of 21 /21
Kelompok E6 Skenario 18 Ajeng Aryuningtyas Dewanti 102012259 – E6 [email protected] Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana islokasi Sendi pada Caput Fe

Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Embed Size (px)

Text of Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Page 1: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Kelompok E6

Skenario 18

Ajeng Aryuningtyas Dewanti102012259 – E6

[email protected] Kedokteran Universitas Kristen

Krida Wacana

Dislokasi Sendi pada Caput Femur

Page 2: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Skenario 18

Seorang laki- laki berusia 30 tahun dibawa ke UGD RS dengan keluhan nyeri hebat pada pangkal tungkai

kanannya sejak 3 jam yang lalu setelah terjatuh dari pohon dengan ketinggian sekitar 3 meter. Pada

pemeriksaan fisik, keadaan umum sakit berat, tanda-tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan

status lokalis regio femur dextra, tampak femur dextra dalam posisi sedikit fleksi, adduksi dan internal

rotasi, edema, nyeri tekan (+), pada palpasi femur, tidak ditemukan adanya krepitasi dan fragmen tulang.

Page 3: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

yang tidak diketahui

Identifikasi Istilah Krepitasi: suara “keretak-keretak” pada

gerak pasif yang biasanya

menunjukkan kerusakan sendi

lanjut.

Page 4: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Rumusan Masalah ?

Laki-laki berusia 30 tahun mengeluh nyeri hebat pada pangkal tungkai

kanannya sejak 3 jam yang lalu setelah terjatuh dari pohon dengan ketinggian

± 3 meter.

Page 5: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Laki-laki berusia 30 tahun mengeluh nyeri hebat pada pangkal tungkai

kanannya karena mengalami dislokasi posterior caput femur.

Hipotesis

Page 6: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Anamnesis

Dari kasus yang diperoleh, sebagai berikut:

-Jenis kelamin : laki-laki.-Umur : 30 tahun.-Kel.utama : Pasien mengeluh nyeri hebat pada pangkal tungkai kanannya sejak 3 jam yang lalu.-Kel. penyerta-RPD-RPS : Pasien mengeluh nyeri akibat terjatuh dari pohon dengan ketinggian 3m-Riwayat penyakit keluarga-Riwayat obat-Riwayat sosial

Page 7: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Pemeriksaan Fisik

-Tanda-tanda vital: normal-Keadaan umum: sakit berat

-Look/Inspeksi: edema, tampak femur dextra dalam posisi sedikit fleksi, adduksi dan

internal rotasi.-Feel/Palpasi: krepitasi& fragmen tulang (-), nyeri

tekan(+).Movement/pergerakan: gerakan

aktif sakit, gerakan pasif sakit.

Page 8: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Pemeriksaan Penunjang

Dislokasi caput femur dextra dilakukan pemeriksaan rontgen femur dextra

untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi dan mengetahui jenis dislokasi dan apakah disertai dengan fraktur atau

tidak. Maka, minimal diperlukan 2 proyeksi yaitu anteroposterior (AP) dan

AP lateral. Untuk fraktur baru, dilakukannya foto rontgen untuk melihat

jenis dan kedudukan fraktur serta mengetahui lokasi fraktur dan garis

fraktur secara langsung.

Page 9: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Working Diagnosis

Dislokasi Caput Femur

Page 10: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Dislokasi PosteriorSendi panggul dalam posisi flexi, adduksi dan internal

rotasiTungkai tampak lebih

pendekTeraba caput femur pada

panggul

Working Diagnosis

Dengan sering ditemukannya kasus dislokasi sendi panggul yang merupakan suatu trauma yang hebat, maka dislokasi sendi panggul dibagi dalam 3 jenis, yaitu:5

Dislokasi AnteriorSendi panggul dalam posisi

exorotasi, extensi, dan abduksi

Tak ada pemendekan tungkai

Benjolan di depan daerah inguinal dimana caput

femur dapat diraba dengan mudah

Sendi panggul sulit digerakkan

Dislokasi SentralPosisi panggul tampak normal, hanya sedikit lecet di bagian lateral

Gerakan sendi panggul terbatas

Page 11: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Differential Diagnosis

Klasifikasi fraktur femur dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu :Fraktur

Berdasarkan sifat fraktur (luka yang

ditimbulkan)Fraktur Tertutup

(Simple)Fraktur Terbuka

(Compound)

Berdasarkan komplit atau

ketidaklomplitan fraktur.

Fraktur Komplit,Fraktur Inkomplit

Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya

dengan mekanisme

trauma. Fraktur Transversa

Fraktur OblikFraktur Spiral

Fraktur KompresiFraktur Avulsi

Berdasarkan jumlah garis patah

Fraktur Komunitiva

Fraktur SegmentalFraktur Multiple

Berdasarkan pergeseran

fragmen tulang Fraktur

Undisplaced (tidak bergeser)

Fraktur Displaced (bergeser)

Berdasarkan posisi fraktur,

sebatang tulang terbagi menjadi

tiga bagian yaitu 1/3 proksimal, 1/3

medial dan 1/3 distal

Page 12: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Jenis Fraktur

Page 13: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Etiologi

•DISLOKASIDislokasi disebabkan oleh:

•Cedera olahraga•Trauma yang tidak

berhubungan dengan olah raga

•Terjatuh•Akibat kelainan pertumbuhan

sejak lahir•Trauma akibat kecelakaan

•Terjadi infeksi disekitar sendi•Terjatuh dari ketinggian

• FRAKTURFraktur dapat terjadi karena:

• Trauma • Pemukulan

• Penghancuran • Kelelahan/tekanan berulang-ulang

• Fraktur stress/fatique fracture akibat peningkatan drastis tingkat latihan

Page 14: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Epidemiologi

Fraktur dan dislokasi femur mempunyai insiden yang cukup

sering, sehubungan dengan meningkatnya umur, angka

kejadian semakin kecil, dan lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki. Pada orang dewasa

terjadi pada usia produktif antara 17-50 tahun dan insidennya lebih banyak pria dibandingkan dengan

wanita.

Page 15: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Epidemiologi

Patofisiologi Dislokasi Posterior

Mekanisme TraumaCaput femur dipaksa keluar ke belakang acetabulum melalui suatu trauma yang dihantarkan pada diafisis femur dimana sendi panggul dalam posisi fleksi atau semifleksi. Trauma biasanya terjadi karena kecelakaan lalu lintas dimana lutut penumpang dalam keadaan fleksi dan menabrak dengan keras benda yang ada di depan lutut.5

FrakturMekanisme TraumaFraktur terjadi bila interupsi dari kontinuitas tulang, biasanya fraktur disertai cidera

jaringan disekitar ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan. Tulang yang rusak mengakibatkan periosteum pembuluh darah pada korteks dan sumsum tulang serta jaringan lemak sekitarnya rusak. Keadaan tersebut menimbulkan perdarahan dan terbentuknya hematom dan jaringan nekrotik.

Terjadinya jaringan nekrotik pada jaringan sekitar fraktur tulang merangsang respon inflamasi berupa vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera. Tahap ini merupakan tahap awal pembentukan tulang. Berbeda dengan jaringan lain, tulang dapat mengalami regenerasi tanpa menimbulkan bekas luka.7

Page 16: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Epidemiologi

Komplikasi Dislokasi Posterior

Komplikasi Komplikasi dini: kerusakan pada kaput femur, kerusakan pada pembuluh darah, dan fraktur diafisis femur.Komplikasi lanjut: nekrosis avaskuler, osteoarthritis

Fraktur•MalunionSuatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.•Non-unionKegagalan pada proses penyambungan tulang sehingga tulang tak dapat menyambung.•Delayed unionProses penyembuhan tulang berjalan dalam waktu lama dari waktu yang diperkirakan.•InfeksiPaling sering menyertai fraktur terbuka.•Cidera vaskuler dan sarafKedua organ ini dapat cidera akibat ujung patahan tulang yang tajam.•Fat-embolic syndrome/embolik lemakTerjadi setelah 24-48 jam setelah cidera, ditandai distress pernapasan, tachikardi, tachipnoe,

demam, edema paru, dan akhirnya kematian.•Pressure sore (borok akibat tekanan)Akibat gips/bidai yang memberi tekanan setempat sehingga terjadi nekrosis pada jaringan

superficial.•OsteomyelitisInfeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum/korteks tulang dapat berupa hematogenous.

Pathogen masuk melalui luka fraktur terbuka, luka tembus atau selama operasi.•Nekrosis avaskulerFraktur mengganggu aliran darah ke salah satu fragmen sehingga fragmen tersebut mati. Sering

terjadi pada fraktur caput femoris.•Kerusakan arteriDitandai adanya denyut, bengkak, pucat pada baigan distal fraktur, nyeri, pengisian kapiler yang

buruk. Kerusakan arteri dapat disertai cidera pada kaki, saraf dan otot visera (thoraks dan abdomen).•ShockPerdarahan selalu terjadi pada tempat fraktur dan perdarahan ini dapat hebat sehingga terjadilah

shock.7

Page 17: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Epidemiologi

Penatalaksaan Dislokasi Posterior

Gambaran RadiologisDengan pemeriksaan rontgen akan diketahui jenis dislokasi dan apakah dislokasi disertai fraktur atau tidak.

Pengobatan Dislokasi harus direposisi secepatnya dengan pembiusan umum disertai relaksasi yang cukup.5

Penatalaksanaan dislokasi secara umum dilakukan reposisi, dan dislokasi sendi kecil dapat direposisi di tempat kejadian tanpa anastesi, atau dapat di reposisi dengan anastesi lokal dan obat penenang misalnya valium, namun untuk dislokasi sendi besar memerlukan anastesi umum.

Page 18: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Epidemiologi

FrakturPenatalaksanaan fraktur prinsipnya adalah dengan 4-R:Recognisi: riwayat dari terjadinya fraktur sampai didiagnosa frakturReduksi: upaya memanipulasi fragmen tulangRetensi: memelihara reduksi sampai penyembuhan Rehabilitasi: upaya untuk pencapai kembali fungsi tulang secara normal Beberapa intervensi yang diperlukan Intervensi Terapeutik atau konservatifImmobilitasDilakukan dalam jangka waktu berbeda-beda untuk kesembuhan fragmen yang dipersatukan dengan pemasangan gips.Memberikan kompres dingin untuk menentukan perdarahan, edema dan nyeri Meninggikan tungkai untuk menurunkan edema nyeri Kontrol perdarahan dan memberikan penggantian cairan untuk mencegah shock.Traksi untuk fraktur tulang panjangSebagai upaya menggunakan kekuatan tarikan untuk meluruskan dan immobilisasi fragmen tulang.Reposisi tertutup atau fiksasi dengan gipsPada fraktur supra kondilus, reposisi dapat dilaksanakan dengan anestesi umum atau lokal.Pemberian Diet Pemberian diet TKTP dan zat besi untuk mencegah terjadinya anemia.Intervensi farmakologisAnestesi lokal, analgesik narkotik, relaksasi otot atau sedative diberikan untuk membantu pasien selama prosedur reduksi tertutup.Analgesik diberikan sesuai petunjuk untuk mengontrol nyeri pada pasca operasi ATS diberikan pada pasien tulang complicated

Page 19: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Epidemiologi

•PrognosisPrognosis dislokasi femur dextra tertutup yaitu dubia ad bonam (meragukan ke arah baik). Penderita dislokasi femur setelah mendapatkan terapi latihan yang tepat diharapkan kemampuan fungsional anggota geraknya menjadi lebih baik.

Page 20: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

Epidemiologi

Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas, maka hipotesis diterima yaitu pasien

menderita dislokasi caput femur dextra. Dislokasi femur adalah keluarnya kepala sendi dari mangkuknya, yang bisa terjadi akibat cedera traumatik dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Dari kasus yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penyebab pasien menderita penyakit ini yaitu trauma langsung akibat kecelakaan terjatuh dari pohon.

Page 21: Ppt Blok 14 Sken 18 Ajeng Ad

THANK YOU!