PENGOBATAN TINEA KRURIS ET KORPORIS DAN TINEA PEDIS erepo.unud.ac.id/id/eprint/5065/1/4eaac92a5af5907f03201a27ebc81¢ 

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENGOBATAN TINEA KRURIS ET KORPORIS DAN TINEA PEDIS...

  • PRESENTASI KASUS Kepada Yth:

    Dipresentasikan pada :

    Hari/Tanggal :

    Jam : WITA

    PENGOBATAN TINEA KRURIS ET KORPORIS DAN

    TINEA PEDIS TIPE INTERDIGITAL PADA

    SEORANG PENDERITA PSIKOTIK EPILEPSI

    Oleh :

    dr. Indra Teguh Wiryo

    Pembimbing:

    Dr. dr. Luh Made Mas Rusyati, SpKK, FINSDV

    PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I

    BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

    FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD/RSUP SANGLAH DENPASAR

    2016

  • 1

    DAFTAR ISI

    Halaman Sampul i

    Daftar Isi 1

    Pendahuluan 2

    Kasus 3

    Pembahasan 10

    Simpulan 17

    Daftar Pustaka 18

  • 2

    PENDAHULUAN

    Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh jamur dermatofita.

    Jamur dermatofita ini meliputi tiga genus yaitu Trichophyton, Microsporum dan

    Epidermophyton. Penyakit ini menyerang jaringan yang mengandung keratin sebagai

    sumber nutrisi untuk tumbuh dan berkembang biak, seperti pada kulit, rambut dan kuku.

    Klasifikasi dermatofitosis dibagi berdasarkan habitat dan tempat predileksi infeksinya.

    Berdasarkan habitat alaminya, dermatofita dapat dibedakan menjadi tiga yaitu geofilik,

    zoofilik dan antropofilik. Sedangkan berdasarkan tempat predileksinya, dapat dibagi

    menjadi tinea kapitis, tinea barbae, tinea korporis, tinea manum, tinea kruris, tinea pedis

    dan tinea unguium. Tinea korporis merupakan infeksi dermatofitosis pada kulit glabosa

    kecuali daerah telapak tangan, telapak kaki, lipat paha, bokong, kuku dan rambut. Tinea

    kruris merupakan infeksi dermatofitosis pada daerah lipatan paha dan bokong. Tinea pedis

    merupakan infeksi dermatofitosis pada daerah telapak kaki dan sela –sela jari kaki. 1,2

    Dermatofitosis diperkirakan mengenai 20-25% dari seluruh populasi di dunia dan

    merupakan salah satu bentuk infeksi yang paling sering pada manusia. 3 Insiden

    dermatofitosis di Indonesia sendiri bervariasi, dimana berdasarkan data dari berbagai

    rumah sakit pada tahun 2011, didapatkan insiden sebesar 42,5% (Jakarta), 48,5%

    (Manado), 52,7% (Surabaya), 55,4% (Medan), 59,7% (Semarang), 64,5% (Denpasar),

    65,5% (Yogyakarta), 69,1% (Makasar), 69,3% (Malang), 71,1% (Bandung), 74%

    (Palembang). 4

    Di poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah

    pada periode Januari 2015 - Desember 2015 tercatat sebanyak 15 kasus baru tinea korporis,

    8 kasus baru tinea kruris dan 5 kasus baru tinea pedis. 5

    Beberapa faktor presdiposisi terjadinya dermatofitosis antara lain iklim yang panas,

    kelembaban yang tinggi, higiene perorangan yang buruk seperti pada penderita psikotik,

    kontak lama dengan binatang, obesitas dan kondisi imunokompromais yang disebabkan

    oleh HIV/AIDS, pemakaian kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama, serta diabetes

    melitus. 3,6

    Epilepsi adalah suatu keadaan kejang berulang tanpa provokasi yang disebabkan

    oleh adanya gangguan neurologis di otak. Penyakit ini umum dijumpai, dengan perkiraan

    50 juta penderita yang tersebar di seluruh dunia atau sebesar 3% dari seluruh populasi

  • 3

    dunia. Beberapa faktor resiko yang dapat memicu terjadinya epilepsi yaitu: riwayat

    keluarga dengan epilepsi, cedera kepala, riwayat persalinan abnormal dan infeksi pada

    sistem saraf pusat. 8,9

    Epilepsi telah lama diketahui memiliki hubungan sebagai faktor resiko

    untuk terjadinya psikosis, namun penyebab pasti dari hubungan tersebut masih belum

    diketahui sampai sekarang. Berdasarkan review yang dilakukan oleh Clancy, et al pada

    tahun 2014, didapatkan sebanyak 6% individu yang menderita epilepsi memiliki

    komorbiditas psikosis. Tingkat prevalensi psikosis paling tinggi didapatkan pada penderita

    epilepsi lobus temporal. 10,11

    Psikosis adalah suatu kondisi abnormal atau gangguan mental yang menyebabkan

    ketidakmampuan seseorang dalam menilai perbedaan antara kenyataan dengan fantasi.

    Orang yang menderita psikosis disebut psikotik. 10

    Penderita psikosis akan mengalami

    gangguan dalam bekerja, maupun menjalankan aktivitas kehidupan sehari – hari seperti

    menjaga kebersihan tubuhnya. Kuruvila M, et al, dan Martoenis, et al menyatakan adanya

    peningkatan insiden infeksi dermatofitosis pada penderita psikotik. 12,13

    Penegakan diagnosis dermatofitosis berdasarkan pada anamnesis, gambaran klinis

    dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan secara mikroskopis dengan KOH,

    pemeriksaan fluoresensi dengan lampu Wood dan kultur jamur. 1,7

    Berikut dilaporkan satu

    kasus infeksi tinea korporis, tinea kruris dan tinea pedis pada seorang penderita psikotik

    epilepsi. Kasus ini dilaporkan untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang infeksi

    dermatofitosis terutama tinea korporis, tinea kruris, tinea pedis dan terapinya terkait dengan

    interaksi obat pada penderita psikotik epilepsi.

    KASUS

    Seorang laki - laki, usia 47 tahun, suku Bali, warga negara Indonesia, dengan nomor rekam

    medis 00650474, datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUP Sanglah pada tanggal 27

    Januari 2016 dengan keluhan utama gatal di seluruh tubuh hingga sulit tidur. Dari

    anamnesis didapatkan keluhan gatal dan bercak kemerahan pada lipat paha dan bokong

    sejak 10 tahun yang lalu. Keluhan gatal dirasakan terutama saat pasien berkeringat. Sejak 2

    tahun lalu bercak kemerahan dan gatal bertambah pada bagian ketiak kanan dan punggung

    kiri, pasien sempat berobat ke dokter, namun keluhan sering kambuh kembali. Sejak 1

  • 4

    bulan terakhir ini pasien mengaku sangat gatal pada seluruh tubuhnya sampai mengganggu

    tidur, sehingga pasien datang berobat ke poli Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah.

    Pasien mengatakan 2 tahun yang lalu sudah pernah berobat ke dokter spesialis kulit dan

    kelamin, mendapat obat berupa salep namun lupa nama obatnya. Saat itu keluhan dirasakan

    sudah membaik, karena itu pasien tidak berobat lagi, namun keluhan kambuh lagi ketika

    obat salep habis. Pasien juga pernah mengoleskan spiritus 3 bulan lalu, namun tidak ada

    perbaikan. Pasien juga menderita penyakit epilepsi dan psikotik epilepsi. Pasien

    mendapatkan obat carbamazepine 3x200mg per oral, clobazam 2x10mg per oral dan asam

    folat 1x1mg per oral yang rutin diminum setiap hari untuk pengobatan epilepsinya.

    Riwayat pengobatan psikotik epilepsi dengan haloperidol 2x1,5mg per oral setahun lalu.

    Penyakit lain seperti penyakit jantung, penyakit kuning dan diabetes melitus disangkal.

    Riwayat alergi obat dan makanan disangkal oleh pasien.

    Di keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit yang sama. Ibu pasien

    menderita penyakit diabetes mellitus. Pasien adalah anak kedua dari tiga bersaudara, di

    keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat menderita penyakit epilepsi ataupun

    psikotik. Pasien tidak bekerja dan masih tinggal bersama orang tuanya. Pasien dapat

    sekolah dari SD sampai kuliah, namun setelah lulus pasien tidak diijinkan untuk bekerja.

    Dalam kesehariannya pasien sering memakai celana dalam yang dilapis dengan celana

    boxer dan kemudian memakai celana panjang. Pasien juga mengaku sering berkeringat

    karena kepanasan. Pasien tidak memiliki binatang peliharaan di rumahnya.

    Pasien memiliki riwayat lahir kurang bulan dengan berat badan rendah (2000gram).

    Proses persalinan dibantu oleh bidan di rumah. Ibu pasien tidak membawa pasien ke rumah

    sakit, karena pasien tampak sehat saja meskipun berat badan lahir rendah dan kurang bulan.

    Saat berusia 14 bulan, pasien sempat kejang selama 4jam, namun tidak langsung dibawa ke

    rumah sakit. Ibu pasien membawa pasien ke rumah sakit keesokan harinya karena kejang

    berulang disertai demam tinggi. Dokter mengatakan pasien menderita meningitis dan harus

    dirawat di rumah sakit. Pasien kemudian dirawat di rumah sakit selama 4 bulan, dan

    diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Namun setelah pulang pasien

    masih sering kejang di rumah. Saat diperiksakan kembali ke dokter pasien dikatakan

    menderita epilepsi, sejak itu pasien rutin mengkonsumsi obat anti kejang. Enam tahun yang

  • 5

    lalu pasien pernah mengamuk dan kemudian dirawat di bangsal Lely di RSUP Sanglah,

    pasien didiagnosis menderita penyakit psikotik epilepsi

    Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis,

    tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 84x/menit, frekuensi pernapasan 20x/menit,

    temperatur aksila 36,2°C. Tinggi badan 155 cm, berat badan 68 kg, indeks massa tubuh

    28,3 (berat badan berlebih). Pada status generalis didapatkan kepala normosefali. Pada

    pemeriksaan mata tidak didapatkan konjungtiva anemis dan sklera ikterik. Pada

    pemeriksaan mulut dan mukosa didapatkan dalam batas normal. Pada pemeriksaan telinga,

    hidung dan tenggorokan tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan thorak didapatkan suara

    jantung S1S2 tunggal reguler, tidak ada murmur. Suara nafas vesikuler, tidak ada ronkhi

    maupun wheezing. Pada pemeriksaan abdomen terdengar suara bising usus normal, tid