Click here to load reader

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1.1 Pengertian PPOK

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN TEORI 2.1.1 Pengertian PPOK

Gambaran Peran Perawat sebagai Care Giver dalam Perawatan Pasien PPOK selama Dirawat di RS paru dr. Ario Wirawan Salatiga2.1.1 Pengertian PPOK
penyakit paru kronik karena adanya hambatan aliran udara
di saluran napas yang bersifat progresif nonreversibel yaitu
sesak napas yang semakin berat yang tidak bisa kembali
normal atau membaik atau reversibel parsial yaitu membaik
sebagian, serta adanya respons inflamasi paru terhadap
partikel atau gas yang berbahaya (Global Obstructive Lung
Disease, 2009).
PPOK dan asma adalah penyakit yang sama. Asma ditandai
oleh adanya sumbatan saluran napas yang bersifat
intermitten, artinya hambatan pada saluran napas bekerja
secara tidak terus menerus. Asma merupakan proses
reversibel artinya suatu proses yang berlangsung dan dapat
kembali seperti keadaan awal tanpa merubah keadaan di
sekelilingnya. Sedangkan PPOK merupakan penyakit kronik
yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas
10
(Global Obstructive Lung Disease, 2010).
Jika asma dan bronkiitis terjadi bersamaan,
obstruksi yang diakibatkan menjadi gabungan sehingga
disebut bronkitis asmatik kronik. Asma dimanifestasikan
dengan penyempitan jalan napas, yang mengakibatkan
dispnea (sesak napas), batuk, dan mengi (bunyi napas
ketika udara menglir melalui saluran napas yang menyempit
(Smeltzer & Bare, 2001).
gabungan keduanya. Bronkitis kronik adalah penyakit
kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik
berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-
kurangnya dua tahun berturut - turut, tidak disebabkan
penyakit lainnya. Emfisema merupakan suatu kelainan
anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara
distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli
(PDPI, 2003).
individu atau kelompok tertentu. Faktor risiko tersebut
11
lingkungan.
napas dan pertumbuhan paru. Faktor genetik yang utama
adalah kurangnya alfa 1 antitripsin, yaitu suatu serine
protease inhibitor. Hiperesponsif jalan napas juga dapat
terjadi akibat pajanan asap rokok atau polusi. Pertumbuhan
paru dikaitan dengan masa kehamilan, berat lahir dan
pajanan semasa anak-anak. Penurunan fungsi paru akibat
gangguan pertumbuhan paru diduga berkaitan dengan risiko
mendapatkan PPOK (Helmersen, 2002).
terjadinya PPOK. Prevalensi tertinggi terjadinya gangguan
respirasi dan penurunan faal paru adalah pada perokok.
Usia mulai merokok, jumlah bungkus per tahun dan perokok
aktif berhubungan dengan angka kematian. Perokok pasif
dan merokok selama hamil juga merupakan faktor risiko
PPOK. Pada perokok pasif didapati penurunan VEP1
(Volume Ekspirasi Paksa detik pertama) tahunan pada
orang muda yang bukan perokok (Helmersen, 2002).
12
Polusi udara terdiri dari polusi di dalam ruangan
(indoor) seperti asap rokok, asap kompor, asap kayu bakar,
dan lain-lain sedangkan polusi di luar ruangan (outdoor)
seperti gas buang industri, gas buang kendaraan bermotor,
debu jalanan, dan lain-lain, serta polusi di tempat kerja,
seperti bahan kimia, debu/zat iritasi dan gas beracun.
Pajanan yang terus menerus oleh polusi udara merupakan
faktor risiko lain PPOK. Peran polusi luar ruangan (outdoor
polution) masih belum jelas tapi lebih kecil dibandingkan
asap rokok. Polusi dalam ruangan (indoor polution) yang
disebabkan oleh bahan bakar biomassa yang digunakan
untuk keperluan rumah tangga merupakan faktor risiko
lainnya. (Helmersen, 2002).
2.1.3 Klasifikasi PPOK
spirometri dapat ditentukan klasifikasi (derajat) PPOK,
sebagai berikut :
Sesak napas derajat sesak 1 sampai derajat sesak 2
VEP1 ≥ 80% prediksi (nilai normal spirometri)
VEP1/KVP < 70%
Sesak napas derajat 3
Eksaserbasi lebih sering terjadi
Derajat IV PPOK Sangat Berat
Sesak napas derajat sesak 4 dan 5 dengan gagal napas kronik
Eksaserbasi lebih sering terjadi
VEP1/KVP <70%
Sumber : Global Obstructive Lung Disease (GOLD), 2009
2.1.4 Patofisiologi
komprehensif sehingga mempengaruhi semua sistem tubuh.
Artinya, dapat mempengaruhi gaya hidup manusia dalam
prosesnya. Penyakit ini bisa menimbulkan kerusakan pada
alveolar sehingga bisa mengubah fisiologi pernapasan,
kemudian mempengaruhi oksigenasi tubuh secara
keseluruhan.
14
dan lingkungan akan menimbulkan proses inflamasi bronkus
dan juga menimbulkan kerusakan pada dinding bronkiolus
terminalis. Akibatnya terjadi obstruksi bronkus kecil
(bronkiolus terminalis), yang mengalami penutupan atau
obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang mudah masuk ke
alveoli pada saat inspirasi, pada saat ekspirasi banyak
terjebak dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara
(air trapping). Hal inilah yang menyebabkan adanya keluhan
sesak napas dengan segala akibatnya. Adanya obstruksi
pada awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi
dan pemanjangan fase ekspirasi (Brannon, et al, 1993).
Abnormalitas pertukaran udara pada paru-paru
terutama berhubungan dengan tiga mekanisme berikut ini:
1. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi. Hal ini menjadi
penyebab utama hipoksemia atau menurunnya
oksigenasi dalam darah. Keseimbangan normal antara
ventilasi alveolar dan perfusi aliran darah kapiler pulmo
menjadi terganggu. Hubungan ventilasi dengan perfusi
didefinisikan dalam rasio ventilasi perfusi (V/Q).
Peningkatan rasio V/Q terjadi ketika penyakit yang
semakin berat sehingga menyebabkan kerusakan pada
alveoli dan kehilangan bed kapiler. Dalam kondisi seperti
15
pernapasannya terhalang oleh mukus kental atau terjadi
bronchospasme yaitu penyempitan saluran pernapasan
pada bronkhus. Disini penurunan ventilasi akan terjadi,
tetapi perfusi akan tetap sama, namun berkurang sedikit.
2. Mengalirnya darah kapiler pulmo. Darah yang tak
mengandung oksigen dipompa dari ventrikel kanan ke
paru-paru, beberapa di antaranya melewati bed kapiler
pulmo tanpa mengambil oksigen. Hal ini juga
disebabkan oleh meningkatnya sekret pulmo yang
menghambat alveoli.
dua sebab berikut ini yaitu berkurangnya permukaan
alveoli bagi pertukaaran udara sebagai akibat dari
penyakit empisema atau meningkatnya sekresi,
sehingga menyebabkan difusi menjadi semakin sulit.
Fungsi paru-paru menentukan konsumsi oksigen
seseorang, yakni jumlah oksigen yang diikat oleh darah
dalam paru-paru untuk digunakan tubuh. Konsumsi oksigen
sangat erat hubungannya dengan arus darah ke paru-paru.
Berkurangnya fungsi paru-paru juga disebabkan oleh
16
paru.
respirasi yaitu pengambilan oksigen untuk keperluan
metabolisme dan pengeluaran karbondioksida dan air
sebagai hasil metabolisme. Proses ini terdiri dari tiga tahap,
yaitu ventilasi, difusi dan perfusi. Ventilasi adalah proses
masuk dan keluarnya udara dari dalam paru. Difusi adalah
peristiwa pertukaran gas antara alveolus dan pembuluh
darah, sedangkan perfusi adalah distribusi darah yang
sudah teroksigenasi. Gangguan ventilasi terdiri dari
gangguan restriksi yaitu gangguan pengembangan paru
serta gangguan obstruksi berupa perlambatan aliran udara
di saluran napas. (Sherwood, 2001).
Faktor risiko utama dari PPOK adalah merokok.
Komponen-komponen asap rokok merangsang perubahan
pada sel-sel penghasil mukus bronkus. Selain itu, silia yang
melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional
serta metaplasia. Perubahan-perubahan pada sel-sel
penghasil mukus dan silia ini mengganggu sistem eskalator
mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus kental
17
Mukus berfungsi sebagai tempat persemaian
mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi sangat
purulen. Timbul peradangan yang menyebabkan edema
jaringan. Proses ventilasi terutama ekspirasi terhambat.
Timbul hiperkapnia akibat dari ekspirasi yang memanjang
dan sulit dilakukan akibat mukus yang kental dan adanya
peradangan (Global Obstructive Lung Disease, 2009).
Komponen-komponen asap rokok juga merangsang
terjadinya peradangan kronik pada paru. Mediator-mediator
peradangan secara progresif merusak struktur-struktur
penunjang di paru. Akibat hilangnya elastisitas saluran
udara dan kolapsnya alveolus, maka ventilasi berkurang.
Saluran udara kolaps terutama pada ekspirasi karena
ekspirasi normal terjadi akibat pengempisan (recoil) paru
secara pasif setelah inspirasi. Dengan demikian, apabila
tidak terjadi recoil pasif, maka udara akan terperangkap di
dalam paru dan saluran udara kolaps (Global Obstructive
Lung Disease, 2009).
melepaskan Neutrophil Chemotactic Factors dan elastase,
yang tidak diimbangi dengan antiprotease, sehingga terjadi
kerusakan jaringan (Kamangar, 2010). Selama eksaserbasi
18
ketidakseimbangan ventilasi perfusi. Kelainan ventilasi
berhubungan dengan adanya inflamasi jalan napas, edema,
bronkokonstriksi, dan hipersekresi mukus. Kelainan perfusi
berhubungan dengan konstriksi hipoksik pada arteriol
(Chojnowski, 2003).
2.1.6 Diagnosis
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan foto toraks
dapat menentukan PPOK Klinis. Apabila dilanjutkan dengan
pemeriksaan spirometri akan dapat menentukan diagnosis
PPOK sesuai derajat penyakit.
kesakitan penderita PPOK laki-laki dan wanita usia di
atas 45 tahun (Suradi, 2007) dan adanya riwayat
pajanan, baik berupa asap rokok, polusi udara,
maupun polusi tempat kerja. Kebiasaan merokok
merupakan satu-satunya penyebab kausal yang
terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab
19
diperhatikan apakah pasien merupakan seorang
perokok aktif, perokok pasif, atau bekas perokok.
Penentuan derajat berat merokok dengan Indeks
Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah rata-rata
batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok
dalam tahun. Interpretasi hasilnya adalah derajat
ringan (0-200), sedang (200-600) dan berat ( >600)
(PDPI, 2003).
respirasi. Keluhan respirasi ini harus diperiksa
dengan teliti karena seringkali dianggap sebagai
gejala yang biasa terjadi pada proses penuaan.
Batuk kronik adalah batuk hilang timbul selama 3
bulan yang tidak hilang dengan pengobatan yang
diberikan. Kadang-kadang pasien menyatakan hanya
berdahak terus menerus tanpa disertai batuk. Selain
itu, Sesak napas merupakan gejala yang sering
dikeluhkan pasien terutama pada saat melakukan
aktivitas. Seringkali pasien sudah mengalami
adaptasi dengan sesak napas yang bersifat
20
napas sesuai skala sesak menurut British Medical
Research Council (MRC) (Global Obstructive Lung
Disease, 2009).
Tabel 2.2
Council (MRC)
1 Tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat
2 Sesak mulai timbul jika berjalan cepat atau naik
tangga 1 tingkat
4 Sesak timbul jika berjalan 100 meter atau setelah
beberapa menit
2. Pemeriksaan Fisik
dapat berupa bentuk dada seperti tong (barrel chest),
terdapat cara bernapas purse lips breathing (seperti
orang meniup), terlihat penggunaan dan hipertrofi otot-
otot bantu napas, pelebaran sela iga, dan bila telah
terjadi gagal jantung kanan terlihat distensi vena
jugularis dan edema tungkai. Pada perkusi biasanya
ditemukan adanya hipersonor. Pemeriksaan auskultasi
21
ronki, dan mengi (PDPI, 2003).
3. Pemeriksaan Penunjang
Spirometri merupakan salah satu metode
sederhana yang dapat digunakan untuk mempelajari
ventilasi paru, yaitu dengan mencatat volume udara
yang masuk dan keluar paru. Spirometri adalah
suatu alat sederhana yang digunakan untuk
mengukur volume udara dalam paru. Alat ini juga
dapat digunakan untuk mengukur volume statik dan
volume dinamik paru.
(%) dan atau VEP1/KVP (%). VEP1 merupakan
parameter yang paling umum dipakai untuk menilai
beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit.
Apabila terjadi sumbatan dan spirometri tidak
tersedia maka dilakukan arus puncak ekspirasi (APE)
meter walaupun kurang tepat, dapat dipakai sebagai
alternatif dengan memantau variabilitas harian pagi
dan sore, tidak lebih dari 20%. Parameter yang
22
gangguan obstruksi digunakan parameter volume
ekspirasi paksa detik pertama (VEP1), dan rasio
volume ekspirasi paksa detik pertama terhadap
kapasitas vital paksa (VEP1/KVP)
Gangguan restriksi
pernafasan akibat dari menurunnya kapasitas vital
paru seseorang. Dengan nilai prediksi :
Vital Capacity (KV) < 80% nilai prediksi; KVP <
80% nilai prediksi.
udara respirasi.
prediksi.
23
gabungan dari gangguan restriksi dan ganggugan
obstruksi. Degan nilai prediksi :
prediksi.
Eksaserbasi akut merupakan penyakit yang
timbulnya cepat dan berlangsung dalam jangka
waktu pendek atau tidak lama dalam kurun waktu
jam hingga minggu.
i. Antibiotik
untuk membunuh kuman penyebab infeksi atau
membunuh jamur.
Haemophilus Influenza dan Streptococcus
klavulanat) dapat diberikan jika kuman penyebab
24
mengalami eksaserbasi akut terbukti
dianjurkan antibiotik yang kuat.
pernapasan karena hiperkapnea dan
berkurangnya sensitivitas terhadap CO2.
mengelurakan sputum dengan baik.
c. Radiologi (foto toraks)
Radiologi merupakan cabang atau
studi dan penerapan berbagai teknologi pencitraan
untuk mendiagnosis penyakit. Radiologi digunakan
untuk mempelajari penegakan diagnosis penyakit
dengan menggunakan sinar-X dan teknik pencitraan
lainnya yang berkaitan.
25
Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan
pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk
menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya atau
menyingkirkan diagnosis banding dari keluhan
pasien (Global Obstructive Lung Disease, 2009).
d. Bronkodilator
melemaskan otot-otot saluran napas yang sedang
mengkerut.
termasuk di dalamnya golongan adrenergik b dan
anti kolinergik. Pada pasien dapat diberikan
salbutamol 5 mg dan atau ipratopium bromida 250
mg diberikan tiap 6 jam dengan nebulizer atau
aminofilin (PDPI, 2003).
dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan
berdasarkan ilmu yang dimilikinya, yang diperoleh melalui
pendidikan keperawatan (Undang-Undang Kesehatan
peran perawat professional meliputi :
“Care Giver” merupakan peran perawat dalam
memberikan asuhan keparawatan secara langsung atau
tidak langsung kepada pasien, keluarga dan masyarakat
dengan metoda pendekatan pemecahan masalah yang
disebut proses keperawatan. Proses keperawatan
meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana
intervensi, implementasi keperawatan dan evaluasi
keprawatan.
pasien.
penghubung antar pasien dengan tim kesehatan lain
27
semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan.
c. Counseller, sebagai pemberi bimbingan/konseling pasien
Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi
perubahan pola interaksi pasien terhadap keadaan sehat
sakitnya. Memberikan konseling/bimbingan kepada
kesehatan sesuai prioritas.
Sebagai pendidik pasien, perawat membantu pasien
meningkatkan kesehatannya malalui pemberian
tindakan medis yang diterima.
kesehatan lain.
dan keluarga dalam menentukan rencana maupun
pelaksanaan asuhan keperawatan guna memenuhi
kebutuhan kesehatan pasien.
potensi yang ada, baik materi maupun kemampuan
pasien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi
yang terlewatkan maupun tumpang tindih.
g. Change agent, sebagai pembaru yang selalu dituntut
untuk mengadakan perubahan-perubahan.
dalam cara berpikir, bersikap, bertingkah laku, dan
meningkatkan keterampilan pasien/keluarga agar menjadi
sehat.
membantu memecahkan masalah pasien.
permintaan pasien terhadap informasi tentang tujuan
keperawatan yang diberikan. Dengan peran ini dapat
dikatakan perawat adalah sumber informasi yang berka
itan dengan kondisi spesifik lain.
29
Keperawatan
langsung dan tidak langsung kepada pasien dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan yang
meliputi : pengkajian dalam upaya mengumpulkan data,
menegakkan diagnosis keperawatan berdasarkan hasil
analisis data, merencanakan intervensi keperawatan
sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul dan
membuat langkah atau cara pemecahan masalah,
melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan
rencana yang ada dan melakukan evaluasi berdasarkan
respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilakukannya.
kepuasan pada pasien, meliputi :
menghargai orang lain, artinya memberi perhatian dan
mempelajari kesukaan-kesukaan seseorang dan
30
pasiennya.
seorang perawat untuk meningkatkan rasa nyaman
pasien.
sebagai suatu hal yang biasa disaat senang ataupun
duka.
psikologis merupakan komunikasi simpatis yang
memiliki makna (Barbara, 1994)
asuhan keperawatannya
orang lain memiliki hasrat dan kemampuan untuk
selalu meningkatkan derajat kesehatannya.
mengembangkan diri dan keterampilannya.
penghargaan terhadap orang lain dengan menjaga
31
mengetahuinya.
rasa puas pasien.
masalah keperawatan yang dilakukan secara sitematis yaitu
dengan pendekatan proses keperawatan yang diawali dari
pengkajian data, penetapan diagnosa, perencanaan,
Implementasi dan evaluasi. Berikut ini akan diuraikan
mengenai proses keperawatan pada PPOK :
a. Pengkajian
kesehatan pasien, melakukan pengkajian fisik meliputi :
inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi, dan
pemeriksaan diagnostik.
akibat masalah kesehatan yang sudah di diagnosa
oleh dokter (Robert Priraharjo, 1996).
Inspeksi
bertemu pasien. Inspeksi adalah pemeriksaan
dengan menggunakan indera penglihatan,
pendengaran dan penciuman. Pemeriksaan
dan biasanya menggunakan alat khusus seperti
optalomoskop, otoskop, speculum dan lain-lain.
(Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997)
Pada saat inspeksi, terlihat pasien
mempunyai bentuk dada barrel chest akibat
udara yang terperangkap, penipisan massa otot,
bernafas dengan bibir yang dirapatkan, dan
pernapasan abnormal yang tidak efektif.
Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh
33
kesimetrisan, lesi, dan
penonjolan/pembengkakan. Setelah inspeksi,
bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya.
Contoh : mata kuning (ikterus), terdapat struma
di leher, kulit kebiruan (sianosis)
Palpasi
menggunakan indera peraba yaitu tangan dan
jari-jari, untuk mendeterminasi ciri-ciri jaringan
atau organ seperti: temperatur, keelastisan,
bentuk, ukuran, kelembaban dan penonjolan
(Dewi Sartika,2010).
meningkat dan taktil fremitus biasanya menurun.
Perkusi
yang bertujuan untuk mengidentifikasi
Sartika, 2010).
adalah :
normal.
lebih padat, misalnya di daerah paru-
paru pada pneumonia.
jantung, perkusi daerah hepar.
- Hipersonor/timpani : suara perkusi pada
pasien asthma kronik.
sampai hipersonor sedangkan diafragma
35
bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus
(Dewi Sartika, 2010).
nafas adalah :
eksudat lengket saat saluran-saluran
halus pernafasan mengembang pada
- Ronchi : nada rendah dan sangat kasar
terdengar baik saat inspirasi maupun
saat ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah
akan hilang bila pasien batuk. Misalnya
pada edema paru.
inspirasi maupun ekspirasi. Misalnya
pada bronchitis akut, asma.
terdengar “kering” seperti suara
pada pasien dengan peradangan
tingkat keparahan obstruktif pada
keperawatan.
iv. Merumuskan diagnosa keperawatan secara ringkas
dan jelas.
c. Perencanaan
dan kriteria hasil dari masing-masing masalah yang
ditemukan.
ii. Menentukan tujuan.
untuk pencapaian tujuan.
PPOK :
ii. Pemeliharaan fungsi paru yang optimal dalam waktu
singkat dan panjang.
iv. Mengurangi perburukan fungsi paru setiap tahunnya.
d. Implementasi
i. Melaksanakan rencana keperawatan
ii. Mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas pasien.
keperawatan
Evaluasi merupakan tahapan akhir dari proses
keperawatan dan diarahkan untuk menentukan respon
pasien terhadap intervensi keperawatan dan sebatas
mana tujuan-tujuan sudah tercapai.
38
napas dengan melakukan drainase postural dengan
benar, berhenti merokok.
sesuai yang diresepkan.
Mencegah terjadinya infeksi dengan
menurun.
informasi atau penyuluhan yang diberikan oleh
perawat.
- evaluasi