of 131 /131
i PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DALAM MENINGKATKAN KERJASAMA DAN HASIL BELAJAR KOMPETENSI MENGGUNAKAN ALAT UKUR SISWA KELAS X TKR B SMK PATRIOT PITURUH TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SKRIPSI Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Oleh BINAR INDRA LAKSANA NIM 122170032 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO 2016

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD …

  • Author
    others

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD …

PITURUH TAHUN PELAJARAN 2015/2016
Oleh
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
berjudul “Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Dalam
Meningkatkan Kerjasama Dan Hasil Belajar Kompetensi Menggunakan Alat Ukur
Siswa Kelas X TKR B SMK Patriot Pituruh ” sampai dengan selesai.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, arahan, dan bimbingan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1. Drs. H. Supriyono, M. Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Purworejo
yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menuntut ilmu di
lembaga pendidikan tinggi ini.
2. Yuli Widiyono, M. Pd., Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo
yang telah memberikan izin penelitian.
3. Arif Susanto, M.Pd.,Ketua Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif yang
telah membantu prosedur perizinan penelitian.
4. Suyitno, M.Pd., Pembimbing I yang dengan penuh kesabaran telah memberikan
bimbingan, pengarahan serta koreksi dalam penyusunan skripsi.
5. Drs. H. Ashari, M.Sc, Pembimbing II yang dengan penuh kesabaran telah mem-
berikan bimbingan, pengarahan serta koreksi dalam penyusunan skripsi.
6. Kepala SMK Patriot Pituruh beserta staf yang telah memberikan izin dan
kemudahan dalam penelitian ini
dan harus saya utamakan.”
lingkunganmu jika hidupmu ingin tentram,
kenali lingkunganmu pahami lingkunganmu lalu sikapi lingkunganmu.”
“Serap dan Resapilah ilmu dimanapun kita berpijak”
“Jangan benarkan kebiasaan, tapi biasakan kebenaran.
Jangan sesali hari kemarin, hadapi hari ini, rencanakan hari esok”
“Perjuangkan apa yang perlu kita perjuangkan, lalu nikmati prosesnya,
syukuri hasilnya”
Anugrah tak ternilai dalam segala kekuranganku, yang selalu memberikan
rahmat dan karunia sehingga skripsi ini dapat selesai disusun, dan Karyaini
kupersembahkanuntuk :
Ibu dan Bapak yang tak henti-hentinya mendoakan ku, memberikan
semangat, motivasi, ilmu dan kasih sayang yang tak pernah putus, selalu
memberikan yang terbaik untukku, serta kakak dan adikku yang selalu
berbagi.
menangis/tertawa bahagia dan mengajarkanku banyak hal .
Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Teknik Otomotif (HIMATO), yang
telah memberikan ilmu dan mengajarkan kekeluargaan.
Perempuan terindah yang masih dalam rahasia’Nya yang akan menemani
hidupku nanti.
persahabatannya, semoga kita sukses dan selalu dalam lindungan’Nya
ix
ABSTRAK
Dalam Meningkatkan Kerjasama Dan Hasil Belajar Kompetensi Menggunakan
Alat Ukur Siswa Kelas X TKR B SMK Patriot Pituruh Tahun Pelajaran
2015/2016”. Skripsi. Pendidikan Teknik Otomotif. FKIP, Universitas
Muhammadiyah Purworejo 2016.
pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan kerjasama dan hasil
belajar pada kompetensi menggunakan Alat Ukur siswa kelas X TKR B SMK
Patriot Pituruh, (2) Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kerjasama
siswa kelas X TKR B SMK Patriot Pituruh dengan penerapan pembelajaran
kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD), (3) Untuk
mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa kelas X TKR B SMK
Patriot Pituruh dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement
Division (STAD).
Instrumen penelitian ini menggunakan lembar observasi dan soal tes berbentuk
pilihan ganda pada tiap siklus. Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X
TKR B SMK Patriot Pituruh tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 37 siswa.
Urutan kegiatan penelitian ini melalui 4 tahap meliputi ; (1) Perencanaan, (2)
Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi.
Hasil Penelitian menunjukan bahwa: (1) penerapan pembelajaran
kooperatif tipe STAD di kelas X TKR B SMK Patriot Pituruh menjadikan siswa
lebih bersemangat dan antusias dalam memperhatikan pemaparan karena diberi
motivasi dan apersepsi yang mudah dipahami dan saat diskusi kelompok siswa
lebih aktif dalam menyampaikan pendapat dan member tanggapan saat kelompok
lain melakukan pemaparan. Selain itu juga lebih peduli dengan kelompoknya dan
saling membantu, (2) tingkat kerjasama siswa meningkat dari 47,2% pada kondisi
awal menjadi 72% pada siklus I dan 85% pada siklus II. (3) Presentase pencapaian
hasil belajar siswa meningkat pada tiap siklusnya, kondisi awal nilai rata-rata
yaitu 65 menjadi 74 pada siklus I dengan presentase pencapaian 54% dan pada
siklus II nilai rata-rata menjadi 85 dengan presentase pencapaian 89%. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif
Tipe STAD dapat meningkatkan kerjasama dan hasil belajar siswa kelas X TKR B
SMK Patriot Pituruh, terbukti dengan adanya peningkatan presentase pada tiap
siklusnya.
Menggunakan Alat Ukur
HIPOTESIS TINDAKAN
C. Subjek Penelitian ............................................................................... 51
E. Instrumen Penelitian .......................................................................... 52
G. Kriteria Keberhasilan ......................................................................... 60
A. Deskripsi Data .................................................................................... 61
1. Siklus I ......................................................................................... 62
2. Siklus II ........................................................................................ 71
B. Analisis Data ..................................................................................... 79
BAB V PENUTUP
A. Simpulan .......................................................................................... 83
Tabel 2. Kisi-kisi Soal Alat Ukur Siklus I ............................................................ 53
Tabel 3. Kisi-kisi Soal Alat Ukur Siklus II ........................................................... 53
Tabel 4. Kategori indeks daya pembeda ............................................................... 56
Tabel 5. Kategori tingkat kesukaran soal .............................................................. 57
Tabel 6. Lembar Observasi Kerjasama ................................................................. 59
Tabel 7. Hasil Observasi Kerjasama Pada Kondisi Awal ...................................... 61
Tabel 8. Langkah kegiatan pembelajaran siklus I ................................................. 63
Tabel 9. Daftar Nilai Kelas X TKR B Siklus I ...................................................... 70
Tabel 10. Langkah kegiatan pembelajaran siklus II ............................................... 72
Tabel 11. Daftar Nilai Kelas X TKR B Siklus II ................................................... 78
Tabel. 12 Peningkatan Hasil Belajar Alat Ukur ...................................................... 80
xiii
Gambar 3. Histogram Persentase Kerjasama kondisi awal ..................................... 62
Gambar 4. Histogram Persentase Kerjasama siklus I ............................................. 68
Gambar 5. Histogram Persentase Kerjasama siklus II ............................................ 76
Gambar 6. Histogram Persentase Kerjasama siklus I dan II ................................... 76
Gambar 7. Histogram Persentase Kerjasama tiap siklus ......................................... 80
Gambar 8. Histogram Peningkatan Hasil Belajar tiap siklus. ................................. 81
xiv
Lampiran 3 Soal Tes siklus I ................................................................................ 93
Lampiran 4 Soal Tes Siklus II .............................................................................. 98
Lampiran 5 Daftar Nilai Awal siswa ................................................................... 103
Lampiran 6 Pembagian Kelompok....................................................................... 104
Lampiran 8 Daftar Nilai Tiap Siklus . .................................................................. 107
Lampiran 9 Lembar Jawaban ............................................................................... 108
Lampiran 10 Surat-surat ....................................................................................... 109
Lampiran 12 Dokumentasi . .................................................................................... 117
selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman, teknologi dan budaya
masyarakat. Pendidikan dapat diperoleh dari pendidikan dalam keluarga
atau yang disebut pendidikan informal dan pendidikan yang diperoleh di
sekolah atau pendidikan formal. Kedua lingkungan pendidikan tersebut
sama-sama akan berusaha untuk memberikan perkembangan pendidikan
yang positif bagi anak. Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 salah satu tujuan pendidikan nasional bangsa
Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pencapaian
tujuan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dilakukan melalui
pendidikan.
berupaya mengembangkan struktur kurikulum, sistem pendidikan, dan
model pembelajaran yang efektif dan efisien untuk meningkatkan SDM
yang berkualitas. Pembelajaran yang efektif dan efisien dilakukan secara
berkesinambungan. Karena tanpa adanya pembelajaran yang
berkesinambungan, maka kualitas pendidikan tidak akan ada kemajuan.
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari interaksi siswa dengan
pedoman belajar dan pendidik. Interaksi yang terjadi selama proses belajar
2
dapat menciptakan pengalaman belajar. Dalam hal ini, tentu peranan guru
sangatlah penting. Bagaimana guru melakukan usaha-usaha untuk dapat
menumbuhkan dan memberikan motivasi agar siswa melakukan aktivitas
belajar dengan baik dan meningkatkan hasil belajar. Peranan guru dalam
mengajar termasuk faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.
Hasil belajar termasuk salah satu motivasi siswa untuk belajar,
karena jika hasil belajar siswa tinggi maka siswa akan semakin termotivasi
untuk lebih giat belajar karena kepuasan hasil yang dicapai tersebut. Pada
hakikatnya hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah
melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari
seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perilaku yang
relatif menetap. Jadi hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi
tindak belajar dan tindak mengajar.
Hasil belajar pada hakikatnya yaitu berubahnya perilaku peserta
didik meliputi kognitif, afektif serta psikomotornya. Sehingga setiap
pendidik pastinya akan mengharapkan agar hasil belajar peserta didiknya
itu meningkat setelah melakukan proses pembelajaran. Proses
pembelajaran yang saat ini lebih mengarah kepada student oriented
berpusat pada siswa dimana siswa yang lebih aktif dalam mencari
informasi.
3
luasnya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam
proses pembelajaran, di samping itu siswa juga dituntut untuk memiliki
kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan
proses kelompok (group process skills). Dalam hal ini kerja kelompok
sangat penting dalam membentuk kerjasama guna mencapai tujuan
bersama yaitu hasil belajar yang diinginkan.
Fokus untuk bekerjasama juga merupakan suatu hal yang dapat
menghilangkan sifat yang cepat menyerah dan meningkatkan tanggung
jawab belajar pribadi. Siswa akan bersama-sama menyerap informasi,
saling mengajari, saling menghargai, maka akan meningkatkan hubungan
antar anggota lebih solid. Kerjasama timbul apabila orang menyadari
bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama dan pada saat yang
bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri
sendiri untuk memenuhi kepentingan tersebut.
Namun pada kenyataanya dari hasil wawancara pada tanggal 27
Oktober 2015 dan 5 November 2015, dengan salah seorang pendidik yang
mengajar produktif di SMK Patriot Pituruh mengungkapkan pembelajaran
dengan berkelompok belum dapat dimaksimalkan, karena masih banyak
siswa yang belum bekerjasama dengan baik antar anggota yang lain.
Ketidakjelasan dalam memahami pola kerjasama, membuat beberapa
siswa terkadang memiliki reaksi awal yang tidak menyenangkan saat
ditanyakan mengenai pengelompokan dalam kelas.
4
menggunakan Alat Ukur. Aktivitas berkelompok siswa dapat dilihat dari
kemampuan siswa dalam memahami cara pemakaian, cara perawatan, cara
kerja maupun fungsi dari Alat Ukur. Dalam kegiatan pembelajaran, materi
Alat Ukur merupakan salah satu materi muatan lokal yang ada dan sesuai
dengan kurikulum. Upaya untuk memaksimalkan proses pembelajaran
sering mengalami berbagai kendala, diantaranya kurangnya kesadaran
bekerjasama dalam berkelompok, mereka belum tahu mengenai
penggunaan alat ukur, kurangnya pengetahuan siswa dalam memahami
fungsi dan pembacaan alat ukursehingga hasil belajar belum tercapai
sesuai dengan tujuan.
sedemikian rupa. Idealnya pendekatan pembelajaran untuk siswa pandai
harus berbeda dengan kegiatan siswa berkemampuan sedang atau kurang
(walaupun untuk memahami konsep yang sama), karena siswa mempunyai
keunikan masing-masing. Hal ini menunjukan bahwa pemahaman guru
terhadap pendekatan, model, strategi, metode dan teknik pembelajaran
tidak bisa diabaikan.
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah
disusun tercapai secara optimal. Menurut David (Abdul Majid, 2014:193),
menyebutkan bahwa method is a way in achieving something (cara untuk
mencapai sesuatu). Artinya, metode digunakan untuk merealisasikan
5
sistem pembelajaran memegang peranan yang sangat penting.
Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada
cara guru menggunakan metode pembelajaran karena suatu strategi
pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui
penggunaan metode pembelajaran.
secara aktif. Guru masih menerapkan pembelajaran teacher-centered
dimana guru menjelaskan materi dengan media microsoft office
powerpoint sedangkan siswa hanya memperhatikan. Saat ini penggunaan
metode pembelajaran yang inovatif sangat penting untuk menunjang
keberhasilan dalam sebuah pembelajaran. Untuk itulah guru dituntut
kreatif dalam menggunakan suatu metode, sehingga peserta didik akan
lebih memahami materi yang diajarkan dari pada hanya menggunaan
metode teacher-centered.
Pituruh, nilai rata-rata ulangan pada beberapa mata pelajaran masih
rendah yaitu 6.50 dari KKM 7.50, ini menunjukan bahwa pembelajaran
peralatan tangan di kelas X TKR SMK PATRIOT masih belum dapat
memaksimalkan kemampuan kerjasama dan hasil belajar siswa. Untuk itu
difokuskan pada keaktifan siswa, maka perlulah dikembangkan suatu
metode pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam
kegiatan pembelajaran seperti metode pembelajaran yang lebih bersifat
6
melibatkan peran siswa secara menyeluruh dan interaktif.
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara
siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara
kolaboratif, yang anggotanya terdiri dari 4 sampai dengan 6 orang, dengan
struktur kelompok yang bersifat heterogen. Ada berbagai macam model
pembelajaran kooperatif, salah satunya pembelajaran yang diharapkan
mampu meningkatkan kerjasama dan hasil belajar dalam pembelajaran
menggunakan Alat Ukur adalah model pembelajaran kooperatif tipe
Student Teams Achievement Division ( STAD) .
Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji STAD yaitu metode
pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam
menentukan topik maupun mempelajarinya. Masing-masing kelompok
memiliki kemampuan akademik yang heterogen, sehingga dalam satu
kelompok akan terdapat satu siswa berkemampuan tinggi, dua orang
berkemampuan sedang, dan satu siswa lagi berkemampuan rendah.
Kelebihan dari metode STAD ini adalah dapat memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bekerjasama, dapat menguasai pelajaran yang
diajarkan, siswa dapat mengisi satu satu sama lain. Metode ini menuntut
para siswa untuk memiliki kemampuan dalam ketrampilan proses
kelompok, dan kecerdasan dalam menjawab soal-soal tes yang diberikan
7
memperoleh informasi tidak hanya dari guru saja akan tetapi dapat
meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari Alat
Ukur.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti bermaksud untuk
berupaya meningkatkan kerjasama dan hasil belajar siswa kelas X TKR B
SMK Patriot Pituruh pada pembelajaran kompetensi menggunakan Alat
Ukur melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD.
B. Identifikasi Masalah
permasalahan penelitian tersebut sebagai berikut :
1. Model pembelajaran yang diterapkan guru belum melibatkan siswa
secara aktif.
dan perawatannya.
4. Masih banyak siswa yang hasil belajarnya belum maksimal khususnya
dalam kompetensi penggunaan alat ukur.
C. Batasan Masalah
8
pembelajaran Student Teams Achievement Division terhadap kerjasama
dan hasil belajar pada kompetensi menggunakan alat ukur siswa kelas X
TKR B SMK Patriot Pituruh
D. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Division dalam meningkatkan kerjasama dan hasil
belajar siswa kelas X TKR B SMK Patriot Pituruh ?
2. Seberapa besar peningkatan kerjasama siswa kelas X TKR B SMK
Patriot Pituruh dengan penerapan pembelajaran kooperatif Student
Teams Achievement Division?
3. Seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa kelas X TKR B SMK
Patriot Pituruh dengan penerapan pembelajaran kooperatif Student
Teams Achievement Division?
E. Tujuan Penelitian
ini sebagai berikut :
9
meningkatkan kerjasama dan hasil belajar kompetensi menggunakan
alat ukur siswa kelas X TKR B SMK Patriot Al-iman Pituruh.
2. Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kerjasama siswa
dengan penerapan pembelajaran kooperatif Student Teams
Achievement Division.
dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Division.
kooperatif tipe Student Teams Achievement Division meliputi :
1. Manfaat Praktis
a) Bagi Sekolah
1) Bagi guru
kerjasama dan hasil belajar siswa.
2) Bagi Siswa
mengemukakan pendapat dan pertanyaan, kemampuan
memecahkan masalah, dan kemampuan berkomunikasi.
10
kerjasama dan hasil belajar siswa pada pembelajaran kompetensi
menggunakan Alat Ukur melalui penerapan pembelajaran kooperatif
tipe STAD.
DAN RUMUSAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
1. Teori Belajar
mengelola kelas serta membantu guru untuk memahami peserta didik,
mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri serta belajar siswa yang
telah dicapai. Pemahaman mengenai teori belajar akan membantu
guru dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa
sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal. Menurut Sani Abullah
Ridwan (2013: 2-38) ,hal yang harus dipahami dalam teori belajar
adalah :
a) Konsep dasar teori tersebut beserta ciri-ciri dan persyaratan yang
melingkupinya.
c) Faktor lingkungan (fasilitas, alat, suasana).
d) Tahapan yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran.
e) Hal-hal yang harus dilakukan peserta didik dalam proses belajar.
Teori belajar dikembangkan berdasarkan ilmu psikologi,
yakni ilmu yang membahas tentang perilaku dan proses mental.
Teori belajar yang berkembang berdasarkan ilmu psikologi ada 5
yaitu :
11
12
sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini berpengaruh terhadap
pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran
yang dikenal sebagai behavioristik. Teori behaviorisme
menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang dapat
diamati, diukur, dan dinilai secara konkret. Teori ini
menggunakan model hubungan stimulus-respons dan
menempatkan peserta didik sebagai individu yang pasif.
Pandangan teori behaviorisme yang dikembangkan oleh beberapa
ahli telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Menurut salah
satu pakar teori behaviorisme, Clark Leonard Hull menjelaskan
bahwa “kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis
menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia.
Stimulus dalam belajar hampir semuanya dapat dikaitkan dengan
kebutuhan biologis, walaupun responnya bervariasi” . Namun dari
semua teori behaviorisme yang dikembangkan teori Skinner
memberikan pengaruh yang paling besar terhadap perkembangan
teori belajar behavioristik.
penambahan pengetahuan. Aplikasi ini tergantung pada tujuan
pembelajaran, sifat materi pembelajaran, karakteristik siswa, serta
media dan fasilitas pembelajaran tersedia. Teori ini menganggap
13
bahwa segala sesuatu yang ada di dunia nyata terstruktur rapi dan
teratur sehingga peserta didik harus diharapkan yang jelas.
Pandangan teori behaviorisme juga cenderung mengarahkan
peserta didik untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif, dan
tidak produktif.
media atau alat bantu melalui berbagai metode. Pendidikan
menurut teori belajar kognitif adalah sebagai berikut :
a) Pendidikan menghasilkan kemampuan berfikir untuk
menyelesaikan persoalan yang dihadapi.
c) Peserta didik diharapkan selalu aktif.
Teori belajar yang berkembang berdasarkan teori ini
adalah teori perkembangan piaget, teori kognitif bruner, dan
teori bermakna ausubel. Piaget mendeskripsikan proses atau
perubahan struktur kognitif terjadi melalui adaptasi yang
berimbang (ekuilibrium) yang mencakup proses asimilasi dan
akomodasi.
14
Vygotsky yang menyatakan bahwa pembentukan pengetahuan
dan perkembangan kognitif terbentuk melalui internalisasi/
penguasaan proses sosial. Teori ini merupakan teori sosiogenesis,
yang membahas tentang faktor primer (kesadaran sosial) dan
faktor sekunder (individu), serta pertumbuhan kemampuan.
Implikasi teori konstruktivisme sosial dalam pembelajaran
dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Dasar pembelajaran adalah bahwa dalam diri siswa sudah ada
pengetahuan, pemahaman, kecakapan, pengalaman tertentu.
b) Peserta didik belajar dengan mengonstruksi (menambah,
merivisi, atau memodifikasi) pengetahuan, pemahaman,
kecakapan, pengalaman lama menjadi pengetahuan,
pemahaman, kecakapan, dan pengalaman baru.
c) Guru berperan memfasilitasi terjadinya proses konstruksi
pengetahuan. Peran guru hanya sekedar membantu
menyediakan saran dan situasi supaya proses konstruksi
pengetahuan pada diri peserta didik.
4) Teori Humanisme
15
apabila materi pembelajarannya disusun dan disajikan
sebagaimana mestinya. James Bugentan (Sani, 2013: 38)
mengemukakan kostulat psikologi humanistik yaitu sebagai
berikut:
komponen.
c) Kesadaran manusia menyertakan kesadaran akan diri
dalam konteks orang lain.
jawab.
nilai, dan memiliki kreativitas.
1. Teori Maslow yaitu dimana individu berperilaku dalam
upaya untuk kebutuhan yang bersifat hierarkis.
2. Pembelajaran Progesif yaitu bahwa belajar menyangkut
apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri.
3. Teori Sosial yaitu peserta didik belajar melalui
pengamatan atau berdasarkan apa yang mereka saksikan.
16
baru dibandingkan dengan teori belajar yang telah ada. Teori
ini memiliki kesamaan dengan teori kogntif yaitu
mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar. Hal yang
terpenting dalam teori ini adalah sistem informasi yang akan
menentukan terjadinya proses belajar. Sebuah informasi
mungkin akan dipelajari oleh seorang peserta didik dengan
satu macam proses belajar, namun informasi yang sama
mungkin akan dipelajari peserta didik yang lain melalui proses
belajar yang beda.
dan sebagainya) dan masukan reverensial (objek dan
peristiwa). Guru berperan membimbing peserta didik dalam
memahami informasi yang cocok dan membimbing mereka
memanipulasi proses memahami konsep dan mempersiapkan
umpan balik (feedback) dari sebuah latian atau pembelajaran.
2. Hakikat Belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya
kegiatan pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada
17
didik. Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi
tindakan-tindakanya yang berhubungan dengan belajar dan setiap
orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang belajar.
Menurut Morgan (Purwanto, 2007: 84) belajar adalah setiap
perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi
sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Cronbach (Sumadi,
2012: 231) menyatakan bahwa “ Learning is shown by change in
behavior as a result of experience “artinya belajar adalah perolehan
perubahan tingkah laku akibat praktik dan pengalaman. Jadi menurut
Cronbach belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami, dan
dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan pancaindra. Sesuai
dengan pendapat ini adalah pendapatnya Harold Spears, Spears
menyatakan bahwa “learning is to observe, to read, to imitate, to try
something themselves, to listen, to follow direction“ yang artinya
belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu
sendiri, mendengarkan sesuai petunjuk. Senada dengan apa yang
dikemukakan Cronbach diatas itu ialah pendapat McGeoh (Sumadi
2012: 231) yang menyatakan bahwa; “learning is a change in
performance as a result of practice “ yaitu belajar merupakan
perubahan dalam kinerja sebagai hasil dari praktek.
Selanjutnya definisi yang lebih eksplisit lagi yaitu dengan
menunjukan yang bukan belajar adalah definisi yang dikemukakan
18
oleh Hilgard. Hilgard (Sumadi 2012: 232) mendefinisikan sebagai
berikut ; “Learning is the process by which an activity originates or is
changed through training procedures (wheter in the laboratory or in
the natural environment) as distinguished from change by factors not
attributable to training“ artinya belajar adalah proses dimana suatu
kegiatan berasal atau diubah melalui prosedur pelatihan sebagai
perbedaan dari perubahan oleh faktor yang tidak disebabkan pelatihan.
Menurut Burton (Susanto 2013; 3),belajar dapat diartikan
sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya
interaksi antara individu dengan individu lain dan individu dengan
lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan
lingkungannya. Sementara menurut E.R. Hilgard (Susanto 2013; 3),,
belajar adalah suatu perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungan.
Perubahan kegiatan yang dimaksud mencakup pengetahuan,
kecakapan, tingkah laku, dan ini diperoleh melalui latihan
(pengalaman). Hilgard menegaskan bahwa belajar merupakan proses
mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui latihan,
pembiasaan, pengalaman dan sebagainya. Senada dengan pendapat
Syaiful (2013: 37) bahwa belajar adalah suatu proses perubahan
perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek dan pengalaman
tertentu.
bahwa belajar adalah Proses yang melahirkan atau mengubah suatu
19
dalam lingkungan alamiah yang dibedakan dari perubahan-perubahan
oleh faktor-faktor serta proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau
diubah melalui latihan atau pengalaman. Belajar itu membawa
perubahan, bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya
kecakapan baru (dalam arti Kenntnis dan Fertingkeit). Perubahan itu
terjadi karena usaha (dengan disengaja).
3. Pembelajaran
yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai
tujuan pembelajaran. Menurut Gagne dan Brigga (Abdul 2014: 283)
Pembelajaran adalah rangkaian peristiwa events yang mempengaruhi
pembelajaran sehingga proses belajar dapat berlangsung dengan
mudah. Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana
yang mengkondisikan/ merangsang seseorang agar bisa belajar dengan
baik agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu, kegiatan
pembelajaran akan bermuara pada dua kegiatan pokok. 1). Bagaimana
orang melakukan tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan
belajar, 2). Bagaimana orang melakukan tindakan penyampaian ilmu
pengetahuan melalui kegiatan mengajar. Hal ini menunjukan bahwa
makna pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan belajar
20
seseorang untuk belajar.
4. Metode Pembelajaran
langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih untuk
mencapai tujuan pembelajaran.Metode mengajar menurut Susanto
(2013; 43) adalah cara yang digunakan guru dalam mengorganisasikan
kelas pada umumnya atau dalam menyajikan bahan pelajaran pada
khususnya. Metode pembelajaran menurut Gagne (Abdullah, 2013:
158) ada enam, yakni tutorial, kuliah, resitasi, diskusi, kegiatan
laboratorium, dan pekerjaan rumah. Metode tersebut dapat dijelaskan
bahwa: a). Tutorial, terjadi interaksi dua arah antara tutor dan peserta
didik. b). Ceramah/kuliah yaitu informasi satu arah dari sumber
belajar (guru) pada peserta didik. c). Diskusi, terjadi interaksi dua
arah antara peserta didik. d). Kegiatan leboratorium, dimana peserta
didik berinteraksi dengan sumber belajar berupa alat, bahan dan
kejadian yang ada disekitar. e). Belajar mandiri, peserta didik
berinteraksi dengan sumber belajar yang belum dipelajari atau diolah.
f). Latihan, peserta didik menggunakan keterampilan yang dimiliki
secara berulang-ulang.
21
sebagai falsafah mengenai tanggung jawab pribadi dan sikap
menghormati sesama. Peserta didik bertanggung jawab atas belajar
mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka.
Pembelajaran kooperatif dalam buku Slavin (2005: 5-8) dijelaskan
bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dimana para
siswa berada dalam kelompok-kelompok kecil yang diharapkan siswa
dapat bekerja sama, saling membantu dalam diskusi yang dibagi oleh
guru dan dapat mengetahui pembahasan yang disampaikan oleh guru.
Setiap kelompok beranggotakan empat siswa atau lebih untuk duduk
bersama dan berdiskusi.
memasuki jalur utama praktik pendidikan. Salah satunya adalah
berdasarkan penelitian dasar yang mendukung penggunaan
pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan pencapaian prestasi para
siswa, dan juga akibat positif lainnya yang dapat mengembangkan
hubungan antar kelompok, penerimaan terhadap teman sekelas yang
lemah dalam bidang akademik, dan meningkatkan rasa harga diri.
Kooperatif memiliki makna luas, yaitu menggambarkan keseluruhan
proses sosial dalam belajar dan mencakup pula pengertian kolaboratif.
22
pembelajaran.
belajar.
tinggi, sedang dan rendah (heterogen)
3) Apabila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras,
budaya suku dan jenis kelamin yang berbeda.
4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada
individu.
2) Menggantikan bentuk persaingan (competition) dengan saling
kerja sama (cooperatif)
4) Menciptakan suasana kelas yang lebih rilek dan tidak terlalu
resmi (more relaxed and informal classroom).
5) Karena belajar di grup yang kecil hambatan rasa malu
(barriers of shyness) dan rasa kurang percaya diri (lack of
confidence) dapat dikurangi.
Metode-metode Pembelajaran Kooperatif meliputi: 1) Jigsaw, 2)
Think-Pair-Share, 3) Numbered Heads Together, 4) Group
Investigation, 5) Two Stay Two Stray, 6) Make a Match, 7)
Listening Team, 8) Inside-Outside Circle, 9) Bamboo Dancing, 10)
Student Teams Achievement Division
(STAD)
oleh dikemukakan oleh Robert Slavin dkk di Universitas John Hopkin
(Slavin, 2005; 143) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling
sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok
digunakan guru yang baru menggunakan pembelajaran kooperatif,
a) Komponen utama dalam STAD
Dalam metode ini terdiri atas lima komponen utama,yaitu ;
1) Presentasi Kelas
presentasi di dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung
seperti yang sering kali dilakukan atau diskusi pelajaran yang
dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga memasukkan presentasi
audiovisual.
24
kelamin, ras dan etnisitas. Fungsi utama dari tim ini adalah
memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar.
Dalam membagi siswa ke dalam tim, seimbangkan tim agar
(a) tiap tim terdiri atas level yang kinerjanya berkisar dari yang
rendah, sedang dan tinggi, dan (b) level kinerja yang sedang
dari semua tim yang ada dikelas hendaknya setara. Gunakan
daftar peringkat siswa berdasarkan kinerjanya, bagikan huruf
tim kepada masing-masing siswa. Misalnya, dalam sembilan
tim yang ada dikelas anda akan menggunakan huruf A sampai
I. Mulailah dari atas daftar tersebut dengan huruf A; lanjutkan
huruf berikutnya kepada peringkat menengah, bila sudah
sampai pada huruf tim yang terakhir, lanjutkan penamaan
huruf tim dengan arah berlawanan.
Misalnya jika menggunakan huruf A-I, siswa kesembilan
dan kesepuluh ditempatkan pada tim I, dan ke sebelas
ditempatkan pada tim H, selanjutnya ke tim G, dan seterusnya.
Jika sudah sampai kembali ke huruf A, berhentilah dan ulangi
proses lagi dimulai dan diakhiri A. Dalam tim harus dilihat
terlebih dahulu keseimbangan ras, etnik dan jenis kelaminnya.
Jika misalnya, seperempat dari keseluruhan kelas berkulit
25
hitam, paling tidak satu siswa dari tiap tim haruslah berkulit
hitam.
Tingkatan Peringkat Nama Tim
4) Skor kemajuan individual
memberikan kepada tiap siswa tujuan kinerja yang dapat
dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dan memberikan
kinerja yang lebih baik daripada sebelumnya. Tiap siswa
diberikan skor awal yang diperoleh dari kinerja siswa tersebut
dan dikumpulkan poin untuk tim mereka.
5) Rekognisi Tim
yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria
tertentu.
kemampuan kerjasama,kreatif, berpikir kritis dan ada kemampuan
untuk membantu teman serta merupakan pembelajaran kooperatif
yang sangat sederhana.
27
a) Kerjasama spontan yaitu kerjasama serta-merta, tanpa adanya suatu
perintah atau tekanan tertentu
atasan atau penguasa.
tertentu.
Misalnya gotong royong atau gugur gunung.
Menurut Freddy (1997: 43) definisi kerjasama adalah mau
menerima saran, dan gagasan, orang lain,bekerja sama secara
harmonis dengan orang-orang lain untuk mencapai tujuan. Utomo
(2012: 121) mengatakan bahwa kerjasama dalam kelompok adalah
sebuah kegiatan sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil
yang diorganisir untuk kepentingan belajar dan menuntut kegiatan
kooperetif dari beberapa individu. Apsek-aspek kelompok yang
harus diperhatikan dalam kerja kelompok adalah : 1) Aspek tujuan,
2) Interaksi, 3) Kepemimpinan, 4) Advisor, 5) Evaluator.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang kerjasama di atas dapat
disimpulkan bahwa kerjasama adalah usaha bersama antar individu atau
kelompok yang terkoordinasi untuk mencapai tujuan bersama sehingga
terdapat hubungan erat antara tugas pekerjaan anggota kelompok lain
demikian penyelesaiannya.
belajarnya. Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni
a). Keterampilan dan kebiasaan, b) Pengetahuan dan pengertian, c)
Sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi
dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan
Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) Informasi verbal,
(b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, (e)
keterampilan motoris. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan
tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional,
menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang
secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah
kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.
1) Ranah kognitif
pembelajaran yang dikemukakan oleh Bloom. Seperti halnya
taksonomi yang lama, taksonomi yang baru secara umum juga
menunjukkan penjenjangan dari proses kognitif yang sederhana ke
proses kognitif yang lebih kompleks. Namun demikian
penjenjangan pada taksonomi yang baru lebih fleksibel sifatnya.
Artinya, untuk dapat melakukan proses kognitif yang lebih tinggi
29
rendah.
Menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori
jangka panjang. Mengingat merupakan proses kognitif yang
paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar
“mengingat” bias menjadi baguan belajar bermakna, tugas
mengingat hendaknya selalu dikaitkan dengan aspek
pengetahuan yang lebih luas dan bukan sebagai suatu yang
lepas dan terisolasi. Kategori ini mencakup dua macam
proses kognitif: mengenali (recognizing) dan mengingat
(recalling)
pengetahuan awal yang dimiliki, mengaitkan informasi
yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki, atau
mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema
yang telah ada dalam pemikiran siswa. Karena penyusunan
skema adalah konsep, maka pengetahuan konseptual
merupakan dassar pemahaman. Kategori memahami
mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan, memberikan
contoh, mengkelasifikasikan, meringkas, menarik inferensi,
memabandingkan, dan menjelaskan.
Mencakup penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan
masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena itu
mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan
procedural. Namun tidak berarti bahwa kategori ini hanya
sesuai untuk pengetahuan prosedural saja. Kategori ini
mencakup dua macam proses kognitif: menjalankan dan
mengimplementasika.
Menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsur-
unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan
antar unsur-unsur tersebut dan struktur besarnya. Ada tiga
macam proses kognitif yang tercakup dalam menganalisis:
membedakan, mengorganisir, dan menemukan pesan
tersirat.
kesatuan. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong
dalam kategori ini, yaitu: membuat, merencanakan, dan
memproduksi.
standar yang ada.
ini: memeriksa dan mengkritik.
hasil belajar. Tingkatan tersebut dimulai dari tingkat dasar
sampai tingkat yang kompleks. Tingkat tersebut adalah sebagai
berikut:
menerima rangsangan (stimulus) dari luar datang pada sisi
baik dalam bentuk masalah situasi dan gejala. Dalam tipe
ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima
stimulus, kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari
luar.
seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar. Dalam
hal ini termasuk ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan
dalam menjawab stimulus dari luar yang datang pada
dirinya.
kepercayaan tehadap gejala atau stimulus tadi. Dalam
evaluasi ini termasuk didalamnya kesediaan menerima nilai
latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai dan
kesepakatan terhadap nilai tersebut.
system organisai termassuk menentukan hubungan satu
nilai dengan nilai yang lain serta kemantapan dan prioritas
nilai yang dimiliki.
yang mempengaruhi pola kepribadian dan ntingkah
lakunya. Kedalamnya termasuk keseluruhan nilai dan
karakteristiknya.
(seseorang).
Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak
dinilai oleh guru di sekolah karena berkaitan dengan
kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.
Menurut Nawawi (Susanto 2013: 5) Hasil belajar dapat
diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari
materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang
diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran
tertentu.Secara sederhana, yang dimaksud hasil belajar siswa
adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
33
kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya
guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam
belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran atau tujuan intstruksional.
evaluasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Sunal (Susanto 2013:
5) bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan informasi
untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program
telah memenuhi kebutuhan siswa.Menurut Purwanto (2011; 44)
hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari proses belajar
mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar diukur
untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan sehingga hasil
belajar harus sesuai dengan tujuan pendidikan.
Dari beberapa tipe diatas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah nilai yang dicapai oleh seseorang dengan
kemampuan maksimal. Tipe-tipe tersebut dapat mempengaruhi
belajar dan hasil belajar siswa, sehingga mampu mewujudkan
suatu kemampuan dan manajemen dalam belajar yang baik.
Karakteristik yang berbeda dari tiap individu baik fisik
34
menjaga perkembangan siswa agar proses belajar berlangsung
lebih baik sesuai dengan kemampuan.
a. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar :
Menurut teori Gestalt, (Susanto, 2013: 13) belajar merupakan suatu
proses perkembangan. Artinya bahwa secara kondrati jiwa raga anak
mengalami perkembangan. Perkembangan sendiri memerlukan
sesuatu baik yang berasal dari diri siswa sendiri maupun pengaruh
lingkungannya. Berdasarkan teori ini hasil belajar siswa dipengaruhi
oleh dua hal, siswa itu sendiri dan lingkungannya. Pertama, siswa;
dalam arti kemampuan berpikir atau tingkah laku intelektual,
motivasi, minat dan kesiapan siswa. Baik jasmani maupun rohani.
Kedua, lingkungan; yaitu sarana dan prasarana, kompetensi guru,
kreativitas guru, sumber-sumber belajar, metode serta dukungan
lingkungan, keluarga, dan lingkungan.Pendapat yang senada
dikemukakan oleh Wasliman (Susanto 2013;12), hasil belajar yang
dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai
faktor yang mempengaruhi, baik faktor internal maupun faktor
eksternal.
dari dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan
belajarnya. Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan
35
dan kondisi fisik dan kesehatan.
2) Faktor eksternal: faktor yang berasal dari luar diri peserta didik
yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Keluarga yang morat marit keadaan ekonominya,
pertengkaran suami istri, perhatian orangtua yang kurang terhadap
anaknya, serta kebiasaan sehari-hari berperilaku yang kurang baik
dari orangtua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam
hasil belajar peserta didik.
bahwa sekolah merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan hasl
belajar siswa. Semakin tinggi kemampuan belajar siswa dan kualitas
pengajaran disekolah, maka semakin tinggi pula hasil belejar siswa.
Menurut Djamarah (2015: 21) menyatakan bahwa ;
"Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk
mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari.
Hasil dari aktivitas belajar terjadilah perubahan dalam diri
individu. Dengan demikian, belajar dikatakan berhasil bila telah
terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya, bila tidak
terjadi perubahan dalam diri individu, maka belajar dikatakan
tidak berhasil"
peserta didik dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang
dinyatakan dalam bentuk skor skor yang diperoleh dari hasil tes
mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.
36
hasil belajar yaitu kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
ia menerima pengalaman belajar yang mencakup peringkat dan tipe
prestasi belajar ,hasil efektif, tipikal berfikir berkaitan dengan ranah
kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor, dan tipikal
perasaaan berkaitan dengan ranah afektif.Apabila siswa belajar maka
prestasi belajar dapat dilihat kemampuannya. Kemampuan tersebut
dapat dilihat dari terkumpulnya data yang menginformasikan kemajuan
belajar siswa, yang biasanya berbentuk raport sebagai laporan kepada
orang tua. Secara umum nilai raport yang baik menggambarkan prestasi
belajar yang baik begitupun sebaliknya, hal ini merupakan perwujudan
dari ketekunan dan keseriusan dalam belajar terhadap prestasi belajar
siswa
Diameter poros, diameter silinder, tinggi nok, kedalaman alur ring
piston merupakan contoh dari dimensi panjang (linier). Untuk itu perlu
dipelajari bagaimana cara mengukurnya dan alat-alat ukur apa saja yang
dapat digunakan untuk mengukurnya.
langsung. Demikian juga dengan peralatan ukurnya, ada alat ukur linier
37
langsung dan alat ukur linier tak langsung. Pengukuran langsung adalah
pengukuran yang hasil pengukurannya dapat langsung dibaca pada
skala ukur dari alat ukur yang digunakan.
Dengan demikian alat ukur yang digunakan adalah alat ukur yang
mempunyai skala yang bisa langsung dibaca skalanya. Alat ukur linier
langsung yang banyak digunakan dalam bidang otomotif adalah Mistar
Geser. Alat ukur ini dalam praktik sehari-hari mempunyai banyak
sebutan antara lain: mistar geser, jangka sorong, mistar ingsut, sketmat,
sigmat, atau vernier caliper. Pada batang mistar geser terdapat skala
utama (mainscale) atau skala tetap yang cara pembacaannya seperti
meteran biasa. Pada ujung yang satu dilengkapi dengan dua rahang ukur
yaitu rahang ukur tetap dan rahang ukur gerak sedang ujung yang lain
dilengkapi dengan ekor. Dengan demikian mistar geser dapat digunakan
untuk mengukur dimensi luar, dimensi dalam, kedalaman benda ukur.
Disamping skala utama, pada mistar geser juga dilengkapi dengan skala
vernier (vernier scale) atau skala nonius.
a) Tingkat ketelitian mistar geser
Mistar geser (Vernier caliver) digunakan untuk mengukur diameter
luar, diameter dalam dan mengukur kedalaman dengan ketelitiannya
dalam satuan Metris adalah 0,1 mm, 0,05 mm dan 0,02 mm.
Sedangkan untuk satuan British adalah 1/128 inchi, 1/256 inchi, dan
1/1000 inchi.
Mistar geser yang banyak beredar pada umumnya mempunyai dua
system satuanya itu system metric dan system inchi. Sistem metric
terdapat pada bagian bawah, sedang system inchi terletak pada
bagian atas. Masing-masing system mempunyai dua skala, yaitu
skala utama dan skala nonius atau skala vernier. Skala utama
terdapat pada badan mistar geser atau pada skala tetap, sedang
skala nonius terdapat pada rahang geser.
c) Cara menggunakan mistar geser
Hasil pengukuran benda ukur dengan menggunakan mistar geser
sangat dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain: factor
sipengukur, benda yang diukur, pengaruh lingkungan, dan cara
menggunakan alat ukur. Adapun cara penggunaan mistar geser
antara lain sebagai berikut :
2. Periksa bahwa skala vernier bergerak dengan bebas, dan angka
nol pada kedua skala bertemu dengan tepat.
3. Pada waktu melakukan pengukuran, usahakan benda yang
diukur sedekat mungkin dengan skala utama. Pengukuran
diujung rahang mistar geser menghasilkan pembacaan yang
kurang akurat.
4. Tempatkan mistar geser tegak lurus dengan benda yang diukur.
39
dilaksanakannya penelitian ini sebagai berikut :
1. Vima Eko Prasetyo (2011) “ Upaya Peningkatan Kerjasama pada
MateriSistem Bahan Bakar Bensin dengan Metode Think Pair
Share di SMK INSTITUT INDONESIA. Kesimpulan yang
terdapat pada penelitian ini yaitu : (1) penelitian ini dapat
digunakan sebagai salah satu kajian dalam melakukan penelitian
tindakan kelas, (2) sebagai bahan kajian untuk guru dalam
meningkatkan mutu pendidian secara bersama-sama, (3) untuk
meningkatkan keaktifan siswa kerjasama dalam belajar.
2. Irawati Eka Safitri Vima (2009) dengan judul Efektifitas
Penerapan Model Pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Division pada mata pelajaran kimia untuk peserta
didik kelas X semester 2 SMAN 1 Pacitan. Hasil dari penelitian
penerapan model pembelajaran tipe STAD mengungkapkan bahwa
melalui kegiatan pembelajaran kooperatif STAD menunjukkan
bahwa hasil belajar kelas experimen lebih baik dibanding kelas
kontrol.
Tipe STAD Dengan Media VCD Untuk Meningkatkan Prestasi
Belajar Matematika Siswa Kelas VII B SMP Negeri 4 Purworejo
Tahun Pelajaran 2011/2012. Dari hasil analisis data diperoleh
40
mencapai 79,125 dengan ketuntasan klasikal 71,879% dan hasil
siklus II sudah mencapai 83,00 dengan ketuntasan klasikal 87,5%.
Ini berarti hasil penelitian tersebut menunjukan peningkatan
prestasi belajar matematika siswa.
dari penelitian ini untuk menemukan inovasi yang tepat bagi
pelaksanaan pembelajaran, meningkatkan hasil belajar siswa dan
aktivitas serta respon pembelajaran. Hasil dari penelitian
menunjukan bahwa untuk peningkatan respon siswa dari siklus I
ke siklus II sebesar 13.57% sedangkan dari siklus II ke siklus III
sebesar 21,43%. Sedangkan peningkatan inisiatif siswa dari siklus
I ke siklus II sebesar 3,57% dan dari siklus II ke siklus III sebesar
35%. Adapun hasil belajar siswa pada siklus I yang mencapai
kelulusan adalah 25 siswa dengan persentase sebesar 73,52%,
pada siklus II yaitu 29 siswa dengan persentase 85,29% dan pada
siklus III yaitu 33 siswa dengan persentase kelulusan 97,06%.
Ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 95% sehingga
pembelajaran tuntas pada mata diklat penggunaan dan
pemeliharaan alat ukur dapat tercapai.
41
Kerangka pikir pada penelitian ini disajikan dalam bentuk diagram pada
gambar berikut :
siswa, kerjasama dapat dikembangkan melalui pembelajaran Kompetensi
Menggunakan Alat Ukur Pada siswa kelas X TKR B SMK Patriot Pituruh
hasil belajarnya tergolong masih rendah. Oleh karena itu peneliti
menerapkan Student Teams Achievement Division (STAD) dalam
Kerjasama dan
Hasil Belajar
menggunakan alat ukur
Model pembelajaran STAD
PATRIOT PITURUH
STAD mempunyai karakteristik untuk meningkatkan kerjasama,
meningkatkan hasil belajar siswa, menentukan masalah dan menciptakan
lingkungan yang mendukung. Pada model pembelajaran STAD terdapat
tahapan kuis dan penghargaan, yang akan dilakukan peneliti secara relevan
untuk meningkatkan kerjasama dan hasil belajar siswa pada kelas X TKR B
SMK Patriot Pituruh.
D. Hipotesis Tindakan
secara rinci maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : dengan penerapan
pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
dapat meningkatkan kerjasama dan hasil belajar siswa dalam kompetensi
menggunakan Alat Ukur siswa kelas X TKR B PATRIOT PITURUH.
43
(PTK) melalui proses pengkajian dengan beberapa siklus. Penelitian ini
menggunakan setting penelitian tindakan yang difokuskan untuk
memecahkan masalah dalam proses pembelajaran kelas. Dalam penelitian ini
dilakukan 2 siklus dimana setiap siklus terdiri atas beberapa tahapan yaitu : 1)
Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) pengamatan, 4) refleksi. Berikut adalah
gambar siklus PTK.
jenis dan topik yang akan dijadikan proyek kelompok,
penemuan kelompok, dan kegiatan pembelajaran dalam kelas.
2) Membuat instrumen penelitian dan menyusun RPP.
3) Sosialisasi kepada siswa mengenai pembelajaran yang akan
dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division).
b. Tindakan
Pada tahap ini RPP yang telah disusun diterapkan dalam proses
pembelajaran. Proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas X
TKR B SMK Patriot Pituruh ini adalah pembelajaran kooperatif
tipe STAD (Student Teams Achievement Division). Tahapan
pembelajaran ini meliputi:
pembelajaran secara kelompok. Sebelum menyajikan materi
pembelajaran, dibuat lembar kegiatan yang akan dipelajari
kelompok kooperatif dan lembar jawaban dari lembar
kegiatan tersebut.
Kelompok siswa merupakan bentuk kelompok yang
heterogen. Setiap kelompok beranggotakan 4-5siswa yang
terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan
rendah. Guru tidak boleh membiarkan siswa memilih
kelompok sendiri karena akan cenderung memilih teman
yang disenangi saja.
dilakukan guru sebelum pembelajaran metode STAD dimulai
atau dari skor test paling akhir yang dimiliki oleh siswa.
Selain itu, skor awal dapat diambil dari nilai raport siswa
pada semester sebelumnya.
kooperatif, sebaiknya diawali dengan latihan-latihan kerja
sama kelompok.
penyampaian materi pelajaran olehguru, kerja kelompok, tes
penghargaan kelompok dan laporan berkala kelas.
2) Mengajar
kelas, yang meliputi pendahuluan, pengembangan, petunjuk
46
hal-hal yang perlu diperhatikan adalah ;
a) Pendahuluan
dan mengapa hal itu penting untuk memunculkan rasa
ingin tahu siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
memberi teka-teki, memunculkan masalah-masalah yang
berhubungan dengan materi dalam kehidupan sehari-hari,
dan sebagainya.
untuk menentukan konsep atau untuk menimbulkan rasa
senang pada pembelajaran.
pembelajaran.
siswa mempelajari dan memahami makna, bukan hafalan.
(3) Guru memeriksa pemahaman siswa sesering mungkin
dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
masalahnya
47
soal-soal atau jawaban pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan oleh guru.
pertanyaan atau menyelesaikan soal-soal yang diajukan oleh
guru. Hal ini akan menyebabkan siswa mempersiapkan diri
untuk menjawab pertanyaan atau soal-soal yang diajukan.
3) Guru tidak perlu memberikan soal atau pertanyaan yang
lama penyelesaiannya pada kegiatan ini. Sebaliknya siswa
mengerjakan satu atau dua soal, dan kemudian guru
memberikan umpan balik.
3) Kegiatan Kelompok
sebaiknya menjelaskan apa yang dimaksud bekerja dalam
kelompok, yaitu:
bahwa temandalam kelompoknya telah mempelajari
materi dalam kegiatan yang diberikan oleh guru.
2) Tidak seorang pun siswa selesai belajar sebelum semua
anggota kelompok menguasai pelajaran.
seorang anggota kelompok mengalami kesulitan dalam
48
guru.
b. Guru dapat mendorong siswa dengan menambahkan
peraturan peraturan lain sesuai kesepakatan bersama.
Selanjutnya kegiatan yang dilakukan guru adalah:
1) Guru meminta siswa berkelompok dengan teman
sekelompoknya.
beserta lembar jawabannya.
berpasangan atau dengan seluruh anggota kelompok
tergantung pada tujuan yang dipelajarinya. Jika mereka
mengerjakan soal-soal maka setiap siswa harus
mengerjakan sendiri dan selanjutnya mencocokkan
jawabannya dengan teman sekelompoknya. Jika ada
seorang teman yang belum memahami, teman
sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjelaskan.
Tekankanlah bahwa lembar kegiatan (lembar diskusi)
untuk diisi dan dipelajari. Dengan demikian setiap
siswa mempunyai lembar jawaban untuk diperiksa oleh
teman sekelompoknya.
mendekati kelompok untuk mendengarkan bagaimana
anggota kelompok berdiskusi.
dua kali penyajian, guru memberikan kuis atau tes individual.
Setiap siswa menerima satu lembar kuis. Waktu yang disediakan
guru untuk kuis adalah setengah sampai satu jam pelajaran.
Hasil dari kuis itu kemudian diberi skor dan akan disumbangkan
sebagai skor kelompok.
5) Penghargaan Kelompok
Setelah diadakan kuis, guru menghitung skor perkembangan
individu dan skor kelompok berdasarkan rentang skor yang
diperoleh setiap individu. Skor perkembangan ditentukan
berdasarkan skor awal siswa.
b.Menghargai hasil belajar kelompok
skor kelompok, guru mengumumkan kelompok yang
memperoleh poin peningkatan tertinggi. Setelah itu guru
memberi penghargaan kepada kelompok tersebut yang berupa
50
tergantung dari kreativitas guru.
peneliti yang dibantu observer lain melakukan observasi. Observasi
yang dilaksanakan berupa monitoring dan mendokumentasikan
segala aktivitas siswa di kelas.
d. Refleksi
tindakan dan observasi hasil dari kegiatan pada tahapan tindakan
dan observasi yang dianalisis sebagai bahan untuk merefleksi
apakah pembelajaran yang dilaksanakan sebelumnya sesuai dengan
yang direncanakan dan diharapkan.
pelaksanaan siklus yang kedua . Tahapan-tahappan yang dilaksanakan
pada siklus ini meliputi:
51
disusun. Proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan
menerapakan model kooperatif tipe STAD.
c. Observasi
segala aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
d. Refleksi
dengan hasil pada siklus I. Apakah ada peningkatan hasil belajar
siswa atau tidak, apabila tidak ada peningkatan hasil belajar maka
siklus tetap dilanjutkan sampai berhasil, tetapi apabila berhasil maka
peneliti dan guru sepakat untuk menghentikan siklus ini.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Patriot Pituruh kabupaten Purworejo.
Waktu pelaksanaan penelitian adalah bulan Oktober 2015 – Maret 2016.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X TKR B SMK Patriot Pituruh
tahun pelajaran 2015 / 2016 yang berjumlah 37 siswa. Penentuan Kelas X
TKR B karena kelas tersebut berdasarkan pengamatan peneliti hasil
52
untuk meningkatkan hasil belajarnya.
D. Teknik Pengumpulan Data
mendapatkan data dan fakta yang terjadi dalam penelitian. Adapun metode
yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dengan menggunakan
lembar observasi dan test. Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan
pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu
objek. Karakteristik objek dapat berupa keterampilan, pengetahuan, bakat,
minat, baik yang dimiliki individu maupun kelompok. Tes yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan memberikan soal kepada siswa tentang
materi yang diberikan. Selain itu juga dengan pengumpulan data dengan
dokumentasi, yaitu dengan mendokumentasikan arsip-arsip hasil belajar
siswa sebelum dilakukan penelitian.
mengukur peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model
pembelajaran Student Teams Achievement Division yang terdiri dari 20 soal
pilihan ganda.
Tabel. 2 Kisi-kisi Soal Alat Ukur Siklus I
Variabel No Indikator No butir
soal
Jumla
h
Alat
Ukur
Jangka
Sorong
19, 20
Variabel No Indikator No butir soal
Jumlah
2 Mengetahui bagian-
3 Mengetahui
4 Mengetahui fungsi
5 Membaca
apabila instrumen tersebut dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak
diukur (Eko, 2012; 141). Tes sebagai salah satu alat ukur hasil belajar
dapat dikatakan valid apabila tes itu dapat tepat mengukur hasil belajar
yang hendak diukur. Dengan tes yang valid akan menghasilkan data hasil
belajar yang valid pula.
Sebaliknya tes dikatakan tidak valid bila digunakan untuk mengukur
suatu keadaan yang tidak tepat diukur dengan tes tersebut. Misalnya : tes
tertulis bukan untuk mengukur ketrampilan gaya renang. Sebelum tes
digunakan untuk mengumpulkan data terlebih dahulu harus diperiksa
bahwa tes telah valid. Hal itu diperlukan untuk menjamin adanya
kesesuaian antara tes dengan hasil belajar yang ingin diukur.
1) Daya Pembeda
perbedaan yang ada dalam kelompok itu. Indeks daya pembeda ini
didapat dari selisih proposi yang menjawab dari masing-masing
kelompok. Indeks ini menunjukkan antara fungsi social dengan fungsi
tes secara keseluruhan. Dengan demikian validitas soal ini sama dengan
daya pembeda soal yaitu daya dalam membedakan antar peserta tes
yang yang berkemampuan rendah. Angka menunjukkan besarnya daya
pembeda berkisar antara -1 sampai dengan +1. Tanda negatif
55
menjawab salah. Dengan demikian, soal yang indeks daya pembedanya
negatif menunjukkan terbaliknya kualitas peserta tes.
Untuk mengukur daya pembeda suatu soal menggunakan rumus sebagai
berikut:
Ba : banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan
benar
Pa : Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar (ingat, P
sebagai indeks kesukaran)
Untuk mengetahui tingkat perbedaan masing-masing soal, maka
dibutuhkan kriteria disetiap soalnya karena setiap soal tentu memiliki
tingkatan yang berbeda.
Tabel. 4 Kategori indeks daya pembeda
Nilai D Klasifikasi Interprestasi
memiliki daya pembeda yang baik
0.20 – 0.40 Satisfactory Memiliki daya pembeda yang
cukup (sedang)
sekali
Akhirnya sebagai tindak lanjut atas hasil analisis mengenai daya
pembeda butir hasil belajar tersebut adalah:
1) Butir soal yang telah memiliki daya pembeda item yang baik
(satisfactory, good, excellent) hendaknya dimasukkan dalam bank
soal dan bisa digunakan kembali pada tes yang akan datang.
2) Butir soal yang daya pembedanya masih rendah (poor) ada 2, yaitu:
diperbaiki atau didrop.
3) Khusus butir soal yang angka indeksnya bertanda negatif, sebaiknya
pada tes hasil belajar yang akan datang tidak dikeluarkan kembali.
2) Tingkat kesukaran
dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki
oleh masing-masing butiran soal tersebut. Butir-butir soal tes hasil
belajar dapat dinyatakan baik, apabila butir-butir soal tersebut tidak
terlalu sukar dan pula tidak terlalu mudah dengan kata lain derajat
57
kesukaran item itu adalah sedang atau cukup. Rumusnya adalah sebagai
berikut:
∑ = Banyaknya siswa yang menjawab benar
= Skor maksimum
= Jumlah siswa
dengan katagori tingkat kesukaran.
b. Reliabilitas
hasil yang tetap atau ajek (consistens) apabila diteskan berkali-kali (Eko,
2012:157). Tes hasil belajar dikatakan ajek apabila hasil pengukuran saat
ini menunjukkan kesamaan hasil pada saat yang berlainan waktunya
terhadap siswa yang sama.
a. Analisis data siswa yang memperoleh nilai hasil belajar ≥ 75
Untuk menghitung presentase siswa yang memperoleh nilai hasil
belajar ≥ 75 (tuntas), maka digunakan rumus :
(%) = n
N × 100%
N = Jumlah seluruh siswa
Nilai rata-rata hasil belajar siswa diperoleh dengan menggunakan
rumus:
∑x = Jumlah nilai hasil belajar seluruh siswa
N = Jumlah seluruh siswa
Untuk mengetahui kerjasama siswa, dalam pnelitian ini peneliti
mengamati kegiatan siswa ketika proses pembelajaran berlangsung.
59
Dalam pengamatannya, peneliti mengisi lembar observasi kerjasama
siswa yang sudah disiapkan. Lembar observasi kerjasama ini terdiri dari 5
butir pertanyaan. Setiap pertanyaan digunakan untuk mengamati kegiatan
siswa, sehingga dapat diketahui tingkat kerjasama siswa.
Tabel.6
3 Melaksanakan tugas yang
(%) = n
N × 100%
60
N = Jumlah seluruh siswa
Setelah data terkumpul dari siklus I dan siklus II, maka dapat diketahui
tingkat keberhasilan siswa dalam pembelajaran kompetensi menggunakan alat
ukur dengan menggunakan metode Student Teams Achivement Division di
SMK Patriot Pituruh tahun pelajaran 2015 / 2016.
G. Kriteria Keberhasilan
Sesuai dengan KKM yang diterapkan di SMK Patriot Pituruh yaitu 75,
maka dalam penelitian ini dikatakan berhasil bila memenuhi :
1) Presentase kerjasama peserta didik mencapai 75% atau lebih.
2) Hasil belajar peserta didik memperoleh presentase 75% atau lebih jumlah
peserta didik memperoleh 75 keatas.
61
metode ceramah, belum melibatkan siswa secara aktif dan berpusat pada
guru. Dengan metode tersebut maka kerjasama dan hasil belajar siswa
pada beberapa mata pelajaran juga belum maksimal, terbukti dari hasil
ulangan kompetensi menggunakan Alat Ukur Mekanik yang masih
tergolong rendah yaitu 6,50 dari KKM 7,50. Dari pengamatan awal
kegiatan belajar siswa di kelas X TKR B dapat diketahui kerjasama siswa
sebagai berikut :
Tabel. 7
No Nama Kegiatan
2 Menerima pendapat orang lain. 17 20 46%
3 Melaksanakan tugas yang
5 Kepedulian terhadap kesulitan
Rata-rata 47.2%
Dari rekapitulasi hasil observasi kerjasama siswa pada kondisi awal di
atas, dapat disajikan dalam bentuk histogram sebagai berikut :
Gambar 3. Histogram Persentase Kerjasama siswa kelas X TKR B Pada
kondisi awal
Melihat kondisi tersebut maka dilakukan perbaikan pembelajaran.
Adapun penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, dimana dalam 1 siklus
terdiri dari 4 langkah yaitu a) Perencanaan, b) Pelaksanaan , c)
Pengamatan, d) Refleksi. Dengan metode Student Teams Achievement
Division dapat diperoleh hasil penelitian sebagai berikut :
1. Siklus 1
jenis dan topik yang akan dijadikan proyek kelompok,
penemuan kelompok, dan kegiatan pembelajaran dalam kelas.
19
17
15
20
1818
20
22
17
19
0
5
10
15
20
25
Ya Tidak persentase %
6) Sosialisasi kepada siswa mengenai pembelajaran yang akan
dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division).
b. Pelaksanaan Tindakan
berikut :
64
a) Kegiatan awal
2. Peneliti membuka pelajaran di kelas.
3. Peneliti mengecek kehadiran siswa.
4. Peneliti memberikan motivasi dan apersepsi tentang
Alat Ukur Mekanik.
yang akan digunakan dan menjelaskan bahwa dalam
metode ini keberhasilan individu akan menentukan
keberhasilan kelompok, karena setiap anggota
kelompok harus menyumbangkan skor hasil tesnya.
b) Kegiatan inti
sumber belajar.
alat ukur mekanik jangka sorong.
3) Kemudian peneliti membagi siswa dalam kelas menjadi
beberapa kelompok. Kelompok siswa merupakan
bentuk kelompok yang heterogen. Setiap kelompok
beranggotakan 4-5 siswa yang terdiri dari siswa yang
berkemampuan tinggi,sedang dan rendah didapat dari
data penilaian sebelumnya. Data nilai awal siswa
65
kelompok pada lampiran 6 .
yang diperlukan.
permasalahan yang diberikan untuk dipresentasikan.
6) Peneliti memanggil siswa secara acak untuk menjawab
pertanyaan dan menyelesaikan soal-soal yang diajukan
peneliti dan peneliti memberikan umpan balik.
7) Peneliti mengamati kegiatan siswa dan mengisi lembar
observasi kerjasama.
membersihkan peralatan yang telah digunakan.
c) Kegiatan penutup
dari hasil kegiatan pembelajaran dan dilanjutkan dengan
berdoa sebelum pulang.
Pada hari Rabu setelah peneliti mengecek kehadiran
siswa, peneliti mengadakan evaluasi teori Alat Ukur Mekanik
Jangka Sorong dan presentasi perkelompok dari hasil diskusi
dalam menyelesaikan permasalahan. Sebelum pelaksanaan
evaluasi teori, peneliti menanyakan kepada siswa bahwa
66
bersama pada pertemuan sebelumnya. Sebagian besar siswa
mengatakan sudah memahami materi yang diajarkan tersebut,
sehingga peneliti menganggap bahwa semua siswa telah
menguasai materi.
nilai atau poin tim. Setiap anggota kelompok mempunyai
kesempatan menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Dalam
mengerjakan tes dari peneliti, siswa tidak diperbolehkan
bekerjasama dengan yang lain, karena kerjasama tim sudah
dilakukan saat kuis yang diajukan ke masing-masing tim.
Peneliti memberikan penjelasan bahwa diberikan tes akhir ini
siswa harus menunjukan bahwa siswa benar-benar belajar
secara individu dan agar setiap siswa atau anggota tim
berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Setiap
jawaban benar, oleh peneliti dihitung dan dinilai. Nilai dari
setiap anggota kelompok digunakan untuk menentukan skor
perkembangan yang akan disumbangkan kepada timnya.
Peneliti memberikan penghargaan kepada masing-masing tim
yang mencapai nilai rata-rata poin perbaikan sesuai kriteria.
Setelah memberikan penghargaan peneliti mengakhiri
pelajaran dengan menyimpulkan materi bersama siswa dan
67
diakhiri dengan salam dan doa.
c. Pengamatan
1) Penerapan pembelajaran dengan metode STAD dari hasil
penelitian siklus I yang diperoleh dari pengamatan observer
didapat bahwa masih ada siswa yang enggan mendengarkan
penjelasan guru, masih ada siswa yang ramai saat
pembelajaran berlangsung, kurangnya siswa menyampaikan
pendapat, keaktifan siswa mengajukan pertanyaan dan masih
ada siswa yang kurang peduli terhadap kelompoknya.
2) Pengamatan dilakukan oleh peneliti selama proses dengan
menggunakan lembar observasi yang sudah disediakan untuk
mengetahui kerjasama siswa selama pembelajaran
berlangsung. Dalam siklus I dapat diketahui berapa tingkat
kerjasama siswa ketika proses pembelajaran, seperti
dijelaskan sesuai pada lampiran 7 tabel 1. Dari rekapitulasi
hasil observasi kerjasama siswa pada siklus I tersebut, dapat
disajikan dalam bentuk histogram pada Gambar 4 Histogram
Persentase Kerjasama Siswa Kelas X TKR B Pada Siklus I
dibawah ini :
TKR B Pada Siklus I
Berdasarkan hasil dari observasi siklus I dapat dijelaskan
bahwa terjadi peningkatan persentase kerjasama siswa dari
47,2% kondisi awal, menjadi 72% pada siklus I.
3) Penilaian hasil tes teori.
Pengamatan lain juga dilakukan peneliti dengan
memberikan tes teori Alat Ukur Mekanik kompetensi
menggunakan Jangka Sorong pada siklus I. Peneliti
memberikan soal sebanyak 20 butir soal dengan bentuk
pilihan ganda. Soal tersebut diperoleh setelah peneliti
melakukan uji validasi kepada validator dari instrumen soal
yang telah dibuat sebelumnya, guna mencari soal yang layak
digunakan sebagai instrumen penelitian. Dari hasil tes
evaluasi di kelas X TKR B diperoleh nilai kompetensi
menggunakan Alat Ukur Mekanik sebagai berikut :
27 29
0
5
10
15
20
25
30
35
Persentase Kerjasama Siklus I
(1) Validasi soal
soal sudah layak untuk digunakan.
(2) Daya pembeda
daya pembeda mudah
kategori tingkat kesukaran mudah
75
75
N = Jumlah seluruh siswa
= 54%
70
= ∑
∑n =Jumlah nilai hasil belajar seluruh siswa
∑s = Jumlah seluruh siswa
No Interval Frekuensi
1 50 – 60 _
lapangan dianalisis, kemudian dilakukan refleksi. Pelaksanaaan
refleksi berupa diskusi antara peneliti dan guru mata pelajaran.
Diskusi bertujuan untuk mengevalusi hasil tindakan yang telah
dilakukan dengan cara melakukan penilaian terhadap proses yang
terjadi, masalah yang muncul, dan segala yang berkaitan dengan
tindakan yang dilakukan.
dengan kenaikan persentase dari 47% menjadi 72% sesuai pada
lampiran 7 tabel 1. Selain kerjasama siswa meningkat, dari hasil
evaluasi teori juga menunjukan kenaikan nilai rerata pada materi
Alat Ukur Mekanik dengan kenaikan rerata 65 menjadi 74 dengan
persentase 54 %. Dari hasil yang didapat dari kondisi awal dan
tindakan penelitian pada siklus I, menunjukan peningkatan hasil
kerjasama pada siswa dan meningkatnya hasil evaluasi teori pada
pelajaran Alat Ukur Mekanik.
Pembelajaran pada siklus II ini untuk memperbaiki dari siklus I,
karena pada siklus I, dari hasil observasi aktivitas siswa terutama yang
menyangkut partisipasi kerjasama belajar siswa pada aspek
mengemukakan pendapat dalam kelompok, keaktifan siswa
mengajukan pertanyaan, dan ketepatan menjawab soal masih tegolong
kriteria kurang, belum mencapai kriteria cukup baik atau baik.
a. Perencanaan Tindakan
2) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
72
4) Mempersiapkan kisi-kisi, soal tes dan lembar penilaian.
5) Mempersiapkan sarana dan media pembelajaran yang digunakan
dalam setiap pembelajaran.
b. Pelaksanaan Tindakan
berikut:
73
Pada hari senin setelah peneliti memberikan tes evaluasi Alat
Ukur Mekanik pada siklus I. Peneliti melanjutkan
penyampaian materi pada siklus II. Adapun perinciannya
sebagai berikut :
2) Peneliti membuka pelajaran di kelas
3) Peneliti mengecek kehadiran siswa
4) Peneliti memberikan motivasi dan apersepsi tentang
Alat Ukur Mekanik.
b) Kegiatan inti
sumber belajar.
alat ukur mekanik mikrometer.
beberapa kelompok. Kelompok siswa merupakan
bentuk kelompok yang heterogen. Setiap kelompok
beranggotakan 4-5 siswa yang terdiri dari siswa yang
berkemampuan tinggi,sedang dan rendah didapat dari
data penilaian sebelumnya.
yang diperlukan.
permasalahan yang diberikan untuk dipresentasikan.
6) Peneliti memanggil siswa secara acak untuk menjawab
pertanyaan dan menyelesaikan soal-soal yang diajukan
peneliti dan peneliti memberikan umpan balik.
7) Peneliti mengamati kegiatan siswa dan mengisi lembar
observasi kerjasama.
membersihkan peralatan yang telah digunakan.
c) Kegiatan penutup
simpulan dari hasil diskusi dilanjutkan dengan berdoa
sebelum pulang.
a) Kegiatan awal
2) Peneliti mengecek kehadiran siswa.
3) Peneliti memberikan motivasi dan apersepsi tentang Alat
Ukur mikrometer.
75
evaluasi teori Alat Ukur Mekanik kompetensi menggunakan
alat ukur.
penghargaan kepada tim dan dilanjutkan dengan berdoa
sebelum pulang.
c. Pengamatan
1) Pengamatan penerapan model pembelajaran STAD. Pada saat
penyajian kelas siswa lebih bersemangat dan antusias dalam
memperhatikan pemaparan karena diberi motivasi dan apersepsi
yang mudah dipahami. Selanjutnya saat diskusi kelompok siswa
lebih aktif dalam menyampaikan pendapat dan memberi
tanggapan saat kelompok lain melakukan pemaparan. Selain itu
juga lebih peduli dengan kelompoknya dan saling membantu.
2) Pengamatan kerjasama dilakukan oleh peneliti selama proses
pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang
sudah disediakan untuk mengetahui aktifitas siswa selama
pembelajaran berlangsung. Dalam siklus II dapat diketahui
berapa tingkat kerjasama siswa ketika proses pembelajaran,
76
seperti dijelaskan pada lampiran 7 tabel 2. Dari rekapitulasi hasil
observasi kerjasama siswa pada siklus II diatas, dapat disajikan
dalam bentuk histogram pada lampiran Gambar 5 Histogram
Persentase Kerjasama Siswa Kelas X TKR B Pada Siklus II.
Gambar 5. Histogram persentase kerjasama siklus II.
Gambar 6. Histogram persentase kerjasama siklus I dan II.
Berdasarkan hasil dari observasi siklus II dapat dijelaskan
bahwa terjadi peningkatan persentase kerjasama siswa dari 72%
siklus I, menjadi 85% pada siklus II.
31 34
10
20
30
40
Persentase Kerjasama Siklus II
Siklus 2
Siklus 1
Pengamatan lain juga dilakukan peneliti dengan memberikan tes
teori Alat Ukur Mekanik tentang mikrometer pada siklus II.
Peneliti membeikan soal sebanyak 20 butir soal dengan bentuk
pilhan ganda. Soal tersebut diperoleh setelah peneliti melakukan
uji validasi kepada validator dari instrumen soal yang telah
dibuat sebelumnya, guna mencari soal yang layak digunakan
sebagai instrumen penelitian. Dari hasil tes evaluasi di kelas X
TKR B diperoleh nilai Alat Ukur Mekanik kompetensi dasar
mikrometer sebagai berikut :
75
75
N = Jumlah seluruh siswa
= 89%
= ∑
∑n =Jumlah nilai hasil belajar seluruh siswa
∑s = Jumlah seluruh siswa
No Interval Frekuensi
lapangan dianalisis, kemudian dilakukan refleksi. Pelaksanaaan
refleksi berupa diskusi antara peneliti dan guru mata pelajaran.
Diskusi bertujuan untuk mengevaluasi hasil tindakan yang telah
dilakukan dengan cara melakukan penilaian terhadap proses yang
terjadi, masalah yang muncul, dan segala yang berkaitan dengan
tindakan yang dilakukan.
observasi siklus II meningkat dibandingkan dengan siklus I yaitu
dengan kenaikan persentase dari 72% menjadi 85%. Selain
kerjasama siswa meningkat, dari hasil evaluasi teori juga
menunjukan kenaikan nilai rerata pada materi Alat Ukur Mekanik
79
dengan persentase 89%.
B. Analisis Data
berlangsung. Dalam pengamatannya, peneliti mengisi lembar
observasi kerjasama siswa yang sudah disiapkan. Lembar observasi
kerjasama ini terdiri dari 5 butir pertanyaan. Setiap pertanyaan
digunakan untuk mengamati kegiatan siswa, sehingga dapat diketahui
tingkat kerjasama siswa.
kenaikan pada tiap siklusnya dari observasi awal yaitu sebesar 47 %,
meningkat menjadi 72 % pada siklus I dan terjadi peningkatan juga
dengan persentase rata-rata 85 % pada siklus II. Hasil rekapitulasi
kerjasama siswa pada tiap siklus dapat dijelaskan dengan histogram
dibawah ini :
Dari histogram hasil rekapitulasi kerjasama siswa tiap siklus, dapat
dilihat bahwa terjadi peningkatan dari kondisi awal, siklus I, dan
siklus II.
I, dan siklus II dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan hasil
belajar di kelas X TKR B. Peningkatan asil belajar dapat dijelaskan
dengan tabel berikut :
Peningkatan Hasil Belajar Alat Ukur Mekanik Kelas X TKR B
Kelas Variabel
X TKR B Hasil Belajar Alat
Ukur Mekanik 65 74 85
Berdasarkan tabel peningkatan hasil belajar tersebut dapat
digambarkan dengan histogram sebagai berikut :
47%
Persentase Kerjasama tiap siklus
tiap siklus.
Dengan menggunakan metode Student Teams Achievement Division
merupakan suatu hal yang baru bagi siswa kelas X TKR B SMK Patriot
Pituruh untuk meningkatkan kualitas kerjasama dan hasil belajar siswa.
Proses ini dapat berjalan dengan baik pada tiap siklus hingga berakhirnya
siklus II. Peneliti menilai bahwa dari kedua siklus yang telah dilaksanakan,
proses evaluasi ternyata dapat dilaksanakan dengan baik menggunakan
metode Student Team Achievement Division.
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti
mendapatkan hasil kerjasama yang hanya mencapai 47% dari 5 butir
pertanyaan yang digunakan untuk mengamati kegiatan siswa dengan
jumlah 37 responden. Kemudian pengamatan lain juga dilakukan peneliti
dengan mengambil data nilai evaluasi hasil belajar, nilai yang diperoleh
siswa hanya mencapai nilai rata-rata 65.
65 74 85
X TKR B
kerjasama siswa menjadi 72%, kemudian nilai rata-rata hasil belajar juga
meningkat mencapai 74 dari jumlah soal tes 20 berbentuk pilihan ganda,
rata-rata dari nilai siswa belum mencapai KKM yaitu 75, KKM belum
tercapai dikarenakan dari jumlah seluruh siswa 37 terdapat 17 siswa yang
belum mencapai KKM. Siswa yang sudah mencapai KKM hanya 54% dari
jumlah seluruh siswa yaitu hanya 20 siswa. Melihat hasil tersebut yaitu
hanya 54% yang tuntas mencapai KKM yang dalam kriteria keberhasilan
yaitu 75% dari jumlah seluruh siswa, maka dari itu dilaksanakan
perencanaan siklus II dilakukan peneliti untuk dapat mencapai kriteria
keberhasilan, setelah siklus II terlaksana peneliti mendapatkan hasil
keterampilan berpikir kritis siswa dengan persentase 85% dan nilai rata-
rata hasil belajar meningkat menjadi 85 yang dianggap sudah mencapai
nilai standar KKM yaitu 33 siswa. Namun dari rata-rata hasil belajar
seluruh siswa yaitu 85, terdapat 4 siswa yang masih belum mencapai
KKM yaitu dengan nilai 70. Dengan hasil tersebut maka persentase
kelulusan meningkat menjadi 89% , sehingga kriteria keberhasilan yaitu
75% sudah tercapai.
Division ini siswa menjadi lebih termotivasi untuk dapat belajar dengan
kelompok dengan tercapainya hasil belajar yang baik. Hasil penelitian ini
mengalami peningkatan prestasi hasil belajar siswa hingga rata-rata
mencapai standar KKM 75.
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan pada mata
pelajaran Alat Ukur Mekanik kelas X TKR B SMK Patriot Pituruh, maka dapat
disimpulkan bahwa:
penyajian kelas siswa lebih bersemangat dan antusias dalam
memperhatikan pemaparan karena diberi motivasi dan apersepsi yang
mudah dipahami. Selanjutnya saat diskusi kelompok siswa lebih aktif
dalam menyampaikan pendapat dan memberi tanggapan saat kelompok
lain melakukan pemaparan. Selain itu juga lebih peduli dengan
kelompoknya dan saling membantu. Pemahaman siswa terhadap
kompetensi menggunakan alat ukur juga meningkat karena model
pembelajaran yang lebih asyik dan terdapat penghargaan tersendiri dalam
pembelajaran sehingga siswa lebih senang dalam belajar.
2. Peningkatan kerjasama siswa meningkat, dengan rata-rata pada observasi
awal yaitu 47 %, observasi pada siklus I menjadi 72%, dan pada siklus II
menjadi 85%.
3. Peningkatan hasil belajar pada siklus I teori kondisi awal yaitu 65, setelah
dilaksanakan siklus I meningkat menjadi 74 dengan persentase pencapaian
54% dan pada akhir siklus II terjadi peningkatan menjadi 85 dengan
83
84
peningkatan kerjasama dan hasil belajar teori.
B. Keterbatasan Penelitian
1. Instrumen penelitian tidak dilengkapi dengan angket.
2. Kurangnya koordinasi dengan guru yang mengajar Alat Ukur Mekanik di
SMK Patriot Pituruh.
meningkatkan kemampuan dan hasil belajar siswa SMK.
2. Bagi pihak sekolah
pada mata pelajaran yang lain, sehingga keberhasilan dapat bersama-sama
dicapai oleh semua pihak.
Hendaknya siswa ikut berperan aktif dalam mata pelajaran Alat Ukur
Mekanik, sehingga metode ini dapat dilaksanakan dengan baik.
85
Purwanto, 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta; Pustaka Belajar
Putro,Eko W. 2012, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian, Yogyakarta;
Pustaka Belajar
Rasyid, Harun & Mansur,2009. Penilaian Hasil Belajar. Bandung, CV Wacana
Prima
Slavin, R. E, 2005. Cooperative learning. Bandung: Penerbit Nusa Media.
Sudjana Nana, 2014. Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya.
Susanto, Ahmad, 2013 . Teori belajar dan pembelajaran di Sekolah Dasar.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Suyitno, 2012. Prosiding Seminar Nasional. Yogyakarta : jurusan Pendidikan
Teknik Boga dan Busana Fakultas Teknik UNY. Diakses pada hari Rabu, 30
maret 2016 pada pukul 02:45:26 WIB
Tim Mitra Guru. 2007. Ilmu Pengetahuan Sosial Sosiologi. Erlangga
Utomo,wahyu Lilik. 2012. Psikologi Pendidikan Purworejo; buku tidak
diterbitkan.UMP
Mutadi.2010; “STAD sebagai salah satu bentuk cooperative learning”, tersedia di;
http://mutadi.wordpress.com/ diakses pada tanggal 30 November 2015
Vima Eko Prasetyo (2011) “ Upaya Peningkatan Kerjasama pada MateriSistem
Bahan Bakar Bensin dengan Metode Think Pair hare di SMK INSTITUT
Irawati Eka Safitri Vima (2009) dengan judul Efektifitas Penerapan Model
Pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division pada
mata pelajaran kimia untuk peserta didik kelas X semester 2 SMAN 1
Pacitan
Erni Yunita (2012) dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Tipe STAD
Dengan Media VCDUntuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa
Kelas VII B SMP Negeri 4 Purworejo Tahun Pelajaran 2011/2012.
87
LAMPIRAN
88
Kelas / Semester : X /2
Pertemuan Ke- : 1 & 2
Standar Kompetensi : Menggunakan Alat – alat Ukur
Kompetensi Dasar : Menggunakan Alat – alat ukur
Indikator :- Alat ukur mekanik digunakan sesuai aturan
- Proses pembacaan hasil alat ukur dilakukan dengan cepat sesuai ketentuan standar
I. Tujuan Pembelajaran
II. Materi Ajar
a. Pengukuran berbagai jenis dimensi dengan jangka sorong b. Prsedur pengukuran dengan K3
III. Metode
a. Ceramah b. Diskusi c. Tanya jawab d. Pemberian Tugas
IV. Kegiatan Pembelajaran
a) Kegiatan awal
2. Peneliti membuka pelajaran di kelas.
3. Peneliti mengecek kehadiran siswa.
4. Peneliti memberikan motivasi dan apersepsi tentang Alat Ukur
Mekanik.
individu akan menentukan keberhasilan kelompok, karena setiap
anggota kelompok harus menyumbangkan skor hasil tesnya.
LAMPIRAN 1
mekanik jangka sorong.
kelompok. Kelompok siswa merupakan bentuk kelompok yang
heterogen. Setiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa yang terdiri
dari siswa yang berkemampuan tinggi,sedang dan rendah didapat
dari data penilaian sebelumnya.
4) Peneliti bersama siswa menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
5) Siswa belajar secara berkelompok serta mendiskusikan
permasalahan yang diberikan untuk dipresentasikan.
6) Peneliti memanggil siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan
dan menyelesaikan soal-soal yang diajukan peneliti dan peneliti
memberikan umpan balik.
kerjasama.
8) Di akhir jam pelajaran siswa merapihkan kelas dan membersihkan
peralatan yang telah digunakan.
kegiatan pembelajaran dan dilanjutkan dengan berdoa sebelum
pulang.
90
3. Sebutkan bagian-bagian jangka sorong ?
4. Apa fungsi dari jangka sorong ?
5. Tulislah hasil pembacaan skala pengukuran pada mistar geser berikut ini :
Jawaban
1. Mistar geser, jangka sorong, mistar ingsut, sketmat, sigmat,atau vernier caliper.
2. Ketelitian jangka sorong antara lain : 0,1mm, 0,05 mm, 0,02 mm.
3. Bagian-bagian Jangka sorong : Rahang tetap atas,rahang tetap bawah, rahang
sorong atas, rahang sorong bawah, tombol kunci, skala nonius, skala utama,
dan tangkai pengukur kedalaman.
dalam, mengukur diameter luar.
(a) 9,26 mm
(b) 17,40 mm
Kelas / Semester : X /2
Pertemuan Ke- : 1 & 2
Standar Kompetensi : Menggunakan Alat – alat Ukur
Kompetensi Dasar : Menggunakan Alat – alat ukur
Indikator :- Alat ukur mekanik digunakan sesuai aturan
- Proses pembacaan hasil alat ukur dilakukan dengan cepat sesuai ketentuan standar
I. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu menggunakan alat – alat ukur mekanik mikrometer.
II. Materi Ajar a. Pengukuran berbagai jenis dimensi dengan mikrometer b. Prsedur pengukuran dengan K3
III. Metode a. Ceramah b. Diskusi c. Tanya jawab d. Pemberian Tugas
IV. Kegiatan Pembelajaran
a. Kegiatan awal
2. Peneliti membuka pelajaran di kelas.
3. Peneliti mengecek kehadiran siswa.
4. Peneliti memberikan motivasi dan apersepsi tentang Alat Ukur
Mekanik.
individu akan menentukan keberhasilan kelompok, karena setiap
anggota kelompok harus menyumbangkan skor hasil tesnya.
LAMPIRAN 2
belajar.
mekanik mikrometer.
beberapa kelompok. Kelompok siswa merupakan bentuk
kelompok yang heterogen. Setiap kelompok beranggotakan 4-5
siswa yang terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi,sedang
dan rendah didapat