27
Vaginosis Bakterialis Vaginosis bakterialis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Gardnerella vaginalis. ETIOLOGI Organisme ini mula-mula dikenal sebagai H. vaginalis kemudian diubah menjadi genus Gardnerella atas dasar hasil penyelidikan mengenai fenotipik dan asam dioksi- ribonukleat. Tidak mempunyai kapsul, tidak bergerak, dan berbentuk batang Gram-negatif atau variabel-Gram, tes katalase, oksidase, reduksi nitrat, indole, dan urease semuanya negatif. Kuman ini bersifat anaerob fakultatif, dengan produk akhir utama pada fermentasi berupa asam asetat, banyak galur yang menghasilkan asam laktat dan asam format. Ditemukan juga galur anaerob obligat. Untuk pertumbuhannya dibutuhkan tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, biotin, purin, dan pirimidin. Setelah inkubasi selama 48 jam pada suhu 37 o C dalam kelembaban atmosfer 5%, tumbuh koloni pada agar darah manusia dengan diameter sekitar 0,5 mm, bulat, opak, dan halus. Timbul hemolisis beta pada darah manusia dan kelinci, tidak pada darah domba. PATOGENESIS Patogenesis masih belum jelas. G. vaginalis termasuk flora normal dalam vagina melekat pada dinding.

Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

  • Upload
    yeni62

  • View
    60

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

Citation preview

Page 1: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

Vaginosis Bakterialis

Vaginosis bakterialis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Gardnerella

vaginalis.

ETIOLOGI

Organisme ini mula-mula dikenal sebagai H. vaginalis kemudian diubah

menjadi genus Gardnerella atas dasar hasil penyelidikan mengenai fenotipik dan

asam dioksi-ribonukleat. Tidak mempunyai kapsul, tidak bergerak, dan berbentuk

batang Gram-negatif atau variabel-Gram, tes katalase, oksidase, reduksi nitrat,

indole, dan urease semuanya negatif.

Kuman ini bersifat anaerob fakultatif, dengan produk akhir utama pada

fermentasi berupa asam asetat, banyak galur yang menghasilkan asam laktat dan

asam format. Ditemukan juga galur anaerob obligat.

Untuk pertumbuhannya dibutuhkan tiamin, riboflavin, niasin, asam folat,

biotin, purin, dan pirimidin. Setelah inkubasi selama 48 jam pada suhu 37oC

dalam kelembaban atmosfer 5%, tumbuh koloni pada agar darah manusia dengan

diameter sekitar 0,5 mm, bulat, opak, dan halus. Timbul hemolisis beta pada darah

manusia dan kelinci, tidak pada darah domba.

PATOGENESIS

Patogenesis masih belum jelas. G. vaginalis termasuk flora normal dalam

vagina melekat pada dinding. Beberapa peneliti menyatakan terdapat hubungan

yang erat antara kuman ini dengan bakteri anaerob pada patogenesis penyakit

vaginosis bakterialis (VB).

Analisis cairan lemak dalam cairan vagina dengan gas liquid

chromatography menunjukkan bahwa pada wanita dengan V.B. perbandingan

antasa suksinat dan laktat naik menjadi lebih besar atau sama dengan 0,4 bila

dibandingkan dengan wanita normal atau dengan yang menderita vaginitis oleh

karena Candida albicans.

Sekret vagina pada V.B. berisi beberapa amin termasuk di dalamnya

putresin, kadaverin, metilamin, isobutilamin, fenetilamin, histamin, dan tiramin.

Setelah pengobatan berhasil, sekret akan menghilang. Basil anaerob mungkin

Page 2: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

mempunyai peranan penting pada patogenesis V.B. karena setelah dilakukan

isolasi, analisis biokimia sekret vagina dan efek pengobatan dengan

metronodazol, ternyata cukup efektif terhadap G. vaginalis, dan sangat efektif

untuk kuman anaerob.

Dapat terjadi simbiosis antara G. vaginalis sebagai pembentuk asam amino

dan kuman anaerob beserta bakteri fakultatif dalam vagina yang mengubah asam

amino menjadi amin sehingga menaikkan pH sekret vagina sampai suasana yang

menyenangkan bagi pertumbuhan G. vaginalis. Setelah pengobatan efektif, pH

cairan vagina menjadi normal. Beberapa amin diketahui dapat menyebabkan

iritasi kulit dan menambah pelepasan sel epitel dan menyebabkan duh tubuh yang

keluar dari vagina berbau.

Basil-basil anaerob yang menyertai V.B., diantaranya adalah Bacterioides

bivins, B. capillosis, dan B. disiens yang dapat diisolasikan dari infeksi genitalia,

menghasilkan B. lactamase dan lebih dari setengahnya resisten terhadap

tetrasiklin. Faktor hospes manakah yang menimbulkan gejala, belum diketahui.

G. vaginalis melekat pada sel-sel epitel vagina in vitro, kemudian

menambah deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh

pada dinding vagina. Organisme ini tidak invasif dan respons inflamasi lokal yang

terbatas dapat dibuktikan dengan sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina

dan dengan pemeriksaan histopatologis. Tidak ditemukan imunitas.

Timbulnya V.B. ada hubungannya dengan aktivitas seksual atau pernah

menderita infeksi Trichomonas. G. vaginalis dapat diisolasikan dari darah wanita

dengan demam pascapartus dan pasca-abortus.

Kultur darah seringkali menunjukkan flora campuran, bakteriemia G.

vaginalis bersifat transient dan tidak dipengaruhi oleh pengobatan antimikrobal.

Pada 2 penyelidikan mengenai infeksi traktus urinarius selama kehamilan, G.

vaginalis dapat diisolasikan dari urin dengan cara aspirasi suprapubik pada 15-

50% kasus. Penyakit ini biasanya menyerang laki-laki muda, dengan gejala piuria,

hematuria, disuria, polakisuria, dan nokturia. Adanya organisme ini dalam uretra

pria dapat terjadi tanpa gejala uretritis.

Page 3: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

MANIFESTASI KLINIS

Wanita dengan V.B. akan megeluh adanya duh tubuh dari vagina yang

ringan atau sedang dan berbau tidak enak (amis), yang dinyatakan oleh penderita

sebagai satu-satunya gejala yang tidak menyenangkan. Bau lebih menusuk setelah

senggama dan mengakibatkan darah menstruasi berbau abnoemal. Iritasi daerah

vagina atau sekitar vagina (gatal, rasa terbakar), serta kemerahan dan edema pada

vulva. Terdapat 50% kasus bersifat asimptomatik. Pada pemeriksaan terlihat

adanya duh yubuh vagina bertambah, warna abu-abu homogen, berbau dan jarang

berbusa. Gejala peradangan umum tidak ada.

Pada pria dapat terjadi prostatitis ringan sampai sedang, dengan atau tanpa

uretritis. Gejalanya berupa piuria, hematuria, disuria, polakisuria, dan nokturia.

DIAGNOSIS

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan:

1. Duh tubuh vagina berwarna abu-abu, homogen, dan berbau.

2. Pada sediaan basah sekret vagina terlihat leukosit sedikit/tidak ada, sel epitel

banyak, dan adanya kokobasil kecil-kecil yang berkelompok. Adanya sel

epitel vagina yang granular diliputi oleh kokobasil sehingga batas sel tidak

jelas, yang disebut clue cells, adalah patognomotik. Ditemukannya clue cells

sebagai kriteria diagnostik, dilaporkan sensitivitasnya 70-90% sedangkan

spesifitasnya 95-100%. Kombinasi sediaan basah dan pewarnaan gram

usapan vagina lebih dapat dipercaya. Pada pewarnaan gram dapat dilihat

batang-batang kecil gram-negatif atau variabel-gram yang tidak dapat

dihitung jumlahnya dan banyak sel epitel dengan kokobasil, tanpa ditemukan

laktobasil.

Gambaran pewarnaan Gram duh tubuh vagina diklasifikasikan menurut

modifikasi kriteria SPIEGEL dkk. Sebagai berikut:

a. Diagnosis vaginosis bakterial dapat ditegakkan kalau ditemukan campuran

jenis bakteria termasuk morfotipe Gardnerella dan batang gram-positif

atau gram-negatif yang lain atau kokus atau keduanya. Terutama dalam

jumlah besar, selain itu dengan morfotipe Lactobacillus dalam jumlah

Page 4: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

sedikit atau tidak ada di antara flora vaginal dan tanpa adanya bentuk-

bentuk jamur.

b. Normal kalau terutama ditemukan morfotipe Lactobacillus di antara flora

vaginal dengan atau tanpa morfotipe Gardnerella dan tidak ditemukan

bentuk jamur.

c. Indeterminate kalau diantara kriteria tidak normal dan tidak konsisten

dengan vaginosis bakterial.

Pada pewarnaan Gram juga dievaluasi ada atau tidak ada bentuk batang

lengkung Mobiluncus spp.

3. Bau amis setelah diteteskan 1 tetes larutan KOH 10% pada sekret vagina. Tes

ini disebut juga tes Sniff (tes amin).

4. pH vagina 4,5-5,5.

5. Pemeriksaan kromatografi

Perbandingan suksinat dan laktat meninggi sedangkan asam lemak utama

yang dibentuk adalah asam asetat.

6. Pemeriksaan biakan

Biakan dapat dikerjakan pada media di antaranya: agar Casman, dan Protease

peptone starch agar, dibutuhkan suhu 37oC selama 48-72 jam dengan

ditambah CO2 5%. Koloni sebesar 0,5-2 mm, licin, opak dengan tepi yang

jelas, dan dikelilingi zona hemolitikbeta. Sebagai media transpor dapat

digunakan media transpor Stuart atau Amies.

7. Tes biokimia

Reaksi oksidase, indol, dan urea negatif, menghidrolisis hipurat dan kanji.

Untuk konfirmasi harus disingkirkan infeksi karena T. vaginalis dan C.

albicans.

PENATALAKSANAAN

- Secara topikal penyembuhan hanya bersifat sementara, preparat yang

digunakan antara lain:

1. Krim sulfonamida tripel, penyembuhannya berkisar antara 14-86%.

2. Supositoria vaginalberisi tetrasiklin atau yodium povidon 76%.

3. Buffered acid gel telah dicoba, tetapi hasilnya tidak dipublikasikan.

Page 5: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

4. Krim sulfonamida tripel sebagai acid cream base dengan pH 3,9 dipakai

setiap hari, selam 7 hari.

- Secara sistemik digunakan:

1. Metronidazol, dengan dosis 2x500 mg setiap hari selama 7 hari, atau

tinidazol 2x500 mg setiap hari selama 5 hari.

2. Ampisilin atau amoksisilin, dengan dosis 4x500 mg per oral selam 5 hari.

Kegagalan pada pengobatan dapat diterangkan karena adanya laktamase

beta yang diproduksi oleh spesies-spesies Bacteriodes.

3. Klindamisin 300 mg per oral 2x sehari selama 7 memberi angka

kesembuhan hampir sama dengan metronidazol 500 mg per oral 2 kali

sehari 7 hari.

Mycobacterium leprae

A. DEFINISI

• Infeksi Kronik, progresif

• Inf bakteri Mycobacterium . Leprae

• Menyerang saraf tepi (primer)→kulit, mulut, saluran napas atas,RES,

mata, otot, tulang, testis , kec susunan saraf pusat

B. ETIOLOGI

• Kuman Mycobacterium leprae dg pengecatan Ziehl Nielson bersifat tahan

asam

• Bentuk batang (bacil)

• Soliter maupun berkelompok

• Hidup intraseluler terutama jaringan bersuhu dingin

C. KLASIFIKASI

Menurut Ridley dan Jopling

1. Tipe tuberkuloid (TT)

2. Tipe borderline tuberculoid (BT)

3. Tipe mid borderline (BB)

Page 6: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

4. Tipe borderline lepromatous (BL)

5. Tipe lepromatosa (LL)

Tipe tuberkuloid (TT)

• Lesi kulit bisa satu atau beberapa, dapat berupa makula atau plakat, batas

jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau

central healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi

• Dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan

otot, dan sedikit rasa gatal

Tipe borderline tuberculoid (BT)

• Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT, yakni berupa makula atau plak

• Sering disertai lesi satelit di tepinya Jumlah lesi dapat satu atau beberapa,

tetapi gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama tidak

sejelas tipe tuberkuloid.

• Gangguan saraf tidak seberat tipe tuberkuloid, dan biasanya asimetris.

Tipe mid borderline (BB)

• Merupakan tipe yang paling tidak stabil dari semua tipe dalam spektrum

penyakit kusta. (bentuk dimorfik)

• Lesi dapat berbentuk makula infiltratif. Permukaan lesi dapat berkilap,

batas lesi kurang jelas dengan jumlah lesi yang melebihi tipe BT dan

cenderung sirnetris.

• Lesi sangat bervariasi, baik dalam ukuran, bentuk, ataupun distribusinya.

Bisa didapatkan lesi punched out yang merupakan ciri khas tipe ini.

Tipe borderline lepromatous (BL)

• Lesi dimulai dengan makula, sedikit à cepat menyebar keseluruh badan.

Page 7: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

• Makula lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya. Walaupun masih kecil,

papul dan nodus lebih tegas ,simetris dan beberapa nodus tampaknya

melekuk pada bagian tengah.

• Tanda-tanda kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi, hipopigmentasi,

berkurangnya keringat dan hilangnya rambut lebih cepat muncul

dibandingkan dengan tipe LL.

Tipe lepromatosa (LL)

• Jumlah lesi sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritematosa,

berkilap, berbatas tidak tegas

• Pada stadium lanjut tampak penebalan kulit yang progresif, cuping telinga

menebal, garis muka menjadi kasar dan cekung membentuk fasies leonina

yang dapat disertai madarosis, iritis, dan keratitis.

• Dapat dijumpai pembesaran kelenjar limfe, orkitis yang selanjutnya dapat

menjadi atrofi testis.

• Kerusakan saraf yang luas menyebabkan gejala stocking & glove

anaesthesia.

D. PATOFISIOLOGI

• Kuman masuk melalui sal pernapasan & kulit yg tidak utuh

• Sumber penularan penderita kusta multibasiler yg belum diobati

• Kuman masuk dalam tubuh à menuju tempat predileksi saraf tepi

• 95% populasi kebal alami terhadap M.Leprae

E. EPIDEMIOLOGI

• Dapat menyerang semua umur→25-35 th

• Anak 1,5 x lebih mudah

• Pria = wanita

• Insiden tinggi pd negara berkembang→sosio-ekonomi rendah

• Indonesia no-3 tertinggi→prevalensi 2,9→angka kecacatan 8% per tahun

Page 8: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

• Total penderita 2005 diperkirakan 21.000 kasus

G. GEJALA KLINIS

1. Kelainan syaraf tepi

Sensorik Motorik Autonomik

Hipoastesi

Anaestesi

Kelemahan otot :

ekstremitas atas, bawah,

muka, otot mata

Persyarafan kelenjar

keringat

Lesi tampak kering

Pembesaran syaraf tepi yang dekat dengan permukaan kulit :

n. ulnaris, n auricularis magnus, n. peruneus komunis, n. tibialis posterior &

beberapa syaraf tepi 2. Kelainan Kulit dan organ lain

• Hipopigmentasi /eritematus dengan gangguan estesi yg jelas

• Lanjut :

– Fasies leonina ( gejala infiltrasi yg diffuse dimuka)

– Penebalan cuping telinga

– Madarosis( penipisan alis mata bagian lateral)

– Anestesi simetris pada kedua tangan – kaki (gloves & stocking

anaestesia )

H. PEMERIKSAAN FISIK

1. KULIT:

gangguan sensibilitas : suhu, nyeri, rasa raba pada lesi yg dicurigai

Gangguan Tes

Sensibilitas suhu Tes panas, dingin

Nyeri Jarum pentul

Rasa raba Kapas

Autonom Gunawan test

Guratan tes àpenderita exersise

Page 9: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

àpositif bila tinta masih jelas

PEMERIKSAAN FISIK

2. Syaraf tepi

Nervus Cara Pemeriksaan

N. Auricularis magnus Kepala menoleh kearah yang berlawanan, teraba

syaraf menyilang

muskulus Sternokleidomastoidius bagian 1/3 atas

dan tengah

N. Ulnaris Posisi tangan dalam keadaan pronasi ringan, sendi

siku fleksi, jabat tangan penderita, raba

epikondilus medialis humerus, dibelakang dan atas

pada sulkus ulnaris. Urut kearah proksimal untuk

membedakan dengan tendon

N. Peroneus lateralis Penderita duduk dalam keadaan keadaan lutut

fleksi 90 derajat, raba kapitulum fibulae, kearah

bagian atas dan belakang

Page 10: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

N. Tibialis posterior Raba maleulus medialis kaki, raba bagian

posterior dan urutkan kebawah kearah tumit.

Pemeriksaan harus dibandingkan kiri dan kanan

dalam hal besar, bentuk, seratnya, lunaknya

I. PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGIS

• Pewarnaan Ziel Nielson

• Sediaan dari kedua cuping telinga & lesi yg ada dikulit

• Cara pengambilan sediaan :

– Bagian yg diambil lebih dulu dilakukan tindakan asepsis

– Bagian tersebut dicepit diantara kedua ibu jari tangan sehingga

tampak jaringan kulit menjadi pucat agar kemungkinan perdarahan

sedikit

– Dengan scalpel steril dibuat sayatan ½ cm panjang sampai

mencapai dermis kemudian scalpel diputar 90derajat sambil

mengeruk sisi dan dasar sampai didapat bubur jaringan

– Bahan tersebut dibuat sediaan apus

• Sediaan yg telah dicat dilihat dibawah mikroskop, pembesaran 1000 x

Bentuk kuman yang mungkin ditemukan :

Solid ( utuh) Dinding sel tidak putus

Mengambil zat warna secara merata

Panjang kuman 4-5 kali lebar

Ujung tumpul

Fragmented Pecah-pecah

Granular Seperti titik titik tersusun garis atau berkelompok

Globus Bentuk solid, fragmented, granuler

Clump Granular, berbentuk pulau

Didapatkan BTA Positip dengan pewarnaan Ziel Nielsen

à Berupa gambaran globi

Page 11: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

Indeks bakteri Ukuran semi kauntitatif dengan nilai 1+

samapi 6+

Indeks morfologi Merupakan persentasi bentuk utuh/solid

terhadap seluruh Basil Tahan Asam

J. PEMERIKSAAN SEROLOGIS

LEPROMIN TEST Untuk mengetahui imunitas seluler dan

membantu menentukan tipe kusta

MLPA ( Mycobacterium Lepra Particle

Agglutination )

Untuk mengetahui imunitas humoral

terhadap antigen yg berasal dari M.

leprae

PCR ( Polimerase Chain Reaction) Sangat sensitif

Dapat mendeteksi 1- 10 kuman

Sediaan biasanya diambil dari jaringan

K. PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGI

à Sebagai pemeriksaan penunjang untuk diagnosis & menentukan tipe kusta

DIAGNOSIS

1. Adanya Cardinal sign :

• Kelainan kulit yg hipopigmentasi atau eritematosa dengan anatesi yang

jelas

• Kelainan syaraf tepi berupa penebalan syarf dengan anastesi

• Hapusan kulit positif untuk kuman tahan asam

Diagnosa ditegakkan bila dijumpai satu tanda utama tersebut diatas.

Tanda Kardinal :

Page 12: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

1. Bercak kulit yang mati rasa→makula hipopigmentasi or eritematus→tes

sensibilitas: nyeri, suhu, raba

2. Penebalan saraf tepi→gangguan fs sensoris, motoris, otonom

3. Pemeriksaan Laboratorium→kuman bacil tahan asam→BI dan MI→PB

BTA (-)<2, MB BTA >+2

Dx: 1 tanda kardinal, bila tdk ada→periksa ulang 3-6 bln

Menurut Ridley & Joplin

SIFAT LEPROMATUS BL BB

Bentuk Makula, papula,

infiltrat difus

Makula, plakat,

papul

Plakat, punched-out

Jumlah Tak terhitung,

hampir tidak ada

kulit yang sehat

Sukar dihitung,

masih tampak

kulit sehat

Dapat dihitung, kulit sehat

jelas terlihat

Distribusi simetris Hampir simetris Asimetris

Permukaan Halus berkilat Halus berkilat Agak kasar

Batas Tdk jelas Agak jelas Lebih jelas

Anestesi Tdk ada sampai tdk

jelas

Tdk jelas Lebih jelas

SIFAT BT TT

Bentuk Makula dibatasi

infiltrat, infiltrat

saja

makula saja, macula dibatasi

infiltrat

Jumlah Beberapa atau satu

dengan lesi satelit

Satu atau beberapa

Distribusi Masih asimetris Asimetris

Page 13: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

Permukaan Kering bersisik Kering bersisik

Batas Jelas Jelas

Anestesi Jelas Jelas

KLASIFIKASI WHO

Pembanding Tipe Pausibasiler (PB) Tipe Multibasiler (MB)

Lesi kulit 1-5 lesi

Makula

hipopigmentasi atau

eritema

Distribusi tidak

simetris

Hilangnya sensasi

jelas

Lebih dari 5 lesi

Makula datar, papul

dan nodul

Distribusi simetris

Anestesi tidak jelas

Kerusakan saraf Hanya satu cabang saraf Banyak cabang saraf

MH tipe Multibasiler ( BL)

Regio thorakalis posterior dan Ekstremitas à superior tampak makula

eritematus batas jelas dengan diameter bervariasi 2-5 cm, jumlah > 5, Anestesi

(+).

Untuk Menghindari Kecacatan

Cuci tangan dan kaki setiap sesudah bekerja dengan sedikit sabun

Rendam jari tangan dan kaki sekitar 20 menit dengan air dingin.

Apabila kulit sudah lembut, gosok kaki dengan busa agar kulit kering

terkelupas

Untuk menambah kelembaban dapat diolesi minyak

Page 14: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

Secara teratur periksa kaki, apakah ada luka, kemerahan atau nyeri dan

segera mencari pertolongan medis

Lindungi jari tangan dan kaki misalnya memakai sepatu, hindari

berjalan jauh dan hindari bersentuhan dengan benda-benda tajam.

Usahakan untuk melatih jari-jari tangan selama 10 detik oleh orang

lain atau diri sendiri.

DIAGNOSA BANDING

• Tipe I→tinea versikolor, pitiriasis alba, dermatitis seboroika

• Tipe TT→ tinea korporis, psoriasis, lupus eritematosus diskoid, pitiriasis

rosea

• Tipe BB, BT, BL→ selulitis, erisipelas

• Tipe LL → lupus eritematus sistemik, erupsi obat

Penyulit

1. Sekunder infeksi

2. Reaksi

3. Kecacatan

PENATALAKSANAAN

Waktu terapi Pausibasiler (PB) Multibasiler (MB)

Dewasa Anak Dewasa Anak

Sekali sebulan

(dengan

pengawasan)

Rifampisin

600 mg

Rifampisin

450 mg

Rifampisin 600

mg, Klofazimin

300 mg

Rifampisin 450 mg,

Klofazimin 200 mg

Setiap hari Dapson

100mg

Dapson 50 mgDapson 100 mg,

Klofazimin 50mg

Dapson 50 mg,

Klofazimin 50mg

Jangka

pemberian

6 – 9 bulan 12 – 18 bulan

Page 15: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

Ulkus Molle

Penyakit infeksi genital akut, setempat, auto-inoculable, disebabka haemophilus

ducreyi, dengan gejala klinis khas à ulkus pada tempat masuk, seringkali disertai

supurasi KGB regional.

Etiologi :

H. ducreyi

Merupakan bakteri gram negative

Anaerobic fakultatif

Bentuk batang pendek, ujung bulat, tidak bergerak, tidak membentuk

spora.

Memerlukan hemin untuk pertumbuhannya

Pathogenesis

Trauma/ abrasi à kuman mengeinfeksi à penetrasi pada epidermis à limfa

(limfadenitis) à inflamasi dan supurasi

Gambaran Klinis :

Masa inkubasi 1-5 hari

Awal : makila atau papula à pustule à pecah à ulkus yang khas

Sifat ulkus : multiple, lunak, nyeri tekan, dasarnya kotor, mudah berdarah,

tepi ulkus menggaung, kulit sekitar ulkus berwarna merah.

Pria : di daerah preputium, glans penis, batan penis, frenulum, dan anus.

Wanita : vulva, klitoris, serviks, dan anus.

Pembesaran kelenjar limfe inguinal tidak multiple, terjadi pada 30% kasus

yang disertai radang akut. Kelenjar melunak à pecah à sinus (sangat

nyeri disertai febris).

Page 16: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

Variasi bentuk klinis :

Giant Chancroid : ulkus hanya satu, cepat meluas, bersifat destruktif.

Transient chancroid : ulkus kecil, sembuh sendiri setelah 4-6 hari,

disusul perlunakan kelenjar limfe inguinal 10-20 hari kemudian.

Ulkus mole serpiginosum : terjadi inokulasi dan penyebaran dari lesi

yang konfluen pada preputium, skrotum pada paha. Ulkus bertahan

bertahun-tahun.

Ulkus molle gangrenosum : varian yang disebabkan super infeksi

dengan bakteri fusosprikhetosis, menimbulkan ulkus fagadenik. Dapat

menyebabkan destruksi jaringan yang cepat dan dalam.

Ulkus molle folikularis (folikular cancroid) : pada folikel rambut

terdiri atas ulkus kecil multiple. Dapat terjadi di vulva atau pada

daerah genitalia yang berambut. Lesi sangat superficial.

Ulkus molle popular (ulkus molle elevatum) : papul à berulserasi dan

granulomatosa.

Pemeriksaan :

a. Laboratorium :

Pemeriksaan langsung bahan ulkus à pewarnaan gram.

Positif jika ditemukan kelompok basil yang tersusun seperti

barisan ikan.

Kultur pada media agar Muller Hinton atau media yang

mengandung serum dengan vancomysin. Positif bila kuman

tumbuh dalam waktu 2-4 hari (dapat sampai 7 hari).

Page 17: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

Tes serologi Ito-reenstierna (0,1 ml antigen disuntikkan

intradermal pada kulit lengan bawah). Positif bila setelah

24 jam atau lebih timbul indurasi yang berdiameter 5 mm)

Tes ELISA dengan menggunakan whole lysed H. ducreyi.

Tes lain yang dapat digunakan adalah tes fiksasi

komplemen, presipitin, dan agglutinin.

b. Anamnesa :

Gejala klinik yang khas.

Pemeriksaan langsung bahan ulkus yang diberi pewarnaan

gram.

Penatalkasanaan

Sistemik :

1. Azithromycin 1 gr oral single dose

2. Seftriakson 250 mg dosis tunggal, injeksi IM

3. Siprofloksasin 2x500 mg selama 3 hari

4. Eritromisin 4x 500 ng selama 7 hari

5. Amoksisilin+ asam klavunat 3x125 mg selama 7 hari

6. Sterptomisin 1 gr sehari sekali selama 10 hari

Local :

1. Kompres dengan larutan normal salin 2 kali sehari selama 15 menit

2. Aspirasi abses transkutaneus untuk bubo berukuran > 5 cm dengan

fluktuasi di tengahnya.

PEDIKULOSIS KORPORIS

DEFINISI

Page 18: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

Infeksi kulit yang disebabkan oleh pedikulus corporis.

EPIDEMIOLOGI

Penyakit ini biasanya menyerang orang dewasa terutama pada orang

dengan hygiene yang buruk, misalnya penggembala, disebabkan mereka jarang

mandi atau jarang mengganti dan mencucu pakaian. Maka penyakit ini sering

disebut sebagai penyakit vagabond. Hal ini disebabkan kutu tidak melekat pada

kulit, tetapi pada serat-serat kapas di sela-sela lipatan pakaian dan hanya transien

ke kulit untuk menghisap darah. Penyebaran penyakit ini bersifat kosmopolit,

lebih sering di daerah yang beriklim dingin karena orang memakai baju yang tebal

dan jarang dicuci.

CARA PENULARAN

1. Melalui pakaian

2. Pada orang yang dadanya berambut terminal kutu ini dapat melekat

pada rambut tersebut dan dapat ditularkan melalui kontak langsung.

PATOGENESIS

Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan

rasa gatal. Rasa gatal ini disebabkan oleh pengaruh liur dan ekskreta dari kutu

pada waktu menghisap darah

GEJALA KLINIS

Umumnya hanya ditemukan bekas bekas garukan pada badan, karena gatal

baru berkurang dengan garukan yang lebih intensif. Kadang-kadang timbul

infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

PEMBANTU DIAGNOSIS

Menemukan kutu dan telur pada serat kapas pakaian.

DIAGNOSIS BANDING

Neuritic excoriation

Page 19: Vaginosis Bakterialis, Lepra, Pedikulosis, Ulkus Molle

PENGOBATAN

Pengobatannya ialah dengan krim gameksan 1% yang dioleskan

tipis di seluruh tubuh dan didiamkan 24 jam. Setelah itu penderita

disuruh mandi. Obat lain adalah emulsi benzyl benzoate 25% dan

bubuk malathion 2%. Pakaian agar direbus dan disetrika, maksudnya

untuk membunuh telur dan kutu. Jika terdapat infeksi sekunder diobati

dengan antibiotic secara sistemik dan topical