of 9/9
 REFLEKSI KASUS TINEA KRURIS Nama : Ayu Puspita Sari Stambuk : N 11 1 14 075 Pembimbi ! : "r# $iay Nur"i% Sp#KK# &#Kes 'A(IAN IL&U KESE)ATNA KULIT $AN KELA&IN FAKUL T AS KE$*KTERAN $AN IL&U KESE)AT AN UNI+ERSITAS TA$ULAK* PALU ,015

3. Tinea Kruris

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

refka

Text of 3. Tinea Kruris

REFLEKSI KASUS

TINEA KRURIS

Nama: Ayu Puspita SariStambuk : N 111 14 075Pembimbing : dr. Diany Nurdin, Sp.KK. M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATNA KULIT DAN KELAMINFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATANUNIVERSITAS TADULAKOPALU2015

STATUS PASIENBAGIAN KESEHATAN KULIT DAN KELAMINRSUD UNDATA PALU

1. Identitas Pasien1. Nama pasien: Tn. S1. Umur: 68 Tahun1. Jenis Kelamin: Laki-Laki 1. Alamat :BTN lagarutu1. Agama: Islam1. Status: sudah menikah 1. Tanggal Pemeriksaan : 28 Maret 20151. Ruangan: Poliklinik Kulit RSUD Undata

1. Anamnesis1. Keluhan utama: Gatal-gatal pada bokong dan paha.1. Riwayat penyakit sekarang :Seorang pasien laki-laki berusia 68 tahun datang ke poli kulit RSUD Undata dengan keluhan gatal-gatal pada bokong dan paha. Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Awalnya muncul bintik kemerahan pada bokong kemudian muncul keluhan yang sama pada paha. Bintik kemerahan tersebut kemudian menjadi lebih besar dan terasa bersisik. Pasien mengeluh gatal pada bintik-bintik tersebut. Rasa gatal muncul ketika pasien berkeringat. Pasien sudah berobat ke dokter dan di beri salep dan obat untuk di minum tetapi jika obatnya habis keluhan tersebut muncul kembali.1. Riwayat penyakit terdahulu :Pasien sudah pernah mengalami penyakit seperti ini tetapi keluhan dirasakan hilang timbul.

1. Riwayat penyakit keluarga:Tidak Terdapat riwayat alergi di keluarga pasien. Tidak ada yang mengalami penyakit seperti ini di keluarga pasien.

1. Pemeriksaan FisikStatus generalis:1. Keadaan umum1. Kesadaran : Komposmentis1. Status gizi : Gizi cukup 1. Derajat sakit : Ringan1. Tanda vital: TD : 140/80mmHgR : 23x/menit N : 84x/menitS : - C1. Kepala: Sklera ikterik (-), Konjungtiva anemis (-)1. Thoraks: Tidak dilakukan 1. Abdomen: Tidak dilakukan

1. Status Dermatologi1. Ujud kelainan kulit: papul, plak eritematosa, skuama1. Lokalisasi1. Kepala: Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Wajah: Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Leher: Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Telinga: Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Dada: Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Punggung: Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Perut: Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Genitalia: Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Selangkangan: Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Bokong: Terdapat plak eritematosa, papul, dan skuama1. Ekstremitas atas : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit1. Ekstremitas bawah: Terdapat plak eritematosa, papul, dan skuama

Gambar 1tampak papul, plak eritema dengan bagian tepi lebih aktif, terdapat skuama1. Resume Seorang pasien laki-laki berusia 68 tahun datang ke poli kulit RSUD Undata dengan keluhan gatal-gatal pada bokong dan paha. Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Awalnya muncul bintik kemerahan pada bokong kemudian muncul keluhan yang sama pada paha. Bintik kemerahan tersebut kemudian menjadi lebih besar dan terasa bersisik. Pasien mengeluh gatal pada bintik-bintik tersebut. Rasa gatal muncul ketika pasien berkeringat. Pasien sudah berobat ke dokter dan di beri salep dan obat untuk di minum tetapi jika obatnya habis keluhan tersebut muncul kembali. Pasien sudah pernah mengalami penyakit seperti ini tetapi keluhan dirasakan hilang timbul. Tidak terdapat riwayat alergi atau kelainan kulit seperti in di keluarga pasien.

1. Anjuran Pemeriksaan Penunjang pemeriksaan KOH

1. Diagnosis Banding:3. Tinea kruris3. Dermatitis numularis3. Morbus hansen

1. Diagnosis Kerja: Tinea kruris

1. Penatalaksanaana. Non-medikamentosa1. Menjaga mengatur asupan gizi untuk menjaga sistem imun1. Jangan menggaruk luka1. Selalu menjaga kebersihan tubuh1. Jangan menggunakan peralatan mandi bersama dengan orang lain1. Pengobatan tetap harus dilanjutkan sampai 2 minggu meskipun lesi telah sembuh.1. Saat mengoleskan salep sebaiknya bagian yang sehat juga di oleskanb. Medikamentosa : Ketokonazol 200 mg 1x sehari Mikonazol krim Cetirizine 4 mg 1 x sehari1. Prognosis 1. Quo ad vitam: ad bonam1. Quo ad sanationam : ad bonam1. Quo ad kosmetikan: ad bonam1. Quo ad fungsionam: ad bonam

PEMBAHASANSeorang pasien laki-laki berusia 68 tahun datang ke poli kulit RSUD Undata dengan keluhan gatal-gatal pada bokong dan paha. Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Awalnya muncul bintik kemerahan pada bokong kemudian muncul keluhan yang sama pada paha. Bintik kemerahan tersebut kemudian menjadi lebih besar dan terasa bersisik. Pasien mengeluh gatal pada bintik-bintik tersebut. Rasa gatal muncul ketika pasien berkeringat. Pasien sudah berobat ke dokter dan di beri salep dan obat untuk di minum tetapi jika obatnya habis keluhan tersebut muncul kembali.Pasien sudah pernah mengalami penyakit seperti ini tetapi keluhan dirasakan hilang timbul. Tidak terdapat riwayat alergi atau kelainan kulit seperti in di keluarga pasien.Pada pemeriksaan status dermatologis di temukan plak eritematosa dengan papul pada tepi lesi, dan skuama pada bokong dan paha. Tampak bagian tepi lesi lebih meradang di bandingkan bagian tengah.Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genitokrural saja atau meluas sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh yang lain. Tampak lesi kulit berbatas tegas, dengan peradangan pada tepi yang lebih jelas dibandingkan bagian tengahnya.1Tampak plak eritematosa dengan papul dan vesikel di sekelilingnya. Lesi biasanya gatal, tetapi terasa nyeri jika plak menyebar atau mengalami infeksi sekunder. Plak pada tinea kruris yang disebabkan oleh T. Rubrum bergabung dan menyebar ke daerah pubis, perianal, bokong, dan daerah di bawah perut. Sedangkan plak pada tinea kruris yang di sebabkan oleh E. Floccosum menunjukkan central healing, dan biasanya terbatas pada lipatan genitokrural dan bagian medial paha atas.2Pemeriksaan penunjang menggunakan sediaan dari bahan kerokan (kulit, rambut dan kuku dengan larutan KOH 10-30%. Dengan pemeriksaan mikroskopis akan terlihat elemen jamur dalam bentuk hifa panjang, spora dan artospora (spora berderet). Dengan pembiakan, bertujuan untuk mengetahui spesies jamur penyebab; bahan sediaan kerokan ditanam dalam agar Sabouroud Dekstrose, untuk mencegah pertumbuhan bakteri dapat ditambahkan antibiotika (contoh; khloramfenicol) ke dalam media tersebut. Perbenihan pada suhu 24- 30C. Pembacaan diakukan dalam waktu 1-3 minggu. Koloni yang tumbuh diperhatikanmengenai warna, bentuk, permukaan dan ada atau tidaknya hifa.3Penatalaksanaan non medikamentosa pada pasien ini adalah Menjaga mengatur asupan gizi untuk menjaga sistem imun, Jangan menggaruk luka, Selalu menjaga kebersihan tubuh, Jangan menggunakan peralatan mandi bersama dengan orang lain, Pengobatan tetap harus dilanjutkan sampai 2 minggu meskipun lesi telah sembuh, Saat mengoleskan salep sebaiknya bagian yang sehat juga di oleskan. Penatalaksanaan medikamentosa yang diberikan adalah ketokonazol oral 200 mg 1 x sehari, dan mikonazol krim. Ketokonazol bersifat fungistatik. Pada kasus-kasus resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan obat tersebut sebanyak 200 mg per hari selama 10 hari-2 minggu pada pagi ahri setelah makan. Ketokonazol merupakan kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar. Obat lain yang juga biasa di gunakan adalah terbinafine 250 mg/hari selama 2-4 minggu, fluconazole 150-300 mg/hari selama 4-6 minggu, griseofulvin 500 mg/hari 2-4 minggu, pada anak dapat diberikan griseofulvin 10-20 mg/kgBB/hari selama 2-4 minggu.2

DAFTAR PUSTAKA

9. Budimulja, U. Mikosis. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta : Badan penerbit FKUI. 20119. Goldsmith, LA. Katz, SI. Gilchrest, BA. et all. Fitzpatricks Dermatology In General Medicine. USA : McGrawHill. 20129. Ryanita. Laporan kasus puskesmas kelapa kampit belitung timur Dermatofitosis e.c tinea corporis. CDK 183/vol.38.no 2/maret-april 2011