat permintaan produk ikan tuna dunia semakin
meningkat setiap tahunnya (Motalebi, dkk, 2010).
Ikan cepat mengalami proses pembusukan (perishable food), jika tidak
diawetkan dengan benar. Ikan yang banyak mengandung histidin akan cenderung
lebih cepat membusuk dibandingkan ikan yang tidak banyak mengandung
histidin. Ikan-ikan familia Scombridae memiliki kandungan histidin dengan level
tinggi yang akan diubah menjadi histamin pada kondisi hangat (maksimum
produksi histamine yang tercatat pada suhu 20 - 30 0 C) oleh bakteri pembentuk
histamin yang memiliki enzim histidine decarboxylase, yang hadir dalam usus
dan insang ikan seperti bakteri Morganella morganii, Escherichia coli, Klebsiella
pneumoniae, Proteus vulgaris, Hafnia alvei, Enterobacter aerogenes, Citrobactor
freundii, Aerobacter spp., Serratia spp.) (Anonim a, 2016). Konsumsi ikan yang
busuk menimbulkan keracunan seperti keracunan histamin (scombroid fish
poisoning) (Taylor, 1991).
Pada kadar yang rendah, histamin sebenarnya tidak terlalu berbahaya bagi
kesehatan manusia yang mengkonsumsinya, karena keracunan dan gejalanya
hanya terjadi bila histamin masuk ke dalam aliran darah. Pada asupan yang sangat
tinggi, tubuh sudah tidak mampu lagi mendetoksifikasi racun. Gejala-gejala
keracunan histamin meliputi sakit kepala, kejang, mual, wajah dan leher kemerah-
merahan, tubuh gatal-gatal, mulut dan kerongkongan terasa terbakar, bibir
membengkak, badan lemas dan muntah-muntah (Eitenmiller dkk. 1982). Gejala
keracunan histamin dapat terjadi sangat cepat, sekitar 30 menit setelah
mengkonsumsi ikan yang mengandung histamin tinggi. Kemudian gejala agak
menurun antara 3 hingga 24 jam setelah konsumsi, tetapi mungkin juga hingga
beberapa hari (Bremer, dkk, 2003; Houicher, dkk, 2013). Histamin pada ikan yang
busuk dapat menimbulkan keracunan jika terdapat sekitar 100 mg dalam 100 g
sampel daging ikan yang diuji (Kimata 1961). Menurut Chang Chen, dkk, 2008
histamin dapat menyebabkan keracunan makanan ketika konsentrasinya di dalam
ikan telah mencapai lebih dari 50 mg/100 g. Karena histamin merupakan salah
satu bahaya dalam pangan maka ditetapkan suatu standar sebagai batas toleransi
maksimum bagi histamin yang terkandung pada daging ikan. Tinggi rendahnya
standar ini berbeda-beda tergantung negara tujuan ekspor. Food and Drug
Administration (FDA) menetapkan bahwa untuk ikan tuna, mahi-mahi, dan ikan
sejenis, 5 mg histamin/100 g daging ikan merupakan level yang harus diwaspadai
dan sebagai indikator terjadinya dekomposisi, sedangkan 50 mg histamin/100 g
daging ikan merupakan level yang membahayakan atau dapat menimbulkan
keracunan. Oleh karena itu, jika ditemukan ikan dengan kandungan 5 mg
histamin/100 g daging ikan pada satu unit, maka kemungkinan pada unit yang
lain, level histamin dapat mencapai lebih dari 50 mg/100 g (FDA, 2002).
Dalam lima tahun terakhir, Indonesia menjadi negara penghasil tuna
terbesar kedua di dunia dengan memasok lebih dari 16 persen total produksi tuna
dunia (Anonim b, 2014). Pasar Ikan Kedonganan merupakan pasar ikan terbesar
di Bali, merupakan pasar pantai utama Bali di mana kapal nelayan mendarat
setiap hari dan mengangkut ikan segar tangkapannya seperti tuna, sarden, mahi-
mahi, dan udang, kepiting, lobster dan berbagai macam panen laut lainnya. Ikan
yang dijual tidak saja ditangkap dari perairan Jimbaran tetapi juga dari perairan
yang berdekatan seperti perairan pesisir Jawa, Sulawesi dan Bali sendiri Kusamba
dan Amed di sisi lain pulau. Perlu diketahui potensi ikan tuna yang dijual di pasar
ikan Kedonganan sehingga beberapa kasus penolakan ikan tuna Indonesia seperti
yang pernah terjadi di Uni Eropa dan Amerika Serikat, oleh karena kadar histamin
yang melebihi standar, kandungan logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb),
dan cadmium (Cd), serta oleh faktor lain seperti Salmonella, kotoran (filthy), dan
lain – lain tidak terjadi lagi.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah profil organoleptis ikan tuna yang dijual di Pasar Ikan
Kedonganan ?
dijual di Pasar Ikan Kedonganan?
3. Bagaimanakah karakteristik mikrobiologi (Angka Kuman Total)
dalam ikan tuna yang dijual di Pasar Ikan Kedonganan?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui profil organoleptis ikan tuna yang dijual di Pasar
Ikan Kedonganan
yang dijual di Pasar Ikan Kedonganan
3. Untuk mengetahui karakteristik karakteristik mikrobiologi (Angka
Kuman Total) dalam ikan tuna yang dijual di Pasar Ikan Kedonganan
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Akademik
keamanan pangan ikan tuna yang yang dijual di Pasar Ikan
Kedonganan dilihat dari kadar histamine dan jumlah bakteri
pembentuk histamine.
Mengetahui potensi ikan tuna yang dijual di pasar ikan Kedonganan
sehingga kasus penolakan terhadap ikan tuna Indonesia oleh karena
kadar histamin yang melebihi standar dan lain – lain tidak terjadi lagi.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Deskripsi ikan tuna secara umum adalah kepala simetris, bergaris rusuk
lengkap, bersisik lingkaran (cycloid), rangka terdiri atas tulang sejati dan bertutup
insang, badan berbentuk cerutu, jari-jari lemah sirip ekor bercabang pada
pangkalnya, sirip-sirip kecil di belakang sirip punggung dan sirip dubur ada.
Tulang rahang atas depan dan tulang-tulang hidung tidak membentuk cula, sirip
punggung dua, yang pertama berjari-jari mengeras, dan yang kedua mempunyai
bagian yang berjari-jari keras serta bagian yang berjari-jari lemah kadang-kadang
berlembaran seperti sirip-sirip kecil di belakang sirip dubur, sirip-sirip perut
terdiri atas satu jari-jari keras dan lima jari-jari lemah serta kadang-kadang dua
garis rusuk (Saanin 1984).
diproduksi secara biologis melalui proses dekarboksilasi dari asam amino bebas
serta terdapat pada berbagai bahan pangan seperti ikan, daging merah, keju, dan
makanan fermentasi (Keer, dkk, 2002). Histamin merupakan indikator utama
keracunan scombrotoxin. Scombrotoxin adalah toksin yang dihasilkan terutama
oleh ikan-ikan famili Scombroidae seperti tuna, cakalang, tongkol, marlin,
mackerel, dan sejenisnya (Lehane dan Olley 2000). Ikan-ikan golongan
scombroid biasanya memiliki kandungan histidin dengan level tinggi yang akan
diubah menjadi histamin oleh bakteri pembentuk histamin yang memiliki enzim
histidin dekarboksilase jika kondisi penyimpanan tidak dapat mengontrol
pertumbuhan bakteri (Anonim, 2016).
Ada dua macam histidin dalam daging ikan, yaitu histidin bebas yang akan
diubah menjadi histamin dan histidin terikat dalam protein. Faktor-faktor yang
mempengaruhi perombakan histidin menjadi histamin adalah faktor waktu,
temperatur, jenis dan banyaknya mikroflora bakteri yang terdapat dalam tubuh
ikan (Sims, dkk, 1992). Satuan kadar histamin dalam daging ikan dapat
dinyatakan dalam mg/100 g; mg % atau ppm (mg/1000 g). Kandungan histidin
bebas pada jaringan ikan tuna lebih tinggi dibandingkan dengan spesies ikan
lainnya sehingga meningkatkan potensi peningkatan kadar histamin, khususnya
untuk penyimpanan dan penanganan yang salah (Keer dkk, 2002). Proses
dekarboksilasi histidin menjadi histamin dapat terjadi melalui dua cara yaitu
autolisis dan aktivitas bakteri.
Setelah ikan mati, sistem pertahanan tubuhnya tidak bisa lagi melindungi
dari serangan bakteri, dan bakteri pembentuk histamin mulai tumbuh dan
memproduksi enzim dekarboksilase yang akan menyerang histidin dan asam
amino bebas lainnya pada daging ikan. Enzim ini mengubah histidin dan asam
amino bebas lainnya menjadi histamin yang mempunyai karakter lebih bersifat
alkali (Taylor dan Alasalvar 2002). Bakteri pembentuk histamin secara alami
terdapat pada otot, insang, dan isi perut ikan. Kemungkinan besar insang dan isi
perut merupakan sumber bakteri ini karena jaringan otot ikan segar biasanya
bebas dari mikroorganisme (Omura dkk, 1978). Bakteri ini akan menyebar ke
seluruh bagian tubuh selama proses penanganan. Penyebaran bakteri biasanya
terjadi pada saat proses pembuangan insang (gilling) dan penyiangan (gutting)
(Sumner dkk, 2004).
Banyak penelitian menyebutkan bahwa bakteri pembentuk histamin adalah bakteri
mesofilik, tetapi bakteri pembentuk histamin dapat tumbuh padadaging ikan
sardine pada temperatur <5 0 C (Shahidi dan Botta 1994). Berbagai jenis bakteri
yang mampu menghasilkan enzim histidin dekarboksilase (HDC) termasuk famili
Enterobacteriaceae dan Bacillaceae. Umumnya spesies Bacillus, Citrobacter,
Clostridium, Escherichia, Klebsiella, Lactobacillus, Pediococcus,
Photobacterium, Proteus, Pseudomonas, Salmonella, Shigella, dan Streptococcus
menunjukkan aktivitas dekarbokasilase asam amino (Allen, 2004). Hasil
penelitian Behling dan Taylor (1982) menunjukkan Proteus morganii, Klebsiella
pneumoniae dan Enterobacter aerogenes merupakan bakteri yang mampu
menghasilkan histamin dalam jumlah besar yaitu > 100 mg/100 ml setelah
diinkubasi menggunakan TFIB (Tuna Fish Infusion Broth) pada suhu > 15 0 C
selama < 24 jam, sedangkan Hafnia alvei, Escherichia coli dan Citrobacter
freundii menghasilkan histamin dalam jumlah kecil yaitu < 25 mg/100 ml setelah
diinkubasi menggunakan TFIB pada suhu ≥ 30 0 C selama ≥ 48 jam. Bakteri
pembentuk histamin dapat tumbuh pada kisaran suhu yang luas. Pertumbuhan
bakteri pembentuk histamin berlangsung lebih cepat pada temperatur yang tinggi
(21,1 0 C) daripada temperatur rendah (7,2
0 C) (Behling dan Taylor, 1982 dalam
Valiollah, 2012). Laporan-laporan mengenai suhu optimum dan batas suhu
terendah untuk pembentukan histamin sangat bervariasi. Menurut Keer dkk,
(2002), suhu optimum pembentukan histamin adalah pada suhu 25 0 C. Menurut
Yoguchi dkk, 1990, penyimpanan pada suhu 25 0 C selama 24 jam dapat
meningkatkan kandungan histamin hingga 120 mg/100 g. Sedangkan menurut
Fletcher dkk, 1995, pembentukan histamine pada suhu 0-5 0 C sangat kecil bahkan
dapat diabaikan. Hasil penelitian Price, dkk, 1991 juga menunjukkan bahwa
pembentukan histamine akan terhambat pada suhu 0 0 C atau lebih rendah. Oleh
karena itu, Food and Drug Administration (FDA) menetapkan batas kritis suhu
untuk pertumbuhan histamin pada tubuh ikan yaitu 4,4 0 C (FDA 2001). Lopez-
Sabater dkk, 1996 melaporkan bahwa bakteri pembentuk histamin seperti Proteus
morganii tumbuh baik pada pH netral, tetapi juga dapat tumbuh pada pH antara
4,7 - 8,1. Organisme ini tidak tahan terhadap NaCl, tetapi pada kondisi optimum
dapat tumbuh dengan penambahan NaCl lebih dari 5%.
Perbedaan dari jenis bakteri pembentuk histamin pada ikan golongan
scombroid diakibatkan perbedaan spesies ikan, prosedur penanganan, delay, dan
temperatur. Karakteristik mikroflora yang ada dapat dipengaruhi oleh kebiasaan
makan, lokasi geografis, musim, temperatur air, dan lain-lain. Bakteri pembentuk
histamin sulit dideteksi secara langsung, karena jumlahnya sedikit dibandingkan
bakteri lain pada ikan segar yang ditangkap. Oleh karena itu, untuk mendeteksi
bakteri-bakteri tersebut digunakan media khusus, yang disebut agar diferensial
Niven. Bakteri pembentuk histamin akan membentuk koloni berwarna ungu
dengan latar belakang medium berwarna kuning. Histamin yang terbentuk akan
meningkatkan pH medium, sehingga terjadi perubahan warna kuning menjadi
ungu (Niven dkk, 1981).
BAB 3. KERANGKA KONSEP
1. Ikan tuna merupakan ikan dari famili scombroidae, memiliki kandungan
asam amino histidin dengan level tinggi yang akan diubah menjadi histamin
oleh bakteri pembentuk histamin.
2. Bakteri pembentuk histamin akan memberikan koloni berwarna merah
muda dengan halo pink pada latar belakang berwarna kuning atau orange
pada media modifikasi niven
mengetahui mengetahui kadar histamine dan jumlah bakteri pembentuk histamine
dalam ikan tuna. Adapun tahapan dalam penelitian ini adalah:
1. Pengumpulan bahan uji ikan tuna dari pasar tradisional
2. Pemeriksaan Fisik (Organolpetis dan pH)
3. Pemeriksaan Total Plate Count dan pemeriksaan jumlah bakteri pembentuk
histamine
Persyaratan Mutu dan Keamanan Pangan Ikan Tuna
Organoleptis:
-. Kenampakan
-. Bau
-. Tekstur
Penelitian ini dilakukan selama 8 bulan, dimulai setelah proposal ini
disetujui. Penelitian akan dilakukan di Instalasi Laboratorium Patologi Klinik FK
UNUD/ RSUP. Sanglah Denpasar untuk Pemeriksaan Kadar Histamin,
Pemeriksaan Total Plate Count dan Pemeriksaan Jumlah Bakteri Pembentuk
Histamin serta analisis data
4.3 Populasi dan Subjek Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah ikan tuna yang dijual di pasar ikan
Kedonganan. Sampel yang diambil sebanyak 40 sampel berdasarkan rumus
(Budiharta 2002) :
L = galat yang diinginkan
Dengan tingkat kepercayaan 95 % dan galat yang diinginkan 5 % serta asumsi
prevalensi 2,5 % maka didapat :
(0,05) 2
4.4 Bahan Uji
Bahan uji adalah adalah ikan tuna yang dijual di pasar tradisional pasar ikan
Kedonganan. Jenis ikan tuna yang dipilih adalah ikan tuna dari berbagai macam
spesies seperti mandidihang (Thunnus albacores), mata besar (Thunnus obesus),
abu-abu (Thunnus tonggol), tongkol (Euthinnus afinis), albakora (Thunnus
allalunga) dan sirip biru (Thunnus thynus). Sampel yang diperoleh kemudian
disimpan pada suhu rendah (sampai 0 0 C).
4.5 Variabel Penelitian
yaitu:
Variabel bebas penelitian ini adalah kadar histamine dan jumlah bakteri
pembentuk histamine pada ikan tuna
Variabel tergantung penelitian ini adalah ikan tuna yang dijual di Pasar
ikan Kedonganan
Operasional variabel penelitian ini dapat didefinisikan sebagai berikut :
Ikan Tuna adalah ikan tuna digunakan sebagai nama grup dari beberapa
jenis ikan yang terdiri atas jenis tuna besar (Thunnus spp. Seperti
yellowfin tuna, bigeye, southern bluefin tuna, dan albacore), dan jenis
ikan mirip tuna (tuna-like species) seperti marlin, sailfish, dan
swordfish.
biologis melalui proses dekarboksilasi dari asam amino bebas. Histamin
merupakan indikator utama keracunan scombrotoxin. Scombrotoxin
adalah toksin yang dihasilkan terutama oleh ikan-ikan famili
Scombroidae.
Kadar Histamin adalah kadar histamin dalam sampel ikan yang diukur
menggunakan metode ELISA (Enzymed Linked Immunosorbent Assay).
Bakteri pembentuk histamine adalah bakteri yang mampu
menghasilkan enzim Hdc termasuk bakteri Enterobacteriaceae dan
Bacillaceae, umumnya genus Bacillus, Citrobacter, Clostridium,
Escherichia, Klebsiella, Lactobacillus, Pediococcus, Photobacterium,
Proteus, Pseudomonas, Salmonella, Shigella dan Streptococcus.
Jumlah Bakteri Total (Total Plate Count) adalah penghitungan jumlah
pertumbuhan mikroorganisme setelah diinkubasi dalam media agar
pada suhu 35°C, 48 jam.
Analisis Jumlah Bakteri pembentuk histamine adalah analisis jumlah
bakteri yang memiliki aktivitas enzim Hdc yang akan menaikkan pH
dan membentuk warna merah muda dengan halo pink pada latar
belakang berwarna kuning atau orange.
4.7 Alat Penelitian
2010, Incubator Digisystem Lab Inc, ELISA Washer 470 Biomerieux, ELISA
Reader 270 Biomerieux. Alat yang digunakan untuk analisis Total Plate Count
(TPC) dan analisis bakteri penghasil histamin dengan media Niven (Modifikasi
Niven 1981) adalah pipet volumetrik, homogenizer, plastik steril, cawan petri,
inkubator, autoklaf, talenan, water bath, dan stopwatch.
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan laut jenis
tuna (Thunnus sp.), sedangkan bahan-bahan lainnya adalah Fast Histamin ELISA
kit, metanol, resin penukar ion (dowex 1-x800-100-mesh), aquades, HCl, NaOH,
H3PO4, ortoptalatdikarboksilaldehide (OPT), larutan TCA, asam borat, K2CO3,
vaseline, indikator conway, larutan Butterfield’s Phospate Buffered, Plate Count
Agar (PCA), Media niven (0.1% trypton, 0.2% yeast ekstrak, 0.1% L-histidin,
0.1% CaCO3, 2% NaCl, 2.5% agar, 0.01% phenol red).
4.8 Prosedur Penelitian :
Histamin / ELISA kit (R-Biopharm AG, Darmstadt, Jerman). Masing-masing
sampel ikan dihomogenisasi menggunakan dan 1 g sampel homogen dipindahkan
ke tabung centrifuge, tambahkan 9 mL air suling ke dalam sampel dan campur
dengan baik. Kemudian, sampe disentrifugasi pada 2500 rpm selama 5 menit pada
suhu kamar dan lapisan setelah lipid telah dihapus. 1 ml supernatan dipindahkan
ke tabung centrifuge lainnya, tambhakan 9 mL air suling dan dicampur baik.
Encerkan 200 uL larutan ini dengan air suling. Siapkan 100 uL solusi standar,
sampel dan kontrol ditambahkan ke dalam sumur sampel, masing-masing. 25 uL
reagen asilasi dan 200 uL buffer asilasi ditambahkan ke setiap asilasi baik dan
dicampur sebelum inkubasi selama 15 menit pada suhu ruang. 25 uL terasilasi
solusi standar, kontrol dan sampel siap digunakan untuk prosedur ELISA.
Absorbansi diukur pada 450 nm di ELISA Reader. Konsentrasi histamine dihitung
melalui pedoman dari Ridascreen kit. Batas deteksi dilaporkan sebagai 2,5 mg/
kg, menjadi nilai terendah.
Prinsip kerja analisis TPC adalah pertumbuhan mikroorganisme setelah
diinkubasi dalam media agar pada suhu 35 0 C, 48 jam, maka mikroorganisme
tersebut akan tumbuh berkembang biak dengan membentuk koloni yang dapat
langsung dihitung.
Prosedur kerja analisis TPC adalah sebagai berikut:
1. Timbang sampel secara aseptik sebanyak 25 gram dan ditambahkan 225 ml
larutan Butterfield’s Phospate Buffered, kemudian homogenkan selama 2
menit.
. Dengan menggunakan
pipet steril, diambil 1 ml homogenat dan dimasukkan ke dalam botol berisi 9
ml larutan Butterfield’s Phospate Buffered sehingga diperoleh contoh dengan
pengenceran 10 -2
kali. Lakukan hal yang sama untuk pengenceran 10 -3
, 10 -4
, 10 -5
, dan seterusnya
sesuai kondisi sampel.
3. Selanjutnya untuk metode cawan agar tuang (pour plate method), dipipet
sebanyak 1 ml dari setiap pengenceran dan dimasukkan ke dalam cawan petri
steril secara duplo menggunakan pipet steril.
4. Kedalam masing-masing cawan yang sudah berisi sampel, ditambahkan 12 - 15
ml media Plate Count Agar (PCA) yang sudah didinginkan hingga mencapai
suhu 45 0 C. Setelah agar menjadi padat, cawan petri yang telah berisi agar dan
larutan sampel tersebut dimasukkan ke dalam inkubator dengan posisi terbalik
selama 48 jam, 35 0 C.
5. Hitung jumlah koloni bakteri yang ada di dalam cawan petri. Jumlah koloni
bakteri yang dihitung adalah cawan petri yang mempunyai koloni bakteri
antara 25 - 250 koloni.
menaikkan pH dan merubah warna pada media.
Prosedur kerja analisis bakteri pembentuk histamin adalah sebagai berikut:
Siapkan media modifikasi niven dengan cara mencampurkan semua bahan,
yaitu 0,1% trypton, 0,3% yeast extract, 1,8% L-histidin monohydrochlorid
monohydrat, 0,1% CaCO3, 0,5% NaCl, 2,5% agar, dan 0,003% phenol red,
kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu diencerkan…

Search related