21

Click here to load reader

Refarat Pedi

  • Upload
    agienoy

  • View
    273

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan

Citation preview

BAB IPENDAHULUAN

Menurut WHO, bayi yang dilahirkan sebelum mencapai usia 37 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir disebut prematur. Di negara maju angka prematuritas adalah 5-10% di Eropa, Australia, dan Asia Tenggara. Di Amerika Serikat bahkan telah meningkat menjadi 12-13% dalam dekade terakhir.1 Angka kelahiran prematur yang tercatat di Indonesia pada tahun 2009 sekitar 19%, sekitar 400 ribu bayi dilahirkan prematur dari 4,4 juta kelahiran setiap tahunnya. Etiologi prematur adalah multifaktorial dan dapat dihubungkan dengan bayi dan ibunya, pada setengah kasus, etiologinya tidak diketahui. Kelahiran prematur menjadi predisposisi berbagai komplikasi neonatal dan masalah pertumbuhan dan perkembangan.2Masalah tumbuh kembang merupakan masalah yang masih perlu diperhatikan tidak hanya pada bayi lahir normal melainkan juga pada bayi prematur. Hal ini dikarenakan tingkat perkembangan bayi prematur pada tahun pertama umumnya lebih rendah dibandingkan bayi aterm. Masalah tumbuh kembang bayi prematur seperti masalah pertumbuhan serta penyimpangan persepsi, intelektual mulai terlihat pada usia 6-12 bulan.3 Gangguan tumbuh kembang pada bayi prematur antara lain dapat disebabkan karena adanya maturitas organ yang belum sempurna, asfiksia, atau karena trauma persalinan. Pada proses persalinan bayi akan mengalami fase hipoksia fisiologis akibat pengurangan sirkulasi darah ferpplasenter sewaktu his atau mengejan. Pada bayi prematur, hal ini akan lebih berat lagi karena adaptasi fungsi paru-paru, sirkulasi darah dan sistem regulasi suhu ataupun kemampuan metabolisme tubuh belum sempurna. Oleh karena itu bayi prematur yang dilahirkan merupakan bayi risiko tinggi yang perlu pengawasan khusus.3,4 Selanjutnya, bayi prematur harus menjalani adaptasi yang cukup berat dan cepat. Makin muda umur kehamilan semakin berat adaptasi yang harus dijalani oleh bayi karena organ-organnya belum matur, terutama sistem saraf pusat (SSP), sehingga kemungkinan terjadinya gangguan neurologik besar. Masalah lain yang merupakan penyulit jangka pendek yang sering terjadi pada bayi prematur antara lain gawat nafas, perdarahan otak dan lain sebagainya, sedangkan penyulit jangka panjang yang sering ditemui yaitu kelumpuhan.5 Dengan begitu kualitas seorang anak dapat dinilai dari proses tumbuh kembang. Proses tumbuh kembang merupakan hasil interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik/keturunan merupakan faktor yang berhubungan dengan gen yang berasal dari ayah dan ibu, sedangkan faktor lingkungan biologis, fisik, psikologis, dan sosial.6

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

1. DefinisiBayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum minggu ke 37, dihitung dari mulai hari pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai periode kehamilan memendek (Sacharin, 2004). Sedangkan menurut Brooker (2008), bayi prematur adalah bayi yang lahir setelah 24 minggu dan sebelum 37 minggu kehamilan, dengan berat badan 2,5 kg atau kurang saat lahir, terlepas dari usia kehamilan tepat atau dibawah 37 minggu. Prematuritas (terutama prematuritas yang ekstrim) merupakan penyebab utama dari kelainan dan kematian pada bayi baru lahir. Beberapa organ dalam bayi mungkin belum berkembang sepenuhnya sehingga bayi memiliki resiko tinggi menderita penyakit tertentu. Bayi prematur yang dilahirkan merupakan bayi risiko tinggi yang perlu pengawasan khusus.4

Pengawasan khusus terhadap bayi prematur yang dimaksud termasuk pemantauan tumbuh kembang. Istilah tumbuh kembang terdiri atas dua peristiwa yang sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit untuk dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan itu sendiri memiliki arti yang berbeda. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan ukuran, besar, jumlah, atau dimensi pada tingkat sel, organ maupun individu. Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat (gram, kilogram), satuan panjang (cm, m), umur tulang dan keseimbangan metabolik ( retensi kalsium dan nitrogen dalam tubuh). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dan struktur fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistemnya yang terorganisir.7

2. Pemantauan Pertumbuhan dan PerkembanganBayi prematur dengan berbagai risiko dan komplikasi yang dideritanya saat dalam kandungan dan saat dalam perawatan di Rumah Sakit menimbulkan dampak dan risiko gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga diperlukan pemantauan yang ketat dalam tumbuh dan berkembangna di kemudian hari. Berdasarkan konvensi, untuk memantau pertumbuhan digunakan untuk koreksi, yaitu umur kronologis jumlah minggu prematuritas sampai bayi mencapai usia 2 tahun.7,8Pemantauan pertumbuhan bayi yang lahir prematur menggunakan dua kurva. Pada awalnya digunakan kurva pertumbuhan perinatal sampai bayi mencapai taksiran lahir. Setelah itu menggunakan kurva pertumbuhan biasa. Koreksi pertumbuhan berat badan dilakukan setelah bayi berumur 2 tahun, panjang badan setelah berumur 3 tahun dan lingkar kepala ketika bayi usia 18 bulan.8Penilaian pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur sedini mungkin sejak dilahirkan. Deteksi dini merupakan upaya penjaringan yang dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor risiko pada bayi prematur. Melalui deteksi dini dapat diketahui penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini, sehingga upaya pencegahan, stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan denga indikasi yang jelas pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang. Penilaian pertumbuhan dan perkembangan meliputi dua hal pokok, yaitu penilaian pertumbuhan fisik dan penilaian perkembangan. Masing-masing penilaian tersebut mempunyai parameter dan alat ukur sendiri.8Dasar utama dalam menilai pertumbuhan fisik anak adalah penilaian menggunakan alat baku (standar). Untuk menjamin ketepatan dan keakuratan penilaian harus dilakukan dengan teliti dan rinci. Pengukuran perlu dilakukan dalam kurun waktu tertentu untuk menilai kecepatan pertumbuhan. Parameter ukuran antopometrik yang dipakai dalam penilaian pertumbuhan fisik adalah tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, lipatan kulit, lingkar lengan atas, panjang lengan, proporsi tubuh dan panjang tungkai. Untuk memantau pertumbuhan bayi prematur dapat digunakan kurva seperti kura Babson and Benda, IHDP (Infant Health and Develompment Program), Gairdner and Pearson serta kurva CDC. Berdasarkan konvensi, untuk memantau pertumbuhan digunakan untuk koreksi, yaitu umur kronologis jumlah minggu prematuritas sampai bayi mencapai 2 tahun. Berikut macam-macam penilaian pertumbuhan fisik yang dapat dilakukan:91) Pengukuran Berat Badan (BB)Pengukuran ini dilakukan secara teratur untuk memantau pertumbuhan dan keadaan gizi balita. Balita ditimbang setiap bulan dan dicatat dalam Kartu Menuju Sehat Balita (KMS Balita) sehingga dapat dilihat grafik pertumbuhannya dan dilakukan interfensi jika terjadi penyimpangan.

2) Pengukuran Tinggi Badan (TB)Pengukuran tinggi badan pada anak sampai usia 2 tahun dilakukan dengan berbaring, sedangkan diatas usia 2 tahun dilakukan dengan berdiri. Hasil pengukuran setiap bulan dapat dicatat pada KMS yang mempunyai grafik pertumbuhan tinggi badan.

3) Pengukuran Lingkar KepalaPengukuran lingkar kepala adalah cara yang biasa dipakai untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Biasanya ukuran pertumbuhan tengkorak mengikuti perkembangan otak, sehingga bila ada hambatan pada pertumbuhan tengkorak maka perkembangan otak anak juga terhambat. Pengukuran dilakukan pada diameter occipitofrontal dengan mengambil rerata 3 kali pengukuran sebagai standar.

Untuk memantau pertumbuhan bayi prematur dapat digunakan kurva Babson dan Benda yang disempurakan oleh Fenton (2003).

Sedangkan untuk menilai perkembangan anak banyak instrument yang dapat digunakan. Salah satu instrument skrining yang dipakai secara internasional untuk menilai perkembangan anak adalah DDST II (Denver Development Screening Test). DDST II merupakan alat untuk menemukan secara dini masalah penyimpangan perkembangan anak 0 s/d