Upload
nurika-arviana
View
151
Download
16
Embed Size (px)
ILEUS OBSTRUKTIF
Penyusun :
Sarah Kamilah
030.08.217
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Koja
Periode 14 Mei 2012 – 21 Juli 2012
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
ILEUS OBSTRUKTIF
Definisi 1
Ileus dapat didefinisikan sebagai hambatan pasase isi usus. Dengan kata lain, ileus obstruktif
adalah hambatan pasase usus yang disebabkan oleh sumbatan pada bagian distal.
Pemeriksaan Fisik 2,3,4
Keadaan umum : penderita tampak lemah, gelisah, sesak nafas dengan perut kembung dan
tegang. Kalau obstruksi berlangsung lama dan terjadi strangulasi, maka akan terjadi demam,
penderita dehidrasi, bibir kering, turgor kulit menurun, hipotensi, takikardi dan syok septik.
Abdomen : 2,3,5
Inspeksi: Terlihat distensi, tampak gambaran usus (darm contour), tampak gerakan usus,
terutama pada penderita kurus.
Auskultasi: Terdengar suara usus meninggi (metallic sound) terutama pada permulaan
terjadinya obstruksi dan terdengarnya sangat jelas pada saat serangan kolik. Kalau
obstruksi berlangsung lama dan telah terjadi strangulasi serta peritonitis, maka bising
usus akan menghilang.
Palpasi: Pada obstruksi intestinal yang simple berbeda dengan obstruksi intestinal
strangulasi. Pada obstruksi intestinal strangulasi akan terjadi rangsangan peritoneum
akibat terjadinya peritonitis, akan terdapat tanda-tanda : perut distensi tegang, nyeri
tekan, nyeri lepas, nyeri kejang otot (defance muscular)
Perkusi: Seluruh dinding abdomen nyeri ketok dan terdengar suara tympani.
Pemeriksaan colok dubur:
Untuk mengetahui apakah ada massa dalam rectum. Adanya feces harus diperhatikan, apakah
ada darah samar, sebab adanya darah dalam feces kemungkinan adanya lesi dari mukosa atau
adanya intussusepsi.
Gejala Klinis 1
Gejala klinis yang ditemukan pada pasien ileus obstruktif bervariasi penampilan dan
keparahannya, tergantung dari tingkat obstruksi atau kapan pasien diperiksa. Gejala tersebut
antara lain:
Nyeri abdomen yang biasanya agak tetap pada awalnya dan kemudian menjadi bersifat
kolik. Nyeri bersifat episodic tergantung dengan tingkat obstruksi. Obstruksi jejunum
tinggi sekitar 4-5 menit dan obstruksi ileum rendah 15-20 menit. Nyeri pada obstruksi
proksimal biasanya ada di supraumbilicus, sedangkan pada obstruksi distal nyeri pada
intraumbilicus.
Muntah ditemukan segera setelah adanya obstruksi. Muntah tergantung pada tingkat
obstruksi, apabila obtruski berada di bagian proksimal, maka muntah akan terjadi lebih
dini dan terdiri dari cairan jernih hijau atau kuning. Jika obstruski berada di distal, maka
muntah akan timbul lambat karena didahului oleh distensi usus. Muntahannya akan
kental dan berbau busuk sebagai hasil pertumbuhan bakteri berlebihan karena adanya
renggang waktu yang lama.
Kegagalan buang gas dan buang air besar per rectum merupakan salah satu gambaran
khas dari obstruksi usus. Apabila obstruksi berada di distal, mungkin tidak terjadi
obstipasi dalam beberapa hari karena lewatnya isi usus menuju bagian distal memerlukan
waktu.
Patofisiologi
Menurut berat ringannya obstruksi dapat dibagi menjadi : 2,4,5
A. Obstruksi Intestinal Partial (In Complete)
Sebagian sisa makanan dan udara masih dapat melintasi tempat obstruksi
B. Obstruksi Intestinal Complete (Total)
Terdapat gangguan pasase isi usus akibat sumbatan. Akibat sumbatan ini, sisa makanan dan
udara akan menumpuk di bagian proximal dari sumbatan. Pada obstruksi yang simple ini belum
terjadi kerusakan dari vaskularisasi usus. Penimbunan cairan/sisa makanan dan udara dalam
lumen usus mengakibatkan meningkatnya tekanan intraluminer. Meningkatnya gas dalam lumen
usus berasal dari udara yang ditelan, CO2 berasal dari netralisasi bikarbonat, O2 yang berasal
dari fermentasi bakteri. Dengan adanya gangguan resorbsi dan meningkatnya sekresi usus, maka
akan terjadi dilatasi usus.
Muntah-muntah dapat terjadi akibat regurgitasi dari lambung yang penuh. Akibat muntah tadi
akan terjadi dehidrasi, hipovolemik. Pada obstruksi proximal, kehilangan cairan disertai oleh
kehilangan ion hydrogen (H+), kalium dan klorida, sehingga terjadi metabolik alkalosis. Pada
obstruksi yang lebih distal, cairan yang hilang hampir sama tetapi tidak disertai oleh kehilangan
elektrolit yang bermakna.
C. Obstruksi Intestinal Strangulasi
Terdapat gangguan pasase isi usus disertai adanya gangguan vaskularisasi dari segmen usus.
Pada strangulasi isi usus, selain terdapat gejala seperti obstruksi intestinal yang komplit juga
terdapat gejala : rangsangan peritoneum, febris, lekositosis dan rasa nyeri yang konstan,
gangguan elektrolit yang sifatnya tergantung dari jenis obstruksinya, partial, komplit, lamanya
dan lokalisasi dari ligamentum Treitz.
Metabolik asidosis dapat disertai oleh respiratory asidosis, yang terjadi karena berkurangnya
pergerakan pernafasan, akibat menyempitnya rongga dada oleh desakan usus yang dilatasi.
Selanjutnya metabolik asidosis dapat diperburuk oleh hipovolemik yang berhubungan dengan
hipoperfusi. Hipovolemik yang hebat dan berlangsung lama akan menyebabkan terjadinya Akut
Renal Failure. Akibat kerusakan vili usus karena obstruksi intestinal, maka akan terjadi
translokasi bakteri, terjadi sepsis dan dapat menimbulkan kematian.
Kelainan obstruksi lumen 2,5,6
Usus Halus
• Adhesi (penempelan)
Ileus karena adhesi tidak disertai strangulasi dan berasal dari rangsangan peritoneum akibat
peritonitis setempat atau umum atau pasca operasi. Sering ditemukan dalam bentuk pita, pada
operasi perlengketan dilepas dan pita dipotong agar pasase usus pulih kembali.
• Hernia Eksternal (inkarserata)
Adalah istilah yang menunjukkan suatu keadaan dimana isi kantong hernia tidak dapat masuk
kembali ke rongga peritoneal akibat terjepit di anulus inguinalis. Proses yang langsung terjadi
ialah gangguan aliran darah dan pasase segmen usus yang terjepit (kalau usus yang masuk)
sehingga dapat juga disebut hernia strangulasi.
• Neoplasma
- Tumor Jinak
Lebih dari sepuluh tumor jinak ditemukan di ileum sisanya di duodenum dan jejenum. Polip
adenomatosa menduduki tempat nomor satu disusul lipoma, leimioma dan hemangioma. Tumor
jinak yang sering memberi gejala biasanya adalah leimioma
- Tumor Ganas
Hampir sama dengan tumor jinak dan sering ditemukan di ileum dengan penurunan berat badan
dan nyeri perut. Jenis yang ditemukan adalah lymfoma ganas, karsinoid dan adenokarsinoid.
• Ascariasis
Paling sering pada anak-anak dan kebanyakan hidup di usus halus bagian jejenum biasanya ada
puluhan hingga ratusan. Obstruksi umumnya disebabkan oleh suatu gumpalan padat yang terdiri
dari sisa-sisa makanan dan puluhan atau ratusan ekor cacing yang mati akibat pemberian obat
cacing.
Usus Besar
a. Karsinoma Kolon
Obstruksi kolon yang akut dan mendadak kadang-kadang disebabkan oleh karsinoma.
Karsinoma colon merupakan penyebab angka kematian yang tertinggi dari pada bentuk kanker
yang lain. Faktor predisposisi yang dikenal adalah poliposis multiple, biasanya terdapat tanda-
tanda yang mendahului antara lain penyimpangan buang kotoran, keluarnya darah pererktal dan
colon akan mengalami distensi hebat dalam waktu yang cepat.
b. Divertikel
Divertikel saluran cerna paling sering ditemukan di kolon khususnya di sigmoid. Divertikel
colon adalah divertikel palsu karena terdiri dari mukosa yang menonjol melalui lapisan otot
seperti hernia kecil. Komplikasi penyakit divertikula merupakan akibat dari divertikulitis akut
atau kronik, dapat bermanifestasi sebagai perdarahan, perforasi, peritonitis, abses dan
pembentukan fistula atau obstruksi usus akibat striktur.
c. Volvulus
Volvulus merupakan proses memutarnya usus (biasanya sekum atau kolon sigmoid) pada
mesokolonnya sehingga menyebabkan obstruksi lumen dan disertai gangguan sirkulasi.
Volvulus sekum diakibatkan karena fiksasi embriologi kolon yang tidak sempurna karena sekum
dan ileum terminal terputar bersama-sama. Volvulus sigmoid diakibatkan karena pemanjangan
sigmoid pada mereka yang lanjut usia atau yang sakit mental.
d. Intususepsi/Invaginasi
Suatu keadaan masuknya suatu segmen usus ke segmen bagian distal yang umumnya akan
berakhir dengan obstruksi usus strangulasi. Invaginasi diduga oleh karena perubahan dinding
usus khususnya ileum yang disebabkan oleh hiperplasia jaringan lymphoid submukosa ileum
terminal akibat peradangan, dengan abdominal kolik. Keluarnya darah dari rectum serta massa
yang berbentuk sosis sepanjang kolon yang merupakan tanda khas.
Anatomi 1,6
Lapisan usus halus ; lapisan mukosa ( sebelah dalam ), lapisan otot melingkar ( M sirkuler ),
lapisan otot memanjang ( M Longitidinal ) dan lapisan serosa ( Sebelah Luar )
Lambung melepaskan makanan ke dalam duodenum, yang merupakan bagian pertama dari usus
halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di
cerna oleh usus halus.
Duodenum merupakan bagian paling proksimal dari usus halus. Dimulai dari pylorus dan meluas
hingga 20 – 30 cm panjang dan lebarnya 3-5 cm. duodenum dibagi kedalam empat bagian yaitu:
1. Pars superior duodeni, yang hampir selalu ditutupi oleh peritoneum dan cukup
mobile.
2. Pars descenden duodenum terletak pada garis vertical dari apex pars superior
duodeni sampai sepertiga bagian horizontal. Pada bagian medialnya terdapat
ductus choledocus dan ductus pancreaticus wirsungi. Terletak di retroperitoneum
3. Pars horizontalis duodenum, melintasi garis setinggi vertebra lumbalis ketiga.
Serta terletak di bagian depan vena cava inferior
4. Pasr ascendens duodenum, terletak di anterior kiri aorta. Terdapat ligamentum
treitz yang memfiksasi pada bagian kaudal.
Pada pendarahan duodenum, yang berperan adalah arteri gastroduodenalis. Cabang arteri
duodenalis adalah arteri pancreaticoduodenalis superior yang beranastomosis dengan arteri
pancreaticoduodenalis inferior (cabang pertama dari arteri mesentrica superior).
Nervus vagus melewati cavitas thoracica sebagai dua cabang melewatin esophagus. Setelah
membentuk pleksus, nervus vagus anterior dan posterior muncul. Truncus anterior kiri
mempersarafi lambung, duodenum, pancreas, vesica biliaris, dan ductus bilier melalui rami
hepaticinya. Truncus posterior kanan melalui lambung dan bergabung bersama pleksus
coeliacus untuk mempersarafi usus halus dan colon sampai ke flexura coli sinistra.
Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian
jejunum. Jejunum dan ileum digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.
Permukaan dalam jejunum berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang
memperluas permukaan dari usus. Secara hitologis dapat dibedakan dengan ileum, yakni
sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan jejunum dan ileum secara
makroskopis.
Ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Ileum memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak
setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan
8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.
Usus halus mesenterica seluruhnya dilayani oleh arteri mesenterica superior melalui 12 sampai
15 cabang yang dicabangkan seluruhnya ke mesenterium membentuk arcade yang kemudian
menimbulkan arteri lurus yang menyilang mesenterium langsung ke dinding usus. Arteri ini
merupakan suatu arteri ujung tanpa anastomosis, sehingga penutupan salah satu arteri ini dapat
menurunkan viabilitas dari segmen usus tersebut. Arcade mesenterica berbeda di dalam jejunum
dan ileum. Pada jejunum, arcade lebih tunggal dan arterinya berjarak lebih panjang untuk
melayanin usus, sedangkan pada ileum, arcade terlihat lebih rumit dan arterinya pendek-pendek.
Kolon
Kolon memiliki lapisan otot longitudinal yang disebut tenia yang lebih pendek dari kolon itu
tersebut hingga membentuk seperti kantong yang disebut haustra. Kolon transversum dan kolon
sigmoideum terletak intra peritoneal dan dilengkapi dengan mesenterium. Kolon terdiri atas
sekum, kolon asenden, kolon tarnsversum, kolon desenden serta kolon sigmoid. Arteri
mesentrika superior yang bercabang menjadi arteri ileokolika, arteri kolika dextra dan arteri
kolika media mempendarahi bagian sekun, kolon asenden, dan bagian kanan kolon transversum.
Sedangkan kolon transversum bagian kiri, kolon desenden dan kolon sigmoid dan sebagian besar
rectum dipendarahi oleh arteri mesenterika inferior melalui arteri kolika sinistra, arteri sigmoid
dan arteri hemoroidalis superior.
Kolon dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus splanknikus dan pleksus
presakralis, sedangkan parasimpatis berasal dari nervus vagus.
Pemeriksaan penunjang
Radiologi 2,3
Penderita yang suspek obstruksi intestinal perlu dibuat foto thorax dan foto polos abdomen
dalam posisi :
- Berbaring telentang
- Tegak / berdiri
- Miring ke kiri (Left lateral decubitus)
Foto thorax PA untuk mengetahui adanya udara bebas yang terletak di bawah diafragma kanan.
Bila ditemukan udara bebas menunjukkan adanya perforasi usus.
a. Obstruksi non mekanik
Terlihat dilatsai usus berisi udara merata, baik di dalam colon maupun di dalam usus
halus
b. Obstruksi mekanik
- Terlihat dilatasi usus dan berisi udara yang distribusinya tidak merata. Ditemukan batas
cairan dan udara (step ladder) sedangkan usus atau colon dibagian distalnya kolaps.
Kalau belum terjadi perforasi lapisan lemak preperitoneal terlihat baik. Pada obstruksi
tinggi/atas yang terlihat diatas pylorus tampak bayangan lambung dilatasi. Pada obstruksi
partial bagian distal pylorus masih terlihat sedikit udara. Sedangkan pada obstruksi total
bagian distal pylorus tidak terlihat bayangan udara atau bayangan intestinal.
- Pada obstruksi tinggi dibawah pylorus, adalah obstruksi yang paling sering ditemukan. Bila
ditemukan bayangan gelembung ganda (double bubble) menunjukkan adanya obstruksi di
duodenum. Bila ditemukan bayangan gelembung multiple kurang dari lima buah (multiple
bubble) menunjukkan adanya obstruksi di jejenum. Kalau terdapat bayangan gelembung lebih
dari lima menunjukkan adanya obstruksi di ileum.
Obstruksi usus halus secara radiology dapat dibedakan antara jejenum dan ileum. Dinding
jejenum menunjukkan garis-garis tipis melintang seperti bulu (Feather like) sedangkan dinding
ileum seperti tabung.
Foto polos abdomen posisi supine
B. Obstruksi Usus Besar 2,5,6
Keluhan:
Penderita dengan obstruksi usus besar mempunyai keluhan yang hampir sama dengan obstruksi
usus halus seperti nyeri perut, nausea, vomiting, konstipasi dan diare. Obstruksi usus besar yang
disebabkan oleh keganasan disamping keluhan seperti diatas juga ada keluhan berak darah,
penambahan kebiasaan buang air besar. Ada keluhan sukar buang air besar, tinjanya seperti
kotoran kambing kecil-kecil. Berat badan penderita turun dengan drastis.
Laboratorium :
Pemriksaan laboratorium perlu untuk mengetahui apakah ada kelainan sistemik, kelainan
metabolisme yang harus dikoreksi :
- Darah rutin
- Elektrolit
- Urinalisis
- Serum Amilase
- Bilirubin
Pada awalnya perjalanan obstruksi usus mekanik sederhana, kadar pemeriksaan laboratoriumnya
dalam batas normal. Dengan ber;a;unya waktu, lebih banyak cairan di sekuestrasi di dalam
lumen usus dan timbul dehidrasi. Dicerminkan oleh peningkatan BUN, hematokrit dan berat
jenis urin. Penurunan dalam kadar serum natrium, klorida dan kalium menurapak manifestasi
lebih lanjut, dapat juga terjadi alkalosis akibat muntah. Hitung leukosit biasanya meningkat,
biasanya membumbung tinggi antara 30.000 – 50.000 dalam obstruksi strangulata. Sedangkan
pada obstruksi mekanik sederhana kenaikan leukosit sebesar 15.000 – 20.000.
Radiologi :
1. Foto thorax PA
2. Foto polos abdomen dalam posisi berbaring telentang, tegak/berdiri dan miring ke kiri (left
lateral decubitus)
3. Barium enema
4. CT Scan
5. Endoskopi
- Foto thorax PA : untuk mengetahui adanya udara bebas yang terletak di bawah diafragma
kanan. Kalau ditemukan udara bebas menunjukkan adanya perforasi
- Foto polos abdomen : Tampak dilatasi colon dengan gambaran haustrae yang spesifik. Kalau
obstruksi lebih dari 24 jam akan tampak gambaran seperti anak tangga.
Pada volvulus dapat dilihat adanya gambaran dilatasi tertutup (closed loop dilatation) atau tanda
“U” terbalik (inverted U sign). Hal ini khas pada volvulus.
Foto polos abdomen posisi supine
Diferensial diagnosis
Ileus obstruksi harus dibedakan dengan:
1. Carcinoid gastrointestinal.
2. Penyakit Crohn.
3. Intussuscepsi pada anak.
4. Divertikulum Meckel.
5. Ileus meconium.
6. Volvulus.
7. Infark Myocardial Akut.
8. Malignansi, Tumor Ovarium.
9. TBC Usus.
Tatalaksana operatif dan non operatif
a. Pre-operatif
Dasar pengobatan obstruksi usus meliputi :
1. Penggantian kehilangan cairan dan elektrolit ke dalam lumen usus sampai pencapaian
tingkat normal hidrasi dan konsentrasi elektrolit bisa dipantau dengan mengamati
pengeluaran urin (melalui kateter), tanda vital, tekanan vena sentral dan pemeriksaan
laboratorium berurutan. Infus RL 32 tetes permenitdapat diberikan.
2. Dekompressi tractus gastrointestinal dengan sonde yang ditempatkan intralumen
dengan tujuan untuk dekompressi lambung sehingga memperkecil kesempatan aspirasi isi
usus, dan membatasi masuknya udara yang ditelan ke dalam saluran pencernaan,
sehingga mengurangi distensi usus yang bisa menyebabkan peningkatan tekanan
intalumen.
3. Pemberian antibiotika untuk pencegahan pertumbuhan bakteri berlebihan bersama
dengan produk endotoksin dan eksotoksin. Injeksi Ceftriakson 1 gram 1 kali dalam 24
jam dapat diberikan sebagai profilaksis.
b. Operatif
Tergantung dari etiologi masing-masing :
Adhesi
Pada operasi, perlengketan dilepaskan dan pita dipotong agar pasase usus pulih
kembali.
Hernia inkarserata
Dapat dilakukan Herniotomi untuk membebaskan usus dari jepitan.
Neoplasma
Operasi berupa pengangkatan tumor. Pada tumor jinak pasase usus harus
dipulihkan kembali, sedangkan pada tumor ganas sedapat mungkin dilakukan reseksi
radikal.
Askariasis
Jika terdapat obstruksi lengkap, atau jika pengobatan konservatif tidak berhasil
dapat dilakukan operasi dengan jalan enterotomi untuk mengeluarkan cacing, tapi
apabila usus sudah robek, atau mengalami ganggren dilakukan reseksi bagian
usus yang bersangkutan.
Carsinoma Colon
Operasi dengan jalan reseksi luas pada lesi dan limfatik regionalnya. Apabila
obstruksi mekanik jelas terjadi, maka diperlukan persiapan Colostomi atau
Sekostomi.
Divertikel
Reseksi bagian colon yang mengandung divertikel dapat dikerjakan secara elektif
setelah divertikulitis menyembuh. Dapat dianjurkan untuk menempatkan
colostomy serendah mungkin, lebih disukai dalam colon desendens, atau colon
sigmoideum. Untuk memungkinkan evaluasi melalui colostomy dan mencegah
peradangan lebih lanjut pada tempat abses.
Reseksi sigmoid biasanya dilakukan dengan cara Hartman dengan colostomy
sementara. Cara ini, dipilih untuk menghindari resiko tinggi gangguan
penyembuhan luka anastomosis yang dibuat primer dilingkungan radang.
Prosedur Hartman jauh lebih aman karena anastomosis baru dikerjakan setelah
rongga perut dan lapangan bedah bebas kontaminasi dan randang.
Volvulus
Pada volvulus sekum dilakukan tindakan operatif yaitu melepaskan volvulus yang
terpelintir dengan melakukan dekompresi dengan sekostomi temporer, yang juga
berefek fiksasi terhadap sekum dengan cara adhesi. Jika sekum dapat hidup dan
tidak terdistensi tegang, maka detorsi dan fiksasi sekum di qudran bawah bisa
dicapai.
Pada volvulus sigmoid jika tidak terdapat strangulasi, dapat dilakukan reposisi
sigmoidoskopi. Cara ini sering meniadakan volvulus dini yang diikuti oleh
keluarnya flatus. Reposisi sigmoidodkopi yang berhasil pada volvulus dapat
dicapai sekitar 80% pasien. Jika strangulasi ditemukan saat laparatomi, maka
reseksi gelung sigmoideum yang gangrenous yang disertai dengan colostomi
double barrel atau coloctomi ujung bersama penutup tunggal rectum (kantong
Hartman) harus dilakukan.
Intusussepsi
Sebelum dilakukan tindakan operasi, dilakukan terlebih dahulu dengan reduksi
barium enema, jika tidak ada tanda obstruksi lanjut atau perforasi usus halus.
Bila reduksi dengan enema tidak dapat dilaksanakan maka dilakukan operasi
berupa eksplorai abdomen melalui suatu insisi transversal pada quadran kanan
bawah. Intusussepsi tersebut kemudian direduksi dengan kompressi retrograde
dari intusussepsi secara hati-hati. Reseksi usus diindikasikan bila usus tersebut
tidak dapat direduksi atau usus tersebut ganggren.
Komplikasi penyakit 6,7,8
Komplikasi dari ileus obstruktif antara lain :
nekrosis usus
perforasi usus
Sepsis
Syok-dehidrasi
Abses Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi
Pneumonia aspirasi dari proses muntah
gangguan elektrolit
meninggal dunia
Jenis operasi serta komplikasi operasi 6,9
Bila telah diputuskan untuk tindakan operasi, ada 3 hal yang perlu :
Berapa lama obstruksinya sudah berlangsung.Bagaimana keadaan/fungsi organ vital lainnya,
baik sebagai akibat obstruksinya maupun kondisi sebelum sakit. Apakah ada risiko strangulasi.
Kewaspadaan akan resiko strangulasi sangat penting. Pada obstruksi ileus yang ditolong dengan
cara operatif pada saat yang tepat, angka kematiannya adalah 1% pada 24 jam pertama,
sedangkan pada strangulasi angka kematian tersebut 31%. Pada umumnya dikenal 4 macam
(cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus.
a) Koreksi sederhana (simple correction)
Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan,
misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh adhesi atau pada volvulus
ringan.
b) Tindakan operatif by-pass
Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus yang tersumbat, misalnya pada
tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.
c) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya
pada Ca stadium lanjut.
d) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus
untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,
invaginasi strangulata, dan sebagainya.
Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik
oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca
sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi
usus dan anastomosis.
Suatu problematik yang sulit pada keadaan pasca bedah adalah distensi usus yang masih ada.
Pada tindakan operatif dekompressi usus, gas dan cairan yang terkumpul dalam lumen usus
tidak boleh dibersihkan sama sekali oleh karena catatan tersebut mengandung banyak bahan-
bahan digestif yang sangat diperlukan. Pasca bedah tidak dapat diharapkan fisiologi usus
kembali normal, walaupun terdengar bising usus. Hal tersebut bukan berarti peristaltik usus
telah berfungsi dengan efisien, sementara ekskresi meninggi dan absorpsi sama sekali belum
baik. Sering didapati penderita dalam keadaan masih distensi dan disertai diare pasca bedah.
Tindakan dekompressi usus dan koreksi air dan elektrolit serta menjaga keseimbangan asam
basa darah dalam batas normal tetap dilaksanakan pada pasca bedahnya. Pada obstruksi yang
lanjut, apalagi bila telah terjadi strangulasi, monitoring pasca bedah yang teliti diperlukan
sampai selama 6 - 7 hari pasca bedah. Bahaya lain pada masa pasca bedah adalah abses intra
abdomen, toksinemia dan sepsis. Gambaran kliniknya biasanya mulai nampak pada hari ke 4-
5 pasca bedah.
Komplikasi pada tindakan operatifnya antara lain:
Infeksi luka operasi
Abses intra abdomen
Gangguan rasa nyaman
Perdarahan
Syok
DAFTAR PUSTAKA
1. Sabiston, David C. Hipertrofi Prostat Benigna, Buku Ajar Bedah bagian 2, Jakarta : EGC,
1994: 543 – 559
2. Budha I. K. : Macam dan Diagnosis Obstruksi Intestinal, Muktamar VI IKABDI,
Semarang, Januari 2002.
3. Pieter. J. : Usus Halus, Appendiks, Kolon dan Anorektum, Buku Ajar Ilmu Bedah,
penerbit EGC, editor R. Syamsu Hidayat, Wim de Jong, 1996 : 835 – 854.
4. Wolff B.G. : Volvulus at the Colon, Current Surgical Therapy – 3, John L. Cameron,
Toronto, Philadelphia, 1989 : 130 – 131.
5. Wilson L.M., Lester L.B. : Obstruksi usus, Fisiologi, edisi Empat, Alih Bahasa Dr. Piter
Anugrah, penerbit EGC : 402 – 405.
6. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi revisi, Jakarta : EGC, 1997:
732-764
7. Khan AN., Howat J. Small-Bowel Obstruction. Last Updated: May 10, 2004. In:
Http://www.yahoo.com/search/cache?/ileus_obstructif/Article:By:eMedicine.com.
8. Schrock TR. Obstruksi Usus. Dalam Ilmu Bedah (Handbook of Surgery). Alih Bahasa:
Adji Dharma, dkk. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1993; 239 – 42.
9. Smeltzer, Suzzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.