of 54 /54
BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera atau pembedahan (agustina,2010). Luka ini bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses penyembuhan dan lama penyembuhan. Adapun berdasarkan sifat luka dibedakan : abrasi, kontusio, insisi, laserasi, terbuka, penetrasi, puncture, sepsis, dan lain-lain. Sedangkan klasifikasi berdasarkan struktur lapisan kulit meliputi: superfisial, yang melibatkan lapisan epidermis; partial thickness, yang melibatkan lapisan epidermis dan dermis; dan full thickness yang melibatkan epidermis, dermis, lapisan lemak, fascia dan bahkan sampai ke tulang (Agustina,2010). Luka bakar merupakan bentuk luka yang termasuk dalam klasifikasi diatas. 1

BAB 1-4 Retrospektif

Embed Size (px)

Text of BAB 1-4 Retrospektif

35

BAB ILATAR BELAKANG1.1 Latar Belakang Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera atau pembedahan (agustina,2010). Luka ini bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses penyembuhan dan lama penyembuhan. Adapun berdasarkan sifat luka dibedakan : abrasi, kontusio, insisi, laserasi, terbuka, penetrasi, puncture, sepsis, dan lain-lain. Sedangkan klasifikasi berdasarkan struktur lapisan kulit meliputi: superfisial, yang melibatkan lapisan epidermis; partial thickness, yang melibatkan lapisan epidermis dan dermis; dan full thickness yang melibatkan epidermis, dermis, lapisan lemak, fascia dan bahkan sampai ke tulang (Agustina,2010). Luka bakar merupakan bentuk luka yang termasuk dalam klasifikasi diatas. Luka bakar adalah cedera kulit oleh karena perpindahan energi dari sumber panas ke kulit (Smeltzer & Bare, 2002). Penyebab luka bakar antara lain yaitu luka bakar termal, luka bakar kimia, luka bakar elektrik, luka bakar radiasi serta luka bakar akibat suhu yang sngat rendah (frost bite). Penyebab luka bakar yang paling sering disebabkan karena api. Luka bakar perlu mendapatkan perhatian karena angka kejadiannya terus meningkat yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh American burn association tahun 2000-2004 rata-rata jumlah penderita luka bakar yang dirawat di instalasi kesehatan mencapai angka 500.000 orang pertahun (American burn association 2005 report). Sekitar 12.000 ribu orang meninggal dunia setiap tahunnya akibat luka dan cidera inhalasi yang berhubungan dengan luka bakar (Smeltzer dan Bare, 2001). Berdasarkan data pada RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 2004 dilaporkan sebanyak 107 kasus luka bakar yang dirawat dengan angka kematian 37,38%. Penyebab tersering adalah api (55.1%) dan terjadi dirumah (72.4%) (pongki, 2008). Sementara pasien yang dirawat di burn unit RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2012 sebanyak 103 orang penyebab terbanyak oleh karena api, penyebab lainnya karna listrik,air panas, minyak dan zat kimia. Menurut Syamsuhidayat dan Jong dalam Septiningsih, (2008) prinsip penanganan luka bakar antara lain mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa sel epitel untuk berpoliferasi dan menutup permukaan kulit. Peatalaksanaan luka bakar selama ini disesuaikan dengan kedalaman luka bakar, apabila kedalamannya melebihi drajat II dalam (Deep partial thickness burn) akan dilakukan skin graft. Skin graft adalah salah satu prosedur pembedahan yang rutin dilakukan dalam suatu rangkaian pengelolaan pasien luka bakar. Tindakan ini memberi hasil yang sangat baik bila dilakukan sedini mungkin pasca trauma, sehingga prosedur ini sering disebut sebagai prosedure pembedahan dini pada luka bakar. Indikasi skin graft pada luka bakar adalah menutup luka yang tidak mampu menutup sendiri secara primer. Luka bakar yang kontraktur skin graft dilakukan apabila didapat jaringan parut yang lebar.(Heriady, 2005).Perawatan skin graft yang dilakukan di burn unit RSUP Sanglah Denpasar selama ini menggunakan metode konvensional, yaitu perawatan dengan menggunakan tulle, kasa betadin dan kasa kering yang akan dilakaukan perawatan pada hari ke lima atau bila kasa jenuh. Hasilnya banyak skin graft yang gagal oleh karena adanya hematoum diantara donor dengan resipien, sehingga skin graft tidak dapat hidup 100%. Namun saat ini sedang berkembang metode modern menggunakan vacuum bertekanan negatif. Metode ini dikenal dengan Vacum Assisted Clousere (VAC). VAC merupakan pengembangan teknologi canggih dari prosedur perawatan luka. Penggunaan vakum drainase membantu untuk menghilangkan darah atau cairan dari bagia luka (Muptadi, 2013).VAC digunakan untuk manajemen luka dengan menggunakan tekanan negatif atau tekanan sub-atmosfer di tempat luka. VAC adalah terapi adjuvant noninvasif yang menggunakan control tekanan negative menggunakan vacuum untuk membantu penyembuhan luka dengan menghilangkan cairan yang dihasilkan dari luka terbuka melalui sealed dressing dan tube yang disambungkan dengan kontaeiner penampung (Mubtadi, 2013).VAC atau penutupan luka dengan vacuum menggunakan spons pada luka ditutup dengan dressing ketat kedap udara , dimana kemudian vacuum dipasang. VAC bisa digunakan untuk luka dengan kebocoran limfa yang besar dengan fistula . Mekanisme utama VAC adalah untuk menghilangkan edema. VAC menghilangkan cairan darah atau limfa yang berada di intertisiil, sehingga meningkatkan difusi intertisiil oksigen ke dalam sel. VAC juga menghilangkan enzim-enzim kolagenase dan MMP yang kadarnya meningkat pada luka kronis (Suryadi, 2011). VAC memberikan tekanan subatmosfer secara intermiten atau terus-menerus dengan tekanan sebesar 50-175. vac paling bagus dilakukan pada luka granulasi yang buruk serta banyak terdapat eksudat. Diantara berbagai cara pengobatan tambahan yang tersedia untuk penanganan luka kronis, terapi vacuum assited closure (VAC) menunjukan hasil menjanjikan (Suryadi,2011) Hasil studi dilakukan di RS Sarjito tiga pasien dengan luka kronis datang ke divisi Bedah Plastik Rumah Sakit dr Sarjito pada awal tahun 2010 dilakukan perawatan dengan menggunakan simplest modified vacuum assisted closure (VAC) didapatkan hasil semua pasien mengalami proses penyembuhan luka dengan baik dan dilaporkan puas terhadap hasil yang didapatkan (Mahandaru, 2010). Demikian juga didukung oleh penelitian yang dilakukan ASERNIPS (Australian Safety and Efficacy Register of New Internasional Prosedur Surgical) dimana perawatan luka kronis dan kompleks dengan VAC meningkat secara signifikan 28.4% dibandingan dengan menggunakan natrium clorida (Nacl 0.9%) (Arsenip s, 2003). Sejak 6 bulan yang lalu penerapan VAC modifikasi di ruang burn unit RSUP Sanglah Denpasar diindikasikan pada pasien luka bakar yang dilakukan skin graft. Berdasarkan pengamatan peneliti tidak semua pasien yang dilakukan skin graft dirawat dengan VAC dikarnakan keterbatasan alat yang ada di burn unit. Sampai sekarang belum pernah dilakukan studi evaluasi terhadap penerapan metode VAC modifikasi pada pasien luka bakar yang dilakukan skin graft. Berdasarkan hal tersebut diatas peneliti tertarik melakukan studi tentang efektifitas metode vacuum assisted closure modifikasi terhadap penyembuhan luka skin graft pada pasien luka bakar diruang Burn Unit RSUP Sanglah Denpasar.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut Bagaimana efektifitas metode vacum assisted closure modifikasi terhadap penyembuhan luka skin graft pada pasien luka bakar diruang burn unit RSUP Sanglah Denpasar 2014 ? .1.3 Tujuan Penelitian1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui efektifitas metode vacum assisted closure modifikasi terhadap penyembuhan luka skin graft pada pasien luka bakar diruang burn unit RSUP Sanglah Denpasar 2014.

1.3.2 Tujun Khusus a. Mengidentifikasi karakteristik luka skin graft sebelum dilakukan perawatan luka dengan metode VAC. b. Mengidentifikasi karakteristik luka skin graft sebelum dilakukan perawat luka tanpa metode VAC.c. Mengidentifikasi karakteristik luka skin graft setelah perawatan luka dengan metode VAC.d. Mengidentivikasi karakteristik luka skin graft setelah perawatan luka tanpa metode VAC. e. Menganalisa efektifitas terapi perawatan luka dengan metode VAC yang dilakukan skin graft, terhadap proses penyembuhan skin graft pada pasien luka bakar.

1.4 Manfaat Penelitian1.4.1 Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam mengembangkan dan memperkaya khasanah keilmuan dengan memperkuat teori yang telah ada dan dapat memberikan masukan bagi penelitian berikutnya mengenai proses penyembuhan skin graft pada pasien luka bakar dengan metode VAC modifikasi

1.4.2 Manfaat Praktisa. Bagi Rumah Sakit Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi penerapan terapi VAC dalam proses penempelan kulit pada pasien yang dilakukan tindakan skin graft di ruangan dan rumah sakit.

1.5 Keaslian Penelitian 1.5.1 Mahandaru (2012) dalam penelitian yang berjudul the Simplest Modifield Vacuum Assisted Closure to treat chronic wound ; SERIAL CASE REPORT Rancangan penelitian case control sampel diambil menggunakan metode total sampling dengan jumlah sampel 3 orang. Analisa data yang digunakan adalah chi-squre dan hasilnya adalah terapi vacuum assited closure (vac) efektif dalam proses penempelan kulit dengan p = 0,004 . dengan derajat kemaknaan (besarnya hubungan) berdasarkan interpretasi nilai (p) adalah sedang. Perbedaan dengan penelitian ini antara lain terletak pada variable terikat yang diteliti, teknik pengambilan sampel dan rancangan penelitian yang digunakan.1.5.2 ASERNIP (2013) dalam penelitian yang berjudul Vacuum-assisted closure for the management of wound: anaccelerated systematic. Rancangan penelitian case control sampel diambil menggunakan metode simple random sampling dengan jumlah sampel 15 orang. Analisa data yang digunakan adalah chi-squre dan hasilnya adalah terapi vacuum assited closure (vac) efektif dalam proses penempelan kulit dengan p = 0,002 . dengan derajat kemaknaan (besarnya hubungan) berdasarkan interpretasi nilai (p) adalah sedang. Perbedaan dengan penelitian ini antara lain terletak pada variable terikat yang diteliti, teknik pengambilan sampel dan rancangan penelitian yang digunakan.26

1

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Konsep Dasar Luka Bakar2.1.1 Pengertian Luka BakarLuka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber yang memiliki suhu yang sangat tinggi (misalnya api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi) atau suhu yang sangat rendah (Moenadjat, 2009:1). Luka bakar adalah luka yang dapat timbul akibat kulit terpajan suhu tinggi, syok listrik, atau bahan kimia (Corwin, 2001). Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh melalui hantaran atau radiasi elektromagnetik (Smeltzer & Bare, 2002:1912)

2.1.2 Patofisiologi Luka BakarLuka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh. Panas dapat dipindahkan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik. Kulit akan mengalami kerusakan pada epidermis, dermis, maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan lamanya kulit kontak dengan sumber panas (Smeltzer & Bare, 2002). Kedalaman luka bakar mempengaruhi kerusakan integritas kulit dan kematian sel. Semakin dalam dan luas jaringan yang rusak, semakin berat kondisi luka bakar dan semakin jelek prognosisnya (Moenadjat, 2009:19).Agen cedera akan menyebabkan denaturasi protein sel. Sebagian sel akan mengalami nekrosis traumatik. Kehilangan ikatan kolagen juga terjadi bersama proses denaturasi sehingga timbul gradien tekanan osmotik dan hidrostatik yang abnormal. Hal ini akan menyebabkan perpindahan cairan intravaskuler ke unit intersitisial. Cedera sel memicu pelepasan mediator inflamasi yang turut menimbulkan peningkatan permeabilitas kapiler secara lokal. Namun pada luka bakar yang berat, mediator inflamasi akan menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler secara sistemik (Kowalak, 2011:618). Hipovolemia yang timbul berbeda dengan hipovolemia yang disebabkan oleh perdarahan. Sel darah merah dan sel lainnya tetap di dalam intravaskuler. Hanya cairan yang meninggalkan unit intravaskuler sehingga terjadi hemokonsentrasi. Hemokonsentrasi dan hipovolemia menyebabkan sirkulasi terganggu. Perfusi sel tidak terselenggara dengan baik. Kondisi ini dikenal dengan syok hipovolemia (Moenadjat, 2009:63). Respon tubuh akibat gangguan perfusi meliputi respon sistemik. Respon Kardiovaskuler; curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah terjadi. Curah jantung menurun maka tekanan darah menurun. Sebagai respon, sistem saraf simpatik akan melepaskan katekolamin yang meningkatkan resistensi perifer dan frekuensi denyut nadi. Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah jantung. Resusitasi cairan yang segera dilakukan memungkinkan dipertahankannya tekanan darah dalam kisaran normal yang rendah sehingga curah jantung membaik (Smeltzer & Bare, 2002:1913) Respon pulmonal, paru yang merupakan organ sistem pernafasan yang menyelenggarakan pertukaran karbondioksida dengan oksigen mengadakan kompensasi dengan peningkatan frekuensi pernafasan. Dengan mekanisme kompensasi ini, timbul hiperventilasi yang memiliki dampak terhadap keseimbangan asam-basa dan metabolisme secara keseluruhan (Moenadjat, 2009:65). Respon renalis, penurunan sirkulasi renal menyebabkan iskemia ginjal. Manifestasi awal yang tampak akibat kondisi iskemia ini adalah penurunan ekskresi urin mulai dari oliguria sampai dengan anuria. Hipoksia parenkim ginjal merupakan stimulasi dilepaskannya renin dan angiotensin oleh sel-sel juxtaglomerulus renalis yang merangsang Anti Diuretic Hormone (ADH) dan kelenjar anak ginjal memproduksi hormon kortisol dan glukagon. Rangkaian selanjutnya adalah rangsangan pada hipofisis posterior untuk melepaskan Adeno Cortico Tropic Hormone (ACTH) yang merupakan stimulan bagi sistem saraf parasimpatik dan ortosimpatik dalam teori berkembangnya stres metabolisme. Bila tidak segera ditangani, terjadi akut tubular nekrosis dan berlanjut dengan acute renal failure (Moenadjat, 2009:69). Respon gastrointestinal, terganggunya sirkulasi splangnikus, terjadi perubahan degeneratif bersifat akut pada organ-organ yang diperdarahi antara lain saluran cerna bagian atas. Gangguan perfusi menyebabkan terjadinya iskemia mukosa saluran cerna yang mengakibatkan integritasnya terganggu (disrupsi mukosa). Dengan terjadinya disrupsi mukosa, lamina muskularis mukosa dan kapiler submukosa terpapar pada lumen. Kerapuhan dinding pembuluh kapiler menyebabkan pecahnya kapiler lambung. Perdarahan dapat terjadi sedemikian masif dan menyebabkan penderita jatuh kedalam syok (Moenadjat, 2009:68). Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar. Semua tingkat respon imun akan dipengaruhi secara merugikan. Kehilangan integritas kulit diperburuk dengan pelepasan faktor-faktor inflamasi yang abnormal. Perubahan kadar imunoglobulin serta komplemen serum, gangguan fungsi neutrofil, dan penurunan jumlah limfosit (limfositopenia). Imunosupresi membuat pasien luka bakar berisiko tinggi untuk mengalami sepsis (Smeltzer & Bare, 2002:1916) Hilangnya kulit juga menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhu. Karena itu pasien-pasien luka bakar dapat memperlihatkan suhu tubuh yang rendah dalam beberapa jam pertama pasca luka bakar. Namun setelah keadaan hipermetabolisme akan mengatur kembali suhu tubuh. Pasien luka bakar akan mengalami hipertermi selama sebagian besar periode pasca luka bakar meskipun tidak terdapat infeksi (Smeltzer & Bare, 2002:1916).

2.1.3 Derajat Luka Bakar Derajat luka bakar berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan menurut Moenadjat (2009) :a. Luka bakar derajat I: kerusakan jaringan terbatas pada lapisan epidermis (superficial), kulit kering, hiperemik memberikan floresensi berupa eritema, tidak dijumpai bulae. Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-7 hari. Karena derajat kerusakan yang ditimbulkannya tidak merupakan masalah klinik yang berarti dalam kajian terapetik, luka bakar derajat satu tidak dicantumkan dalam perhitungan luas luka bakar.b. Luka bakar derajat II (partial thickness burn) : kerusakan meliputi seluruh ketebalan epidermis dan sebagian superfisial dermis. Respon yang timbul berupa reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi. Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Luka bakar derajat II dapat dibedakan menjadi dua:1) Derajat II dangkal (Superficial partial thickness burn): kerusakan mengenai epidermis dan sepertiga bagian superfisial dermis. Dermal- epidermal junction mengalami kerusakan sehingga terjadi epidermolisis yang diikuti terbentuknya lepuh (bulae). Lepuh ini merupakan karakteristik luka bakar derajat II dangkal. Bila epidermis terlepas, terlihat dasar luka berwarna kemerahan, kadang pucat-edematus dan eksudatif. Apendises kulit (integumen, adneksa kulit) seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. Penyembuhan terjadi secara spontan umumnya memerlukan waktu antara 10-14 hari.2) Derajat II dalam (Deep partial thickness burn): kerusakan mengenai hampir seluruh (duapertiga bagian superficial) dermis. Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian masih utuh. Sering dijumpai eskar tipis di permukaan. Penyembuhan terjadi lebih lama tergantung apendises kulit yang tersisa. Biasanya penyembuhan memerlukan waktu lebih dari dua minggu.c. Luka bakar derajat III (Full thickness burn): Kerusakan meliputi seluruh tebal dermis dan lapisan yang lebih dalam. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan. Tidak dijumpai bulae. Kulit yang terbakar berwarna pucat atau lebih putih. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar. Secara teoritis tidak dijumpai rasa nyeri bahkan hilang sensasi karena ujung-ujung serabut saraf sensorik mengalami kerusakan. Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epithelialisasi spontan baik dari tepi luka (membrane basalis), maupun dari apendises kulit yang memiliki potensial epithelialisasi.

Gambar 2.1 Lapisan Kulit Normal Dengan Apendisesnya

Gambar 2.2 Kedalaman Luka Bakar

2.1.4 Kategori Penderita Luka Bakar Menurut Moenadjat (2009:12), luka bakar dapat dikategorikan berdasarkan berat dan ringan luka bakar adalah:a. Luka bakar ringan dengan kriteria luka bakar derajat II; derajat III