Bab ii okkk

  • View
    1.305

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of Bab ii okkk

  • 1. 16 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. KAJIAN PUSTAKA 1. Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining a. Pengertian Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining Aktivitas dalam pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan guru harus bermuara pada terjadinya proses belajar siswa. Dalam hal ini model-model pembelajaran yang dipilih dan dikembangkan guru hendaknya dapat mendorong siswa untuk belajar dengan mendayagunakan potensi yang mereka miliki secara optimal. Belajar yang kita harapkan bukan sekedar mendengarkan, memperoleh atau menyerap informasi yang disampaikan guru. Belajar harus dimaknai sebagai kegiatan pribadi siswa dalam menggunakan potensi pikiran dan nuraninya baik terstruktur maupun tidak terstruktur untuk memperoleh pengetahuan, membangun sikap, dan memiliki keterampilan tertentu (Aunurrahman, 2010: 141). Martinis Yamin & Bansu I. Ansari (2012: 14) menyatakan bahwa siswa memiliki perbedaan satu sama lain. Siswa berbeda dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar. Siswa tertentu lebih mudah belajar dengan dengar-baca, siswa lain lebih mudah dengan melihat (visual), atau dengan cara kinestika (gerak). Oleh karena itu kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi

2. 17 pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan alat penilaian perlu beragam sesuai dengan karakteristik siswa. Menurut Joyce & Weil (dalam Rusman, 2011: 132) model- model pembelajaran disusun berdasarkan prinsip atau teori pengetahuan. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran, teori-teori psikologis, sosiologis, analisis sistem, atau teori-teori lain yang mendukung. Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Sedangkan menurut Agus Suprijono (2012: 46), model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Dengan demikian, model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan sehingga para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. Menurut Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad (2012: 125), bahwa model pembelajaran student facilitator and explaining terjadi di mana siswa/peserta mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta lainnya. Model pembelajaran student facilitator and explaining merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya di kelas lanjut. Pembelajaran inovatif lebih mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada siswa. 3. 18 Dengan demikian, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga siswa yang seharusnya banyak aktif, sebab siswa sebagai subjek didik adalah yang merencanakan dan ia sendiri yang melaksanakan belajar (Daryanto dan Muljo Raharjo ST., 2012: 1). Siswa sebagai pusat belajar artinya proses pembelajaran memperhatikan bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar, motivasi belajar, dan latar belakang sosial siswa, serta mendorong siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau guru. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. Proses pembelajaran perlu mendorong siswa untuk mengomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain, guru, atau pihak-pihak lain (Martinis Yamin & Bansu I. Ansari, 2012: 14). Menurut Djaman Satori (2007: 3.16), interaksi yang harus dikembangkan guru salah satunya adalah mengembangkan berbagai kesempatan bagi siswa untuk berkomunikasi. Anak memperoleh keterampilan berkomunikasi melalui mendengar dan penggunaan bahasa, tumbuh dari kehendak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kebutuhan, wawasan, kebanggaan, dan pemecahan masalah. 4. 19 Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad (2012: 106) menyatakan bahwa pembelajaran inovatif adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru (konvesional). Pembelajaran ini dapat membuat anak kurang tertarik dan termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa serta tidak bermakna pengetahuan yang diperoleh siswa. Pengetahuan yang diperoleh siswa di dalam kelas cenderung artifisial dan seolah-olah terpisah dari permasalahan dalam kehidupan sehari- hari yang dialami siswa. Dari pengertian di atas, pembelajaran inovatif dapat mendorong aktivitas belajar. Dalam kegiatan pembelajaran terjadi hal-hal yang baru. Guru tidak saja tergantung dari materi pembelajaran yang ada di buku, tetapi dapat mengimplementasikan hal-hal baru yang cocok dan relevan dengan masalah yang sedang dipelajari siswa. Melalui aktivitas belajar, siswa dapat menemukan caranya sendiri untuk memperdalam hal-hal yang dipelajarinya. b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining Langkah-langkah model pembelajaran Student Facilitator and Explaining menurut Agus Suprijono (2012: 128-129) sebagai berikut. 1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2) Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi. 5. 20 3) Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya misalnya melalui bagan/peta konsep. 4) Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa. 5) Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu. 6) Penutup. 2. Kemampuan Berbicara di SD Kelas Tinggi a. Hakikat Kemampuan Berbicara Zulkifli Musaba (2012: 19) menyebutkan ada empat keterampilan berbahasa, yaitu sebagai berikut. 1) Keterampilan Mendengarkan atau Menyimak Bekal utama untuk dapat menyimak yang baik adalah kondisi fisik telinga yang baik. Melalui kegiatan mendengarkan, seseorang dapat memperoleh informasi yang berharga. 2) Keterampilan berbicara Berbahasa adalah berbicara atau bertutur. Berbicara berarti mengungkapkan pikiran secara lisan. Keterampilan berbicara dapat ditingkatkan melalui banyak latihan. 3) Keterampilan membaca Keterampilan membaca termasuk keterampilan berbahasa yang tergolong aktif-reseptif. Keterampilan membaca merupakan keterampilan menyerap apa yang dibaca, membaca disertai pemahaman, dan membaca untuk mempengaruhi pembaca. 6. 21 4) Keterampilan menulis Menulis berarti mengungkapkan buah pikiran, perasaan, dan pengalaman melalui tulisan. Keterampilan menulis merupakan keterampilan bahasa yang paling akhir dikuasai oleh seseorang. Sedangkan Yeti Mulyati, dkk, (2009: 1.10) menyatakan bahwa terdapat empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Tabel berikut menyajikan keempat jenis keterampilan tersebut. Tabel 2.1: Empat Jenis Keterampilan Berbahasa Aspek Keterampilan Lisan Tulisan Reseptif Mendengarkan Membaca Produktif Berbicara Menulis Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa mendengarkan dan berbicara merupakan aspek keterampilan berbahasa ragam lisan, sedangkan membaca dan menulis merupakan aspek keterampilan berbahasa ragam tulisan. Mendengarkan dan membaca adalah keterampilan yang bersifat reseptif, sedangkan berbicara dan menulis bersifat produktif. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, bahwa keempat kemampuan berbahasa tersebut menyiratkan masing-masing keterampilan itu terkesan berdiri sendiri. Kenyataannya, tidak. Suatu aktivitas berbahasa melibatkan lebih dari satu jenis kegiatan 7. 22 berbahasa. Setiap orang memerlukan keterampilan berbahasa. Keempat keterampilan ini saling berhubungan satu sama lain dan tidak dapat terpisahkan. Dari penjelasan di atas, kemampuan berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa. Gordon (dalam E. Mulyasa, 2006: 39), menyatakan bahwa kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Burhan Nurgiyantoro (2010: 399), menyatakan bahwa berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan bahasa setelah mendengarkan. M. Soenardi Djiwandono (2008: 118) berpendapat bahwa berbicara berarti mengungkapkan pikiran secara lisan. Sedangkan Yeti Mulyati, dkk, (2009: 1.11) menyatakan bahwa keterampilan berbicara ada tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiinteraktif, dan noninteraktif. Berbicara interaktif misalnya percakapan secara tatap muka dan bicara lewat telepon. Berbicara yang semiinteraktif misalnya berpidato di hadapan umum secara langsung, sedangkan berbicara noninteraktif misalnya berpidato melalui radio atau televisi. Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa diperlukan untuk berbagai keperluan. Kegiatan berbicara dapat dilakukan oleh perorangan, berpasangan, atau kelompok. Oleh karena itu, seseorang dituntut untuk memiliki bekal keterampilan berbicara (Kundharu 8. 23 Saddhono & St. Y. Slamet, 2012: 33). Dengan berbicara, seseorang dapat membuat orang lain yang diajak berbicara mengerti apa yang ada di pikirannya. Pembicara perlu memiliki suatu pesan, masalah, atau topik yang akan disampaikan kepada orang lain. Agar pesan yang disampaikan dapat dipahami orang lain maka perlu diatur susunannya sehingga memudahkan orang yang mendengarkan (M. Soenardi Djiwandono, 2008: 118). Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan seseorang dalam mengungkapkan ide, perasaan, dan pikiran secara lisan dengan tujuan tertentu, agar pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh orang lain. Berbicara dapat bersifat interaktif, semiinteraktif, dan noninteraktif tergantung tujuannya. b. Jenis-jenis Berbicara Menurut Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2008: 244) terdapat dua pendekatan yaitu pendekatan terkontrol dan pendekatan bebas. Kedua pendekatan ini digunakan pada beberapa teknik, misalnya: 1) berbicara terpimpin, meliputi: frase dan kalimat, satuan paragraf, dialog, pembacaan puisi; 2) berbicara semi-terpimpin, meliputi: reproduksi cerita, cerita berantai, menyusun kalimat