of 23/23
Refarat Kejang Pada Neonatus Danio J Bunda Bagian-SMF Ilmu Kesehatan Anak FAkultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang RSUD Prof. DR. Dr. W.Z. Johannes PENDAHULUAN Sulitnya mengenal bangkitan kejang pada bayi baru lahir (BBL), menyebabkan angka kejadian sesungguhnya sulit diketahui. 1 Angka kejadian di Amerika Serikat berkisar antara 0.8- 1.2 setiap 1000 BBL pertahun 2 , sedangkan kepustakaan lain menyebubkan 1-5% bayi pada bulan pertama mengalami kejang. Insidens meningkat pada bayi kurang bulan (BKB) sebesar 57-132 dibandingkan bayi cukup bulan (BCB) sebesar 0.7-2.7 setiap 1000 kelahiran hidup. Kepustakaan lain menyebutkan insidensi 20% pada BKB dan 1.4% pada BCB. Sekitar 70-80% BBL secara klinis tidak tampak kejang, namun secara elektrografi masih mengalami kejang. Pada neonatus kurang bulan, 70% kejang disebabkan oleh perdarahan intraventrikular. 3 Insidensi kejadian dini (terjadi kurang dari 48 jam setelah lahir) pada bayi aterm telah diajukan sebagai indikator dari kualitas perwatan perinatal karena penyebab tersering pada kelompok bayi ini adalah ensefalopati iskemikhipoksik(EIH). 1 1

refarat kejang

  • View
    50

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

KEjang terjadi pada anak-anak dapat terjadi oleh karena faktor yang berbagai macam, dalam mendiagnosis kejang pada bayi pun sangat sulit oleh karena itu dibutuhkan kemampuan yang lebih untuk mediagnosis penyakit tersebut,

Text of refarat kejang

Refarat

Kejang Pada NeonatusDanio J Bunda Bagian-SMF Ilmu Kesehatan Anak FAkultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang RSUD Prof. DR. Dr. W.Z. Johannes PENDAHULUAN Sulitnya mengenal bangkitan kejang pada bayi baru lahir (BBL), menyebabkan angka kejadian sesungguhnya sulit diketahui.1Angka kejadian di Amerika Serikat berkisar antara 0.81.2 setiap 1000 BBL pertahun2, sedangkan kepustakaan lain menyebubkan 1-5% bayi pada bulan pertama mengalami kejang. Insidens meningkat pada bayi kurang bulan (BKB) sebesar 57-132 dibandingkan bayi cukup bulan (BCB) sebesar 0.7-2.7 setiap 1000 kelahiran hidup. Kepustakaan lain menyebutkan insidensi 20% pada BKB dan 1.4% pada BCB. Sekitar 70-80% BBL secara klinis tidak tampak kejang, namun secara elektrografi masih mengalami kejang. Pada neonatus kurang bulan, 70% kejang disebabkan oleh perdarahan intraventrikular.3Insidensi kejadian dini (terjadi kurang dari 48 jam setelah lahir) pada bayi aterm telah diajukan sebagai indikator dari kualitas perwatan perinatal karena penyebab tersering pada kelompok bayi ini adalah ensefalopati iskemikhipoksik(EIH).1 Manifestasi klinis kejang sangat bervariasi bahkan sering sulit dibedakan dari gerakan normal bayi itu sendiri. Oleh karena itu diagnosis yang cepat dan terapi tepat merupakan hal yang penting, karena pengenalan kondisi yang terlambat meskipun tertangani akan dapat meninggalkan kejadian berulang pada sistem saraf. Spasme pada tetanus neonatorum hampir mirip dengan kejang, tetapi kedua hal tersebut harus dibedakan karena manajemen keduanya berbeda.1,4 DEFENISI Kejang pada BBL secara klinis adalah perubahan paroksimal dari fungsi neurologik yang terjadi pada bayi berumur sampai dengan 28 hari.1,3 Menurut kepustakaan lain kejang adalah episode kehilangan kesadaran yang berhubungan dengan kegiatan motorik atau sistem otonom abnormal.51

PATOFISIOLOGI Kejang terjadi akibat lonjatan muatan listrik yang berlebihan dan berirama pada otak atau gangguan depolarisasi otak yang mengakibatkan gerakan yang berulang.6Depolarisasi pada saraf terjadi akibat masuknya natrium dan repolarisasi terjadi karena keluarnya kalium melalui membrane sel. Untuk mempertahankan potensial membrandibutuhkan energi yang berasal dari ATP dan tergantung pada mekanismepompa yaitu keluarnya natriumdan masuknya kalium.1 Depolarisasi yang berlebihan dapat disebabkan oleh beberapa hal: 1. Gangguan produksi energi dapat mengakibatkan gangguan mekanisme pompa natrium dan kalium. Hipoksemia dan hipoglikemia dapat mengakibatkan penurunan produksi energi yang tajam. 2. Peningkatan eksitasi dibanding inhibisi neurotransmiter dapat mengakibatkan kecepatan depolarisasi yang berlebihan. 3. Penurunan relatif inhibisi dibanding eksibisi neurotransmiter dapat mengakibatkan kecepatan depolarisasi yang berlebihan. Perubahan fisiologikimia darah yang terjadi selama kejang berupa penurunankadar glukosa otak yang tajam dibanding glukosa darah yang tetap normal atau meningkat, disertai peningkatan laktat. Keadaan ini menunjukkan mekanisme transportasi pada otak tidak dapat mengimbangi peningkatan kebutuhan yang ada. Kebutuhan oksigen dan aliran darah otak juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan glukosa dan oksigen. Laktat terakumulasi selama kejang dan pH arteri sangat menurun. Tekanan darah sistemik meningkat dan aliran darah otak naik. Efek dramatis jangka pendek ini diikuti oleh perubahan struktur sel dan hubungan sinaps.1 Fenomena kejang pada BBL dijelaskan oleh Volpe karena keadaan anatomi dan fisiologi pada masa perinatal sebagai berikut:1 Susunan anatomi saraf pusat perinatal: Susunan dendrit dan remifikasi yang masih dalam proses pertumbuhan Sinaptogenesis belum sempurna Meilinisasi pada sistem eferen di kortikal belum lengkap

Keadaan fisiologi perinatal Sinaps exitatori berkembang mendahului inhibisi Neuron kortikal dan hipokampus masih imatur2

-

Inhibisi kejang oleh sistem subtansi nigra belum berkembang.

Teori lain mengatakan bahwa penyebab kejang lainnya pada neonatusadalah adanya glutamat yang menduduki reseptor dari kalsium dan kalium. Mekanisme tersebut masih belum dapat dijelaskan lebih terperinci.2 ETIOLOGI Kejang pada BBL dapat terjadi karena kelainan primer di SSP melalui proses intrakranial atau sekunder karena masalah sistemik atau metabolik.1 EIH merupakan penyebab kejang tersering (60-65%)pada BBL, biasanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama, sering dimulai 12 jam pertama dan dapat terjadi pada BCB maupun BKB terutama bayi dengan asfiksia. Bentuk kejang subtle atau multifokal klonik serta fokal klonik. Kasus EIH disertai kejang, 20% akan mengalami infark serebral. Manifestasi klinis ensefalopati hipoksik iskemik dapat dibagi dalam 3 stadium yaitu; ringan, sedang dan berat. Manifestasi kejang terjadi pada stadium sedang dan berat.1 Trauma saat lahir dapat menyebabkan kejang pada BBL karena komplikasi dari trauma adalah perdarahan intrakranial. Trauma yang akan dibahas adalah trauma pada proses kelahiran.Perdarahan intrakranial seperti perdarahan interventrikel adalah penyebab kejang tersering pada bayi preterm. Scher menemukan 45% bayi pretermkhususnya dibawah 30 minggu umur kehamilan yang mengalami kejang disebabkan oleh perdarahan matriks germinal atau intraventrikel. Kejang yang disebabkan oleh perdarahan intrakranial biasanya muncul dalam 72 jam. Gejala yang biasa muncul adalah apnu, fontanella yang menonjol, hipertonus dan kejang.3,8 Salah satu gangguan metabolik sebagai penyebab kejang adalah hipoglikemik. Bayi dengan glukosa darah