Click here to load reader

PBL 15 Tinea Kruris New (Repaired)

  • View
    109

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of PBL 15 Tinea Kruris New (Repaired)

Tinjauan pustaka

Tinea KrurisNeng Nurmalasari

10-2010-326D216 april 2012PendahuluanDermatofitosis merupakan mikosis superfisialis yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita, antara lain Tricophyton, Epidermophyton, dan Microsporum. Dermatofitosis dibagi oleh beberapa penulis, misalnya Simons dangahar (1945) menjadi dermatomikosis, trikomikosis, dan onimikosis. Berdasarkan bagian tubuh manusia yang diserang yaitu tinea kapitits (kulit dan rambut kepala), tinea barbae (pada dagu dan jenggot), tinea kruris (daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan kadang-kadang perut bagian bawah), tinea pedis et manum (kaki dan tangan), tinea ungulatum (kuku jari tangan dan kaki), tinea korporis (bagian yang lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea). Pada tinea kruris kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi terbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya. Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk yang primer dan sekunder (polimorfi). Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan. Tinea kruris merupakan salah satu bentuk klinis yang sering dilihat diindonesia. 1Anamnesis Anamnesis yang akurat sangat vital dalam menegakkan diagnosis yang tepat pada kondisi-kondisi yang mengenai kulit. Keluhan utama tersering di antaranya adalah ruam, gatal, bengkak, ulkus, perubahan warna kulit, dan pengamatan tak sengaja saat pasien datang dengan keluhan utama kondisi medis lain. Kapan pertama kali pasien memperhatikan adanya ruam? Dimana letaknya? Apakah terasa gatal? Adakah pemicu (misalnya pengobatan, makanan, sinar matahari, dan alergen potensial)?. Diama letak benjolan? Apakah terasa gatal? Apakah berdarah? Apakah bentuk/ukuran/warnanya berubah? Adakah benjolan ditempat lain?. Bagaimana perubahan warna yang terjadi (misalnya pigmentasi meningkat, ikterus, pucat)? Siapa yang memperhatikan adalanya perubahan warna? Sudah berapa lama? Bandingkan dengan foto terdahulu.Adakah gejala penyerta yang menunjukan adanya kondisi medis sistemik (misalnya penurunan berat bada, atralgia, dan lain-lain)?Pertimbangan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh kondisi kulit yang serius, seperti kehilangan cairan, infeksi sekunder, penyebaran metastatik ke kelenjar getah bening atau organ lain. Riwayat penyakit dahulu Pernahkan pasien mengalami gangguan kulit, ruam, dan lain-lain? Adakah riwayat kecenderungan atopi (asma, rinitis)? Apakah pasien memiliki masalah dengan kulit di masa kecil? Adanya riwayat kondisi medis lain yang signifikan? (khususnya yang mungkin memiliki manifestasi pada kulit, misalnya SLE, penyakit seliaka, miositis, atau transplantasi ginjal). Obat-obat Riwayat pemakaian obat yang lengkap penting bagi semua jenis pengobatan, baik obat resep atau alternatif yang dimakan atau topikal. Pernahkah pasien menggunakan obat untuk penyakit kulit? Pernahkan/apakah pasien menggunakan imunosupresan?

Alergi Apakah pasien memiliki alergi obat? Jika ya, seperti apa reaksi alergi yang timbul? Apakah pasien mengetahui kemungkinan alergen yang lain? Pernahkan pasien mengalami patch test atau pemeriksaan respon igE? Riwayat keluarga Adakah riwayat penyakit kulit atau atopi dalam keluarga? Adakah orang lain di keluarga yang mengalami kelainan serupa?. Riwayat sosial Bagaimana riwayat pekerjaan pasien; apakah terpapar sinar matahari, alergen potensial, atau parasit kulit? Apakah menggunakan produk pembersih baru, hewan peliharaan baru, dan lain-lain? Apakah pasien baru-baru ini berpergian ke luar negeri? Adakah pajanan pada penyakit infeksi (misalnya cacar air). Penyelidikan fungsional Fakta utama bagian ini adalah kemungkinan adalanya penyakit sistemik yang berkaitan, seperti penyakit seliaka, infeksi parasit, atropi psoriatik, SLE, dan lain-lain. 2Pemeriksaan fisik Hasil temuan objektif adalah bersifat klinis (berarti kebanyakan melalui inspeksi,palpasi dan dengan alat bantu sederhana seperti kaca pembesar,gelas obyek dan sonde).Ini berguna untuk mengindentifikasi perubahan pada kulit dan mukosa.perubahan dapat mengenai seluruh tubuh (gambaran umum,misalnya warna kulit,tebal,turgor dan suhu) atau sirkumskripta pada daerah kulit setempat.Sebaliknya perluasan dari lesi majemuk sering hanya dapat dipahami dengan cara orientasi (sirkumskripta, regional, generalisata, universal) atau dengan perkiraan (dengan bantuan Rule of nine).meskipun efloresensi sebagai elemen tunggal dari tanda kelainan khas pada kulit itu jelas,dalam gambar keseluruhannya sering kompleks dan beraneka ragam.Ini disebabkan karena:1. Melalui bentuk kombinasi, jumlah efloresensi meningkat. Misalnya : papula + pustule = papulopustula, papula+ vesikula= papulovesikula.2. Efloresensi dapat berubah,dari efloresensi primer menjadi efloresensi sekunder.Misalnya : Bula Erosi.Pada perjalanan penyakit yang berfluktuasi dapat terjadi efloresensi campuran antara yang baru,lama,dan bekas penyembuhan.Seperti misalnya jaringan parut, pigmentasi.3. Efloresensi dapat melalui pertumbuhan atau lesi majemuk membentuk lesi yang besar, yang mengandung berbagai jenis efloresensi atau bentuk kombinasi dan kemudian membuat gambaran yang heterogen.a. Sembilan Ciri fisik lesi kulitSetelah memeriksa pasien,anda harus dapat melukiskan sembilan ciri masing-masing lesi.Selama pemeriksaan,pusatkanlah perhatian anda pada ciri-ciri fisik tersebut.Perubahan-perubahan yang bersifat menyeluruh dapat tersebar luas.Ini mencakup turgor,tekstur dan warna. perubahan-perubahan setempat meliputi distribusi, pola atau pengelompokan lesi perubahan suhu kulit,tingkat kedalaman lesi kulit,ciri-ciri pembuluh darah,dan ciri berbagai fase lesi kulit.b. Perubahan menyeluruhSebelum memeriksa setiap lesi,nilailah ciri kulit secara keseluruhan.Banyak informasi tentang kesehatan umum pasien dapat diperoleh dengan memeriksa turgor,tekstur,dan warna kulit meskipun tidak ada kelainan kulit setempat.Turgor kulit umumnya mencerminkan keadaan hidrasi. Pada dehidrasi dan usia lanjut,kulit terlihat kering,seperti kertas perkamen.Pada pasien lanjut usia,hal ini mencerminkan hilangnya elastitas kulit dan juga keadaan kekurangan air ekstrasel.Turgor paling baik dinilai dengan menjepit kulit (tenting the skin) dahi dengan ibu jari dan jari telunjuk,lepaskan dengan cepat dan perhatikanlah kecepatan kembalinya sampai datar kembali. Hidrasi juga dapat diperiksa dengan merasakan kelembaban aksila. Kombinasi penurunan turgor kulit,mata yang lunak,dan cekung,dan tidak adanya keringat aksila merupakan tanda diagnostic untuk dehidrasi berat.Tekstur kulit berubah-ubah di bawah pengaruh banyak variable.Tekstur kulit dapat kasar,kering,atau halus atau mungkin di lukiskan dengan istilah lain yang serupa.Warna kulit juga dipengaruhi oleh banyak variable.Gangguan pada melanin dapat menyeluruh atau setempat dan menyebabkan kulit menjadi gelap.Tidak adanya pigmentasi sama sekali terjadi pada albino.Peningkatan pigmentasi melanin terjadi pada beberapa penyakit sistemik.Pigmen kulit abnormal terlihat pada hemokromatosis.Penyakit ini,suatu ganguan metabolisme besi,ditandai oleh pigmentasi berwarna merah tua pada kulit,diabetes mellitus,dan sirosis.Ketiga keadaan tersebut merupakan akibat dari penumpukan zat besi di dalam jaringan dan reaksi selanjutnya terhadap zat besi tersebut.Argiria adalah istilah yang dipakai untuk keracunan perak.Pada argiria,kulit berwarna abu-abu kebiruan karena penumpukan perak di dalam kulit.Penyebab umum adalah penyalah-gunaan obat tetes hidung yang mengandung perak nitrat secara kronis.Sianosis adalah perubahan warna kulit menjadi kebiruan yang paling jelas terlihat pada ujung jari dan bibir.Sianosis ini disebabkan oleh desaturasi hemoglobin.Ikterus adalah warna kulit yang kekuningan yang disebabkan oleh desaturasi hemoglobin.Ikterus adalah warna kulit yang kekuningan yang disebabkan oleh endapan pigmen empedu di dalam kulit sekunder terhadap penyaklit hati atau hemolisis sel darah merah.c. Perubahan setempatMula-mula lakukan pemeriksaan secara sepintas ke seluruh tubuh,kemudian lakukanlah pemeriksaan yang lebih teliti dan evaluasilah distribusi,susunan,dan jenis lesi kulit.d. Susunan LesiTanyakanlah juga Bagaimana pola lesinya?.Lesi kulit dengan distribusi sepanjang suatu dermatom menunjukan adanya penyakit neurogenik.Contohnya adalah penyakit Herpes zoster.Di sini,lesi vesikuler timbul tepat pada daerah distribusi saraf yang terinfeksi.Kalau proses penyakitnya hanya menyerang lapisan epidermis saja,lesi tersebut sering kali berderet sepanjang aksis lipatan kulit yang halus.Misalnya,ciri ini mungkin menonjol pada pitiriasis rosea.Linearitas merupakan observasi yang penting.Lesi yang berbentuk garis sepanjang sumbu panjang suatu anggota tubuh dapat mempunyai arti :1.Garukan pasien :merupakan penyebab tersering untuk lesi linear.2.Erupsi karena poison ivy,suatu dermatitis kontak,berbentuk linear,karena iritannya disebarkan oleh garukan yang bergerak naik turun 3.pembuluh darah dan pembuluh limfe biasanya tersusun sepanjang sumbu panjang anggota tubuh.Peradangan pembuluh darah atau pembuluh limfe dapat menyebabkan lesi linear merah.4.Akhirnya,parasit scabies dapat membuat liang-liang pendek (1 cm) terutama pada kulit di antara jari-jari tangan.Lesi satelit yaitu suatu lesi sentral yang besar yang dikelilingi oleh dua atau lebih lesi serupa tetapi lebih kecil,menunjukan asal lesi dan penyebaran darinya,seperti yang dijumpai pada melanoma malignum atau infeksi jamur.Lesi yang berkelompok mempunyai arti yang sama,kecuali bahwa tidak ada lesi utama di bagian sentral.Tepi lesi merupakan ciri lesi kulit yang berguna dalam menegakkan diagnosis.Lesi berbatas tegas adalah lesi yang mempunyai batas yang jelas,sedangkan lesi berbatas tidak tegas adalah lesi dimana kulit normal dan abnormal menyatu tanpa batas tegas di antara keduanya.e. Jenis Lesi KulitPemeriksaan kulit yang diteliti mencakup palpasi setiap lesi.Mula-mula,tentukanlah apakah lesi tersebut di atas,sama tinggi,atau di

Search related