Click here to load reader

jonh lbm2 kgd

  • View
    48

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kedokteran

Text of jonh lbm2 kgd

LBM 2Sesak nafas hebat dan pusingSTEP 1 ketorolac : gol.NSAID bekerja menghambat sintesis prostaglandin, efektif mengurangi pembengkakan dan nyeri pd sendi,biasanya dipakai buat inflamasi yg akut, jangka pendek diraba, teraba atau tidak, teraba diliat nafas apa tdk? ya, oksigenasi 100%. tidak nafas : bantuan nafas 2x, kompresi dada 15x.tdk teraba : kompresi dada)D : kesadarannyaE : membebaskan agar tdk ada yg mengganggu jalan nafas.tatalaksana ABCDE pd syok anafilaksi?

A (AIRWAY) Jalan NapasSetelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan melakukan tindakan :1. Pemeriksaan jalan napasTindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban1. Membuka jalan napasSetelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak sadar tonus otototot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu (Head tilt chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula. Teknik membuka jalan napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas kesehatan adalah tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan harus dapat melakukan manuver lainnya.Teknik-teknik mempertahankan jalan napas (airway): a. tindakan kepala tengadah (head tilt) Tindakan ini dilakukan jika tidak ada trauma pada leher. Satu tangan penolong mendorong dahi kebawah supaya kepala tengadah (Latief dkk, 2009). b. Tindakan dagu diangkat (chin lift) Jari-jemari satu tangan diletakkan dibawah rahang, yang kemudian secara hati-hati diangkat keatas untuk membawa dagu ke arah depan. Ibu jari dapat juga diletakkan di belakang gigi seri (incisor) bawah dan secara bersamaan dagu dengan hati-hati diangkat. Maneuver chin lift tidak boleh menyebabkan hiperekstensi leher (IKABI, 2004)

Gambar 2.3. Head-tilt, chin-lift maneuver (sumber: European Resuscitation Council Guidelines for Resuscitation 2010).c. tindakan mendorong rahang bawah (jaw-thrust) pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah diangkat didorong kedepan pada sendinya tanpa menggerakkan kepala-leher. (Latief dkk, 2009).

Non surgical Endotrakeal intubasi Orotrakeal Nasotrakeal Surgical Krikotiroidotomi

trakeostomi

B ( BREATHING ) Bantuan napasTerdiri dari 2 tahap :1. Memastikan korban / pasien tidak bernapas.Dengan cara melihat pergerakan naik turunnya dada, mendengar bunyi napas dan merasakan hembusan napas korban / pasien. Untuk itu penolong harus mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban / pasien, sambil tetap mempertahankan jalan napas tetap terbuka. Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10 detikMenilai pernapasan dengan memantau atau observasi dinding dada pasien dengan cara melihat (look) naik dan turunnya dinding dada, mendengar (listen) udara yang keluar saat ekshalasi, dan merasakan (feel) aliran udara yang menghembus dipipi penolong (Mansjoer, 2009).

Gambar 2.5. Look, listen, and feel (sumber: European Resuscitation Council Guidelines for Resuscitation 2010).

1. Memberikan bantuan napas.Jika korban / pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,52 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 400 -500 ml (10 ml/kg) atau sampai dada korban / pasien terlihat mengembang.

Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 1617%. Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban / pasien setelah diberikan bantuan napas.C (CIRCULATION) Bantuan sirkulasiTerdiri dari 2 tahapan :1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban / pasien.Ada tidaknya denyut jantung korban / pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher korban / pasien, dengan dua atau tifa jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kirakira 12 cm, raba dengan lembut selama 510 detik.

Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban / pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas.1. Melakukan bantuan sirkulasi Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar.Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 6080 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik.

D (DEFRIBILATION)Defibrilation atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan istilah defibrilasi adalah suatu terapi dengan memberikan energi listrik. Hal ini dilakukan jika penyebab henti jantung (cardiac arrest) adalah kelainan irama jantung yang disebut dengan Fibrilasi Ventrikel. Dimasa sekarang ini sudah tersedia alat untuk defibrilasi (defibrilator) yang dapat digunakan oleh orang awam yang disebut Automatic External Defibrilation, dimana alattersebut dapat mengetahui korban henti jantung ini harus dilakukan defibrilasi atau tidak, jika perlu dilakukan defibrilasi alat tersebut dapat memberikan tanda kepada penolong untuk melakukan defibrilasi atau melanjutkan bantuan napas dan bantuan sirkulasi sajaI. Disability (Neurologic Evaluation)During the primary survey a basic neurological assessment is made, known by the mnenomic AVPU (alert, verbal stimuli response, painful stimuli response, or unresponsive). A more detailed and rapid neurological evaluation is performed at the end of the primary survey. This establishes the patient's level of consciousness, pupil size and reaction,lateralizing signs, andspinal cord injurylevel.TheGlasgow Coma Scaleis a quick method to determine the level of consciousness, and is predictive of patient outcome. If not done in the primary survey, it should be performed as part of the more detailed neurologic examination in the secondary survey. An altered level of consciousness indicates the need for immediate reevaluation of the patient's oxygenation, ventilation, and perfusion status.Hypoglycemiaand drugs, including alcohol, may influence the level of consciousness. If these are excluded, changes in the level of consciousness should be considered to be due totraumatic brain injuryuntil proven otherwise.

II. Exposure / Environmental controlThe patient should be completely undressed, usually by cutting off the garments. It is imperative to cover the patient with warm blankets to preventhypothermiain the emergency department. Intravenous fluids should be warmed and a warm environment maintained. Patient privacy should be maintained.

2.2.3.5. Posisi Pemulihan (Recovery Position) Recovery position dilakukan setelah pasien ROSC (Return of Spontaneous Circulation). Urutan tindakan recovery position meliputi: a. Tangan pasien yang berada pada sisi penolong diluruskan ke atas b. Tangan lainnya disilangkan di leher pasien dengan telapak tangan pada pipi pasien c. Kaki pada sisi yang berlawanan dengan penolong ditekuk dan ditarik ke arah penolong, sekaligus memiringkan tubuh korban ke arah penolong

Dengan posisi ini jalan napas diharapkan dapat tetap bebas (secure airway) dan mencegah aspirasi jika terjadi muntah. Selanjutnya, lakukan pemeriksasn pernapasan secara berkala (Resuscitation Council UK, 2010).

BASIC LIFE SUPPORT (BLS) PRIMARY SURVEYAssessAction

Airway Apakah jalan napasnya terbuka?Buka airway menggunakan teknik non-invasif (headtilt-chinlift / jaw thrust tanpa mengextensikan kepala jika duiduga trauma).

Breathing Apakah respirasinya adekuat?Look, listen, and feel. Jika tak ada napas, beri 2x bantuan napas. Beri sekitar 1 detik setiap bantuan napas. Setiap bantuan napas harus membuat dada korban terangkat. Jangan melakukan ventilasi terlalu cepat atau terlalu banyak (volume).

Circulation Apakah ada pulsasi?Periksa pulsasi a. Carotis (dewasa) atau a. Femoralis / a. brachialis (infant) paling tidak 5 detik tapi tidak lebih lama dari 10 detik.

Defibrillation Jika pulsasi tidak ada, periksa bila ada irama yang shockable maka gunakan defibrillator atau AED (Automated External Defibrillation)Siapkan shock jika ada indikasi. Ikuti segera setiap shock dengan CPR, mulai dengan kompresi dada.

Sumber : ACLS Provider Manual. AHA, 2006

2.3.1. Henti Napas (Respiratory Arrest) Henti Napas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya serangan stroke, keracunan obat, tenggelam, inhalasi asap/uap/gas, obstruksi jalan napas oleh benda asing, tersengat listrik, tersambar petir, serangan infark jantung, radang epiglottis, tercekik (suffocation), trauma dan lain-lain (Latief dkk, 2009). Tanda dan gejala henti napas berupa tidak sadar (pada beberapa kasus terjadi kolaps yang tiba-tiba), pernapasan tidak tampak atau pasien bernapas dengan terengah-engah secara intermitten, sianosis dari mukosa buccal dan liang telinga, pucat secara umum, nadi karotis teraba (Muriel, 1995). Pada awal henti nafas, jantung masih berdenyut, masih teraba nadi, pemberian O2 ke otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit. Kalau henti napas mendapat pertolongan dengan segera maka pasien akan terselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau terlambat akan berakibat henti jantung yang mungkin menjadi fatal (Latief dkk, 2009). 2.3.2. Henti Jantung (Cardiac Arrest) Henti jantung adalah keadaan terhentinya alran darah dalam system sirkulasi tubuh secara tiba-tiba akibat terganggunya efektifitas kontraksi jantung saat sistolik (Mansjoer, 2009).Berdasarkan etiologinya henti jantung disebabkan oleh penyakit jantung (82,4%); penyebab internal nonjantung (8,6%) seperti akibat penyakit paru, penyakit serebrovaskular, penyakit kanker, perdarahan saluran cerna obstetrik/pediatrik, emboli paru, epilepsi, diabetes mellitus, penyakit ginjal; dan penyebab eksternal nonjantung (9,0%) seperti akibat trauma, asfiksisa, overdosis obat, upaya bunuh diri, sengatan listrik/petir (Mansjoer, 2009). Henti jantung biasanya terjadi beberapa menit setelah henti napas. Umumnya walaupun kegagalan pernapasan telah terjadi, denyut jantung dan pembuluh darah masih dapat berlangsung terus sampai kira-kira 30 menit. Pada henti jantung dilatasi pupil kadang-kadang tidak jelas. Dilatasi pupil mulai terjadi 45 detik setelah aliran darah ke otak berhenti dan dilatasi maksimal terjadi dalam waktu 1 menit 45 detik. Bila telah terjadidilatasi pupil maksimal, hal ini menandakan sudah 50% kerusakan otak irreversible (Alkatiri dkk, 2007). Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis, femoralis, radialas), disertai kebiruan (sianosis) atau pucat sekali, pernapasan berhenti atau satu-satu (gasping, apnu), dilatasi pupil tak bereaksi dengan ranngsang cahaya dan pasien dalam keadaan tidak sadar (Latief dkk, 2009)http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31633/4/Chapter%20II.pdf

9. kenapa dokter memasang ECG, pulse oxymetri pd pasien?

10. apa tujuan dokter memberikan obat inotropik dan vasopressor pd pasien?

Apabila tekanan darah tidak naik dengan pemberian cairan, dapat diberikan vasopresor melalui cairan infus intravena. Larutan 1 ml epineprin 1:1000 dalam 250 ml dextrosa (konsentrasi 4 mg/ml) diberikan dengan infus 1-4 mg/menit atau 15-60 mikrodrip/menit (dengan infus mikrodrip), bila diperlukan dosis dapat dinaikan sampai dosis maksimum 10 mg/ml, atau aramin 2-5 mg bolus IV pelan-pelan, atau levarterenol bitartrat 4-8 mg/liter dengan dekstrosa 5% dengan kecepatan 2ml/menit, atau Dopamin 0,3-1,2 mg/Kg BB/jam secara infus dengan dextrosa 5%.Indikasi vasopressor :Bila penggantian cairan yang tepat gagal untuk mengembalikan tekanan darah dan perfusi organ yang adekuat, terapi vasopressor harus segera dilakukan. Terapi vasopressor juga dibutuhkan untuk menjaga perfusi organ menghadapi hipotensi yang mengancam nyawa bahkan ketika fluid challenge masih berlangsung dan hipovolemia belum terkoreksi sepenuhnya.

Anestesiologi FK Undip Bab XV Syok dan Pengelolaan Hemodinamik 289Indikasi inotropik :Saat terjadi keadaan hipotensi meskipun pemberian cairan telah kita lakukan, agentvasopressor sering kita gunakan.Tujuan penggunaan agent vasopressor adalah untukmeningkatkan mean arterial pressure (MAP). Indikasi pemberian agent vasopressor adalah pada keadaan septik syok yang refrakter terhadap resusitasi volume yang adekuat. Indikasi lainnya meliputi penanganan vasodilatory shock saat cardiopulmonary bypass, anaphylaxis, vascular surgery (carotid endarterectomy), drug overdoses (tricyclic antidepressant) danspinal cord trauma.Sedangkan agent inotropik merupakan agent yang memiliki efekmeningkatkan kontraktilitas jantung. Kontraktilitas jantung yang terganggu dapat menurunkan cardiac output sehingga tidak dapat memberikan perfusi maupun hantaranoksigen yang cukup ke jaringan.dr. MadeSupradnyawati , Published byyehezkiel_yesi

11. mengapa dokter mempertimbngkan pemberian injeksi kortikosteroid dan antihistamin?Kortikosteroid digunakan untuk menurunkan respon keradangan, kortikosteroid tidak banyak membantu pada tata laksana akut anafilaksis dan hanya digunakan pada reaksi sedang hingga berat untuk memperpendek episode anafilaksis atau mencegah anafilaksis berulang. Glukokortikoid intravena baru diharapkan menjadi efektif setelah 4-6 jam pemberian. Metilprednisolon 125 mg intravena dpt diberikan tiap 4-6 jam sampai kondisi pasien stabil (yang biasanya tercapai setelah 12 jam), atau hidrokortison intravena 7-10 mg/Kg BB, dilanjutkan dengan 5 mg/kgBB setiap 6 jam, atau deksametason 2-6 mg/kg BB.Pengobatan tambahan dapat diberikan pada penderita anafilaksis, obat-obat yang sering dimanfaatkan adalah antihistamin, kortikosteroid, dan bronkodilator. Pemberian antihistamin berguna untuk menghambat proses vasodilatasi dan peningkatan peningkatan permeabilitas vaskular yang diakibatkan oleh pelepasan mediator dengan cara menghambat pada tempat reseptor-mediator tetapi bukan bukan merupakan obat pengganti adrenalin. Tergantung beratnya penyakit, antihistamin dapat diberikan oral atau parenteral. Pada keadaan anafilaksis berat antihistamin dapat diberikan intravena. Untuk AH2 seperti simetidin (300 mg) atau ranitidin (150 mg) harus diencerkan dengan 20 ml NaCl 0,9% dan diberikan dalam waktu 5 menit. Bila penderita mendapatkan terapi teofilin pemakaian simetidin harus dihindari sebagai gantinya dipakai ranitidin. Anti histamin yang juga dapat diberikan adalah dipenhidramin intravena 50 mg secara pelan-pelan (5-10 menit), diulang tiap 6 jam selama 48 jam.

12. apa saja macam triger yg dapat menyebabkan reaksi anafilaksi?

13. prinsip oksigenasi dan resusitasi cairan pd kasus ini?Oksgenasi : Diberikan oksigen konsentrasi tinggi, gunakan masker denganoxygen reservoir. Pastikanhigh flow oxygen(>10 L/min) untuk mencegah kollapnyareservoirsaat inspirasi. Jika telah dilakukan intubasi pada trakea pasien, berikan ventilasi untuk paru pasien dengan oksigen konsentrasi tinggi menggunakanself-inflating bag.http://www.idijembrana.or.id/index.php?module=artikel&kode=15 Loading cairan melalui infus : Resusitasi cairan bertujuan untuk memulihkan perfusi jaringan dan pengiriman oksigen ke sel (DO2) agar tidak terjadi iskemia jaringan yang berakibat gagal organ. Anastesiologi FK Undip, Bab Terapi Cairan XIV pg.274Lakukanrapid IV fluid challenge(20 mL/kg pada anak-anak atau 500-1000 mL pada orang dewasa) dan monitor respon pasien, berikan dosis berikutnya sesuai keperluan. Cairan Hartmanns atau salin 0,9 % merupakan cairan yang terbaik diberikan saatinitial resuscitation. Jika akses intravena terlambat ditemukan, ruteintra-osseousdapat digunakan untuk resusitasi awal.http://www.idijembrana.or.id/index.php?module=artikel&kode=15

Berlakukah hukum osmolaritas di pembuluh darah? Jika di kasih infuse koloid makanya cairan intersisialnya masuk ke pembuluh darah

Bila tekanan darah tetap rendah, diperlukan pemasangan jalur intravena untuk koreksi hipovolemia akibat kehilangan cairan ke ruang ekstravaskular sebagai tujuan utama dalam mengatasi syok anafilaktik. Pemberian cairan akan meningkatkan tekanan darah dan curah jantung serta mengatasi asidosis laktat. Pemilihan jenis cairan antara larutan kristaloid dan koloid tetap merupakan mengingat terjadinya peningkatan permeabilitas atau kebocoran kapiler. Pada dasarnya, bila memberikan larutan kristaloid, maka diperlukan jumlah 3-4 kali dari perkiraan kekurangan volume plasma. Biasanya, pada syok anafilaktik berat diperkirakan terdapat kehilangan cairan 20-40% dari volume plasma. Sedangkan bila diberikan larutan koloid, dapat diberikan dengan jumlah yang sama dengan perkiraan kehilangan volume plasma.Perlu diperhatikan bahwa larutan koloid plasma protein atau dextran juga bisa melepaskan histamin. Cairan intravena seperti larutan isotonik kristaloid merupakan pilihan pertama dalam melakukan resusitasi cairan untuk mengembalikan volume intravaskuler, volume interstitial, dan intra sel. Cairan plasma atau pengganti plasma berguna untuk meningkatkan tekanan onkotik intravaskuler.

Ada dua tipe utama cairan yang dapat digunakan dalam terapi, yaitu kristaloid dan koloid. Cairan kristaloid adalah larutan berbahan dasar air dengan molekul kecil sehingga membran kapiler permeabel terhadap cairan tersebut. Cairan kristaloid dapat mengganti dan mempertahankan volume cairan ekstraselular. Oleh karena 75-80% cairan kristaloid yang diberikan secara IV menuju ruang ekstravaskular dalam satu jam pada hewan normal, maka cairan kristaloid sangat diperlukan untuk rehidrasi interstisial.Konsentrasi natrium dan glukosa pada kristaloid menentukan osmolalitas dan tonisitas larutan. Pada kebanyakan situasi kritis, cairan kristaloid isotonis pengganti elektrolit yang seimbang, seperti cairan Ringer laktat, digunakan untuk mengganti elektrolit dan bufer pada konsentrasi khas cairan ekstraselular. Garam normal (cairan natrium klorida 0,9%) juga merupakan cairan penggantiyang isotonis tetapi tidak seimbang dalam hal elektrolit dan bufer.Cairan kristaloid dalam volume besar yang diberikan dengan cepat secara IV menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik intravaskular dan penurunan COP dengan cepat. Hal tersebut mengakibatkan ekstravasasi ke interstisial.Cairan koloid adalah larutan kristaloid yang mengandung molekul besar sehingga membran kapiler tidak permeabel terhadap cairan tersebut. Larutan koloid merupakan pengganti cairan intravaskular. Darah total, plasma, dan albumin pekat mengandung koloid alami dalam bentuk protein, terutama albumin. Dextran dan hydroxyethyl starches (HES) adalah koloid sintetis yang dalam penggunaannya dapat digabung dengan darah total atau plasma, tetapi tidak dianggap sebagai pengganti produk darah ketika albumin, sel darah merah, antitrombin, atau protein koagulasi dibutuhkan. Pemulihan dehidrasi dengan menggunakan kombinasi koloid dan kristaloid membutuhkan volume yang lebih sedikit, dan waktu pemulihan dicapai lebih cepat. Apabila ditambah koloid, jumlah infus kristaloid dapat berkurang 40-60% dibandingkan menggunakan kristaloid saja. Kombinasi kristaloid, koloid sintetis, dan koloid alami sering diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasien.

Gambar 1 : Potongan melintang kapiler. Molekul koloid terlalu besar untuk melewati membran sehingga tetap di dalam kapiler (Ettinger dan Feldman, 2005)

14. tatalaksana farmakoterapi dan non farmakoterapi pada reaksi anafilaksi?Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa. Yang termasuk gejala yang berat adalah: 0. Serangan batuk yang hebat 1. Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal 2. Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut) 3. Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk 4. Kesadaran menurun Gejala dapat dimulai dengan gejala prodormal baru menjadi berat, tetapi kadang-kadang langsung berat. Berdasarkan derajat keluhan, anafilaksis juga dibagi dalam derajat ringan, sedang, dan berat. Derajat ringan sering dengan keluhan kesemutan perifer, sensasi hangat, rasa sesak dimulut, dan tenggorok. Dapat juga terjadi kongesti hidung, pembengkakan periorbital, pruritus, bersin-bersin, dan mata berair. Awitan gejala-gejala dimulai dalam 2 jam pertama setelah pemajanan. Derajat sedang dapat mencakup semua gejala-gejala ringan ditambah bronkospasme dan edema jalan nafas atau laring dengan dispnea, batuk dan mengi. Wajah kemerahan, hangat, ansietas, dan gatal-gatal juga sering terjadi. Awitan gejala-gejala sama dengan reaksi ringan. Derajat berat mempunyai awitan yang sangat mendadak dengan tanda-tanda dan gejala-gejala yang sama seperti yang telah disebutkan diatas disertai kemajuan yang pesat kearah bronkospame, edema laring, dispnea berat, dan sianosis. Bisa diiringi gejala disfagia, keram pada abdomen, muntah, diare, dan kejang-kejang. Henti jantung dan koma jarang terjadi. Kematian dapat disebabkan oleh gagal napas, aritmia ventrikel atau renjatan yang irreversible.PenatalaksanaanPenatalaksanaan dari status asmatikus ? yg berat diberi oksigen konsentrasi yg tinggi dulu,inhalasi b2 agonis dosis tinggi selbutamol, diberikan segera steroid sistemik dosis tinggi (prednisolon 30-60 mg), setelah itu berikan bronkodilator intravena (aminofilin ato b2 agonis), kalau pasien sudah diberi teofilin dahulukan yg agonis dulu.

Pencegahan merupakan langkah terpenting dalam penetalaksanaan syok anafilaktik terutama yang disebabkan oleh obat-obatan. Melakukan anamnesis riwayat alergi penderita dengan cermat akan sangat membantu menentukan etiologi dan faktor risiko anafilaksis. Individu yang mempunyai riwayat penyakit asma dan orang yang mempunyai riwayat alergi terhadap banyak obat, mempunyai resiko lebih tinggi terhadap kemungkinan terjadinya syok anafilaktik.Melakukan skin test bila perlu juga penting, namun perlu diperhatian bahwa tes kulit negatif pada umumnya penderita dapat mentoleransi pemberian obat-obat tersebut, tetapi tidak berarti pasti penderita tidak akan mengalami reaksi anafilaksis. Orang dengan tes kulit negatif dan mempunyai riwayat alergi positif mempunyai kemungkinan reaksi sebesar 1-3% dibandingkan dengan kemungkinan terjadinya reaksi 60%, bila tes kulit positif.Dalam pemberian obat juga harus berhati-hati, encerkan obat bila pemberian dengan jalur subkutan, intradermal, intramuskular, ataupun intravena dan observasi selama pemberian. Pemberian obat harus benar-benar atas indikasi yang kuat dan tepat. Hindari obat-obat yang sering menyebabkan syok anafilaktik. Catat obat penderita pada status yang menyebabkan alergi. Jelaskan kepada penderita supaya menghindari makanan atau obat yang menyebabkan alergi. Hal yang paling utama adalah harus selalu tersedia obat penawar untuk mengantisipasi reaksi anfilaksis serta adanya alat-alat bantu resusitasi kegawatan. Desensitisasi alergen spesifik adalah pencegahan untuk kebutuhan jangka panjang.

Jonh Meredy