Click here to load reader

POLA KUMAN DAN UJI KEPEKAAN KUMAN PADA PASIEN

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of POLA KUMAN DAN UJI KEPEKAAN KUMAN PADA PASIEN

PIOPNEUMOTORAKS DI RSUP H.ADAM MALIK MEDAN
TESIS
FAKULTAS KEDOKTERAN
PIOPNEUMOTORAKS DI RSUP H.ADAM MALIK MEDAN
TESIS
Kedokteran Paru dalam Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik
Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
MEI SARAH PANE
FAKULTAS KEDOKTERAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat
untuk memperoleh gelar Magister Kedokteran Klinis, Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian
tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis
cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika
penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata diketemukan seluruh atau sebagian tesis
ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian
tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang
penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku.
Telah diuji dan ditetapkan di : Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.
Tanggal : 8 Agustus 2019
Program Magister Kedokteran Klinik
Panitia Penguji Tesis
Ketua Program Studi : Dr. dr. Rodiah R. Lubis, M.Ked(Oph), Sp.M(K)
Sekretaris Program Studi : Dr. dr. Mohd. Rhiza Z. Tala, M.Ked(OG), Sp.OG
Penguji : Dr. dr. Pandiaman Pandia, M.Ked(Paru), Sp.P(K)
Dr. dr. Amira P. Tarigan, M.Ked(Paru), Sp.P(K)
dr. Parluhutan Siagian, M.Ked(Paru), Sp.P(K)
Universitas Sumatera Utara
MEDAN
Judul Penelitian : Pola Kuman dan Uji Kepekaan Kuman pada Pasien
Piopneumotoraks di RSUP H Adam Malik Medan
Nama : Mei Sarah Pane
Program Studi : Program Studi Magister Kedokteran Klinik Departemen
Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Pembimbing I : Dr.dr. Fajrinur Syarani, M.Ked(Paru), Sp.P(K)
Pembimbing II : dr. Widirahardjo, Sp.P(K)
Pembimbing III : Dr. Putri Chairani Eyanoer, MSEpid, PhD
Pembimbing IV : dr. Rina Yunita, Sp.MK
Universitas Sumatera Utara
KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan
di bawah ini:
dan Kedoteran Respirasi
Fakultas : Fakultas Kedokteran
Jenis Karya : Tesis
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive
Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Pola Kuman dan Uji Kepekaan Kuman pada Pasien Piopneumotoraks di RSUP
H.Adam Malik Medan. Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan
Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak
menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data
(database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak
Cipta.
Dibuat di : FK-USU, Medan.
Yang menyatakan
PIOPNEUMOTORAKS DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
ABSTRAK
memberikan antibiotik yang tepat sesegera mungkin merupakan hal yang sangat
membantu dalam penatalaksanaan piopneumotoraks disamping drainase rongga
pleura. Sayangnya, pemeriksaan kultur dan uji kepekaan antibiotik memerlukan
waktu yang cukup lama, sementara pemberian antibiotik tidak dapat ditunda.
Untuk itu diperlukan data pola kuman dan uji kepekaan antibiotik dari kuman
penyebab piopneumotoraks. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola
kuman dan uji kepekaan kuman pada pasien piopneumotoraks
Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional yg dilakukan
dengan menelaah data rekam medik pasien penderita piopneumotoraks yang
dirawat di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi RSUP H Adam
Malik Medan mulai Januari 2016. Data pola kuman dan uji kepekaan didapat dari
laporan hasil kultur di laboratorum mikrobiologi RSUP H Adam Malik Medan.
Hasil: Sebanyak 102 pasien dilibatkan sebagai subjek dalam studi ini, yang terdiri
atas 78.4% laki laki dan 21.6% perempuan. Kultur cairan pleura didapati
pertumbuhan bakteri pada 88 (86.3%) pasien, yang terdiri dari 77 (75.5%) pasien
bakteri tunggal, dan 11 (10.8%) pasien bakteri multipel, sementara pada 14
(13.7%) pasien tidak dijumpai pertumbuhan bakteri. Pemeriksaan hapusan BTA
dijumpai positif hanya pada 16 (15.7%) pasien saja. Bakteri yang paling dominan
adalah Klebsiella sp (21.1%), Citrobacter freundii (17.9%) dan Serratia sp
(12.6%). Antibiotik dengan tingkat sensitivitas paling tinggi adalah Amikacin
(80%), Meropenem (64.2%), dan Cefoperazone-Sulbactam (46.3%), sementara
antibiotik dengan tingkat sensitivitas terendah adalah Ceftriaxone (7.4%),
Cefotaxime (4.2%) dan Ampicilin (3.2%).
Kesimpulan: Bakteri yang paling banyak menjadi etiologi piopneumotoraks
adalah Klebsiella sp, Citrobacter freundii dan Serratia sp, dan antibiotik dengan
tingkat sensitivitas yang tertinggi adalah Amikacin, Meropenem dan
Cefoperazone-Sulbactam
Universitas Sumatera Utara
PATIENTS WITH PIOPNEUMOTHORAX AT H. ADAM MALIK
GENERAL HOSPITAL, MEDAN
Background: Piopneumothorax is a cause of pain and death significantly.
Knowing the bacteria types that cause piopneumothorax and giving the right
antibiotics as soon as possible is a very helpful thing in the management of
piopneumothorax in addition to the drainage of the pleural cavity. Unfortunately,
examination of cultures and antibiotic sensitivity testing takes a long time, while
giving antibiotics can not be delayed. For this reason we need bacterial pattern
data and antibiotic sensitivity tests from germ that cause piopneumothorax. The
aim of this study was to determine the bacterial pattern and drugs sensitivity test
in piopneumothorax patients.
Methods: Descriptive observasional study conducted by examining the medical
record data of patients with piopneumothorax who were treated at H. Adam Malik
General Hospital from January 2016. Data on bacterial patterns and sensitivity
tests were obtained from culture reports in the microbiology laboratory.
Results: 102 patients were consisting of 78.4% men and 21.6% women. Pleural
fluid culture found bacteria growth in 88 (86.3%) patients, consisting of 77
(75.5%) single bacterial patients, and 11 (10.8%) patients with multiple bacteria,
while in 14 (13.7%) patients no bacterial growth was found. AFB smear
examination was found to be positive only in 16 (15.7%) patients. The most
dominant bacteria were Klebsiella sp (21.1%), Citrobacter freundii (17.9%) and
Serratia sp (12.6%). Antibiotics with the highest sensitivity level were Amikacin
(80%), Meropenem (64.2%), and Cefoperazone-Sulbactam (46.3%), while
antibiotics with the lowest sensitivity level were Ceftriaxone (7.4%), Cefotaxime
(4.2%) and Ampicilin (3.2 %).
Conclusion: The most common bacteria as the etiology of piopneumothorax are
Klebsiella sp, Citrobacter freundii and Serratia sp, and the highest antibiotic
sensitivity levels are Amikacin, Meropenem and Cefoperazone-Sulbactam.
Keywords: Piopneumothorax, bacterial culture, drugs-sensitivity test
Universitas Sumatera Utara
Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan mengucapkan syukur kepada ALLAH SWT, karena atas berkat
dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tulisan akhir ini yang berjudul “Pola
Kuman dan Uji Kepekaan Kuman pada Pasien Piopneumotoraks di RSUP
H.Adam Malik Medan”.
keahlian di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKSU/SMF Paru
RSUP H Adam Malik Medan. Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan
penelitian ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan pengarahan dari
berbagai pihak baik dari guru-guru yang penulis hormati, teman sejawat di
Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USU, paramedis dan non
medis serta dorongan dari pihak keluarga. Pada kesempatan ini penulis
menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
Dr. dr. Pandiaman Pandia, M.Ked(Paru), Sp.P(K), sebagai Ketua
Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USU/SMF Paru RSUP H
Adam Malik Medan, yang tiada henti-hentinya memberikan bimbingan Ilmu
Pengetahuan, arahan, petunjuk serta nasehat dalam cara berpikir, bersikap dan
berperilaku yang baik selama masa pendidikan, yang mana hal tersebut sangat
berguna di masa yang akan datang.
Dr. dr. Amira P. Tarigan. Sinaga, M.Ked(Paru), Sp.P(K) sebagai Ketua
Program Studi di Departemen Pulmonolgi dan Kedokteran Respirasi FK USU/
SMF Paru RSUP H Adam Malik Medan dan sekaligus sebagai pembimbing
utama dalam penelitian saya ini yang telah banyak memberikan bantuan,
dorongan, bimbingan, pengarahan dan masukan bagi penulis hingga dapat
menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan di bidang Magister Kedokteran
Klinik.
penelitian ilmiah di Departemen Pulmonolgi dan Kedokteran Respirasi FK USU/
SMF Paru RSUP H Adam Malik Medan dan sekaligus sebagai pembimbing
utama dalam penelitian saya ini yang telah banyak memberikan bantuan,
dorongan, bimbingan, pengarahan dan masukan dalam rangka penyusunan dan
penyempurnaan tulisan ini.
Dr. dr. Fajrinur Syarani, M.Ked(Paru), Sp.P(K), sebagai pembimbing
akademik dan pembimbing tesis saya ini yang telah banyak memberikan penulis
bantuan, masukan, arahan dan terutama motivasi kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan tulisan ini.
dr. Widirahardjo, Sp.P(K), sebagai pembimbing kedua tesis saya ini yang
telah banyak memberikan penulis bantuan, masukan, arahan dan terutama
motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tulisan ini.
dr. Putri Chairani Eyanoer, MS.Epid, PhD sebagai pembimbing statistik
yang telah begitubanyak membantu dan membuka wawasan penulis dalam bidang
statistik dan dengan penuh kesabaran memberi bimbingan sehingga penulis dapat
menyelesaikan tulisan ini.
dr. Rina Yunita, Sp.MK, sebagai pembimbing keempat tesis saya ini yang
telah banyak memberikan penulis bantuan, masukan, arahan dan terutama
motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tulisan ini.
Penghargaan dan rasa terimakasih juga tak lupa penulis sampaikan kepada
yang terhormat Prof. dr. H. Luhur Soeroso, Sp.P(K), Prof. dr. H. Tamsil
Syafiuddin, Sp.P(K), dr. H. Hilaluddin Sembiring, DTM&H, Sp.P(K), dr.
Widirahardjo, Sp.P(K), Dr. dr. Fajrinur Syarani, M.Ked(Paru), Sp.P(K), Dr. dr.
Pandiaman Pandia, M.Ked(Paru), Sp.P(K), Dr. dr. Noni N. Soeroso,
M.Ked(Paru), Sp.P(K), dr. Setia Putra Tarigan, Sp.P(K), dr. Syamsul Bihar,
M.Ked(Paru), Sp.P(K), dr. Ade Rahmaini, M.Ked(Paru), Sp.P, dr. Netty Y.
Damanik, Sp.P, dr. Ucok Martin, Sp.P, dr. Nuryunita Nainggolan, Sp.P(K), yang
telah banyak memberikan bantuan, bimbingan, masukan dan pengarahan selama
menjalani pendidikan.
Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada yang
terhormat Dekan Fakultas Kedokteran USU Medan dan Direktur RSUP H. Adam
Malik Medan yang telah memberikan kesempatan dan bimbingan kepada penulis
dalam melaksanakan dan menyelesaikan penelitian ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman sejawat peserta Program
Pendidikan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi khususnya
teman seangkatan, pegawai tata usaha, perawat/petugas poliklinik, ruang rawat
inap, instalasi perawatan intensif, instalasi gawat darurat RSUP H Adam Malik
atas bantuan dan kerja sama yang baik selama menjalani masa pendidikan.
Dengan rasa hormat dan terima kasih yang tiada terbalas penulis
sampaikan kepada Ayahanda H. Armen Tua Pane dan Ibunda Hj. Sumaria Lubis
yang telah membesarkan, mendidik dan mendukung seluruh proses pendidikan
penulis, serta suami tercinta M. Ali Sahbudin, SE, ketiga anakku ananda Habib
Husein Harahap, Rafanul Hakim Harahap dan Putra Qori Ahnaf, beserta keluarga
besar saya yang memberi dorongan semangat serta doa yang tak henti sehingga
penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini. Tiada kata yang dapat diucapkan
selain ungkapan rasa terima kasih dan penghargaan atas segala yang telah
Ayahanda dan Ibunda, suamiku, anakku beserta keluarga besarku yang diberikan
selama ini.
permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan, kekhilafan dan
kesalahan yang pernah diperbuat selama ini. Semoga ilmu, keterampilan dan
pembinaan kepribadian yang penulis dapatkan selama ini dapat bermanfaat bagi
agama, nusa dan bangsa.
ABSTRAK ................................................................................................................ vii
ABSTRACT ............................................................................................................... viii
2.6 Kerangka Teori --------------------------------------------------------------------------------- 25
2.7 Hipotesis Penelitian ---------------------------------------------------------------------------- 26
2.8 Kerangka Konsep ------------------------------------------------------------------------------ 26
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian -------------------------------------------------------------------------------- 27
3.3.1 Populasi ---------------------------------------------------------------------------------- 27
3.3.2 Sampel ----------------------------------------------------------------------------------- 27
3.4 Variabel Penelitian ---------------------------------------------------------------------------- 28
3.5 Pengumpulan Data ---------------------------------------------------------------------------- 28
3.5.2 Pengolahan Data ----------------------------------------------------------------------- 29
3.6 Defenisi Operasional ------------------------------------------------------------------------- 29
3.8 Jadwal Penelitian ------------------------------------------------------------------------------ 31
4.1 Hasil Penelitian --------------------------------------------------------------------------------- 33
4.1.2 Karakteristik Klinis dan Mikrobiologis Subjek Penelitian --------------------- 34
Universitas Sumatera Utara
4.1.4 Hubungan Karakteristik Klinis dengan Pola Kuman ---------------------------- 39
4.1.5 Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Berdasarkan Jenis Kuman ------------------- 40
4.2 Pembahasan ------------------------------------------------------------------------------------- 43
4.2.2 Karakteristik Klinis dan Mikrobiologis Subjek Penelitian --------------------- 46
4.2.3 Pola Kuman pada Pasien Piopneumotoraks--------------------------------------- 48
4.2.4 Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Berdasarkan Jenis Kuman ------------------- 51
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan -------------------------------------------------------------------------------------- 54
5.2 Saran --------------------------------------------------------------------------------------------- 54
DAFTAR PUSTAKA ----------------------------------------------------------------------------- 56
dan Skema Terapi .................................................................. ......... ....... 16
Empiris .................................................................................. ................ 17
Kultur Negatif ........................................................................ ................ 22
4.2 Karakteristik Klinis dan Mikrobiologis Subjek Penelitian .... ................ 35
4.3 Pola Kuman pada Pasien Piopneumotoraks yang Dirawat
di RSUP HAM ....................................................................... ................ 37
di RSUP HAM ....................................................................... ................ 37
4.7 Persentase Sensitivitas Antibiotik pada Masing-Masing
Bakteri ................................................................................... ................ 40
Hidropneumothoraks Kanan Luas Disertai dengan
Bronkiektasis Kistik Bilateral Berat ...................................... ................ 11
2.2 Gambaran M Mode pada Pneumothoraks ............................. ................ 12
2.3 CT Scan Thoraks Menunjukkan Piopneumothoraks Kiri pada
Pasien dengan Pneumonia Bilateral dan ARDS .................... ................ 13
2.4 Kerangka Teori Penelitian ..................................................... ................ 25
2.5 Kerangka Konsep Penelitian ................................................. ................ 26
3.1 Kerangka Kerja Penelitian ..................................................... ................ 31
4.1 Diagram Batang Sensitivitas Antibiotik ................................ ................ 43
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 2 Persetujuan Komite Etik (Ethical Clearance) .................................. 61
Lampiran 3 Data Sampel Penelitian .................................................................... 62
Lampiran 4 Hasil Analisis Data ........................................................................... 65
Universitas Sumatera Utara
PBP = Protein Pengikat Penisilin
ICD-10 = International Classification of Disease and Related Health Problem 10
BTA = Basil Tahan Asam
GFM = Gas Forming Microorganism
rongga pleura. Piopneumotoraks ini sendiri dapat terlokalisasi (berkapsul) atau
melibatkan seluruh rongga pleura (Gupta et al., 2013). Biasanya piopneumotoraks
ini terjadi akibat timbulnya bronkopleural fistel spontan yang terjadi karena
pneumonia atau abses paru (Jagelavicius et al., 2015). Meskipun jarang,
pneumothoraks, empiema dan piopneumotoraks merupakan komplikasi dari TB
paru dan merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang signifikan. Biasanya,
komplikasi ini terjadi akibat rupturnya nodus parenkim atau kavitas kedalam
rongga pleura. Pada kebanyakan pasien TB paru, bronkopleural fistel dan atau
pleura kutaneus fistel merupakan manifestasi yang umum (Kartaloglu et al.,
2006)
seperti India, insidens piopneumotoraks umumnya terjadi pada kelompok usia
muda yang disebabkan oleh tuberkulosis. Menurut penelitian yang dilakukan Anil
Gupta dkk, dari 50 pasien, 19 pasien terdapat pada kelompok usia 21-30 tahun,
sedangkan 13 pasien berada dalam kelompok umur 11-20 tahun. Sedangkan
menurut penelitian yang dilakukan oleh Kamat, dari 100 pasien, 29 kasus terdapat
pada usia dibawah 24 tahun dan 58 kasus berusia antara 25- 44 tahun (Gupta et
al., 2013).
Mengetahui jenis kuman penyebab piopneumotoraks dan memberikan
antibiotik yang tepat merupakan salah satu hal yang sangat membantu dalam
penatalaksanaan piopneumotoraks disamping drainase yang baik dari rongga
pleura. Untuk mengetahui jenis kuman tersebut dapat dilakukan dengan cara
pewarnaan langsung ataupun dengan mengkultur cairan piopneumotoraks
tersebut. Untuk mengetahui antibiotik yang tepat untuk kuman penyebab
piopneumotoraks tersebut, dilakukan pemeriksaan uji kepekaan kuman.
Universitas Sumatera Utara
kepekaan kuman terhadap antibiotik agar antibiotik yang kita berikan lebih tepat.
Disamping itu dari pola kuman tersebut dapat dibuat suatu hubungan antara
penyakit yang mendasari dan kuman yang didapat.
Pada penelitian prospektif yang dilakukan Setia Putra pada Januari 2007
sampai dengan Juni 2007 di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan,
dijumpai hasil paling banyak etiologi empiema disebabkan pneumonia (50%)
kemudian diikuti TB paru (39,3%) dan tumor paru (7,1%). Bakteri aerob yang
paling banyak adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus haemolyticus dan
Streptococcus pneumoniae. Juga dijumpai bakteri anaerob Clostridium
perfringens dari kultur cairan pleura tersebut (Tarigan, 1997).
Pada penelitian yang dilakukan Anil Gupta dkk pada tahun 2010 sampai
dengan 2013 di Rumah Sakit Umum di Ahmedabad, dijumpai etiologi terbanyak
untuk piopneumotoraks adalah TB paru (92%), diikuti oleh pneumonia (6%) dan
amuba (2%). Sedangkan jenis mikroorganisme penyebab piopneumotoraks
tersering adalah pseudomonas (22%), diikuti oleh Staphylococcus Aureus (16%)
dan E Coli (12%). Sedangkan sebanyak 46 % hasil kultur tidak ditemukan jenis
mikroorganismenya (Gupta et al., 2013).
Dari paparan diatas terdapat perbedaan antara pola kuman
piopneumotoraks dengan empiema. Karena berbeda dengan empiema,
piopneumotoraks terjadi akibat adanya hubungan antara airway dengan rongga
pleura sehingga mikroorganisme dari saluran napas atas bisa masuk ke rongga
pleura. Hal ini menyebabkan pola kuman yang berbeda dengan empiema,
sehingga akan berbeda pula dalam hal pengobatannya. Hal inilah yang menjadi
latar belakang penulis untuk meneliti mengenai pola kuman dan uji kepekaan
kuman pada pasien piopneumotoraks di RSUP H. Adam Malik Medan.
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka dapat dirumuskan
masalah yaitu bagaimana pola kuman dan uji kepekaan kuman pada pasien
piopneumotoraks di RSUP H. Adam Malik Medan.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui pola kuman dan uji kepekaan kuman pada pasien
piopneumotoraks di RSUP H. Adam Malik Medan.
1.3.2 Tujuan Khusus
pasien piopneumotoraks di RSUP H. Adam Malik Medan
2. Mengetahui distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik klinis dan
mikrobiologis pada pasien piopneumotoraks di RSUP H. Adam Malik
Medan
piopneumotoraks di RSUP H. Adam Malik Medan
4. Mengetahui hubungan antara karakteristik klinis pasien dengan pola
kuman pada pasien piopneumotoraks di RSUP H.Adam Malik Medan.
5. Mengetahui hasil uji kepekaan kuman terhadap antibiotik pada pasien
piopneumotoraks di RSUP H.Adam Malik Medan.
6. Mengetahui hasil uji kepekaan kuman terhadap antibiotik berdasarkan
jenis kuman pada pasien piopneumotoraks di RSUP H.Adam Malik
Medan.
kuman pada pasien piopneumotoraks.
2. Manfaat bagi institusi, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat
diketahui gambaran pola kuman pada pasien piopneumotoraks dan uji
kepekaan kuman terhadap antibiotik, di RSUP H. Adam Malik Medan
yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk pemberian antibiotika
secara empirik sebelum hasil pemeriksaan yang sessungguhnya
didapatkan.
3. Manfaat bagi penelitian, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan
perbandingan untuk penelitian di masa yang akan datang.
Universitas Sumatera Utara
rongga pleura. Piopneumotoraks ini sendiri dapat terlokalisasi (berkapsul) atau
melibatkan seluruh rongga pleura. Piopneumotoraks diakibatkan oleh infeksi,
yang mana infeksinya ini berasal dari mikroorganisme yang membentuk gas atau
dari robekan septik jaringan paru atau esofagus kearah rongga pleura. Kebanyakan
jenis kuman yang sering terdapat adalah Mycobacterium tuberculosis,
Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae dan Escherichia coli (Gupta et
al., 2013; Light, 2013).
dapat dikelompokkan berdasarkan atas kejadian, luas kolaps paru, dan jenis fistel
yang terjadi.
a. Pneumotoraks spontan,
Yaitu setiap pneumotoraks yang terjadi secara tiba-tiba. Pneumotoraks tipe ini
dapat diklasifikasikan kedalam dua jenis, yaitu:
1. Pneumotoraks spontan primer, yaitu pneumotoraks yang terjadi secara
tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya atau tanpa penyakit dasar yang jelas.
2. Pneumotoraks spontan sekunder, yaitu pneumotoraks yang terjadi dengan
didasari oleh riwayat penyakit paru yang telah dimiliki sebelumnya.
(Widirahardjo, 2017)
Yaitu terjadi akibat adanya suatu trauma, baik trauma penetrasi maupun
bukan, yang menyebabkan robeknya pleura, dinding dada maupun paru.
Universitas Sumatera Utara
a) Pneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental
Yaitu pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis karena kesalahan/
komplikasi tindakan tersebut, misalnya pada tindakan parasintesis dada,
biopsi pleura, biopsi transbronkhial, biopsi/ aspirasi paru perkutaneus,
kanulasi vena sentral, barotrauma (ventilasi mekanik) (Widirahardjo,
2017).
Yaitu pneumotoraks yang sengaja dilakukan dengan cara mengisi udara
kedalam rongga melalui jarum dengan suatu alat Maxwell box. Biasanya
untuk terapi tuberkulosis (sebelum era antibiotik) atau untuk menilai
permukaan paru (Widirahardjo, 2017).
2. Pneumotoraks traumatik non iatrogenik
Yaitu terjadi karena luka lecet karena kecelakaan, misalnya luka lecet pada
dinding dada baik terbuka maupun tertutup, barotrauma (Widirahardjo,
2017).
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
volume paru).
paru).
kedalam tiga jenis, yaitu:
a. Pneumotoraks Tertutup (simple pneumotoraks)
Pada tipe ini, pleura dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka pada
dinding dada), sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar. Tekanan di
dalam rongga pleura awalnya mungkin positif, namun lambat laun berubah
menjadi negatif karena diserap oleh jaringan paru disekitarnya. Pada kondisi
tersebut paru belum mengalami re-ekspansi, sehingga masih ada rongga pleura,
meskipun tekanan di dalamnya sudah kembali negatif. Pada waktu terjadi
gerakan pernapasan, tekanan udara di rongga pleura tetap negatif
(Widirahardjo, 2017) .
Yaitu pneumotoraks dimana terdapat hubungan antara rongga pleura
dengan bronkus yang merupakan bagian dari dunia luar, atau terdapat luka
terbuka pada dada. Dalam keadaan ini tekanan intrapleura sama dengan
tekanan udara luar. Pada pneumotoraks terbuka tekanan intrapleura sekitar nol.
Perubahan tekanan ini sesuai dengan perubahan tekanan yang disebabkan oleh
gerakan pernapasan. Pada saat inspirasi tekanan menjadi negatif dan pada
waktu ekspirasi tekanan menjadi positif. Selain itu, pada saat inspirasi
mediastinum dalam keadaan normal, tetapi pada saat ekspirasi mediastinum
bergeser ke arah sisi dinding dada yang terluka (sucking wound)
(Widirahardjo, 2017).
Yaitu pneumotoraks dengan tekana intrapleura yang positif dan makin
lama makin bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis yang bersifat
ventil. Pada waktu inspirasi udara masuk melalui trakea, bronkus serta
percabangannya dan selanjutnya terus menuju pleura melalui fistel yang
terbuka. Waktu ekspirasi udara di dalam rongga pleura tidak dapat keluar.
Akibatnya tekanan di dalam rongga pleura makin lama makin tinggi dan
melebihi tekanan atmosfer. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura ini
dapat menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal napas (Widirahardjo,
2017).
pneumotoraks tanpa penyakit paru-paru yang mendasari, terutama terjadi pada
pria muda dan kurus. Hal ini biasanya disebabkan oleh rupturnya pleura blebs
atau bullae (Chen et al., 2008).
Pneumotoraks spontan sekunder (PSS) biasanya terjadi dengan penyakit
paru yang mendasarinya, seperti PPOK sebanyak 70 persen dari kasus. Penyakit
paru lain yang dapat meningkatkan resiko terjadinya pneumothoraks adalah
tuberkulosis, pneumonia nekrotik, pneumocystis carini, kanker paru, sarkoma
yang mengenai paru, sarkoidosis, endometriosis, kistik fibrosis, asma persisten
berat, idiopathic pulmonary fibrosis, artritis rheumatoid, ankylosing spondilitis,
polymyositis dan dermatomyositis, sklerosis multipel, sindrom marfan dan
sindrom ehlers-danlos, histiositosis X dan lymphangioleiomyomatosis (LAM)
(Zarogoulidis et al., 2014).
Rongga pleura dalam keadaan normal tidak dijumpai udara. Bila ada
hubungan antara atmosfir dengan rongga pleura oleh sebab apapun, maka udara
akan masuk ke rongga pleura yang mengakibatkan terjadinya pneumotoraks.…

Search related