of 41/41
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pada dasarnya, segera setelah melahirkan, secara naluri setiap ibu mampu menjalankan tugas untuk menyusui bayinya. Namun, untuk mempraktekkan bagaimana menyusui yang baik dan benar, setiap ibu perlu mempelajarinya. Bukan saja ibu-ibu yang baru pertama kali hamil dan melahirkan, tetapi juga ibu- ibu yang baru melahirkan anak yang kedua dan seterusnya. Mengapa ? Karena setiap bayi lahir merupakan individu tersendiri, yang mempunyai variasi dan spesifikasi sendiri. Dengan demikian ibu perlu belajar berinteraksi dengan bayi yang baru lahir ini, agar dapat berhasil dalam menyusui. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi sejak dini dan dukungan serta bimbingan yang optimal dari keluarga, lingkungan dan tenaga kesehatan yang merawat ibu selama hamil, bersalin dan masa nifas. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas tentang perkembangan kehamilan (trim, ester ketiga) munculah beberapa permasalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu: 1. Apakah yang manajemen laktasi ? 2. Bagaimanakah tahap proses manajemen laktasi ? 1

tugas Maternitas

  • View
    247

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Maternitas

Text of tugas Maternitas

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Pada dasarnya, segera setelah melahirkan, secara naluri setiap ibu mampu menjalankan tugas untuk menyusui bayinya. Namun, untuk mempraktekkan bagaimana menyusui yang baik dan benar, setiap ibu perlu mempelajarinya. Bukan saja ibu-ibu yang baru pertama kali hamil dan melahirkan, tetapi juga ibu-ibu yang baru melahirkan anak yang kedua dan seterusnya. Mengapa ? Karena setiap bayi lahir merupakan individu tersendiri, yang mempunyai variasi dan spesifikasi sendiri. Dengan demikian ibu perlu belajar berinteraksi dengan bayi yang baru lahir ini, agar dapat berhasil dalam menyusui. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi sejak dini dan dukungan serta bimbingan yang optimal dari keluarga, lingkungan dan tenaga kesehatan yang merawat ibu selama hamil, bersalin dan masa nifas.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas tentang perkembangan kehamilan (trim, ester ketiga) munculah beberapa permasalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:1. Apakah yang manajemen laktasi ?2. Bagaimanakah tahap proses manajemen laktasi ?

3. Apa sajakah masalah-masalah dalam laktasi?

1.3. TUJUAN1.3.1.Tujuan Umum

Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa dan masyarakat umum agar dapat memahami dan mengerti tentang pentingan ASI bagi bayi dalam manajemen laktasi.1.3.2.Tujuan Khusus

a. Agar mahasiswa dapat mengerti lebih jauh lagi tentang manajemen laktasib. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengetahui penatalaksanaan manajemen laktasi dengan benar.1.4. MANFAAT1.4.1. Bagi instansi

Instansi pendidikan dapat menjadikan sebagai masukan/bahan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan untuk pengabdian kepada masyarakat. 1.4.2. Bagi penulis

Agar penulis dapat mengetahui lebih jau lagi perkembagan pada kehamilan dan dapat mengambil manfaat yang terkandung dalam makalah ini.

BAB II

PEMBAHASAN2.1. Anatomi Payudara

Payudara (mammae, susu) adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit, di atas otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu untuk nutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu :1. Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar.2. Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah.3. Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.

1.1.1. Korpus Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah.

Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus. Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara.ASI dsalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).1.1.2. Areola Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.

1.1.3. PapillaBentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/ datar, panjang dan terbenam (inverted).

2.2. Pengertian Laktasi

Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi mengisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia. (Direktorat Gizi Masyarakat, 2005)Proses laktasi tidak terlepas dari pengaruh hormonal, adapun hormon-hormon yang berperan adalah :1. Progesteron, berfungsi mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Tingkat progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran.2. Estrogen, berfungsi menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui. Sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis hormon estrogen, karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI.3. Follicle stimulating hormone (FSH)4. Luteinizing hormone (LH)5. Prolaktin, berperan dalam membesarnya alveoil dalam kehamilan.6. Oksitosin, berfungsi mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Selain itu, pasca melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down/ milk ejection reflex.7. Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan areola sebelum melahirkan.Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun, ASI bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation).

2.3. TAHAP PROSES MANAJEMEN LAKTASI

Manajemen laktasi adalah tata laksana yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya. (Direktorat Gizi Masyarakat, 2005)Agar laktasi berjalan baik, diperlukan manajemen yang baik dalam laktasi, meliputi perawatan payudara, pratektek menyusui yang benar, serta dikenalinya masalah dalam laktasi dan penatalaksanaannya.1.1.4. Perawatan Payudara

Demi keberhasilan menyusui, payudara memerlukan perawatan sejak dini secara teratur. Perawatan selama kehamilan bertujuan agar selama masa menyusui kelak produksi ASI cukup, tidak terjadi kelainan pada payudara dan agar bentuk payudara tetap baik setelah menyusui. Sejak kehamilan 6-8 minggu terjadi perubahan pada payudara berupa pembesaran payudara, terasa lebih padat, kencang, sakit dan tampak jelas gambaran pembuluh darah dipermukaan kulit yang bertambah serta melebar. Kelenjar Montgomery daerah aerola tampak lebih nyata dan menonjol.Perawatan payudara yang diperlukan :

1. Mengganti pakaian dalam (BH / bra) nya dengan ukuran yang lebih sesuai atau lebih besar, dan dapat menopang perkembangan payudaranya. Biasanya diperlukan BH ukuran 2 nomor lebih besar dari ukuran yang biasa dipakai.2. Latihan gerakan otot badan yang berfungsi menopang payudara untuk menunjang produkis ASI dan mempertahankan bentuk payudara setelah selesai masa laktasi.

Bentuk latihan : duduk sila dilantai. Tangan kanan memegang bagian lengan bawah kiri sejajar pundak. Tekan pegangan tangan kuat-kuat kearah siku sehingga terasa adanya tarikan pada otot dasar payudara.

3. Menjaga hygiene/kebersihan sehari-hari, termasuk payudara, khususnya daerah puting dan aerola.4. Setiap mandi, puting susu dan aerola tidak disabuni untuk menghindari keadaan kering dan kaku akibat hilangnya pelumas yang dihasilkan kelenjar Montgomery.

5. Lakukan persiapan puting susu agar lentur, kuat, dan tidak ada sumbatan sejak usia kehamilan 7 bulan, setiap hari sebanyak 2 kali.

Cara melakukan : kompres masing-masing puting susu selama 2-3 menit dengan kapas dibasahi minyak. Tarik dan putar puting kearah luar 20 kali, kearah dalam 20 kali untuk masing-masing puting. Pijat daerah aerola untuk membuka saluran susu. Bila keluar cairan, oleskan ke puting dan sekitarnya. Bersihkan payudara dengan handuk lembut.

6. Mengoreksi puting susu yang datar/terbenam agar menyembul keluar dengan bantuan pompa putting (nipple puller) pada minggu terakhir kehamilan sehingga siap untuk disusukan kepada bayi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ibu hamil sehat dan mampu menyusui :

1. Nutrisi / gizi ibu hamil

Berdasarkan angka kecukupan gizi, kebutuhan tambahan kalori wanita hamil kurang lebih 285 kkal per hari. Penambahan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan wanita yang tidak hamil / menyusui, yaitu wanita dengan aktifitas ringan 1900 kkal / hari, kerja sedang 2100 kkal / hari, dan kerja berat 2400 kkal / hari. Adapun kecukupan yang seimbang kira-kira 40 kkal / kgBB, dengan komposisi protein 20 -25%, lemak 10-25% dan karbohidrat 50-60%. Jumlah cairan yang perlu diminum oleh wanita hamil tidak banyak berbeda dari wanita tidak hhamil, sekitar 2 liter per hari.2. Istirahat

Wanita hamil sebaiknya tidur minimal 8 jam sehari. Kegiatan dan gerakannya sehari-hari harus memperhatikan perubahan fisik dan mental yang terjadi pada dirinya. Di antara waktu kegiatannya tersebut diperlukan waktu untuk istirahat (santai) guna melemaskan otot-otot. Bagi wanita yang bekerja, hendaknya dapat diatur agar cuti hamil dan bersalinnya diambil sebanyak mungkin setelah ia bersalin sehingga ia dapat menyusui bayinya selama mungkin sebelum bekerja.3. Tidak merokok, minum alkohol, kopi, soda

Termasuk menjauhi asap rokok dari orang lain. Minuman kopi dan minuman soda dapat mengurangi kemampuan usus untuk menyerap kalsium dan zat besi.4. Pemakaian obat-obatanPemakaian obat-obatan selama hamil hanya atas petunjuk bidan atau dokter, terutama menjelang persalinan perlu diperhatikan, agar tidak berpengaruh terhadap laktasi.

5. Memperhatikan dan memeriksakan diri bila ada keluhan pada daerah gigi dan mulut karena dapat menjalar ke organ tubuh lain dan mengganggu kehamilan6. Memperhatikan kebersihan diri dan menggunakan pakaian nyaman, yaitu yang longgar, ringan, mudah dipakai, dan menyerap keringat.1.1.5. Cara penyimpanan ASIMenurut dr Suririnah, cara penyimpanan ASI dan batas waktu penyimpanan yang baik adalah sebagai berikut:1. Bila akan diberikan dalam waktu 6 jam setelah pengambilan dapat disimpan dalam suhu ruangan, tak perlu disimpan di lemari pendingin. 2. Disimpan dalam termos yang diberi es batu bisa bertahan hingga 24 jam. 3. Bila akan diberikan dalam waktu 72 jam, ASI disimpan di dalam lemari pendingin (di bawah 5 derajat Celsius, bukan dibuat dalam keadaan beku). 4. Bila akan diberikan dalam waktu 3 bulan, ASI disimpan di bagian atas lemari pendingin (freezer), dibekukan pada suhu di bawah -18 derajat Celsius. Dengan penyimpanan khusus ini dapat dibekukan untuk 6 bulan. Ini biasanya dilakukan pada kasus ketika ibu akan pergi dalam jangka waktu tertentu, sehingga perlu mengumpulkan sejumlah ASI sebelumnya. Membekukan ASI akan merusak beberapa antibodi dalam susu, dan sebaiknya sedapat mungkin menggunakan ASI segar. Setelah disimpan, saat akan diberikan kepada anak pun perlu penanganan khusus, yakni:1. Ambil ASI yang disimpan berdasarkan waktu pemerahan ASI (yang pertama diperah harus diberikan lebih dulu). Catatlah waktu dan tanggal pemerahan di wadah penyimpanan ASI tersebut. 2. Untuk ASI yang disimpan di lemari pendingin cukup dihangatkan dengan cara meletakkan botol di wadah berisi air hangat selama 15 menit, sambil dikocok secara perlahan. 3. Untuk ASI beku, keluarkan botol susu yang berisi ASI beku. Setengah jam sebelum waktu menyusui, rendamlah di dalam wadah berisi air hangat. Atau pindahkan ASI beku ke lemari pendingin bagian bawah semalam sebelumnya. Saat akan digunakan esok hari, susu akan mencair, kemudian hangatkan. ASI beku yang dicairkan dapat tahan 24 jam dalam lemari pendingin. Ingat, jangan membekukan kembali ASI yang sudah dipindah ke lemari pendingin tersebut. 4. Jangan memanaskan di atas kompor dan microwave karena akan merusak kandungan vitamin dalam ASI. 5. Buanglah ASI yang tersisa setelah diberikan pada bayi, jangan menyimpan kembali ke lemari pendingin atau dipanaskan. 6. Berikan ASI dengan menggunakan sendok kecil sesuap demi sesuap.

media yang terbaik untuk menyimpan ASI adalah botol dari stainless steel (baja antikarat), namun ini tidak banyak dijual. Pilihan terbaik kedua adalah botol yang terbuat dari gelas (kaca), dan terbaik ketiga botol plastik. Pilihan terakhir adalah menyimpan ASI perah di dalam plastik yang lembek, sebab akan banyak zat-zat di dalam ASI yang akan tertinggal (menempel) pada dinding plastik, sehingga bayi akan kekurangan zat-zat tersebut. Jadi.. media penyimpan ASI bisa diperingkatkan sebagai berikut:1. Botol Stainless Steel (tahan karat)2. Botol Kaca dengan tutup tahan karat dan tertutup rapat3. Botol Plastik BPA free4. Botol susu yang belum BPA free tapi lulus BP POM5. Kantong ASI6. Kantong plastic food grade untuk menyimpan makanan

1.1.6. Reflek-reflek Penting dalam Laktasi

1. Pada Ibu

1) Refleks prolaktin

Sewaktu bayi menyusu, ujung saraf sensoris yang terdapat pada putting susu terangsang. Rangsangan ini akan dikirim ke otak (hipotalamus) yang akan memacu keluarnya hormon prolaktin yang kemudian akan merangsang sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI. Jadi makin sering bayi mengisap, makin banyak prolaktin yang dilepas dan makin banyak ASI yang diproduksi. Oleh karena itu, menyusukan dengan sering adalah cara terbaik untuk mendapatkan ASI dalam jumlah banyak.2) Let down reflex

Keluarnya air susu karena kontraksi otot tersebut disebut "let down reflex". Melalui refleks inilah terjadi pula kontraksi rahim yang membantu lepasnya plasenta (ari-ari) dan mengurangi perdarahan. Oleh karena itu setelah bayi dilahirkan, kalau keadaan memungkinkan sebaiknya bayi segera disusukan ibunya (kontak dini). Terjadinya refleks aliran dipengaruhi oleh jiwa ibu. Rasa kuatir atau kesusahan akan menghambat refleks tersebut. Sebaliknya, tidak jarang, refleks ini terjadi pula bila sang ibu mendengar bayinya menangis, melihat foto bayinya atau sedang teringat pada bayinya saat berada jauh dari bayinya itu. 2. Pada Bayi

1) Rooting reflex

Bila bayi baru lahir disentuh pipinya, dia akan menoleh ke arah sentuhan. Bila bibirnya dirangsang atau disentuh, dia akan membuka mulut dan berusaha mencari putting untuk menyusu. Keadaan ini dikenal dengan sebutan "rooting reflex".2) Refleks mengisap

Refleks ini terjadi bila ada sesuatu yang merangsang langit- langit dalam mulut bayi. Jika putting susu ibu menyentuh langit- langit belakang mulut bayi, terjadi refleks menghisap dan terjadi tekanan terhadap daerah areola oleh gusi, lidah bayi serta langit-langit, sehingga isi sinus laktiferus diperas keluar ke dalam rongga mulut bayi. 3) Refleks menelan

Bila ada cairan di dalam rongga mulut, terjadi refleks menelan.1.1.7. Langkah Menyusui yang Baik dan Benar1. Persiapan mental dan fisik ibu setiap akan menyusui. Ibu harus dalam keadaan tenang. Bila perlu minum segelas air sebelum menyusui. Hindari menyusui pada keadaan lapar dan haus.

2. Sediakan tempat dengan peralatan yang diperlukan, seperti kursi dengan sandaran punggung dan sandaran tangan, bantal untuk menopang tangan yang menggendong bayi. 3. Sebelum menggendong bayi untuk menyusui, tangan harus dicuci bersih. Sebelum menyusui, tekan daerah areola di antara telunjuk dan ibu jari sehingga keluar 2-3 tetes ASI, kemudian oleskan ke seluruh putting dan areola. Cara menyusui yang terbaik adalah bila ibu melepaskan BH dari kedua payudaranya. 4. Susukan bayi sesuai dengan kebutuhannya ("on demand"), jangan dijadwalkan. Biasanya kebutuhan terpenuhi dengan menyusui tiap 2-3 jam sekali. Setiap kali menyusui, lakukanlah pada kedua payudara kiri dan kanan secara bergantian, masing- masing sekitar 10 menit. Mulailah selalu dengan payudara sisi terakhir yang disusui sebelumnya. Periksa ASI sampai payudara terasa kosong. 5. Setelah selesai menyusui, oleskan ASI lagi seperti awal menyusui tadi. Biarkan kering oleh udara sebelum kembali memakai BH. Langkah ini berguna untuk mencegah lecet. 6. Membuat bayi bersendawa setelah menyusui harus selalu dilakukan, untuk mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak kembung dan muntah.

1.1.8. Posisi Menyusui yang Benar

Posisi menyusui sangat menentukan bagi kenyamanan bayi dan ibu sendiri. Baik kita tidur di rumah, berdiri, duduk, atau bahkan saat kita sedang berada di atas kendaraan. 1. The cradle. Posisi ini sangat baik untuk bayi yang baru lahir. Bagaimana caranya? Pastikan punggung Anda benar-benar mendukung untuk posisi ini. Jaga bayi di perut Anda, sampai kulitnya dan kulit Anda saling bersentuhan. Biarkan tubuhnya menghadap ke arah Anda, dan letakkan kepalanya pada siku Anda.

2. The cross cradle hold. Satu lengan mendukung tubuh bayi dan yang lain mendukung kepala, mirip dengan posisi dudukan tetapi Anda akan memiliki kontrol lebih besar atas kepala bayi. Posisi menyusui ini bagus untuk bayi prematur atau ibu dengan puting payudara kecil.

3. The football hold. Caranya, pegang bayi di samping Anda dengan kaki di belakang Anda dan bayi terselip di bawah lengan Anda, seolah-olah Anda sedang memegang bola kaki. Ini adalah posisi terbaik untuk ibu yang melahirkan dengan operasi caesar atau untuk ibu-ibu dengan payudara besar. Tapi, Anda butuh bantal untuk menopang bayi.

4. Saddle hold. Ini merupakan cara yang menyenangkan untuk menyusui dalam posisi duduk. Ini juga bekerja dengan baik jika bayi Anda memiliki pilek atau sakit telinga. Caranya, bayi Anda duduk tegak dengan kaki mengangkangi Anda sendiri.

5. The lying position. Menyusui dengan berbaring akan memberi Anda lebih banyak kesempatan untuk bersantai dan juga untuk tidur lebih banyak pada malam hari. Anda bisa tidur saat bayi menyusu. Dukung punggung dan kepala bayi dengan bantal. Pastikan bahwa perut bayi menyentuh Anda.

1.1.9. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama masa menyusui

1. Nutrisi ibu menyusui

Meskipun umumnya keadaan gizi pada ibu hanya akan mempengaruhi kuantitas dan bukan kualitas asinya, ibu menyusui sebaiknya tidak membatasi konsumsi makananya. Penurunan berat badan sesudah melahirkan sebaiknya tidak melebihi 0,5 kg/minggu.Pada bulan pertama menyusui, yaitu saat bayi hanya mendapatkan ASI saja (exlusive breastfeeding period), ibu membutuhkan tambahan kalori sebanyak 700 kkl/hari, pada 6 bulan berikutnya 500 kkal/hari dan pada tahun kedua 400 kkal/hari. Jumlah cairan yang dibutuhkan ibu menyusui dianjurkan minum 8 12 gelas perhari.2. Istirahat

Bila laktasi tidak berlangsung baik biasanya penyabab utamanya adalah kelelahan pada ibu.Oleh karena itu, istirahat dan tidur yang cukup merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi.3. Obat obatan

Pemakaian obat obatan dalam masa menyusui perlu mendapat perhatian, apakah mempunyai efek samping yang positif atau negatif terhadap laktasi. Contoh obat yang dapat mengurangi produksi ASI yaitu pil KB yang mengandung hormon estrogen.4. Posisi ibu-bayi yang benar saat menyusui

Dapat dicapai bila bayi tampak menyusui dengan benar, bayi menempel betul pada ibu mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara, mulut bati membuka lebar, sebagian besar areola tertutup mulut bayi, bayi menghisap ASI pelan-pelan dengan kuat, puting susu ibu tidak terasa sakit dan puting terhadap lengan bayi berada pada satu garis lurus.5. Penilaian kecukupan ASI pada bayi

Bayi usia 0 4 bulan atau 6 bulan dapt dinilai cukup pemberian ASInya bila tercapai keadaan sebagai berikut:1) Berat badan lahir telah pulih kembali setelah bayi berusia 2 minggu2) Kenaikan berat badan dan tinggi badan sesuai dengan kurve pertumbuhan normal3) Bayi banyak ngompol sampai 6 kali atau lebih dalam sehari4) Tiap menyusui, bayi menyusu kuat (rakus).5) Payudara ibu terasa lunak setelah disusukan dibanding sebelumnya6. Diluar waktu menyusui

Jangan membiasakan bayi menggunakan dot atau kempeng. Berikan ASI dengan sendok bila ibu tidak dapat menyusui bayinya.7. Ibu bekerja

Selama cuti hendaknya ibu menyusui bayinya terus. Jangan juga membiasakan bayi menyusu dengan botol bila masa cuti telah habis dan ibu harus bekerja kembali.8. Pemberian makanan pendamping ASI

Makanan pendamping ASI hendaknya diberikan mulai usia bayi 4 6 bulan. BIla ibu bekerja sebaiknya makanan pendamping ASI diberikan pada jam kerja, sehingga ASI tetap diberikan setelah ibu berada di rumah.9. Penyapihan

Menghentikan pemberian ASI harus dilakukan secara bertahap dengan jalan meningkatkan frekuensi pemberian makanan anak dan menurunkan frekuensi pemberian ASI secara bertahap dalam kurun waktu 2 3 bulan.10. Klinik laktasi

Pusat pelayanan kesehatan ibu dan anak harus memiliki pelayanan yang dapat meyakinkan setiap ibu dalam masa menyusui bahwa ia selalu dapat berkonsultasi untuk setiap masalah laktasi yang dialaminy. Untuk itu perlu diadakan klinik laktasi atau tenaga terlatih untuk membantunya pada sarana pelayanan kesehatan yang terdekat.11. Kelompok pendukung ASI

Perlu dibina adanya kelompok pendukung ASI DI lingkungan masyarakat, yang dapat merupakan sarana untuk mendukung ibu-ibu di lingkungan tersebut agar berhasil menyusui bayinya, dibantu oleh tenaga kesehatan yang ada di lingkungan tersebut. Melalui kelompok ini, ibu-ibu menyusui dapat mengadakan diskusi dan mendapat bantuan bila mengalami masalah dalam menyusui bayinya.2.4. MASALAH DALAM LAKTASI2.4.1. Payudara Bengkak (Engorgement)

Payudara terasa lebih penuh/tegang dan nyeri sekitar hari ketiga atau keempat sesudah melahirkan akibat stasis di vena dan pembuluh limfe, tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi. Sering terjadi pada payudara yang elastisitasnya kurang. Bila tidak dikeluarkan, ASI menumpuk dalam payudara sehingga areola menjadi lebih menonjol, putting lebih datar dan sukar diisap bayi. Kulit payudara Nampak lebih merah mengkilat, ibu demam, dan payudara terasa nyeri sekali. Untuk pencegahan, susukan bayi segera setelah lahir bila memungkinkan tanpa dijadwal(on demand). Keluarkan ASI dengan tanpa/pompa bila produksi melebihi kebutuhan bayi. Lakukan perawatan payudara pasca persalinan secara teratur. Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih lembek sehingga putting lebih mudah ditangkap/diisap bayi. Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin.2.4.2. Kelainan Putting Susu1. Putting susu datar. Bila areola dijepit antara jari telunjuk dan ibu jari dibelakang putting susu, putting normal akan menonjol ke luar. Bila tidak, berate putting datar. Saat laktasi putting menjadi lebih tegang/ menonjol karena rangsang bayi menyebabkan otot polos putting berkontraksi. Namun, putting masih sulit ditangkap/diisap olehmulut bayi.2. Putting susus terpendam dan putting susu tertarik ke dalam. Dapat terjadi pada tumor dan penyempitan saluran air susu. Kelainan ini seharusnya diketahui sejak hamil/sebelumnya sehingga dapat diperbaiki dengan gerakan menurut Hoffman, yaitu dengan meletakkan kedua jari telunjuk/ibu jari di areola mammae kemudian diurut (massae) ke arah berlawanan. Perawatan payudara pranatal dilakukan secara teratur. Bila tidak dapat dikoreksi, ASI dikeluarkan dengan manual/pompa, kemudian diberikan dengan sendok/gelas/pipet.3. Puting Susu Nyeri (Sore Nipple) dan Lecet (Cracked Nipple)Penyebabnya adalah:1. Putting tidak masuk ke mulut bayi sampai areola.

2. Iritasi akibat membersihkan putting dengan sabun, lotion, krim, dll.

3. Bayi dengan tali lidah (frenulum linguae) pendek sehingga sulit mengisap sampai areola, hanya sampai putting.

4. Menghentikan menyusu (mengisap) kutrang hati-hati.Dapat sembuh bila teknik menyusui benar, yaitu bibir bayi menutup areola sehingga tidak Nampak dari luar, putting diatas lidah bayi, dan areola diantara gusi atas dan bawah.Sebagai penatalaksanaan, jangan membersihkan puting susu dengan sabun, alkohol, lotion, krim, dan obat-obat iritan lainnya. Setelah selesai menyusu, melepaskan isapan bayi dengan menekan dagu bayi atau pijithidungnya atau masukkan jari kelingking ibu yang bersih kemulut bayi. Tetap menyusui bayi mulai dri putting yang tidak sakit. Hindari tekanan local pada putting dengan cara mengubah-ubah posisi menyusui.untuk putting yang sakit, kurangi frekuensi dan lama menyusui. Sebelum diisap, putting yang lecet diolesi es untuk mengurangi rasa sakit. Untuk menghindari payudara bengkak, ASI dikeluarkan dengan manual kemudian diberikan dengan sendok,gelas, atau pipet.

Bila dengan tindakan tersebut putting tetap nyeri, cari sebab lain, misalnya moniliasis. Putting susu lecet akan memudahkan infeksi payudara (mastitis).2.4.3. Saluran Air Susu Tersumbat (Obstructive Duct)

Terjadi sumbatan pada satu/lebih saluran air susu yang dapat disebabkan tekanan jari waktu menyusui, pemakaian BH terlalu ketat, maupun komplikasi payudara bengkak yang berlanjut sehingga ASI dalam saluran air susu tidak segera dikeluarkan dan menjadi sumbatan. Hal ini diatasi dengan perawatan payudara pasca persalinan secara teratur dan gunakan BH yang menopang payudara, bukan menekan. Keluarkan ASI dengan manual/pompa setiap selesai menyusui bila payudara terasa penuh. Berikan kompres hangat pada payudara sebelum menyusui untuk mempermudah bayi mengisap putting susu. Berikan kompres dingin sesudah menyusui untuk mengurangi rasa sakit/bengkak.2.4.4. Radang Payudara (Mastitis)

Timbul reaksi sistemik seperti demam, terjadi 1-3 minggu setelah melahirkan sebagai komplikasi sumbatan saluran air susu. Biasanya diawali dengan putting susu lecet/luka. Gejala yang bisa diamati: kulit lebih merah, payudara lebih keras serta nyeri dan bebenjol-benjol.2.4.5. Abses Payudara

Terjadi sebagai komplikasi mastitis akibat meluasnya peradangan. Sakit ibu tampak lebih parah, payudara lebih merah mengkilat, benjolan tidak sekeras mastitis, tetapi lebih penuh/bengkak berisi cairan.2.4.6. Air Susu Ibu Kurang

Menilai kecukupan ASI bukan dari seringnya bayi menangis,ingin selalu menyusu pada ibunya, atau payudara yang tersa kosong/lembek meski produksi ASI cukup lancar. Melainkan dari kenaikan berat badan bayi.2.4.7. Bayi Bingung Putting

Terjadi karena bayi diberi susu formula dalam botol bergantian dengan menyusu pada ibu. Mekanisme menyusu dan minum dari botol sangat berlainan. Bayi yang minum susu botol tidak terlalu berusaha keras karena susu dapat terus keluar tanpa diisap. Oleh sebab itu, bayi yang terbiasa minum susu botol sulit/enggan menyusu dari ibunya. Tanda bingung putting adalah bayi menghisap putting seperti menghisap dot, terputus-putus/sebentar-sebentar. Bayi dapat pula menolak menyusu ibu.

Untuk mencegah bayi bingung putting, usahakan bayi hanya menyusu ibu dengan cara menyusui yang benar, lebih sering dan lama serta tak terjadwal ( on demand ). Ibu perlu lebih sabar dan telaten waktu menyusui serta melakukan perawatan payudara pasca kelahiran secara sistematis dan teratur. 2.4.8. Bayi enggan menyusuiPenyebab bayi enggan menyusui :1. Hidung tertup lender/ingus karena pilek sehingga sulit menghisap/bernafas

2. Bayi dengan sariawan/moniliasis, nyeri untuk menghisap

3. Terlambat dimulaianya menyusu waktu di rumah sakit karena tidak dirawat gabung

4. Ditinggalkan lama karena ibu sakit atau bekerja

5. Bayi binggung putting karena disamping menyusui diberi minuman dalam botol

6. Bayi dengan prelacteal feeding atau mendapat makanan tambahan terlalu dini

7. Teknik menyusui yang salah

8. ASI kurang lancar atau terlalu deras

9. Bayi dengan frenulum linguae (tali lidah) pendek.

Penanggulangan kasus ini adalah dengan mengajarkan ibu cara yang baik untuk membersihkan lubang hidung bayi. Berikan pengobatan bila mulut bayi sariawan/moniliasis. Selain itu, berikan lebih banyak kesempatan pada ibu untuk merawat bayinya sendiri agar lebih mengenal sifat/cirinya.2.4.9. Bayi sering mengangis

Menangis merupakan cara bayi berkomunikasi sehingga bila seorang bayi menanggis, pasti ada sebabnya dan perlu ditolong. Penyebab mungkin sekali adalah lapar, kesepian, bosan, popok basah/kotor atau sakit. 80% dari penyebab tersebut dapat ditanggulangi dengan menyusukan bayi dan teknik menyusu yang benar. 2.4.10. Bayi berat lahir rendah (BBLR)

BBLR adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 grm tanpa memperhatikan umur kehamilan. Pada BBLR sering ditemui refleks mengisap/menelan lemah, bahkan kadang-kadang tidak ada, bayi cepat lelah, saat menyusui sering tersedak atau malas mengisap dll.

Penanggulangannya adalah dengan memberikan dukungan agar ibu mau dan mampu menyusui bayinya. Usahakan agar waktu menyusui singkat (2-3 menit), tetapi sering (tiap 1-2 jam) dan bayi selalu dalam keadaan hangat.2.4.11. Bayi sumbing

Susukan bayi dengan sumbing palatum mole dalam posisi bayi tegak/berdiri agar ASI tidak masuk kedalam hidung. Bila sumbing pada bibir atas, bayi disusui sambail ibu menutup sumbing dengan jari agar pengisapan sempurna. Bayi dengan sumbing palatum durum dan bibir sulit menghisap putting susu dengan sempurna. ASI dapat dikeluarkan dengan manual/ pompa kemudian diberikan dengan sendok/pipet atau botol.

2.4.12. Laktasi pada ibu bekerja

Yang perlu diperhatikan adalah perlunya menjelaskan keuntungan pemberian ASI sebanyak-banyaknya bagi bayi. Nasihati ibu agar selama masu cuti, bayi memperoleh ASI sebanyak mungkin.2.5. Menejement Laktasi Untuk Ibu Bekerja

Bekerja bukanlah halangan untuk memberikan ASI eksklusif. Dengan kesungguhan, ketekunan dan komitmen penuh, kita bisa sukses menyusui 6 bulan tanpa SUFOR bahkan 2 tahun tanpa SUFOR. Hal-hal yang harus dilakukan :1. Perahlah ASI sebanyak si kecil minum ASI selama kita tinggal kerja. Sebutlah kita berangkat dari rumah pk. 07.30 dan kembali pk.19.30 atau 12 jam diluar. Si kecil biasanya minum ASI setiap 2-3 jam sehingga jika ditinggal 12 jam dia minum susu sekitar 5 kali.. Jadi perahlah ASI 5 kali sehari. Perahan pertama yaitu dinihari seperti yang telah dilakukan sejak si kecil berusia 1 bulan. Kedua pk. 09.00, ketiga pk. 12.00, ketiga pk. 15.00 dan keempat pk. 17.30. 2. Tetaplah memerah ASI minimal sekali sehari di hari libur dan menyusui langsung selama kita bersama si kecil. Janganlah memberikan ASIP ketika kita bersama si kecil.2.5.1. Cara Memompa Asi Dengan Breast Pump 1. Persiapan1) Cucilah tangan dengan sabun dan peralatan memompa (breast pump) dengan sabun khusus cuci peralatan makan bayi atau sabun cuci piring food grade. Sterilkan peralatan pompa dengan air minum yang mendidih, atau jika tidak ada air mendidih, gunakan air dispenser yang panas.2) Siapkan air minum hangat untuk diminum saat memompa3) Bawalah foto atau handphone yang berisi foto atau video si kecil.4) Gunakan tempat yang nyaman, bersih dan tertutup untuk memompa. Misalnya pompalah ASI di kamar ketika kita di rumah, ruang laktasi atau toilet yang bersih ketika di kantor atau di luar rumah.5) Buatlah dirimu santai, tenang dan nyaman, misalnya dengan mendengarkan music atau bersenandung, melakukan gerakan relaksasi bisa membuat kita lebih santai2. Proses memompa1) Rakit breast pump sesuai dengan petunjuk pemakaian. Beda breast pump beda pula cara merakitnya.2) Buka bra lalu bersihkan puting dengan air minum dan keluarkan sedikit ASI lalu oleskan di daerah aerola sebagai desinfektan. 3) Kompres payudara dengan air hangat agar pembuluh darah kedaerah payudara melebar sehingga darah yang mengalir ke payudara lebih banyak, karena bahan baku ASI adalah darah.4) Pasang corong tepat di payudara kita, cari posisi yang tepat dan nyaman, lalu mulailah pompa ASI dari payudara kanan dan kiri secara bergantian sampai akhirnya sulit keluar. ASI yang pertama keluar adalah foremilk yang berwarna putih encer. Foremilk ini berguna untuk menghilangkan rasa haus bayi, memiliki kandungan lemak yang rendah dan tinggi protein.5) Jika ASI sudah sulit keluar dan belum ada tanda-tanda muncul LDR (Let Down Reflect alias ASI meluncur sendirinya dengan deras), tutuplah kembali bra, minumlah air hangat kemudian lihat foto/video si kecil dan kilikitik puting dari luar bra lalu tunggu sebentar sampai payudara terasa terisi dan mulailah kembali memompa. Mengelitik putting dari luar bra bertujuan untuk menstimulus agar ASI keluar, teknik yang sama dengan yang dilakukan oleh bayi kita. Coba saja perhatikan cara si kecil menyusu: 1) menyedot payudara dengan cepat dan memainkan puting 2) menunggu beberapa saat 3) menyusu dengan ritme yang lebih teratur.6) LDR dapat muncul beberapa kali, jadi jika saat memancing LDR pertama selesai dilakukan namun kita belum mencapai target atau merasa bisa menghasilkan ASI lebih banyak, lakukan teknik diatas berulang-ulang. Memompa ASI hingga payudara benar-benar kosong biasanya dilakukan dalam 15-45 menit. ASI yang keluar belakangan biasanya lebih pekat, ASI yang demikian dinamakan hindmilk. Hindmilk mengandung lebih banyak lemak. Semakin pekat hindmilk menunjukkan bahwa payudara kita mulai kosong.7) Finishing touch dilakukan dengan memerah ASI dengan tangan untuk memastikan payudara benar-benar sudah kosong. Memompa dengan tangan juga bertujuan untuk memijat payudara. 3. Setelah memompa1) Langsung alokasi ASI ke botol-botol ASIP sesuai dengan porsi minum si kecil. Satu botol untuk sekali minum. Ini untuk memudahkah baby sitter atau keluarga dirumah dalam memberikan ASIP (tinggal mengganti sealing disc dengan dot) serta untuk meminimalkan ASI terbuang. Isilah tiap botol mulai 60-120ml tergantung jumlah ASI yang biasa diminum bayi.2) Langsung cuci kembali peralatan memompa dengan sabun cuci botol food grade dan disimpan di tempat yang tertutup kering dan bersih agar sewaktu-waktu akan digunakan kembali tinggal disterilkan saja.

BAB III

PENUTUP

3.1. KesimpulanLaktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi mengisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia. (Direktorat Gizi Masyarakat, 2005)3.2. SaranBagi keluarga agar memberi motivasi kepada ibu untuk untuk memberikan ASInya kepada bayinya bukan menggantinya dengan susu pabrikBagi petugas kesehatan agar meningkatkan pelayanan dan memberikan pelayanan secara berkesinambungan sehingga diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.DAFTAR PUSTAKABobak,Lowdermik,Jensen.2005.IV. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta.EGC

FK UI.2001.III.Kapita Selekta Kedokteran.Media Aesculapius FK UI.Jakarta

Alfarisi, 2008. Fisiologi Laktasi. Diunduh Ahad, 6 September 2009; pukul 12:00 WIB

http://aku-anak-peternakan.blogspot.com/2008/05/fisiologi-laktasi.htmlJNPK-KR/POGI.2007.Asuhan Persalinan Normal.Jakarta23