Seminar KGD Keracunan

  • View
    27

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Seminar KGD Keracunan

ASUHAN KEPERAWATAN

KEGAWAT DARURATAN DENGAN KERACUNAN

DISUSUN OLEH:

AKADEMI KEPERAWATAN

YAYASAN WIDYA HUSADA

SEMARANG

2013KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Kegawat Daruratan yang berjudul: asuhan kegawat daruratan dengan keracunan. Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan dan hambatan, akan tetapi berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Dalam kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, memberi pengarahan, bimbingan, semangat serta doa untuk keberhasilan penulis, antara lain :1. Ibu Dyah Restuning P, S. Kep, selaku dosen pengampu mata kuliah kegawat daruratan yang telah membimbing dan memberi masukan kepada penulis.2. Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca.

Semarang, 22 Pebruari 2013 PenulisDAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................DAFTAR ISI.....................................................................................................BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.........................................................................................B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum...........................................................................2. Tujuan Khusus...........................................................................

3. Manfaat Penulisan .....................................................................BAB II : KONSEP DASARA. Pengertian.....................................................................B. Macam-macam keracunan ....................................C. Gambaran klinik....................................................................D. Patofisiologi ....................................................................

E. Pemeriksaan penunjang ....................................................

F. Penatalaksanaan............................................................G. Penatalaksanaan Kegawatan...........................................H. Proses Keperawatan

1. Pengkajian Fokus........................................................2. Diagnosa Keperawatan...........................................................3. Fokus Intervensi...........................................................BAB III: PENUTUPA. Kesimpulan..............................................................B. Saran....................................................................DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ( Menyusul y ibu )Kasus-kasus keracunan pangan di Indonesia bulan Januari hingga Agustus 2004 meliputi sakit sebanyak 3316 orang dan meninggal sebanyak 14 orang (Badan POM, 2004). Keracunan makanan disebabkan karena memakan makanan yang berbahaya atau terkontaminasi oleh bakteri patogen. Makanan yang terkontaminasi oleh bakteri patogen rasa dan aromanya tidak berubah sehingga tidak bisa dideteksi oleh mata telanjang. Selain itu faktor kurangnya pengetahuan tentang pencegahan keracunan makanan dan faktor penanganan dan penyimpanan makanan yang tidak benar juga turut mempengaruhi timbulnya keracunan makanan. Gejala yang paling umum adalah sakit perut, muntah, dan diare ( Sumoprastowo, 2000 ). Salah satu contoh keracunan makanan yaitu produk burger daging ayam beku pada tahun 1991 di perusahaan Mac Donalds Inggris (Industry Council for Development, 1996). Keracunan pangan sering terjadi pada penyelenggaraan makanan banyak khususnya daging ayam.Salah satu institusi yang melakukan suatu penyelenggaraan makanan banyak adalah panti rehabilitasi napza. Panti rehabilitasi napza merupakan tempat penampungan pemakai atau pecandu napza, yang sudah diidap dalam kadar tidak tentu. Rehabilitasi napza adalah bukan sekedar memulihkan kesehatan semula pemakai, melainkan memulihkan pemakai secara utuh dan menyeluruh (Somar, 2000). Dalam memulihkan kesehatan pecandu konsumsi makanan juga memegang peranan penting. Daging ayam merupakan salah satu bahan makanan yang dikonsumsi pecandu. Daging ayam umumnya mempunyai sifat mudah rusak dan cepat busuk. Selain itu daging ayam mempunyai resiko keracunan makanan sedang. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan usaha pencegahan dengan cara pengawetan dan pengolahan yang tepat, yaitu mulai dari pengolahan tradisional hingga modern (Winarno, 1993).Dalam suatu institusi pengolahan makanan baik sekala kecil maupun besar pengawasan mutu produk makanan merupakan hal yang penting dilaksanakan. Pengawasan mutu dapat dilakukan melalui sistem HACCP yang bertujuan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu produk itu sendiri. Sistem HACCP yaitu suatu sistem yang bertujuan mengidetifikasi bahaya spesifik yang mungkin timbul dan cara pencegahan untuk mengendalikan bahaya tersebut, yang harus dikembangkan untuk setiap produk beserta kondisi pengawasan dan distribusinya.

B. Tujuan

1. Tujuan umum:

Untuk mengetahui asuhan kegawat daruratan dengan keracunan.

2. Tujuan khusus:

Untuk mengetahui pengertian dari keracunan.

Untuk mengetahui macam-macam keracunan.

Untuk mengetahui gambaran klinik dari keracunan.

Untuk mengetahui patofisiologi dari keracunan.

Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari keracunan.

Untuk mengetahui penatalaksanaan dari keracunan.

Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan dari keracunan.BAB II

LANDASAN TEORI

A. PengertianRacun adalah zat yang ketika tertelan, terisap, diabsorbsi, menempel pada kulit atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relative kecil menyebabkan cedera dari tubuh dengan adanya reaksi kimia. (Brunner & Suddarth. 2002)

Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan melalui inhalasi dan menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena kesengajaan, merupakan kondisi bahaya kesehatan. Sekitar 7% dari semua pengunjung departemen kedaruratan dating karena masalah toksik. (Brunner & Suddart. 2002)

B. Sifat-sifat Racun Secara Umum

1. Efek local2. Pemaparan akut, dan kronik : termasuk efek karsinogen, teratogen, reproduksi, mutagen, dan interaksi bahan dengan obat, alcohol.C. Tanda dan Gejala Keracunan Secara Umum

1. Hipersalivasi (air ludah berlebihan)

2. Gangguan gastrointestinal : mual-muntah

3. Mata : miosisD. Patofisiologi

Botulisme adalah suatu bentuk keracunan yang spesifik, sebagai akibat penyerapan toksin yang dikeluarkan oleh clostridium botulinum. Toksin botulinum mempunyai efek farmakologis yang sangat spesifik yaitu menghambat hantaran pada serabut saraf kolinergik. Pada penyelidikan diperlihatkan bahwa sejumlah kecil toksin mengganggu hantaran saraf di dekat percabangan akhir dan di ujung serabut saraf dan menghambat dan menginaktivasikan enzim asetilkolinesterase. Enzim secara normal menghancurkan asetilkolin yang dilepaskan oleh susunan saraf pusat, ganglion autonom, ujung ujung saraf simpatis dan ujung ujung saraf motorik. Hambatan asetilkolinesterase menyebabkan tertumpuknya sejumlah besar asetilkolin pada tempat tempat tersebut.Pada susunan saraf pusat, perangsangan permulaan akan segera di ikuti dengan depresi sel-sel yang menyebabkan kekejangan (konvulsi).yang kemudian di ikuti dengan gangguan / penurunan kesadaran.rangsangan permulaan dan di ikuti dengan hambatan pada ganglion autonom menyebabkan gangguan / disfungsi yang bervariasi dan multiple alat-alat tubuh yang dipersyarafi oleh system syaraf autonom. Penumpukan asetilkolin pada ujung syaraf simpatis menyebabkan konstriksi pupil, penglihatan kabur, stimulasi otot-otot intestinal, kontriksi otot-otot bronchial dengan gejala-gejala gangguan pernapasan: penekakan aktifitas cardiac pace maker.

E. Macam-macam Keracunan1. Keracunan Alkohol

Gejala keracunan alkohol :

- Kekacauan mental

- Pupil mata dilatasi (melebar)

- Sering muntah-muntah

- Bau alkohol

Pertolongan awal :

1. Upayakan muntah bila pasien sadar

2. Pertahankan agar pernapasan baik

3. Bila sadar, beri minum kopi hitam

4. Bawa ke sarana kesehatan

2. Keracunan asetosal/aspirin/naspro

Gejala keracunan asetosal/aspirin/naspro :

- Nafas dan nadi cepat

- Gelisah

- Nyeri perut

- Muntah (sering bercampur darah)

- Sakit kepala

Pertolongan pertama :

1. Upayakan pertolongan dengan membuat nyaman pasien

2. Bila sadar beri minum air atau susu3. Bawa ke sarana kesehatan

3. Keracunan luminal dan obat tidur sejenisnya

Gejala keracunan luminal dan obat tidur sejenisnya :

- Refleks berkurang

- Depresi pernapasan

- Pupil kecil, akhirnya dilatasi (melebar)

- Shock, bisa koma

Pertolongan Pertama :

1. Bila penderita sadar, berikan minum hangat serta upayakan agar penderita muntah2. Bila penderita tidak sadar, bersihkan saluran pernapasan3. Penderita dibawa ke sarana kesehatan terdekat4. Keracunan arsen/racun tikus :

Gejala keracunan arsen/racun tikus :

- Perut dan tenggorokan terasa terbakar

- Muntah, mulut kering

- Buang air besar seperti air cucian beras.

- Nafas dan kotoran berbau bawang

- Kejang, syok

Pertolongan pertama :

1. Usahakan agar dimuntahkan

2. Beri minum hangat /susu atau larutan norit

3. Segera kirim ke puskesmas/rumah sakit

5. Keracunan bensin/minyak tanah

Gejala keracunan bensin/minyak tanah :

- Inhalasi : nyeri kepala, mual,lemah, sesak nafas

- Ditelan : Muntah,diare, sangat berbahaya jika terjadi aspirasi (terhisap

saluran pernafasan)

Pertolongan pertama :

1. Jangan lakukan muntah buatan

2. Beri minum air hangat

3. Segera kirim ke puskesmas/ rumah sakit

6. Keracunan makanan laut

Beberapa jenis makanan laut seperti kepiting, rajungan dan ikan lautnya dapat menyebabkan keracunan ;

Gejala :

- Masa laten 1/3 4 jam

- Rasa panas disekitar mulut

- Rasa baal pada ekstremitas

- Lemah

- Mual, muntah

- Nyeri perut dan diare

Pertolongan pertama:

1. Netralisir dengan cairan

2. Upayakan muntah

7. Keracunan jengkol

Keracunan jengkol terjadi karena terbentuknya kristal asam jengkol dalam saluran kencing. Ada beberapa hal yang diduga mempengaruhi timbulnya keracunan yaitu jumlah yang dimakan, cara penghidangan dan makanan penyerta lainnya.

Gejala :

- Nafas, mulut dan air kemih penderita berbau jengkol

- Sakit pinggang yang diserta sakit perut

- Nyeri waktu buang air kecil

- Buang air kecil disertai darah.

Pertolongan pertama:

1. Minum air putih yang banyak

2. Obat penghilang rasa sakit dapat diberikan untuk menghilangkan rasa sakitnya.

3. Segera kirim ke puskesmas / rumah sakit

8. Keracunan jamur

Gejala alam yang muncul dalam jarak beberapa menit sampai 2 jam.- Sakit perut

- Muntah

- Diare

- Berkeringat banyak

Pertolongan pertama:

1. Netralisasi dengan cairan

2. Upayakan pasien muntah

3. Segera kirim ke puskesmas/rumah sakit

9. Keracunan Makanan

Penyebab adalah staphylococcus. Seringkali menyebabkan keracunan dengan masa laten 2-8 jam.Gejala :

- Mual, muntah

- Diare

- Nyeri perut

- Nyeri kepala, demam

- Dehidrasi

- Dapat menyerupai disentri

Pertolongan pertama :

1. Muntah buatan

2. Beri minuman yang banyak

3. Segera kirim ke puskesmas/rumah sakit 10. Keracunan melalui inhalasi

Penatalaksanaan umum :1. Bawa pasien ke udara segar dengan segera; buka semua pintu dan jendela. 2. Longgarkan semua pakaian ketat. 3. Mulai resusitasi kardiopulmonal jika diperlikan. 4. Cegah menggigil; bungkus pasien dengan selimut. 5. Pertahankan pesien setenang mungkin.5. Jangan berikan alcohol dalam bentuk apapun.11. Keracunan Bahan Kimia, padat , cair, dan uap

Pengertian bahan kimia beracun didefinisikan sebagai bahan kimia yang dalam jumlah kecil menimbulkan keracunan pada manusia atau mahluk hidup lainnya. Umumnya zat-zat toksik masuk lewat pernapasan atau kulit, kemudian beredar ke seluruh tubuh atau ke organ-organ tertentu. Bahan kimia tersebut dapat langsung mengganggu organ-organ tubuh tertentu, seperti paru-paru, hati, dan lain-lain. Tetapi dapat pula zat-zat tersebut berakumulasi, tergantung pada sifatnya, ke dalam tulang, hati, darah atau cairan limpa dan organ lain sehingga akan menghasilkan efek dalam jangka panjang.

Di dalam industri perlu dipelajari suatu cabang ilmu khusus tentang efek bahan kimia beracun, yaitu toksikologi industri mempelajari racun-racun yang dipergunakan, diolah maupun dihasilkan oleh pabrik atau perusahaan. Dengan mempelajari toksikologi industri dapat dilakukan usaha-usaha pencegahan bagi tenaga kerja yang dalam kerjanya sehari-sehari menderita pemaparan bahan beracun. Usaha-usaha ini dapat dilakukan dengan cara mendesain proses kerja yang aman atau memakai alat pelindung diri.Bahan kimia umum yang sering menimbulkan keracunan adalah yang berikut.

Golongan pestida, yaitu organo klorin, organo fosfat, karbamat, arsenik.

Golongan gas, yaitu Nitrogen (N2), Metana (CH4), Karbon Monoksida (CO), Hidrogen Sianida (HCN), Hidrogen Sulfida (H2S), Nikel Karbonil (Ni(CO)4), Sulfur Dioksida (SO2), Klor (Cl2), Nitrogen Oksida (N2O; NO; NO2), Fosgen (COCl2), Arsin (AsH3), Stibin (SbH3).

Golongan metalloid/logam, yaitu timbal (Pb), Posfor (P), air raksa (Hg), Arsen (As), Krom (Cr), Kadmium (Cd), nikel (Ni), Platina (Pt), Seng (Zn).

Golongan bahan organic, yaitu Akrilamida, Anilin, Benzena, Toluene, Xilena, Vinil Klorida, Karbon Disulfida, Metil Alkohol, Fenol, Stirena.12. Gigitan ularBisa (racun) ular terdiri dari terutama protein yang mempunyai efek fisiologik yang luas atau bervariasi. Sisitem multiorgan, terutama neurologic, kardiovaskuler, sisitem pernapasan mungkin terpengaruh.Bantuan awal pertama pada daerah gigitan ular meliputi mengistirahatkan korban, melepaskan benda yang mengikat seperti cincin, memberikan kehangatan, membersihkan luka, menutup luka dengan balutan steril, dan imobilisasi bagian tubuh dibawah tinggi jantung. Es atau torniket tidak digunakan. Evaluasi awal di departemen kedaruratn dilakukan dengan cepat meliputi : Menentukan apakah ular berbisa atau tidak. Menentukan dimana dan kapan gigitan terjadi sekitar gigitan. Menetapkan urutan kejadian, tanda dan gejala (bekas gigi, nyeri, edema, dan eritema jaringan yang digigit dan didekatnya). Menentukan keparahan dampak keracunan. Memantau tanda vital. Mengukur dan mencatat lingkar ekstremitas sekitar gigitan atau area pada beberapa titik. Dapatkan data laboratorium yang tepat (mis. HDL, urinalisi, dan pemeriksaan pembekuan).13. 5. Sengatan serangga

14. Manifestasi klinis bervariasi dari urtikaria umum, gatal, malaise, ansietas, sampai edema laring, bronkhospasme berat, syok dan kematian. Umumnya waktu yang lebih pendek diantara sengatan dan kejadian dari gejala yang berat merupakan prognosis yang paling buruk.15. Penatalaksanaan umum:

16. Berikan epineprin (cair) secara langsung. Masase daerah tersebut untuk mempercepat absorbsi.

17. Jika sengatan pada ekstermitas, berikan tornikuet dengan tekanan yang tepat untuk membendung aliran vena dan limfatik.18. Instruksikan pasien untuk hal-hal berikut:19. Injeksi segera dengan epineprin

20. Buang penyengat dengan garukan cepat kuku jari21. Bersihkan area dengan sabun air dan tempelkan es

22. Pasang tornikuet proksimal terhadap sengatan

23. Laporkan pada fasilitas perawatan kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut

F. Gambaran KlinikMenurut Brunner & Suddarth, 2002:

Yang paling menonjol adalah kelainan visus,hiperaktifitas kelenjar ludah,keringat dan gangguan saluran pencernaan,serta kesukaran bernafas.Gejala ringan meliputi : Anoreksia, nyeri kepala, rasa lemah,rasa takut, tremor pada lidah,kelopak mata,pupil miosis.

Keracunan sedang : nausea, muntah-muntah, kejang atau kram perut, bradikardi.

Keracunan berat : diare, reaksi cahaya negatif ,sesak nafas, sianosis, edema paru ,inkontenesia urine dan feces, komaG. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium toksikologi uji darah, urin, isi lambung, atau muntah. foto sinar X abdomen

H. Prinsip PenatalaksanaanMenurut Brunner & Suddarth, 2002:

1. Resusitasi.Setelah jalan nafas dibebaskan dan dibersihkan,periksa pernafasan dan nadi.Infus dextrose 5 % kec. 15- 20 tts/menit .,nafas buatan,oksigen,hisap lendir dalam saluran pernafasan,hindari obat-obatan depresan saluran nafas,kalu perlu respirator pada kegagalan nafas berat.Hindari pernafasan buatan dari mulut kemulut, sebab racun organo fhosfat akan meracuni lewat mlut penolong.Pernafasan buatan hanya dilakukan dengan meniup face mask atau menggunakan alat bag valve mask.2. Eliminasi.Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar atau dengan pemeberian sirup ipecac 15 - 30 ml. Dapat diulang setelah 20 menit bila tidak berhasil.Katarsis,( intestinal lavage ), dengan pemberian laksan bila diduga racun telah sampai diusus halus dan besar.

Kumbah lambung atau gastric lavage, pada penderita yang kesadarannya menurun,atau pada penderita yang tidak kooperatif.Hasil paling efektif bila kumbah lambung dikerjakan dalam 4 jam setelah keracunan.Keramas rambut dan memandikan seluruh tubuh dengan sabun.Emesis,katarsis dan kumbah lambung sebaiknya hanya dilakukan bila keracunan terjadi kurang dari 4 6 jam . pada koma derajat sedang hingga berat tindakan kumbah lambung sebaiknya dukerjakan dengan bantuan pemasangan pipa endotrakeal berbalon,untuk mencegah aspirasi pnemonia.3. Anti dotum (penawar racun)Atropin sulfat ( SA ) bekerja dengan menghambat efek akumulasi Akh pada tempat penumpukan.

a) Mula-mula diberikan bolus IV 1 - 2,5 mgb) Dilanjutkan dengan 0,5 1 mg setiap 5 - 10 - 15 menitsamapi timbulk gejala-gejala atropinisasi (muka merah,mulut kering,takikardi,midriasis,febris dan psikosis).c) Kemudian interval diperpanjang setiap 15 30 - 60 menit selanjutnya setiap 2 4 6 8 dan 12 jam.d) Pemberian SA dihentikan minimal setelaj 2 x 24 jam. Penghentian yang mendadak dapat menimbulkan rebound effect berupa edema paru dan kegagalan pernafasan akut yang sering fatal.I. Penatalaksanaan kegawatan TindakanABCDA.Airway (jalan napas)

Bebaskan jalan napas dari sumbatan, apabila perlu pasang pipa endotrakeal.B.Breathing (pernapasan)Jaga agar pasien dapat bernapas dengan baik.apabila perlu berikan bantuan pernapasan .C.Circulation (peredaran darah)Tekanan darah dan nadi dipertahankan dalam batas normalD.Dekontamination (pembersihan)Guna mengurangi absorpsi bahan racun dilakukan pembersihan racun, tergantung cara masuk bahan racun. Bahan racun yang tertelan atau melalui saluran cerna dapat dilakukan pengosongan lambung dan usus dengan : EmesisDapat dilakukan secara mekanik dengan merangsang daerah orofaring bagian belakang.dengan obat-obatan dapat diberikan larutan Ipekak 10-20 cc dalam 1gelas air hangat, dan dapat di ulang setelah 30 menit. kumbah lambungkumbah lambung bertujuan mencuci sebersih mungkin bahan racun dari lambung, namun kurang bermanfaat apabila dilakukan 4 jam setelah bahan tertelan, karena bahan telah melewati lambung dan telah diabsorbsi oleh usus. Kataris (urus-urus)Dilakukan apabila bahan racun diperkirakan telah mencapai usus, yang berguna membersihkan usus halus sampai kolon, dengan memakai 30 g magnesium sulfat. EliminasiEliminasi adalah melakukan pembersihan racun dimana diperkirakan racun telah beredar dalam darah,dengan cara diuresis paksa, hemodialisis, hemoperfusi Diuresis paksaTerutama berguna pada keracunanyang dapat dikeluarkan melalui ginjal.tidak boleh dikerjakan pada keadaan syok, dekompensasi jantung, gagal ginjal, edema paru dan kercunan akibat bahan yang tidak dapat di ekresi melalui ginjal. DialisisDapat dilekukan hemodialisis maupun dialisis peritoneal. Pemberian antidotAntidot (bahan penawar) berguna untuk melawan efek racun yang telah masuk dalam organ target.tidak smua racun mempnyai antidote yang spesifik.

J. Asuhan KeperawatanMenurut Brunner & Suddart, 2002:

Pengkajian.Pengkajian difokuskan pada masalah yang mendesak seperti jalan nafas dan sirkulasi yang mengancam jiwa,adanya gangguan asam basa,keadaan status jantung,status kesadran.

Riwayat kesadaran : riwayat keracunan,bahan racun yang digunakan,berapa lama diketahui setelah keracunan,ada masalah lain sebagi pencetus keracunan dan sindroma toksis yang ditimbulkan dan kapan terjadinya. Intervensi.

a) Pertolongan pertama yang dilakukan meliputi : tindakan umum yang bertujuan untuk keselamatan hidup,mencegah penyerapan dan penawar racun ( antidotum ) yan meliputi resusitasi, : Air way, breathing, circulasi eliminasi untuk menghambat absorsi melalui pencernaaan dengan cara kumbah lambung,emesis, ata katarsis dan keramas rambut.

b) Berikan anti dotum sesuai advis dokter minimal 2 x 24 jam yaitu pemberian SA.c) Perawatan suportif; meliputi mempertahankan agar pasien tidak samapi demamatau mengigil,monitor perubahan-perubahan fisik seperti perubahan nadi yang cepat,distress pernafasan, sianosis, diaphoresis, dan tanda-tanda lain kolaps pembuluh darah dan kemungkinan fatal atau kematian.Monitir vital sign setiap 15 menit untuk bebrapa jam dan laporkan perubahan segera kepada dokter.Catat tanda-tanda seperti muntah,mual,dan nyeri abdomen serta monotor semua muntah akan adanya darah. Observasi fese dan urine serta pertahankan cairan intravenous sesuai pesanan dokter.d) Jika pernafasan depresi ,berikan oksigen dan lakukan suction. Ventilator mungkin bisa diperlukan.e) Jika keracunan sebagai uasaha untuk mebunuh diri maka lakukan safety precautions . Konsultasi psikiatri atau perawat psikiatri klinis. Pertimbangkan juga masalah kelainan kepribadian,reaksi depresi,psikosis neurosis, mental retardasi dan lain-lain.K. Diagnosa dan intervensiMenurut Hudak & Gallo, 2002:

Diagnosa KeperawatanKriteria Hasil dan TujuanIntervensi Keperawatan

Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan jantung : yang berhubungan dengan disritmia dan peningkatan kebutuhan oksigen miokardial.Tanda-tanda vital akan kembali atau tetap dalam batas-batas normala. Kaji tanda-tanda vital setiap 15 menit

b. Catat perubahan-perubahan pada tekanan darah, frekuensi jantung, dan irama jantung.

c. Pertahankan tirah baring

d. Auskultasi denyut jantung setiap 2 jam

e. Berikan oksigen dan pengobatan, sesuai perintah.

f. Pantau oksimetri nadi dan gas-gas darah arteri sesuai perintah.

Hipertermia: yang berhubungan dengan toksisitas obat.Suhu tubuh normal akan dipertahankan1. Pantau suhu tiap 15 jam.2. Baringkan pasien pada ruangan yang sejuk.

3. Minimalkan aktivitas visik.

4. Gunakan busa dan air suam-suam kuku untuk melap pasien.

5. Lakukan terterapi pendinginan eksternal.

Resiko tinggi terhadap cidera: yang berhubungan dengan kejang kegelisahan dan agitasi.Pasien terbebas dari cidera fisik.1. Pantau aktivitas kejang.2. Bantalan pada tirali tempat tidur.

3. Letakkan jalan napas oral di samping tempat tidur.

4. Peralatan suksion tersedia di samping tempat tidur.

5. Tempatkan tempat tidur di posisi yang rendah, semua tiralinya terpasang.

6. Berikan anti konvulsans, sesuai perintah.

7. Berikan sedasi, sesuai perintah.

8. Gunakan ristrain yang lunak untuk agitasi (bukan untuk control kejang).

Ansietas: yang berhubungan dnegan penggunaan stimulan terhadap rasa takut yang tidak diketahuio atau rasa takut terhadap akibat hukum.Pasien akan memperagakan kemampuan mengendalikan diri yang efektif.1. Kurangi stimuli lingkungan.2. Hargai dan dukung mekanisme kop[ing yang efektif yang digunakan pasien.

3. Identifikasi sistim pendukung.

4. Dapatkan kerjasama pasien dan biarkan pasien untuk ikut serta dalam perawatan jika memungkinkan.

5. Jelaskan semua prosedur dfalam istilah sederhana.

Defisit pengetahuan: berhubungan dengan penyalah gunaan kokain.Pasien akan mengungkapkan pengetahuannya tentang manifestasi manifestasi fisik dari penyalah gunaan kokain.1. Kaji pengetahuan pasien dan keluarganya tentang toksisitas dan tindakan pengobatan kokain.2. Kaji kemampuan belajar dan kesiapan untuk belajar.

3. Sediakan informasi tentang efek-efek fisik dari penyalah gunaan kokain.

4. Jernihkan kesalah pahaman.

BAB IIIPENUTUP

A. KesimpulanIntoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan melalui inhalasi dan menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena kesengajaan, merupakan kondisi bahaya kesehatan. Sekitar 7% dari semua pengunjung departemen kedaruratan dating karena masalah toksik. (Brunner & Suddart. 2002)Gambaran kliniknya yang paling menonjol adalah kelainan visus,hiperaktifitas kelenjar ludah,keringat dan gangguan saluran pencernaan,serta kesukaran bernafas. Gejala ringan meliputi : Anoreksia, nyeri kepala, rasa lemah,rasa takut, tremor pada lidah,kelopak mata,pupil miosis.

Keracunan sedang : nausea, muntah-muntah, kejang atau kram perut, bradikardi. Keracunan berat : diare, reaksi cahaya negatif ,sesak nafas, sianosis, edema paru ,inkontenesia urine dan feces, komaPertolongan pertama yang dilakukan meliputi : tindakan umum yang bertujuan untuk keselamatan hidup,mencegah penyerapan dan penawar racun (antidotum) yang meliputi resusitasi : Air way, breathing, circulasi eliminasi untuk menghambat absorsi melalui pencernaaan dengan cara kumbah lambungB. Saran

Harapan pembuatan makalah ini bisa dijadikan bahan pembelajaran selanjutnya dan bisa bermanfaat

DAFTAR PUSTAKA Brunner and Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. vol.3. Jakarta:EGC Hudak & Gallo. 2002. Keperawatan Kritis Vol 2. Jakarta : EGC Mohammad, Kartono. 2004. Pertolongan Pertama. Jakarta: PT Gramedia

Doengoes E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC