of 19 /19
1 FERRY JUNIANSYAH 1102011105 A-6 SKENARIO 1 BLOK RESPI 1. Memahami dan Menjelas kan Anatomi saluran pernafasan 1.1 Makro Berdasarkan anatomi saluran pernafasan terdiri dari 2 bagian : 1.saluran nafas bagian atas (Upper Respiratory Tract) > mulai dari nares hidung sampai cartilage cricoid larynx. 2. saluran nafas bagian bawah (Lower Respiratory Tract) > dari tracea sampai ductus alveolaris / alveoli paru) Skematis Proses Respirasi : Pada waktu inspirasi udara di tarik masuk hidung melalui lubang atau nares anterior (aperture nasalis anterior) -> melalui vestibulum nasi masuk cavum nasi, cavum nasi yang terbagi dua oleh sekat hidung yaitu septum nasi. Udara dari cavum nasi masuk nares posterior = choanae -> nasopharynx -> oropharynx selanjutnya (epiglottis yang berfungsi membuka aditus larungis (pintu larynx) -> udara masuk daerah larynx. Sampai disini termasuk saluran nafas  bagian atas. Selanjutny udara masuk saluran nafas bagian bawah -> mulai trakea -> bronchus primer ->  bronchus sekunder -> bronchioles segmentalis (tersier) -> bronchioles terminalis -> organ

skenario1 Respirasi.docx

Embed Size (px)

Text of skenario1 Respirasi.docx

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    1/19

    1

    FERRY JUNIANSYAH

    1102011105

    A-6 SKENARIO 1

    BLOK RESPI

    1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi saluran pernafasan

    1.1 Makro

    Berdasarkan anatomi saluran pernafasan terdiri dari 2 bagian :

    1.saluran nafas bagian atas (Upper Respiratory Tract) > mulai dari nares hidung sampai

    cartilage cricoid larynx.

    2. saluran nafas bagian bawah (Lower Respiratory Tract) > dari tracea sampai ductus

    alveolaris / alveoli paru)

    Skematis Proses Respirasi :

    Pada waktu inspirasi udara di tarik masuk hidung melalui lubang atau nares anterior (aperture

    nasalis anterior) -> melalui vestibulum nasi masuk cavum nasi, cavum nasi yang terbagi dua

    oleh sekat hidung yaitu septum nasi. Udara dari cavum nasi masuk nares posterior = choanae

    -> nasopharynx -> oropharynx selanjutnya (epiglottis yang berfungsi membuka aditus

    larungis (pintu larynx) -> udara masuk daerah larynx. Sampai disini termasuk saluran nafas

    bagian atas.

    Selanjutny udara masuk saluran nafas bagian bawah -> mulai trakea -> bronchus primer ->bronchus sekunder -> bronchioles segmentalis (tersier) -> bronchioles terminalis -> organ

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    2/19

    2

    paru melalui bronchioles respiratorius -> ductus alveolaris -> alveoli paru -> terjadi diffuse

    pertukaran O2 dan CO2.

    2. Mikro

    1.Epiglottis

    Kerangkaepiglotti terbentuk dari tulang rawan elastin. Kerangka ini dilapisi oleh epitel yang

    berbeda. Permukaan laryngeal, dilapisi epitel bertingkat torak dengan silia dan sel goblet,

    sama seperti epitel saluran pernafasan lainnya. Sedangkan permukaan lingual dilapisi oleh

    epitel rongga mulut. Di bawah epitel terdapat lamina propria yang terisi oleh kelenjar

    campur. Pada daerah epiglottis dapat deralihan kedua jenis epitel ini.

    2.Trachea

    Kerangka trakea terbentuk dari tulang rawan hialin (disebut pars cartilaginea trachea)

    berbentuk cincin seperti C. keduaa ujung tulang rawan tersebut dihubungkan oleh jaringanikat yang disebut pars membranacea trachea. Pada pars membranacea terdapat muscular otot

    polos. Mucosa trachea juga dilapisi oleh epitel beringkat torak dengan silia dan sel goblet.

    Dibagian luar, trachea di bungkus oleh jaringan ikat jarang, yaitu tunuka adventisia.

    2. Memahami dan menjelaskan fisiologi pernafasan

    Proses fisiologi pernapsan yaitu proses O2 dipindahkan dari udara ke jaringan-

    jaringan,dan CO2 dikeluarkan ke udara ekspirasi, dapat dibagai menjadi tiga stadium, yaitu

    ventilasi,transportasi, dan repirasi sel.

    1. Ventilasi

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    3/19

    3

    Merupakan gerak udara masuk paru yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara

    atmosfer dan alveoli akibat gerakan paru dalam rongga dada yang diperkuat oleh otot-otot

    pernapasan. Tekanan intrapleura menjadi lebih negatif selama inspirasi dan kurang negatif

    selama ekspirasi. Udara bergerak ke dalam paru selama inspirasi bila tekanan alveolus lebih

    rendah daripada tekanan atmosfir, dan udara keluar dari paru selama ekspirasi bila tekanan

    atmosfir.

    2. Transportasia. Difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru (respirasi eksterna) dan antara darah

    sistemik dan sel-sel jaringan. Penggerak kekuatan difusi gas melewati membran

    alveolokapiler terdiri dari perbedaan tekanan parsial antara darah dan rongga alveolar.

    Perbedaan tekanan parsial untuk difusi O2 relatif besar : O2 alveolar kira-kira 100 mmHg dan

    sekitar 40 mmHg dalam darah kapilar paru venosa campuran. Difusi CO2 dari darah ke

    alveolus membutuhkan perbedaan tekanan parsial yang lebih kecil daripada O2 karena CO2lebih dapat larut dalam lipid.

    b. Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan penyesuaiannya dengan distribusiudara dalam alveolus-alveolus. Hal ini berkaitan dengan hubungan antara ventilasi(dalam

    paru)-perfusi(aliran darah dalam kapiler). Idealnya, efisiensi pertukaran gas yang optimal

    akan diberikan melalui distribusi dan perfusi sehingga ventilasi-perfusi hampir seimbang

    (pada orang normal). Keseluruhan V/Q normal adalah 0,8(4L/menit : 5L/menit). Karena gaya

    gravitasi aliran darah pulmonal, V/Q pada apex paru lebih tinggi dari 0,8 (V lebih tinggi dari

    Q), sedangkan V/Q pada basis paru lebih rendah dari 0,8(V lebih rendah dari Q).

    Ketidaksamaan V/Q yang menyebabakan hipoksemi terjadi pada kebanyakan penyakit

    pernapasan.

    i. Unit untung rugi (V/Q > 0,8), ventilasi normal tanpa perfusi (pada embolisme paru)ii. Unit pirau (V/Q

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    4/19

    4

    Mekanisme batuk dibagi menjadi 3 fase:

    Fase 1 (Inspirasi), paru2 memasukan kurang lebih 2,5 liter udara, oesofagus dan pita suara

    menutup, sehingga udara terjerat dalam paru2

    Fase 2 (Kompresi), otot perut berkontraksi, so diafragma naik dan mnekan paru2, diikuti pula

    dengan kontraksi intercosta internus. yang pada akhirnya akan menyebabkan tekanan padaparu2 meningkat hingga 100mm/hg.

    Fase 3 (Ekspirasi), Spontan oesofagus dan pita suara terbuka dan udara meledak keluar dari

    paru

    Batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh yang berguna untuk membersihkan saluran

    trakeobronkial. Batuk yang tidak efektif dapat menimbulkan berbagai efek yang tidak

    mengun-tungkan berupa penumpukan sekret yang berlebihan, atelektasis, gangguan

    pertukaran gas dan lain-lain. Batuk yang tidak efektif mungkin terjadi karena gangguan di

    saraf aferen, pusat batuk atau di saraf eferen yang ada. Batuk yang berlebihan akan terasa

    mengganggu. Penyebab batuk juga amat beragam, mulai dari kebiasaan merokok sampai

    pada berbagai penyakit baik di paru maupun di luar paru. Keluhan batuk juga dapatmenimbulkan berbagai komplikasi mulai dari yang ringan sampai yang berat

    Menjelaskan Mekanisme Bersin

    Reflek bersin mirip dengan reflek batuk kecuali bahwa refleks ini berlangsung pada

    saluran hidung, bukan pada saluran pernapasan bagian bawah. Rangsangan awal

    menimbulkan refleks bersin adalah iritasi dalam saluran hidung, impuls saraf aferen berjalan

    dalam nervus ke lima menuju medulla tempat refleks ini dicetuskan. Terjadi serangkaian

    reaksi yang mirip dengan refleks batuk tetapi uvula ditekan, sehingga sejumlah besar udara

    dengan cepat melalui hidung, dengan demikian membantu membersihkan saluran hidung dari

    benda asing.Mekanisme Bernafas

    Inspirasi dan ekspirasi terjadi karena adanya kontraksi dan relaksasi otot-otot

    pernafasan Selama inspirasi tenang, difragma dan m. interkonta ekterna berkontraksi dan

    volume thorax meningkat.

    Selama ekspirasi tenang. Otot-otot tersebut relaksasi dan recoil elastis paru-paru dan thorak

    yang menyebabkan penurunan volume thoraxKekuatan inspirasi dan ekspirasi dibantu olehkontraksi otot pernafasan asesoris.

    3. memahami dan Menjelaskan Rhinitis Alergi

    3.1 Definisi

    -Rhinitis alergi merupakan suatu proses inflamasi dari mukosa hidung yang diperantai oleh

    Immunoglobulin E (IgE).

    Rhinitis alergi merupakan suatu kumpulan gejala kelainan hidung yang disebabkan proses

    inflamasi yang diperantai oleh immunoglobulin E (IgE) akibat paparan allergen pada mukosa

    hidung.

    3.2 Etiologi

    Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secaragenetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    5/19

    5

    penting. Pada 2030 % semua populasi dan pada 1015 % anak semuanya atopi. Apabilakedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50 %.Peran

    lingkungan dalam dalam rinitis alergi yaitu alergen, yang terdapat di seluruh lingkungan,

    terpapar dan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki kecenderungan

    alergi.

    Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk bersama udarapernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk

    sari,dan lain-lain.

    3.3 Klasifikasi

    Dahula rhinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya, yaitu :

    1. rhinitis alergi musiman

    2. rhinitis alergi sepanjang tahun.

    Gejala keduanya hamper sama, hanya berbeda dalam sifat berlangsungnya. Saat ini

    digunakan klasifikasi rhinitis alergi berdasarkan dari WHO inative ARIA tahun 2000, yaituberdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi :

    1 intermiten (kadang-kadang) : bila gejala dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu.

    2. persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu atau lebih dari 4 minggu.

    Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rhinitis alergi dibagi menjadi :

    1.ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktifitas

    harian,bersantai,berolahraga,belajar, berkerja dan hal0hal lainnya yang mengganggu.

    2. sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih gangguan tersebut diatas.

    3.4 Patofisiologi

    SensitisasiRinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang diawali oleh adanya proses sensitisasi

    terhadap alergen sebelumnya. Melalui inhalasi, partikel alergen akan tertumpuk di mukosa

    hidung yang kemudian berdifusi pada jaringan hidung. Hal ini menyebabkan sel (APC) akan

    menangkap alergen yang menempel tersebut.

    Reaksi Alergi Fase Cepat

    Reaksi cepat terjadi dalam beberapa menit, dapat berlangsung sejak kontak denganallergen sampai 1 jam setelahnya. Mediator yang berperan pada fase ini yaitu histamin,

    tiptase dan mediator lain seperti leukotrien, prostaglandin (PGD2) dan bradikinin. Mediator-

    mediatortersebut menyebabkan keluarnya plasma dari pembuluh darah dan dilatasi dari

    anastomosis arteriovenula hidung yang menyebabkan terjadinya edema, berkumpulnya darah

    pada kavernosus sinusoid dengan gejala klinis berupa hidung tersumbat dan oklusi dari

    saluran hidung. Rangsangan terhadap kelenjar mukosa dan sel goblet menyebabkan

    hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Rangsangan pada

    ujung saraf menyebabkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin.

    Reaksi Alergi Fase Lambat

    Reaksi alergi fase lambat terjadi setelah 4 8 jam setelah fase cepat. Reaksi inidisebabkan oleh mediator yang dihasilkan oleh fase cepat beraksi terhadap sel endotel

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    6/19

    6

    postkapiler yang akan menghasilkan suatu Vascular Cell Adhesion Mollecule (VCAM)

    dimana molekul ini menyebabkan Sel leukosit seperti eosinofil menempel pada sel hidung.

    Gejala klinis yang ditimbulkan pada fase ini lebih didominasi oleh sumbatan hidung.

    3.5 Manisfestasi Klinis

    Rinitis alergi menurut WHO (2001) adalah kelainan pada hidung setelah mukosa hidungterpapar oleh alergen yang diperantarai oleh IgE dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa

    gatal pada hidung dan hidung tersumbat.

    Klasifikasi rhinitis alergi :

    Rinitis alergi intermitten (kadang-kadang). Gejalanya 4 hari per minggu atau > 4 minggu

    Rinitis alergi ringan. Tidak mengganggu aktivitas harian, tidur, bersantai, olahraga,

    belajar & bekerja.

    Rinitis alergi sedang & berat. Mengganggu 1 atau lebih aktivitas tersebut

    Gejala klinik rinitis alergi, yaitu :

    Bersin patologis. Bersin yang berulang lebih 5 kali setiap serangan bersin. Rinore. Ingus yang keluar. Gangguan hidung. Hidung gatal dan rasa tersumbat. Hidung rasa tersumbat merupakan

    gejala rinitis alergi yang paling sering kita temukan pada pasien anak-anak.

    Gangguan mata. Mata gatal dan mengeluarkan air mata (lakrimasi). Allergic shiner. Perasaan anak bahwa ada bayangan gelap di daerah bawah mata

    akibat stasis vena sekunder. Stasis vena ini disebabkan obstruksi hidung. Allergic

    salute. Perilaku anak yang suka menggosok-gosok hidungnya akibat rasa gatal.

    Allergic crease. Tanda garis melintang di dorsum nasi pada 1/3 bagian bawah akibat

    kebiasaan menggosok hidung.

    3.6 Diagnosis & diagnosis banding

    A. AnamnesisPerlu ditanyakan gejala-gejala spesifik yang mengganggu pasien (seperti hidung

    tersumbat, gatal-gatal pada hidung, rinore, bersin), pola gejala (hilang timbul, menetap)

    beserta onset dan keparahannya, identifikasi faktor predisposisi, respon terhadap pengobatan,

    kondisi lingkungan dan pekerjaan. Karena rinitis alergi seringkali berhubungan dengan

    konjungtivitis alergi, maka adanya gatal pada mata dan lakrimasi mendukung diagnosis rinitis

    alergi. Riwayat keluarga merupakan petunjuk yang cukup penting dalam menegakkan

    diagnosis.B. Diagnosis dan DDSecara khas dimulai pada usia yg sangat muda dengan gejala kongesti hidung,bersin,air

    mata,gatal, keluhan yg sama seperti polip hidung ialah hidung tersumbat dan rinorea.bila

    terjadi pula sinusitis berupa gejala nyeri pada kepala,daerah tulang pipi.

    Diagnosis rinitis alergika berdasarkan pada keluhan penyakit, tanda fisik dan uji

    laboratorium. Keluhan pilek berulang atau menetap pada penderita dengan riwayat keluarga

    atopi atau bila ada keluhan tersebut tanpa adanya infeksi saluran nafas atas merupakan kunci

    penting dalam membuat diagnosis rinitis alergika. Pemeriksaan fisik meliputi gejala utama

    dan gejala minor. Uji laboratorium yang penting adalah pemeriksaan in vivo dengan uji kulit

    goresan, IgE total, IgE spesifik, dan pemeriksaan eosinofil pada hapusan mukosa hidung. UjiProvokasi nasal masih terbatas pada bidang penelitian.

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    7/19

    7

    DDRinitis alergika harus dibedakan dengan :

    1. Rhinitis vasomotorik2. Rhinitis medikamentosa3. Rhinitis virus4. Rhinitis iritan ( Irritant Contact Rhinitis)1. Rhinitis vasomotorik

    Pasien-pasien dengan rhintis vasomotorik datang dengan gejala sumbatan hidung dan

    sekret nasal yang jernih.gejala-gejalanya sering berhubungan dengan temperatur

    ,makan,paparan terhadap bau dan zat-zat kimia atau konsumsi alkohol. Beberapa klinisi

    mengusulkan bahwa regulasi otonom yang abnormal dari fungsi hidung adalah penyebabnya.

    pada rhinitis vasomotor tidak ditemukan adanya skin tes yang(+) dan tes alergen

    yang (+), sedangkan pada yang alergika murni mempunyai skin tes yang (+) dan laergen yang

    jelas.

    Rinitis alergika sering ditemukan pada pasien dengan usia < 20

    tahun,sedangkan pada rinitis vasomotor lebih banyak dijumpai pada usia > 20 tahun

    danpaling sering diderita oleh perempuan.

    2. Rinitis medikamentosa ( Drug induced rhinitis)karena penggunaan tetes hidung dalam jangkalama, reserpin, klonidin, alfa

    metildopa, guanetidin, klorpromasin, dan fenotiasin yang lain.

    3. RhinitisV irusRhinitis virus sangat umum terjadi dan sering berhubungan denganmanifestasi

    lain dari penyakit virus seperti sakit kepala, malaise, tubuh pegal, danbatuk. Sekret

    nasal yang dihasilkan pada rhinitis viral seringnya jernih atauberwarna putih dan

    bisa disertai dengan kongesti hidung dan bersin -bersin.

    4. Rhinitis iritan (irritant contact rhinitis)karena merokok, iritasi gas, bahan kimia, debu pabrik, bahan kimia pada makanan.

    Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang cermat,pemeriksaan alergi yang negatif.

    Faktor yg berhubungan dengan diagnosis rinusitis

    Mayor : Muka nyeri ,Rasa tersumbat, Secret purulen, Hiposmia, Demam

    Minor :Sakit kepala, Demam, Lesu, Batuk, Sakit gigi, Telinga sakit, ,penuh, atau

    tertekan.

    C. Pemeriksaan fisik

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    8/19

    8

    Rinusitis : Lakrimasi berlebihan,sclera, dan konjungtiva yg memerah,pembengkakan

    konka nasalis, skret encer keriput lateral pada Krista hidung. Polip hidung : sering

    terlihat di bagian atas dinding hidung lateral, mengelilingi konka media, khasnya licin lunak

    dan mengkilap bewarna kebiruan. Pada sinusitis : terdapat nyeri tekan pada daerah sinus yg

    terkena.

    Mukosa hidung yg alergi biasanya basah,pucat, dan bewarna pink serta konka tampakmembengkak,bila terjadi infeksi sekret bias purulen atau bahkan kering sama sekali.

    Pemeriksaan biasanya dimulai dengan inspeksi hidung luar. Inspeksi dan palpasi

    merupakan teknik penting yang paling sering dipakai pada pemeriksaan fisik. ada cara lain

    antara lain mendengarkan pernapasan dan bicara pasien yang dapat menunjuk kelainan di

    hidung.

    - Inspeksi dan palpasi hidung luar- Pemeriksaan dengan pantulan cahaya- Pemeriksaan dengan sonde hidung-

    Inspeksi dengan kaca nasofaring tidak langsung- Inspeksi dengan nasofaringoskop- Pemeriksaan rongga postnasal dengan jari- Pemeriksaan biopsiPemeriksaan penunjangPemeriksaan sitologi hidung tidak memastikan diagnosis, tetapi berguna sebagai

    pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak (5 sel/lapang

    pandang) menunjukkan kemungkinan alergi. Hitung jenis eosinofil dalam darah tepi dapat

    normal atau meningkat. Pemeriksaan IgE total seringkali menunjukkan nilai normal, kecuali

    bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu penyakit. Lebih bermakna adalah pemeriksaan

    IgE spesifik dengan cara RAST (Radioimmuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme LinkedImmuno Sorbent Test).

    Uji kulit alergen penyebab dapat dicari secara invivo. Ada dua macam tes kulit yaitu tes

    kulit epidermal dan tes kulit intradermal. Tes epidermal berupa tes kulit gores (scratch)

    dengan menggunakan alat penggores dan tes kulit tusuk (skin prick test). Tes intradermal

    yaitu tes dengan pengenceran tunggal (single dilution) dan pengenceran ganda (Skin

    Endpoint Titration SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkanalergen dalam berbagai konsentrasi. Selain dapat mengetahui alergen penyebab, juga dapat

    menentukan derajat alergi serta dosis inisial untuk imunoterapi. Selain itu, dapat pula

    dilakukan tes provokasi hidung dengan memberikan alergen langsung ke mukosa hidung.

    Untuk alergi makanan, dapat pula dilakukan diet eliminasi dan provokasi atau IntracutaneousProvocative Food Test (IPFT).

    3.7 Tatalaksana

    a. Penghindaran alergen.

    Merupakan terapi yang paling ideal. Cara pengobatan ini bertujuan untuk mencegah

    kontak antara alergen dengan IgE spesifik dapat dihindari sehingga degranulasi sel mastosit

    tidak berlangsung dan gejala pun dapat dihindari. Namun, dalam praktek adalah sangat sulit

    mencegah kontak dengan alergen tersebut. Masih banyak data yang diperlukan untuk

    mengetahui pentingnya peranan penghindaran alergen.

    b. Pengobatan medikamentosa

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    9/19

    9

    Cara penngobatan ini merupakan konsep untuk mencegah dan atau menetralisasi kinerja

    molekul-molekul mediator yang dilepas sel-sel inflamasi alergis dan atau mencegah pecahnya

    dinding sel dengan harapan gejala dapat dihilangkan. Obat-obat yang digunakan untuk rinitis

    pada umumnya diberikan intranasal atau oral.

    Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamin H-1, yang bekerja secara inhibitor

    kompetitif pada reseptor H-1 sel target, dan merupakan preparatfarmakologik yang palingsering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rinitisalergi. Antihistamin diabsorbsi secara

    oral dengan cepat dan mudah serta efektifuntuk mengatasi gejala pada respons fase cepat

    seperti rinore, bersin, gatal, tetapitidak efektif untuk mengatasi obstruksi hidung pada fase

    lambat.

    Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai sebagai dekongestan

    hidung oral dengan atau tanpa kombinasi denfgan antihistamin atau topikal. Namun

    pemakaian secara topiukal hanya boleh untuk beberapa hari saja untuk menghindari

    terjadinya rinitis alergi medikamentosa.

    Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala sumbatan hidung akibat respons fase lambat

    tidak dapat diatasi dengan obat lain. Kortikosteroid topikal bekerja untuk mengurangi jumlah

    sel mastosit pada mukosa hidung, mencegah pengeluaran protein sitotoksik dari eosinofil,mengurangi aktifitas limfosit.

    Preparat antikolinergik topikal bermanfaat untuk mengatasi rinore, karena aktifitas

    inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel efektor. Pengobatan baru lainnya untuk rinitis

    alergi di masa yang akan datang adalah anti leukotrien, anti IgE, DNA rekombinan.

    Obat-obat tidak memiliki efek jangka panjang setelah dihentikan. Karenanya pada

    penyakit yang persisten, diperlukan terapi pemeliharaan.

    c. Imunoterapi spesifik

    Imunoterapi spesifik efektif jika diberikan secara optimal. Imunoterapi subkutan masih

    menimbulkan pertentangan dalam efektifitas dan keamanan. Oleh karena itu, dianjurkan

    penggunaan dosis optimal vaksin yang diberi label dalam unit biologis atau dalam ukuran

    masa dari alergen utama. Dosis optimal untuk sebagian besar alergen utama adalah 5 sampai

    20 g. Imunoterapi subkutan harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan penderita harus

    dipantau

    selama 20 menit setelah pemberian subkutan. Indikasi imunoterapi spesifik subkutan:

    Penderita yang tidak terkontrol baik dengan farmakoterapi konvensional Penderita yang gejala-gejalanya tidak dapat dikontrol baik dengan antihistamin H1

    dan farmakoterapi

    Penderita yang tidak menginginkan farmakoterapi Penderita dengan farmakoterapi yang menimbulkan efek samping yang tidak

    diinginkan Penderita yang tidak ingin menerima terapi farmakologis jangka panjang.

    Imunoterapi spesifik nasal dan sublingual dosis tinggi:

    Imunoterapi spesifik oral dapat digunakan dengan dosis sekurang-kurangnya 50-100kali lebih besar daripada yang digunakan untuk imunoterapi subkutan.

    Pada penderita yang mempunyai efek samping atau menolak imunoterapi subkutan Indikasinya mengikuti indikasi dari suntikan subkutanPada anak-anak, imunoterapi spesifik adalah efektif. Namun tidak direkomendasikan

    untuk melakukan imunoterapi pada anak dibawah umur 5 tahun.

    d. Imunoterapi non-spesifik

    Imunoterapi non-spesifik menggunakan steroid topikal. Hasil akhir sama seperti

    pengobatan imunoterapi spesifik-alergen konvensional yaitu sama- sama mampu menekan

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    10/19

    10

    reaksi inflamasi, namun ditinjau dari aspek biomolekuler terdapat mekanisme yang sangat

    berbeda.

    Glukokortikosteroid (GCSs) berikatan dengan reseptor GCS yang berada di dalam

    sitoplasma sel, kemudian menembus membran inti sel dan mempengaruhi DNA sehingga

    tidak membentuk mRNA. Akibat selanjutnya menghambat produksi sitokin pro-

    inflammatory.

    e. Edukasi

    Pemeliharaan dan peningkatan kebugaran jasmani telah diketahui berkhasiat dalam

    menurunkan gejala alergis. Mekanisme biomolekulernya terjadi pada peningkatan populasi

    limfosit TH yang berguna pada penghambatan reaksi alergis, serta melalui mekanisme

    imunopsikoneurologis.

    f. Operatif

    Tindakan bedah dilakukan sebagai tindakan tambahan pada beberapa penderita yang

    sangat selektif. Seperti tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila

    konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakaiAgNO3 25 % atau triklor asetat.

    Bisa dilakukan pada polip hidung dan terutama sinusitis berkaitan dengan gagalnya

    terapi obat dan injeksi allergen, tindakan ini memungkinkan drainase dan ventilasi hidung

    dan sinus yg memadai.

    a. Antihistamin (AH-1)Farmakodinamik

    AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus, dan bermacam-macam otot polos; selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi

    hipersensitivitas/keadaan yang disertai penglepasan histamin endogen berlebihan Peninggian permeabilitas kapiler dan edema akibat hisatmin, dapat di hambat dengan

    efektif oleh AH1.

    AH1 dapat menhambat sekresi saliva dan sekresi kelenjar eksokrin lain akibathistamin

    Farmakokinetik

    Setelah pemberian oral atau parental, AH1 diabsorpsi secara baik. Efeknya maksimaltimbul 15-30 menit setelah pemberian oral dan maksimal setelah 1-2jam.

    Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dankulit kadarnya lebih rendah.

    Tempat utama Biotransformasi AH1 adalah hati, tetapi dapat juga pada paru-paru danginjal.

    AH1 diekresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya.Indikasi

    AH1 berguna untuk pengobatan simtomatik berbagai penyakit alergi dan mencegahatau mengobati mabuk perjalanan.

    Penyakit alergi. AH1 berguna untuk mengobati alergi tipe eksudatif akut misalnyapada polinosis dan urtikaria. Efeknya bersifat paliatif, membatasi dan menghambat efek

    histamin yang dilepaskan sewaktu reaksi alergen-antibodi terjadi. AH1 dapat juga

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    11/19

    11

    menghilangkan bersin,rinore, dan gatal pada mata,hidung dan tenggorokan pada pasien

    seasonal hay fever.

    Mabuk perjalan dan keadaan lain. AH1 efektif untuk dua pertiga kasusvertigo,mual dan muntah. AH1 efektif sebagai antimuntah, pascabedah, mual dan muntah

    waktu hamil dan setelah radiasi. AH1 juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit

    Meniere dan gangguan Vestibular lain.

    Efek samping

    Efek yang paling sering ialah sedasi, yang justru menguntungkan pasien yang di rawatdi RS atau pasien yang perlu banyak tidur.

    Efek samping yang berhubungan dengan efek sentral AH1 ialah vertigo, tinitus, lelah,penat, inkoordinasi, penglihatan kabur, diplopia, euforia, gelisah, insomia, dan tremor.

    Efek samping yang paling sering juga di temukan ialah nafsu makan berkurang, mual,muntah, keluhan pada epigastrium, konstipasi, atau diare; efek ini akan berkurang bila AH1

    diberikan sewaktu makan.

    Efek samping lain yang mungkin timbul oleh AH1 ialah mulut kering, disuria,palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat dan lemah pada tangan

    b.Nasal dekongestan

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    12/19

    12

    agonis banyak digunakan sebagai dekongestan nasal pada pasien rinitis alergika ataurinitis vasomotor dan pada pasien ispa dengan rinitis akut. Obat ini menyebabkan

    venokontriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor 1 sehingga mengurangi volumemukosa dan dengan demikian mengurangi penyumbatan hidung.

    Pengobatan dengan dekongestan nasal dapat menyebabkan hilangnya efektivitasrebound hiperimia dan memburuknya gejala pda pemberian kronik atau bila obat dhentikan.

    Dalam praktek, dekongestan dapat digunakan secara sistemik (oral), yakni efedrin,

    fenil propanolamin dan pseudo-efedrin atau secara topikal dalam betuk tetes hidung maupun

    semprot hidung yakni fenileprin, efedrin dan semua derivat imidazolin. Dekongestan topikal

    terutama berguna untuk rinitis akut karena tempat kerjanya yang lebih selektif. Penggunaan

    dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik.

    Penggunaan secara topikal lebih cepat dalam mengatasi penyumbatan hidung dibandingkan

    dengan penggunaan sistemik.

    Indikasinya per oral atau secara topikal. Eferdin oral sering menimbulkan efek sntral.

    Pseudoeferdrin

    Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa

    terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan

    konseling bagi pasien.

    Fenilpropanolamin obat ini harus digunakan secara hati2 pada pasien hipertensi dan pria

    dengan hipertrofi prostat .

    Pemberian dekongestan oral tidak dianjurkan untuk jangka panjang, terutama karena

    memepunyai efek samping stimulan SSP sehingga menyebabkan peningkatan denyut jantung

    dan tekanan darah. Obat ini tidak boleh diberikan kepada penderita hipertensi, penyakitjantung, koroner, hipertiroid, dan hipertropi prostat. Dekongestan oral pada umumnya

    terdapat dalam bentuk kombinasi dengan antihistamin atau dengan obat lain seperti

    antipiretik dan antitusif yang dijual sebagai obat bebas.

    c. KortikosteroidKortikosteroid adalah obat antiinflamasi yang kuat dan berperan penting dalam

    pengobatan RA. Penggunaan secara sistemik dapat dengan cepat mengatasi inflamasi yang

    akut sehingga dianjurkan hanya untuk penggunaan jangka pendek yakni pada gejala buntu

    hidung yang berat.

    Gejala buntu hidung merupakan gejala utama yang paling sering mengganggupenderita RA yang berat. Pada kondisi akut kortikosteroid oral diberikan dalam jangka

    pendek 7-14 hari dengan tapering off, tergantung dari respon pengobatan.

    Kortikosteroid meskipun mempunyai khasiat antiinflamasi yang tinggi, namun juga

    mempunyai efek sistemik yang tidak menguntungkan. Pemakaian intranasal akan

    memaksimalkan efek topikal pada mukosa hidung dan mengurangi efek sistematik. Berbagai

    produk kortikosteroid intranasal dipasarkan dengan menggunakan berbagai karakteristik.

    Untuk meningkatkan keamanan kortikosteroid intranasal digunakan obat yang

    mempunyai efek topikal yang kuat dan efek sistemik yang rendah. Kepraktisan dalam

    pemakaian serta rasa bau obat akan mempengaruhi kepatuhan penderita dalam menggunakan

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    13/19

    13

    obat jangka panjang. Dosis sekali sehari lebih disukai daripada dua kali sehari karena lebih

    praktis sehingga meningkatkan kepatuhan.

    Beberapa kortikosteroid intranasal yang banyak digunakan adalah beklometason,

    flutikason, mometason, dan triamisolon. Keempat obat tersebut mempunyai efektifitas dan

    keamanan yang tidak berbeda. Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodiumkromolin, dan ipatropium bromida.

    Mekanisme kerja

    Bekerja mempengaruhi kecepatan sintesis protein, molekul hormon memasuki sel

    melewati membran plasma secara difusi pasif, mensintesis protein yg sifatnya menghambat

    atau toksik terhadap sel limfoid.mempengaruhi metabolisme karbohidrat,protein,dan

    lemak,dan sebagai antiinflamasi kuat.

    Pemberian glucocorticoid (eg, prednisone, dexamethasone) mengurangi ukuran danisi lymphoid dari limfonodi dan limpa, tdk memiliki efek toksik pada mieloid yg sdg

    berproliferasi atau stem sel erythroid dalam sumsum tulang.

    Glucocorticoid menghambat produksi mediator inflamasi, termasuk PAF, leukotrien,prostaglandin, histamin, dan bradikinin

    Toksisitas berat dpt tjd pd penggunaan glukokortikoid dosis tinggi, jangka panjang

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    14/19

    14

    d. Antagonis LeukotrienLeukotrien adalah asam lemak tak jenuh yang mengandung karbon yang dilepaskan

    selama proses inflamasi. Leukotrien, prostaglandin dan tromboksan merupakan bagian dari

    grup asam lemak yang disebut eikosanoid. Senyawa ini diturunkan melalui aktivasi berbagi

    tipe sel oleh lipooksigenasi asam arakhidonat yang dibebaskan oleh fosfolipase A2 di

    membran perinuklear yang memisahkan nukleus dari sitoplasma. Asam arakhidonat sendiri

    merupakan substrat dari siklooksigenase yang aktivitasnya menghasilkan prostglandin dan

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    15/19

    15

    tromboksan. Dengan kata lain, leukotrien juga merupakan mediator yang penting dalam

    terjadinya buntu hidung pada rinitis alergi.

    Dewasa ini telah berkembang obat antileukotrien yang dinilai cukup besar manfaatnya

    bagi pengobatan RA. Ada dua macam antileukotrien yakni inhibitor sintesis leukotrien dan

    antagonis reseptor leukotrien. Yang terbaru dapat satu inhibitor sintesis leukotrien dan tigaantagonis reseptor leukotrien, yakni CysLT1 dan CYsLT2. Yang pertama merupakan reseptor

    yang sensitif terhadap antagonis leukotrien yang dipakai pada pengobatan RA.

    Pada dasarnya antileukotrien bertujuan untuk menghambat kerja leukotrien sebagai

    mediator inflamasi yakni dengan cara memblokade reseptor leukotrien atau menghambat

    sintesis leukotrien. Dengan demikian diharapkan gejala akibat proses inflamasi pada RA

    maupun asma dapat ditekan. Tiga obat antileukotrien yang pernah dilaporkan penggunaannya

    yakni dua nataginis reseptor (zafirlukast dan montelukast), serta satu inhibitor lipooksigenase

    (zileuton). Laporan hasil penggunaan obat tersebut pada RA belum secara luas dipublikasikan

    sehingga efektifitasnya belum banyak diketahui.

    Penanganan Rhinitis alergi yang terakhir adalah dengan imunoterapi. Terapi ini disebut

    juga sebagai terapi desensitisasi. Imunoterapi merupakan proses yang panjang dan bertahap

    dengan cara menginjeksikan antigen dengan dosis yang ditingkatkan. Imunoterapi memiliki

    biaya yang mahal serta risiko yang besar, serta memerlukan komitmen yang besar dari

    pasien.

    3.8 Komplikasi

    Komplikasi rhinitis alergi yang sering ialah :

    a. polip hidung yang memiliki tanda patognomonis : inspisited muscous gland, akumulasi sel-

    sel inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih eosinophil dan limfosit T CD4+), hyperplasiaepitel, hyperplasia goblet, dan metaplasia skuamosa.

    b.otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak.

    c. sinusitis paranasal merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus paranasal. Terjadi

    akibat edema ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa yang menyebabkan sumbatan

    ostia sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal tersebut

    akan menuburkan pertumbuhan bakteri tertama anaerob dan akan menyebabkan rusaknya

    fungsi barrier epitel antara lain akibat desktruksi mukosa oleh mediator protein basa yang

    dilapisi sel eosinophil (MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah.

    3.9 Prognosis

    Ada kesan klinis bahwa gejala rhinitis alergika dapat berkurang dengan bertambahnya

    usia. Sementara penderita polip hidung akan tetap mengalami kekambuhan meskipun telah

    mendapat terapi bedah maupun obat.

    3.10 Pencegahan

    Tindakan pencegahan pun perlu dilakukan agar tak merangsang kambuhnya rinitis alergi.

    1. Menghindari makanan dan obat-obatan yang dapat menimbulkan alergi.

    2. jangan biarkan hewan berbulu masuk kedalam rumah, jika alergi terhadap bulu hewan.

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    16/19

    16

    3. bersihkan debu dengan menyedot dan lap basah, minimal 2-3 kali dalam satu minggu,

    jangan menggunakan sapu yang dapat menyebarkan debu.

    4. gunakan pembersih udara elektris (AC) untuk membuang debu rumah, jamur dan pollen

    dari udara. Cuci dang anti filter secara berkala.

    5. tutup perabotan berbahan kain dengan lapisan yang bisa dicuci sesering mungkin.

    6. jangan menggunakan bahan atau perabotan yang dapat menampung debu didalam debu

    kamar.

    7. untuk menghindari kontak dengan allergen, gunakan sarung tangan dan masker ketika

    sedang bersih-bersih di dalam maupun diluar rumah.

    8. larang rokok dan penggunaan yang beraroma di rumah.

    4.Memahami dan menjelaskan pernafasan menurut islam

    4.1 Adab bersin

    Bersin adalah sesuatu yang disukai oleh Allah s.w.t. sebagaimana yang telah dijelaskan

    dalam hadis yang pertama di atas. Di antara sebab ia disukai adalah, bersin membersihkan

    rongga hidung dan tekak dari habuk, debunga, bakteria dan apa-apa lain yang mungkin

    memenuhi rongga tersebut. Bersin juga adalah satu cara untuk sistem badan menyesuaikan

    diri dengan perbezaan cuaca yang berlaku secara mendadak. Oleh kerana itulah seseorang itu

    lazim bersin jika dia bergerak dari tempat yang sejuk kepada panas atau panas kepada sejuk.Bahkan seseorang itu juga akan bersin semata-mata dengan melihat kepada keterikan sinaran

    matahari.

    Mengingatkan banyak kebaikan bersin, ditambahi dengan faktor bahawa ia adalah sesuatu

    yang disukai oleh Allah, seeorang itu dituntut untuk memuji Allah ketika bersin. Bacaanpujian tersebut ialah Alhamdulillah ala kulli hal yang bermaksudSegala puji bagi Allah dalam segala sesuatuPernah seorang lelaki bersin ketika berada di tepi Abdullah bin Umar al-Khattab. Lalu lelakitersebut berdoa: Alhamdulillah, wassalamu ala Rasulullah (Segala puji bagi Allah dansalam ke atas Rasulullah). Berkata Abdullah bin Umar: Alhamdulillah, wassalamu alaRasulullah? Bukan begitu yang diajarkan kepada kami oleh Rasulullah s.a.w., (sebaliknya)

    baginda mengajar kami berdoa: Alhamdulillah ala kulli hal (Segala puji bagi Allah dalamsegala sesuatu).[Shahih Sunan al-Tirmizi, hadis no: 2738].

    Seterusnya, apabila kita mendengar saudara kita yang bersin memuji Allah, hendaklah kita

    mendoakannya dengan berkata: YarhamukalLah yang bermaksud: Semoga Allahmerahmati kamu. Kemudian bagi yang bersin, dia mendoakan kembali orang yangmendoakannya tadi dengan berkata: YaghfirulLahu lana wa Lakum yang bermaksud:Semoga Allah mengampuni bagi kami dan bagi kalian.[Shahih al-Jami al-Shagheir, hadis no: 686]Hikmah di sebalik semua ini ialah terjalinnya ikatan ukhuwah dan kasih sayang sesama umat

    Islam. Apabila kita mendoakan saudara kita yang bersin, dia akan merasa senang dengan kita.

    Seterusnya apabila dia mendoakan kita pula, kita pula akan merasa senang kepadanya.

    Hingga akhirnya terjalinlah ikatan ukhuwah dan kasih sayang semata-mata kerana bersin.

    Seandainya orang yang bersin tidak memuji Allah, kita tidak dituntut mendoakannya. Pernah

    dua orang bersin berdekatan Rasulullah s.a.w., lalu baginda mendoakan seorang danmembiarkan seorang yang lain. Orang yang dibiarkan itu bertanya, mengapa baginda tidak

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    17/19

    17

    mendoakannya? Baginda menjawab: Orang itu memuji Allah (setelah bersin) manakalakamu tidak memuji Allah (setelah bersin).[Shahih al-Bukhari, hadis no: 6225]

    Adab terakhir ketika bersin ialah menutup mulut dan hidung dengan tangan atau kain. Pada

    waktu yang sama hendaklah merendahkan muka dan suara. Jangan bersin sehingga

    menghamburkan air liur, bersin ke arah muka orang lain atau bersin dengan suara yang kuat.Abu Hurairah menerangkan adab Rasulullah s.a.w. ketika bersin: Apabila Rasulullah s.a.w.

    bersin, baginda meletakkan tangannya atau bajunya ke atas mukanya (mulut dan hidung)

    sambil merendahkan (atau sambil menundukkan muka dan) suaranya. [Shahih Sunan AbuDaud, hadis no: 5029]

    -Tidak Perlu Mendoakan Orang Yang Sudah Bersin Tiga Kali Berturut-Turut

    Demikianlah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullahshallallahu alihi wa sallam. Beliau

    bersabda:

    Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaklah orang yang ada di dekatnya

    mendoakannya. Dan jika (ia bersin) lebih dari tiga kali berarti ia sakit. Janganlah kalian

    men-tasymit bersinnya setelah tiga kali. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 5034; Ibnus

    Sunni, no. 251; dan Ibnu Asakir, 8/257. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalamShohiih al-Jaami, no. 684)

    Dalam redaksi lainnya disebutkan, Rasulullahshallallahu alaihi wa sallambersabda:

    Doakanlah saudaramu yang bersin tiga kali dan bila lebih dari itu berarti ia sedang

    sakit. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 5034 dan al-Baihaqi dalam Syuabul Iiman, 7/32.

    Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani dalam al-Misykah, no. 4743)

    Ada seorang laki-laki bersin di hadapan Nabishallallahu alaihi wa salla. Maka Nabi

    shallallahu alaihi wa sallamberkata, Yarhamukalloh. Kemudian ia bersin lagi, maka

    Rasulullahshallallahu alihi wa sallambersabda:

    Laki-laki ini sedang sakit. (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2993)

    - Untuk khusus dalam shalat, membaca pujian setelah bersin, adalah boleh bagi orang

    yang bersin, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Rifaah bin Rafi. Hadits tersebut adalah:

    Dari Rifaah bin Rafi, dia berkata;

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    18/19

    18

    Aku shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lal aku bersin, dan aku berkata:

    Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mubarakan alaih kama yuhibbu rabbuna wa yardha

    (segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak lagi baik dan keberkahan di dalamnya, dan keberkahan

    atasnya, sebagaimana yang disukai Tuhan kami dan diridhaiNya). Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

    Sallam selesai shalat, dia bertanya: Siapa yang mengatakan tadi dalam shalat?. Tidak ada satu pun yangmenjawab. Beliau bertanya lagi kedua kalinya: Siapa yang mengatakan tadi dalam shalat?. Tidak ada satu punyang menjawab. Beliau bertanya lagi ketiga kalinya: siapa yang yang mengatakan tadi dalam shalat? maka,

    berkatalah Rifaah bin Rafi bin Afra: Saya wahai Rasulullah! Beliau bersabda: Bagaimana engkaumengucapkannya? dia menjawab: Aku mengucapkan: Alhamdulillah hamdan katsiran thayyibanmubarakan fihi mubarakan alaih kama yuhibbu rabbuna wa yardha. Maka, Nabi Shallallahu Alaihi wa

    Sallambersabda: Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sebanyak tiga puluh Malaikat saling merebutkansiapa di antara mereka yang membawanya naik (kelangit). (HR. At Tirmidzi No. 402, katanya: hasan.Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Misykah Al M ashabihNo. 992)

    4.2 Menguap dalam islam

    Menguap dilakukan karena beberapa penyebab, antara lain: mengantuk, gelisah, butuhtambahan oksigen.

    Islam juga mengatur bagaimana menguap yg baik.

    Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasululloh SAW bersabda: Menguap adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka hendaknya

    ditahan semampu dia, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian (ketika menguap)

    mengatakan (keluar bunyi): hah, maka setan tertawa. (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan ini

    lafazh riwayat Al-Bukhari)

    Di hadits lain:

    Menguap ketika sholat adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, makatahanlah semampunya. (HR Tirmidzi)

    Dengan kata lain, Islam MENYARANKAN kita untuk menahan (tidak) menguap. Jika tidak

    kuat, maka hendaknya menguap dengan menutup mulut dan tidak mengeluarkan bunyi hah,apalagi hingga huaaahhh.

    4.3 Bersandawa

    MERENDAHKAN SUARA

    ( ) ( ) ) ) ) ) )

  • 7/27/2019 skenario1 Respirasi.docx

    19/19

    19

    ( Bila salah seorang diantara kalian bersendawa (glegeen-java-pent.) atau bersin maka

    janganlah mengeraskan suaranya karena sesungguhnya syetan suka terhadap suara kerasnya

    maka ia mentertawakan dan mengejekmu, karenanya disunahkan sedapat mungkinmerendahkan suara dan dimakruhkan mengeraskannya terlebih bila menyakitkan orang lain

    maka hukumnya sangat makruh bahkan bisa menjadi haram.

    Sendawa ialah suara disertai bau tidak sedap yang keluar dari mulut akibat kekenyangan

    Faidh alQadiir I/405

    4.4 Istinjak

    Istinja adalah membersihkan apa-apa yang telah keluar dari suatu jalan (di antara dua jalan :

    qubul atau dubur) dengan menggunakan air atau dengan batu atau yang sejenisnya (benda

    yang bersih dan suci [1]). Adapun hukumnya adalah wajib berdasarkan sebuah hadits dari

    Aisyah Radhiyallahu anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

    Artinya : Apabila salah seorang di antara kamu pergi ke tempat buang hajat besar, makabersihkanlah dengan menggunakan tiga batu karena sesungguhnya dengan tiga batu itu bisa

    membersihkannya [Hadits Riwayat Ahmad VI/108, Nasai no. 44, dan Abu Dawud no 40.Dan asal perintah menggunakan tiga batu ada dalam riwayat Bukhari dari Abdullah bin

    Masud Radhiyallahu anhu hadits no. 155]

    Dari Anas Radhiyallahu anhu dia berkata.

    Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam masuk ke tempat buang hajat lalusaya dan seorang pemuda sebaya saya membawakan satu bejana dari air dan satu tombak

    kecil lalu beliau beristinja (bersuci) dengan air itu [Hadits Shahih Riwayat Bukhari no. 151dan Muslim no. 271]